Tag: obat

  • Ditetapkan sebagai Tanaman Obat Unggulan, Ini Segudang Manfaat Temulawak

    Ditetapkan sebagai Tanaman Obat Unggulan, Ini Segudang Manfaat Temulawak

    7cloud.asia – Beberapa waktu yang lalu, temulawak (Curcuma zanthorrhiza) ditetapkan sebagai tanaman obat unggulan.

    Sebab, temulawak memiliki segudang manfaat. Diantaranya mengendalikan kadar gula darah.

    Penetapan resmi ini disampaikan dalam pameran alat kesehatan dan farmasi dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-59 di JCC Senayan, Jakarta.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa penetapan temulawak sebagai tanaman obat tradisional unggulan Indonesia didasarkan pada banyaknya kandungan yang terdapat di tanaman tersebut.

    Diantaranya zat besi, vitamin, kalsium, sodium dan asam folat.

    Selain itu, temulawak juga mengandung banyak zat aktif salah satunya kurkuminoid yang berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit hati seperti fatty liver, sirosis bahkan kanker hati.

    Baca: 9 manfaat teh hijau untuk kesehatan

    “Penyakit fatty liver itu pengobatannya susah, tapi ada tanaman Indonesia yang bisa mengobati. Karena itu butuh antioksiden yang bernama Kurkumin,” kata Budi.

    Temulawak sebenarnya tanaman asli Indonesia khususnya Pulau Jawa. Kemudian menyebar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina.

    Kini temulawak sudah dapat dijumpai di Korea, India, Jepang, Amerika hingga ke negara-negara Eropa.

    Hal ini karena temulawak memiliki khasiat untuk kesehatan. Bagian yang paling berkhasiat untuk kesehatan dan yang paling banyak mengandung senyawa aktif adalah bagian rimpang induk dan akar temulawak.

    Baca: manfaat ekonomi dan kesehatan daun kelor

    Temulawak memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh, yaitu:

    1. Memperkuat imunitas tubuh
    Manfaat ini berasal dari beragam nutrisi serta antioksidan yang dapat membantu kinerja sel darah putih dan produksi antibodi.

    Jika daya tahan tubuh kuat, tubuh akan lebih kuat melawan berbagai kuman dan virus penyebab penyakit.

    2. Mencegah dan mengatasi infeksi
    Temulawak mengandung senyawa xanthorrhizol dan kurkuminoid yang berfungsi sebagai antimikroba.

    Berbagai riset menyebutkan bahwa ekstrak temulawak dapat membasmi dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit, seperti bakteri Salmonella dan E.coli.

    Baca: 8 tanaman ini efektif mengurangi polusi udara

    Ekstrak temulawak juga diketahui memiliki efek antivirus dan antijamur, karena itu temulawak bisa dikonsumsi sebagai obat herbal untuk mengatasi infeksi.

    Minuman temulawak juga memiliki efek antiradang dan pereda demam alami, sehingga baik dikonsumsi untuk mendukung proses pemulihan saat Anda sedang sakit, misalnya demam atau flu.

    3. Mengatasi gangguan pencernaan
    Manfaat lainnya adalah dapat meringankan gejala gangguan pencernaan, seperti diare, sakit perut, dan sembelit.

    Selain itu, sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa temulawak memiliki potensi manfaat untuk mengobati radang lambung atau gastritis.

    Namun, efektivitas dan keamanan manfaat temulawak yang satu ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

    Baca: Miliki tanaman hias dalam ruangan ini sejumlah manfaatnya

    4. Menjaga kesehatan dan fungsi hati
    Beberapa studi ilmiah mengungkapkan bahwa temulawak bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan fungsi hati serta mengurangi peradangan pada hati.

    Ini diduga berkat efek antioksidan dan antiradang yang terdapat pada temulawak.

    Meski demikian, jika ingin menggunakan temulawak sebagai pengobatan untuk penyakit hati, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

    5. Mengendalikan kadar gula darah
    Temulawak juga diketahui dapat menurunkan kadar gula dalam darah dan menjaganya tetap stabil.

    Manfaat temulawak ini berasal dari efek antioksidan dan antiradang yang dapat menekan stres oksidatif dan peradangan.

    Temulawak juga diketahui dapat meningkatkan efektivitas insulin dalam mengontrol gula darah.

    Baca: Menengok layanan kesehatan di Papua Pegunungan

    6. Menurunkan risiko terkena penyakit kanker
    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ekstrak temulawak dapat mencegah dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, seperti kanker payudara, kanker serviks, dan kanker hati.

    Walau begitu, temulawak masih belum bisa digunakan sebagai pengobatan kanker. Sebab, penelitian terhadap efektivitas temulawak dalam mengobati kanker masih sangat terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut.

    Manfaat lain temulawak adalah mengontrol tekanan darah, mengurangi kolesterol, dan menjaga kesehatan otak.

    Mengonsumsi temulawak sebaiknya tidak bersamaan dengan obat-obatan dari dokter.

    Bagi orang yang memiliki gangguan empedu, maag kronis, dan kelainan darah tidak dianjurkan mengonsumsi temulawak.

    Jika ingin mengonsumsi temulawak, sebaiknya tak lebih dari 8 gram per hari dalam batas amannya untuk tubuh.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • WHO: Sebanyak 80 Persen Penduduk Dunia Gunakan Obat Herbal Tradisional

    WHO: Sebanyak 80 Persen Penduduk Dunia Gunakan Obat Herbal Tradisional

    7cloud.asia – Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan sebanyak 80 persen penduduk dunia menggunakan obat herbal tradisional

    WHO juga menyebut sebanyak 20 persen penduduk di negara maju menggunakan obat dari tumbuhan atau herbal.

    Tingginya penggunaan obat herbal ini diungkapkan Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Raveinal SpPD KAI dalam diskusi “Forum Hilirisasi Fitofarmaka – Optimalisasi Penggunaan Fitofarmaka dalam Pelayanan Kesehatan” secara daring, awal pekan lalu. 

    Menurut Raveinal, di Amerika Serikat sebanyak 38,5 persen penjualan obat-obatan herbal mencapai sebesar 3,4 miliar dolar AS (Rp52,6 triliun) pada periode 1990-1997.

    Baca: UNESCO akui gaya hidup dengan minum jamu sebagai warisan budaya

    Sedangkan di Indonesia, penggunaan obat-obatan tradisional dari herbal sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan makin populer dengan berkembangnya industri obat tradisional.

    Raveinal menambahkan,  obat herbal adalah obat-obatan murni diambil dari sari pati tumbuhan yang mempunyai manfaat untuk pengobatan tanpa ada campuran bahan kimia buatan (sintetis) dan tanpa campuran hewan.

    Penggunaan obat-obatan herbal atau fitofarmaka sebagai imunomodulator bisa dimanfaatkan untuk mengatasi penyakit infeksi, kanker, dan penyakit autoimun.

    Imunofarmakologi merupakan cabang farmakologi yang berkembang dan bertujuan untuk memodulasi sistem imun secara farmakologi.

     

    Baca: Manfaat teh hijau untuk kesehatan

    Sejalan dengan hal itu maka imunomodulator memiliki kegunaan sebagai rekonstitusi defisiensi imun misalnya terapi AIDS, malnutrisi, keganasan, dan lainnya.

    Imunomodulator, juga menekan fungsi imun normal atau yang berlebihan seperti penatalaksanaan pada penolakan grafting atau penyakit autoimun.

    Imunomodulator secara alami juga hadir di dalam tubuh dan beberapa di antaranya tersedia dalam preparat farmakologis.

    “Ada beberapa produk herbal yang tidak hanya bersifat imunomodulator, namun juga berperan sebagai antioksidan, antiasma, antiaritmia, antifungi, cardiotonic, dan sebagainya,” kata dia.

     

    Baca: Manfaat meniran untuk kesehatan

    Meski terdapat manfaat dan bukti ilmiah, Raveinal mengingatkan perlunya kewaspadaan dan kemungkinan adanya efek samping dan efek simpang dari penggunaan obat herbal tersebut.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan telah membuat tiga tingkatan obat herbal yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

    Jamu adalah ramuan berkhasiat berdasarkan empiris (pengalaman) turun-temurun secara tradisional dengan standardisasi kandungan kimia yang belum disyaratkan.

    Sementara obat herbal terstandar memiliki khasiat berdasarkan uji farmakologi dan uji toksisitas pada hewan uji dengan standardisasi kandungan kimia bahan baku penyusun formula.

    Baca: Manfaat temulawak untuk kesehatan

    Sementara fitofarmaka mempunyai khasiat berdasarkan uji farmakologis, uji toksisitas pada hewan uji dan uji klinis pada manusia dengan standardisasi kandungan kimia bahan baku dan sediaan.

    Sumber: Antaranews.com

  • Jamu Bagus untuk Kesehatan, Tapi Pilih yang Benar

    Jamu Bagus untuk Kesehatan, Tapi Pilih yang Benar

    7cloud.asia – Jamu masih menjadi pilihan sebagian masyarakat untuk pengobatan medis. Namun demikian masyarakat diminta tidak sembarangan mengonsumsi jamu.

    Pasalnya, tidak sedikit jamu yang diproduksi dengan tidak benar bukan menjadi obat tapi  justru bisa membahayakan kesehatan.

    Untuk itu, Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) memberikan saran dalam membeli jamu secara benar agar masyarakat tidak tertipu dalam membeli jamu.

    “Tip dalam membeli jamu untuk obat, pertama pilihlah dari penjual yang cukup berintegritas,” kata Ketua Umum PDPOTJI dr Inggrid Tania, Rabu (10/1/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Baca: UNESCO akui jamu sebagai warisan budaya dunia

    Inggrid menjelaskan produsen jamu yang diproses secara modern dalam bentuk ekstrak atau kapsul yang berintegritas dan ternama, bisa menjadi salah satu indikator bahwa jamu diproduksi dengan cara higienis

    Jamu yang telah mendapatkan izin BPOM juga hampir bisa dipastikan tidak menggunakan bahan pewarna atau bahan pengawet yang membahayakan kesehatan.

    Karena produsen jamu yang ternama, kata dia, telah memiliki izin resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dapat dicek langsung kebenarannya melalui nomor izin edar yang tertera.

    Inggrid menegaskan perizinan resmi jamu yang telah diproses secara modern dapat membantu masyarakat dalam menghindari bahaya jamu ilegal yang terdapat kemungkinan adanya bahan kimia.

    Baca: 80 persen penduduk dunia gunakan herbal untuk pengobatan

    Izin resmi juga mencegah penggunaan obat pada produk jamu yang dicampur tanpa dosis yang sesuai, sehingga dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya.

    Kadang, ujarnya, jamu pegal linu dicampur steroid atau dexametason tanpa dosis yang jelas, sehingga itu yang bahaya.

    “Ada efek samping pendarahan lambung dan lainnya. Kalau sudah ada izin BPOM jamu itu dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi,” terangnya.

    Adapun untuk jamu segar yang biasanya diproduksi secara rumahan, kata dia, masyarakat dapat membelinya secara langsung berdasarkan kepercayaan terhadap penjual.

    Baca: Manfaat teh hijau untuk kesehatan

    Kondisi seperti ini sudah dikenal sejak lama dan tidak ada permasalahan yang didapat setelah mengonsumsinya dari penjual tersebut.

    Karena jamu segar seperti beras kencur dan kunyit asam tidak ada registrasinya,  Sebagian punya izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), ada yang belum,

    “Maka based on kepercayaan bahwa jamu itu diproduksi secara benar. bukan berarti tidak bisa dibeli kalau kita percaya penjual dapat memproduksi jamu dengan benar,” ujarnya.

    Diketahui, budaya sehat jamu telah diterapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada Desember 2023.

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

     

    Untuk itu, Pemerintah memberikan perhatian pada jamu. Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Rizka Andalucia telah menyatakan pemerintah memberi perhatian penuh pengembangan obat herbal di Tanah Air.

    “Kami, Pemerintah Indonesia sudah menempatkan obat herbal Indonesia cukup kuat di dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, secara khusus ada bab yang mendorong pengembangan obat bahan alam,” katanya.

     

  • Catat! Dua Hal Penting Bagi Penderita Diabetes Sebelum Konsumsi Obat Herbal

    Catat! Dua Hal Penting Bagi Penderita Diabetes Sebelum Konsumsi Obat Herbal

    7cloud.asia – Pengobatan herbal memang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu pengobatan alternatif. Tetapi bagi penderita diabetes harus memahami dua hal ini jika ingin melakukan pengobatan herbal.

    Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD-KEMD dalam sebuah diskusi pada Sabtu (20/01/2024).

    “Pertama, yang penting dari pengobatan herbal itu ada studi dan bukti bahwa itu aman dan efektif untuk pengobatan,” ujar dokter Tri Juli seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Penderita diabetes perlu perhatikan ini jika ingin makan nasi putih

    Sebelum melakukan pengobatan herbal, pasien hendaknya mencari informasi bahan herbal yang akan digunakan untuk pengobatan.

    Lebih bagus lagi, jika sudah ada penelitian pengobatan herbal tersebut baik khususnya untuk penderita diabetes yang membuat gula darahnya stabil.

    Pasien sebaiknya mencari penelitian obat herbal yang dilakukan pada banyak kelompok tidak hanya penderita diabetes tapi juga pada kelompok kontrol atau orang tanpa penyakit diabetes.

    Pasien juga harus mempertimbangkan menggunakan obat herbal jika pengobatan herbal tersebut masih belum diteliti kebenarannya lewat riset dan masih bersifat testimoni atau berdasarkan pengalaman orang.

    Baca: Penderita diabetes sama sekali tidak boleh konsumsi gula, benarkah?

    “Cari bukti-bukti bahwa pengobatan tersebut memang bermanfaat, jangan berdasarkan testimoni seseorang dan dijadikan dasar untuk mengadopsinya karena metode pengobatan yang tepat itu harus melalui penelitian yang baik,” jelasnya.

    Kedua, pasien harus tetap meminum obat yang telah diresepkan oleh dokter agar tetap bisa menjaga kondisi gula darahnya stabil.

    Obat yang diresepkan dokter pada penderita diabetes biasanya telah disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien, apabila dihentikan besar kemungkinan kondisi kesehatannya dapat menurun.

    “Pengobatan herbalnya boleh dijalankan asal obat yang biasa digunakan jangan disetop,” ujar dokter Tri.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Simpan Sederet Manfaat untuk Kesehatan, Penggunaan Daun Kratom untuk Obat Masih Jadi Kontroversi

    Simpan Sederet Manfaat untuk Kesehatan, Penggunaan Daun Kratom untuk Obat Masih Jadi Kontroversi

    7cloud.asia – Daun kratom adalah tanaman herbal yang sudah lama dikenal dalam pengobatan tradisional karena menyimpan sederet manfaat bagi kesehatan. 

    Namun demikian, pemanfaatan daun kratom untuk obat masih menjadi kontroversi dan bahkan dimasukkan sebagai narkotika golongan 1.

    Daun kratom adalah tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai obat dan dikonsumsi dengan berbagai cara.

    Daun kratom dapat dikunyah langsung layaknya lalapan, menggerusnya, mengasapi, atau menyeduh menjadi teh.

    Selain itu, perkembangan teknologi saat ini juga memungkinkan mengolah daun kratom ini menjadi suplemen berbentuk pil atau bubuk.

    Baca: Pengusaha daun kratom minta pemerintah buka kran ekspor

    Untuk lebih memahami khasiat daun kratom, berikut fakta penting tntang daun kratom sebagaimana dikutip dari alodokter.com :

    1. Mengandung senyawa alkaloid yang bermanfaat
    Manfaat kratom tak luput dari kandungan baik yang terdapat pada tanaman ini. Daun ini mengandung beberapa jenis senyawa alkaloid, seperti:

    Mitragynine, kandungan yang memiliki efek 13 kali lebih kuat ketimbang morfin.
    7-hydroxymitragynine, memiliki efek sebagai obat analgesik atau pereda rasa sakit.

    Speciociliatine, mampu meningkatkan energi, meningkatkan suasana hati, dan menurunkan intensitas rasa sakit.

    Corynanthe Idine, bekerja dengan menghambat kontraksi kedutan.

    Speciogynine, memiliki peran penting dalam menciptakan efek analgesik.
    Paynantheine, menciptakan efek penghilang rasa nyeri.

    Mitraphylline, kandungan untuk mengobati radang sendi, penyakit jantung, kanker, dan peradangan lainnya.

    Baca: Kontroversi penggunaan ganja untuk obat

    2. Bisa jadi pereda nyeri
    Kratom memiliki tiga jenis yang berbeda. Semuanya merupakan pereda efektif untuk nyeri kronis. Jenisnya meliputi vena putih, vena hijau, dan vena merah.

    Ketiganya menawarkan efek pereda nyeri dengan menempel pada reseptor opioid. Manfaat ini terjadi berkat senyawa 7-hidroksi mitraginin dalam daun.

    Meski daun ini menargetkan reseptor opioid seperti morfin dan kodein, para ahli menganggapnya sebagai opioid atipikal.

    Sebab, daun kratom bekerja secara selektif menonaktifkan sinyal tertentu. Efek sampingnya lebih rendah ketimbang opioid biasa.

    3. Meningkatkan mood
    Daun kratom memiliki efek peningkat suasana hati. Masyarakat sering menggunakan tanaman herbal ini untuk pengobatan tradisional bagi orang-orang yang kecanduan opioid, yang membantu meringankan gejala penarikan morfin dan etanol.

    Selain itu, daun kratom juga berpotensi sebagai antidepresan. Sebab, daun ini dapat menurunkan kadar kortikosteron.

    Kadar kortikosteron yang tinggi terkait dengan depresi. Namun, penelitian lebih lanjut masih perlu untuk membuktikan hal ini.

    Selain itu, kamu bisa mengetahui berbagai manfaat lain dari daun kratom melalui artikel Bantu Atasi Cemas, Ini 5 Benefit Lain Tentang Daun Kratom.

    Baca: Mungkinkah Indonesia melegalkan ganja untuk obat

    4. Punya risiko efek samping
    Dosis kecil jarang berdampak pada kesehatan. Namun, dosis yang lebih besar ternyata memicu efek samping kratom.

    Pemakaian daun ini umumnya menyebabkan munculnya efek samping ringan, seperti mual dan sembelit.

    Meski begitu, beberapa orang mungkin mengalami efek kratom, yaitu berkeringat, gatal, pusing, mulut kering, halusinasi, kejang, kerusakan hati.

    Selain efek samping umum tersebut, ada juga efek jangka panjang yang bisa terjadi. Beberapa termasuk kulit wajah menjadi gelap, mulut kering, sering buang air kecil, anoreksia, penurunan berat badan, dan sembelit.

    5. Menyebabkan gejala penarikan
    Gejala penarikan terjadi ketika seseorang terbiasa mengonsumsi daun kratom dalam jangka panjang.

    Beberapa tandanya, meliputi agitasi, agresi, ketidakmampuan untuk bekerja, nyeri otot dan tulang, gerakan anggota badan yang tersentak-sentak.

    Baca: 80 persen warga dunia masih menggunakan obat herbal

    6. Memberikan efek memabukkan
    Apakah kratom bisa memabukkan? Faktanya, daun kratom memang bisa memabukkan.

    Di dalamnya mengandung zat aktif bernama mitragin yang dapat mempengaruhi otak dan sistem saraf. Efek kratom bervariasi, tergantung pada dosis dan jenis daunnya.

    Pada dosis rendah, daun ini dapat memiliki efek seperti kafein, yaitu memberikan energi dan meningkatkan mood.

    Namun, pada dosis tinggi, kratom menyebabkan efek psikoaktif yang mirip dengan opioid.

    Efek psikoaktif ini berpotensi menyebabkan ketergantungan. Gejalanya dapat berupa perasaan euforia, rileks, dan penekanan rasa nyeri.

    Sebab, daun ini mengandung zat aktif bernama mitragin yang dapat memengaruhi otak dan sistem saraf. Efeknya bervariasi, tergantung pada dosis dan jenis daunnya.

     

  • BRIN: Keanekaragaman Hayati Membuat Indonesia Punya Potensi Besar dalam Pengembangan Obat Herbal

    BRIN: Keanekaragaman Hayati Membuat Indonesia Punya Potensi Besar dalam Pengembangan Obat Herbal

     

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia dikarunia sumber daya keanekaragaman hayati yang melimpah ruah.

    Keanekaragaman hayati ini membuat Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan obat herbal.

    “Secara umum mestinya kita bisa menggantikan semua bahan baku obat (dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki, red),” kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko di Jakarta, Senin.

    Handoko menuturkan, BRIN telah mengidentifikasi sekitar 30 ribu spesies sebagai potensi keanekaragaman hayati Indonesia.

    Sayangnya, obat herbal berstandar berbanding terbalik dengan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki. Obat herbal yang sudah terdaftar tercatat baru 76 obat.

    Menurutnya, bila keanekaragaman hayati itu bisa dioptimalkan secara baik dapat menciptakan kedaulatan obat dan kesehatan bagi Indonesia.

    Dengan demikian, lanjutnya, insiden berebut obat dan kelangkaan obat yang terjadi saat era pandemi Covid-19 tidak akan terulang.

    Baca Juga: WHO: Sebanyak 80 Persen Penduduk Dunia Gunakan Obat Herbal Tradisional

    “Itu (bahan baku obat) salah satu bentuk kedaulatan dan ketahanan era modern ini yang justru jauh lebih penting daripada bukan hanya masalah perang,” kata Handoko.

    Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa membuat bahan baku alam menjadi obat-obatan butuh proses yang cukup panjang tidak hanya dari aspek riset, tetapi juga aspek pengembangan teknologi proses.

    Beberapa tumbuhan, kata dia, diketahui bisa menjadi bahan baku parasetamol, namun untuk membuat mesin yang bisa memproses tumbuhan menjadi parasetamol secara konsisten masih menjadi tantangan saat ini.

    Handoko menegaskan, BRIN akan terus berusaha menjalin berbagai kerja sama dengan industri kesehatan agar Indonesia dapat menciptakan obat dan alat kesehatan secara mandiri berbekal potensi keanekaragaman hayati yang ada.

    “Industri yang membuat mesin tidak ada di Indonesia. Itu sebabnya mau tidak mau kita harus bermitra dengan industri manufaktur,” ucapnya.

    Dalam sebuah seminar, Kepala Pusat Riset Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Sofa Fajriah mengatakan, istilah back to nature sedang didorong pemanfaatan herbal yang berdampak terhadap kesehatan.

    Baca Juga: Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2024: Masyarakat Diajak untuk Menjadi Bagian dari Rencana Keanekaragaman Hayati

    Kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap kesehatan berpengaruh pula terhadap penggunaan obat herbal yang berasal dari tumbuhan dengan cara tradisional dan alami.

    Menurut Sofa, kesadaran penggunaan obat herbal itu muncul sejak zaman nenek moyang.

    “Hal itu dilakukan oleh masyarakat tentunya karena khasiatnya sudah terbukti dapat mengobati penyakit, lebih murah, dan efek samping lebih kecil bahkan hampir tidak ada,” kata Sofa.

    Berdasarkan prediksi Research and Markets, potensi pasar produk obat herbal mencapai 411,2 miliar dolar AS pada 2026, dengan kenaikan rata-rata adalah 30 persen per tahun.

    Pandemi Covid-19 meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lebih memilih untuk menjaga kesehatan ketimbang mengobati penyakit.

    Sofa Fajriah menjelaskan, di Indonesia sumber bahan baku obat herbal dan obat tradisional sebagian besar masih dipasok dari alam dengan komposisi mencapai 85 persen.

    Baca Juga: Tumbuh Liar dan Kerap Dianggap Gulma, Ini Manfaat Meniran Bagi Kesehatan

    Beberapa sumber bahan baku obat herbal berasal dari tanaman yang tumbuh di taman nasional, hutan-hutan, dan kebun-kebun.

    Selain nilai kesehatan dan ekonomi yang tinggi, penggunaan obat herbal yang kian masif juga didorong oleh para penyehatan tradisional.

    Berdasarkan data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan tahun 2015 dan 2017, distribusi penyehatan tradisional terbesar ada di Jawa Tengah mencapai 11,90 persen,

    Sulawesi Tengah sebanyak 11,10 persen, Jawa Barat sebanyak 7,80 persen, dan Sulawesi Selatan mencapai tujuh persen.

    “Profil penyehatan tradisional sebagian besar adalah petani dengan angka mencapai 50,14 persen dan penyehatan tradisional murni 22,95 persen, sedangkan sisanya berprofesi sebagai TNI-Polri, ASN, dan lain-lain,” kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Suharmiati.

    Sumber:Antaranews.com

  • Sambiloto, Tanaman Obat dengan Segudang Manfaat

    Sambiloto, Tanaman Obat dengan Segudang Manfaat

    7cloud.asia – Indonesia kaya akan tanaman obat yang tumbuh subur di berbagai pelosok, salah satunya adalah sambiloto.

    Tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku campuran jamu dan teh herbal. Selain itu sambiloto juga punya segudang khasiat bagi kesehatan tubuh.

    Tanaman yang terkenal di dunia internasional dengan nama “king of bitter” atau raja pahit ini mengandung laktone yang terdiri dari deoksi andrografolid, andrografolid, flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan dammar.

    Senyawa utama yang dihasilkan tanaman sambiloto adalah Andrografolid. Senyawa ini dapat dijumpai pada bagian batang, daun dan bunga.

    Baca: Manfaat buah kiwi bagi kesehatan

    Bagian yang paling banyak mengandung senyawa Andrografolid adalah bagian daunnya.

    Nah, kandungan zat-zat tersebut membuat tanaman sambilototo ini kaya manfaat, seperti yang dilansir dari Alodokter, yaitu:

    1. Meringankan gejala flu

    Berdasarkan penelitian sambiloto bermanfaat untuk meredakan gejala flu, seperti bersin-bersin, nyeri tenggorokan, demam, dan batuk pilek, serta mempercepat proses pemulihan flu.

    Manfaat ini berasal dari kandungan zat Andrografolid yang bersifat antiradang, antibakteri, dan antivirus.

    1. Memperkuat daya tahan tubuh

    Sambiloto pun diketahui bermanfaat untuk meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Tanaman herbal ini dapat memperbaiki dan merangsang kinerja sel-sel darah putih, sehingga dapat lebih efektif melawan berbagai kuman dan virus penyebab infeksi.

    Baca: Dianggap gulma, ini manfaat meniran

    Ekstrak sambiloto juga dapat meningkatkan kinerja daya tahan tubuh dalam mendeteksi dan membasmi sel-sel kanker di dalam tubuh.

    1. Meredakan peradangan

    Peradangan merupakan cara alami tubuh untuk melindungi dan memulihkan diri dari infeksi, penyakit, dan cedera.

    Meski demikian, peradangan bisa membahayakan kesehatan jika terjadi dalam jangka panjang.

    Saat mengalami peradangan, seseorang akan merasakan gejala tidak enak badan, demam, nyeri, atau bengkak di bagian tubuh tertentu yang meradang.

    Baca: Sebagai tanaman obat, ini manfaat temulawak

    Mengonsumsi sambiloto baik secara langsung maupun adalam bentuk ekstrak dapat mengurangi gejala peradangan.

    1. Meredakan demam

    Demam merupakan salah satu reaksi tubuh yang terjadi akibat peradangan. Kondisi ini biasanya terjadi ketika tubuh mengalami infeksi, misalnya karena bakteri atau virus.

    Daun sambiloto merupakan salah satu obat pereda demam alami. Ini berkat efek antiradang, antibakteri, dan antivirus yang terdapat di dalam tumbuhan tersebut.

    1. Menurunkan tekanan darah

    Sambiloto yang secara rutin dikonsumsi dapat melebarkan pembuluh darah, sehingga melancarkan aliran darah dan menjaga tekanan darah tetap stabil.

    Namun, Anda perlu berhati-hati saat mengonsumsi sambiloto, apabila sedang menjalani pengobatan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

    Baca: Sembilan manfaat teh hijau bagi tubuh

    Sebab, sambiloto bisa menimbulkan efek samping berupa penurunan tekanan darah secara drastis atau hipotensi.

    1. Menghambat pertumbuhan sel kanker

    Selain itu, tanaman sambiloto juga dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit kanker.

    Beberapa riset menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto terlihat dapat menghambat dan mencegah pertumbuhan sel kanker.

    Meski demikian, belum ada riset yang dapat membuktikan efektivitas tanaman herba ini sebagai obat kanker.

    1. Menurunkan kadar gula darah

    Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak sambiloto dapat menurunkan dan mengontrol kadar gula darah, serta mendukung efektivitas pengobatan diabetes dengan metformin.

    Namun, jika dikonsumsi berlebihan sambiloto berpotensi menimbulkan efek samping berbahaya, yaitu hipoglikemia.

    Selain itu, sambiloto juga tidak dianjurkan dikonsumsi oleh ibu hamil serta orang yang mengonsumsi obat kimia sebab akan menimbulkan efek interaksi obat.

     

     

  • Kemenkes Prioritaskan Obat Bahan Alam

    Kemenkes Prioritaskan Obat Bahan Alam

    7cloud.asia – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkomitmen untuk memprioritaskan obat bahan alam sebagai bagian integral dalam agenda transformasi kesehatan nasional.

    Pelayanan klinis dengan menggunakan obat bahan alam telah mulai diterapkan di RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

    Langkah ini sekaligus untuk mendorong pengembangan wisata kebugaran dan kesehatan berbasis produk alami

    Untuk mendukung keberlanjutan dari upaya tersebut, Kemenkes menekankan pentingnya edukasi dan pelatihan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan.

    “Kami berharap Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) bisa menjadi garda terdepan dalam mereplikasi inovasi ini di rumah sakit lainnya,” ujar Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kemenkes, Dita Novianti Sugandi di acara Peringatan Hari Jamu Nasional secara daring, Minggu (25/5/2025).

    Baca: Beragam khasiat kencur untuk kesehatan

    Dia menambahkan, bahwa pengembangan obat berbahan alam termasuk jamu, merupakan langkah strategis yang mencerminkan kearifan lokal sekaligus menjawab kebutuhan kesehatan modern.

    “Dari jamu kita meresapi budaya, memperoleh manfaat kesehatan, dan melihat potensi ekonomi yang besar,” kata Dita.

    Dita menyampaikan, jamu bukan hanya sekadar ramuan tradisional, tetapi merupakan cerminan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

    Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan obat berbasis bahan alam.

    Adapun salah satu contohnya adalah temulawak yang kini menjadi Tanaman Obat Indonesia Unggulan (TOIU) karena manfaatnya yang telah ditinjau dari berbagai aspek.

    Baca: Tanaman obat sambiloto menyimpan segudang manfaat

    Menurut dia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 telah membuka peluang lebih luas untuk pemanfaatan dan pengembangan obat bahan alam dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.

    Dalam rangka Hari Jamu Nasional yang diperingati setiap tanggal 27 Mei, Dita menegaskan bahwa obat tradisional kini dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat, dan juga digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan formal.

    Lebih lanjut Dita mengungkapkan, Gerakan Bugar dengan Jamu (Bude Jamu) yang telah dicanangkan sejak 2015 pun terus digalakkan.

    Ia menambahkan, nilai budaya jamu semakin diakui dunia setelah United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan budaya sehat jamu sebagai warisan budaya tak benda Indonesia pada Desember 2023.

    “Kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga warisan ini. Mari terus mendorong inovasi dan edukasi agar obat bahan alam menjadi solusi nyata untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

    Baca: Segudang manfaat tanaman obat unggulan temulawak

  • Ekstrak Daun Pegagan Lindungi Fungsi Hati pada Pengobatan Tuberculosis

    Ekstrak Daun Pegagan Lindungi Fungsi Hati pada Pengobatan Tuberculosis

    7cloud.asia – Tanaman pegagan (Centella Asiatica) selain sering digunakan sebagai penutup tanah, juga dimakan sebagai sayuran dan berkhasiat sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit.

    Pegagan merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara termasuk Indonesia, India, China, Jepang, Madagaskar, dan Australia.

    Sejak zaman dahulu, pegagan telah digunakan untuk obat kulit (misalnya keloid), gangguan saraf dan memperbaiki peredaran darah. 

    Terbaru, pegagan digunakan sebagai suplemen dalam terapi pendamping pengobatan Tubercolusis. Dalam penelitian ini, pegagan mampu melindungi fungsi hati dari risiko kerusakan akibat obat yang dikonsumsi pasien.

    “Ekstrak daun pegagan berhasil mengurangi risiko hepatotoksisitas akibat obat anti-Tuberculosis terhadap pasien remaja,” kata Direktur RSUD dr Loekmonohadi Kudus, dr Abdul Hakam dikutip Antaranews.com.

    Baca: Jumlah kasus TB di Indonesia tertinggi kedua di dunia

    Hal tersebut, menurut dia, diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya dalam disertasi program doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

    Ia menuturkan penelitian dilakukan terhadap 84 pasien Tuberculosis dengan rentang usai 10 hingga 18 tahun yang dirawat di RSUD Kudus.

    Hasil penelitian ekstrak daun pegagan sebagai suplemen pendamping dalam proses pengobatan Tuberculosis, selain meningkatkan fungsi hati, juga menurunkan biomarker inflamasi serta meningkatkan status gizi pasien.

    “Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak daun pegagan dapat menjadi terapi adjuvan yang aman dan efektif untuk pengobatan Tuberculosis pada remaja,” katanya.

    Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan potensi tanaman obat tradisional Indonesia dalam mendorong pengobatan integratif yang menggabungkan terapi modern dengan kearifan lokal.

    Baca: Pasien Tuberculosis di Jakarta rata-rata tinggal di kawasan padat

    “Penelitian ini menjadi langkah awal pengembangan pengobatan Tuberculosis yang lebih holistik, menggabungkan kekuatan pengobatan modern dengan kearifan tradisional,” imbuh Abdul Hakam.

    Meski hasil penelitian menunjukkan manfaat positif, ia tetap mengimbau kepada masyarakat agar jangan sembarangan menggunakan ekstrak daun pegagan tanpa supervisi medis.

    Ia menegaskan penggunaan obat herbal dalam pengobatan Tuberculosis hanya sebagai pendamping, bukan pengganti.

    “Pengobatan Tuberculosis harus tetap mengikuti protokol standar dengan pengawasan dokter,” kata dia.

    Baca: Tiga suplemen ini justru dapat membahayakan kesehatan

  • Obat Diabetes Metformin Cemari Sungai Jakarta: Ini Rekomendasi BRIN

    Obat Diabetes Metformin Cemari Sungai Jakarta: Ini Rekomendasi BRIN

    7cloud.asia – Perairan di Jakarta tak hanya tercemar sampah, tetapi juga mengandung limbah obat-obatan. Dalam penelitian terbaru BRIN didapati obat diabetes, metformin mencemari air sungai Jakarta.

    Temuan ini menambah daftar panjang pencemaran zat aktif farmasi di perairan atau tepatnya sungai di Indonesia.

    Analisis kualitas air di enam titik sampel di Sungai Angke yang dilakukan BRIN menunjukkan tingkat pencemaran yang bervariasi antara 27 hingga 414 nanogram per liter (ng/L).

    Situs yang memiliki kadar metformin tertinggi ditandai dengan air yang lebih keruh, warna air yang pekat, dan kadar mangan (unsur logam) yang sangat tinggi.

    Keberadaan obat diabaetes metformin di Sungai Angke tidak bisa dianggap sepele. Kadarnya memang tidak separah di negara lain, tapi juga tidak bisa dibilang aman.

    Studi sebelumnya di berbagai belahan dunia sudah membuktikan bahwa metformin berdampak negatif terhadap organisme air, bahkan pada kadar rendah sekitar 100 ng/L saja sudah bisa memicu efek biologis.

    Baca: Riset BRIN temukan cemaran obat diabetes di Sungai Angke

    Paparan jangka panjang terhadap residu obat ini bisa menimbulkan resiko serius bagi kesehatan manusia, meskipun dampak pastinya masih terus diteliti.

    Pemerintah memang sudah mengatur standar baku mutu air sungai atau limbah. Namun, obat-obatan farmasi seperti metformin ini belum termasuk dalam daftar resmi zat berbahaya yang diatur dalam regulasi.

    Padahal, metformin dan obat-obatan sejenisnya termasuk dalam kategori contaminants of emerging concern, yaitu polutan baru yang belum sepenuhnya dipahami dampaknya, tetapi berisiko mengancam lingkungan dan kesehatan manusia.

    Kehadiran parasetamol atau paracetamol di Teluk Jakarta dan metformin di Sungai Angke menjadi penanda bahwa obat-obatan kini sudah menjadi jenis polutan baru di dalam siklus air yang kita gunakan sehari-hari.

    Beberapa negara sudah ada yang menemukan metformin dalam air minum. Sebab, proses penyaringan konvensional tidak mampu menghilangkan zat ini sepenuhnya.

    Untuk itu, perlu pengembangan strategi untuk mengatasi ancaman ini. Apalagi, prevalensi diabetes di Indonesia saat ini mencapai 11,3 persen dari populasi dewasa.

    Baca: Mayoritas sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar

    Jumlah orang dengan diabetes diperkirakan bakal melonjak dari 20,4 juta orang pada 2024 menjadi 28,6 juta pada 2050.

    Dengan meningkatnya kasus diabetes, otomatis penggunaan metformin juga akan naik. Ini berarti, kadar metformin di perairan Jakarta kemungkinan besar akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang.

    Oleh karenanya, studi kami merekomendasikan beberapa langkah konkret yang perlu segera dilakukan:

    Pertama, meningkatkan sistem pengolahan air limbah rumah tangga dan industri (termasuk medis) agar mampu menyaring dan menetralkan residu farmasi secara efektif.

    Kedua, edukasi publik tentang cara membuang obat dengan benar, bukan dibuang ke toilet atau wastafel.

    Ketiga, penegakan aturan limbah industri dan pemantauan rutin terhadap polutan farmasi di sungai dan badan air.

    Terakhir, perlu penelitian lebih komprehensif untuk memahami seberapa luas dan serius dampak zat farmasi di perairan Indonesia.Kita perlu bertindak sekarang, sebelum masalah ini berkembang menjadi semakin parah.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Wulan Koagouw (Senior Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)