Tag: limbah tekstil

  • Perusahaan Asal Swedia Kembangkan Fasilitas Daur Ulang Limbah Tekstil

    Perusahaan Asal Swedia Kembangkan Fasilitas Daur Ulang Limbah Tekstil

    7cloud.asia – Sebuah perusahaan Swedia, Sysaf berhasil mengembangkan fasilitas daur ulang limbah tekstil yang efektif. Fasilitas daur ulang limbah tekstil ini diyakini sebagai yang pertama di dunia.

    Fasilitas daur ulang limbah tekstil ini menjawab harapan Parlemen Eropa akan aturan baru mengenai limbah tekstil diberlakukan pada tahun 2028, dan mengerem apa yang disebut “fast fashion”.

    Fast fashion adalah istilah yang merujuk pada bisnis pakaian yang bergerak dengan cepat namun memberi dampak buruk bagi lingkungan karena memicu limbah tekstil.

    Singkat kata, limbah tekstil yang dihasilkan di blok tersebut kelak harus lebih mudah digunakan kembali, diperbaiki dan didaur ulang.

    Namun, upaya untuk mewujudkan fasilitas daur ulang limbah tekstil itu bukanlah hal mudah.

    Baca: Mengungkap sisi gelap fast fashion bagi lingkungan

    Salah satu kendalanya adalah proses pemilahan limbah tekstil yang menjadi elemen penting daur ulang, yang seringkali rumit dan memakan waktu sehingga membutuhkan biaya besar.

    Sebuah perusahaan di Swedia memberikan jawaban atas masalah tersebut. Perusahaan bernama Sysaf itu membangun fasilitas daur ulang berskala besar pertama di dunia.

    Fasilitas daur ulang milik Syaf ini  secara otomatis memilah-milah limbah tekstil, yang disebut SIPTEX (Swedish innovation platform for textile sorting). Anna Vilén, ketua tim komunikasi Sysav membanggakan fasilitas itu.

    “Kami mengelola limbah tekstil yang begitu banyak dan sangat tercampur. Di sini kami dapat memilah-milah berdasarkan seratnya, sehingga mempermudah proses daur ulang. Prosesnya cepat dan akurat, dan berlangsung secara otomatis.”

    Baca: Dampak buruk fast fashin pada lingkungan

    Fasilitas berteknologi tinggi di pinggiran kota Malmo, Swedia Selatan, ini dapat memilah hingga 4,5 ton limbah tekstil per jam dengan memanfaatkan cahaya inframerah.

    Sensor-sensor yang terpasang kemudian dapat mengidentifikasi jenis serat pada limbah itu dan memilah-milahnya secara otomatis dengan menggunakan udara bertekanan.

    “Mesin ini dapat memberi tahu kami dengan tepat komposisi serat apa. Jadi, yang kita punya pada akhirnya adalah tumpukan-tumpukan kain dengan kemurnian tertentu.”

    “Misalnya 95 persen kapas, yang bisa didaur ulang secara kimia pada langkah berikutnya,” kata Ville.

    Baca: Melawan fast fashion dengan slow fashion

    Benarkah yang dilakukan SIPTEX bisa mengatasi limbah tekstil? Banyak kritikus meragukannya, termasuk Else Skjold, seorang profesor di Akademi Seni Rupa Kerajaan Denmark.

    Ia mengatakan, apa yang dilakukan fasilitas itu tidak sepenuhnya mengatasi limbah tekstil.

    Ia menyarankan, yang seharusnya dilakukan industri tekstil adalah berhenti memproduksi dan menjual bahan-bahan murah secara luas.

    “Ada pemikiran bahwa daur ulang limbah tekstil sama dengan ekonomi sirkular. Kenyataannya, ekonomi sirkular menuntut tekstil berkualitas tinggi, yang dapat didaur ulang berulang kali untuk jangka waktu yang sangat lama.

    “Hal ini tidak mereka lakukan dan hingga saat ini belum ada,” jelasnya.

    Sekitar 5,8 juta ton tekstil dibuang di Uni Eropa setiap tahunnya, atau setara dengan 11 kilogram per orang.

    Sementara konsumsi tekstil meningkat hampir dua pertiganya menjelang tahun 2030.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Fast Fashion dan Limbah Tekstil yang Dipicunya

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Fast Fashion dan Limbah Tekstil yang Dipicunya

    7cloud.asia – Masalah lingkungan serius selanjutnya adalah fast fashion dan limbah tekstil yang diakibatkannya.

    Fast fashion tak lepas dari melonjaknya permintaan global terhadap fesyen dan pakaian pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya ternyata menjadi masalah lingkungan yang serius.

    Industri fast fashion diyakini  menyumbang 10% emisi karbon global, sehingga menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar hingga saat ini. Belum lagi dari limbha tekstil yang dhasilkannya.

    Industri fesyen tepatnya fast fashion  menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca dibandingkan gabungan sektor penerbangan dan pelayaran. 

    Fast fashion juga bertanggung jawa pada hampir 20% air limbah global, atau sekitar 93 miliar meter kubik dari pewarnaan tekstil, menurut Program Lingkungan PBB.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Secara global, industri fesyen dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahunnya. Jumlah tersebut diperkirakan akan melonjak hingga 134 juta ton per tahun pada tahun 2030.

    Pakaian dan limbah tekstil yang dibuang berakhir di tempat pembuangan sampah (TPA), yang sebagian besarnya bukan limbah tekstil. -dapat terurai secara hayati.

    Sedangkan mikroplastik dari bahan pakaian seperti poliester, nilon, poliamida, akrilik, dan bahan sintetis lainnya, dapat diserap ke dalam tanah dan sumber air di sekitarnya.

    Limbah tekstil dari pakaian dalam jumlah besar juga dibuang di negara-negara belum berkembang seperti yang terjadi di Atacama di Chile, gurun terkering di dunia.

    Baca: 

    Dikutip earth.org, setidaknya 39.000 ton limbah tekstil dari negara lain dibiarkan membusuk di sana.

    Dari 100 miliar pakaian yang diproduksi setiap tahunnya, 92 juta ton di antaranya berakhir di tempat pembuangan sampah.

    Isu yang berkembang pesat ini semakin diperparah dengan semakin berkembangnya model bisnis fast fashion.

    Di mana perusahaan mengandalkan produksi pakaian berkualitas rendah yang murah dan cepat untuk memenuhi tren terkini dan terkini.

    Baca: Akankah slow fashion bisa jadi alternatif fast fashion

    Piagam Industri Fesyen PBB untuk Aksi Iklim sudah menyatakan bahwa perusahaan fesyen dan tekstil yang menandatanganinya berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

    Namun demikian, sebagian besar pelaku industri ini belum menyadari peran mereka dalam perubahan iklim.

    Walaupun hal-hal tersebut merupakan masalah lingkungan hidup terbesar yang mengancam planet Bumi, masih banyak masalah lain yang belum disebutkan.

    Yakni penangkapan ikan yang berlebihan, perluasan kota, lokasi dana super yang beracun, dan perubahan penggunaan lahan.

    Meskipun ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan respons terhadap krisis, aspek-aspek tersebut harus terkoordinasi, praktis, dan memiliki jangkauan yang luas agar dapat memberikan dampak yang cukup besar.

  • Menyoal Limbah Tekstil di Indonesia: Belum Ada Upaya Serius Menanganinya

    Menyoal Limbah Tekstil di Indonesia: Belum Ada Upaya Serius Menanganinya

    7cloud.asia – Sudah menjadi rahasia umum jika limbah tekstil telah memicu masalah serius bagi lingkungan. 

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN KLHK), Indonesia menghasilkan 35,93 juta ton timbulan sampah sepanjang 2022. Di mana 2,6 persen atau lebih dari 700.000 ton merupakan limbah tekstil. 

    Celakanya, limbah tektil sebagian besar terbuat dari bahan yang tidak bisa diurai dengan mudah.

     

    Pengamat Lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Suprihatin menilai bahwa limbah tekstil menjadi permasalahan lingkungan yang harus diselesaikan, karena makin banyak masyarakat membuang pakaian tidak layak begitu saja.

    Baca: Fast fashion dan limbah tekstil jadi masalah lingkungan yang serius

    Indonesia perlu berkaca dari data sistem informasi KLHK pada 2021, di mana ada sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil dihasilkan, sementara yang didaur ulang hanya 0,3 juta ton.

    Sudah saatnya pemerintah lebih masif bergerak dan meningkatkan sosialisasi terkait penanganan limbah tekstil seperti halnya sampah plastik, organik, maupun logam.

    Pengelolaan limbah tekstil, ujarnya, harus lebih baik lagi. Yakni dengan menelaah teknologi yang bisa dipakai untuk mendaur ulang tekstil mengingat jenisnya juga bermacam-macam, termasuk juga menyediakan sarana pembuangan khusus.

    Suprihatin menegaskan, daur ulang bukan solusi terbaik, tetapi harus dilakukan untuk menghindari penambahan sampah di TPA, terlebih di sungai dan laut.

    Baca: Dampak buruk fast fashion bagi lingkungan

    “Karena cara ini pada akhirnya mengancam kesehatan manusia karena banyak makhluk hidup di laut, khususnya ikan, yang tercemar sampah,” ujarnya.

    Berbagai langkah yang dilakukan itu sebenarnya bukan tentang bagaimana menyelamatkan bumi, tetapi hakikatnya adalah tentang menyelamatkan manusia saat ini dan generasi mendatang.

    Terkait dengan penanganan sampah, Pemerintah Indonesia juga terus berupaya menekan jumlah timbunan sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga bahan berbahaya dan beracun.

    Dari jumlah timbulan sampah tersebut, terdapat 13,47 juta ton sampah yang belum terkelola sepanjang tahun lalu, atau 37,51 persen dari total sampah yang ada.

    Baca: Thrifting, cara ramah lingkungan untuk kurangi limbah tekstil

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tengah menyusun regulasi tahap kedua Peraturan Menteri LHK Nomor 75 tahun 2019 yang mengatur tanggung jawab produsen atas produknya.

    Tanggung jawab itu mulai dari perencanaan pengurangan sampah, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan.

    Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Vinda Damayanti Ansjar menjelaskan, dalam regulasi tersebut, nantinya diatur secara khusus mengenai tanggung jawab produsen mengurangi sampah tekstil.

    Produsen di bidang tekstil mulai dari yang besar hingga pelaku UMKM diminta untuk membuat peta jalan penanganan pengurangan sampah.

    Baca: Slow fashion bisa jadi alternatif kurangi limbah tekstil

    Hal ini sudah dilakukan produsen sektor makanan dan minuman, produk berbahan plastik maupun logam.

    Vinda mengatakan, saat ini terdapat 120 produsen yang hingga saat ini sudah menyampaikan konsep atau peta jalan untuk mengurangi sampah dari proses produksi.

    Untuk meningkatkan partisipasi pelaku usaha, KLHK juga berencana memberikan penghargaan berupa insentif tambahan modal usaha guna mendorong pelaku usaha menerapkan pengurangan sampah.

    “Mereka juga diminta untuk melaporkannya melalui peta jalan, mengingat saat ini apresiasi yang diberikan hanya dalam bentuk surat penghargaan,” ujar Vinda sebagaimana dikutip Antaranews.com.

     

  • Butik Ini Menjual Produk Ramah Lingkungan dari Limbah Tekstil

    Butik Ini Menjual Produk Ramah Lingkungan dari Limbah Tekstil

    7cloud.asia –  Butik mungil berwarna hijau di salah satu pusat perbelanjaan ternama di DKI Jakarta, Grand Indonesia itu tak pernah sepi.

    Sejumlah anak muda hingga orang tua silih berganti mendatangi butik Sejauh Mata Memandang yang menjual fesyen ramah lingkungan ini.

    Masuk ke dalam butik sejauh mata memandang terlihat berbagai jenis produk fesyen mulai dari pakaian, aksesoris, jilbab, hingga kebaya. Semuanya ramah lingkungan karena dibuat  dari limbah tekstil.

    Pemilik butik Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto mendaur limbah tekstil, busana atau sisa-sisa kain yang sudah tak terpakai lagi menjadi produk fesyen apik yang kini terpajang di butiknya. 

    Desainer Chitra Subyakto akhirnya tergerak untuk menjadikan bisnis fesyen yang telah dirintisnya sejak 2014, turut membuat produk dari daur ulang limbah tekstil.

    Baca: Misi lingkungan Chitra Subyakto

    Hal itu bermula dari ajakan para komunitas pecinta lingkungan untuk melihat langsung kondisi alam yang memprihatinkan, karena banyak limbah tekstil menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, hingga laut.

    Chitra menyadari bahwa produk fesyen menjadi lima terbesar sebagai penyumbang polusi dunia, mulai dari proses pembuatan sampai akhirnya tidak terpakai lagi.

    Ia kemudian memutar otak dan mencoba bekerja sama dengan sejumlah perusahaan yang mendaur ulang limbah tekstil untuk belajar bagaimana mengolah pakaian bekas menjadi benang.

    Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bisa membuat benang-benang menjadi kain juga turut dilibatkan dalam produksi butik Sejauh Mata Memandang ini.

    Baca: DemiBumi hadir demi lingkungan

    Akhirnya benang-benang ditenun menjadi kain, dan dia mulai merancang guna menjadikannya produk pakaian, tas, jilbab, kebaya, aksesoris, fiber penyekat, hingga insulator atau peredam suara.

    Produk fesyen hasil daur ulang tersebut dijual seharga mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

    Kini para penggunanya tidak hanya dari kalangan masyarakat umum dan artis dalam negeri, tapi juga telah menyasar pelanggan luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

    Sepanjang September 2021 hingga Mei 2023, Chitra telah mengumpulkan sebanyak 5.719 kilogram pakaian bekas atau limbah tekstil yang didaur ulang.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke pembalut kain

    Masyarakat juga dapat mengirimkan pakaian dengan kondisi apapun, seperti robek, bolong, ataupun kain perca, yang penting bukan termasuk bahan poliester.

    Dengan menyumbangkan pakaian bekas warga sudah ikut kontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Ada tiga langkah yang bisa diterapkan dalam menjaga kelestarian lingkungan, dan menyelamatkan para generasi yang akan datang.

    Langkah pertama bisa dilakukan dengan membeli pakaian yang bisa digunakan untuk jangka waktu panjang dan tidak kehilangan tren.

    Hindari bahan poliester karena tidak bisa terurai, serta memilih produk lokal yang memperhatikan cara berproses yakni slow fashion.

    Baca: Thrifting, cara anak muda kurangi sampah

    Kedua, tidak malu menggunakan pakaian secara berulang-ulang, dimana hal itu sudah mulai dikampanyekan lewat sejumlah publik figur.

    Terakhir adalah tidak langsung membuang pakaian yang sudah rusak, tetapi diperbaiki, atau membuat arisan tukar-tukar baju kepada sesama teman maupun keluarga.

     

  • Upaya Industri dan Peritel Fesyen Kurangi Limbah Tekstil

    Upaya Industri dan Peritel Fesyen Kurangi Limbah Tekstil

    7cloud.asia – Peritel fesyen Jepang Uniqlo meluncurkan pilot project untuk menekan jumlah limbah tekstil yang mencemari lingkungan dengan membuka studio Uniqlo di toko.

    Proyek untuk menekan jumlah limbah tekstil bernama Re.Uniqlo Studio itu sudah berjalan sejak akhir September 2022 di tiga tempat.

    Inggris menjadi lokasi pertama proyek pengurangan limbah tekstil dari peritel fesyen ini dengan studio berlokasi di Regent Street, London.

    Di Jepang, layanan serupa diuji coba di toko Uniqlo Setagaya Chitosedai di Jepang pada 22 Oktober 2022.

    Re.Uniqlo Studio di Orchard Singapura pada Oktober 2022, dalam waktu terbatas. Ternyata, pelanggan sangat menyukainya. Kami berencana untuk mengembangkannya di seluruh dunia…

    “Pakaian dapat digunakan lebih lama adalah pola pikir yang kami kedepankan,” ujar Koji Yanai, Group Senior Executive Officer, FAST RETAILING CO., LTD.

    Baca: Aplikasi ini bantu menjual pakaian second

    Koji yang juga bertanggung jawab dalam bidang sustainability, dalam presentasi virtual UNIQLO LifeWear – Masa Depan dan Rencana Aksi, November tahun lalu menerangkan Re.Uniqlo studio ini untuk mengatasi masalah limbah tekstil yang disebabkan faktor kebosanan.

     “Ada dua alasan seseorang berhenti memakai bajunya lagi. Pertama, pakaiannya sudah bernoda atau rusak. Alasan kedua, semata-mata karena bosan,” ujarnya.

    Di Indonesi, komitmen untuk ikut serta mengurangi limbah tekstil dilakukan peritel fesyen, alas kaki, kecantikan, dan gaya hidup terkemuka,  Matahari.

    Matahari  meluncurkan program “Daur Ulang Bajumu” berkolaborasi dengan APR (Asia Pacific Rayon) sebagai partner.

    APR sendiri merupakan produsen viscose-rayon di Indonesia yang memiliki komitmen untuk menggunakan material daur ulang sebesar 20% dalam produksi serat rayonnya hingga 2030.

    Melalui program Daur Ulang Bajumu ini, Matahari memfasilitasi konsumen Matahari agar dapat mendaur ulang pakaian mereka yang tidak terpakai dengan menyediakan boks daur ulang pakaian di gerai-gerai Matahari.

    Baca: Jangan buru-buru membuang pakaian yang rusak

    Caranya sangat mudah, konsumen tinggal datang ke gerai Matahari membawa pakaian bekasnya, lalu memasukkannya dalam Drop Box yang tersedia.

    Selama periode 1 September 2023 hingga 30 November 2023, konsumen yang memasukkan pakaian bekasnya ke drop box mendapat voucher belanja Matahari berupa potongan harga 25% yang bisa dibelanjakan untuk produk-produk berharga normal di Matahari.

    Saat ini drop box Daur Ulang Bajumu telah tersedia di 46 gerai Matahari yang tersebar di Jabodetabek, Medan, Surabaya, Bandung, dan masih akan terus bertambah.

    Pakaian-pakaian bekas dari konsumen akan dipilah terlebih dahulu oleh APR.

    Di mana material yang memenuhi spesifikasi kandungan tertentu akan didaur ulang oleh APR untuk menjadi serat benang yang dapat digunakan dalam produksi pakaian dengan kualitas setara.

    Sementara itu, material berbahan kain lainnya akan didaur ulang oleh mitra yang ditunjuk oleh APR untuk dimanfaatkan dalam produk tekstil.

    Baca: Mengungkap sisi gelap fast fashion

    Kelompok ini akan disulap menjadi lap pembersih, travel mat, keset kaki, maupun produk rumah tangga berbahan kain lainnya.

    Program Daur Ulang Bajumu sejalan dengan komitmen keberlanjutan APR dalam APR2030 yang berkomitmen untuk menggunakan 20% bahan baku tekstil daur ulang dalam produk serat rayonnya hingga 2030.

    Kolaborasi antara Matahari dan APR ini juga seiring dengan komitmen kedua perusahaan dalam mendukung fesyen yang berkelanjutan.

    Di mana Matahari berkomitmen untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan APR berkomitmen untuk meminimalkan limbah dan mempromosikan sirkularitas.

    Terry O’Connor, CEO Matahari mengungkapkan rasa bangganya atas program Daur Ulang Bajumu.

    Sebagai pelaku industri terdepan di bidang fesyen dan tekstil, langkah ini penting dalam mengurangi sampah fesyen di Indonesia dan sejalan dengan upaya keberlanjutan perusahaan untuk berkontribusi pada industri fesyen yang sirkular dan ramah lingkungan. 

     

  • Kiat Agar Pakaian yang Kita Miliki Tidak Menambah Limbah Tekstil

    Kiat Agar Pakaian yang Kita Miliki Tidak Menambah Limbah Tekstil

    7cloud.asia – Limbah tekstil yang menumpuk di perairan menjadi masalah serius bagi lingkungan. Sebagian besar limbah tekstil ini dihasilkan dari fast fashion.

    Berdasarkan laporan dari Ellen MacArthur Foundation pada 2017, terungkap lebih dari 50 persen pakaian fast fashion dibuang menjadi limbah tekstil hanya satu tahun setelah diproduksi.

    Karena itu, penting bagi kita untuk mengambil peran dalam mengurangi limbah tekstil ini dengan bijak dalam memilih pakaian.

    Menurut Co-Founder EcoTouch, Christina, cara termudah mengurangi limbah tekstil adalah menggunakan pakaian yang kita miliki semaksimal mungkin hingga sudah benar-benar tidak layak pakai.

    “Seringkali masyarakat menggunakan pakaian hanya sekali dua kali, lalu dibuang setelah bosan,” ujarnya dalam acara Partnership Launching Ascott Jakarta dan EcoTouch di Serumpun Resto, Jakarta Pusat, pada Rabu (9/10/2024) dikutip dari Kompas.com.

    Baca: Limbah tekstil dari fast fashion picu masalah serius pada lingkungan

    Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli pakaian. Pilihlah baju yang bisa dipadupadankan dengan item lainnya, agar tidak mudah bosan.

    Dengan melakukan itu, kita akan lebih memaksimalkan penggunaan pakaian dan mengurangi produksi limbah tekstil.

    Christina menambahkan, pakaian yang sudah tidak dipakai lagi, sebaiknya tidak serta merta dijadikan kain lap.

    Pasalnya, jika dipakai untuk membersihkan minyak atau kotoran lainnya, kain sudah tidak bisa didaur ulang, karena minyak akan menghancurkan serat-serat kain.

    Christina merekomendasikan pakaian bekas di-upcycle menjadi barang yang bisa digunakan sehari-hari, seperti tas belanja dan selimut.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Bila kamu tidak memiliki keahlian mendaur ulang barang bekas, kamu bisa mendonasikan pakaian tak layak pakai ke organisasi yang bisa mendaur-ulang kain.

    Jika kamu masih bingung bagaimana mencegah produk fesyen menjadi limbah tekstil, berikut beberapa kiatnya sebagaimana dikutip dari Kompas.com:

    1. Membeli produk fesyen yang timeless
    Membeli produk fesyen yang timeless adalah salah satu cara yang bisa diterapkan untuk mencegah limbah fesyen.

    Sebab, produk fesyen yang timeless biasanya tidak akan ketinggalam zaman dan selalu relevan dengan tren mode yang sedang berkembang.

    2. Merawat pakaian dengan baik
    Merawat dan menjaga produk fesyen dengan baik dapat memperpanjang umur pakai yang sekaligus mampu mencegah kita untuk membuangnya.

    Penting bagi kamu untuk merawat pakaian sesuai dengan petunjuk yang ada, terutama jika bahannya adalah wastra atau kain asli Indonesia dan menggunakan pewarna alami.

    Jadi, semua produk fesyen yang ada di rumah mulai dari proses mencuci sampai perawatannya harus benar-benar diperhatikan.

    Baca: Melawan dampak buruk fast fashion dengan slow fashion

    3. Memperbaiki atau menyumbangkannya
    Ada pun cara lain yang juga dianjurkan untuk mencegah pembuangan produk fesyen adalah dengan memperbaiki atau menyumbangkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

    Kadang ada waktunya pakaian kita rusak atau kekcilan. Kalau kasusnya rusak atau robek, sebisa mungkin kita perbaiki supaya bisa terlihat bagus lagi.

    Tetapi kalau sudah tidak cocok atau kekecilan, kita bisa menyumbangkannya agar lebih bermanfaat bagi orang lain.

    4. Membeli barang preloved atau thrifting
    Mencegah limbah produk fesyen juga bisa dimulai dari awal, ketika kita pertama kali membelinya.

    Thrifting atau membeli atau barang-barang bekas (preloved) yang masih bagus dan tetap fashionable untuk dipakai lagi tanpa disadari ikut mengurangi limbah tekstil dari produk fesyen.

    Baca: Empat alasan mengapa anak muda suka thrifting