Tag: olahraga

  • Kiat Agar tetap Bisa Berolahraga di Daerah Dengan Polusi Udara Tinggi

    Kiat Agar tetap Bisa Berolahraga di Daerah Dengan Polusi Udara Tinggi

    7cloud.asia – Warga yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi–seperti Jakarta dan sekitarnya–tetap bisa berolahraga dengan baik, aman, dan sehat.

    Jika kamu belum yakin juga, coba ikuti kiat dokter spesialis penyakit dalam dr. Sukamto Koesnoe bagaimana berolah raga di tengah polusi udara yang buruk.

    “Olahraga tetap dapat dilakukan di daerah dengan tingkat polusi udara tinggi, tetapi perlu mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri anda dari efek buruk polusi udara,” kata Sukamto seperti dikutip Antaranews.com, Minggu (17/9/2023).

    Pertama, pilih waktu yang tepat untuk melakukan olahraga. Cobalah untuk berolahraga di luar ruangan pada saat polusi udara berada pada tingkat yang rendah, seperti di pagi hari atau malam hari.

    Baca: Ruang terbuka hijau, cara Jakarta atasi polusi udara

    Selain itu, hindari berolahraga di luar ruangan selama jam-jam sibuk ketika lalu lintas cukup ramai dan kadar polusi udara lebih tinggi.

    Berolahraga selama jam sibuk tidak dianjurkan karena kondisi polusi udara yang cukup tinggi.

    Kedua, periksa kualitas udara sekitar. Gunakan aplikasi atau situs web yang memberikan informasi tentang indeks kualitas udara di daerah sekitar untuk memastikan kondisi udara di luar ruangan.

    “Jika indeks kualitas udara sangat buruk, pertimbangkan untuk berolahraga di dalam ruangan,” kata dokter yang juga Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) tersebut.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    Jangan lupa untuk menggunakan masker pelindung saat berada atau berolah raga di luar ruangan.

    Menggunakan masker pelindung pernapasan yang dirancang khusus untuk melindungi dari polusi udara dapat membantu mengurangi risiko terpapar partikel berbahaya.

    Pastikan untuk memilih masker yang sesuai dengan tingkat polusi udara di daerah sekitar lingkungan rumah.

    Ketiga, pilih lokasi yang tepat, yakni lokasi olahraga yang lebih jauh dari sumber polusi udara, seperti jalan raya atau pabrik.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan

    Sebaiknya pilih tempat yang lebih hijau, contohnya taman atau jalur sepeda yang terpisah dari lalu lintas untuk melakukan olahraga.

    Keempat, kurangi intensitas olahraga. Jika polusi udara sangat tinggi, pertimbangkan untuk mengurangi intensitas atau durasi olahraga.

    Misalnya, melakukan latihan ringan atau berjalan cepat daripada berlari atau bersepeda dengan cepat.

    “Jika kualitas udara sangat buruk, pertimbangkan untuk berolahraga di dalam ruangan, seperti di pusat kebugaran atau arena olahraga,” katanya.

    Baca: Penelitian mengungkap polusi udara bisa memicu hipertensi

    Kelima, selalu perhatikan gejala-gejala yang mungkin muncul akibat polusi udara, seperti sesak napas, batuk, atau iritasi mata dan tenggorokan.

    Jika mengalami gejala tersebut, segera hentikan olahraga dan cari lingkungan yang lebih bersih. Terakhir, jagalah kesehatan tubuh.

    Pertahankan sistem kekebalan tubuh yang kuat dengan pola makan yang sehat, tidur yang cukup, dan hidrasi yang baik.

    Vaksinasi untuk membantu tubuh lebih tahan terhadap efek negatif polusi udara kadang juga dibutuhkan untuk kesehatan kita.

    Baca: 8 tanaman yang efektif mengurangi polusi udara

    Ingat, polusi udara dapat sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama jika tubuh terus-menerus terpapar zat tersebut.

    Jika tingkat polusi udara sangat tinggi secara teratur, pertimbangkan untuk mencari solusi jangka panjang, seperti memasang filter udara dalam rumah atau di tempat kerja.

    “Selalu konsultasikan dengan profesional medis jika anda memiliki kekhawatiran kesehatan terkait polusi udara,” tutup Sukamto.

     

  • Presiden Lepas Kontingen Indonesia ke Asian Games 2022 Hangzhou, Targetkan 8 Emas

    Presiden Lepas Kontingen Indonesia ke Asian Games 2022 Hangzhou, Targetkan 8 Emas

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada Selasa (19/9/2023)  secara resmi melepas kontingen Indonesia yang akan berlaga pada Asian Games 2022 Hangzhou, China.

    “Hari ini akan kita lepas kontingen sebanyak 576 orang menuju ke Asian Games ke-19 di Hangzhou, China, sebanyak 30 cabang olahraga yang akan diikuti,” ujar Jokowi saat pelepasan di Halaman Istana Merdeka, Jakarta.

    Pada Asian Games Jakarta Palembang pada 2018 lalu, kontingen Indonesia mampu menduduki peringkat ke-4.

    Presiden Jokowi berharap di Asian Games Hangzhou ini, Indonesia dapat berada di jajaran 10 besar. 

    Baca: Jadwal dan pengundian Piala Dunia U-17 

    Target yang dipatok Jokowi, lebih tinggi dari target Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menargetkan peringkat ke-12 di ajang olahraga multicabang terbesar di kawasan Asia ini.

    “Jangan 12 lah, saya minta masuk ke 10 besar. Saya tahu menjadi tuan rumah dan tidak menjadi tuan rumah itu beda, saya tahu. Jadi kembali lagi target saya masuk ke 10 besar, biasanya hitungan saya enggak meleset,” ujarnya.

    Menutup sambutannya, Presiden menyampaikan harapan agar para atlet yang akan bertanding di Asian Games Hangzhou dapat meraih hasil yang maksimal.

    “Selamat bertanding. Dan atas nama rakyat, bangsa, dan negara, saya menantikan prestasi-prestasi dan emas yang sebanyak-banyaknya bisa kita raih,” ujarnya.

    Baca: Makna maskot dan logo Piala Dunia U 17

    Sebelumnya Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo dalam laporannya menyampaikan bahwa kontingen Indonesia di Asian Games Hangzhou ini berjumlah 576 orang.

    Jumlah itu terdiri dari 413 atlet, 132 ofisial, dan 28 tim chef de mission (CdM).

    Dito mengatakan, sebanyak 78 atlet dan ofisial sudah berangkat dan mulai pertandingan lebih awal di Hangzhou, 110 atlet dan ofisial masih melaksanakan pemusatan pelatihan di luar negeri, serta 360 lainnya masih berada di Indonesia.

    “Rombongan besar akan mulai berangkat pada tanggal 21 September 2023,” ujar Dito.

    Baca: JIS direnovasi untuk penuhi standar FIFA

    Dito mengatakan, ajang Asian Games ke-19 ini adalah sasaran antara untuk meraih prestasi gemilang di Olimpiade Paris 2024.

    “Sesuai dengan Desain Besar Olahraga Nasional, Asian Games ke-19 tahun 2022 merupakan sasaran antara untuk meraih prestasi di Olimpiade yang menjadi target utama,” ucap Dito.

    Menpora mengatakan, atlet Indonesia yang berlaga di 30 cabang dari 40 cabang yang dipertandingkan ditargetkan untuk membawa pulang setidaknya delapan medali emas.

    “Kami meminta dukungan dan doa dari segenap bangsa agar Indonesia bisa menjadi pemenang,” tandas Dito.

    Baca: Gereja berperan besar dalam mengisi kekosongan pendidikan di Papua

    Turut hadir dalam pelepasan ini, antara lain, sejumlah menteri anggota Kabinet Indonesia Maju, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

    Selain itu juga hadir Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari, serta Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (Sekjen KONI) Lukman Djajadikusuma.

    Sumber: Setkab

  • Sering Begadang dan Jarang Olahraga Picu Risiko Stroke

    Sering Begadang dan Jarang Olahraga Picu Risiko Stroke

    7cloud.asia – Kebiasaan begadang dan tidak olahraga sama sekali merupakan faktor gaya hidup yang bisa meningkatkan faktor risiko terjadinya stroke pada usia muda.

    “Tren sekarang banyak di usia muda 30-an karena kebiasaan begadang, kerja (sampai) enggak tidur, jarang olahraga bisa meicu stroke,” ucap Dokter spesialis neurologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Rakhmad Hidayat, dalam sebuah diskusi daring tentang tanda gejala stroke, yang diikuti di Jakarta, Senin (30/10/2023).

    Faktor risiko stroke seperti gaya hidup seperti begadang dan jarang olahraga menurut Rakhmad, sebenarnya bisa dicegah, namun, sering kali faktor tersebut yang menyebabkan terjadi stroke pada usia muda.

    Gaya hidup pemicu risiko stroke yang dimaksud antara lain ialah kurang olahraga, makan tidak teratur, darah tinggi, dan gula darah tinggi.

    Baca:  Ini bahayanya jika malas bergerak

    Rakhmad mengatakan faktor usia dan jenis kelamin merupakan faktor risiko stroke yang tidak bisa dihindari.

    Pada laki-laki kejadian stroke banyak dialami pada usia di atas 45 tahun, sedangkan wanita di atas 55 tahun.

    Meskipun tidak bisa diubah, faktor risiko tersebut bisa diperbaiki sehingga kemungkinan terjadi stroke mengecil dan seseorang bisa hidup sehat seperti orang biasa.

    “Kalau sudah diperbaiki maka kemungkinannya akan kecil sehingga dia hidup seperti orang biasa, sehat, badan kurus, hipertensi tidak ada, diabetes tidak ada, itu target kita,” kata Rakhmad.

    Baca: Lari bisa jadi terapi untuk mengusir kecemasan dan depresi

    Dokter yang menyelesaikan program doktoral di Universitas Indonesia itu mengatakan stroke bisa terjadi kapan saja tanpa ada tanda gejala awal.

    Penyebab stroke ada dua, yaitu sumbatan dari plak kolesterol yang menghambat pembuluh darah ke otak, tulang belakang, dan mata; dan pecah pembuluh darah akibat terkikisnya pembuluh darah yang lemah.

    Merokok dan obesitas merupakan faktor risiko yang menyumbang peran utama dalam setiap penyakit, termasuk stroke.

    Seseorang dikategorikan obesitas jika memiliki lingkar perut lebih dari 102 centimeter untuk pria dan 92 centimeter untuk wanita.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan fisik dan mental

    Faktor risiko juga termasuk genetika yang diperburuk dengan gaya hidup tidak sehat.

    Penyembuhan stroke, kata Rakhmad, harus dilakukan dalam batas waktu 4,5 – 6 jam saat serangan terjadi dan pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk diberikan obat pengencer bekuan darah.

    “Berlakunya enam jam, lebih dari itu perbaikannya tidak terlalu bagus,” kata Rakhmad.

    Rakhmad menjelaskan pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk menghindari kecacatan dan kematian pada.

    Baca: Lepaskan kecemasan dengan membuat jurnal

    Jika pengobatan tahap pertama berhasil, dokter akan menyarankan pasien untuk memperbaiki faktor risiko seperti gaya hidup dan mengambil fisioterapi untuk menghindari kecacatan dan agar tubuh berfungsi dengan normal.

    Pasien juga diharapkan memperhatikan kesehatannya dan mengubah gaya hidup agar tidak terjadi stroke kedua kalinya yang biasanya lebih berbahaya dari yang pertama.

    Sumber: Antaranews

     

  • Awas! Olahraga Berlebihan Bisa Bahayakan Kesehatan Jantung

    Awas! Olahraga Berlebihan Bisa Bahayakan Kesehatan Jantung

    7cloud.asia – Untuk menjaga kebugaran dan kesehatan, pakar menyarankan untuk banyak beraktivitas dan melakukan olahraga seara teratur. 

    Namun, tahukah kamu melakukan olahraga yang berlebihan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan bahkan dapat menyebabkan serangan jantung? 

    Dilansir Hindustan Times, Rabu (22/11/2023), ahli jantung di Asian Heart Institute Mumbai Dr. Abhijit Borse mengatakan rutinitas olahraga yang ketat disarankan untuk mencapai kebugaran fisik puncak.

    Namun olahraga yang melebihi takaran, secara tidak langsung dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk serangan jantung.

    Olahraga, ujarnya, dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko obesitas, meningkatkan kadar kolesterol, dan memperkuat otot jantung. Meski demikian, ia mengingatkan untuk menjaga keseimbangannya.

    Baca: Ini cara berolahraga di daerah dengan polusi udara tinggi

    “Olahraga berlebihan, terjadi ketika seseorang melakukan olahraga yang intens dalam jangka waktu lama tanpa memberikan waktu yang cukup bagi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri,” kata Borse.

    Kekhawatiran utama dari olahraga berlebihan, kata Borse, adalah ketegangan yang terjadi pada jantung.

    Selama aktivitas fisik yang berat, jantung memompa lebih banyak darah untuk memasok oksigen dan nutrisi ke otot. 

    Ini adalah respons normal terhadap olahraga, dan membantu meningkatkan kinerja jantung untuk menjadi lebih efisien.

    Namun, jika olahraga dilakukan secara ekstrem, jantung bisa bekerja terlalu berat dan lelah, sehingga meningkatkan risiko kejadian buruk pada jantung.

    Baca: Sering begadang dan jarang olahraga pertinggi risiko stroke

    Salah satu kondisi umum yang terkait dengan olahraga berlebihan dikenal sebagai “jantung atlet” atau “remodeling jantung akibat olahraga”.

    “Pada individu yang secara konsisten memaksakan tubuhnya hingga batas maksimal, jantung mengalami perubahan struktural untuk mengakomodasi peningkatan kebutuhan aliran darah,” jelasnya.

    Ia melanjutkan, meskipun adaptasi ini umumnya tidak berbahaya pada atlet yang terlatih, namun dapat menjadi masalah bagi mereka yang berolahraga berlebihan tanpa bimbingan yang tepat atau pemulihan. 

    Potensi risiko olahraga yang berlebihan menyebabkan peningkatan detak jantung yang terus-menerus, yang seiring waktu, dapat melemahkan otot jantung dan mengurangi kemampuannya untuk memompa secara efektif.

    Selain itu, olahraga intens tanpa pemulihan yang memadai dapat memicu irama jantung yang tidak normal, seperti aritmia (fibrilasi atrium), yang dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah dan stroke.

    Baca: Bahaya malas bergerak untuk kesehatan jantung

    Olahraga berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit jantung, terutama pada individu dengan faktor risiko yang sudah ada sebelumnya.

    Olahraga berlebihan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat individu lebih rentan terhadap infeksi, yang secara tidak langsung dapat berdampak pada kesehatan jantung.

    Menurutnya, kuncinya adalah menemukan keseimbangan yang sesuai dengan tingkat kebugaran dan tujuan individu serta melakukannya dalam jumlah sedang.

    Beberapa tips penting yang diberikan Borse untuk menjaga jantung tetap aman adalah mendengarkan tubuh anda dengan memperhatikan tanda-tanda nyeri atau kelelahan. 

    Ia juga menyarakan untuk melakukan variasi rutinitas latihan, jadwalkan hari istirahat teratur dan pertimbangkan untuk bekerja dengan pelatih untuk membantu membuat perencanaan olahraga.

    Baca: Cara mengurangi risiko munculnya autoimun

     

  • Tetap Segar Saat Puasa, Pilih Jenis dan Waktu yang Tepat untuk Berolahraga

    Tetap Segar Saat Puasa, Pilih Jenis dan Waktu yang Tepat untuk Berolahraga

    7cloud.asia – Menjalankan ibadah puasa Ramadhan seharusnya tidakmenjadi penghalang untuk berolahraga.

    Justru olahraga saat puasa dapat membantu tubuh tetap bugar, selama dilakukan dengan waktu dan jenis yang tepat.

    Mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya olahraga yang tepat saat puasa atau dalam kondisi kita tidak bisa minum dengan leluasa.

    Berikut jawaban dari tim dokter Siloams Hospital mengenai waktu yang pas serta jenis olahraga yang disarankan saat berpuasa.

    Baca: Tetap segar saat puasa bebas ancaman dehidrasi

    Jenis Olahraga saat Puasa

    Saat puasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman seharian. Sehingga, Anda mungkin tidak memiliki cukup energi untuk menjalani aktivitas yang berat.

    Agar tetap aktif, Anda dapat menyiasatinya dengan melakukan jenis olahraga ringan berikut ini.

    1. Yoga
    Yoga merupakan olahraga ringan yang bisa dilakukan di rumah dan tidak begitu menguras energi.

    Gerakan yoga berfokus pada teknik pernapasan untuk meregangkan otot dan membuat otak lebih rileks. Tidak hanya itu, manfaat yoga lainnya adalah membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan kualitas tidur.

    2. Jalan Santai
    Jenis olahraga saat puasa yang direkomendasikan berikutnya adalah jalan santai. Aktivitas fisik ini termasuk ringan, sehingga tidak akan membuang banyak energi ataupun menyebabkan keringat berlebihan.

    Rutin melakukan jalan santai bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, terutama bagian jantung, tulang, dan otot.

    Baca: Diet seimbang agar tetap fit saat puasa

    3. Pilates
    Selain yoga, pilates juga bisa menjadi alternatif olahraga ringan selama berpuasa. Jenis olahraga ini dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing orang.

    Pilates bermanfaat untuk memperbaiki postur tubuh, mengatasi stres, serta meningkatkan kekuatan otot.

    4. Bersepeda
    Bersepeda saat puasa bisa dilakukan dengan jarak dekat, sehingga tidak begitu melelahkan.

    Selain membantu membakar lemak dan kalori, olahraga ini juga bermanfaat menyehatkan jantung dan mengencangkan otot.

    Bersepeda santai saat sore hari menjelang berbuka juga bisa membuat pikiran lebih tenang sehingga rasa stres bisa mereda.

    5. Jogging
    Jika Anda memiliki energi lebih, cobalah melakukan jogging dengan intensitas ringan.

    Anda dapat melakukannya di pagi hari (saat masih banyak energi tersimpan) atau sore hari (menghabiskan sisa tenaga menjelang berbuka). Lakukan jogging selama 30 menit, namun segera berhenti jika Anda merasa lelah.

    Baca:Kudapan rekomendasi saat sahur

    6. Tai Chi
    Tai chi juga termasuk salah satu jenis olahraga saat puasa yang dapat Anda coba. Olahraga ini memiliki intensitas ringan, sehingga tidak mudah menyebabkan haus.

    Anda bisa melakukannya sebelum sahur atau pagi hari sebelum beraktivitas. Beberapa manfaat melakukan tai chi adalah meningkatkan kestabilan otot, fungsi kognitif, dan fleksibilitas tubuh.

    7. Sit Up dan Push Up
    Sit up maupun push up merupakan olahraga yang bisa dilakukan saat sedang berpuasa. Anda pun bisa melakukannya di sela-sela waktu santai.

    Sit up bermanfaat untuk meningkatkan fleksibilitas, membentuk otot perut, dan mengurangi risiko nyeri pinggul. Sementara itu, push up dapat menjaga stabilitas tubuh dan menguatkan otot dada.

    Baca: Mengapa gorengan tak disarankan saat puasa  

    Waktu Olahraga saat Puasa
    Olahraga saat berpuasa memang dianggap aman, namun Anda perlu mempertimbangkan waktu yang tepat untuk olahraga saat puasa, yaitu sebelum sahur, sebelum berbuka, setelah berbuka, atau sebelum tidur.

    1. Sebelum Sahur
    Olahraga saat puasa dapat dilakukan setengah jam sebelum sahur. Iringi dengan asupan cairan yang cukup agar tubuh tetap terhidrasi.

    Dengan berolahraga sebelum sahur, tubuh akan terasa lebih segar untuk beraktivitas di pagi hari.

    2. Jelang Buka Puasa
    Anda juga bisa memanfaatkan waktu singkat sekitar 30 menit sebelum berbuka puasa untuk berolahraga.

    Anda dapat melakukan jalan santai atau bersepeda dengan jarak sedang. Jika dilakukan secara rutin, aktivitas ini akan membuat tubuh lebih bugar.

    3. Setelah Buka Puasa
    Apabila ingin berolahraga saat berbuka, tunggulah sampai makanan tercerna dengan baik.

    Atau, Anda juga bisa berbuka dengan makanan ringan, kemudian mengonsumsi makanan berat setelah berolahraga.

    4. Sebelum Tidur
    Sebelum waktu tidur tiba, makanan yang dikonsumsi saat berbuka puasa sudah dicerna dengan baik, sehingga Anda memiliki energi yang optimal untuk berolahraga.

    Anda dapat melakukannya selama 30 menit sebelum tidur. Olahraga saat puasa tidak disarankan dilakukan lebih dari satu jam.

  • Olahraga Secara Teratur Bagus untuk Penyintas Insomnia

    Olahraga Secara Teratur Bagus untuk Penyintas Insomnia

    7cloud.asia – Gangguan tidur atau insomnia tak bisa dianggap sepele, apalagi saat puasa Ramadan seperti sekarang. Insomnia bisa memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

    Nah, buat kamu yang punya keluhan insomnia cobalah untuk berolahraga secara teratur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berolahraga secara teratur dua sampai tiga kali dalam seminggu dapat membantu mengurangi risiko insomnia

    Olahraga teratur juga bisa membantu  pengidap insomnia mencapai waktu tidur ideal dan direkomendasikan, yaitu enam sampai sembilan jam sehari.

    Menurut siaran Medical Daily pada Rabu (27/3/2024), para peneliti dalam studi terbaru mengevaluasi frekuensi, durasi, dan intensitas aktivitas fisik mingguan serta gejala insomnia

    Penelitian ini juga mengukur durasi tidur malam, dan kantuk siang di antara sekelompok orang dewasa berusia separuh baya dari 21 pusat di sembilan negara Eropa.

    Baca: Jenis dan waktu berolahraga yang tepat saat puasa

    Para peneliti mengevaluasi respons 4.399 peserta yang menjadi bagian dari Survei Kesehatan Respirasi Komunitas Eropa.

    Peserta menjawab kuesioner tentang frekuensi dan durasi aktivitas fisik pada awal studi (1998-2002) serta aktivitas fisik, gejala insomnia, durasi tidur, dan kantuk siang 10 tahun kemudian (2011-2014).

    Peserta yang berolahraga dua kali atau lebih dalam seminggu, selama satu jam per minggu atau lebih, dianggap sebagai orang yang aktif secara fisik.

    Selama periode studi, 37 persen peserta terus menerus tidak aktif, dan 25 persen terus menerus aktif, sementara 18 persen menjadi aktif dan 20 persen menjadi tidak aktif.

    Peserta dari Norwegia memiliki kemungkinan paling tinggi untuk tetap aktif, sementara mereka dari Spanyol dan Estonia memiliki kemungkinan paling tinggi untuk tetap tidak aktif.

    Baca: Olahraga di sore hari efektif turunkan kadar gula darah penyintas diabetes tipe 2

    Studi juga mencatat beberapa faktor yang terkait dengan peserta yang tetap aktif. Mereka lebih banyak pria, berusia lebih muda, memiliki berat badan sedikit lebih rendah, pernah merokok, dan sedang bekerja.

    Menurut para peneliti, setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat merokok, dan pusat studi, mereka yang tetap aktif secara signifikan (42 persen) lebih sedikit kemungkinannya mengalami kesulitan tidur,

    Olahraga juga membuat 22 persen lebih sedikit kemungkinannya memiliki gejala insomnia, dan 40 persen lebih sedikit kemungkinannya melaporkan dua atau tiga (37 persen lebih sedikit) gejala insomnia.

    Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin wanita, dan berat badan secara independen terkait dengan gejala insomnia.

    Baca: Manfaat jalan kaki untuk kesehatan fisik dan mental

    Setelah memperhitungkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat merokok, dan pusat studi, individu yang konsisten aktif lebih mungkin dikategorikan sebagai penidur normal dibandingkan dengan mereka yang tetap konsisten tidak aktif.

    Para peneliti menyampaikan bahwa mereka yang tetap aktif secara signifikan (55 persen) lebih mungkin menjadi penidur normal, secara signifikan lebih sedikit (29 persen) kemungkinannya menjadi penidur pendek (6 jam atau kurang),

    Dan 52 persen lebih sedikit kemungkinannya menjadi penidur panjang (9 jam atau lebih).

    “Dan mereka yang menjadi aktif memiliki kemungkinan 21 persen lebih besar untuk menjadi penidur normal daripada mereka yang tetap tidak aktif,” kata mereka.

    Studi tersebut tidak hanya menggarisbawahi pentingnya olahraga untuk tidur, tetapi juga menyoroti pentingnya menjaga konsistensi dalam aktivitas fisik dari waktu ke waktu.

    Sumber: Antaranews.com

  • Olahraga Pada Malam Hari Bermanfaat Bagi Obesitas

    Olahraga Pada Malam Hari Bermanfaat Bagi Obesitas

    7cloud.asia – Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care menyebut olahraga pada malam hari bermanfaat bagi orang yang mengalami obesitas.

    Mengutip Health, penelitian tersebut dilakukan terhadap hampir 30 ribu orang dan 10 persen diantaranya menderita diabetes tipe dua.

    Hasilnya? Peserta yang melakukan latihan aerobik antara pukul 6 sore hingga tengah malam sebagian besar memiliki risiko penyakit jantung dan kematian dini yang paling rendah. 

    “Meskipun kami perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk menetapkan hubungan sebab akibat, studi ini menunjukkan bahwa waktu aktivitas fisik bisa menjadi bagian penting dari rekomendasi untuk manajemen obesitas dan diabetes tipe dua di masa depan, serta perawatan kesehatan preventif secara umum,” jelas penulis studi Emmanuel Stamatakis, PhD, profesor aktivitas fisik, gaya hidup, dan kesehatan populasi di University of Sydney, dalam sebuah siaran pers.

    Baca: Olahraga berlebihan membahayakan kesehatan jantung

    Namun, jika tidak bisa melakukan olahraga pada malam hari, para ahli menekankan bahwa berolahraga tetap bagus dilakukan kapan pun dapat melakukannya.

    “Ya, dalam dunia yang sempurna, mungkin malam hari adalah yang terbaik, tapi jika kita tidak bisa melakukannya di malam hari, masih ada manfaat bahkan pada waktu lain dalam sehari,” ujar Matthew Freeby, MD, endokrinologis dan direktur Gonda Diabetes Center di UCLA Health, kepada Health.

    Menurut para ahli, inilah bagaimana waktu berolahraga dapat mempengaruhi kesehatan bagi orang dengan obesitas dan diabetes tipe dua, serta apa yang perlu diketahui sebelum mengubah rutinitas olahraga Anda.

    Sebanyak 29.836 orang yang terdaftar dalam basis data Biobank Inggris, mereka semua mengalami obesitas dan sekitar 3 ribu diantanya menderita diabetes tipe dua.

    Baca: Bahaya sering begadang dan jarang olahraga

    Para responden tersebut berusia sekitar 62 tahun dan sekitar 53% adalah wanita.

    Selama seminggu, mereka terus mengenakan akselerometer pergelangan tangan sehingga peneliti dapat melacak dengan akurat aktivitas fisik sedang hingga berat (MVPA) setiap orang.

    Ini mencakup berbagai gerakan yang meningkatkan detak jantung seseorang, mulai dari berkebun atau jalan cepat hingga bersepeda atau berlari.

    Penulis studi melihat seberapa sering peserta berolahraga dan menempatkannya ke dalam tiga kategori berbeda berdasarkan apakah mereka melakukan sebagian besar MVPA mereka di pagi hari, siang hari, atau malam hari.

    Setelah melacak kesehatan peserta selama hampir delapan tahun, peneliti menemukan bahwa mereka yang melakukan sebagian besar MVPA mereka pada malam hari memiliki risiko kematian akibat semua sebab penyakit lebih rendah.

    Penyakit yang dimaksud adalah penyakit kardiovaskular dan penyakit mikrovaskular yang paling rendah, yaitu jenis penyakit jantung yang mempengaruhi arteri yang lebih kecil.

    Baca: Tips olahraga di daerah polusi tinggi

    Penulis studi mengatakan bahwa temuan ini tercermin pada subset peserta yang memiliki obesitas dan diabetes tipe dua.

    Olahraga malam hari dalam kelompok ini bahkan lebih terkait dengan mortalitas dan morbiditas kardiovaskular yang lebih rendah.

    Penelitian ini bersifat observasional. Artinya rentan terhadap bias. Para ahli tidak tahu dengan pasti mengapa berolahraga pada malam hari terkait dengan berbagai manfaat tersebut.

    Para penulis menyarankan bahwa aktivitas fisik pada malam hari mungkin menyebabkan penurunan kadar glukosa di pagi hari, yang dapat memberikan manfaat metabolik.

    Para penulis studi mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk lebih memahami hubungan antara olahraga malam hari dan penurunan risiko kematian dan penyakit jantung khususnya apakah yang pertama dapat menyebabkan yang terakhir.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Kiat Berolahraga untuk Masa Tua yang Sehat

    Kiat Berolahraga untuk Masa Tua yang Sehat

    7cloud.asia – Seiring bertambahnya usia, bukan berarti menjadi malas bergerak, terutama jika seseorang berharap untuk membatasi rasa sakit dan nyeri saat lansia.

    Disiarkan dari laman Well and Good, Jumat (30/6/2023), kegiatan bergerak pada usia lanjut bukan berarti berolahraga yang banyak menguras energi. Tetap aktif adalah kunci untuk hari tua dan lansia yang sehat.

    Kegiatan yang berguna untuk penuaan yang sehat adalah kebugaran fungsional, yaitu latihan dengan cara yang menawarkan kekuatan yang dapat digunakan dalam gerakan kehidupan sehari-hari.

    “Fungsi didefinisikan sebagai ‘berguna, ‘bertujuan’ untuk hal-hal seperti membengkokkan, memutar, mengangkat, membawa, mendorong, menarik, jongkok, dan mengangkut,” ucap Ingrid Clay, pelatih olaharaga di aplikasi Centr.

    Kebugaran fungsional bermanfaat pada fleksibilitas dan keseimbangan, yang merupakan komponen kunci dari penuaan yang sehat karena membantu mencegah jatuh dan cedera.

    Baca Juga: Menyambut Hari Lanjut Usia Nasional: Lansia Terawat, Indonesia Bermartabat

    Selain itu, lakukan latihan kebugaran dengan cukup sering yaitu 150 hingga 300 menit latihan aerobik sedang hingga berat sepanjang minggu dan latihan ketahanan progresif (latihan kekuatan) yang menargetkan semua kelompok otot utama dua kali seminggu.

    Hindari melakukan jenis olahraga yang sama berulang kali untuk memastikan tubuh bergerak di semua bidang gerak dan mempertahankan fungsi jantung, paru-paru, dan otot yang kuat.

    Latihan fungsional bisa dilakukan mulai dari usia muda, akan membantu seseorang mengatur gerakan yang aman dan nyaman seumur hidup.

    1. Jongkok split isometrik (Isometric split squat)
    Dengan satu kaki di depan dan satu lagi di belakang, tekuk kedua lutut hingga membentuk tikungan 90 derajat dengan kedua kaki.

    Tahan selama mungkin, hingga dua menit jika memungkinkan. Latihan itu terkait dengan keseimbangan naik dan turun.

    Baca Juga: Sejumlah Kota Gagas Sekolah Lansia Karena Belajar Tak Dibatasi Usia

    2. Squat dengan alat bantu (Supported deep squat)
    Berdirilah di depan pintu tertutup, kaki harus sedikit lebih lebar dari jarak pinggul dan jari kaki sedikit keluar.

    Pegang gagang pintu saat menekuk kedua lutut untuk perlahan-lahan berjongkok selama 5 detik. Berikan jeda saat berada di bawah selama satu detik.

    Dorong perlahan melalui telapak kaki untuk kembali berdiri dalam hitungan 5 detik. Olahraga itu berfungsi untuk melatih kekuatan dan mobilitas pinggul dan lutut, serta keseimbangan seiring bertambahnya usia.

    3. Duduk bersandar dinding dengan tumit terangkat
    Berdiri dengan punggung menghadap dinding. Tekan kepala, punggung atas, dan bokong ke dinding, perlahan tekuk lutut dan pinggul 90 derajat seperti posisi duduk.

    Angkat tumit tanpa menggerakkan apa pun dan tahan selama 60 detik. Latihan itu melatih soleus dan tendon Achilles untuk menjaga kemampuannya agar kenyal dan menyerap benturan di pinggul, lutut, dan pergelangan kaki.

    Baca Juga: Hari Lansia Nasional: Banyak Lansia Tak Miliki BPJS Kesehatan

    4. Bat Wing
    Mulailah berdiri dengan tangan di belakang telinga, telapak tangan menghadap ke depan, dan siku terbuka lebar. Libatkan otot besar di samping dan punggung atas untuk menarik siku ke bawah dan ke arah samping, rapatkan tulang belikat.

    Gerakkan dengan perlahan dan tahan selama lima detik. Latihan itu melatih otot punggung atas untuk menjaga kemampuan tetap tegak dan membatasi efek negatif dari membungkuk dan merosot.

    5. Beast Crawl

    Mulailah dengan posisi lutut dan tangan berada di lantai dan sejajarkan dengan bahu. Perlahan angkat lutut dari tanah, dengan posisi punggung tetap lurus.

    Mulai merangkak perlahan ke depan, ke belakang, dan ke samping dengan tujuan tetap bergerak dan lutut terangkat selama 30 detik.

    Penting untuk mempertahankan kemampuan mendarat di jari kaki untuk memungkinkan dorongan selama aktivitas cepat seperti berlari atau berjalan cepat, plus mengontrol tekanan pada sendi jempol kaki, yang dapat mencegah perkembangan bunion.

     

  • Ini Risikonya Ketika Olahraga Lari Dilakukan Sekadar Ikuti Tren atau FoMO

    Ini Risikonya Ketika Olahraga Lari Dilakukan Sekadar Ikuti Tren atau FoMO

    7cloud.asia – Olahraga lari kini menjadi salah satu aktivitas fisik yang paling banyak digemari, baik dari kalangan artis maupun warga biasa.

    Di media sosial, terutama, kita bisa melihat banyak informasi dibagikan terkait olahraga lari yang disebut sebagai induknya semua olahraga ini.

    Dokter sekaligus selebgram bernama Tirta, misalnya, sering membagikan tips terkait aktivitas lari, misalnya soal bagaimana cara mencegah serangan jantung ketika lari.

    Ada pula Ibnu Jamil, pembawa acara olahraga, selebritas, dan pemain film, yang selalu menjaga kebugaran tubuhnya dengan berolahraga lari.

    Komunitas lari juga semakin banyak bermunculan. Sebut saja model runners.id, komunitas lari para model atau Indorunners yang sudah rutin berlari sejak 2009 namun semakin dikenal masyarakat sejak menjamurnya olahraga lari.

    Tak ketinggalan event lari internasional seperti Jakarta International Marathon, London Marathon, dan Bali Marathon yang selalu mendapatkan antusiasme tinggi dari masyarakat.

    Baca Juga: Lari Bisa Jadi Terapi untuk Mengusir Kecemasan dan Depresi

    Tren olahraga lari ini membuat banyak orang tergoda untuk ikut serta, sehingga menciptakan suatu kondisi yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO) atau perasaan khawatir untuk tidak mengikuti tren yang ada.

    Pasalnya, di dalam tren tersebut diyakini terdapat pengalaman yang menarik untuk dialami secara personal.

    Dorongan FoMO
    Ketika melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mengikuti ajang maraton untuk mencapai jarak lari tertentu, kita sering kali merasa terdorong untuk ikut serta dengan berbagai motivasi.

    Motivasi tersebut dapat berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial, menambah teman yang memiliki hobi serupa, ataupun sungguh-sungguh ingin melihat kemampuan diri dalam berlari.

    Apapun alasannya, ketika seseorang mengalami FoMO untuk berolahraga lari maka efek yang ditimbulkan sekurang-kurangnya akan membuat tubuh menjadi sehat dan bugar.

    Artinya, ketika seseorang terdorong oleh rasa ingin tahu untuk mencoba hal baru, khususnya dalam hal olahraga lari, maka ini akan berdampak pada kesehatan fisik yang lebih baik.

    Baca Juga: Cara Atikoh Ganjar Membahagiakan Diri: Ikut Lomba Lari Borobudur Marathon

    Bahkan jika dorongan FoMO dapat membuat seseorang konsisten berlari, bukan tidak mungkin ia akan meraih pencapaian-pencapaian pribadi yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

    Apalagi saat ini, mudah untuk berjejaring dengan orang yang memiliki hobi yang sama dari komunitas maya. Ini membuat banyak orang merasa lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam acara lari atau meningkatkan performa lari mereka.

    Misalnya, banyak peserta yang terinspirasi untuk mengikuti maraton setelah melihat cerita sukses dari pelari-pelari yang mereka ikuti di media sosial.

    Ada risiko tetapi bisa dimitigasi
    Namun, di sisi lain, berolahraga lari karena FoMO bukan tanpa risiko. Tekanan untuk selalu mengikuti tren atau mencapai pencapaian tertentu bisa membuat seseorang merasa cemas berlebihan.

    Penelitian menunjukkan bahwa pelari yang sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri dan kepuasan terhadap performa mereka.

    Baca Juga: JAKIM 2024 Sukses Diikuti 15.000 Peserta, Heru Budi Ucapkan Terimakasih pada Warga Jakarta

    Bahkan di titik tertentu, kondisi ini dapat mengakibatkan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.

    Selain itu, tekanan untuk tampil sempurna di media sosial bisa menyebabkan stres berlebihan dan bahkan risiko cedera fisik akibat latihan berlebihan.

    Bahkan akhir-akhir ini muncul fenomena joki Strava. Jasa “joki Strava” mengacu pada layanan berbayar untuk melakukan aktivitas lari menggantikan orang lain, tetapi menggunakan akun Strava milik pemesan.

    Fenomena ini menjadi topik perbincangan hangat di kalangan warganet karena sebagian orang merasa bahwa layanan semacam ini mendukung keinginan berlebihan seseorang untuk mendapatkan validasi dan pujian.

    Mereka beranggapan bahwa menggunakan jasa joki untuk aktivitas lari menipu dan tidak jujur, karena pencapaian yang ditampilkan di akun Strava sebenarnya bukan milik orang yang tercatat di akun tersebut, melainkan hasil dari usaha orang lain yang dibayar.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara

  • Kiat Mengendalikan FoMO Saat Olahraga Lari

    Kiat Mengendalikan FoMO Saat Olahraga Lari

    7cloud.asia – Tren olahraga lari yang berkembang saat ini membuat banyak orang tergoda untuk ikut serta, sehingga menciptakan suatu kondisi yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO).

    Ada perasaan khawatir yang dirasakan sebagian orang, jika mereka tidak mengikuti tren yang ada maka akan disebut ketinggalan.

    Pasalnya, di dalam tren tersebut diyakini terdapat pengalaman yang menarik untuk dialami secara personal.

    Ketika melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mengikuti ajang maraton untuk mencapai jarak lari tertentu, kita sering kali merasa terdorong untuk ikut serta dengan berbagai motivasi.

    Motivasi tersebut dapat berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial, menambah teman yang memiliki hobi serupa, ataupun sungguh-sungguh ingin melihat kemampuan diri dalam berlari.

    Baca: Ini risikonya ketika olahraga lari dilakukan karena FoMO

    Untuk mengatasi FoMO, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan, seperti yang dianjurkan oleh Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer Universitas Multimedia Nusantara dalam tulisannya di The Conversation:

    1. Pendekatan mindfulness
    Teknik mindfulness dalam berolahraga yang juga dapat berarti sebagai kondisi sadar untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan lingkungan sekitar –tanpa menghakimi atau menilai dengan penuh kasih.

    Mindfulness ini dapat membantu pelari fokus pada pengalaman pribadi mereka saat berlari dan menikmati setiap langkah tanpa terbebani oleh ekspektasi sosial.

    Dengan mindfulness, pelari bisa lebih menikmati proses berlari itu sendiri tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

    Baca: Olahraga lari bisa jadi terapi untuk usir depresi

    2. Mengatur waktu penggunaan media sosial
    Membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan memilih konten yang inspiratif serta positif dapat menjaga keseimbangan mental dan emosional.

    Dengan membatasi paparan terhadap konten yang memicu FoMO, kita dapat menghindari tekanan yang tidak perlu.

    Misalkan saja, menurut klikdokter.com cukup dua jam sehari untuk menggunakan media sosial, agar tidak terjebak pada jebakan impulsif psikologis yang berlebihan.

    3. Membangun komunitas lari offline
    Bergabung dengan klub lari lokal atau mengadakan acara lari bersama tanpa harus membagikannya di media sosial bisa membantu kita merasakan dukungan sosial yang nyata.

    Dalam lingkungan ini, kita bisa menikmati olahraga dengan cara yang lebih alami dan merasa lebih terhubung dengan orang lain.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan mental

    Contohnya adalah komunitas lari CEO Runners, yang telah berdiri sejak 2014, yang bukan hanya aktif di kegiatan lari, tetapi aktif juga pada kegiatan donor darah sebagai bagian dari aktivitas kebersamaan antar anggotanya.

    Dengan memahami dan mengelola pengaruh media sosial dalam fenomena FoMO, kita dapat menjadikan olahraga lari sebagai aktivitas yang lebih menyenangkan.

    Olahraga lari yang kita lakukan juga akan lebih bermanfaat tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.

    Selain itu, kita dapat lebih menikmati proses dan prestasi diri sendiri tanpa harus selalu membandingkannya dengan pencapaian orang lain di media sosial.