7cloud.asia – Penelitian ahli Biokimia dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) Prof. Dr. Zeily Nurachman mengungkap mikroalga Thalassiosira sp dapat menghasilkan biofuel pengganti bahan bakar fosil.
Hasil penelitian ini telah dipaparkan dalam orasi ilmiah di hadapan dewan guru besar ITB, pada Oktober 2016 lalu. Dalam orasinya, Zeily menegaskan, Indonesia memiliki segala keperluan dasar untuk pengembangan alga untuk bahan dasar alga
Indonesia kaya dengan plasma nuftah, wilayah laut yang luas, sinar matahari melimpah sepanjang tahun, hingga peneliti yang andal.
Dilansir di laman resmi ITB, itb.ac.id, Zeily mengatakan bahwa umumnya negara-negara penghasil minyak dunia termasuk Indonesia berlokasi dekat dengan lempeng tektonik dan dekat dengan laut.
Bahan bakar fosil yang diproduksi di Indonesia bukan berasal dari fosil kayu tanaman, tetapi berasal dari tanaman air termasuk alga yang berukuran mikro atau sering diebut mikroalga.
Baca: Mengubah mikroalga menjadi biofuel energi alternatif dan terbarukan
Penelitian ini didasarkan pada hipotesis bahwa daerah kaya minyak adalah negara yang sering terjadi gempa. Pergerakan dari lempeng tektonik dan gempa bumi akan menekan air laut dan segala yang ada di dalamnya menjadi tanah dan membuat lapisan minyak.
Mikroalga menempati hampir seluruh lapisan minyak di laut dalam jumlah besar dan proses pembentukan bahan bakar fosil tersebut memakan waktu yang sangat lama.
Untuk membuktikan hal tersebut maka dilakukan identifikasi dengan berbagai tipe mikroalga. Dari penelitian Zeily, kultur mikroalga laut tropis Thalassiosira sp. diidentifikasi kemampuannya untuk menghasilkan minyak.
Penelitian ini dilakukan oleh Zeily bersama timnya yang berasal dari divisi Biokimia, Kimia Analitis, Kimia Organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sejak tahun 2009.
Mereka mencoba melakukan proses yang sama dengan apa yang terjadi di laut yaitu dengan mengekstrak Thalassiosira sp. dan mengambil minyaknya.
Baca: Perkembangan produksi biofuel generasi ketiga berbahan mikroalga
Metode awal yang dilakukan adalah penanaman kultur mikroalga Thalassiosira sp.dalam beberapa medium. Medium yang digunakan adalah tiga jenis air laut dengan komposisi yang berbeda.
Didapatkan bahwa air laut yang kaya akan fosfor, nitrogen, silikon, urea cocok untuk pertumbuhan Thalassiosira sp., mikroalga ini tumbuh baik dalam lingkungan yang bersifat basa dengan rentang Ph 8,0 hingga 8,8.
Setelah itu, mikroalga akan siap diekstrak untuk diambil minyaknya. Satu liter kultur dapat menghasilkan 3 gram minyak bersih.
Sementara dari hasil penapisan di perairan Pulau Jawa, pengembangan mikroalga menjadi biofuel mampu hasilkan 5 barel minyak per hari atau setara 80.000 liter hektare per tahun.
Angka ini jauh di atas biofuel yang dihasilkan sawit 6000 liter/hektare per tahun; atau jarak yakni 2000 liter/hektare per tahun.
Baca: Potensi mikroalga masih terabaikan
Mikroalga dan manfaatnya
Mikroalga dipilih sebagai sumber energi alternatif dikarenakan bahan bakar fosil yang ada saat ini meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca seperti Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), dan Nitrogen Oksida (NO2) dan jumlahnya terbatas.
Sedangkan minyak mikroalga Thalassiosira sp. atau biofuel tidak menghasilkan gas buangan dan tersedia dalam jumlah banyak di lautan Indonesia.
Perkembangbiakan mikroalga Thalassiosira sp. yang relatif lebih cepat dan mudah didapat turut menjadi nilai plus tersendiri.
Selain menghasilkan minyak, mikroalga Thalassiosira sp. juga menghasilkan biopigmen. Biopigmen ini berfungsi dalam industri makanan, kecantikan, dan obat-obatan.
Biopigmen merupakan zat warna alami yang aman untuk digunakan, seperti keperluan konsumsi. Mengingat potensi mikroalga yang sangat besar, Zeily berharap, penelitian ini akan tetap berlanjut dan menjawab tantangan krisis energi,
“Jika Indonesia memiliki 50.000 peneliti alga, maka Indonesia akan menjadi produsen biofuel nomor satu di dunia,” tutur Zeily.
Baca: Mengenal mikroalga yang berpotensi sebagai sumber pangan dunia

Leave a Reply