7cloud.asia – Pada September 2023, pemanasan suhu Bumi tercatat melampaui 1,5°C.
Dua bulan kemudian, atau pada November 2023 pemanasan suhu Bumi naik lagi hingga sempat menyentuh 2°C.
Melihat angka pemansan suhu Bumi ini, wajar jika banyak orang bertanya-tanya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan planet ini.
Apa yang kita lihat terkait fenomena pemanasan suhu Bumi di bulan November ini bukanlah perubahan iklim yang tidak terkendali.
Ini adalah lonjakan suhu harian, bukan pola jangka panjang yang jadi acuan untuk mengatakan bahwa suhu dunia saat ini lebih panas 2°C dibandingkan era praindustri.
Baca: Seperti ini peran multi pihak dalam perdagangan karbon
Namun, kenaikan suhu atau pemanasan suhu Bumi pertama yang melewati batas aman Bumi ini adalah alarm terkeras sepanjang sejarah.
Kenaikan suhu atau pemanasan Bumi ini terjadi seiring dengan peringatan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
UNEP menyebut, dunia masih berada di jalur menuju pemanasan 3°C yang “sangat buruk” pada akhir abad ini.
Kendati demikian, kenaikan suhu ini tidak menandai kegagalan kita. Lonjakan pemanasan tiba-tiba tahun 2023 terjadi karena kombinasi beberapa faktor: perubahan iklim, El Nino kuat.
Pemanasan Bumi ini juga menunjukkan kegagalan pembentukan kembali es laut setelah musim dingin, berkurangnya polusi aerosol, dan peningkatan aktivitas matahari.
Baca: Emisi karbon catat rekor tertinggi pada 2023
Pemanasan Bumi ini juga dipengaruhi faktor kecil seperti dampak letusan gunung berapi di dekat Tonga.
Seberapa signifikan faktor-faktor ini? Kita akan bahas dalam tulisan selanjutnya.
Apa hikmah dari pemanasan Bumi ini? Untuk menjawab pertanyaan ini bisa dijelaskan sebagai berikut.
Iklim sangat kompleks. Kita patut melihat kenaikan suhu 2°C ini sebagai peringatan keras, bukan sebagai tanda untuk menyerah.
Singkatnya, pemanasan Bumi secara harian ini bukanlah perubahan tiba-tiba. Kombinasi beberapa faktorlah yang mendorong lonjakan ini.
Beberapa di antaranya, seperti El Nino, merupakan siklus alami sehingga keadaan dapat berubah kembali.
Baca: Pemanasan global jadi masalah serius bagi lingkungan
Namun, ketika para delegasi bersiap untuk perundingan iklim COP28 pekan depan, ini merupakan tanda lain bahwa kita tidak bisa menyerah.
Kita-–akhirnya—-melihat tanda-tanda kemajuan nyata dalam penerapan energi terbarukan dan transportasi ramah lingkungan.
Tahun ini, kita bahkan mungkin melihat emisi dari pembangkit listrik akhirnya mencapai puncaknya dan kemudian mulai jatuh.
Kita belum gagal. Namun, saat ini kita berada di planet yang memanas dengan cepat.
Kita kini dapat melihat dampaknya dengan jelas, bahkan dalam catatan suhu harian terbaru ini.
Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne



