Tag: pasar

  • Harga Cabai Tinggi, Pedagang Pasar Keluhkan Omset Turun

    Harga Cabai Tinggi, Pedagang Pasar Keluhkan Omset Turun

    7cloud.asia – Sejumlah harga sayur mayur di Jakarta saat ini masih tinggi. Seperti di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Harga tomat melonjak menjadi Rp 30.000 per kilogram.

    Kenaikan harga tomat ini sudah berlangsung hampir 1 bulan. Padahal sebelumnya sekilo tomat dipatok dengan harga Rp 15.000.

    Ibu Saeri, salah seorang pedagang sayuran menduga kenaikan harga ini karena musim hujan di wilayah Pulau Jawa.

    “Jadi banjir dan banyak tomat yang busuk dan langka,” kata Ibu Saeri kepada 7cloud.asia pada Selasa (23/01/2024).

    Selain tomat, harga bawang putih dan cabai merah keriting juga mengalami peningkatan.

    Baca: Pedagang dan pembeli butuh kepastian harga sembako

    Kini bawang putih dijual dengan harga Rp 50.000 per kilogram. Padahal sebelumnya harga bawang putih Rp 40.000 per kilogram.

    Sedangkan cabai merah keriting sekarang dibanderol dengan harga Rp 90.000 per kilogram. Harga sebelumnya Rp 80.000 per kilogram.

    Kenaikan harga ini cukup berdampak pada penjualan. Sejak harga-harga naik, omset penjualan berkurang.

    Tanpa bersedia menyebutkan angka, Ibu Saeri membenarkan penurunan omset bisa mencapai 25 persen per hari.

    “Bisa juga segitu (25 persen) turunnya. Ndak pasti sih. Kadang naik, kadang turun. Tapi ga seperti tahun lalu kita jualan,” ungkapnya dengan logat Jawa yang medhok.

    Baca: Harga sembako melonjak

    Meski demikian, masih ada sejumlah sayuran yang yang harganya tetap atau bahkan turun.

    Misalnya harga cabai rawit kini Rp 80.000 per kilogram. Pada awal Januari harga cabai rawit masih dikisaran harga Rp 95.000 hingga Rp 100.000 per kilogram.

    Sementara harga bawang merah tetap stabil di kisaran Rp 40.000 per kilogram.

    Menjelang pemilu seperti ini, Ibu Saeri dan pedagang lainnya berharap harga-harga dapat stabil. Dengan demikian omset yang ia peroleh bisa meningkat kembali.

    Reporter: Nurakhmayani

        

  • Harga Anjlok, Puluhan Ton Buah Pepaya Dibuang Para Pedagang

    Harga Anjlok, Puluhan Ton Buah Pepaya Dibuang Para Pedagang

    7cloud.asia – Setidaknya 10 ton buah pepaya terbuang sia-sia karena harganya anjlok. Kejadian ini terjadi di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur,

    Dilansir Antaranews.com, para pedagang membuang buah pepaya yang masih layak konsumsi dan yang sudah busuk di akses jalan depan los buah.

    “Harga pepaya turun jauh, sudah hampir 60 persen turunnya tapi pepaya tetap enggak laku. Jadi banyak yang dibuang,” kata pedagang pepaya, Inas (46) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (23/4/2024).

    Menurut dia, para pedagang sudah mengeluhkan anjloknya harga pepaya  sejak pertengahan Ramadhan lalu.

    Baca Juga: Pertamina Jamin Pasokan dan Stabilitas Harga BBM

    Selain pasokan yang melimpah, anjloknya harga pepaya juga dikarenakan permintaan sedang menurun

    “Jumlah pembeli yang sepi juga memberikan dampak berkurangnya pendapatan para pedagang,” kata Inas.

    Dia menuturkan para pedagang biasa menjual pepaya sebesar Rp7.000 hingga Rp8.000/kilogram.

    Namun, dalam beberapa waktu terakhir harganya anjlok menjadi Rp3.000 hingga Rp4.000/kilogram atau turun hingga 50 persen.

    Baca Juga: DPR Sayangkan Bulog yang Gelontorkan Beras Impor ke Sumbawa Saat Petani Panen Raya

    “Dari harga kita beli ke petani terus dijual lagi sudah enggak ada untungnya sama sekali. Pembelinya juga enggak ada. Kita dagang sekarang nombok doang,” ucapnya.

    Menurut dia, bukan kali ini saja para pedagang pepaya membuang barang dagangannya, namun hampir setiap tahun terjadi hal yang sama.

    Pada akhir tahun 2023, kata dia, para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati juga terpaksa membuang puluhan ton pepaya karena sepinya pembeli dan harga turun.

    Sekarang satu mobil bisa separuh lebih dibuang, kita nombok doang. Hari ini pepaya masuk, besok sudah dibuang.

    Baca Juga: Soal Kenaikan Harga Beras, Pengamat Sebut Ada Kebijakan yang Tak Adil untuk Petani

    “Ini yang baru masuk kalau malam enggak laku sudah dibuang lagi,” jelasnya.

    Untuk mempertahankan usahanya itu, pedagang hanya mengandalkan pembeli dari pengusaha katering, hotel, restoran yang setiap hari membutuhkan pepaya.

    “Untuk mencegah kerugian, para pedagang mengurangi jumlah pembelian pepaya kepada para petani,” tambah pedagang lainnya, Tumiran (60).

    Dia berharap harga pepaya dapat kembali normal, sehingga para pedagang tidak terus merugi.

  • Lapak Khusus untuk Penyandang Disabilitas di Pasar Lokbin Cililitan Menuai Apresiasi

    Lapak Khusus untuk Penyandang Disabilitas di Pasar Lokbin Cililitan Menuai Apresiasi

    Foto: suara.com

    7cloud.asia – Keberadaan lapak khusus untuk berjualan untuk pepenyandang disabilitas di Pasar Lokasi Binaan atau Lokbin Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur mendapatkan apresiasi.

    Lapak khusus bagi penyandang disabilitas di Pasar Lokbin Cililitan ini merupakan bagian dari renovasi pada tahun 1998.

    Pasar Lokbin Cililitan berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1.500 meter persegi, dengan daya tampung sebanyak 100 pedagang.

    Para pedagang di Pasar Lokbin Cililitan ini terdiri dari 90 pedagang eksisting dan 10 pedagang baru binaan, termasuk dua pelaku usaha penyandang disabilitas.

    Mayoritas pelaku usaha yang berjualan di Pasar Lokbin Cililitan adalah pedagang makanan atau kuliner.

    Baca Juga: Pramusapa, Cara TransJakarta dan Commuter Line Melayani Disabilitas dan Penumpang Prioritas

    Marlon Nainggolan, salah seorang ahli terapis penyandang disabilitas mengaku telah menjajakan jasanya sejak tiga bulan lalu di pasar tersebut.

    Dia merasa terbantu dengan fasilitas lapak yang diberikan pemerintah kota setempat.

    “Sebelum mendapat lapak di sini, saya memberikan jasa terapis sesuai pesanan pasien,” kata Nainggolan, saat ditemui di Pasar Lokbin Cililitan, Jakarta Timur, Rabu.

    Sebelum berjualan di pasar itu, dia mengaku hanya mendapat 15 orang pasien per bulan, namun setelah mendapat akses di pasar ini, jumlah pasiennya meningkat menjadi antara 30-40 orang per bulan.

     

    Baca Juga: Mengenal Bus Ramah Disabilitas yang Baru Saja Diluncurkan Dishub DKI Jakarta

    Selain pendapatan yang bertambah, Nainggolan juga merasakan ada persamaan derajat antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas di pasar tersebut.

    “Tidak ada perbedaan antara kami (disabilitas) dan mereka (non-disabilitas). Kami memiliki kesempatan yang sama saat bekerja dan mencari nafkah,” ujarnya.

    Lebih lanjut Nainggolan berharap, pemerintah dapat membangun fasilitas khusus di pasar itu agar memberikan kenyamanan bagi konsumen disabilitas saat berbelanja, seperti akses jalan, toilet dan parkiran.

    “Kami terpaksa harus memakai pampers untuk menampung air kencing, karena toilet di sini tidak memadai,” ujar laki-laki yang mengaku pernah menderita polio saat bayi tersebut.

    Sumber: Antaranews.com

  • Perdagangan di Pasar Tanah Abang Masih Sepi

    Perdagangan di Pasar Tanah Abang Masih Sepi

    7cloud.asia – Bulan Ramadan sebentar lagi tiba. Namun kondisi Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat masih sepi pembeli. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang ramai meski Ramadan masih beberapa bulan lagi.

    Seperti yang terlihat di blok A. Saat ruangkota menyambangi, lorong pertokoan tampak lengang. Hanya beberapa calon pembeli yang menyambangi toko-toko tersebut.

    Banyak penjual yang hanya duduk-duduk dan mengobrol dengan sesama pedagang. Sesekali mereka menawarkan dagangannya kepada orang yang melintas di depan tokonya.

    Memang ada beberapa orang yang melintas tersebut berhenti dan melihat-lihat barang dagangannya. Namun, tak sedikit yang hanya melintas tanpa berhenti.

    Baca: Pemerintahan baru, harga kebutuhan pokok tinggi

    Beberapa toko bahkan tertutup rapat. Tentu saja bukan karena masih pagi. Waktu saat itu menunjukkan hampir pukul 11.30. Biasanya ini jam ramai pembeli. Tapi kali ini tidak.

    Neni, salah satu pedagang baju muslim menjelaskan kondisi seperti ini terjadi usai Idul Fitri 2024 lalu. Penjualan lesu, banyak pedagang yang memilih menutup atau menjual kiosnya karena tak sanggup lagi membayar operasional sehari-hari dan sewa kios.

    “Biasanya 3 atau 4 bulan mau puasa tuh udah pada datang dari luar kota atau dari luar negeri. Mereka ambil barang ke kita jauh-jauh hari karena ‘kan mereka untuk di jual lagi. Sekarang sepi,” jelas Neni.

    Demikian juga dengan penjualan via online. Menurutnya baju-baju atau perlengkapan muslim yang dijual via online tersebut diambil dari Pasar Tanah Abang.

    Baca: Produk tekstil impor bermotif tradisional banjiri pasar Indonesia

    “Sama. Mereka (pedagang online) juga sepi, karena mereka udah lama nggak ambil barang ke kita lagi,” katanya  

    Namun, Neni merasa beruntung karena masih bisa bertahan hingga kini meskipun sepi pembeli. Karena banyak pedagang yang kerap tidak dapat menjual barangnya sama sekali.

    Memang, Neni mengakui kini omsetnya menurun drastis. Perempuan berjilbab dan mengenakan kacamata ini menjelaskan biasanya dia bisa mendapatkan omset antara 5 hingga 7 juta rupiah dalam sehari.

    Namun, setelah lebaran ia biasa mendapatkan omset ratusan ribu saja sehari. “Pernah cuma dapat 200 ribu seharian sampai sore. Tiap hari kita berharap, tiap bulan kita berharap. Nanti usai tahun baru kita berharap. Tapi ya gini lah….,” ucapnya sambil tersenyum kecut.

    Baca: Mulai 10 April Pasar Tanah Abang Blok A tutup sementara

    Neni hanyalah salah satu pedagang yang merasakan daya beli konsumen rendah. Pedagang lain pun juga merasakan hal yang sama.

    Tentu saja kondisi ini akan lebih parah ketika pemerintah nanti menetapkan kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 12 persen.

    Neni dan pedagang lainnya kembali berharap agar pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memihak kepada rakyat kecil. Sehingga daya beli masyarakat bisa naik kembali.

     

  • Harga Sayur Mayur Turun, Pembeli Sepi Pasca Lebaran

    Harga Sayur Mayur Turun, Pembeli Sepi Pasca Lebaran

    7cloud.asia – Pasca lebaran, sejumlah harga sayur mayur mulai berangsur turun. Namun, para pembeli tetap sepi. Kondisi ini membuat para pedagang resah.

    Seperti yang terjadi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saat dijumpai 7cloud.asia pada Rabu (23/04/2025), kondisi pasar tidak seramai saat sebelum lebaran lalu.

    Bahkan beberapa pedagang hanya sibuk berbincang dengan pedagang lainnya sambil menunggu calon pembeli.

    Salah satunya ibu Tati yang terpaksa berjualan hingga malam hari agar omset yang dia peroleh lebih banyak. “Harga mulai stabil, terjangkau. Tapi pembeli masih sepi. Ini aja jualan sampai malam, biar bisa nutup (modalnya),” kata Ibu Tati.

    Baca: Pemerintahan baru, harga bahan pokok tinggi

    Selanjutnya ia mengungkapkan omset yang ia peroleh dari pagi hingga pukul 9 malam sekitar 4 juta rupiah. Omset ini turun jika dibandingkan sebelum lebaran yang bisa ia peroleh hingga 7 juta rupiah saat ia berjualan hingga malam hari.   

    Padahal, lanjut Ibu Tati, harga sayur mayur mulai turun meski masih belum kembali ke harga normal. Misalnya harga bawang merah dibanderol Rp 60.000 per kilogram. Sebelum lebaran harga bawang merah Rp 80.000 per kilogram.

    Demikian juga harga cabai yang kini dijual dengan harga Rp 60.000 per kilogram, turun Rp 20.000 dari harga sebelumnya. Harga cabai rawit juga turun Rp 20.000 dari harga sebelumnya Rp 100.000.  

    Baca: Harga cabai tinggi, omset pedagang turun

    Kenaikan harga hanya terjadi pada tomat yang kini dibanderol dengan harga Rp 20.000 per kilogram. Padahal sebelum lebaran, harga tomat dijual berada pada angka Rp 15.000 per kilogram.

    Tati berharap harga sayur mayur dapat stabil sehingga tidak memberatkan pedagang maupun pembeli. Dengan demikian, jumlah pembeli dapat berangsur-angsur naik.

    “Enak, kalau harga stabil. Pedagang untung, pembeli juga untung. Pembeli juga tidak khawatir ke pasar karena harga tinggi. Mudah-mudahan jelang idul adha bisa rame lagi,” tutupnya.

     

  • Jelang Idul Adha, Harga Sayur Mayur Turun

    Jelang Idul Adha, Harga Sayur Mayur Turun

    7cloud.asia – Beberapa hari jelang Idul Adha harga sayur mayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan terpantau turun. 

    Pada Sabtu (31/05/2025), pembeli mulai ramai berbelanja. Banyak anggota masyarakat yang berbelanja untuk keperluan Idul Adha.

    Mirna, salah satunya. Ibu yang tinggal di Jalan Panjang ini sengaja berbelanja saat ini untuk keperluan Idul Adha. Hal ini dia lakukan untuk menghindari kenaikan harga barang yang berpotensi terjadi mendekati Idul Adha nanti.

    “Kalau nanti udah deket (Idul Adha), harga-harga biasanya naik,” kata Mirna saat ditemui 7cloud.asia

    Baca: Pasca lebaran, pasar tradisional masih sepi

    Sementara berdasarkan hasil pemantauan harga di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, harga cabai merah keriting kini dibanderol dengan harga Rp 50.000/kg. Harga ini turun dari sebelumnya yang mencapai Rp 70.000/kg.

    Kemudian harga cabai merah besar kini berada di angka Rp 60.000/kg dari harga Rp 80.000/kg. Penurunan harga juga terjadi pada cabai rawit dari harga Rp 100.000/kg kini dijual dengan harga Rp 50.000/kg.

    Tak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga terpantau turun. Kini bawang merah dijual dengan harga Rp 50.000/kg dari harga sebelumnya Rp 80.000/kg. Demikian juga harga bawang putih kini berada pada angka Rp 50.000/kg dari harga Rp 70.000/kg.  

    Baca: Harga cabai tinggi, pedagang menjerit

    Namun demikian ada sejumlah sayuran yang harganya naik. Seperti tomat kini dibanderol dengan harga Rp 24.000/kg dari harga Rp 20.000/kg. Timun berada pada kisaran harga Rp 15.000/kg dari harga sebelumnya Rp 12.000/kg.

    Salah satu pedagang sayur mayur, Husnia menjelaskan penurunan harga barang ini mulai terjadi sejak 2 minggu terakhir. Setelah harga sayur mayur sempat naik setelah lebaran lalu.

    Husnia dan para pedagang lainnya menyambut gembira penurunan harga ini. Menurutnya pembeli kini ramai dan mereka membeli dalam jumlah banyak.

    Baca: Pemerintah baru, harga bahan pokok tinggi

    “Semoga bisa tetap turun seperti ini, biar yang belanja banyak dan omset kita tinggi juga,” harap Husnia.

    Selanjutnya Husnia mengungkapkan saat harga sayaur mayur tinggi, dirinya hanya mendapat omset paling banyak Rp 1000.000 per hari.

    Tetapi sejak harga sayur mayur turun, omsetnya meningkat menjadi Rp 1.500.000 per hari. “Alhamdulillah, omset bisa naik segini aja (Rp 500.000) dah lumayan banget. Maunya sih nanti lebih rame lagi,” katanya.

  • KLH Dorong Pasar-pasar Kelola Sampahnya Sendiri

    KLH Dorong Pasar-pasar Kelola Sampahnya Sendiri

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengingatkan para pengelola kawasan, seperti pasar, untuk menyelesaikan sampah di kawasannya sendiri sebagai bagian dari upaya mencapai target pengelolaan sampah

    Dalam peninjauan ke Pasar Teluk Gong di Jakarta Utara, Rabu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan sampah tercampur masih menjadi isu dalam pengelolaan sampah di Jakarta, termasuk yang dihasilkan di kawasan seperti pasar.

    “Pasar ini wajib menyelesaikan sampahnya sendiri, ini informasi ke saya sudah diolah sedemikian rupa. Namun, memang masih perlu harus ditingkatkan lagi penanganan sampah di Teluk Gong ini,” kata Hanif Faisol dikutip Antaranews.com

    Dia menyoroti belum dilakukannya pemilahan sampah yang maksimal, dengan masih tercampurnya sampah organik dan anorganikvdi banyak pasar di Indonesia.

    Baca: Sistem guna ulang jadi solusi mengatasi krisis sampah plastik

    Padahal pemilahan sampah menjadi langkah awal untuk pengelolaan sampah yang lebih baik. Pemilahan sampah akan mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke Bantar Gebang

    Sampah anorganik, kata Menteri Hanif, berkontribusi sekitar 40 persen dari total timbulan sampah, sehingga jika tidak ada pengelolaan di kawasan maka sampah tersebut dapat berakhir ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

    Kondisi ini akn memberikan memberikan tekanan kepada lingkungan, karena banyak jenis sampah anorganik tidak dapat terurai secara alami.

    “Saya rasa perlu ditingkatkan kapasitas tempat penanganan sampah, sehingga sampahnya tidak lari ke Bantargebang. Kemudian yang anorganik agar dipilah. Ini yang masih perlu kita kawal bersama-sama di seluruh Jakarta Utara,” katanya.

    Baca: KLH akan wajibkan produsen bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya

    Khusus untuk wilayah Jakarta, lanjut dia, sudah memiliki aturan untuk memastikan pengelolaan sampah di kawasan.

    Ini tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan.

    Komposisi sampah di Indonesia, kata dia, didominasi oleh sampah organik, termasuk sampah sisa makan berkontribusi 39,25 persen dari total 34,21 juta ton sampah yang dihasilkan pada 2024, menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).

    Disusul sampah kayu 12,58 persen yang berada di posisi ketiga kontribusi timbulan sampah, setelah sampah plastik 19,73 persen yang berada di tempat kedua jenis sampah terbanyak.

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Merevitalisasi Lima Pasar, Salah Satunya Pasar Minggu

    Pemprov DKI Jakarta Akan Merevitalisasi Lima Pasar, Salah Satunya Pasar Minggu

    7cloud.asia – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menegaskan, revitalisasi pasar tradisional akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ini.

    Revitalisasi, menurut Rano, perlu dilakukan untuk menciptakan pasar menjadi pusat perdagangan yang lebih modern, nyaman, aman dan menarik bagi pengunjung ataupun pedagang.

    Dia optmistis, jika revitalisasi selesai dilakukan maka isu mengenai pasar yang tidak layak di Jakarta akan segera terselesaikan.

    “Memang belum bisa serentak, ada lima pasar segera kita revitalisasi dan yang paling terbesar adalah Pasar Minggu,” kata Rano, Kamis (11/9/2025).

    Dijelaskan Rano, revitalisasi Pasar Minggu tidak hanya mendirikan ulang pasar dengan bangunan dan infrastruktur lebih layak. Direncanakan, revitalisasi Pasar Minggu akan memadukan pasar dengan hunian.

    Baca: Revitalisasi Pasar Taman Puring 

    Sehingga nantinya bagian bawah akan berfungsi sebagai tempat berdagang, sedangkan bagian atas menjadi hunian vertikal

    Disebutkan Rano, Perumda Pasar Jaya telah menyiapkan perencanaan dan anggaran untuk melaksanakan revitalisasi. Diharapkannya, salah satu dari lima pasar yang akan direvitalisasi bisa rampung tahun depan.

    Saat mengunjungi Pasar Cikini pada Juli lalu, Rano memastikan revitalisasi sejumlah pasar tradisional yang akan dimulai pada tahun ini.

    Saat itu Rano mengatakan, meski pengembangan pasar tradisional akan dilakukan menggunakan pendekatan modern, fungsi pasar dipastikan tetap akan berjalan seperti sebelum direvitalisasi.

    Baca: Usai revitalisasi Pasar Baru akan kembali menjadi ikon Jakarta

    Menurut Rano, pendekatan unsur modern seperti digitalisasi pembayaran serta pembaharuan bangunan, tak bisa dihindari dan justru akan memudahkan masyarakat.

    “Selain fungsi ekonomi, keberadaan pasar nantinya juga akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung, seperti sarana sosial, olahraga dan fasilitas kebersihan,” jelas Rano.

    Pemprov DKI Jakarta juga telah menugaskan Perumda Pasar Jaya untuk membantu revitalisasi Pasar Baru menjadi lebih menarik bagi pengunjung.

    “Itu konsep yang selama ini kita janjikan. Nah jadi ini menjadi tipe baru dan mudah-mudahan semua lahan bisa bermanfaat buat masyarakat,” tandasnya.

  • Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    7cloud.asia – Musim hujan kini tengah melanda Indonesia. Hal ini menyebabkan harga sayur mayur di beberapa tempat merangkak naik.

    Seperti Pasar Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. dari pantauan 7cloud.asia pada Jumat (21/11/2025), harga cabai merah keriting melonjak menjadi Rp 80.000 per kilogram dari harga Rp 50.000 per kilogram.

    Demikian juga dengan cabai rawit yang naik dari harga Rp 40.000 kini menjadi Rp 50.000 per kilonya. Harga bawang merah juga mengalami kenaikan dari harga Rp 40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 48.000 per kilogram.

    Baca: Pemerintah Baru, Harga Sembako Tinggi

    Kenaikan juga terjadi pada wortel yang dibanderol menjadi Rp. 20.000 per kilogram dari harga Rp 12.000 per kilogram. Demikian pula dengan tomat yang kini berada pada harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000 per kilonya.

    Harga sawi hijau pun tak luput dari kenailkan. Sekilo sawi hijau kini dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram. Harga ini naik dua kali lipat dari harga sebelumnya Rp 8000 per kilogram. Harga pakcoy juga naik menjadi Rp 18.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Menurut Adi, salah satu pedagang sayur mayur kenaikan ini terjadi sejak satu minggu terakhir. “Musim hujan, banyak yang banjir, longsor jadi sayuran banyak yang busuk  atau gagal panen,” jelas Adi kepada 7cloud.asia.

    Baca: Harga Sembako Melonjak, Pembeli dan Pedagang Mengeluh

    Kenaikan harga ini juga membuat omsetnya menurun, karena pembeli mengurangi bahkan batal membeli sayuran.

    “Pengaruh banget. Banyak pelanggan yang biasanya beli segini terus dikurangi atau nggak jadi beli karena mahal harganya,” katanya.

    Adi mengaku sudah seminggu ini omset yang ia dapat hanya beberapa ratus ribu saja. Padahal biasanya ia bisa mendapatkan omset 1 hingga 1,5 juta rupiah per hari.

    Dia berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga. Apalagi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026, dimana harga sayuran dan sembako akan melonjak naik.

  • Jelang Ramadan Harga Sayur Mayur Naik, Omset Pedagang Menurun

    Jelang Ramadan Harga Sayur Mayur Naik, Omset Pedagang Menurun

    7cloud.asia – Jelang bulan Ramadan, harga sayur mayur mulai merangkak naik. Para pedagang mengeluh omset yang mereka peroleh menurun.

    Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan misalnya, harga cabe rawit merah melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp 110.000-120.000 per kilogram. padahal sebelumnya cabe rawit dijual dengan harga Rp. 80.000 per kilogram.

    Selain cabe rawit, bawang merah juga mengalami kenaikan harga dari Rp 50.000 per kilogram menjadi Rp 60.000 per kilogram.

    Kenaikan harga juga terjadi pada sawi putih yang kini dijual dengan harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Baca: Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Sementara sawi hijau kini dibanderol dengan harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000/kilogram.

    Harga buncis juga mengalami kenaikan dari Rp 20.000 per kilogram kini menjadi Rp 24.000 hingga 25.000 perkilogram. Kol gepeng pun juga tak luput dari kenaikan harga dari Rp 6000 per kilogram kini menjadi Rp 9000 per kilogram.

    Kenaikan harga ini dikeluhkan oleh para pedagang, seperti Catiri (57 tahun). Sejak kenaikan yang mulai terjadi pada awal minggu ini, ia mengaku omset penjualannya menurun karena pembeli mengurangi jumlah pembeliannya.

    “Penurunannya (omset) lumayan, 50 persen adalah (turunnya). Tadinya pelanggan saya beli cabe rawit 1/2 kilogram, sekarang cuma seperempat atau 1 ons aja ,” kata Catiri tanpa mau mengungkapkan omset yang ia peroleh.

    Baca: Pasca Lebaran, Pedagang di Pasar Sepi Pembeli 

    Dia mengungkapkan penurunan dipicu oleh musim hujan yang membuat komoditas sayur mayur menjadi busuk atau terendam air.

    “Kenaikan ini gara-gara musim hujan, barangkali stoknya sudah nggak ada kena banjir jadi pada rontok pada mati, jelang puasa juga,” katanya.

    Kenaikan harga ini juga dikeluhkan oleh Selly, salah seorang pembeli. Ia terpaksa harus mengurangi pembelian bawang merah.

    “Kirain harganya masih sama. Ternyata sudah naik. Jadi beli sekilo aja. Nanti kalau sudah turun (harga) beli lagi,” kata Selly.

    Baik Selly maupun Catiri berharap harga sayur mayur dapat kembali stabil. Apalagi bulan Ramadan tinggal beberapa hari, dimana masyarakat banyak kebutuhan untuk perispan berpuasa.