Tag: membaca

  • Tak Hanya Membaca, Homeschool Tunas Bangsa Juga Ajak Siswanya Membuat Buku

    Tak Hanya Membaca, Homeschool Tunas Bangsa Juga Ajak Siswanya Membuat Buku

    7cloud.asia – Tulisan ini merupakan lanjutan dari mengenalkan kebiasaan membaca yang sudah tayang sebelumnya. Dalam bagian ini kita akan membahas tahap lanjut dari membangun kebiasaan membaca yang diterapkan di homescholl Tunas Bangsa.

    Pengenalan aktivitas membaca pada anak usia dini yang dilakukan homeschool Tunas Bangsa berlanjut dengan rutinitas wajib saat usia siswa semakin bertambah.

    Karena sudah terbiasa membaca buku dari kecil, saat anak-anak bertambah usia, mereka tidak akan menemui banyak kesulitan dalam memahami isi buku bacaan yang lebih rumit. 

    Bagusnya, dengan kebiasaan yang ditanamkan sejak dini maka tidak ada paksaan untuk membaca buku. Karena membaca seolah sudah merupakan kebutuhan wajib untuk kegiatan belajarnya secara aktif mandiri.

    Baca: Cara homeschool Tunas Bangsa membangun kebiasaan membaca sejak dini

    Salah satu program di Homeschool Tunas Bangsa untuk membangun literasi yang lebih baik, adalah tahapan atau level yang lebih tinggi setelah baca buku, adalah anak didik diajak untuk membuat buku. Topik buku yang dibuat diambil dari mata pelajaran alam / sosial dengan materi pilihan anak sendiri dari program yang sudah disediakan oleh sekolah.

    Program buku siswa merupakan program yang mengharuskan siswa sekolah Homeschool Tunas Bangsa untuk membuat buku dari hasil pembelajaran sejumlah mata pelajaran yang diajarkan di kelas.

    Tahapan pembuatan buku dimulai dengan menentukan pilihan tema belajar pada setiap mata pelajaran  utama yaitu PPKN, Alam dan Sosial.

    Dari tema yang dipilih itu, siswa melakukan eksplorasi melalui browsing internet, lalu semua bahan materi belajar dirangkum secara lengkap, mulai ditulis tangan dan diberi gambar pada kertas hvs berwarna, lalu mengetiknya, hingga membuat bahan presentasi yang dilengkapi gambar dan cover.

    Baca: Penjelasan mengapa tes Calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Dalam membuat buku, untuk kelas TK s.d 3 SD, – 3 sd, format presentasinya dibuatkan oleh guru. Untuk kelas 4 – 5 SD mulai membuat sendiri dengan banyak panduan dari para guru.

    Sedangkan untuk kelas 6 sampai kelas 12, siswa didik didorong lebih aktif mandiri menjalani setiap tahapannya hingga akhir, sedangkan guru hanya mengawasi.

    Siswa yang berhasil melakukan presentasi terbaik di setiap tingkatannya akan mendapatkan  kesempatan menampilkan buku hasil belajarnya pada acara Production sekolah. Buku-buku siswa ini selain menjadi penilaian rapor dan syarat kenaikan kelas, juga bisa menjadi referensi bahan belajar bagi angkatan berikutnya.

    Tentu saja, karya buku siswa yang ditampilkan di acara Production School juga akan menjadi kebanggaan bagi siswa bersangkutan.

    Baca: Pandemi Covid sebabkan loss learning secara massal

    Menurut Kepala Sekolah Homeschool Tunas Bangsa Melati Pertiwi, mempertahankan budaya membaca buku, wajib dilakukan setiap hari.

    “Tidak harus banyak-banyak, tidak harus lama-lama, bisa dimulai dari 15 menit sehari, kemudian bertambah lagi waktunya atau beberapa halaman sehari. Rutinitas harian itu jangan terlalu keras diterapkan pada diri sendiri, jangan terlalu ekstrim, mulai pelan-pelan, yang penting tidak ditinggal, apalagi tidak dikerjakan,” tegasnya.

    Rutinitas membaca yang diterapkan sekolah Homeschool Tunas Bangsa merupakan
    bagian dari kurikulum yang sudah diterapkan selama bertahun-tahun dari sejak pendiriannya
    pada tahun 2000.

    Kurikulum aktif mandiri versi HSTB juga lahir di tahun tersebut, oleh karena beberapa isu pendidikan yang dilihat oleh Pendiri Sekolah, Irwan Hasanuddin yaitu:
    1. Isi kelas 50 orang yang terjadi di sekolah umum (di mana pendekatan pembelajarannya diserupakan semua padahal setiap anak unik).
    2. Banyak anak usia dini yang tidak memiliki etika dalam berbahasa.
    3. Anak yang tidak pandai di bidang pengetahuan umum, dianggap bodoh dengadihukum strap atau coret pipi dengan kapur.
    4. Keunggulan anak di bidang lain, tidak mendapat apresiasi karena tidak umum dalam Kompetensi standar kurikulum saat itu.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat surat-suratnya

    Kini, kurikulum yang sudah diterapkan selama 20 tahun  di sekolah homeschool Tunas bangsa, ternyata sejalan dengan kurikulum yang ditetapkan Kementerian Pendidikan,
    Kebudayaan, Riset dan Teknologi yaitu kurikulum Merdeka.

    Dari metode belajar yang diterapkan HSTB, menjadi contoh bahwa dengan menjadikan rutinitas membaca sebagai kegiatan wajib di sekolah dan di rumah, maka anak-anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa akan terbiasa dengan membaca.

    Pada akhirnya mereka mampu membuat dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat di masa depan.

    Berbagai manfaat membaca seperti yang sudah dituliskan di bagian awal artikel ini, akan dapat dirasakan siswa didik dalam kehidupan saat mereka dewasa nanti.

  • Cara Mudah Mengenalkan Kebiasaan Membaca pada Anak Sejak Dini

    Cara Mudah Mengenalkan Kebiasaan Membaca pada Anak Sejak Dini

    7cloud.asia – Semua pasti setuju dengan pepatah ‘Membaca adalah Jendela Dunia’ yang bermakna bahwa membaca akan memperluas ilmu dan pengetahuan tentang apapun yang ada di dunia.

    Kemajuan teknologi dan informasi berbasis digital saat ini, memungkinkan seseorang untuk mengetahui banyak hal tanpa harus membeli atau membaca buku, majalah, koran, dll.

    Fasilitas pun juga makin memadai, karena hampir semua orang sudah menjadikan handphone atau smartphone serta komputer sebagai kebutuhan pokok sehingga mereka bisa membaca di mana saja dan kapan saja. 

    Baca: Penjelasan mengapa tes Calistung dihaus dari seleksi masuk SD

    Dirangkum dari beberapa sumber, membaca merupakan aktivitas manusia yang
    sangat penting karena manfaatnya antara lain :

    (1) Memperkaya kosakata,

    (2) Menstimulasi otak,

    (3) Mengurangi stress,

    (4) Memecahkan permasalahan,

    (5) Mendorong tujuan hidup seseorang.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Kelima manfaat membaca tersebut tentu saja erat kaitannya dengan semua bidang kehidupan manusia, mulai dari cara untuk memenuhi kebutuhan dasar, bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga menjalankan beribadah.

    Kegiatan membaca juga sangat berkaitan dengan kemampuan menulis seseorang. Tanpa bisa membaca, maka anak tidak akan bisa menulis. Begitu pula sebaliknya.

    Pada usia dini, anak-anak sudah dikenalkan pada bentuk huruf dari A sampai Z serta bagaimana cara membaca huruf-huruf yang sudah membentuk kata dan kalimat. Lalu pada jenjang selanjutnya, anak akan diajarkan untuk memahami bacaan di buku pelajaran.

    Untuk mengetahui pemahaman anak terhadap bacaan, anak harus mengerjakan tugas atau evaluasi. Hasilnya bisa menjadi tolok ukur apakah anak tersebut sudah mampu menyerap dan memahami setiap materi pelajaran di sekolah. Tahapan ini terus dilakukan hingga jenjang pendidikan tinggi.

    Baca: Thrifting lagi ngetrend di kalangan anak muda, ini penjelasannya

    Mengenalkan aktivitas membaca dapat dilakukan di usia dini, yaitu antara 3 sampai 6 tahun. Sekolah Homeschool Tunas Bangsa yang sudah mengenalkan aktivitas membaca sejak usia pra TK atau PAUD.

    Sekolah yang menerapkan cara belajar aktif mandiri ini bahkan menjadikan membaca sebagai rutinitas wajib para siswanya mulai dari TK hingga SMA.

    Dengan dukungan fasilitas perpustakaan yang menyediakan buku bacaan lengkap, siswa menjadi terbiasa dengan rutinitas membaca.

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

    Cara memperkenalkan aktivitas membaca di usia pra TK dilakukan Sekolah Homeschool Tunas Bangsa antara lain dengan :

    (1). Membacakan dongeng sebelum tidur siang yang dilakukan guru terhadap siswa di kelas pra TK sampai kelas 3 SD. Tidur siang masuk dalam jadwal harian sekolah, dengan durasi 1
    jam (pukul 11.30 – 12.30). Tujuannya adalah agar anak tidak hanya berpikir untuk bermain saja.

    (2). Mengajak anak-anak bergabung dengan kakak-kakak kelasnya yang sedang membaca buku di perpustakaan.

    (3). Mengajarkan story telling kepada siswa TK hingga SD yang akan dipentaskan dalam program Production di akhir semester.

    Program Production merupakan program yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menampilkan bakat dan kemampuannya termasuk kemampuannya membaca di atas panggung. Kegiatan ini disaksikan oleh seluruh guru dan wali murid.

    Bagaimana membangun kebiasaan membaca ini diuji dan dirawat, ikuti tulisan edisi lanjutannya

     

     

     

  • Lewat Rumah Rakyat Pegiat Literasi Lampung Gugah Minat Membaca Buku

    Lewat Rumah Rakyat Pegiat Literasi Lampung Gugah Minat Membaca Buku

    Sejumlah anak di Bandarlampung sedang membaca buku di Sekolah Rakyat Busa Pustaka di Bandarlampung, Minggu, (4/6/2023). (ANTARA/Dian Hadiyatna)

    7cloud.asia – Penggiat literasi di Provinsi Lampung, Adi Sarwono menghadirkan sekolah rakyat guna memberikan akses membaca buku kepada masyarakat khususnya anak-anak yang berada di pinggiran Kota Bandarlampung ataupun daerah pelosok yang ada di provinsi ini.

    Sekolah rakyat Busa Pustaka berdiri pada tahun 2020. Namun Busa Pustaka sendiri terbentuk sejak 2017 dengan menyediakan buku bacaan agar anak suka membaca.

     
    “Awalnya ini adalah perpustakaan keliling yang saya lakukan sendirian berkeliling daerah untuk memberikan akses membaca buku kepada anak-anak,” kata Adi Minggu (4/6/2023) seperti dikutip Antaranews.
     
    Baca: Cara membangun kebisaan membaca pada anak
    Ia mengungkapkan, sebagai penggiat literasi ia tergerak membuka sekolah rakyat, karena keresahan terhadap hal-hal negatif yang dilihat dan dirasakannya di kalangan anak-anak di provinsi ini khususnya di daerah pelosok.

    Adi menceritakan saat berada di sebuah kampung untuk bekerja, ada segerombolan anak kecil, anak SD, belum SMP sudah menodong, minta duit kepadanya. 

     
    “Mereka minta uang. Saat tanya buat apa? kemudian saya kasih dan mirisnya mereka membelikan uang tersebut barang-barang negatif,” katanya.

    Baca: Tak hanya membaca, homeschool ini juga ajak siswanya membuat buku

     
    Ia mengatakan bahwa beranjak dari hal itu, dirinya memiliki keinginan kuat untuk, mengubah hal-hal negatif yang ada pada anak menjadi positif dengan memberikan akses baca kepada mereka.

    Seolah ada dendam atas kejadian itu, maka Adi memutar otak untuk mengubah kondisi ini. Karena dia hobi membaca dan punya banyak buku di rumah maka Adi bertekad membuka semacam taman bacaan,

      
    Tapi waktu itu bahan bacaan untuk menarik anak-anak untuk datang ke perpustakaan keliling masih kurang, sehingga Adi menjual aset pribadi untuk membeli buku.
     
    Karena Adi berpikir tidak mungkin anak-anak dibiarkan membaca buku untuk kalangan dewasa miliknya Ia pun menjual motor sportnya.
     
    “Percayalah mereka akan membaca buku dari apa yang anak-anak senangi, maka dari itu di awal menjalankan perpustakaan keliling saya jual mobil dan motor sport untuk membeli berbagai macam buku bacaan untuk anak-anak, akses ini lah yang harusnya dihadirkan juga oleh pemerintah,” kata dia.
     

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat surat-suratnya

     
    Menurutnya, minat literasi anak-anak Indonesia tidaklah rendah, termasuk Lampung, namun saja memang akses untuk membaca tidak ada, Busa Pustaka dari 2017 hingga kini tetap berdiri dan berjalan.
     
    Bahkan saat ini sudah membentuk tujuh sekolah rakyat yang aktif dengan dengan jumlah voulentir kurang lebih 3.000 orang.

    Selain itu, lanjut dia, hadirnya Busa Pustaka juga bertujuan mendukung perpustakaan daerah dalam upaya meningkatkan literasi anak.

    “Bagaimana pun itu, hal ini menjadi tanggung jawab saya sebagai anak bangsa untuk mendukung pemerintah terhadap minat literasi masyarakat,” kata dia.

    Sumber: Antaranews

  • Literasi Bintaro, Membangun Minat Membaca Anak dengan Mendongeng dan Mewarnai

    Literasi Bintaro, Membangun Minat Membaca Anak dengan Mendongeng dan Mewarnai

    7cloud.asia – Ketika saya tiba di lokasi pada Minggu (16/7/2023) sore, acara mingguan Literasi Bintaro baru saja dimulai. 

    Belasan anak telah memenuhi taman lingkungan Cluster Jalak Bali Perumahan Graha Bintaro, Tangerang Selatan yang menjadi lokasi kegiatan Literasi Bintaro ini.

    Mereka datang dari beragam usia, dari 3 tahun hingga 11 tahun. Beragam kegiatan yang dilakukan anak-anak anggota Literasi Bintaro ini.

    Baca: Cara warga Lampung meningkatkan minat membaca pada anak

    Ada yang asyik membaca buku bacaan yang ada, ada yang bermain puzle. Ada juga yang asyik mewarnai gambar yang disediakan pengelola Literasi Bintaro.

    Menurut pendiri Literasi Bintaro, Anggie Widowati, kegiatan membaca bersama ini sempat terhenti selama pandemi Covid-19.

    “Dengan kegiatan hari ini, total kami baru empat kali menyelenggarakan kegiatan Literasi Bintaro ini,” ujarnya kepada 7cloud.asia.

    Baca: Cara mudah meningkatkan minat membaca pada anak

    Anggie menambahkan, Literasi Bintaro ini lahir pada 2017 sebagai ikhtiarnya untuk meningkatkan minat baca anak. 

    Awalnya Literasi Bintaro digelar di carport rumah Anggie. Bukunya dari koleksi anak-anak Anggie yang saat ini sudah mulai menginjak usia remaja. Kegiatan yang dilakukan adalah membaca, mendongeng dan deklamasi. 

    Seiring dengan berjalannya waktu, koleksi buku Literasi Bintaro terus bertambah sehingga lokasi kegiatan dipindah ke taman di lingkungan perumahan tersebut.

    “Kami banyak menerima donasi buku dari teman-teman dan warga setempat,” imbuh Anggie menceritakan perkembangan Literasi Bintaro ini. 

    Baca: Homeschool ini tak hanya tanamkan budaya membaca pada anak, tapi juga mengajak menulis

    Kegiatan membaca bersama di Literasi Bintaro ini biasa dilakukan di akhir pekan, hari Sabtu atau Minggu. Dalam menjalankan kegiatan ini, Anggie dibantu putrinya, Baby dan dua warga setempat yakni Dian dan Shellyn.

    Anggie mengaku beruntung, meski Literasi Bintaro ini lahir dari idenya tapi ia mendapat dukungan penuh dari warga setempat.

    Ia berharap, ke depan Literasi Bintaro yang saat ini masih terbatas di cluster Jalak Bali Graha Bintaro yang berpenghuni 250 kepala keluarga ini bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas.

    Baca: Jalan-jalan ke Monas untuk belajar sejarah Indonesia

    Bagi warga, keberadaan Literasi Bintaro ini juga sangat dirasakan manfaatnya. Tak heran banyak orang tua yang mengantarkan sendiri anak-anaknya untuk membaca di sini.

    Salah satunya Fian, seorang ibu muda yang sore itu mengantar putranya Akhar yang masih duduk di TK-A

    Kepada 7cloud.asia, Fian mengatakan, dengan adanya Literasi Bintaro ini setidaknya bisa mengalihkan perhatian Akhar dari gadget.

    “Di Literasi Bintaro ini, Akhar juga bisa bertemu dengan teman-teman sebayanya,” ujar Fian.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini lewat surat-suratnya

    Ia menambahkan, keberadaan di Literasi Bintaro ini juga menamabah pilihan buku bacaan untuk Akhar. Fian berharap, keberadaan taman bacaan maca Literasi Bintaro ini diperbanyak.

    Ia mencontohkan apa yang dialaminya saat masa remaja, di mana banyak kios yang menyewakan buku bacaan sehingga untuk bisa membaca banyak buku tidak perlu keluar banyak uang.

    “Karena kadang anak itu cepat bosan, sehingga dengan adanya taman bacaan yang bukunya bisa disewa, setelah bosan bisa dikembalikan untuk menyewa buku lainnya,” katanya memberi alasan. 

    Baca: Mengapa pendidikan montessori makin diminati

     

     

     

  • Intervensi yang Dapat Dilakukan untuk Meningkatkan Budaya Membaca di Indonesia

    Intervensi yang Dapat Dilakukan untuk Meningkatkan Budaya Membaca di Indonesia

    7cloud.asia – Survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 13,11 persen orang Indonesia yang membaca buku dalam sebulan terakhir selama periode survei tersebut. Ini mengindikasikan bahwa budaya membaca di Indonesia masih lemah.

    Sejak keikutsertaannya pertama kali pada tahun 2000 dalam Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD, organisasi inter-governmental yang bermisi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kebijakan, Indonesia masih betah berada di klasemen bawah.

    Data PISA terbaru tahun 2022 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 81 Negara yang ikut serta.

    Dari segi literasi saja, skor Pisa Indonesia di tahun 2022 khusus untuk kategori kemampuan membaca berada di peringkat ke 71 dari 81 negara dengan skor 371, di bawah rata-rata skor membaca global yakni 476.

    Sebenarnya, pemerintah telah berupaya membenahi persoalan ini dengan berbagai program. Sebut saja program Satu Desa Satu Perpustakaan, Gerakan Literasi Sekolah, atau Sastra Masuk Kurikulum.

    Namun, upaya-upaya intervensi tersebut tampaknya tidak cukup untuk membangun budaya membaca di Indonesia. Sebab, menurut kami, ada perspektif yang tidak utuh dari cara pandang pemangku kepentingan dalam melihat budaya membaca di Indonesia.

    Di Indonesia, norma sosial yang mendukung perilaku membaca tampaknya belum terbentuk. Berdasarkan survei perilaku membaca yang kami lakukan pada 503 orang responden pada tahun 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar responden masih beranggapan bahwa lingkungan sosialnya tidak begitu mendukung perilaku membaca buku.

    Data di atas juga didukung oleh studi tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ketika perilaku membaca dianggap sebagai kegiatan yang dihargai dan didukung oleh orang tua, orang-orang cenderung mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat.

    Temuan-temuan di atas menegaskan pentingnya intervensi dalam membangun norma sosial yang pro terhadap perilaku membaca sehingga budaya membaca di Indonesia dapat lebih terbentuk.

    Beberapa upaya intervensi yang dapat dilakukan antara lain:

    1. Kampanye media sosial
    Menampakkan perilaku membaca sebagai aktivitas yang lekat dan dekat dengan anak muda bisa menjadi intervensi yang efektif.

    Inisiatif ini sudah dilakukan oleh beberapa gerakan masyarakat seperti gerakan Indonesia Book Party yang berbasis di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia, atau gerakan Baca Di Surabaya yang berpusat di Kota Surabaya.

    Inisiatif-inisiatif semacam ini punya potensi mengeliminasi persepsi-persepsi negatif yang melekat pada perilaku membaca buku dan justru membuat perilaku membaca terlihat keren.

    Semakin keren terlihat, semakin banyak anak muda yang ingin ikut serta. Apalagi jika gerakan ini dibarengi dengan pelibatan public figure atau influencer, maka perilaku membaca akan menjadi tren populer yang akan digemari anak-anak muda.

    Riset tahun 2022 tentang dampak Influencer media sosial membuktikan bahwa influencer dipersepsikan oleh publik sebagai figur yang persuasif dan dapat dipercaya (trustworhty) sehingga memiliki kekuatan untuk memengaruhi perilaku publik.

    Sebagai individu kita juga dapat berperan dalam membangun norma sosial yang mendukung perilaku membaca buku. Dengan sering-sering mengunggah foto sedang membaca buku di media sosial, perilaku membaca akan diidentifikasi sebagai perilaku yang identik dengan masyarakat kita.

    Sehingga, orang-orang yang belum memiliki kebiasaan membaca buku akan merasakan FoMO (Fear of Missing Out) dan akhirnya mulai membaca buku agar diterima masyarakat.

    2. Program membaca bersama
    Mengadakan kegiatan membaca bersama di perpustakaan desa, di sekolah, atau di ruang publik dapat menciptakan persepsi bahwa lingkungan tersebut adalah lingkungan yang mendukung budaya membaca.

    Salah satu kegiatan yang dapat dijadikan contoh baik adalah Baca Bareng yang sudah diterapkan di Jakarta.

    Kegiatan membaca bersama di ruang publik semacam ini, jika digalakkan secara masif di berbagai daerah, akan memiliki daya yang kuat untuk mendorong masyarakat menjadi tertarik untuk membaca buku, melakukannya secara terus-menerus, hingga pada akhirnya membangun kebiasaan membaca buku dengan sendirinya.

    Tentu saja ada banyak upaya atau intervensi lain yang bisa dilakukan untuk membangun norma sosial.

    Namun, upaya-upaya tersebut tidak akan mendapat perhatian jika kita gagal memandang masalah rendahnya budaya membaca di Indonesia dengan perspektif yang benar dan utuh.

    Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat memperluas cara pandang dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain selain akses, termasuk norma sosial yang tidak kalah penting dalam upaya pembangunan budaya membaca di Indonesia.

    Artikel ini juga mendapatkan saran dan masukan dari Melania Utami Nirwan, Hanita Putra Djaya, Febrianty Hasanah, Nur Inayah Musa, Nurmisuari Salihu, dan Sri Ayu Pratiwi dari Tim Riset Perilaku Membaca Kota Makassar (LONTAR) dan The Book Club Makassar. Tim penulis mengucapkan terima kasih atas kontribusi pemikiran yang diberikan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:
    1. Anhar Dana Putra, Associate professor, Politeknik STIA LAN Makassar

    2. Andika, Lecturer in Geophysics, Universitas Hasanuddin

    3. Andi Riswan Mohamad, Lecturer in Linguistics and Literary Studies, Universitas Negeri Makassar

  • Riset: Budaya Baca di Indonesia Juga Berkaitan dengan Norma Sosial

    Riset: Budaya Baca di Indonesia Juga Berkaitan dengan Norma Sosial

    7cloud.asia – Sejak keikutsertaannya pada tahun 2000 dalam Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD, organisasi inter-governmental yang bermisi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kebijakan, Indonesia masih betah berada di klasemen bawah.

    Data PISA terbaru tahun 2022 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 81 Negara yang ikut serta.

    Dari segi literasi saja, skor PISA Indonesia di tahun 2022 khusus untuk kategori kemampuan membaca berada di peringkat ke 71 dari 81 negara dengan skor 371, di bawah rata-rata skor membaca global yakni 476.

    Sementara itu, survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 13,11 persen orang Indonesia yang membaca buku dalam sebulan terakhir selama periode survei tersebut. Ini mengindikasikan bahwa budaya membaca di Indonesia masih lemah.

    Sebenarnya, pemerintah telah berupaya membenahi persoalan ini dengan berbagai program. Sebut saja program Satu Desa Satu Perpustakaan, Gerakan Literasi Sekolah, atau Sastra Masuk Kurikulum.

    Baca Juga: Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    Namun, upaya-upaya intervensi tersebut tampaknya tidak cukup untuk membangun budaya membaca di Indonesia. Sebab, menurut kami, ada perspektif yang tidak utuh dari cara pandang pemangku kepentingan dalam melihat budaya membaca di Indonesia.

    Selama ini, segala intervensi yang dilakukan masih terlalu berfokus pada pembangunan akses terhadap buku-buku bacaan. Padahal, selain akses, ada faktor lain yang juga berperan dalam menciptakan budaya baca, yaitu norma sosial.

    Norma sosial dan budaya baca
    Norma sosial merupakan seperangkat hal yang diterima atau dianggap normal (pantas) oleh orang-orang dalam suatu kelompok secara kolektif.

    Norma sosial dapat berfungsi sebagai navigator bagi seseorang untuk menentukan apakah perbuatan yang ia lakukan dapat diterima atau tidak oleh masyarakat sekaligus memprediksi bagaimana orang lain akan menanggapi perilakunya secara sosial.

    Icek Ajzen, seorang psikolog sosial dan profesor emeritus di Universitas Massachusetts Amherst, Amerika Serikat (AS) dalam teorinya, Theory of Planned Behaviour (teori perilaku yang direncanakan,) menjelaskan bahwa persepsi terhadap norma sosial adalah salah satu variabel yang menentukan munculnya intensi seseorang untuk melakukan sesuatu.

    Baca Juga: Tak Hanya Membaca, Homeschool Tunas Bangsa Juga Ajak Siswanya Membuat Buku

    Artinya, sebelum melakukan sesuatu, seseorang biasanya akan memeriksa dulu apakah lingkungan sekitarnya bisa menerima perilaku yang akan ia lakukan.

    Jika seseorang meyakini bahwa lingkungannya tidak akan mendukung perilakunya, maka ia akan cenderung mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu tersebut.

    Dalam konteks budaya membaca, norma sosial terhadap perilaku membaca merupakan seperangkat keyakinan kolektif yang memungkinkan masyarakat memandang perilaku membaca buku sebagai perilaku yang normal dan wajar untuk dilakukan.

    Jika akses memberi seseorang kesempatan untuk membaca dengan menyediakan buku bacaan, norma sosial berperan untuk memelihara perilaku membaca buku sebagai sebuah perilaku yang dianggap normal, atau bahkan dirayakan, dalam masyarakat.

    Di Indonesia, norma sosial yang mendukung perilaku membaca tampaknya belum terbentuk.

    Baca Juga: Literasi Bintaro, Membangun Minat Membaca Anak dengan Mendongeng dan Mewarnai

    Berdasarkan survei perilaku membaca yang kami lakukan pada 503 orang responden pada tahun 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar responden masih beranggapan bahwa lingkungan sosialnya tidak begitu mendukung perilaku membaca buku.

    Saat ditanya apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya ketika membaca buku di tempat umum? Sebagian besar responden meyakini bahwa mereka akan dicap negatif oleh masyarakat.

    Terdapat 30 persen responden (porsi terbesar) yang berpikir bahwa mereka akan dicap terlalu serius dan 23 persen responden (terbesar ketiga) yang berpikir bahwa mereka akan dicap sok intelek.

    Temuan ini menunjukkan bahwa orang Indonesia masih menganggap perilaku membaca sebagai perilaku yang dicap negatif oleh lingkungan.

    Argumen tersebut diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50 persen dari total responden yang beranggapan bahwa circle (lingkaran pertemanan) mereka sendiri tidak mendukung perilaku membaca.

    Baca Juga: Membaca Pemikiran Kartini Lewat Habis Gelap Terbitlah Terang

    Selain itu, keluarga yang seringkali menjadi faktor penting terbentuknya perilaku juga tidak cukup dominan mendukung perilaku membaca.

    Sekalipun sebagian besar (54,8%) merasa didorong oleh keluarga untuk membaca buku, 45,2 persen responden masih merasa perilaku membacanya tidak didukung.

    Data di atas juga didukung oleh studi tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ketika perilaku membaca dianggap sebagai kegiatan yang dihargai dan didukung oleh orang tua, orang-orang cenderung mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat.

    Lantas adakah upaya intervensi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan budaya membaca di Indonesia, jawabannya akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:

    1. Anhar Dana Putra, Associate professor, Politeknik STIA LAN Makassar

    2. Andika, Lecturer in Geophysics, Universitas Hasanuddin

    3. Andi Riswan Mohamad, Lecturer in Linguistics and Literary Studies, Universitas Negeri Makassar

  • Bazar Buku Parade Masa: Membaca Kembali Karya Sastra Legendaris Indonesia

    Bazar Buku Parade Masa: Membaca Kembali Karya Sastra Legendaris Indonesia

    7cloud.asia – Kabar gembira untuk Anda yang hobi membaca. Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Balai Pustaka menggelar pameran sekaligus bazar buku bertajuk Parade Masa

    Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji mengatakan, pameran dan bazar buku yang berlangsung di Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur ini akan berlangsung hingga 1 Juni 2025 mendatang.

    “Balai Pustaka genap akan berusia 108 tahun di tanggal 22 September tahun 2025. Oleh karena itu Balai Pustaka membuat Parade Masa yang pertama kali dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional,” katanya di sela pembukaan Parade Masa di Jakarta, Sabtu (3/5/2025)

    Mengusung tema “Jelajah Jejak Literasi dari Masa ke Masa”, pameran Parade Masa menampilkan berbagai koleksi karya sastrawan legendaris Indonesia dan arsip lainnya yang diterbitkan Balai Pustaka dalam satu abad terakhir.

    Baca: Sastra tidak haram mengangkat isu SARA

    “Jadi Parade Masa ini memamerkan buku-buku legendaris, fenomenal, yang dikenal masyarakat luas. Mulai dari novel perdana Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Pembawa Nikmat, Layar Terkembang, dan semuanya ada di pameran ini,” ujar Achmad.

    Selain itu, ada juga bazar buku yang menawarkan promo menarik mulai dari potongan harga hingga 95 persen, produk mulai harga Rp2.999, hingga paket All You Can Read seharga Rp125 ribu.

    Buku-buku yang dijual pada bazar ini meliputi karya novel legendaris Indonesia, buku budaya, hukum, sains, pendidikan, hingga sejarah dan biografi.

    Baca: Sejarah ditetapkannya Hari Sastra Indonesia

    Selain pameran dan bazar, Balai Pustaka juga mengadakan sejumlah kegiatan untuk meramaikan Parade Masa antara lain panggung apresiasi sastra, diskusi sastra, bedah buku, hingga pertunjukan seni budaya.

    Achmad mengatakan, ke depannya Balai Pustaka akan menggelar lagi acara Parade Masa dengan tema yang berbeda-beda.

    Tahun ini, Parade Masa menjadi peringatan Hari Sastra Nasional dan Hari Kemerdekaan Indonesia.

    “Jadi Parade Masa 1 nanti dilanjutkan Parade Masa 2 memperingati Hari Sastra Nasional tanggal 3 Juli dan Kemerdekaan Republik Indonesia yang genap berusia 80 tahun. Jangan lupa nanti datang kembali,” ucap dia.

  • Ratusan Siswa SMP di Buleleng Belum Lancar Membaca, DPR Usulkan Evaluasi Pendidikan Dasar

    Ratusan Siswa SMP di Buleleng Belum Lancar Membaca, DPR Usulkan Evaluasi Pendidikan Dasar

    7cloud.asia – Anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR Tamanuri, menyoroti serius temuan 375 siswa tingkat SMP di Kabupaten Buleleng, Bali, yang belum mampu membaca dan menulis.

    Dalam kunjungan kerja BAM ke Buleleng, Bali, Kamis (22/5/2025), Tamanuri menyampaikan bahwa permasalahan ini mencerminkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pendidikan dasar secara nasional.

    “Ya, tadinya justru kita terperanjat menerima informasi itu, Nah, pikir kita ya masa ada orang yang seperti itu di Buleleng? Rupanya setelah kita mendapat laporan dari Bupati bahwa ini ada kelainan,” jelas Tamanuri kepada Parlementaria.

    Tamanuri menegaskan, apapun alasannya yang penting adalah langkah-langkah untuk ke depan, bagaimana untuk mengatasi masalah anak-anak ini

    Baca: Intervensi untuk tingkatkan budaya membaca di Indonesia

    Lebih lanjut, Tamanuri menilai bahwa fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan kenaikan kelas otomatis yang diterapkan secara masif di berbagai sekolah saat pandemi Covid-19.

    Ia menilai praktik tersebut justru merugikan peserta didik karena tidak memberikan ruang evaluasi terhadap pencapaian kompetensi dasar.

    “Guru-gurunya merasa takut, merasa diancam segala macam. Sehingga mereka naik-naikan aja, padahal dia tidak menurut persyaratan. Oleh karena itu mereka naik-naikan aja, padahal sampai di SMP nggak bisa baca, nggak bisa tulis.” tegas politisi NasDem ini.

    Tamanuri mendesak agar evaluasi menyeluruh dilakukan secara nasional, tidak hanya di Buleleng.

     

    Baca: Ketimbang makan bergizi gratis siswa di Papua lebih pilih pendidikan gratis

    Ia menilai persoalan serupa sangat mungkin terjadi di daerah lain namun belum terdata.

    Ia pun menyarankan agar Kementerian Pendidikan Dasar Menengah dan Komisi X DPR segera merancang sistem skrining dini sejak pendidikan dasar, untuk memastikan anak-anak yang memiliki hambatan belajar dapat diintervensi sejak awal.

    “Nah, jadi mudah-mudahan dari Komisi X, dalam rangka Raker dengan Menteri, mereka sudah bisa sampaikan hal-hal seperti itu. Sebetulnya, kejadian ini bukan kejadian hanya di Buleleng, tapi yang lain belum melaksanakan pendataan,” ungkapnya.

    Anggota Badan Aspirasi Masyarakat DPR lainnya, Muh Haris menegaskan pentingnya perhatian khusus terhadap siswa dengan hambatan mental dengan memperbanyak sekolah inklusi.

    Baca: Mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini

    Dengan adanya kelas atau sekolah khusus dapat membantu siswa yang memiliki hambatan untuk mendapatkan pendidikan dengan penanganan yang tepat.

    “Kalau ini terjadi di tempat lain juga, maka perlu kelas-kelas khusus atau sekolah-sekolah khusus yang secara fisik itu sehat tapi secara mental ternyata tidak sehat. Jadi yang anak-anak yang disampaikan tadi kan secara fisik relatif sehat,” imbuhnya.

    Sebagai informasi, data Asesmen Nasional 2023 yang dirilis oleh Kemendikbudristek mencatat bahwa sekitar 38,5 persen siswa SD belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi membaca.

    Jumlah ini bahkan lebih sedikit dibandingkan siswa SMP yang mencapai 41 persen siswa belum memiliki kompetensi di atas minimum.

  • Harga Buku Mahal, Membaca Menjadi “Kemewahan” Bukan Lagi Hak Dasar

    Harga Buku Mahal, Membaca Menjadi “Kemewahan” Bukan Lagi Hak Dasar

    7cloud.asia – Anggota Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih, mengkritisi fenomena tingginya harga buku di Indonesia yang berpengaruh dengan minat membaca.

    Mahalnya harga buku mengakibatkan membaca yang semula dari hak dasar pendidikan tergeser menjadi sebuah “kemewahan” bagi masyarakat, terutama di wilayah luar Pulau Jawa.

    Fikri menegaskan bahwa jika keluhan mahalnya harga buku masih terus terjadi, hal itu merupakan indikasi kuat belum terlaksananya amanah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.

    Ia mengingatkan bahwa semangat undang-undang tersebut adalah menjamin ketersediaan buku yang bermutu, murah, dan merata dari Aceh hingga Papua.

    Sebenarnya, ujarnya, buku paket diproduksi pemerintah melalui Pusat Perbukuan di Kemendikdasmen.

    Baca: Minimnya minat baca di Indonesia berkaitan dengan norma sosial

    “Namun, kalau di bawah (masyarakat) masih dikeluhkan mahal, berarti tidak sesuai dengan amanah UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Kita perlu evaluasi agar semangat buku bermutu, murah, dan merata ini benar-benar terwujud,” ujar Fikri dikutip Parlementaria, di Jakarta, Senin (9/3/2026).

    Politisi PKS ini juga menyoroti dampak sistemik harga buku terhadap angka literasi nasional. Menurutnya, ketika buku sulit dijangkau, minat membaca masyarakat akan terjun bebas.

    Di sisi lain, ia melihat pemerintah masih “ngambang” dalam menyikapi kebijakan digitalisasi pendidikan jika dibandingkan dengan negara lain seperti Australia atau Finlandia.

    “Kita memang ada alasan era digitalisasi, tapi kebijakannya masih ngambang. Tidak seperti Australia yang tegas melarang medsos di sekolah, kita tidak ada sikap itu. Maka, satu-satunya cara adalah dengan buku fisik,” tegasnya.

    Baca: Gol A Gong usulkan membaca karya sastra diwajibkan di sekolah

    Lebih lanjut, wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) itu menggarisbawahi kekhawatiran para orang tua dan pengamat psikologi pendidikan mengenai dampak negatif penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan pada tumbuh kembang anak.

    Fikri berpendapat bahwa kemunduran potensi anak bisa terjadi akibat ketergantungan pada media sosial.

    “Kalau memang solusi Menteri Pendidikan adalah ‘pelajaran mendalam’, ya sarana utamanya buku harus dipenuhi. Jika masih mahal, pemerintah wajib memberikan subsidi. Jika belum merata, distribusikan secara adil sampai ke pelosok Papua,” pungkas Fikri.

    Tingginya biaya logistik dan rantai distribusi yang panjang saat ini seringkali membuat ongkos kirim buku ke luar Jawa lebih mahal daripada harga bukunya sendiri, sebuah ironi yang disebut Fikri harus segera diintervensi oleh kebijakan fiskal pemerintah.