Tag: pejalan kaki

  • Empat Kota Dunia yang Mengutamakan Pejalan Kaki lagi Ramah Lingkungan

    Paris adalah salah satu kota yang ramah bagi pejalan kaki. Foto: tripadvisori

    7cloud.asia – Terinspirasi oleh karantina wilayah yang berkepanjangan serta kekhawatiran soal keamanan di tengah pandemi Covid-19, sejumlah kota di dunia menjalankan inisiatif ramah pejalan kaki dan mendorong terciptanya lebih banyak ruang bebas kendaraan bermotor.

    Sejumlah kota memperkenalkan jalanan khusus untuk pejalan kaki, mengubah tempat parkir menjadi tempat makan sementara, dan menambahkan lebih banyak jalur sepeda. Inisiatif ini mengubah area yang dulunya dipenuhi mobil menjadi tempat yang cocok untuk pejalan kaki dan bersepeda.

    Perubahan ini membuahkan hasil, tidak hanya dalam peningkatan aktivitas ekonomi,  penelitian juga menunjukkan virus lebih lambat menular di lingkungan yang ramah pejalan kaki.
     
    Dan sementara banyak tempat sekarang telah menghentikan inisiatif ini saat kehidupan berangsur normal, beberapa kota berpegang teguh pada perbaikan infrastruktur bagi pejalan kaki dan mendorong terciptanya lebih banyak ruang bebas kendaraan bermotor.

    Berikut adalah empat kota yang membuat sejumlah perubahan ramah pejalan kaki selama pandemi – dan mempertahankan inisiatif tersebut untuk mendorong penduduk dan pejalan kaki lebih leluasa menikmati kota.

    Baca: Manfaat jalan kaki untuk kesehatan fisik dan mental

    Paris, Prancis
    Jauh sebelum pandemi, Paris telah mulai menjadi kota yang lebih ramah pejalan kaki. Dermaga bawah yang membentang di sepanjang sungai Seine sepenuhnya menjadi jalur pejalan kaki pada akhir 2016 dan dipermanenkan pada 2018.

    Pada tahun 2020, Walikota Anne Hidalgo terpilih lagi karena dukungannya bagi pejalan kkai dengan konsep “kota 15 menit”: perencanaan kota baru yang memungkinkan penduduk menyelesaikan semua aktivitasnya – mulai dari berbelanja, sekolah, hingga bekerja – dalam jarak berjalan kaki atau bersepeda selama 15 menit.

    Pandemi, makin memperkuat popularitas inisiatif yang berpusat pada manusia atau pejalan kaki lagi ramah lingkungan ini.

    “Keindahan berjalan kaki di Paris lebih disorot sejak Covid,” kata Kathleen Peddicord, pendiri Live and Invest Overseas.

    “Popularitas angkutan umum sudah lama menurun dan juga lebih tidak nyaman dengan harus memakai masker. Jadi, lebih banyak orang mulai menggunakan kaki mereka.”

    Jalur sepeda tambahan juga telah diperkenalkan untuk mengurangi lalu lintas mobil. Bahkan, kota ini berencana untuk menambah 180 kilometer jalur sepeda dan 180.000 tempat parkir sepeda pada tahun 2026.

    “Saya telah tinggal di Paris selama 14 tahun, dan saya dapat dengan yakin mengatakan bahwa saya belum pernah melihat transformasi kota yang lebih besar daripada yang terjadi baru-baru ini untuk mendorong pengendara sepeda,” kata Sadie Sumner, yang membawahi cabang Paris dari perusahaan tur sepeda Fat Tire Tours.

     

    Jalan raya utama seperti Rue de Rivoli di pusat kota Paris telah dikurangi menjadi satu jalur, sementara jalur sepeda diperluas menjadi tiga jalur mobil.

    Paris juga berencana menanam 170.000 pohon pada tahun 2026, dengan tujuan mendinginkan Paris agar lebih nyaman dan menyenangkan bagi pejalan kaki.

    Untuk mengantisipasi kota yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade 2024, jembatan antara Menara Eiffel dan Trocadero juga akan sepenuhnya dikhususkan untuk pejalan kaki.

    Secara keseluruhan, penduduk menghargai perubahan yang meluas, dan berharap akan ada lebih banyak lagi perubahan.

    “Penduduk setempat sangat menyukainya, ada lebih sedikit mobil dan orang-orang tampaknya sedikit lebih santai,” kata Roobens Fils, penduduk Paris yang menulis blog di Been Around the Globe.

    Bagi para pelancong yang suka berjalan kaki, disarankan untuk menelurusi sejumlah tempat berikut: Parc Rives de Seine, bentangan sungai sepanjang 7 kilometer;

    Juga rue Montorgueuil di jantung kota Paris untuk mengunjungi berbagai toko keju, anggur, dan bunga; rue Saint Rustique di Montmartre karena batu-batuan kunonya (ini adalah jalan tertua di Paris); dan Cour Saint Emilion untuk butik, kafe, dan restorannya.

     

    Pada bulan September, pemungutan suara akan diadakan untuk menentukan nasib koridor-koridor lain untuk pejalan kaki.

    “Sangat menyenangkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor untuk dapat berbagi jalan,” kata Leith Steel, seorang penduduk setempat, soal jalan an yang masih ditutup. “Anda melihat keluarga berjalan-jalan, anak-anak bermain – itu adalah pengalaman yang jauh berbeda.”

    Dia juga mengatakan bahwa pemerintahan kota telah mengeluarkan dana dan upaya untuk membangun rute sepeda yang lebih baik dan ditandai dengan lebih jelas daripada sebelumnya.

    Dia merekomendasikan untuk benar-benar menjelajahi setiap lingkungan di San Francisco, karena mereka masing-masing memiliki nuansa dan karakter yang berbeda.

    Dia menyukai Hayes Valley karena suasananya yang mewah dan modern; Outer Sunset untuk suasana peselancar yang santai dan pantai pasir putih sepanjang 3,5 mil; dan Pantai Utara yang ramai dengan kafe-kafe (dan merupakan lingkungan paling ramah bagi pejalan kaki ke-4 di kota).

    Meskipun masih banyak yang harus dilakukan untuk mengubah San Francisco menjadi kota yang benar-benar ramah pejalan kaki, sejarah menunjukkan hal itu bisa dilakukan.

    Baca: Seperti ini pengembangan Stasiun Manggarai

    San Francisco, Amerika Serikat
    Kota di California utara ini bergerak cepat di awal pandemi untuk meluncurkan Slow Streets – sebuah program yang menggunakan rambu dan pembatas untuk membatasi lalu lintas dan kecepatan mobil di 30 koridor dalam upaya menjadikannya lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda.

    Menurut data yang dikumpulkan oleh kota itu, program ini mampu mengurangi 50% lalu lintas kendaraan, peningkatan 17% lalu lintas pejalan kaki pada hari kerja dan lonjakan sebesar 65% lalu lintas pengendara sepeda pada hari kerja.

    Meski banyak jalanan telah dikembalikan ke status pra-pandemi, penduduk mendorong untuk membuat empat bagian permanen, termasuk di Golden Gate Avenue, Lake Street, Sanchez Street, dan Shotwell Street. 

    Bogota, Kolombia
    Bogota (dan Kolombia pada umumnya) sudah lama memiliki budaya bersepeda yang kuat. Bersepeda adalah olahraga nasional negara tersebut – pandemi mempercepat banyak perubahan infrastruktur bebas kendaraan bermotor.

    Pada 2020, Walikota Claudia Lopez menetapkan tambahan 84 kilometer jalur sepeda sementara ke jaringan jalur sepeda Ciclorruta sepanjang 550 km yang ada di kota – yang sudah menjadi salah satu yang terbesar di dunia – dan sejak itu menjadikannya jalur permanen.

    Bogota adalah salah satu kota pertama di dunia yang menambahkan jalur sepeda “pop-up” selama pandemi, dan warganya telah memperhatikan perubahan permanen tersebut menjadi lebih baik.

    “Kota ini benar-benar mulai mengembangkan suasana Amsterdam dan Kopenhagen yang nyata selama beberapa tahun terakhir,” kata Alex Gillard, pendiri blog Nomad Nature Travel dan yang tinggal di Bogota selama pandemi.

    “Ada begitu banyak sepeda di jalanan sepanjang hari, itu cukup menginspirasi.”

    Pada hari Minggu dan hari libur, mobil benar-benar dilarang dari rute tertentu dalam sebuah program yang dikenal sebagai Ciclovia. Ini menarik lebih dari 1,5 juta pengendara sepeda, pejalan kaki dan pelari setiap minggu.

    Bus kota baru, SITP, yang menggunakan listrik dan gas, juga telah meningkatkan sistem transportasi umum secara signifikan, menurut penduduk setempat.

    “Suasana Bogota telah berubah. Jauh lebih mudah, lebih tenang dan lebih aman untuk bergerak di sekitar kota sekarang,” kata penduduk Josephine Remo, yang menulis blog perjalanan.

    Dia merekomendasikan para pelancong untuk mengunjungi lingkungan bersejarah La Candelaria, tempat kelahiran ibu kota Kolombia tersebut lebih dari 400 tahun yang lalu; pengunjung akan menemukan banyak museum tentang sejarah kota yang kaya, serta restoran yang bertempat di bangunan berusia berabad-abad.

    Dia juga menyarankan Taman Usaquén untuk pasar terbuka pada akhir pekan, di mana pengunjung dapat melihat makanan, kerajinan, dan acara musik Kolombia.

    Milan, Italia
    Italia adalah salah satu negara yang paling terpukul pada awal masa pandemi, dan kota-kotanya harus beradaptasi dengan cepat untuk menyediakan alternatif transportasi umum.

    Pada musim panas 2020, Milan memulai rencana ambisius untuk melebarkan trotoar dan memperluas jalur bersepeda sepanjang 35 kilometer.

    Perubahan tersebut telah mengubah kota itu, menghadirkan lebih banyak tempat makan di luar ruangan, pasar terbuka, dan taman kota yang ramah untuk pejalan kaki.

    “Ini bukan Milan yang saya ingat dari 10 tahun lalu selama masa kuliah saya,” kata penduduk Luisa Favaretto, pendiri situs Strategistico.

    “Saya menyukai konsep kota 15 menit [rencana yang juga telah dieksplorasi Milan] dan tertarik dengan infrastruktur kota yang berkembang dengan memprioritaskan orang daripada mobil.”

    Dia melihat pertumbuhan dalam apa yang dia sebut rasa komunitas “dunia lama”, karena ada lebih banyak alasan untuk berada di luar ruangan dan bertemu di ruang komunal.

    Distrik CityLife, yang baru-baru ini dibangun, bukan hanya menjadi area bebas kendaraan bermotor terbesar di Milan tetapi juga salah satu zona bebas mobil terbesar di Eropa.

    “Tempat itu dipenuhi dengan ruang hijau publik bersama dengan banyak jalur sepeda, dan menawarkan pandangan sekilas ke masa depan Milan yang berkelanjutan,” kata Favaretto.

    Dia juga merekomendasikan untuk berjalan-jalan di kanal Navigli dan menikmati pilihan bersantap di luar ruangan dan kehidupan malam di sekitarnya.

    Lingkungan di utara Isola telah diubah dari kawasan industri menjadi area yang dapat dilalui dengan berjalan kaki dan bersepeda yang penuh dengan kafe, galeri, dan butik trendi.

    Wisatawan juga tidak perlu khawatir mencari sepeda untuk menikmati jalur bersepeda. Layanan berbagi sepeda kota, BikeMI, memiliki 300 stasiun di seluruh kota dan menawarkan sepeda reguler dan e-bikes.

    Sumber : BBC Indonesia, baca artikel asli di sini
  • Menilik Kondisi Fasilitas untuk Pejalan Kaki dan Pengguna Sepeda di Kota-kota di Indonesia

    Menilik Kondisi Fasilitas untuk Pejalan Kaki dan Pengguna Sepeda di Kota-kota di Indonesia

    7cloud.asia – Pernahkan kamu sejenak memperhatikan kondisi pedestrian atau trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau pengguna sepeda di kota kamu?

    Lebih jauh, apakah kita pernah memperhatikan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda itu ramah bagi disabilitas? 

    Dalam tulisan ini, 7cloud.asia ingin mengajak kamu untuk meluangkan sejenak mengintip fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda di kota-kota di Indonesia.

    Setelah bertahun-tahun di abaikan, kini pejalan kaki dan pengguna sepeda mulai mendapatkan tempat di sejumlah kota. 

    Dilansir di laman Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), dalam beberapa tahun ke belakang, kota–kota di Indonesia telah berupaya mewujudkan kota yang lebih ramah untuk pejalan kaki dan pesepeda.

    Baca: Bersepeda, cara warga mengenali kotanya

    Kota Semarang misalnya, telah membenahi fasilitas pejalan kaki di kawasan komersial dan pemerintahan di Jl. Pemuda dan Jl. Imam bonjol pada tahun 2021-2022. Demikian juga dengan pemkot Surabaya yang telah membenahi pusat ibu kota Jawa Timur itu sejak tahun 2010.

    Di Jakarta yang pada tahun 2017 masif melakukan perbaikan fasilitas pejalan kaki dan sepeda hingga penataan kawasan.

    Dalam artikel “Lompatan Kecil Menuju Kota yang Inklusif” Noni Sabandar, Inclusive Urban Planning Associate ITDP Indonesia mencatat, di balik berbagai upaya penataan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda itu masih menyisakan isu inklusivitas. 

    “Pembangunan fasilitas pejalan kaki seperti trotoar dan penyeberangan jalan yang tidak mengandung unsur inklusivitas masih banyak ditemukan di banyak kota di Indonesia,” tulisnya. 

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Dalam catatan ITDP Indonesia, GAUN dan UN Women, masih banyak ditemukan pemasangan dan peletakan jalur pemandu yang tidak mengikuti perspektif pengguna Netra.

    ITDP, lanjutnya, juga menemukan lebar minimum jalur pejalan kaki yang tidak mengakomodasi pengguna kursi roda, material jalur pejalan kaki yang licin, dan beberapa kesalahan teknis lainnya.

    Hal ini disebabkan karena tidak adanya standar atau pedoman teknis pembangunan fasilitas pejalan kaki yang menyertakan unsur inklusivitas tersebut bagi pemangku kebijakan di kota-kota di Indonesia.

    “Imbasnya, fasilitas pejalan kaki malah menyebabkan hambatan atau tidak dapat diakses oleh pejalan kaki berkebutuhan khusus seperti perempuan dengan anak, orang lanjut usia (lansia), anak-anak dan penyandang disabilitas,” imbuh Noni.

    Baca: Bogota, kota yang ramah untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda

    Pedoman Fasilitas Pejalan Kaki dalam Surat Edaran Menteri PUPR No. 2 Tahun 2018 merupakan satu-satunya rujukan pedoman dalam penyelenggaraan fasilitas pejalan kaki perkotaan.

    Meski begitu, pedoman ini masih belum menyesuaikan dengan hak atas Disabilitas dan aspek inklusivitas yang tercantum dalam UU No. 8 Tahun 2016 tentang penyandang Disabilitas serta PM PUPR Nomor 14/PRT/M/2017.

    Pelibatan kelompok rentan (perempuan, penyandang disabilitas) dan perwakilan masyarakat juga belum dilakukan dalam penyusunan regulasi.

    Lewat serangkaian revisi yang melibatkan ITDP, GAUN, UN Women, PUPR, serta partisipasi peserta MSD dan melewati proses legalisasi yang berlaku, akhirnya berhasil dirilis revisi Pedoman Teknis Fasilitas Pejalan Kaki resmi dirilis  pada Mei silam. 

    Baca: Pengembangan kawasan dengan konsep TOD di Jakarta

    Dengan adanya pembaruan ini, beberapa poin yang diubah dan/atau ditambahkan terkait dengan:

    1. Lebar efektif jalur pejalan kaki yang menjadi 1,85 meter, sehingga dapat mengakomodasi mobilitas dua kursi roda yang berpapasan;
    2. Pengaturan akses keluar masuk kendaraan yang memberikan prioritas bagi pejalan kaki;
    3. Pemasangan jalur pemandu yang bebas hambatan samping dan atas, untuk memudahkan navigasi bagi disabilitas Netra;
    4. Rancangan pelandaian yang landai dan dapat diakses dengan mudah bagi pengguna kursi roda, stroller, atau roda lainnya; dan
    5. Ketentuan penyeberangan baik sebidang maupun tidak sebidang yang inklusif dan aman bagi semua kelompok.

    Dengan pedoman ini diharapkan pembangunan fasilitas untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda di kota-kota di Indonesia lebih mengakomodasi para disablitas.  

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

     

  • Pusat Kota Tirano Italia Ditutup Untuk Kendaraan dan Hanya Diperuntukkan Bagi Pejalan kaki

    Pusat Kota Tirano Italia Ditutup Untuk Kendaraan dan Hanya Diperuntukkan Bagi Pejalan kaki

    7cloud.asia – Mulai Senin, 3 Juli hingga 31 Oktober 2023 mendatang sebuah  eksperimen akan dilakukan di kawasan pejalan kaki di Via Mazzini dan Piazza delle Stazioni, tepat di pusat kota Tirano, Italia.

    Upaya mengubah Via Mazzini dan Piazza delle Stazioni yang merupakan pusat kota Tirano hanya untuk pejalan kaki ini ditujukan untuk membuat kota yang lebih hidup dan layak huni

    Dilansir cittaslow.org,Setiap tahun, selain warga Tirano dan Valtellina yang berangkat dari atau tiba di Milan, juga ada lebih dari 300,000 wisatawan tiba di Tirano.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kota yang lebih memanusiakan

    Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Tirano ingin merasakan kereta yang sudah diakui sebagai warisan dunia, Bernina Express sekaligus melanjutkan perjalanan ke Swiss melewati Pegunungan Alpen.

    Tujuan pemerintah kota Tirano memebebaskan kawasan Mazzini dan Piazza delle Stazioni adalah untuk mempromosikan pembangunan kembali kawasan tersebut agar lebih layak huni bagi penduduk dan wisatawan.

    Langkah ini juga untuk mempromosikan Kota Tirano yang lebih ramah warga dan meningkatkan kegunaan ruang-ruang bersama dan ruang publik secara lebih efektif.

    Baca: Empat kota ini sangat mengutamakan pejalan kaki

    Proyek penutupan lalu lintas, yang dipromosikan oleh pemerintah kota, diumumkan kepada warga dan pengelola berbagai kegiatan di daerah tersebut dalam pertemuan di Ruang Dewan beberapa minggu lalu.

    Kebijakan Pemerintah Kota Tirano ini disambut positif oleh sebagian besar warga setempat. 

    Tirano sendiri adalah kota yang tenang di Lombardy utara, Italia. Tirano merupakan salah satu kota yang ikut mempromosikan slow city.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Kota Bogota

    Kota ini dikenal sebagai titik keberangkatan salah satu rute kereta paling indah di Eropa, Kereta Merah (Bernina Express) yang melintasi jalur Alpine untuk mencapai Saint Moritz di Swiss.

     

  • 5 Kota di Indonesia Dengan Kawasan untuk Pejalan Kaki Terbaik

    5 Kota di Indonesia Dengan Kawasan untuk Pejalan Kaki Terbaik

    7cloud.asia – Mungkin banyak dari kita yang mengeluhkan buruknya fasilitas untuk pejalan kaki di banyak kota di Indonesia. 

    Harus diakui banyak kota di Indonesia, termasuk Jakarta yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk pejalan kaki.

    Kondisi ini diperburuk dengan kebiasaan warga kota untuk berjalan kaki yang minim, sehingga fasilitas untuk pejalan kaki sering terabaikan. Trotoar sering dibangun seadanya dan tidak dirawat dengan baik.

    Trotoar yang disediakan untuk pejalan kaki juga sering beralih fungsi menjadi tempat berjualan. 

    Belum lagi pengguna moda angkutan lain yang dengan seenaknya menyerobot trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

    Baca: Kota tua ini hanya membuka dirinya untuk pejalan kaki dan kereta api

    Selain kondisi trotoar, terdapat hal-hal lain yang menjadi tolok ukur sebuah kota dikategorikan sebagai kota yang ramah untuk pejalan kaki.

    Misalnya, akses dari jalan kecil atau gang menuju halte transportasi umum, rasio persentase total jalan yang dibangun khusus untuk kendaraan pribadi dan untuk bersama (roadway), serta akses pejalan kaki untuk masuk suatu bangunan.

    Semakin dekat jarak yang harus ditempuh untuk menuju suatu lokasi dengan berjalan, semakin nyaman kota tersebut untuk pejalan kaki.

    Lantas, adakah kota di Indonesia yang ramah untuk pejalan kaki. Ternyata ada, dan semakin banyak kota yang berusaha untuk mengakomodasi pejalan kaki.

    Baca: Konsep baru penataan kota bernama slow city

    Berikut ini adalah beberapa kota di Indonesia yang memiliki kawasan yang ramah untuk pejalan kaki, sebagaimana dirilis phinemo.com

    1. Bogor

    Kota Bogor bisa jadi salah satu alternatif bagi yang ingin pergi wisata berjalan kaki. Pertengahan Juni 2016 lalu, Bogor memulai pembangunan kota menuju ke arah transportasi ramah lingkungan yang mendorong masyarakat untuk berjalan kaki, bersepeda dan menggunakan angkutan umum.

    Salah satu proyek yang telah selesai dikerjakan adalah trotoar di sekitar Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor.

    Dari Stasiun Bogor kini wisatawan sudah bisa berjalan kaki menuju Kebun Raya Bogor. Sambil menelusuri trotoar tersebut, wisatawan juga bisa melihat-lihat rusa yang bermunculan di halaman Istana.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    2. Solo

     

    Di Solo, tepatnya Jalan Slamet Riyadi, terdapat jalur pejalan kaki yang nyaman. Trotoar yang lebar terlindung oleh pepehonan yang rindang membuat pejalan kaki akan meresa nyaman.

    Pemkot Solo juga menyediakan kursi taman yang bisa digunakan untuk istirahat setiap jarak tertentu. 

    Kondisi ini akan membuat kita tak mudah lelah untuk menyusuri jalan sepanjang 3,5 kilometer ini.

    Apalagi di jalan protokol Kota Solo ini terdapat beberapa tempat wisata sekaligus, seperti Taman Sriwedari dan Museum Radya Pustaka Surakarta.

    Baca: Daftar kota paling ramah untuk peseda 

    3. Semarang

    Di bawah pimpinan Wali Kota Hendrar Prihadi, Semarang mulai melakukan program penataan kawasan pusat kota yang mengandalkan trotoar.

    Street furniture (pelengkap jalan) seperti pot bunga, kursi, lampu, dan lain-lain ditambahkan untuk menambah kenyamana pejalan kaki.

    Beberapa ruas trotoar juga dilengkapi dengan ornamen bola-bola yang membuat jalan tersebut semakin indah.

    Saat ini, trotoar di Jalan Veteran, Jalan Diponegoro, Jalan Madukoro, serta Jalan Imam Bonjol bisa disusuri untuk berjalan kaki menyusuri pusat Kota Lunpia.

    Ke depannya, Semarang akan terus mempercantik setiap sudut trotoar untuk memberi kenyamanan kepada warga dan juga wisatawan.

    Baca: Penataan transportasi publik di Jakarta

    4. Yogyakarta

    Berjalan kaki merupakan cara tebaik untuk menikmati keindahan budaya Yogyakarta. Jogja International Heritage Walk 2017, yang berhasil ajak ribuan pejalan kaki nikmati alam Yogyakarta menjaid bukti nyata akan hal itu.

    Orang tentu sudah akrab dengan Jalan Malioboro yang sangat ramah bagi pejalan kaki. Sepanjang jalan tersebut kita bisa berjalan nyaman di trotoar, bahkan di jalan sekundernya.

    Kantung-kantung parkir pun kini kian rapih tertata, tidak menutupi trotoar.

    Tak hanya Malioboro, Kota Yogyakarta juga memiliki beberapa spot nyaman bagi pejalan kaki. Tidak hanya di tempat wisata, tetapi juga sisi jalan protokolnya. 

    Selain Malioboro, wisatawan juga bisa berjalan nyaman di wisata-wisata budaya seperti sekitaran Keraton, Tamansari, Kotagede dan beberapa wilayah lainnya.

    Baca: Jalan Malioboro akan dijadikan kawasan rendah emisi

    5. Jakarta

    Di ibukota Jakarta ada jalan Jendral Sudirman dan Jalan MH Thamrin yang telah ditata sehingga membuat nyaman para pejalan kaki.

    Trotoar yang lebar dan taman yang terawat apik, membuat pejalan kaki dimanjakan. Halte-halte bergaya modern membuat pejalan kaki nyman menunggu kendaraan umum yang akan digunakan. 

    Sayangnya, tidak sedikit pedagang kaki lima yang nakal dan memanfaatkan trotoar ini untuk berdagang. 

    Selain mengganggu keindahan, keberadaan merka kadang juga mengganggu kenyamanan karena sering parkir dan membuang sampah sembarangan. 

    Baca: Jalan kaki dan bersepeda, cara mudah menikmati suasana kota

    6. Jambi

    Kawasan untuk pejalan kaki terbaik lainnya berada di Jambi. Di sana terdapat jembatan khusus pejalan kaki yang sangat unik.

    Jembatan ini terbentang sepanjang 530 meter di atas Sungai Batanghari dengan bentuk seperti huruf ‘S’.

    Di ujung jembatan ini terdapat sebuah menara bernama Gentala Arasy. Menara ini merupakan museum yang menceritakan tentang sejarah perkembangan Islam di Jambi.

    Di sisi lain jembatan juga terdapat pusat jajanan untuk wisatawan yang ingin wisata kuliner. Makanya, nggak salah kalau area ini menjadi salah satu ikon Jambi sekaligus tujuan wisata yang populer.

    Menghabiskan sore hari di Jambi rasanya kurang jika tidak berjalan kaki sambil menikmati matahari tenggelam di jembatan ini.

  • Bappenas: Trotoar di Jakarta Belum Ramah untuk Kelompok Difabel

    Bappenas: Trotoar di Jakarta Belum Ramah untuk Kelompok Difabel

    7cloud.asia – Kondisi trotoar di Kota Jakarta kini dianggap sudah jauh lebih baik untuk pejalan kaki tetapi belum ramah untuk kalangan difabel.

    Perencana Ahli Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Oswar Mungkasa menjelaskan trotoar bagi pejalan kaki di Kota Jakarta sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.

    Selain jauh lebih lebar dan nyaman, sebagian besar trotoar di Jakarta kini juga sudah dilengkapi fasilitas untuk difabel seperti penunjuk untuk difabel netra. 

    Namun, Oswar menilai  efektivitas trotoar di Jakarta masih belum memadai untuk disebut ramah untuk difabel.

    Baca: Menilik kondisi trotoar dan jalur sepeda di kota-kota di Indonesia

    Ia mencontohkan sudah adanya jalur kuning di trotoar untuk membantu difabel netra ketika berjalan kaki. Namun, banyak yang menghalangi jalur kuning itu, salah satunya pedagang kaki lima.

    “Bagaimana jika difabel netra menabrak kompor? Kalau difabel  netra menggunakan jalur kuning itu, maka dia akan menabrak ke mana-mana dan itu berbahaya,” ucap Oswar Kamis (12/10/2023) seperti dilansir Antara.

    Selanjutnya Oswar menjelaskan indikator suatu kota, termasuk DKI Jakarta, bisa disebut kota yang layak ketika kota tersebut ramah bagi pejalan kaki. Ada empat prinsip kota ramah pejalan kaki, salah satunya membudayakan berjalan kaki.

    “Ketika kita masih bisa berjalan kaki di sebuah kota dengan aman tanpa polusi, sebenarnya itu indikator sebuah kota yang layak,” katanya.

    Baca: Bersepeda, cara warga menikmati kotanya

    Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Oswar, ada beberapa prinsip Kota Ramah Pejalan Kaki.

    Prinsip pertama adalah membudayakan berjalan kaki. Menurutnya, saat ini masih banyak warga yang menggunakan kendaraan roda dua untuk pergi ke tempat dalam jarak dekat.

    “Bahkan di sekolah-sekolah, anak SD itu kan tidak diajarkan jalan kaki. Biasa diantar dengan motor,” ucapnya.

    Menurutnya dukungan serta regulasi pemerintah untuk budaya jalan kaki sudah cukup. Tetapi staf pemerintah juga perlu menjadi contoh dengan berangkat ke kantor dengan naik transportasi umum.

    Baca: Empat kota dunia yang sangat memprioritaskan pejalan kaki

    Prinsip kedua adalah peningkatan inklusivitas mobilitas. Jalan, taman, gedung publik, dan transportasi publik harus terjangkau oleh semua kalangan.

    Prinsip ketiga adalah dukungan rencana tata ruang dan guna lahan. Menurutnya jaringan pejalan kaki di DKI Jakarta masih belum saling terintegrasi.

    Prinsip keempat adalah peningkatan keterpaduan jaringan, dukungan pemerintah, terbebas dari kejahatan dan rasa takut, pengurangan bahaya jalan raya, dan ruang dan tempat terancang yang terkelola baik.

    Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta seharusnya dapat memanfaatkan momen penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk merancang sistem transportasi dan peta jalan Kota Ramah Pejalan Kaki.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Riset ITDP: Menata Kota Lama Semarang Menjadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki dan Pesepeda

    Riset ITDP: Menata Kota Lama Semarang Menjadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki dan Pesepeda

    7cloud.asia – Salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam proses pengembangan kawasan termasuk penataan kota lama Semarang adalah banyaknya pihak yang harus urun terlibat.

    Di luar keterlibatan masyarakat yang beraktivitas di kawasan kota lama Semarang, yang sejak awal harus dipastikan adalah visi yang sama antara pihak perencana, pengelola, dan regulator dalam mewujudkan tata ruang yang berkelanjutan.

    Untuk itu, pada 13 Juli 2023 Institute for Transportation and Development Policy atau ITDP  Indonesia berkolaborasi dengan Katadata Green menyelenggarakan FGD yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan penataan kota lama Semarang.

    FGD yang diselenggarakan ITDP ini antara lain melibatkan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah.

    Dishub Kota dan Provinsi, Dinas PU, Dinas Tata Ruang, hingga operator transportasi publik seperti BLU UPTD Trans Semarang dan PT. Kereta Api Indonesia juga dilibatkan dalam kegiatan ini.

    Baca: Penataan kota lama di Semarang

    Melalui FGD, setiap pemangku kepentingan dapat berbagi keprihatinan dan saran untuk desain, dan kami berhasil menentukan lokasi halte, rencana manajemen lalu lintas, dan desain ulang persimpangan.

    Kunci untuk memahami isu-isu aksesibilitas pejalan kaki adalah dengan memiliki pengalaman langsung berjalan kaki di area tersebut.

    ITDP telah menggunakan pendekatan ini untuk menilai aksesibilitas Trans Semarang bersama kelompok rentan pada tahun 2022.

    Pada tahun 2023 kami mengundang peserta FGD untuk berjalan kaki menyusuri rute pejalan kaki usulan, untuk membantu pemangku kepentingan memahami isu di lapangan, untuk didiskusikan bersama.

    Selain itu, untuk memahami perspektif yang lebih luas dari penduduk lokal dan wisatawan Semarang, ITDP melakukan survei interaktif.

    Baca: Kawasan Kota Tua Jakarta jadi kawasan rendah emisi

    Survei ini untuk menangkap persepsi tentang keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pejalan kaki di kawasan Kota Lama Semarang.

    Wisatawan, penduduk lokal, pemilik bisnis, pekerja, pengguna Trans Semarang, dan anak-anak diundang untuk memetakan tujuan favorit mereka, hambatan berjalan kaki, dan keinginan mereka untuk menggunakan layanan sepeda sewa.

    Melalui survei ITDP di kawasan Kota Tua, isu yang paling banyak disoroti adalah ketersediaan fasilitas penyeberangan dan aktivasi ruang jalan di malam hari untuk meningkatkan keamanan pejalan kaki.

    Masih banyak persimpangan yang dirasa belum memprioritaskan pejalan kaki, seperti di Jalan Cendrawasih, simpang Museum Kota Lama, dan di sepanjang Jalan Letjen Suprapto.

    Ruang jalan dan persimpangan ini merupakan akses utama menuju titik transportasi publik terdekat, menunjukkan urgensi perbaikan fasilitas pejalan kaki untuk mendorong penggunaan transportasi publik dalam mengakses kawasan Kota Lama.

    Baca: Malioboro menjadi kawasan rendah emisi

    Selain itu juga dilakukan perbaikan fasilitas pejalan kaki, berdasarkan survei evaluasi ITDP (2023) terhadap sistem sepeda sewa yang sudah ada, lebih dari 95% responden menginginkan agar layanan sepeda sewa tetap dilanjutkan.

    Namun, mereka menyebutkan perlunya perbaikan; akses yang lebih mudah untuk layanan dan informasinya, serta tarif yang lebih terjangkau.

    Pergeseran yang menarik dari penggunaan sepeda sewa untuk tujuan mobilitas juga terlihat dari survei tersebut, dari 6,7% menjadi 43% jika layanan ditingkatkan.

    Mengingat 58% penggunaan moda transportasi di Semarang adalah sepeda motor, layanan sepeda sewa di seluruh kota dapat menciptakan potensi peralihan dari pengguna sepeda motor.

    Semua ini mengawali langkah menuju kota masa depan yang berkelanjutan. Kota Semarang telah memulai perjalanannya untuk mengembangkan transportasi berkelanjutan dengan perencanaan jalur khusus BRT revitalisasi Kota Lama. 

    Namun, dibutuhkan langkah yang lebih berani untuk memastikan peralihan ke moda transportasi berkelanjutan.

    Baca: Perjuangan London menjadi kota rendah emisi

    Memastikan aksesibilitas kilometer awal dan akhir transportasi publik untuk diintegrasikan ke dalam Peta Jalan Transportasi Tidak Bermotor (NMT Roadmap) yang disusun oleh pemerintah kota menjadi sangat krusial.

    Apalagi mempertimbangkan mayoritas pengguna Trans Semarang merupakan kelompok rentan, termasuk perempuan dengan anak, penumpang membawa barang, lansia, dan penyandang disabilitas (Survei ITDP, 2022).

    Meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas juga berarti memperbaiki pengaturan lalu lintas dan pembatasan kendaraan bermotor, redistribusi ruang jalan yang memprioritaskan mobilitas aktif.

    Selain itu juga harus dilakukan peningkatan akses halte bus, penyediaan layanan mobilitas mikro, dan desain simpang yang lebih aman.

    Upaya peningkatan Kota Lama Semarang sebagai kawasan strategis kota merupakan batu loncatan terwujudnya perbaikan di tingkat kota; menjadikan Kota Semarang lebih inklusif, aksesibel, dan berkelanjutan.

    Baca: Daftar kota ramah pesepeda di dunia

    Oleh Annisa Dyah Lazuardini, Urban and Visual Design Associate II ITDP Indonesia

     

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Perbanyak Jalur Penyeberangan Pejalan Kaki

    Pemprov DKI Jakarta Akan Perbanyak Jalur Penyeberangan Pejalan Kaki

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempertimbangkan untuk menambah jalur penyeberangan pejalan kaki (zebra cross) di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan guna menambah kenyamanan area pedestrian.

    “Kita lihat lokasinya, kalau memang itu tidak ada jembatan penyeberangan orang (JPO) dan diperlukan zebra cross maka kita lakukan,” kata Penjabat (Pj) Gubernur DKI Heru Budi Hartono dalam konferensi pers usai peresmian JPO Stasiun Tanjung Barat di Jakarta Selatan, Senin (14/10/2024).

    Heru mengatakan tak bisa semua lokasi ramai dibangun JPO lantaran memerlukan kajian dan evaluasi yang lebih mendalam oleh Dinas Perhubungan DKI.

    Menurut dia, zebra cross ataupun lampu merah juga terbilang lebih efisien sebagai fasilitas penyeberangan bagi pejalan kaki.

    “Kan gini, kalau dia tidak mau melalui JPO dan perlu diperlukan adanya zebra cross, maka kita lakukan,” ucapnya.

    Baca: Lima kota di Indonesia dengan kawasan pejalan kaki terbaik

    Dia berharap adanya fasilitas penyeberangan seperti JPO, zebra cross dan sebagainya mampu mendorong pengguna kendaraan pribadi untuk beralih menggunakan transportasi publik.

    “Karena kalau dia memudahkan menyeberang segala macem, kan ‘gateway’ transportasi kan jadi lebih cepat,” ucapnya.

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki sekitar 300 kilometer area pedestrian yang terintegrasi dengan layanan transportasi umum seperti KRL, MRT, LRT dan TransJakarta demi memudahkan mobilitas pejalan kaki.

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga menyiapkan fasilitas bagi pesepeda yang sudah terbangun sepanjang 314,1 kilometer yang terkoneksi dengan seluruh layanan angkutan umum di Jakarta meliputi KRL, MRT, LRT, TransJakarta maupun bus.

    Sebelumnya, Jakarta juga pernah membangun fasilitas penyebrangan jalan berambu lalu lintas (pelican crossing) yang menggantikan jembatan penyebrangan orang (JPO) di kawasan bundaran Hotel Indonesia dari depan Plaza Indonesia ke Hotel Pullman di seberangnya.

    Baca: Membangun Jakarta menjadi kota yang lebih layak huni

    Meski bersifat sementara, pembangunan fasilitas penyeberangan jalan ini dinilai masyarakat bermanfaat dan lebih ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas.

    Penyeberangan jalan dengan lampu merah dinilai lebih manusiawi ketimbang JPO maupun terowongan.

    “Fasilitas ini lebih bermanfaat bagi masyarakat saya rasa ya, bagi pekerja yang ada di sekitar sini juga, karena kita tidak perlu naik dan turun tangga yang menyulitkan juga bagi penyandang disabilitas,” kata Amel dilansir Antaranewws.com.

    Pengguna fasilitas yang ada di Jalan MH Thamrin tersebut, hanya perlu menekan tombol untuk mengaktifkan lampu penyebrangan dan menunggu selama 21 detik untuk mulai menyerang.

    Para pejalan kaki diberikan waktu sekitar 13 detik untuk menyebrang dengan dibantu pengawalan dari masing-masing dua petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta di ruas barat dan timur jalan.

    Baca: Kota Lama Semarang ditata agar lebih ramah bagi pejalan kaki

    Dalam hitungan detik, pengemudi kendaraan mengharapkan fasilitas tersebut tidak memicu antrean kendaraan terutama pada jam-jam sibuk pada pagi dan sore hari, walau dari pantauan sejak pukul 10:00 WIB hingga 12:00 WIB, belum terjadi antrean panjang kendaraan bermotor.

    “Ya bagi saya fasilitas ini cukup baik untuk pejalan kaki, dan waktu tunggu yang dibutuhkan untuk pengendara juga tidak terlalu lama. Namun saya juga harap tidak terjadi antrean panjang saat jam-jam sibuk nantinya,” kata Fadil seorang pengendara kendaraan yang ditemui di lokasi.

    Sumber: Antaranews.com

  • Koalisi Pejalan Kaki dan Clean Mobility Collective South East Asia Kampanyekan Hak Atas Udara Bersih

    Koalisi Pejalan Kaki dan Clean Mobility Collective South East Asia Kampanyekan Hak Atas Udara Bersih

    7cloud.asia – Kolaborasi antara Bicara Udara dan Koalisi Pejalan Kaki (KOPEKA) bekerja sama dengan Clean Mobility Collective South East Asia (CMC SEA) meluncurkan kampanye publik “Life in a Bubble” untuk menyuarakan pentingnya kesadaran masyarakat akan hak atas udara bersih.

    Kampanye hak atas udara bersih itu digelar di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin saat adanya Car Free Day pada hari Minggu (1/6/2025).

    Para anggota melakukan kampanye dengan membawa visual mencolok berupa gelembung transparan sebagai simbol perbedaan perlindungan antara segelintir orang dan mayoritas masyarakat terhadap polusi udara.

    “Harus ada aksi konkret untuk pengendalian pencemaran udara kronis yang terjadi di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya, demi keberadaan udara bersih untuk semua,” kata perwakilan KOPEKA Amalia S. Bendang dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (2/6/2025)

    Amalia menjelaskan “Life in a Bubble” adalah kampanye yang dipelopori 350 Pilipinas di Manila, Filipina sebagai ajakan untuk menyadari bahwa udara bersih adalah hak mendasar yang harus dijamin, bukan hanya milik segelintir orang.

    Baca: Cara memantau kualitas udara bersih di Jakarta

    Selain itu, polusi udara tidak hanya terpampang dalam data atau laporan ilmiah melainkan kenyataan yang dihadapi masyarakat sehari-hari, terutama kelompok masyarakat yang paling rentan.

    Melalui penyelenggaraan kampanye di Jakarta, para kolaborator mendorong masyarakat dan pemerintah untuk mengambil tindakan nyata mengurangi polusi udara dan melindungi kesehatan publik.

    Kegiatan itu turut menjadi langkah awal untuk mendesak penguatan kebijakan berbasis sains dan transparansi data terkait kualitas udara.

    Ia menyampaikan bahwa hak atas udara segar untuk semua sudah dijamin melalui Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 huruf h sebagai bagian dari hak asasi untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat, harus dijamin keberadaanya.

    “Kampanye ‘Life in a Bubble’ ini diharapkan mampu menggerakkan para pemangku kepentingan terutama pemerintah, didukung oleh partisipasi masyarakat dan sektor swasta sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya masing-masing,” katanya.

    Baca: Upaya mengatasi polusi udara di Jakarta dan sekitarnya

    Biru Voices Ambassadors 2024 yakni Aprila Majid dan Lisa Anggraeny, menyampaikan keprihatinannya akan polusi udara melalui acara ini.

    “Melalui kampanye ini, sebagai ibu, kami jadi membayangkan kalau selama ini kami sudah mencoba membangun ‘bubble-bubble’ untuk melindungi anak-anak kami dari polusi udara, misalnya dengan membatasi aktivitas di rumah,” ucap Aprila.

    Lisa turut berharap anak-anak bisa bernafas dengan lega dan leluasa tanpa harus ada gelembung-gelembung tersebut.

    “Diharapkan aksi simbolis ini bisa memicu dorongan publik yang lebih besar agar pemerintah mendengar suara masyarakat dan mengadopsi standar kualitas udara yang benar-benar melindungi kesehatan publik, karena udara bersih adalah hak untuk semua masyarakat,” kata Lisa.

  • Cara Kota Addis Ababa Memangkas Polusi dengan Membangun Fasilitas Bagi Peseda dan Pejalan Kaki

    Cara Kota Addis Ababa Memangkas Polusi dengan Membangun Fasilitas Bagi Peseda dan Pejalan Kaki

    7cloud.asia – Dari pusat kota Addis Ababa yang ramai hingga perbukitan indah Kigali, kota-kota di Afrika mengubah mobilitas perkotaan dengan merangkul para pesepeda dan pejalan kaki.

    Dilansir di laman resmi UNEP, unep.org, bersepeda dan berjalan kaki akan mengubah cara perjalanan harian, memangkas emisi, dan menciptakan masyarakat kota yang lebih sehat dan lebih hijau.

    Di seluruh benua, pemerintah memajukan kebijakan transportasi non-motor dan berinvestasi dalam infrastruktur berkualitas tinggi.

    Dengan mengintegrasikan bersepeda ke dalam jaringan perkotaan, mereka memprioritaskan keselamatan, aksesibilitas, dan tanggung jawab lingkungan sambil mengurangi emisi, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan membina kota yang lebih inklusif.

    Di Ethiopia, tempat sepeda populer di kota-kota seperti Bahir Dar dan Hawassa, Kementerian Transportasi dan Logistik negara tersebut menyusun Strategi Transportasi Non-Motor 2020-2029.

    Baca: Empat kota dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Dengan dukungan teknis dari UNEP, UN-Habitat, dan Institut Kebijakan Transportasi dan Pembangunan (ITDP), strategi tersebut juga memandu peningkatan fasilitas pejalan kaki.

    Addis Ababa telah membuat langkah signifikan sejak meluncurkan Proyek Koridor Kota pada tahun 2022. Ibu kota Ethiopia telah membangun lebih dari 60 kilometer jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang dilindungi

    Mereka juga berencana untuk memperluas lebih dari 76 kilometer jalur sepeda dan 200 kilometer jalur pejalan kaki pada tahap berikutnya.

    Hawassa dan kota-kota lain di seluruh negeri mengikuti, meluncurkan proyek koridor dengan fasilitas berkualitas tinggi untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda.

    Didanai oleh pemerintah pusat dan diawasi oleh Kantor Perdana Menteri, Proyek Koridor Kota Addis Ababa selaras dengan Rencana Jaringan Sepeda Addis Ababa 2023-2032.

    Baca: Membangun kesadaran mewujudkan transportasi sehat dan ramah lingkungan

    Diadopsi oleh Biro Transportasi Addis Ababa (AATB), rencana tersebut dikembangkan dengan saran kebijakan dari ITDP dan UN-Habitat.

    Selain itu, studi kelayakan tahun 2021 meletakkan dasar bagi sistem berbagi sepeda pertama di kota tersebut, dengan Biro Transportasi Addis Ababa kemudian merekrut operator swasta untuk memperluas ketersediaan sepeda melalui sistem berbasis TI.

    Studi ini mendapat dukungan dari UN-Habitat, ITDP, dan Dana Keselamatan Jalan Raya PBB. Selain Addis Ababa, kota lain di Afrika yang juga tengah mendorong pengembangan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda adalah Kairo (Mesir), Kisumu (Kenya) dan Kigali (Rwanda)

    Perjalanan dengan sepeda atau dengan berjalan kaki bukan hanya perubahan yang ramah lingkungan, tetapi juga mengubah keadaan kota.

    Studi menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur bersepeda sepuluh kali lebih hemat biaya daripada kereta bawah tanah dalam mengurangi emisi.

    Baca: Koalisi Pejalan Kaki dan Clean Mobility Collective South East Asia kampanyekan hak atas udara bersih

  • Kota-kota di Afrika Berlomba Kembangkan Jalur untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

    Kota-kota di Afrika Berlomba Kembangkan Jalur untuk Pesepeda dan Pejalan Kaki

    7cloud.asia – Dari pusat kota Addis Ababa (Ethiopia) yang ramai hingga perbukitan indah Kigali (Rwanda), kota-kota di Afrika mengubah mobilitas perkotaan dengan merangkul warga yang bersepeda dan berjalan kaki.

    Dengan dukungan teknis dari UNEP, UN-Habitat, dan Institut Kebijakan Transportasi dan Pembangunan (ITDP), sejumlah kota di Afrika mulai meningkatkan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda.

    Dengan dukungan teknis dari UNEP dan sejumlah organisasi yang mengadvokasi mobilitas aktif di seluruh dunia, kota-kota di Afrika mengintegrasikan jalur sepeda ke dalam perencanaan perkotaan.

    Langkah ini sekaligus memastikan perjalanan yang lebih lancar dan aman menuju ekonomi hijau, udara yang lebih bersih, dan masyarakat yang lebih sehat.

    Bersepeda dan berjalan kaki dinilai bakal mengubah cara perjalanan harian, memangkas emisi, dan menciptakan masyarakat kota yang lebih sehat dan lebih hijau.

    Dengan mengintegrasikan jalur bersepeda ke dalam jaringan perkotaan, mereka memprioritaskan keselamatan, aksesibilitas, dan tanggung jawab lingkungan sambil mengurangi emisi, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan membina kota yang lebih inklusif.

    Baca: Kota Addis Ababa pangkas polusi dengan membangun fasilitas bagi peseda dan pejalan kaki

    Di Ethiopia, Kementerian Transportasi dan Logistik negara tersebut menyusun Strategi Transportasi Non-Motor 2020-2029.

    Addis Ababa telah membuat langkah signifikan sejak meluncurkan Proyek Koridor Kota pada tahun 2022. Ibu kota Ethiopia telah membangun lebih dari 60 kilometer jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang dilindungi

    Mereka juga berencana untuk memperluas lebih dari 76 kilometer jalur sepeda dan 200 kilometer jalur pejalan kaki pada tahap berikutnya.

    Hawassa dan kota-kota lain di seluruh negeri mengikuti, meluncurkan proyek koridor dengan fasilitas berkualitas tinggi untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda.

    Selain Addis Ababa, kota lain di Afrika juga tengah mendorong pengembangan fasilitas untuk pejalan kaki dan pesepeda adalah ibu kota Mesir, Kairo. Mesir
    berniat memperkuat infrastruktur pejalan kaki.

    Mesir juga akan menjadikan bersepeda lebih dari sekadar moda rekreasi, dengan menjadikan mobilitas aktif sebagai bagian integral dari transportasi perkotaan.

    Baca: Empat kota di dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Prakarsa Sepeda Kairo memimpin dengan 255 sepeda sewaan bertenaga surya di 25 stasiun, yang menawarkan pembayaran dan pembayaran berbasis aplikasi. Program ini akan diperluas hingga 500 sepeda di 45 stasiun, membantu Mesir mencapai tujuan iklimnya.

    Kota terbesar ketiga di Kenya, Kisumu, telah mengambil langkah tegas menuju masa depan yang ramah sepeda dengan Rencana Mobilitas Berkelanjutan, yang juga dikembangkan dengan panduan kebijakan UN-Habitat dan ITDP.

    Kota ini membayangkan jalur pejalan kaki sepanjang 100 km, lintasan sepeda sepanjang 31 kilometer, dan skema berbagi sepeda dengan 400 sepeda.

    Tahap pertama Proyek Segitiga Kisumu telah memperkenalkan jalur pejalan kaki dan infrastruktur pejalan kaki berkualitas tinggi, dengan tambahan 8,1 km infrastruktur ramah sepeda yang sedang dibangun dengan pendanaan Bank Dunia.

    Saat pesepeda papan atas dunia tiba di Rwanda untuk Kejuaraan Dunia UCI pada September 2025, mereka akan menemukan kota yang membangun masa depan dengan bersepeda sebagai pusatnya.

    “Di Kigali, mayoritas penumpang sudah mengandalkan transportasi tak bermotor,” kata Sheila Uwase, seorang Insinyur di Balai Kota Kigali. “Tujuan kami adalah meningkatkan keselamatan dan aksesibilitas bagi semua pengguna jalan.”

    Baca: Daftar kota ramah bagi pesepeda di dunia

    Sejak 2016, Kigali telah menyelenggarakan hari bebas mobil dua minggu sekali pada hari Minggu, untuk menumbuhkan budaya bersepeda.

    Kota ini telah menetapkan zona bebas mobil dan jalur sepeda sepanjang 13 km di Kawasan Pusat Bisnisnya dan sekarang mencatat lebih dari 1.500 pesepeda per jam di jalan-jalan utama, dengan rencana untuk memperluas jaringan sepeda di sepanjang jalan dan jalur air.

    PBB meluncurkan Rencana Aksi Pan Afrika pertama untuk Mobilitas Aktif di Forum Perkotaan Dunia

    Pada tahun 2021, Kementerian Infrastruktur Rwanda mengembangkan Kebijakan Transportasi Nasional yang baru; Bagian transportasi non-motornya menggabungkan panduan kebijakan dari UNEP dan ITDP dengan dukungan dari Yayasan Fia.

    Rekomendasi utama meliputi penerapan infrastruktur bersepeda yang dilindungi secara fisik, menyediakan penyeberangan pejalan kaki yang aman di permukaan tanah sebagai pengganti jembatan penyeberangan, mengurangi tarif sepeda, dan memperkenalkan sistem berbagi sepeda.

    Baca: Sepeda adalah wujud transportasi sehat dan ramah lingkungan

    Perjalanan dengan sepeda bukan sekadar perubahan yang ramah lingkungan, tetapi juga perubahan bagi kota dan tata kelola kota.

    Berbagai penelitian menunjukkan, pembangunan infrastruktur bersepeda sepuluh kali lebih hemat jika dibanding pembangunan kereta bawah tanah dalam upaya menurunkan emisi karbon.

    Selain itu, setiap kilometer yang ditempuh dengan bersepeda menghasilkan manfaat ekonomi dan kesehatan, mengurangi kemacetan, meningkatkan kualitas udara, dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes.

    “Sistem berbagi sepeda semakin mendukung mobilitas tanpa emisi, membuat perjalanan singkat dan konektivitas jarak dekat ke transportasi umum lebih mudah diakses”, tegas Carly Gilbert-Patrick, Ketua Tim Mobilitas Aktif, Digitalisasi, dan Integrasi Moda UNEP

    Infrastruktur bersepeda dan berjalan kaki juga bertujuan untuk menyelamatkan nyawa.

    Laporan Status Afrika 2025 tentang Keselamatan Jalan Raya mengungkapkan bahwa, meskipun hanya memiliki 3 persen dari armada kendaraan global, Afrika menyumbang 24 persen dari kematian jalan raya global dengan 259.601 kematian setiap tahunnya.

    Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak akan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang lebih aman untuk melindungi pengguna jalan yang rentan.

    Baca: Cara Kota Bogota dan Warsawa mengatasi polusi udara