Tag: musik

  • Fandom Taylor Swift Memegang Peran Penting untuk Ketenaran Taylor Swift

    Fandom Taylor Swift Memegang Peran Penting untuk Ketenaran Taylor Swift

    7cloud.asia – Taylor Swift tercatat sebagai musisi dengan prestasi dan popularitas yang diakui selama hampir dua dekade tak lepas dari kekuatan pendukungnya, Swifties.

    Fandom setia Taylor Swift dikenal dengan tingkat partisipasi dan kreativitasnya yang tinggi.

    Para penggemar Taylor Swift telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat kostum konser, dan mendiskusikan teori-teori rumit secara online.

    Swift memiliki reputasi meninggalkan petunjuk, yang dikenal sebagai telur Paskah, dalam lirik, video musik, postingan media sosial, dan wawancaranya.

    Ada akun penggemar Taylor Swift yang didedikasikan untuk menganalisis telur Paskah ini, mempelajari pola angka dan frasa tertentu untuk mengungkap petunjuk tentang apa yang mungkin dilakukan Swift selanjutnya.

    Baca: Ini kunci sukses Taylor Swift

    Swift dan Taylor Nation, salah satu cabang tim manajemennya, mendorong perilaku ini dengan memberi penghargaan kepada penggemar atas partisipasi mereka.

    Untuk rilis mendatang dari “1989” versi Taylor Swift, telah dibuat serangkaian teka-teki di Google, yang harus dipecahkan bersama oleh para penggemar untuk mengungkap nama-nama “vault track” yang akan datang.

    Swifties secara kolektif memecahkan 33 juta teka-teki dalam waktu kurang dari 24 jam.

    Permainan ini memiliki peran ganda–tidak hanya Taylor Swift mengumumkan judul-judul “vault track”, dia juga sekaligus mengklaim kembali penelusuran Google-nya.

    Fandom Swift juga lintas generasi. Swift adalah seorang milenial sejati, dan banyak penggemar yang tumbuh bersamanya selama dua dekade terakhir. Bahkan ada yang mulai mengajak anaknya ke konser, dan memposting video.

     

    Baca: Menilik kisah Britney Spears lewat memoarnya

    Taylor Swift juga menggaet audiens yang lebih muda di TikTok, sebuah platform yang sebagian besar digunakan oleh Gen Z.

    Dijuluki “SwiftTok” oleh penggemar (dan sekarang oleh Swift sendiri), pengguna memposting video untuk berinteraksi dengan Swifties lain dan berpartisipasi dalam komunitas.

    Lagu-lagu Taylor Swift juga sering digunakan dalam tren populer.

    Perilisan Midnights tahun lalu menampilkan banyak tarian Bejeweled dan Karma, tetapi katalog lama Swift juga berjalan dengan baik.

    Versi remix Love Story yang menjadi viral pada 2020, membantu generasi baru menemukan musik lamanya.

    Baru-baru ini, lagunya “August” digunakan warganet untuk berlari di pantai dan berputar-putar dengan hewan peliharaan.

     

    Baca: Harga yang harus dibayar bintang cilik yang tenar sejak anak-anak

    Dia juga sangat dekat dengan tayangan dewasa muda seperti The Summer I Turned Pretty, yang menampilkan 13 lagunya sepanjang dua musim pertama tayangan tersebut.

    Musik Taylor Swift sangat penting dalam cerita ini sehingga penulis Jenny Han hampir mendedikasikan buku kedua untuknya.

    Swift terus mendominasi perbincangan budaya melalui musiknya, keputusan bisnisnya, dan penggemar setianya.

    Saat ini, popularitas Taylor Swift sedang berada di titik tertinggi dan mudah untuk menganggapnya sebagai tren sementara.

    Namun, jika 17 tahun pertama ini adalah sesuatu yang lewat begitu saja, Taylor Swift membuktikan bahwa dia akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang, dan layak mendapatkan perhatian kita.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, 

  • King of Borneo Gandeng Tuan Tigabelas Suarakan Isu Lingkungan dan Perjuangan Masyarakat Adat

    King of Borneo Gandeng Tuan Tigabelas Suarakan Isu Lingkungan dan Perjuangan Masyarakat Adat

    7cloud.asia – King of Borneo (KOB) dan Tuan Tigabelas berkolaborasi dalam lagu terbaru mereka berjudul “Suar” yang dibawakan pada acara musik Berdendang di Betang.

    Acara ini digelar di rumah panjang (Betang) Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, pada awal November 2024, dan dihadiri langsung oleh Masyarakat Adat Dayak Iban.

    Kolaborasi antara King of Borneo, musisi dari Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan Tuan Tigabelas, rapper nasional dengan gaya khasnya, merupakan bentuk solidaritas mereka terhadap perjuangan Masyarakat Adat.

    Keduanya menyuarakan pentingnya perlindungan hak ulayat dan pengesahan Undang-Undang Masyarakat Adat serta kelestarian lingkungan.

    “Kolaborasi karya ini adalah upaya kami untuk menyuarakan perjuangan Masyarakat Adat menjadi bagian dari pop culture yang bisa dinikmati oleh lebih banyak orang,” kata Upi, sapaan akrab Tuan Tigabelas dalam keterangan tertulis Sabtu (16/11/2024).

    “Masyarakat Adat telah berjuang untuk hak-hak mereka selama puluhan tahun. Melalui karya musik, kami berharap dapat menggerakkan publik untuk bersama menyuarakan pentingnya pengesahan UU Masyarakat Adat,” tambahnya.

    Baca: Coldplay olah sampah platik Kali Cisadane untuk vynil album terbarunya

    Masyarakat Adat memegang peran penting dalam menjaga bumi dari krisis iklim. Dari zaman ke zaman mereka sudah memiliki resep untuk bumi, mulai dari perlindungan hutan, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, sekaligus pemuliaan pangan lokal.

    “Kami percaya tanah adalah ibu kami, hutan adalah bapak kami, dan sungai adalah darah kami. Kepercayaan itulah yang membawa kami untuk terus melestarikan alam dari ancaman industri ekstraktif,“ tutur Raymundus Remang, Kepala Desa Sungai Utik, saat membuka acara Berdendang di Betang.

    Dia berharap semakin banyak seniman dan berbagai kalangan turut menyuarakan pentingnya UU Masyarakat Adat agar Masyarakat Adat di seluruh nusantara bisa berdaulat, mandiri, dan bermartabat di tanahnya sendiri.

    Aday, gitaris King of Borneo, mengungkapkan antusiasmenya dengan kolaborasi ini. Kolaborasi karya ini, ujarnya, adalah mimpi yang jadi nyata. Musik kami, termasuk karya kolaborasi “Suar” terinspirasi dari Masyarakat Adat yang selalu menjaga dan melestarikan alam.

    “Oleh karena itu kami membawakan karya kami untuk kali perdana di depan sumber inspirasi kami. Sayangnya, resep perlindungan alam oleh Masyarakat Adat belum diakui oleh pemerintah,” tambahnya.

    Aday menyayangkan, meski telah terbukti berhasil melestarikan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati selama bertahun-tahun, banyak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada Masyarakat Adat dan justru menyingkirkan masyarakat dari ruang hidupnya

    Baca: Konser ramah lingkungan ala Coldplay

    Data dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menunjukkan bahwa selama 10 tahun terakhir, telah terjadi 687 konflik agraria di wilayah adat.

    Ketiadaan UU Masyarakat Adat menyebabkan lebih dari 11,7 juta hektar wilayah adat diambil alih dengan dalih Proyek Strategis Nasional (PSN).

    Aday menambahkan, bahwa proses kreatif yang mereka lalui tak terlepas dari dukungan Merapah Banua, sebuah gerakan kolektif penyelamatan alam dan budaya untuk masa depan yang berkelanjutan yang digagas MADANI Berkelanjutan dan Putussibau Art Community.

    Mewakili Merapah Banua, Trias Fetra mengisahkan proses kreatif yang telah dilakukan.

    Menurutnya, proses ini adalah hasil dari kolaborasi mendalam dan penuh komitmen. Sesuai misi kami untuk mencari keseimbangan antara manusia dan alam.

    ”Kami telah mengadakan sejumlah pertemuan, berdiskusi, bertukar ide, dan menemukan cara terbaik untuk menghidupkan karya bersama yang bukan hanya menyuarakan pesan, tetapi juga menggerakkan hati banyak orang untuk lebih peduli terhadap aksi penyelamatan hutan dan hak-hak Masyarakat Adat,” jelas Trias.

    Dia menyesalkan RUU Masyarakat Adat yang sampai saat ini masih digantung nasibnya dan tak kunjung disahkan. 

    Sebagai bagian dari upaya menyuarakan isu penting ini, single “Suar” karya King of Borneo dan Tuan Tigabelas akan segera dirilis ke publik dalam bentuk audio dan video klip.

    Baca: Aksi keren anak muda Bandung bernama Pandawara

  • Menyoroti Polemik Penarikan Royalti Pemutaran Musik di Ruang Publik

    Menyoroti Polemik Penarikan Royalti Pemutaran Musik di Ruang Publik

    7cloud.asia – Kebijakan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) menarik royalti dari pemutaran lagu di ruang publik komersial, seperti kafe, restoran, hotel dan pusat perbelanjaan menuai polemik.

    Sebagian masyarakat menilai rencana ini berlebihan. Namun, tidak sedikit yang berpendapat para pencipta lagu berhak atas royalti dari karya mereka.

    Menanggapi polemik ini, Anggota Komisi X DPR, Ratih Megasari Singkarru mengatakan dalam perkara ini asas keadilan harus dijunjung, baik untuk para pencipta maupun pelaku usaha.

    “Mengenai polemik pemutaran lagu di ruang publik seperti kafe, hotel, dan pusat perbelanjaan, saya kira kita perlu memandang persoalan ini secara seimbang,” kata Ratih dalam keterangan yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Sabtu (9/8/2025).

    Ratih mengatakan, pemutaran lagu memiliki nilai strategis dalam menarik pengunjung dan mendukung keberlangsungan usaha. Namun di sisi lain, para pencipta lagu juga berhak atas penghargaan dan apresiasi terhadap hasil kreativitas mereka.

    Baca: Pemerintah diminta pajaki orang kaya yang boros energi

    “Maka, adalah wajar jika para pencipta karya juga memperoleh penghargaan dalam bentuk royalti,” ujar politisi Partai NasDem ini.

    Ia juga menekankan terkait mekanisme pungutan dan distribusi royalti yang harus dilakukan secara transparan, proporsional, dan tidak membebani secara berlebihan, terutama bagi pelaku UMKM atau usaha kecil yang baru bertumbuh.

    Menurut Ratih, akar dari polemik tersebut lebih pada ketidakpastian mekanisme serta lemahnya komunikasi antara lembaga pengelola hak cipta dengan para pengguna karya.

    Ratih menekankan, pendekatan harus lebih pada edukasi, fasilitasi, dan pembangunan sistem yang adil dan akuntabel, bukan semata-mata pada pendekatan penegakan hukum secara kaku.

    Untuk itu, penting untuk mencari titik temu yang solutif agar tercipta ekosistem industri kreatif yang adil, sehat, dan mampu memberikan nilai tambah bagi keberlangsungan usaha.

    Baca: Komisi VII DPR tolak pajak UMKM

    “Penting bagi negara untuk hadir menjembatani kepentingan pencipta dan pengguna, agar tercipta ekosistem yang saling mendukung dan berkelanjutan,” tukas Ratih.

    Musisi, masyarakat, dan pelaku usaha dibenturkan dalam persoalan pembayaran royalti lagu, sementara pemerintah hanya jadi penonton.

    Menurut sejumlah pengamat, Informasi dan sosialisasi royalti musik oleh pemerintah selama ini disebut sangat minim.

    Di sisi lain, kelompok musisi mempertanyakan transparansi laporan rinci dari uang royalti yang berhak mereka dapatkan. Aspek “informasi prosedur dan penghitungan royalti yang terbatas” ini membuat sebagian pemusik belum mendaftarkan diri ke LMKN

    Sejak Maret lalu, 29 musisi mengajukan gugatan uji materi Undang-undang Hak Cipta ke Mahkamah Konstitusi terkait aturan royalti. Pengajuan uji materiil tersebut telah terdaftar dengan nomor 33/PUU/PAN.MK/AP3/03/2025.

    Baca: DPR soroti penarikan pajak dari pedagang online

    Pembayaran royalti ini sebenarnya sudah diatur melalui Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan regulasi turunan berupa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik.

    Dalam PP tersebut, ada 14 bentuk layanan publik yang bersifat komersial, sehingga penggunaan lagu dan musik di lokasi tersebut patut membayar royalti.
    Mereka yang wajib membayar royalti adalah seminar dan konferensi komersial;
    Restoran, kafe, pub, bar, bistri, kelab malam, dan diskotek; Konser musik;
    Pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut; pameran dan bazar; bioskop;
    Nada tunggu telepon; Bank dan kantor; Pertokoan; Pusat rekreasi; Lembaga penyiaran televisi; Lembaga penyiaran radio; Hotel, kamar hotel, dan fasilitas hotel; Usaha karaoke.

    Penarikan dan pengelolaan royalti dilakukan melalui Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Royalti dikumpulkan berdasarkan laporan penggunaan data lagu/musik yang terdaftar di Sistem Informasi Lagu/Musik.

  • Studi: Musik Bantu Anak Mengenali Emosi Sejak Dini

    Studi: Musik Bantu Anak Mengenali Emosi Sejak Dini

    7cloud.asia – Studi terbaru dari Universitas Pennsylvania menunjukkan bahwa musik dapat membantu anak-anak khususnya yang berusia 3 hingga 5 tahun untuk mengenali emosi sejak dini.

    Laporan News Medical and Life Sciences, Jumat (8/8/2025), mengungkapkan studi yang dilakukan oleh Departemen Psikologi di Sekolah Seni dan Sains Pensylvania itu melibatkan 144 anak-anak di wilayah Philadelphia.

    Mereka mempelajari bagaimana anak berusia 3 sampai 5 tahun bisa mengenali emosi kebahagiaan, kesedihan, ketenangan, atau ketakutan dalam klip musik berdurasi 5 detik.

    Mereka menemukan bahwa anak-anak dapat mengidentifikasi emosi dengan tingkat akurasi yang lebih baik daripada tebakan acak, dengan hasil yang meningkat seiring bertambahnya usia.

    Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak pandai mencocokkan ekspresi emosi dengan musik yang tepat, bahkan pada usia 3 tahun yang menekankan betapa pentingnya musik, terutama dalam sosialisasi emosi dan pengajaran keterampilan sosial.

    Baca: Pendidikan moral dan etika harus diajarkan sejak dini

    Serta bagi anak-anak yang mungkin masih belajar cara mengekspresikan emosi mereka secara verbal,” ujar Profesor Madya Universitas Pennsylvania Rebecca Waller bersama penulis senior Rista C. Plate.

    Temuan yang dipublikasikan jurnal Child Development itu juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan penilaian tinggi dari orang tuanya dalam hal pengenalan emosi yang buruk, kurang mengenali emosi secara keseluruhan namun tidak mengalami kesulitan dalam mengenal musik dengan emosi menakutkan.

    Waller mengatakan studi yang dilakukannya itu adalah studi pertama yang meneliti apakah anak-anak yang kurang mengenal emosi, bisa mengalami kesulitan memahami pesan emosi yang disampaikan melalui lagu.

    Peneliti lainnya Yael Paz mengatakan bahwa salah satu hal lainnya yang menarik dari penelitian ini adalah mencari perbedaan antara pengenalan emosi melalui musik dibandingkan dengan pengenalan emosi dari ekspresi wajah.

    Waller mengatakan dalam penelitian sebelumnya di laboratorium, menunjukkan bahwa anak-anak yang sulit mengenal emosi memiliki tendensi kesulitan memahami tekanan emosi dari ekspresi wajah.

    Baca: Kekerasan marak karena toleransi tidak diajarkan sejak anak

    Para peneliti membawa hipotesis bahwa anak-anak yang kesulitan memahami emosi tersebut juga berpotensi lebih sulit mengenali musik dengan emosi menakutkan.

    Namun ternyata lewat penelitian terbaru ini, Paz menemukan hasil yang berbanding terbalik karena anak-anak yang dinilai kurang peka terhadap emosi itu ternyata sama baiknya dalam mengenali rasa takut.

    Hal itu menunjukkan bahwa musik memiliki potensi yang tepat untuk pengenalan emosi kepada anak-anak.

    Paz memandang musik menjadi salah satu solusi alternatif bagi anak-anak mengenal emosi dibandingkan memahaminya lewat ekspresi wajah atau isyarat visual lainnya.

    Meski demikian, studi ini masih terbatas karena dilakukan pada sampel komunitas anak-anak dengan tingkat pengenalan emosi yang rendah.

    Baca: Meredam perilaku konsumtif anak sejak dini

    Para peneliti mencatat mereka akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk anak-anak yang dirujuk dari klinik dengan kondisi kesulitan memahami emosi.

    Salah satu yang ingin diungkap peneliti di studi selanjutnya tersebut adalah faktor-faktor apa yang menjelaskan perbedaan kemampuan anak-anak mengidentifikasi emosi dalam musik.

    “Kami bersemangat untuk terus menggunakan musik sebagai paradigma, baik untuk memahami mekanisme yang mendasarinya maupun sebagai target pengobatan,” ujar Waller.

    Ia juga menambahkan musik bisa sangat menggugah, yang mungkin sangat bermanfaat bagi subkelompok anak-anak.

  • Konser Musik Jadi Medium ‘Artwashing’: Bagaimana Musisi dan Pecinta Musik Harus Bersikap

    Konser Musik Jadi Medium ‘Artwashing’: Bagaimana Musisi dan Pecinta Musik Harus Bersikap

    7cloud.asia – Masuknya nama Freeport Indonesia, perusahaan tambang yang lama dituding merusak ekologi Papua terpampang megah di balik panggung PestaPora 2025 memicu belasan musisi mundur dari acara tersebut.

    Yang lebih ironis, kontroversi terjadi hanya dua tahun setelah PestaPora menjadi ajang kampanye lingkungan dengan menggandeng Greenpeace.

    Pergeseran ini menunjukkan bahwa festival musik adalah arena pertempuran ideologi ekonomi dan politik.

    Pestapora 2025 yang seharusnya menjadi ruang kebebasan seni, justru dipakai sebagai alat artwashing (praktik menggunakan seni untuk memperbaiki citra individu, perusahaan, atau organisasi). Ini menempatkan musisi serta publik pada dilema etika antara kapital dan keberpihakan.

    Freeport bukan sekadar perusahaan tambang. Konsesinya di Papua berdiri di atas tanah adat yang diambil paksa dari masyarakat setempat. Dari sana lahir kerusakan lingkungan, pencemaran sungai, dan luka sosial yang diwariskan turun-temurun.

    Ketika nama Freeport terpampang megah di panggung festival, kita tidak sedang membicarakan musik. Kita sedang menyaksikan perubahan fungsi panggung yang semestinya jadi ruang ekspresi menjadi media yang melanggengkan ketimpangan relasi kuasa.

    Ini menunjukkan bagaimana festival musik juga dapat menjadi arena greenwashing, yaitu upaya perusahaan dengan rekam jejak buruk lingkungan untuk memoles citra lewat seni dan budaya.

    Lantas, bagaimana seharusnya para penikmat musik dan musisi menyikapi kondisi ini? Dapatkan jawabannya di tulisan selanjutnya.

    Dilema musisi
    Posisi musisi tak kalah rumit. Manggung di Pestapora berarti ikut masuk ke dalam jaringan kapital. Tidak manggung berarti kehilangan akses ke audiens besar, bahkan mungkin kehilangan mata pencaharian.

    Tidak sedikit musisi yang merasa khawatir tidak diajak lagi di kemudian hari oleh penyelenggara jika menolak undangan Pestapora.

    Dalam Pestapora 2025, puluhan musisi yang dijadwalkan untuk tampil di hari kedua dan ketiga memilih mundur. Pilihan ini berani. Sebab artinya musisi menolak sebuah panggung yang bisa menjadi kesempatan besar untuk karier mereka.

    Namun ada juga yang memilih tetap tampil dengan berbagai alasan. Ada yang menekankan bahwa musik adalah ruang publik yang tidak boleh ditinggalkan. Ada yang berargumen, honor yang mereka terima bisa disalurkan untuk komunitas atau aksi sosial.

    Kedua posisi ini memperlihatkan dilema fundamental: apakah musik sekadar hiburan, ataukah ia bahasa keberpihakan?

    Sebagai etnomusikolog, mungkin topik ini akan berujung jadi debat kusir. Dalam tradisi masyarakat adat seperti suku Dayak di Kalimantan Tengah, musik gandang ahung atau nyanyian sasana kayau tidak pernah netral.

    Ia adalah bahasa solidaritas: menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan sesama. Musik digunakan untuk meneguhkan kosmos, merawat ingatan, dan melawan krisis.

    Begitu pula di daerah-daerah lainnya, musik dan tarian adat bukan sekadar produk seni. Ia menjadi cara komunitas merespons kerusakan ekologi dan penindasan politik.

    Pentingnya pilihan
    PestaPora 2025 menunjukkan dengan jelas bahwa panggung musik adalah arena politik. Ia bisa menjadi ruang solidaritas, tetapi juga bisa menjadi instrumen artwashing. Pilihannya ada pada kita: musisi, penonton, media, dan publik.

    Sebagai penonton, kita perlu bersikap kritis. Pertama, jangan pernah percaya bahwa musik itu netral. Ia selalu berpihak, entah kepada kehidupan, atau kepada modal.

    Kedua, kita perlu mewaspadai berbagai bentuk artwashing. Ketiga, kita perlu menuntut bentuk festival baru: yang tidak hanya jadi etalase sponsor besar, tapi benar-benar berpihak pada komunitas, lingkungan, dan keberagaman budaya.

    Kontroversi Pestapora seharusnya tidak berhenti sebagai obrolan di media sosial. Musisi perlu terus bersuara. Penonton berhak kritis terhadap tiket yang mereka beli. Dan masyarakat layak menuntut transparansi sponsor festival.

    Kita tentu ingin masa depan musik Indonesia yang lebih adil, sehat, dan berdaulat. Itu berarti berani berkata tidak pada sponsor yang merusak, dan berani membangun panggung alternatif yang lahir dari solidaritas, bukan kompromi.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhammad Rayhan Sudrajat (Ethnomusicologist & Lecturer, Universitas Katolik Parahyangan)

  • World Angklung Day: Alunan Musik Angklung Akan Tampil di Panggung Dunia

    World Angklung Day: Alunan Musik Angklung Akan Tampil di Panggung Dunia

    7cloud.asia – Kota San Francisco akan menjadi saksi harmoni bambu Indonesia bergema di panggung dunia melalui perayaan World Angklung Day (WAD) yang akan digelar pada Sabtu, 15 November 2025, di Mills Theater, Millbrae, California, Amerika Serikat.

    World Angklung Day ini merupakan inisiatif Indonesia Lighthouse bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) San Francisco untuk memperingati 15 tahun pengakuan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

    Delegasi Tetap Indonesia dan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO turut mendukung World Angklung Day sebagai upaya memperkenalkan musik angklung ke panggung internasional.

    Sebelum konser dimulai, pengunjung juga dapat menikmati berbagai booth bertema Indonesia yang menampilkan kuliner, pariwisata, kecantikan, dan photo booth interaktif.

    “Kami ingin program ini menghubungkan komunitas angklung lintas wilayah,” kata Ari Sufiati yang menggagas acara ini dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia Senin (3/11/2025)

    Mengusung tagline “From Cultural Heritage to Legacy,” World Angklung Day diharapkan menjadi simbol komitmen untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dan relevan.

    Baca: Musik bantu anak mengenali emosi sejak dini

    “Budaya hanya akan abadi jika dimainkan, dijaga, dan dikembangkan. Angklung bukan sekadar alat musik, ia adalah bahasa harmoni yang menyatukan dunia,” tegas Ari.

    Ari berharap gema angklung tidak berhenti di San Francisco, melainkan menggema ke berbagai penjuru dunia. Dia berharap, setiap bulan November dunia mendengar bunyi bambu Indonesia.

    “Kami menyebutnya mengangklungkan dunia, menduniakan angklung,” tandasnya.

    Gagasan penyelenggaraan WAD berawal dari percakapan sederhana antara para pemain angklung diaspora Indonesia di California yang tergabung dalam komunitas Angklung Cendrawasih.

    Salah satunya, Ari Sufiati, yang membawa ide konser kecil di community center ke berbagai pihak saat ia berkunjung ke Indonesia, menjadi berkembang pesat, salah satunya ketika berdiskusi dengan pihak Kementrian Pariwisata dan aktivis angklung Tricia Sumarijanto.

    “Gayung bersambut ketika menghubungi KJRI San Francisco yang siap membantu. Tidak menyangka, ide sederhana ini mendapat sambutan luar biasa,” ujar Ari, penggagas World Angklung Day.

    Baca: Konser musik jadi medium ‘Artwashing’

    Dengan waktu persiapan hanya tiga bulan, Indonesia Lighthouse dipercaya menjadi penyelenggara utama.

    Dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk KBRI Washington DC, Ditjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kementrian Kebudayaa, Paragon Corp, BCA, AICEF, dan mitra pariwisata Wonderful Indonesia Kementrian Pariwisata seperti Sudamala Resort.

    “Sambutannya sangat hangat, bahkan KJRI San Francisco siap menghadirkan tamu diplomat dan perwakilan organisasi internasional.” imbuh Ari.

    Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Millbrae dan komunitas diaspora Indonesia di Bay Area yang antusias menjadi bagian dari promosi budaya Indonesia.

    “Angklung punya filosofi harmoni—setiap orang memegang satu nada, dan keindahan lahir ketika dimainkan bersama,” lanjut Ari. “Filosofi ini universal, tentang bagaimana keberagaman melahirkan keindahan.”

    Selain penampilan utama oleh Angklung Cendrawasih, acara akan menampilkan kolaborasi lintas komunitas dan keyakinan bersama Angklung Gereja Kristen Indonesia San Jose dan Manshur Angklung yang didatangkan dari Indonesia.

    “Latihan kami baru sekitar 50 persen, tapi semangatnya 100 persen,” ujar Yuli Grimes, anggota Cendrawasih.

    “Kami akan membawakan empat lagu sendiri dan sisanya bersama komunitas lain. Rasanya seperti menenun irama bambu menjadi jembatan lintas iman dan bangsa.”

    Baca: Pemerintah Belanda kembalikan ratusan artefak bersejarah kepada Indonesia