Riset BRUIN Ungkap Lima Besar Produsen Limbah Plastik yang Cemari Perairan Indonesia

Written by

in

7cloud.asia – Riset yang dilakukan Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) menemukan mayoritas limbah plastik yang mencemari aliran sungai di dalam negeri merupakan kemasan produk rumah tangga dan makanan.

Hasil riset Sensus Sampah Plastik Indonesia sepanjang 2022-2024 itu diumumkan pada Kamis (26/6/2025) di Surabaya.

Koordinator Sensus Sampah Plastik BRUIN Muhammad Kholid Basyaiban mengatakan timnya mengambil sampel dari 35 sungai, 17 pantai, dan 2 titik mangrove di 49 kabupaten dan kota yang tersebar di 30 provinsi.

BRUIN menemukan, hampir 65 persen wilayah riset merupakan ekosistem perairan sungai.

“Hasilnya, tidak ada sungai yang bebas atau nihil dari sampah,” kata Kholid kepada awak media di Surabaya pada Kamis 26 Juni 2025.

Dari haril sensus sampah plastik pada tahun 2022-2024, BRUIN menemukan plastik tanpa merek menjadi polutan terbesar.

Baca: Greenpeace tagih peta jalan produsen dalam pengelolaan sampah plastik

Berikut lima besar sumber limbah plastik yang mencemari perairan Indonesia:

1. Plastik tanpa merek (23 persen)
plastik ini sering kali digunakan untuk pembungkus makan siap saji (kanyong kresek, styrofoam, plastik, sedotan dll)

2. PT Wings Surya (11 persen)
Sampah yang terindikasi merupakan produk atau Grup Wings, yang didominasi kemasasan sachet dan botol minuman.

3. Indofood (9 persen)
Limbah plastik yang menyebar merupakan produk dari Grup Indofood, baik berupa sachet, botol minuman, dan styrofoam.

4. Mayora (7 persen)
Produsen barang konsumen ternama di Indonesia ini mencemari sungai lwat kemasan produk makanannya.

5. Unilever Grup (6 persen)
Tim BRUIN juga mendapati kemasan dari Grup Unilever, terhitung sebesar 6 persen dari jumlah limbah yang diteliti pada 2022-2024.

Baca: Daftar produsen yang sudah tuntaskan peta jalan pengurangan sampah plastik

BRUIN juga mengungkapkan beberapa merek populer lain, seperti air minum dalam kemasan (AMDK) merek Club, serta mie instan merek Indomie, yang masing-masing porsinya 3 persen dalam hitungan yang sama.

Merek AMDK Le Minerale, sabun deterjen SoKlin, serta teh Pucuk Harum juga memiliki porsi masing-masing 2 persen.

Dari hasil tersebut, Kholid menyebut pembuatan aturan pengelolaan sampah plastik semakin urgen, terutama untuk kemasan sachet.

Para produsen yang kemasan plastik juga dituntut mengambil langkah nyata dalam pengelolaan sampah pascakonsumsi. Pabrikan produk dengan kemasan plastik juga didorong ikut menyokong target pengurangan sampah sebanyak 30 persen pada 2029.

Kholid mengklaim pada produsen merek-merek barang konsumen ternama yang telah disebutkan tadi sudah diundang hadir dalam konferensi pers daring Sensus Sampah Plastik.

Tanpa merincikan nama, dia menyebut hanya satu produsen yang menyahut undangan tersebut.

“Intinya kami sudah berusaha memberi informasi. Selanjutnya, kami harap pemerintah juga bisa membuat kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif,” kata dia.

Baca: Produsen yang serius implementasikan peta jalan pengurangan sampah

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *