Tag: nyamuk

  • Polusi dan Suhu Tinggi Picu Perkembangan Nyamuk Malaria

    Polusi dan Suhu Tinggi Picu Perkembangan Nyamuk Malaria

    7cloud.asia – Pada 2017, malaria membunuh 435 ribu orang di seluruh dunia. Sebagian besar kasus kematian – 403 ribu – terjadi di benua Afrika. Mayoritasnya di Afrika sub-Sahara.

    Saya dan kolega di Institut Nasional untuk Penyakit Menular melacak kasus malaria dan perilaku nyamuk di Afrika Selatan.

    Kami, dalam penelitian, mengamati tiga aspek utama. Salah satunya adalah pengaruh aktivitas manusia terhadap biologi nyamuk. Di sini kami melihat efek polusi logam berat pada berbagai ciri riwayat hidup serta ekspresi resistensi insektisida di Anopheles arabiensis, yang merupakan salah satu spesies nyamuk yang menularkan penyakit malaria.

     

    Kami juga melakukan penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap kemanjuran insektisida yang ditujukan untuk vektor malaria.

    Kami kemudian melihat bagaimana efek suhu yang hangat pada vektor malaria utama, An. arabiensis.

    Nyamuk An. arabiensis sangat sulit dikendalikan. Selain resistensi insektisida yang sudah dilaporkan, mereka cenderung menghindari jaring dan dinding yang diberi insektisida. Nyamuk ini juga cenderung menggigit orang di luar ruangan, tempat ini hanya sedikit yang bisa dilakukan untuk perlindungan.

    Riset kami bertujuan untuk memahami aspek biologi nyamuk kompleks ini untuk melacak bagaimana perubahan lingkungan mempengaruhi perilaku hewan ini. Mudah-mudahan ini akan menginformasikan strategi pengendalian malaria dan membawa kita lebih dekat untuk menghilangkan penyakit ini.

    Racun-racun

    Tahap larva nyamuk adalah akuatik atau hidup dekat air. Tahap rentan ini sangat penting untuk kesejahteraan nyamuk dewasa. Ini mirip dengan kesehatan bayi manusia akan menentukan kesehatan masa depan orang dewasa.

    Banyak faktor lingkungan larva memiliki efek mendalam pada kesejahteraan nyamuk dewasa. Ini termasuk suhu lingkungan, tingkat kepadatan, dan akses nutrisi. Namun, aktivitas manusia telah mengakibatkan peningkatan tingkat polusi air, dan jentik nyamuk terpapar lebih banyak racun.

    Hal ini berdampak besar pada nyamuk penular malaria. Serangga ini biasanya berkembang biak di air bersih, tapi telah beradaptasi dengan berkembang biak di air yang tercemar. Ini berarti vektor malaria sekarang berpotensi meningkatkan jangkauan mereka ke daerah yang malaria biasanya tidak terjadi.

    Penelitian kami menunjukkan bahwa sumber air yang tercemar menjadi tempat berkembang biak nyamuk yang toleran atau tahan terhadap berbagai racun. Kami menemukan bahwa nyamuk dewasa yang terpapar logam sejak tahap larva menjadi resisten terhadap insektisida.

    Saat ini kami tidak tahu apakah nyamuk yang resisten terhadap insektisida atau rentan lebih baik dalam menularkan malaria. Tapi aktivitas pencemaran menghasilkan perluasan jangkauan dan perubahan prosedur seleksi pada nyamuk.

    Suhu pada insektisida dan nyamuk

    Penelitian lebih lanjut yang kami lakukan menunjukkan bahwa suhu tinggi juga mempengaruhi kemanjuran (efikasi) insektisida tertentu.

    Insektisida umumnya digunakan sebagai intervensi kesehatan masyarakat terhadap vektor malaria di beberapa negara Afrika seperti Afrika Selatan, Kamerun, dan Kenya. Mereka adalah bagian penting dari kebijakan dan strategi pengendalian malaria untuk menghilangkan penyakit tersebut.

    Temuan kami penting dalam upaya menentukan kemanjuran insektisida yang saat ini digunakan. Namun, penelitian kami berbasis di laboratorium dalam kondisi terkontrol sehingga masih harus diuji dalam kehidupan nyata. Pasalnya, suhu yang berbeda dapat memiliki efek yang berbeda. Kondisi lingkungan juga bervariasi dan dapat berdampak pada kemanjuran insektisida.

    Terkait nyamuk, penelitian kami menunjukkan bahwa suhu dapat berdampak signifikan pada siklus hidup serangga ini. Misalnya, perubahan iklim dapat mempengaruhi distribusi vektor malaria. Kami mempelajari bagaimana kenaikan suhu mempengaruhi vektor utama malaria. Kami berfokus secara khusus pada bagaimana vektor yang resisten terhadap insektisida terpengaruh vektor yang rentan terhadap insektisida.

    Nyamuk yang mengembangkan resistensi lebih toleran atau mampu bertahan terhadap  suhu tinggi dibandingkan nyamuk yang tidak resisten. Ini berarti bahwa ketika suhu naik, maka nyamuk bisa kebal terhadap insektisida. Ini akan mempersulit pengendalian malaria.

    Mengapa kita harus khawatir

    Aktivitas manusia mendorong evolusi nyamuk. Kegiatan pencemaran mengakibatkan nyamuk penular malaria meluas ke daerah yang sebelumnya tidak ada. Adaptasi terhadap polusi air menghasilkan peningkatan toleransi terhadap pestisida.

    Nyamuk yang tahan insektisida atau toleran lebih baik mengatasi polutan yang lebih beracun. Saat ini tidak diketahui apakah nyamuk ini lebih mungkin menularkan malaria daripada nyamuk yang rentan terhadap insektisida.

    Para ilmuwan baru mulai mengungkap apa artinya ini bagi pemberantasan malaria.

     Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di The Conversation, untuk memperingati Hari Malaria Sedunia, 25 April.

  • Guru Besar UI: Bakteri Wolbachia Tidak Menginfeksi Manusia

    Guru Besar UI: Bakteri Wolbachia Tidak Menginfeksi Manusia

    7cloud.asia – Guru Besar Ilmu Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) Prof Anom Bowolaksono menjelaskan bahwa bakteri Wolbachia tidak menginfeksi manusia.

    Menurutnya bakteri Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat di dalam tubuh serangga, termasuk nyamuk.

    Penggunaan bakteri Wolbachia untuk menekan populasi nyamuk aedes aegepty, kata dia, telah diterapkan di beberapa negara, seperti Australia dan Singapura.

    Penggunaan bakteri Wolbachia terbukti efektif menekan laju kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan lewat gigitan nyamuk aedes aegepty.

    Baca: Bakteri wolbachia efektif turunkan kasus DBD

    Menurutnya, masalah bagi manusia adalah bagaimana menurunkan angka penderita DBD. Sampai saat ini penyakit DBD masih belum ada obatnya.

    “Maka dari itu salah satu alternatifnya adalah memutus rantai vektor dengan cara menekan populasi nyamuk pembawa virus Dengue,” katanya sebagaimana dikutip Antaranews.com.

    Untuk mengendalikan terjadinya wabah atau penyakit, menurutnya, maka harus dilihat dari jumlah vektor dan jumlah penderitanya.

    Jika jumlah vektornya turun, maka penyakit tidak akan tertular dengan baik dan berujung pada penurunan angka penyebaran.

    Baca: Penggunaan bakteri wolbachia turunkan kasus DBD di Yogyakarta

    Lebih lanjut Prof Anom mengatakan bahwa secara penelitian bakteri Wolbachia mampu mengurangi kapasitas nyamuk dengan menyasar pada jaringan reproduksi.

    Jika bakteri Wolbachia pada hewan jantan, maka akan membuat nyamuk jantan tersebut menjadi lebih feminin dan tidak bisa menghasilkan spermatozoa.

    Begitu pun pada hewan betina, Wolbachia akan menyerang jaringan reproduksi dan menyebabkan nyamuk betina tidak bisa bertelur.

    Nantinya, nyamuk menjadi tidak berkembang dan tidak mampu menularkan virus Dengue pada manusia yang terkena gigitan.

    Baca: Gerebek Jumantik, cara mudah mencegah penularan nyamuk

    Prof Anom juga menjelaskan nyamuk yang telah diinjeksi bakteri Wolbachia ini tidak ada kaitannya dengan penyakit radang otak atau Japanese encephalitis, seperti yang belakangan ini banyak menjadi perbincangan di media sosial.

    Ia mengatakan penyakit radang otak Japanese encephalitis memang disebarkan oleh nyamuk. Namun, nyamuk yang menyebarkannya atau sebagai vektornya adalah nyamuk Culex.

    Sedangkan yang diinfeksi bakteri Wolbachia di negara Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti.

    Sumber; Antaranews.com

     

  • Bappenas Minta Penyebaran Nyamuk dengan Bakteri Wolbachia Dihentikan

    Bappenas Minta Penyebaran Nyamuk dengan Bakteri Wolbachia Dihentikan

    7cloud.asia – Pro kontra mengenai program penyebaran nyamuk dengan bakteri wolbachia untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue berlanjut.

    Pada Kamis (30/11/2023) lalu, Staf Khusus Kementerian PPN/Bappenas (Badan
    Perencanaan Pembangunan Nasional) Kemal Taruc, meminta program penyebaran
    (pelepasan) nyamuk dengan bakteri wolbachia itu dihentikan.

    Penghentian penyebaran (pelepasan) nyamuk dengan bakteri wolbachia dilakukan sampai ada penjelasan dari pihak kementerian kesehatan.

    “Saya minta Kemenkes (kementerian kesehatan) yang harus hentikan. Mudah-mudahan Bappenas bisa mempengaruhi dan membujuk, terserah, stop dululah! ujarnya sebagaimana dikutip Antaranews.com.

    Ia menambahkan, agar Ssemua langkah dipakai. Jadi logika saya kalau nggak ada apa-apa lepas, tapi kalau ada apa-apa kan, nggak bisa ditarik lagi.

    Baca: Guru besar UI sebut bakteri wolbachia tidak menginfeksi manusia

    ”Saya juga nggak ngerti nyamuk ini bener begitu apa tidak, telurnya banyak. Saya tunggu jelasnya seperti apa,” tegas Kemal ketika menerima aspirasi dari beberapa pegiat kesehatan yang berdemo di depan gedung Bappenas.

    Selain itu, menurutnya, belum ada kajian yang jelas terhadap dampak lingkungan dan kesehatan mengenai penyebabaran nyamuk dengan bakteri wolbachia juga menjadi faktor harus dihentikannya penyebaran nyamuk tersebut.

    “Bappenas harus cari tahu. Kenapa begini, saya dengar penjelasannya apa. Tentu mereka punya alasan ya. Jadi saya nggak mau bilang salah, hingga semua bisa tenang dan terbuka,” imbuh Kemal.

    Kendati begitu, diungkapkannya, Bappenas tidak berada pada posisi menolak program ini.

    Namun, dia menegaskan harus ada kajian dan sosialisasi yang jelas untuk menyebarkan nyamuk dengan bakteri wolbachia yang didatangkan dari luar itu.

    Baca: Seperti ini penggunaan nyamuk dengan bakteri wolbachia

    Nantinya, Bappenas siap menjadi media untuk membuat diskusi dengan semua pihak terkait, agar rekomendasi bisa langsung disampaikan ke Presiden.

    Sebelumnya mantan Menteri Kesehatan periofe 2004-2009 Siti Fadilah Supari menilai, penyebaran nyamuk dengan bakteri wolbachia belum tentu aman. 

    Hal ini karena dampak penyebaran nyamuk dengan bakteri wolbachia ini belum diketahui.

    Menurut Siti, ini adalah progam World Mosquito, bukan program Indonesia.

    “ini program filantropi dari luar negeri. Mereka peneliti, tapi yang diteliti adalah kita sendiri. Ini yang membuat ketidanyamanan menurut saya sebagai bangsa yang berdaulat.

    Baca: Kenaikan suhu dan polusi percepat pertumbuhan populasi nyamuk

    Karena dari segi kesehatan, menurut Siti, Kemenkes cukup berhasil dalam pengendalian DBD di Indonesia.

    Mantan Menkes ini lebih lanjut mengatakan, untuk penelitian penanganan DBD tak masalah dilakukan oleh siapa pun. Namun ia menekankan, hal itu harus menggunakan cara yang transparan.

    ”Kita tidak menentang penelitian DBD diluar oleh siapa pun, baik oleh World
    Msquito Program (WMP). Tapi kalau mereka menggunakan masyarakat kita, seharusnya mereka menggunakan cara yang lebih transparan,” tandasnya.

    Kementerian kesehatan sebelumnya juga telah menetapkan lima wilayah yang akan disebarkan nyamuk wolbachia untuk memberantas nyamuk demam berdarah.

    Lima wilayah itu yaitu Semarang, Bandung Jakarta Barat, Kupang dan Bontang.
    Program pelepasan nyamuk ini juga telah dilakukan di Yogyakarta, tepatnya di daerah Sleman dan Bantul tahun 2022 lalu.

    Baca: Penggunaan bakteri wolbachia efektif turunkan kasus DBD di Yogyakarta

    Hasilnya, program itu diklaim dapat menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen.

    Sementara di Bali, tepatnya di Buleleng dan Denpasar, menolak disebarkan nyamuk dengan bakteri wolbachia lantaran dinilai mengganggu kegiatan pariwisata di sana.

  • Mengusir Nyamuk dengan Cara Ramah Lingkungan

    Mengusir Nyamuk dengan Cara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Untuk mengatasi gangguan nyamuk dan serangga lainnya, banyak orang menggunakan bahan kimia yang kadang tidak ramah lingkungan.

    Padahal ada cara yang lebih aman bagi lingkungan yang bisa dilakukan untuk mengusir atau menghindari gangguan nyamuk.

    Untuk menghindari gangguan nyamuk secara ramah lingkungan, mungkin kita perlu mengenali karakter dan perilaku nyamuk. Penjelasan di bawah ini mungkin dapat menjadi jawabannya.

    Ada beberapa hal yang disukai nyamuk, antara lain:

    Karbondioksida (CO2)
    Napas yang kita embuskan mengandung karbondioksida. Jadi jangan heran jika nyamuk akan selalu tertarik dengan manusia. Demikian juga pada malam hari, tanaman akan menghasilkan karbondioksida.

    Ini dia alasan mengapa jika Anda memiliki kebun atau banyak tanaman di rumah, otomatis jumlah nyamuk di malam hari akan sangat banyak.

    Warna gelap
    Menurut situs ini, nyamuk tertarik dengan warna-warna gelap dan pekat seperti hitam, merah, dan biru navy. Jika Anda ingin terhindar dari gigitan nyamuk, mungkin ini waktunya untuk beralih ke pakaian berwarna cerah.

    Gigitan nyamuk juga mampu menembus pakaian yang ketat. Jadi gunakan lah pakaian yang longgar untuk mendapatkan perlindungan lebih baik.

    Baca: Kenali ciri-ciri nyamuk aedes aegepty

    Asam laktat
    Asam laktat merupakan senyawa kimia yang biasa dihasilkan kelenjar keringat saat kita berolahraga atau beraktivitas tinggi.

    Menurut beberapa sumber, nyamuk lebih tertarik kepada orang yang memiliki kadar asam laktat tinggi di kulitnya. Ini yang menjadi alasan mengapa nyamuk akan lebih sering menghampiri ketika Anda berkeringat.

    Suhu panas
    Nyamuk sangat tertarik dengan temperatur tinggi. Maka jangan heran nyamuk banyak muncul di musim kamarau saat suhu udara terasa panas dan lembap.

    Nyamuk juga lebih sering menggigit ibu hamil karena perempuan yang sedang mengandung memiliki temperatur tubuh lebih tinggi daripada orang biasa.

    Fakta berikutnya yang perlu Anda ketahui adalah nyamuk sebetulnya bukan penerbang yang baik. Nyamuk juga tidak menyukai warna-warna tertentu.

    Fakta-fakta di atas dapat kita manfaatkan untuk menghindari atau bahkanvmengusir nyamuk dari tempat tinggal kita.

    Anda dapat menggunakan kipas angin dan AC untuk menghalau nyamuk. Selain anginnya dapat mengacaukan pola terbang nyamuk, suhu udara di sekitar Anda dan temperatur tubuh juga bisa lebih sejuk sehingga tidak terlalu menarik bagi nyamuk.

    Perangkat ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi hama, mendorong mereka untuk meninggalkan area tersebut.

    Baca: Kontroversi penggunaan bakteri wolbachia untuk cegah DBD

    Salah satu teknologi yang digunakan dalam pengusir serangga adalah gelombang ultrasonik. Alat ini akan menghasilkan gelombang suara frekuensi tinggi yang tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi dapat mengganggu sistem navigasi dan komunikasi hama.

    Anda juga dapat menggunakan warna-warna tertentu untuk menghindari nyamuk. Dikutip dari Tom’s Guide, Selasa (30/5/2023), menurut para ilmuwan dari University of Washington, ada warna tertentu yang menarik nyamuk.

    Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Communications mengungkapkan bahwa indera penciuman nyamuk, memengaruhi responsnya terhadap isyarat atau warna visual.

    Namun, preferensi warna ini hanya terjadi jika ada karbon dioksida (CO2), yang kita hembuskan saat bernapas. Meskipun nyamuk merespons napas, keringat, dan suhu tubuh kita, menghilangkan warna yang menarik perhatian nyamuk dapat membantu menjauhkan mereka.

    Berikut ini beberapa warna yang dibenci nyamuk. Anda dapat menggunakan salah satu warna ini untuk mengusir nyamuk di rumah atau pekarangan.

    1. Biru
    Mengingat nyamuk diketahui tertarik pada warna yang lebih gelap, penelitian ini mengungkapkan warna biru tidak disukai oleh nyamuk.

    Warna biru tua, warna biru yang lebih terang sebenarnya memantulkan lebih banyak panas dan cahaya, yang tidak disukai nyamuk.

    Baca: Benarkah perubahan iklim picu pertumbuhan nyamuk

    2. Ungu
    Ungu juga merupakan warna yang tidak disukai nyamuk. Ini terutama karena ungu memiliki panjang gelombang terpendek dari semua warna pada spektrum cahaya tampak.

    Ini berguna jika Anda memiliki pakaian berwarna ungu, atau jika warna tersebut termasuk dalam furnitur luar ruangan Anda.

    3. Putih
    Umumnya, nyamuk menjauhi warna terang yang memantulkan panas. Ini menjadikan putih sebagai pencegah nyamuk yang ideal.

    Faktanya, warna putih adalah objek kontrol yang digunakan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk memasangkan setiap warna di ruang uji dengan benda putih untuk membandingkan hasilnya.

    Penelitian menunjukkan bahwa bahkan dengan CO2 yang disemprotkan di ruang uji, nyamuk menghindari benda warna putih demi warna yang mereka sukai.

    4. Hijau
    Ini mungkin terlihat aneh, karena nyamuk cenderung terbang di sekitar pekarangan rumah atau hinggap di tanaman. Namun ternyata penelitian menunjukkan nyamuk akan berusaha menghindari warna hijau.

    Selama penelitian, seorang peneliti meletakkan tangan kosong mereka di luar ruang uji, tempat nyamuk tertarik.

    Namun, ketika peneliti yang sama memasukkan tangan mereka ke dalam ruang uji dengan mengenakan sarung tangan hijau, nyamuk mengabaikannya, dan terbang melewatinya.

    Ini terjadi bahkan ketika disemprot dengan CO2 untuk menarik mereka lebih banyak. Sepertinya nyamuk bukan penggemar warna hijau. Meski hasil ini menjanjikan, para ahli menyarankan agar Anda tetap melakukan tindakan pencegahan lainnya.

    Citronella adalah tanaman pencegah yang baik karena bau jeruk menyengat nyamuk, dan sering ditemukan dalam semprotan pengusir nyamuk.

    Cara lain untuk mengatasi gangguan nyamuk di rumah adalah dengan memasang alat perangkap nyamuk. Secara garis besar, semua alat perangkap nyamuk menggunakan lampu untuk memikat nyamuk agar mendekat. Namun perbedaannya ada di metode perangkap.

    Memilih alat pengusir nyamuk yang tepat dapat memberikan keuntungan jangka panjang dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan bebas dari nyamuk.

    Dengan berbagai opsi yang tersedia, penting untuk mempertimbangkan kebutuhan spesifik Anda dan kondisi lingkungan sekitar.

  • Praktik Baik Menekan Penularan Malaria dan Demam Berdarah di Tengah Tantangan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Malaria dan Dengue masih menjadi ancaman serius di kawasan tropis, termasuk Indonesia dan Malaysia.

    Perubahan iklim, deforestasi dan alih fungsi lahan turut memperburuk kondisi karena menciptakan habitat baru bagi nyamuk vektor.

    Hal ini dibuktikan dengan data tingginya infeksi demam berdarah dengue di komunitas pinggir hutan di kedua negara.

    Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan darurat dan perlunya suatu sistem surveilans yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, kemajuan teknologi, serta interaksi manusia-satwa.

    Untuk itu, Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, menggelar webinar bertajuk “Combating Malaria and Dengue: Innovations and Strategies” pada Rabu (17/9/2025), secara daring.

    Baca: Deforestasi memicu penyebaran penyakit

    Webinar ini terselenggara berkat kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) dan Tropical Infectious Diseases Research & Education Centre (TIDREC), Universiti Malaya,

    Perwakilan WHO Indonesia Dr. dr. Ajib Diptyanusa, mengungkapkan terdapat tiga jenis nyamuk yang dapat menyebarkan penyakit yang mengancam nyawa manusia antara lain VBDs, Malaria, dan Dengue.

    Nyamuk seperti ini banyak berkembang di wilayah tropis dan subtropis. Salah satu kasus terbesar disebabkan oleh Malaria yang sebagian besar korbannya adalah anak-anak.

    “Asia tenggara merupakan tempat dengan transmisi malaria terbesar dan Indonesia menempati urutan ke-32 di dunia dengan kasus malaria terbanyak,” katanya.

    Di sisi lain, kata Ajib, Dengue sendiri saat ini tidak lagi hanya menyerang negara tropis dan subtropis akan tetapi sudah menjadi penyakit yang mengancam secara global.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran demam berdarah atau DBD

    “Penyebaran penyakit ini akibat maraknya aids vector dan perubahan iklim,” ungkapnya.

    Dosen dari Fakultas Kedokteran dari Universitas Sumatera Utara, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, Sp.A., Ph.D., menyebutkan Malaria tidak dapat diobati akan tetapi Malaria dapat dicegah.

    Ia menjelaskan, usaha yang dapat dilakukan dalam mencegah Malaria antara lain penyemprotan insektisida, chemoprevention, prompt diagnosis, treatment artemin combination therapy (ACT), dan Vaksin.

    “Tujuan dari pengendalian dan pencegahan malaria adalah mencegah untuk sampai terinfeksi, namun bagi yang sudah terinfeksi untuk segera mendapatkan treatment yang tepat,” jelasnya.

    Ia menyebutkan insidensi malaria di Indonesia yang stagnan dalam 10 tahun terakhir dan malaria zoonotik yang ditularkan dari primata non-manusia menjadi hambatan nyata bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara dalam mencapai target eliminasi malaria pada 2030.

    Baca: Polusi dan suhu tinggi picu perkembangan nyamuk malaria

    Kegiatan Webinar yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis UGM ini, juga mengulas inovasi pengendalian dengue melalui implementasi teknologi Wolbachia di Yogyakarta.

    Uji coba ini menunjukkan potensi sebagai strategi baru dalam menekan penularan dengue di Indonesia.

    Kementerian Kesehatan telah memperluas implementasi teknologi Wolbachia di lima kota sejak 2023.

    Selain itu peserta juga mendapat wawasan tentang potensi Streptomyces sebagai bio-insektisida alami dari Universiti Malaya, serta indikasi penularan dengue pada malam hari yang disampaikan perwakilan Kementerian Kesehatan.

    Wakil Dekan FK-KMK UGM, Prof. Lina Choridah, mengapresiasi kerja sama lintas negara tersebut. Menurutnya kerja sama ini untuk berbagai praktik baik soal pengendalian penyakit malaria dan dengue.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

  • Kasus Demam Berdarah Melonjak di Bangladesh

    Kasus Demam Berdarah Melonjak di Bangladesh

    7cloud.asia – Total 814 orang didiagnosis terjangkit demam berdarah di Bangladesh dalam periode 24 jam terakhir, pada Selasa (21/10/2025).

    Demikian pernyataan Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan (Directorate General of Health Services/DGHS) yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Bangladesh mengenai wabah demam berdarah di negeri tersebut.

    Pemanasan global dan perubahan iklim diduga memperburuk penyebaran demam berdarah yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini.

    Pakar menyatakan bahwa naiknya suhu dan musim monsoon yang lebih panjang telah menciptakan kondisi yang optimal bagi nyamuk Aedes, sebagai pembawa penyakit ini.

    Baca: Studi mengungkap perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Demam berdarah, penyakit yang kerap muncul pada musim hujan di Bangladesh, kini menyebar hingga ke luar periode normalnya pada Juni-September.

    Menurut DGHS, dengan kasus-kasus infeksi baru yang dilaporkan hingga Selasa pukul 08.00 waktu setempat, jumlah kasus demam berdarah telah melonjak menjadi 61.605 di Bangladesh sejauh ini pada 2025.

    Pada periode yang sama, empat orang meninggal karena penyakit yang ditularkan oleh nyamuk tersebut.

    Baca: Perubahan iklim memicu penyebaran demam berdarah

    Sehingga total kematian yang berkaitan dengan demam berdarah tahun ini di Bangladesh bertambah menjadi 253.

    DGHS mengonfirmasi bahwa sejauh ini pada Oktober 2025, sebanyak 14.263 kasus demam berdarah dilaporkan usai 15.866 orang terinfeksi penyakit tersebut pada September.

    DGHS mencatat sebanyak 55 kematian dilaporkan sejauh ini pada Oktober 2025. Sementara, 76 orang meninggal akibat penyakit itu pada September dan 39 orang pada Agustus.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Deforestasi Dapat Memicu Ledakan Nyamuk dan Penyebaran Penyakit Menular

    Deforestasi Dapat Memicu Ledakan Nyamuk dan Penyebaran Penyakit Menular

    7cloud.asia – Hilangnya tutupan hutan secara permanen akibat aktivitas manusia atau deforestasi terbukti memicu berbagai bencana ekologis seperti banjir bandang dan tanah longsor.

    Tak hanya itu, deforestasi juga meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan penyakit berbahaya, terutama di wilayah bekas hutan yang kini menjadi kawasan permukiman.

    Dilansir di laman resmi IPB University, deforestasi akibat campur tangan manusia mengubah kawasan berhutan menjadi lahan nonhutan secara irreversibel dan melenyapkan fungsi ekologis hutan.

    “Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar Ahli Entomologi IPB University, Prof Upik Kesumawati Hadi

    Deforestasi umumnya terjadi di kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan aktivitas manusia, seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, dan permukiman.

    Baca: Deforestasi atau penggundulan hutan jadi masalah serius pada lingkungan

    Menurutnya, konversi kawasan hutan untuk kepentingan tertentu menyebabkan hilangnya vegetasi dan ekosistem hutan secara permanen.

    “Dampak paling serius dari kondisi tersebut adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Deforestasi yang terus berlanjut dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup yang tidak dapat dihindari,” lanjutnya.

    Ledakan nyamuk
    Prof Upik mengatakan, hilangnya hutan juga berdampak langsung pada perilaku nyamuk. Ketika habitat alami nyamuk dan satwa liar rusak, nyamuk kehilangan inang alaminya dan beralih menggigit manusia.

    “Manusia yang bermukim di kawasan bekas hutan menjadi target paling mudah sebagai sumber darah utama,” jelasnya.

    Banyak laporan penelitian menunjukkan wilayah dengan tingkat deforestasi tinggi memiliki populasi nyamuk yang lebih melimpah dan risiko penyakit yang lebih besar.

    Berkurangnya keanekaragaman hayati menghilangkan penyangga alami penularan penyakit, sehingga manusia semakin sering menjadi sumber darah utama nyamuk yang bersifat oportunis.

    Baca: Polusi dan pemanasan global memicu pertumbuhan nyamuk

    Nyamuk dikenal sebagai vektor berbagai penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, malaria zoonotik, dan demam kuning.

    “Kondisi ini menjadi peringatan bahwa kerusakan hutan bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi kesehatan manusia,” tandas Prof Upik.

    Selain itu, lanjut dia, deforestasi mengganggu siklus air melalui hilangnya proses penguapan dan penyerapan air tanah, meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

    Deforestasi juga menghilangkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon, meningkatkan emisi gas rumah kaca, serta memperparah perubahan iklim dan pemanasan global.

    Sebagai upaya pencegahan, Prof Upik menekankan upaya reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan melalui aparat dan teknologi satelit, serta penegakan hukum yang tegas disertai edukasi masyarakat.

    Ia juga menyoroti perlunya peran aktif masyarakat juga dalam mendukung pelestarian hutan, mulai dari kampanye lingkungan hingga pemanfaatan sumber daya hutan secara bijak dan bertanggung jawab.