7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia dikarunia sumber daya keanekaragaman hayati yang melimpah ruah.
Keanekaragaman hayati ini membuat Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan obat herbal.
“Secara umum mestinya kita bisa menggantikan semua bahan baku obat (dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki, red),” kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko di Jakarta, Senin.
Handoko menuturkan, BRIN telah mengidentifikasi sekitar 30 ribu spesies sebagai potensi keanekaragaman hayati Indonesia.
Sayangnya, obat herbal berstandar berbanding terbalik dengan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki. Obat herbal yang sudah terdaftar tercatat baru 76 obat.
Menurutnya, bila keanekaragaman hayati itu bisa dioptimalkan secara baik dapat menciptakan kedaulatan obat dan kesehatan bagi Indonesia.
Dengan demikian, lanjutnya, insiden berebut obat dan kelangkaan obat yang terjadi saat era pandemi Covid-19 tidak akan terulang.
Baca Juga: WHO: Sebanyak 80 Persen Penduduk Dunia Gunakan Obat Herbal Tradisional
“Itu (bahan baku obat) salah satu bentuk kedaulatan dan ketahanan era modern ini yang justru jauh lebih penting daripada bukan hanya masalah perang,” kata Handoko.
Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa membuat bahan baku alam menjadi obat-obatan butuh proses yang cukup panjang tidak hanya dari aspek riset, tetapi juga aspek pengembangan teknologi proses.
Beberapa tumbuhan, kata dia, diketahui bisa menjadi bahan baku parasetamol, namun untuk membuat mesin yang bisa memproses tumbuhan menjadi parasetamol secara konsisten masih menjadi tantangan saat ini.
Handoko menegaskan, BRIN akan terus berusaha menjalin berbagai kerja sama dengan industri kesehatan agar Indonesia dapat menciptakan obat dan alat kesehatan secara mandiri berbekal potensi keanekaragaman hayati yang ada.
“Industri yang membuat mesin tidak ada di Indonesia. Itu sebabnya mau tidak mau kita harus bermitra dengan industri manufaktur,” ucapnya.
Dalam sebuah seminar, Kepala Pusat Riset Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Sofa Fajriah mengatakan, istilah back to nature sedang didorong pemanfaatan herbal yang berdampak terhadap kesehatan.
Kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap kesehatan berpengaruh pula terhadap penggunaan obat herbal yang berasal dari tumbuhan dengan cara tradisional dan alami.
Menurut Sofa, kesadaran penggunaan obat herbal itu muncul sejak zaman nenek moyang.
“Hal itu dilakukan oleh masyarakat tentunya karena khasiatnya sudah terbukti dapat mengobati penyakit, lebih murah, dan efek samping lebih kecil bahkan hampir tidak ada,” kata Sofa.
Berdasarkan prediksi Research and Markets, potensi pasar produk obat herbal mencapai 411,2 miliar dolar AS pada 2026, dengan kenaikan rata-rata adalah 30 persen per tahun.
Pandemi Covid-19 meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lebih memilih untuk menjaga kesehatan ketimbang mengobati penyakit.
Sofa Fajriah menjelaskan, di Indonesia sumber bahan baku obat herbal dan obat tradisional sebagian besar masih dipasok dari alam dengan komposisi mencapai 85 persen.
Baca Juga: Tumbuh Liar dan Kerap Dianggap Gulma, Ini Manfaat Meniran Bagi Kesehatan
Beberapa sumber bahan baku obat herbal berasal dari tanaman yang tumbuh di taman nasional, hutan-hutan, dan kebun-kebun.
Selain nilai kesehatan dan ekonomi yang tinggi, penggunaan obat herbal yang kian masif juga didorong oleh para penyehatan tradisional.
Berdasarkan data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan tahun 2015 dan 2017, distribusi penyehatan tradisional terbesar ada di Jawa Tengah mencapai 11,90 persen,
Sulawesi Tengah sebanyak 11,10 persen, Jawa Barat sebanyak 7,80 persen, dan Sulawesi Selatan mencapai tujuh persen.
“Profil penyehatan tradisional sebagian besar adalah petani dengan angka mencapai 50,14 persen dan penyehatan tradisional murni 22,95 persen, sedangkan sisanya berprofesi sebagai TNI-Polri, ASN, dan lain-lain,” kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN Suharmiati.
Sumber:Antaranews.com

Leave a Reply