Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada November 2023, Ini Penyebabnya

Written by

in

7cloud.asia – Pada bulan Oktober dan November 2023, pemanasan suhu Bumi tercatat cukup tinggi yakni berada di angka 1,5°C dan sempat menyentuh 2°C.

Melihat angka pemanasan suhu Bumi yang cukup fantastis ini, wajar jika banyak orang bertanya-tanya  bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan planet ini.

Dalam tulisan di The Conversation, lonjakan pemanasan suhu bumi yang tiba-tiba pada tahun 2023 terjadi karena kombinasi beberapa faktor.

Perubahan iklim, El Nino kuat, kegagalan pembentukan kembali es laut setelah musim dingin, berkurangnya polusi aerosol, dan peningkatan aktivitas matahari disebut sebagai pemicu fenomena lonjakan suhu bumi ini.

Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2 derajat

Dan berikut penjelasan, bagaimana faktor-faktor tersebut memicu pemanasan suhu Bumi.

1. Perubahan iklim

Sejauh ini, perubahan iklim adalah faktor terbesar dalam pemanasan suhu bumi. Banyak dari kita yang tidak menyadari betapa barunya periode emisi intens yang kita alami.

Jika kamu lahir pada 1983, 50% dari seluruh emisi umat manusia telah dibuang ke atmosfer sejak kelahiranmu.

Emisi manusia dan aktivitas lainnya sejauh ini berkontribusi memanaskan suhu Bumi sebesar 1,2°C.

Gas rumah kaca memerangkap panas, itulah sebabnya bumi tidak terselimuti salju.

Namun, 2 triliun ton energi fosil yang ditambang dari bawah tanah dan dikembalikan ke atmosfer memerangkap lebih dan lebih banyak lagi panas.

Bumi bakal terus memanas hingga kita berhenti menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan panas atau listrik.

Baca: Mungkinkah dunia cetak nol emisi pada 2050?

 

2. Fenomena El Nino

Siklus iklim El Nino di kawasan Pasifik memiliki pengaruh alami terbesar terhadap iklim. Hal ini karena kawasan Pasifik sangat luas, mencakup 30% permukaan bumi.

Saat mengalami fase El Nino, lautan di lepas pantai Amerika Selatan memanas. Hal ini, pada gilirannya, biasanya membuat suhu rata-rata global menjadi lebih panas.

Saat ini, ada gelombang panas yang berbahaya di Brasil. Saat terkombinasi dengan kelembapan, gelombang panas membuat suhu di sana terasa seperti 60°C.

Kondisi tersebut berkontribusi pada kematian seorang penggemar di konser Taylor Swift di Rio de Janeiro minggu lalu.

El Nino kemungkinan akan memuncak dalam dua bulan ke depan. Namun, dampaknya mungkin terus berlanjut sepanjang 2024, sehingga menyebabkan suhu rata-rata global lebih tinggi sekitar 0,15°C.

Baca: Manfaat hutan mangrove untuk serap karbon

3. Es Laut Antartika gagal pulih

Penurunan es Laut Arktik sudah diketahui secara luas. Namun, kini es Laut Antartika juga gagal pulih sehingga memicu pemanasan suhu Bumi.

Biasanya, lingkaran air laut beku di sekitar benua es mencapai batas maksimumnya pada September.

Namun, luas lingkaran maksimum tahun ini jauh di bawah tahun sebelumnya.

Saat memasuki musim panas, akan lebih banyak air yang berwarna gelap. Permukaan yang gelap akan menyerap lebih banyak panas, sedangkan permukaan yang putih memantulkannya.

Ini menandakan lebih banyak panas yang akan masuk ke lautan dibandingkan kembali ke angkasa.

Baca: Riset mengungkap Juli 2023 catat emisi karbon tertinggi

 

4. Peningkatan aktivitas Matahari

Matahari beroperasi dalam siklus sekitar 11 tahun, dengan keluaran yang lebih rendah dan lebih tinggi. Suhu maksimum matahari diperkirakan terjadi pada 2025 dan peningkatan nyata terjadi tahun ini.

Fenomena tersebut menciptakan aurora yang spektakuler—-bahkan di Belahan Bumi Selatan, tempat penduduknya telah melihat aurora sampai ke daratan Ballarat, di Victoria, Australia.

Aktivitas maksimum matahari menambahkan panas ekstra. Namun, efeknya tidak banyak—-hanya sekitar 0,05°C, atau setara sepertiga dari El Nino.

5. Berkurangnya polusi aerosol

Pada 2020, peraturan internasional baru mewajibkan bahan bakar pelayaran yang rendah sulfur. Pelaksanaan regulasi ini mengurangi emisi sulfur dioksida sekitar 10%.

Rendahnya emisi sulfur dioksida memang bagus untuk kesehatan. Namun, aerosol di atmosfer sebenarnya dapat menghalangi panas.

Pengurangan polusi mungkin telah menambah pemanasan Bumi. Namun sekali lagi, dampaknya tampaknya kecil, atau menambahkan perkiraan pemanasan sebesar 0,05°C pada 2050.

Baca: Peran sektor kehutanan untuk serap emisi karbon

Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi biasanya mendinginkan planet ini karena gumpalan besar aerosol dari muntahan gunung menghalangi sinar matahari.

Namun letusan gunung berapi terbesar abad ini, di dekat Tonga, Polinesia, pada Januari 2022 justru berdampak sebaliknya.

Ini karena gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha’apai berada di bawah laut. Kekuatan ledakannya menguapkan sejumlah besar air laut. Sementara, uap air merupakan gas rumah kaca.

Beberapa orang skeptis bahwa letusan di Tonga menjadi penyebab utama lonjakan pemanasan global baru-baru ini, menganggapnya hanya kedipan semata.

Namun, letusan ini akan menambah suhu diperkirakan 0,035°C selama sekitar lima tahun.

Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *