Tag: mikroalga

  • ITB Kembangkan Mikroalga untuk Penangkapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim

    ITB Kembangkan Mikroalga untuk Penangkapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Kemampuan alami mikroalga dalam menyerap karbondioksida (CO2) dapat dimanfaatkan menjadi solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim nasional.

    Mikroalga adalah mikroorganisme fotosintetik bersel tunggal (uniseluler) atau koloni kecil yang hidup di perairan (tawar, laut, payau) dan berukuran mikroskopis.

    Organisme ini mengandung klorofil-a untuk melakukan fotosintesis, menyerap CO2 serta bernilai tinggi untuk pangan, farmasi, kosmetik, pakan ikan, dan bahan baku bioenergi. 

    Mikroalga tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati (non-vaskular) dan dapat hidup hampir di semua lingkungan perairan, bahkan air limbah. 

    Dosen dan peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, FMIPA ITB, Alfredo Kono, S.Si., M.Si., Ph.D. menerangkan, mikroalga memiliki kemampuan alami menangkap karbon dioksida (CO₂) melalui fotosintesis dan mengonversinya menjadi biomassa.

    Kemampuan mikroalga ini, membuatnya berpotensi menjadi alternatif solusi cepat di tengah urgensi krisis iklim global.

    Baca: Gedung bertenaga alga jadi solusi mengatasi perubahan iklim

    Dilansir itb.ac.id Senin (2/2/2026), Alfredo mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan strategis karena karakter geografisnya sebagai negara maritim sekaligus kawasan cincin api. Kondisi tersebut menyediakan habitat mikroalga dengan mekanisme adaptasi ekstrem yang jarang dimiliki negara lain.

    Eksplorasi mikroalga ini dilakukan di berbagai lokasi, mulai dari laut tropis hingga kawasan vulkanik di Jawa Barat, seperti Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut, dan Kawah Domas Tangkuban Parahu.

    Dari kawasan tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi mikroalga merah Galdieria sulphuraria yang mampu hidup pada kondisi ekstrem dengan tingkat keasaman sangat tinggi.

    Mikroalga Ekstrem dan Efisiensi Penangkapan Karbon
    Alfredo menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama mikroalga adalah kecepatan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan lahan.

    Mikroalga lebih cepat untuk fotosintesis optimal, sekitar satu sampai dua hari, daripada pohon yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa bertumbuh dan memiliki daun.

    Baca: Pemanfaatan mikroalga sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah marginal

    Ia pun mengatakan mikroalga dapat dibudidayakan dalam sistem tertutup seperti tangki, sehingga memungkinkan implementasi di berbagai lokasi, termasuk kawasan perkotaan dan industri, tanpa memerlukan lahan luas.

    “Salah satu yang membuat dia powerful adalah ukurannya yang kecil tapi kemampuan penangkapannya bisa jauh lebih tinggi dari tanaman yang ada di darat,” katanya, Jumat (30/1/2026).

    Ekonomi Sirkular Berbasis Bioteknologi
    Selain untuk penyerapan karbon, Alfredo menekankan pentingnya pendekatan ekonomi sirkular sehingga CO₂ yang ditangkap dapat diubah menjadi biomassa bernilai ekonomi tinggi.

    Produk turunan mikroalga mencakup lipid untuk biofuel, pigmen untuk industri kosmetik, serta karbohidrat unik yang berpotensi dikembangkan di bidang farmasi dan kesehatan.

    Sebagai bentuk hilirisasi riset, tim ITB juga mengembangkan konsep phototank atau “pohon cair” yang memanfaatkan mikroalga sebagai sistem pembersih udara dalam ruangan, yang estetik menyerupai furnitur dan memperindah interior.

    Baca: Bisnis Carbon Capture and Storage dapat membuat Indonesia jadi tempat sampah

    Kebijakan iklim berbasis data ilmiah
    Alfredo menekankan pentingnya data kuantitatif untuk memastikan kapasitas mikroalga dalam menyerap CO₂ dapat dijadikan rujukan kebijakan berbasis sains.

    “Kami sedang menghitung seberapa banyak mikroalga ini menangkap CO2 dengan peralatan yang sudah ada. Suatu saat kami berharap ini bisa menjadi standar,” jelasnya.

    Data tersebut yang bekerja sama dengan UGM, diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam perumusan kebijakan iklim, termasuk skema pajak karbon.

    Alfredo optimistis Indonesia dapat memitigasi perubahan iklim melalui teknologi dalam negeri. Kekayaan biodiversitas lokal dinilai telah menyediakan solusi yang relevan.

    Untuk itu, dalam pengembangan mikroalga sebagai solusi iklim, diperlukan kolaborasi sains dasar, rekayasa, industri, dan kebijakan agar riset dapat bertransformasi menjadi inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

  • Potensi Mikroalga yang Terabaikan: Ada Ribuan Spesies Tapi Kurang dari 20 Jenis yang Telah Dimanfaatkan

    Potensi Mikroalga yang Terabaikan: Ada Ribuan Spesies Tapi Kurang dari 20 Jenis yang Telah Dimanfaatkan

    7cloud.asia – Peneliti PR Limnologi dan Sumber Daya Air pada OR Kebumian dan Maritim Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Awalina Satya mendorong pemanfaatan mikroalga untuk mengatasi tingginya emisi karbon.

    Hal tersebut disampaikannya dalam Ngaji Bersama Behavioral and Circular Economics atau Ngabers Circo#7 The 10th Thee Kian Wie Lecture Series #02 yang diselenggarakan oleh PR Ekonomi Perilaku dan Sirkuler pada OR Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, April 2025 silam.

    Mikroalga adalah tumbuhan dengan ukuran kecil dan tidak berbunga, hidup di air, hanya semacam single cell, tapi ada juga yang selnya banyak dan dikenal sebagai lamun.

    Mikroalga juga sangat beragam, di dunia ada sekitar 100.000 spesies, tapi baru 30 persen saja yang berhasil diidentifikasi, kurang dari 20 jenis yang bisa dieksploitasi atau dimanfaatkan.

    “Jadi bayangkan seberapa besar potensi mikroalga ini, dan yang lebih mind blowing lagi dia merupakan rantai produsen primer yang terbesar di dunia. Selama ini kita mendengar produsen primer ya dari beberapa di biosfer ini ada mikroalga ini, dan 70 persen dari oksigen yang ada di atmosfer kita sekarang ini dihasilkan oleh mikroalga ini,” katanya

    Baca: Pengembangan mikroalga untuk menangkap karbon dan mitigasi perubahan iklim

    Menurutnya, mikroalga bukan hanya mampu memfiksasi karbon, tetapi juga menghasilkan produk yang bernilai tinggi. Jika melihat kemampuan mikroalga menyerap CO2, maka dia menjadi salah satu sumber daya yang bisa dimanfaatkan.

    Awalina memaparkan, salah satu contoh penelitian yang dilakukan timnya, diperkirakan produktivitas biomassa tersebut mencapai 70 ton per hektare per tahun.

    Angka ini dihasilkan dari 5 tahun pengamatan mereka terhadap aspek kultivasi mikroalga dengan fotobioreaktor yang sedang dilakukan.

    ”Kami mampu menghasilkan 70 ton per hektar per tahun, di mana 70 persennya itu adalah protein dalam bobot kering. Kami bisa melihatnya bahwa dia bisa menangkap karbon, sekaligus menangani kekurangan gizi atau dengan pemenuhan protein,” terangnya.

    Dari hasil fotosintesis yang dilakukan mikroalga, mereka bisa tumbuh dengan sangat subur di laut, kemudian di brakish water seperti air payau, bahkan di sistem pengolahan air limbah.

    Baca: Pemanfaatan mikroalga Sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah marginal

    “Tumbuhan ini mampu hidup dan berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Dari bentuk dan ukuran selnya orang menggolongkan dia menjadi dua jenis yaitu mikroalga dan makroalga,” paparnya.

    Mikroalga ini, lanjut Awalina, umumnya bersel tunggal, sedangkan makroalga itu multisel. Produktivitas biomassa mikroalga lima kali lebih besar dibandingkan tumbuhan darat pada umumnya. Jadi dia cepat sekali berkembang dan jumlahnya banyak, biodiversitasnya juga tinggi, dan bentuknya juga cantik-cantik.

    Awalina menjelaskan, dikenal ada dua mikroalga, yaitu ada yang Prokaryotic misalnya Cyanophyta (Cyanobacteria) dan eukaryotic. Prokaryotic ini berarti di dalam inti selnya itu tidak ada membrannya Sedangkan kalau eukaryotic ini ada membrannya.

    “Jadi Cyanophyta ini umurnya juga tua, 2 juta tahun dan menghasilkan oksigen yang besar pada saat bumi pertama kali terbentuk,” urainya.

    Ia menjelaskan, mikroalga Cyanobacteria merupakan mahluk berfotosintesis yang sangat superior karena dia sanggup mengkonversi 10 persen dari energi cahaya itu menjadi biomassa. Sedangkan tanaman pertanian umumnya hanya 1 persen saja untuk konversi dari cahaya matahari ini menjadi biomassa.

    “Keisitimewaan lain Cyanobacteria, dia menambahkan, kemampuannya dalam mengcapture CO2 nya lebih tinggi. Dia juga disebut sebagai excellent cell factory karena mampu memanen cahaya matahari, mengubah CO2 atmosfer menjadi produk-produk yang berguna,” tuturnya.

    Baca: Gedung bertenaga alga jadi salah satu solusi kota atasi perubahan iklim

  • BRIN: Penyerapan Karbon dengan Mikroalga Lebih Murah dan Lebih Aman Dibanding Carbon Capture Storage

    BRIN: Penyerapan Karbon dengan Mikroalga Lebih Murah dan Lebih Aman Dibanding Carbon Capture Storage

    7cloud.asia – Peneliti PR Limnologi dan Sumber Daya Air pada OR Kebumian dan Maritim Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Awalina Satya mengatakan selama lebih lima tahun pihaknya telah meneliti pemanfaatan mikroalga untuk mengatasi tingginya emisi karbon.

    Awalina membeberkan tiga masalah yang dihadapi secara global, yaitu krisis energi, pangan, dan lingkungan menjadi latar belakang yang mendorong timnya untuk meneliti mikroalga.

    “Ketiganya sering dikupas seperti Copenhagen Climate Summit dan IPCC, di mana negara-negara di dunia harus mewujudkan komitmen untuk menurunkan emisi karbon dari 20 sampai 40 persen pada 2020, dan 80 persen hingga 2050.

    ”Itu targetnya seperti itu. Jadi suhu global itu juga tidak meningkat terus, supaya tidak terjadi adanya hal yang membahayakan akibat perubahan iklim yang ekstrem,” jelasnya.

    Dia menuturkan, impact sekarang sangat tergantung pada produk-produk petrokimia, di mana pada akhirnya baik dalam proses produksi maupun penggunaannya, zat buangnya akan selalu menjadi sumber emisi CO2.

    “Dari produk petrokimia itu begitu luasnya mulai dari makanan kemudian kosmetik hingga pesawat udara. Bahkan teknologi kita itu semuanya mengemisikan CO2 ini kan krisis lingkungannya. Masalah deposit dari bahan bakar fosil sendiri pun juga mulai menurun dari tahun ke tahun dan diprediksikan pada 2050 sudah habis,” bebernya.

    Baca: Ada ribuan spesies mikroalga tapi kurang dari 20 jenis yang telah dimanfaatkan

    Akibat dari emisi CO2 yang berlebihan tersebut, terangnya, telah memicu perubahan iklim yang sangat merugikan.

    “Sekarang pun kita sudah merasakan efeknya, yaitu adanya perubahan pola iklim yang tidak teratur, peningkatan keasaman laut. Suhu dari samudera juga menjadi memanas, sehingga mengakibatkan pola iklim yang tidak beraturan secara global dan berpengaruh juga kepada adanya fenomena kebakaran hutan,” tegasnya.

    Awalina mengungkapkan, kondisi iklim yang tidak beraturan mengakibatkan terjadinya krisis pangan global. Dan, ini sudah banyak sekali dikeluhkan.

    Untuk mengatasi kondisi ini, maka pakar di seluruh dunia mendorong pengurangan emisi baik pada proses produksi energi, industri, konstruksi, arsitektur, transportasi, pertanian, dan pengelolaan maritim.

    Dari sini kemudian mengemuka beberapa teknologi yang ditawarkan seperti Carbon Capture Storage (CCS), Carbon Capture Utilization (CCU), dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).

    Baca: Pemanfaatan mikroalga untuk menangkap karbon dan mitigasi perubahan iklim

    Namun, teknologi penangkapan karbon ini selain berbiaya mahal juga menyimpan riiko yang sangat besar.

    “Nah di sinilah yang menjadi pangkal tolak dari kami Tim Pengembang Fotobioreaktor untuk lebih tertarik mengembangkan teknologi fotobioreaktor mikroalga ini,” ujarnya.

    Awalina menjelaskan, mikroalga Cyanobacteria merupakan mahluk berfotosintesis yang sangat superior karena dia sanggup mengkonversi 10 persen dari energi cahaya itu menjadi biomassa.

    Sedangkan tanaman pertanian umumnya hanya 1 persen saja untuk konversi dari cahaya matahari ini menjadi biomassa.

    “Keistimewaan lain Cyanobacteria, dia menambahkan, kemampuannya dalam mengcapture CO2 nya lebih tinggi. Dia juga disebut sebagai excellent cell factory karena mampu memanen cahaya matahari, mengubah CO2 atmosfer menjadi produk-produk yang berguna,” tuturnya.

  • Partisi G Algae Inovasi Tim Dosen ITB Ini Mampu Menyerap CO2

    Partisi G Algae Inovasi Tim Dosen ITB Ini Mampu Menyerap CO2

    7cloud.asia – G Algae, demikian merek yang disematkan pada phototank mikroalga 4-in-1 hasil inovasi Tim dosen ITB dari Kelompok Keilmuan (KK) Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, Fakultas MIPA ITB.

    Pengembangan phototank mikroalga ini merupakan hasil kolaborasi tim ITB bersama mitra industri PT Inovasi Hijau Indonesia (Greenlabs).

    Sejak akhir 2024 lalu, produk G Algae telah diinstalasi di lobi dan Ruang Pameran DPITM di Gedung CRiMSE (ex-PAU) ITB.

    Produk ini dirancang dengan empat fungsi, yaitu untuk membantu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2), menghasilkan oksigen (O2) dan biomassa melalui proses fotosintesis, memonitor kualitas udara, sekaligus menjadi elemen estetika interior.

    Adapun tim dosen yang mengembangkan G Algae terdiri atas Rindia Maharani Putri, Ph.D., Prof. Dr. Zeily Nurachman, Alfredo Kono, Ph.D., Yanti Rachmayanti, Ph.D., dan Dr.Eng. Sari Dewi Kurniasih Indrawan (alm.).

    Proyek ini juga merupakan bagian dari Program Dana Padanan (PDP) atau Matching Fund Kedaireka tahun 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia, yang mendukung inovasi berbasis industri dan komersialisasi.

    Baca: Peneliti ITB kembangkan mikroalga untuk penangkapan karbon

    Dukungan datang dari berbagai entitas di ITB, seperti Program Studi Kimia ITB, FMIPA ITB, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) ITB melalui pengelolaan Program Dana Padanan 2024, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITB melalui Program Riset ITB 2024, serta Direktorat Penerapan Ilmu dan Teknologi Multidisiplin (DPITM) ITB.

    Proyek ini bertujuan menciptakan alternatif penyerapan karbon dioksida (CO2) melalui mikroalga yang dikenal sebagai organisme fotosintetik yang mampu menyerap karbon dioksida dengan efisiensi yang cukup tinggi.

    Mikroalga sendiri telah dikenal memiliki mekanisme bernama carbon concentrating mechanism (CCM) yang lebih efisien dalam mengonsentrasikan karbon dioksida dibandingkan tanaman darat.

    “Satu unit fototank mikroalga berkapasitas 200 liter diperkirakan mampu menyerap karbon setara dengan enam pohon tingkat tinggi,” ujar Rindia seperti dilansir itb.ac.id

    Pengembangan G-Algae berawal dari penelitian mikroalga yang telah berlangsung hampir dua dekade di ITB, dipelopori oleh Prof. Zeily Nurachman, pakar biokimia mikroalga ITB.

    Tim kemudian mengarahkan penelitian ke arah aplikasi produk komersial, dengan fokus utama pada penyerapan karbon di lahan terbatas, seperti kawasan industri, sekaligus menghasilkan oksigen dan memonitor kualitas udara.

    Baca: Penyerapan karbon dengan mikroalga lebih murah dan lebih aman

    G Algae digunakan sebagai solusi untuk menyerap emisi karbon di tengah keterbatasan ruang untuk penanaman pohon. Saat ini, unit G-Algae berbentuk reaktor tubular telah diinstalasi di kawasan industri PT Zeus Kimiatama Indonesia (Zekindo) di Cikarang.

    Keunikan G-Algae tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai penyerap karbon dioksida dan produsen oksigen, tetapi juga pada desainnya.

    Tim Dosen Biokimia dan Rekayasa Biomolekul ini berkolaborasi dengan dosen dari KK Manusia dan Ruang Interior FSRD ITB, Mutiara Ayu Larasati, M.Ds., yang berhasil menciptakan phototank yang tidak hanya fungsional dalam konteks pengendalian kualitas udara dalam ruangan, tetapi juga memiliki nilai estetika bagi ruang.

    Produk ini didesain untuk dapat digunakan sebagai elemen interior, seperti partisi ruangan, lemari, atau rak dengan tambahan fitur-fitur modern seperti layar informasi kualitas udara di ruangan dan kaca transparan.

    G-Algae juga dilengkapi sensor untuk memantau kualitas udara. Sensor ini dapat membaca kadar CO2 yang diserap dan O2 yang dihasilkan mikroalga.

    Meskipun teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, tim dosen berharap dapat terus mengoptimalkan sensor tersebut di masa depan, dengan melibatkan kolaborasi dari disiplin ilmu dari program studi lain di ITB.

    Baca: Ada ribuan spesies mikroalga tetapi pemanfaatan masih minim

    Selain itu, biomassa yang dihasilkan dari mikroalga ini juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk turunan, seperti biofuel, pigmen klorofil, dan biomaterial, yang mendukung konsep ekonomi sirkular.

    Tantangan utama dalam pengembangan G-Algae adalah optimasi pertumbuhan mikroalga di lingkungan buatan. Mikroalga memerlukan media khusus, pencahayaan yang memadai, serta aerasi untuk menjaga sirkulasi udara.

    Tim berhasil menciptakan sistem yang memungkinkan mikroalga tumbuh selama dua bulan lebih tanpa degradasi signifikan dalam pertumbuhan sel dan penyerapan karbon dioksida.

    Setelahnya, media dapat diperbarui dengan biaya yang relatif rendah, sekaligus memanfaatkan biomassa untuk produk komersial.

    G-Algae menunjukkan bahwa inovasi berbasis riset dapat memberikan solusi konkret untuk masalah global, seperti perubahan iklim, sekaligus mendukung penciptaan produk yang memiliki nilai komersial.

    Tim peneliti berencana memperluas kolaborasi, memperkuat teknologi sensor, serta mengembangkan aplikasi baru untuk mikroalga, sehingga G-Algae dapat menjadi solusi yang lebih luas dan efektif dalam upaya pengurangan emisi karbon.

  • Mengubah Mikroalga Menjadi Biofuel: Energi Alternatif dan Terbarukan yang Menjanjikan

    Mengubah Mikroalga Menjadi Biofuel: Energi Alternatif dan Terbarukan yang Menjanjikan

    7cloud.asia – Pertumbuhan populasi manusia yang pesat telah menyebabkan meningkatnya permintaan energi, yang diproyeksikan akan meningkat sebesar 50 persen atau lebih pada tahun 2030.

    Minyak bumi alami tidak dapat mengejar laju konsumsi saat ini, yang dilaporkan sudah 105 kali lebih cepat daripada kemampuan alam untuk menciptakannya.

    Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil juga terbukti sangat merusak lingkungan melalui emisi gas rumah kaca dan pemanasan global yang diakibatkannya.

    Dilansir sciencedirect.com, pencarian energi ‘bersih’ menjadi tantangan yang paling besar. Saat ini, beberapa alternatif sedang dipelajari dan diimplementasikan.

    Biofuel, bahan bakar dari organisme hidup, menjadi salah satu alternatif tersebut. Biofuel memberikan manfaat lingkungan, karena penggunaannya menyebabkan penurunan emisi CO2 dan hidrokarbon yang berbahaya dan penghapusan emisi SOx , dengan konsekuensi penurunan efek rumah kaca.

    Sayangnya, proyeksi biofuel saat ini didasarkan pada bahan baku yang juga merupakan komoditas pangan dan sumber daya yang cocok untuk pertanian konvensional.

    Untuk mengatasi masalah ini, para ahli kemudian coba menggali dari budidaya mikroalga dan beralih ke biofuel generasi ketiga (berasal dati mikroorganisme), yang tampaknya merupakan sumber yang menjanjikan

    Hal ini karena alga mampu secara efisien mengubah sinar matahari, air, dan CO2 menjadi berbagai produk yang cocok untuk aplikasi energi terbarukan.

    Baca: Potensi mikroalga yang sangat besar masih terabaikan

    Dua orang peneliti dari Ethiopia, yakni Eyasu Shumbulo Shuba (Department of Zoological Sciences, Fisheries and Aquatic Sciences Stream, Addis Ababa University) dan Demeke Kifle, (Departemen Biologi, Universitas Arba Minch Ethiopia) menemukan biofuel mikroalga menjanjikan untuk menggantikan bahan bakar fosil.

    “Hal ini mengingat efisiensi intrinsik mikroalga dalam mengubah energi matahari menjadi energi kimia, dan potensi hasil minyak yang jauh lebih tinggi yang cocok untuk produksi biofuel dibandingkan tanaman darat,“ demikian tulis Shuba dalam laporannya yang dirilis di sciencedirect.com.

    Tantangan dalam industri alga menjadi biofuel.
    Penelitian yang dilakukan keduanya merangkum karya-karya terkini tentang potensi produksi biofuel mikroalga dan membahas kemungkinan cara untuk mempraktikkannya.

    Tinjauan ini dimulai dengan menyoroti keuntungan dan berbagai bentuk biofuel mikroalga. Beberapa spesies mikroalga yang terbukti cocok untuk produksi biofuel sejauh ini dipertimbangkan, dengan penekanan khusus pada Scenedesmus obliquus.

    Sejumlah pencapaian dalam rekayasa genetika dan metabolisme strain alga untuk mengoptimalkan biaya produksinya telah tercatat selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, banyak aspek teknis telah ditingkatkan dalam proses budidaya alga.

    Sejak pertama kali mikroalga (seperti Nostoc) digunakan untuk bertahan hidup selama kelaparan di China sekitar 2000 tahun yang lalu.

    Sedangkan gagasan pertama tentang penerapan mikroalga dalam produksi biogas diungkap pada tahun 1950an, dan kemudian diusulkan sebagai sumber berbagai jenis bahan bakar, beberapa bidang aplikasi telah diidentifikasi.

    Sejak saat itu kombinasi berbagai aplikasi seperti menggabungkan produksi biomassa mikroalga untuk bahan bakar hayati dengan pengolahan air limbah dan penangkapan gas buang dari industri mulai dikembangkan

    Baca: Potensi mikroalga untuk menyerap karbon dan mitigasi perubahan iklim

    Mikroalga telah menarik banyak perhatian global dalam beberapa tahun terakhir karena produk alami berharga yang dihasilkannya.

    Para ahli juga meneliti mikroalga karena kemampuannya untuk memperbaiki limbah dan potensinya sebagai tanaman energi.

    Bahan bakar alga (oilgae atau biofuel generasi ketiga) adalah biofuel yang berasal dari alga. Ini adalah langkah yang tepat untuk produksi biofuel karena alga memiliki potensi yang sangat besar (seperti prospek input rendah, hasil tinggi) untuk aplikasi energi terbarukan.

    Shuba melihat, produksi biofuel mikroalga tampaknya merupakan peluang bisnis yang baik untuk dijalankan.

    Hal ini karena efisiensinya yang lebih tinggi dalam mengubah energi matahari menjadi energi kimia (3–8 persen), dan produksi biomassa yang lebih tinggi (20–60 g/m² per hari) dan hasil minyak dibandingkan tanaman energi konvensional (hanya efisiensi 0,5 persen dengan hasil < 10 g/m² / hari),

    Karena fitur-fitur yang diinginkan dari mikroalga ini, perhatian dunia diberikan pada kegiatan penelitian yang berkaitan dengan mikroalga dan produksinya. Isu ini telah menarik banyak perhatian.

    Upaya dan pencapaian terkini dalam meningkatkan ekonomi produksi melalui rekayasa genetika dan metabolik strain mikroalga juga dibahas.

    Potensi mikroalga lainnya seperti pengolahan air limbah dan mitigasi CO2 yang dapat digabungkan dengan produksi biofuel juga dipaparkan dalam kajian Shuba, termasuk tantangan alga bagi industri biofuel.

     

    Baca: Bangunan Bertenaga alga jadi saah satu solusi kota hadapi perubahan iklim

    Penelusuran Shuba menyimpulkan, biofuel mikroalga berpotensi dapat sepenuhnya menggantikan bahan bakar transportasi yang berasal dari minyak bumi tanpa argumen kontroversial “makanan untuk bahan bakar”.

    Saat ini, karena meningkatnya kekhawatiran terhadap bahan bakar fosil, keamanan energi, emisi gas rumah kaca, dan argumen biofuel lain sebagai “makanan untuk bahan bakar”, biofuel mikroalga semakin menarik perhatian.

    Meskipun belum sepenuhnya terwujud, kombinasi pengetahuan yang telah dilakukan di masa lalu, tindakan regulasi dan kebutuhan pasar, terus mendorong upaya untuk mengkomersialkan produksi mikroalga.

    Pengolahan mikroalga
    Beberapa fitur fisiologi alga relevan untuk mengevaluasi kemungkinan penggabungannya ke dalam aplikasi biofuel terbarukan.

    Berdasarkan penulis yang disebutkan di atas, atribut-atribut ini dapat diringkas sebagai:

    1. Hasil energi matahari dengan alga bisa mencapai 6–12 kali lipat dari tanaman darat karena alga secara inheren lebih efisien dalam mengkonversi energi matahari (3–8 persen lebih besar daripada tanaman darat).

    2. Tidak seperti tanaman darat, tidak adanya biopolimer yang sulit diolah menghilangkan kebutuhan akan Aplikasi lain dari mikroalga yang dikaitkan dengan produksi biofuel.

    Referensi: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1364032117311851

     

  • Mengenal Mikroalga yang Berpotensi Sebagai Sumber Pangan Dunia

    7cloud.asia – Di tengah krisis iklim yang sudah di depan mata, alga –baik makroalga maupun mikroalga– makin dilirik sebagai salah satu sumber pangan dunia di masa depan.

    Alga hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran, tapi saat ini hanya sedikit yang sudah diidentifikasi, sekalipun oleh para ahli.

    Banyak spesies alga yang semakin penting sebagai organisme untuk masa depan, terutama mikroalga. Ke depan, mikroalga memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pangan dunia.

    Artikel yang kami kutip dari eufic.org ini, menjelaskan apa itu mikroalga, memperkenalkan beberapa spesies mikroalga yang dapat dimakan, dan menjelaskan mengapa kita mungkin tertarik untuk mengonsumsi lebih banyak mikroalga.

    Apa itu mikroalga dan jenis apa yang paling umum? Spesies alga termasuk dalam salah satu dari dua kategori: makroalga, seperti rumput laut, dan mikroalga.

    Baca: Potensi mikroalga masih terabaikan

    Mikroalga biasanya terbuat dari satu sel tunggal, atau sejumlah kecil sel yang disatukan dalam struktur yang sangat sederhana yang dapat dengan cepat tumbuh dan berkembang biak menjadi biomassa besar yang kaya nutrisi.

    Anda mungkin pernah mendengar tentang Chlorella dan Spirulina. Keduanya adalah spesies mikroalga. Spesies berwarna biru-hijau ini termasuk di antara spesies kehidupan tertua di planet ini.

    Chlorella berasal dari Taiwan dan Jepang, sedangkan Spirulina ditemukan di Afrika dan Asia. Tidak hanya aman dikonsumsi, keduanya juga dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.

    Selain Chlorella dan Spirulina, terdapat lebih dari 50.000 jenis spesies mikroalga yang berbeda. Semuanya melimpah di alam, dan ditemukan baik di air tawar maupun air asin, seperti di danau, sungai, dan laut.

    Mikroalga dapat tumbuh di berbagai lingkungan, dan mentolerir berbagai suhu dan kondisi, dari Laut Mati yang asin hingga Arktik dan Antartika yang dingin.

    Baca: Pemanfaatan mikroalga untuk mitigasi perubahan iklim

    Mikroalga dalam makanan kita
    Makroalga sudah umum dikonsumsi di banyak bagian dunia. Rumput laut, misalnya, telah menjadi bahan pokok selama ribuan tahun dalam masakan Asia, khususnya di Jepang, Korea, dan Cina.

    Rumput laut kaya akan nutrisi, dan konsumsi rutin telah dikaitkan dengan kesehatan jantung, kesehatan usus dan sistem kekebalan tubuh yang sehat.

    Salah satu alga yang paling populer adalah nori, yang digunakan dalam sushi. Nori merupakan sumber yodium yang kaya, yang merupakan nutrisi penting dalam produksi hormon tiroid dan memengaruhi metabolisme kita secara keseluruhan.

    Namun, spesies makroalga tertentu, seperti kelp, yang merupakan salah satu spesies rumput laut terbesar, mungkin mengandung kadar nutrisi ini yang tinggi. Jumlah yodium yang berlebihan dapat meningkatkan risiko efek kesehatan negatif yang terkait dengan tiroid.

    Mikroalga sebagai sumber pangan mungkin masih kurang umum, tetapi mikroalga yang dianggap aman untuk dikonsumsi menjadi pesaing kuat dalam upaya menemukan alternatif protein yang berkelanjutan dan bergizi untuk memberi makan populasi global kita yang terus meningkat.

    Baca: Pemanfaatan mikroalga sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah

    Mikroalga merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada protein hewani, karena membutuhkan lahan dan air tawar yang jauh lebih sedikit untuk diproduksi daripada protein hewani.

    Mikroalga juga merupakan sumber vitamin A, B, C, dan B12 yang kaya. Mikroalga juga mengandung yodium, tetapi lebih sedikit daripada makroalga.

    Beberapa spesies dapat meningkatkan kandungan protein pada makanan populer, seperti Spirulina, yang dapat ditambahkan ke adonan roti dan krim sayuran, seperti yang ditunjukkan di sini oleh proyek ProFuture.

    Selain menawarkan sumber protein dan serat yang berkelanjutan, mikroalga juga merupakan sumber lemak sehat, termasuk asam lemak omega-3 dan omega-6.

    Asam lemak omega-3 dan omega-6 adalah asam lemak esensial, artinya tubuh manusia tidak dapat memproduksinya sendiri. Oleh karena itu, asupan kita harus berasal dari makanan yang kita konsumsi. Ikan dapat menjadi salah satu sumber asam lemak esensial ini.

    Namun, karena biaya penangkapan yang meningkat dan kekhawatiran yang semakin besar tentang keberlanjutannya, mikroalga dipandang sebagai sumber alternatif potensial untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang semula disuplai ikan ini.

    Referensi: https://www.eufic.org/en/food-production/article/microalgae-what-are-they-and-how-to-grow-and-use-them

  • Bisakah Mikroalga yang Memiliki Manfaat Super bagi Kehidupan, Dibudidayakan?

    Bisakah Mikroalga yang Memiliki Manfaat Super bagi Kehidupan, Dibudidayakan?

    7cloud.asia – Mikroalga membantu menjawab beberapa masalah paling mendesak di dunia modern, seperti menyediakan pangan bagi populasi yang terus bertambah dan menemukan alternatif berkelanjutan untuk bahan bakar fosil.

    Mikroalga juga memiliki potensi untuk membantu lebih banyak lagi, mengingat penelitian dan investasi yang terus dilakukan.

    Meskipun masalah-masalah yang lebih besar dan kompleks ini mungkin jauh dari jangkauan sebagian besar dari publik, ada banyak cara untuk memasukkan alga dan mikroalga ke dalam kehidupan manusia.

    Dilansir eufic.org, saat ini hanya ada 10 spesies mikroalga yang diizinkan untuk dikonsumsi sebagai makanan di Eropa. Otoritas Keamanan Pangan Eropa harus menilai keamanan setiap makanan baru sebelum dapat diproduksi atau dijual kepada masyarakat.

    Dan, sayangnya hal ini merupakan proses yang panjang dan mahal. Bagi sebagian besar orang Eropa, mikroalga masih merupakan makanan yang tidak biasa.

    Menambahkan mikroalga ke makanan yang sudah dikenal dan mempelajari bagaimana konsumen merasakannya, merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa produk baru dapat memasuki pasar kita.

    Baca: Mikroalga berpotensi menjadi sumber pangan dunia

    Mikroalga sangat mudah beradaptasi, dan dapat dibudidayakan di berbagai lingkungan. Ada beberapa spesies mikroalga dapat tumbuh di Islandia, yang lain tumbuh subur di iklim gurun. Mereka dapat tumbuh menjadi biomassa besar yang kaya nutrisi yang membantu mendukung kehidupan lain di sekitarnya.

    Bahkan, mikroalga menyediakan 75 persen pasokan oksigen global. Hal ini karena mikroalga umumnya sangat baik dalam mengubah karbon dioksida, nutrisi, dan air menjadi protein, lemak, dan karbohidrat melalui fotosintesis.

    Mikroalga juga dapat bereproduksi dengan cepat; mereka tidak memiliki batang, akar, atau daun – yang membutuhkan banyak energi untuk diproduksi – sehingga mereka dapat menggunakan karbon dioksida dan nutrisi lebih efisien daripada tanaman darat.

    Karena mikroalga tumbuh lebih cepat daripada tanaman pangan dan ternak, mereka dapat menghasilkan lebih banyak protein dengan menggunakan lebih sedikit waktu dan sumber daya, serta menggunakan lebih sedikit lahan.

    Mikroalga dapat menghasilkan antara empat dan 15 ton protein per hektare per tahun, dibandingkan dengan antara 0,6 dan 1,2 untuk kedelai. Hal ini menjadikan mereka kandidat yang sangat baik untuk pertanian industri.

    Budidaya mikroalga
    Budidaya mikroalga secara industri untuk menghasilkan biofuel dan bioproduk19 telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan dilakukan dengan berbagai cara, karena alga yang berbeda membutuhkan kondisi yang berbeda.

    Baca: Potensi Mikroalga masih terabaikan

    Sementara Spirulina dan Chlorella membutuhkan air tawar, spesies mikroalga Tetraselmis20 hanya dapat tumbuh di air asin.

    Salah satu metodenya melibatkan penggunaan biofotoreaktor. Selama proses ini, sel-sel spesies mikroalga dibudidayakan dalam balon kaca kecil berisi air dan nutrisi yang memungkinkan mereka untuk bereproduksi dan juga diberi karbon dioksida dan cahaya.

    Sel-sel tersebut kemudian dipindahkan ke luar ruangan dan terpapar sinar matahari, lalu ke dalam fotobioreaktor tubular, di mana mereka menerima lebih banyak sinar matahari dan nutrisi sebelum dipanen.

    Saat ini produksi mikroalga masih dalam tahap awal. Meningkatkan skala proses hingga mencapai titik di mana ia dapat memenuhi permintaan pangan memiliki beberapa tantangan.

    Misalnya, produksi membutuhkan banyak sumber daya, termasuk biaya besar untuk mengotomatisasi proses agar lebih efisien.

    Kabar baiknya adalah banyak pemerintah dan perusahaan sedang berupaya mengurangi biaya operasional untuk membantu menjadikan produksi mikroalga layak secara komersial.

    Referensi: https://www.eufic.org/en/food-production/article/microalgae-what-are-they-and-how-to-grow-and-use-them

    Baca: Pemanfaatan mikroalga untuk menangkap karbon dan mitigasi perubahan iklim

  • Perjalanan Menuju Biofuel Generasi Ketiga Berbahan Mikroalga

    Perjalanan Menuju Biofuel Generasi Ketiga Berbahan Mikroalga

    7cloud.asia – Ketika kesadaran bahwa bahan bakar fosil berkontribusi pada kerusakan habitat alami yang cepat, pemanasan global, dan masalah kesehatan di seluruh dunia, ada peningkatan permintaan akan sumber energi terbarukan.

    Mikroalga semakin banyak digunakan sebagai jenis biofuel tambahan, alternatif terbarukan dan berkelanjutan yang mudah diakses secara lokal untuk menggantikan bahan bakar fosil.

    Mikroalga dapat secara efisien mengubah energi matahari menjadi biomassa, dan sangat baik dalam menangkap karbon dioksida dari atmosfer untuk membantu mengurangi emisi karbon.

    Dan, karena sebagian besar spesies tidak dapat dimakan, penggunaan mikroalga untuk menghasilkan biofuel tidak mengurangi rantai makanan manusia atau hewan.

    Itu sebabnya, produksi biofuel dari alga terus didorong. Dilansir sciencedirect.com, produksi biofuel dari alga menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan karena beberapa alasan berikut.

    Pertama, alga dapat ditumbuhkan dengan cepat, semua bahan yang dihasilkan tidak beracun dan dapat terurai secara hayati, dan selama pertumbuhan ini ada peluang untuk menyebabkan fiksasi gas rumah kaca.

    Baca: Biofuel mikroalga jadi alternatif energi terbarukan yang menjanjikan

    Selain itu, karena budidaya alga tidak membutuhkan lahan pertanian, alga dapat ditanam tanpa bersaing dengan tanaman pangan atau pakan ternak, dan bahan bakar yang dihasilkan darinya merupakan biofuel “generasi ketiga”.

    Alga dapat berfungsi sebagai sumber potensial dari berbagai jenis biofuel, termasuk biogas yang dihasilkan dalam proses degradasi anaerobik biomassa, dan biodiesel yang dihasilkan dari lipid yang terakumulasi dalam sel alga.

    Biogas dan biodiesel dapat digunakan untuk menggantikan gas alam dan diesel minyak bumi masing-masing, dan merupakan jenis biofuel yang paling umum yang dapat diproduksi dari alga.

    Makalah bertajuk Technologies and developments of third generation biofuel production, Renewable and Sustainable Energy Reviews yang disusun A. Alaswad, M. Dassisti, T. Prescott, A.G. Olabi, menjelaskan berbagai jenis alga (mikroalga dan rumput laut), dan menyajikan berbagai teknologi yang digunakan dalam pembuatan biofuel (biogas dan biodiesel) dari alga.

    Dalam tulisannya, Alaswad menyebut produksi energi terbarukan terus berkembang. Pada tahun 2005, energi terbarukan menghasilkan 16,5 persen dari energi primer dunia.

    Menurut laporan khusus tentang sumber energi terbarukan dan mitigasi perubahan iklim (SRREN), energi terbarukan dapat menyumbang hampir 80 persen dari pasokan energi dunia dalam empat dekade ke depan.

    Baca: BIQ House, bangunan bertenaga alga pertama di dunia

    Tentang biofuel.
    Biofuel adalah bahan bakar yang diproduksi dari, atau oleh, organisme hidup yang baru saja mati.

    Energi dalam biofuel distabilkan selama proses fiksasi karbon biologis di mana karbon dioksida (CO2) diubah menjadi gula yang hanya ditemukan pada organisme hidup, yaitu tumbuhan.

    Berbeda dengan bahan bakar fosil, biofuel diproduksi oleh, atau berasal dari, organisme hidup dalam waktu yang relatif singkat, bukan berasal dari dekomposisi materi organik selama beberapa juta tahun.

    Dunia mengenal ada tiga generasi biofuel. Biofuel yang disebut “generasi pertama” diproduksi langsung dari tanaman pangan seperti jagung, gandum, dan kedelai.

    Biofuel tersebut berasal dari pati, gula, dan minyak yang disediakan oleh tanaman tersebut. Isu yang paling kontroversial dengan biofuel “generasi pertama” adalah perlunya memilih salah satu dari alternatif ‘bahan bakar vs makanan’.

    Untuk menghindari masalah tersebut, bahan bakar hayati yang disebut “generasi kedua” telah diperkenalkan. Bahan bakar ini dibuat dari tanaman non-pangan seperti rumput, kayu, dan limbah organik lainnya.

    Baca: Potensi mikroalga yang sangat besar masih terabaikan

    Namun, kebutuhan akan lahan yang luas dengan tanah yang lembap merupakan kelemahan bagi banyak bahan bakar hayati generasi kedua. Kesulitan ini sepenuhnya diatasi dengan bahan bakar hayati yang disebut “generasi ketiga” yang berasal dari biomassa laut.

    Alaswad dkk. mengingatkan, penting untuk dicatat bahwa karakteristik bahan bakar hayati itu sendiri mungkin tidak berubah antara “generasi” ini, tetapi sumber dari mana bahan bakar tersebut berasal berubah.

    Dalam makalahnya, Alaswad dkk mendeskripsikan jenis rumput laut dan mikroalga diberikan, dan komposisi kimia, sifat, dan sistem produksinya diuraikan. Rincian berbagai teknologi yang digunakan dalam produksi biogas dan biodiesel dari kedua jenis alga disertakan.

    Bahan bakar hayati alga dibandingkan dengan jenis bahan bakar hayati dari bahan baku lainnya.

    Alga adalah kelompok fotoautotrof uni- dan multiseluler yang beragam. Mereka dapat dianggap sebagai panel surya biologis yang mengikat CO2 dari atmosfer, untuk menyerap energi dari sinar matahari, untuk pertumbuhan, dan untuk produksi senyawa penyimpanan intraseluler.

    Alga adalah organisme seperti tumbuhan karena selalu menggunakan fotosintesis, dan biasanya hidup di air. Efisiensi fotosintesis alga lebih tinggi daripada tumbuhan lain, dan beberapa spesies dianggap sebagai salah satu yang tercepat

     

    Referensi: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1364032115007054

  • Peneliti ITB Kembangkan Mikroalga Laut Tropis Thalassiosira sp. Menjadi Sumber Energi Masa Depan

    Peneliti ITB Kembangkan Mikroalga Laut Tropis Thalassiosira sp. Menjadi Sumber Energi Masa Depan

    7cloud.asia – Penelitian ahli Biokimia dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) Prof. Dr. Zeily Nurachman mengungkap mikroalga Thalassiosira sp dapat menghasilkan biofuel pengganti bahan bakar fosil.

    Hasil penelitian ini telah dipaparkan dalam orasi ilmiah di hadapan dewan guru besar ITB, pada Oktober 2016 lalu. Dalam orasinya, Zeily menegaskan, Indonesia memiliki segala keperluan dasar untuk pengembangan alga untuk bahan dasar alga

    Indonesia kaya dengan plasma nuftah, wilayah laut yang luas, sinar matahari melimpah sepanjang tahun, hingga peneliti yang andal.

    Dilansir di laman resmi ITB, itb.ac.id, Zeily mengatakan bahwa umumnya negara-negara penghasil minyak dunia termasuk Indonesia berlokasi dekat dengan lempeng tektonik dan dekat dengan laut.

    Bahan bakar fosil yang diproduksi di Indonesia bukan berasal dari fosil kayu tanaman, tetapi berasal dari tanaman air termasuk alga yang berukuran mikro atau sering diebut mikroalga.

    Baca: Mengubah mikroalga menjadi biofuel energi alternatif dan terbarukan 

    Penelitian ini didasarkan pada hipotesis bahwa daerah kaya minyak adalah negara yang sering terjadi gempa. Pergerakan dari lempeng tektonik dan gempa bumi akan menekan air laut dan segala yang ada di dalamnya menjadi tanah dan membuat lapisan minyak.

    Mikroalga menempati hampir seluruh lapisan minyak di laut dalam jumlah besar dan proses pembentukan bahan bakar fosil tersebut memakan waktu yang sangat lama.

    Untuk membuktikan hal tersebut maka dilakukan identifikasi dengan berbagai tipe mikroalga. Dari penelitian Zeily, kultur mikroalga laut tropis Thalassiosira sp. diidentifikasi kemampuannya untuk menghasilkan minyak.

    Penelitian ini dilakukan oleh Zeily bersama timnya yang berasal dari divisi Biokimia, Kimia Analitis, Kimia Organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sejak tahun 2009.

    Mereka mencoba melakukan proses yang sama dengan apa yang terjadi di laut yaitu dengan mengekstrak Thalassiosira sp. dan mengambil minyaknya.

    Baca: Perkembangan produksi biofuel generasi ketiga berbahan mikroalga

    Metode awal yang dilakukan adalah penanaman kultur mikroalga Thalassiosira sp.dalam beberapa medium. Medium yang digunakan adalah tiga jenis air laut dengan komposisi yang berbeda.

    Didapatkan bahwa air laut yang kaya akan fosfor, nitrogen, silikon, urea cocok untuk pertumbuhan Thalassiosira sp., mikroalga ini tumbuh baik dalam lingkungan yang bersifat basa dengan rentang Ph 8,0 hingga 8,8.

    Setelah itu, mikroalga akan siap diekstrak untuk diambil minyaknya. Satu liter kultur dapat menghasilkan 3 gram minyak bersih.

    Sementara dari hasil penapisan di perairan Pulau Jawa, pengembangan mikroalga menjadi biofuel mampu hasilkan 5 barel minyak per hari atau setara 80.000 liter hektare per tahun.

    Angka ini jauh di atas biofuel yang dihasilkan sawit 6000 liter/hektare per tahun; atau jarak yakni 2000 liter/hektare per tahun.

    Baca: Potensi mikroalga masih terabaikan

    Mikroalga dan manfaatnya
    Mikroalga dipilih sebagai sumber energi alternatif dikarenakan bahan bakar fosil yang ada saat ini meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca seperti Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), dan Nitrogen Oksida (NO2) dan jumlahnya terbatas.

    Sedangkan minyak mikroalga Thalassiosira sp. atau biofuel tidak menghasilkan gas buangan dan tersedia dalam jumlah banyak di lautan Indonesia.

    Perkembangbiakan mikroalga Thalassiosira sp. yang relatif lebih cepat dan mudah didapat turut menjadi nilai plus tersendiri.

    Selain menghasilkan minyak, mikroalga Thalassiosira sp. juga menghasilkan biopigmen. Biopigmen ini berfungsi dalam industri makanan, kecantikan, dan obat-obatan.

    Biopigmen merupakan zat warna alami yang aman untuk digunakan, seperti keperluan konsumsi. Mengingat potensi mikroalga yang sangat besar, Zeily berharap, penelitian ini akan tetap berlanjut dan menjawab tantangan krisis energi,

    “Jika Indonesia memiliki 50.000 peneliti alga, maka Indonesia akan menjadi produsen biofuel nomor satu di dunia,” tutur Zeily.

    Baca: Mengenal mikroalga yang berpotensi sebagai sumber pangan dunia

  • Guru Besar UGM Ungkap Potensi Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Dari Sumber Pangan, Biofuel hingga Mitigasi Perubahan Iklim

    Guru Besar UGM Ungkap Potensi Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Dari Sumber Pangan, Biofuel hingga Mitigasi Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Mikroalga memiliki peran yang sangat besar dalam menopang kehidupan manusia dan alam di muka bumi ini. Ia berkontribusi secara signifikan terhadap fiksasi karbon melalui fotosintesis dengan mengubah karbon dioksida di atmosfer menjadi senyawa organik.

    Proses fiksasi karbon yang dilakukan mikroalga ini sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer, yang merupakan pendorong utama pemanasan global.

    Mikrolaga juga diketahui kaya akan polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang memiliki potensi luas untuk berbagai aplikasi, mulai dari pangan dan pakan, kosmetik, farmasi, hingga produk berbasis hayati lainnya

    Demikian kesimpulan pidato pengukuhan guru besar Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eko Agus Suyono, M.App.,Sc., yang berjudul “Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Integrasi Teknologi CO2 Capture dan Konsep Biorefinery Untuk Kemandirian Bangsa”.

    “Mikroalga juga berkontribusi sekitar 40-50 persen terhadap oksigen di atmosfer, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian oksigen pada setiap tarikan napas manusia berasal dari proses fotosintesis mikroalga,” jelas Agus dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan, Kamis (2/4/2026), di Balai Senat UGM.

    Eko menuturkan mikroalga berfungsi sebagai produsen primer utama yang menopang rantai makanan global.

    Baca: Peneliti ITB kembangkan mikroalga laut tropis Thalassiosira sp. menjadi sumber energi masa depan

    Mikroalga berperan sebagai komponen penting dalam siklus karbon dan nutrien, terutama di ekosistem akuatik, karena berfungsi sebagai penyerap sekaligus sumber karbon yang mendukung berbagai tingkat kehidupan di alam.

    “Tidak hanya untuk biofuel, mikrolaga pun diketahui kaya akan polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang memiliki potensi luas untuk berbagai aplikasi, mulai dari pangan dan pakan, kosmetik, farmasi, hingga produk berbasis hayati lainnya,” ungkapnya.

    Ia menyebutkan, kandungan biomassa pada mikroalga bernilai pasar tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai macam produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, bioetanol, biohidrogen, pakan, pangan, hingga pupuk.

    Salah satu penelitian yang pernah dilaksanakan oleh Eko menunjukkan bahwa mikroalga juga dapat digunakan untuk pemanfaatan limbah, produksi biomassa bernilai tambah, serta penguatan konsep biorefinery.

    Lebih lanjut, mikroalga pun menawarkan manfaat sebagai sumber biomaterial dan energi. Mikroalga sudah dikenal sebagai bahan baku material berbasis biologi yang tidak kalah dengan tumbuhan tingkat tinggi dan telah diaplikasikan di berbagai bidang.

    Sebagai sumber energi, mikrolaga berpotensi sebagai biofuel feedstock, bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

    Baca: Mengubah mikroalga menjadi biofuel yang menjanjikan

    “Potensi mikroalga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber biofuel pada umumnya, seperti kelapa sawit, jagung, bunga matahari, dan kacang-kacangan,” jelasnya.

    Di bidang pangan dan pakan, kata Eko, mikroalga berpotensi menjawab tantangan ketahanan pangan global dan permasalahan lingkungan karena dapat diproduksi pada lahan marjinal.

    Dengan demikian budidaya mikroalga tidak akan mengganggu produksi bahan pangan lainnya serta memiliki pertumbuhan yang cepat.

    Sedangkan untuk pakan, berbagai kajian menunjukkan bahwa mikroalga memiliki efisiensi fiksasi karbon yang sangat tinggi serta kandungan nutrisi dan komponen bioaktif yang kaya.

    Hal ini membuat mikroalga berpotensi besar dikembangkan sebagai pakan fungsional yang mampu meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, dan status imun ternak secara simultan.

    Tak hanya itu, dalam bidang biomedis pun, mikroalga menawarkan berbagai macam manfaat mulai dari bahan baku obat alam, suplemen, drug delivery, hingga biosensor.

    “Mikroalga pun mengandung antioksidan yang lebih tinggi daripada vitamin C dan memiliki kandungan antiinflamasi dan antikanker,” terangnya.

    Baca: Potensi mikroalga yang sangat besar masih terabaikan

    Sebagai bioremediasi, mikroalga juga dapat digunakan untuk menyerap limbah lingkungan.

    Hal ini karena adaptasi mikroalga yang tinggi terhadap berbagai macam kondisi lingkungan, enzim dan senyawa kimia yang dihasilkan, dan juga komponen kimia yang terdapat di dinding sel mikroalga tersebut.

    Tak hanya itu, mikroalga pun dapat dintegrasikan dengan Internet of Things dan machine learning.

    “Dalam konteks ini, IoT menjadi terobosan karena memungkinkan pemantauan biomassa dan parameter budidaya secara kontinu dan real-time, lalu menyiapkan aliran data yang siap diolah menjadi informasi operasional,” jelasnya.

    Di akhir pidatonya, Eko mengatakan melalui pendekatan yang terintegrasi, mikroalga dapat menjadi jembatan antara kepentingan lingkungan, kebutuhan industri, dan agenda pembangunan berkelanjutan.

    Namun, hal ini haruslah didukung oleh seluruh pihak. Karena itu, riset mikroalga perlu terus diperkuat dari hulu hingga hilir, mulai dari eksplorasi strain unggul dan bioprospeksinya, optimasi kultivasi dan pemanenan dari skala laboratorium dan pilot sampai massal di industri, hingga inovasi teknologi pemrosesan dan pemanfaatannya.

    “Mikroalga berpotensi sebagai solusi masa depan demi ketahanan lingkungan, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa,” pungkasnya.