Tag: pemilih

  • Cara Berbeda PDIP dan PSI Memandang Pemilih Muda di Pemilu 2024

    Cara Berbeda PDIP dan PSI Memandang Pemilih Muda di Pemilu 2024

    7cloud.asia – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan jumlah daftar pemilih tetap dalam Pemilu 2024 adalah sekitar 204 juta pemilih.

    Dari angka tersebut, sebanyak 52% pemilih di Pemilu 2024 atau 107 juta adalah pemilih muda, dengan rentang usia 17-39 tahun.

    Jika dikategorikan lebih rinci, dari jumlah pemilih di Pemilu 2024 tersebut adalah sebagai berikut:

    kelompok generasi baby boomer (lahir tahun 1946-1964) adalah sebesar 13,73%, generasi milenial sebanyak 23,60% (lahir tahun 1980-1995), dan generasi Z (lahir tahun 1997-2000) sebanyak 22,85%.

    Jumlahnya yang tinggi membuat pemilih generasi milenial dan Z menjadi salah satu aspek signifikan dan akan sangat berpengaruh terhadap penentuan hasil Pemilu 2024. 

    Baca: Jumlah pemilih di Pemilu 2024 ada 204 jutaan

    Ini membuat ceruk milenial menjadi bidikan partai politik (parpol) untuk mengeruk suara elektoral di Pemilu 2024 yang akan digelar pada Februari 2024 mendatang.

    Tentu saja, seperti yang sudah diyakini secara luas, kedua generasi ini adalah kelompok yang paling banyak menggunakan saluran komunikasi modern yang berbasiskan jaringan internet, termasuk media sosial.

    Laporan “Profil Internet Indonesia 2022” oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dipublikasikan pada Juni 2022 menemukan bahwa tingkat penetrasi pengguna internet oleh kelompok usia 13-18 tahun adalah 99,16%, pada kelompok usia 19-34 tahun sebesar 98,64% dan pada kelompok usia 35-54 tahun adalah sebesar 87,30%.

    Untuk dapat menggaet suara generasi milenial dan Z di Pemilu 2024, parpol perlu mempersiapkan diri dan memahami pola, karakter dan jenis konsumsi media komunikasi mereka.

    Baca: Menebak arah pilihan pemilih muda di Pemilu 2024

    Saya melakukan riset tentang pandangan parpol terhadap media sosial dalam menjangkau pemilih muda dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai objek penelitian utama.

    PDI-P dipilih karena merupakan parpol pemenang Pemilu 2019 dan menjadi partai tertua kedua di Indonesia.

    PDI-P juga salah satu partai yang mampu tetap eksis dan dapat mempertahankan akar rumputnya selama melewati fase pergantian rezim serta perubahan perkembangan teknologi informasi yang memberikan pengaruh besar pada perilaku komunikasi politik publik.

    Sementara, PSI dipilih karena merupakan parpol baru di Pemilu 2019 dan berada pada urutan enam terbawah dalam hasil Pemilu.

    PSI juga disebut-sebut sebagai partai anak muda karena 60% dari total calegnya berusia di bawah 45 tahun.

    Baca: Pemilih muda diajak gunakan hak pilihnya di Pemilu 2024

    Hasil studi saya menemukan bahwa PDI-P cenderung hanya melihat media sosial sebagai sarana branding partai – hanya terjadi komunikasi satu arah.

    Sedangkan PSI menganggap media sosial tidak hanya sebagai media untuk branding dan mengenalkan program partai tetapi juga wadah untuk berdialog dengan publik, sehingga terjadi komunikasi dua arah.

    Pandangan yang berbeda antara dua parpol ini dalam memanfaatkan media sosial untuk komunikasi politik kurang lebih akan memengaruhi bentuk pesan politik yang mereka sampaikan pada publik.

    Dan yang pasti, cara pandang mereka terhadap media sosial pun mencerminkan cara pandangan mereka terhadap pemilih milenial dan generasi Z.

    Baca: Saatnya memilih pemimpin yang peduli lingkungan di Pemilu 2024

    Jelang Pemilu 2024, Saya menemukan cara pandang terhadap media sosial di mata PDI-P dan PSI juga berbeda.

    Dengan menggunakan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi kepustakaan, saya menemukan bahwa aktivitas komunikasi politik PDI-P dan PSI di media sosial akan terlihat sama secara sepintas.

    Keduanya sama-sama memanfaatkan kemudahan, efisiensi biaya dan kemampuan untuk menjangkau luas untuk mendistribusikan iklan politik mereka. Ini mereka lakukan guna memperkenalkan dan sekaligus membangun citra partai yang positif.

    Namun, jika ditelaah lebih lanjut, bentuk iklan politik yang mereka tampilkan masing-masing menunjukkan arah yang berbeda.

    Baca: Warga diajak cegah kemungkinan obral izin lahan jelang Pemilu 2024

    PDI-P, misalnya, memosisikan media sosial seperti halnya media lama (media massa non elektronik), selayaknya sifat iklan adalah bentuk komunikasi persuasif, yakni tidak memiliki ruang dialog di dalamnya.

    Model komunikasi politik satu arah inilah yang masih diterapkan oleh PDI-P melalui jaringan media sosialnya.

    Berdasarkan hasil wawancara saya dengan sejumlah narasumber yang merupakan pengurus partai dan organisasi sayap partai, hingga saat ini PDI-P masih meyakini bahwa komunikasi politik secara interpersonal dan interaksi secara langsung dengan konstituen masih lebih efektif, termasuk dengan konstituen yang merupakan anak muda.

    Jadi, alih-alih membangun ruang dialog di media sosial, PDI-P masih lebih bergantung pada organisasi-organisasi sayap partai, baik pusat maupun daerah, untuk berinteraksi langsung dengan pemilih muda.

    Baca: KPU setuju buka 2 TPS khusus di IKN

    Ini berbeda dengan strategi PSI. Partai yang lahir tahun 2014 ini memandang bahwa media sosial dapat menjadi wadah untuk membangun komunikasi dua arah antara partai dengan masyarakat di dunia maya.

    Bagi PSI, dialog adalah bagian dari edukasi politik bagi masyarakat, khususnya kelompok muda, agar mereka mampu memahami pentingnya partisipasi dalam dunia politik.

    PSI juga bermaksud memperlihatkan pada generasi muda bahwa politik bukanlah sebuah proses yang asing dan harus dijauhi dari keseharian mereka.

    Partai ini percaya bahwa melakukan dialog yang intensif dengan kelompok muda lewat media sosial dapat membantu membangun citra positif partai.

    Selain itu, PSI juga gencar mengemas pesan yang berisi program dan gagasan partai dengan bahasa yang lebih ringan dan mudah dipahami oleh generasi milenial dan Z.

    Baca: MK putuskan Pemilu 2024 gunakan sistem proporsional terbuka

    PSI menghindari retorika yang berlebihan dalam menyusun narasi pesan di media sosial, serta menggunakan gambar dan video untuk menarik perhatian anak muda.

    Dalam kaitannya dengan politik, media sosial dan komunikasi lain yang berbasiskan internet telah menawarkan kemudahan dialog tanpa batas. Parpol seharusnya bisa memaksimalkan fungsi ini.

    Basis massa yang kuat dan rekam jejak yang panjang jelas membuat PDI-P mampu meraup banyak suara, setidaknya dalam Pemilu terakhir.

    Namun, PDI-P – serta parpol-parpol lainnya – juga perlu belajar mengenai kebutuhan dan gaya komunikasi yang dimiliki oleh pemilih muda.

    Parpol harus meninggalkan pemahaman yang menyamakan fungsi media sosial dengan media mainstream. Jika paradigma tersebut terus dipelihara, maka budaya politik yang tidak sehat akan terus berlangsung.

    Baca: Polri endus adanya aliran dana jaringan narkoba untuk biaya kampanye

    Masyarakat tidak akan dapat memainkan perannya sebagai kontrol terhadap wakil rakyat yang telah mereka pilih.

    Jika ini terus terjadi, menurut narasumber yang merupakan pengurus DPP PSI, konsekuensinya adalah munculnya sikap apatis dari generasi milenial dan Z terhadap politik pada kehadiran parpol.

    Hal ini karena mereka menganggap parpol hanya membutuhkan mereka ketika mendekati pemilihan saja.

    Selain itu, parpol juga harus memandang pemilih muda sebagai kelompok komunikan yang aktif dan kritis, sehingga sangat penting untuk membicarakan isu yang menyentuh langsung kebutuhan hidup mereka.

    Dengan terus melajunya perkembangan digital, sudah saatnya komunikasi politik lebih mengarah kepada dialog dua arah, bukan lagi satu arah dan hanya sebatas retorika.

    Penulis: , Peneliti Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Kaum Muda di Pemilu 2024, Yang Mewarisi Previlese dan Yang Harus Berjuang Sendiri

    Kaum Muda di Pemilu 2024, Yang Mewarisi Previlese dan Yang Harus Berjuang Sendiri

    7cloud.asia – Pada Pemilu 2024, lebih dari 50 persen pemilih, atau sekitar 114 juta dari total 204,8 juta daftar pemilih tetap, adalah kaum muda yang berusia di bawah 40 tahun.

    Ini bisa menjadi kabar baik di Pemilu 2024, karena pemilih dari kaum muda diyakini memiliki pemikiran yang lebih kritis, seperti terhadap kinerja parlemen dan dalam mengawal pembuatan undang-undang, serta memiliki banyak gagasan segar.

    Banyak pula diberitakan bahwa pemilihan anggota legislatif (Pileg) yang menjadi bagian dari Pemilu 2024 akan dipenuhi oleh calon legislatif (caleg) dari kaum muda, bahkan banyak yang baru lulus kuliah sarjana strata 1 (S1).

    Ini menjadi angin segar bagi perpolitikan Indonesia, karena menurut survei, partisipasi kaum muda yang terjun ke politik atau Pemilu 2024 sebagai caleg masih sangat minim dan minat mereka terhadap politik cenderung kecil.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak siasati politik biaya tinggi

    DPR periode 2019-2024 hanya memiliki sekitar 30 persen, dari total 575 anggota legislatif, yang berusia di bawah 40 tahun.

    Setidaknya ada 10 politikus muda DPR periode ini yang memiliki orang tua atau berasal dari keluarga yang sudah memiliki rekam jejak panjang di panggung politik Indonesia.

    Ini menunjukkan bahwa meskipun kita bisa berharap banyak pada kaum muda, di saat yang bersamaan kita mesti melihat kenyataan bahwa kaum muda yang maju dalam kontestasi politik masih didominasi oleh mereka yang memiliki akses khusus terhadap partai.

    Mereka biasanya adalah anak dari keluarga yang telah lama berkecimpung di dunia politik (dinasti politik), anak dari pimpinan partai tertentu, atau anak dari figur tokoh partai tertentu.

    Baca: Cara berbeda PDIP dan PSI perlakukan pemilih muda

    Tak ada yang salah dengan status itu. Namun, kita sebagai pemilih harus hati-hati, karena belum tentu mereka benar-benar memiliki kapabilitas dan gagasan yang solid.

    Jangan sampai kita memilih kaum muda yang hanya mendompleng status dari dinasti politik atau yang hanya akan membentuk oligarki.

     

    Lantas bagaimana dengan kaum muda non-dinasti politik? Jika kaum muda yang memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa mudah mendapatkan posisi politik strategis, lain halnya dengan kaum muda pada umumnya yang sulit, bahkan tidak, mendapatkan privilese tersebut.

    Kita masih banyak mendengar kaum muda mengeluh lantaran aspirasi mereka tidak dipenuhi. Mereka juga kerap tidak tahu harus berbuat apa untuk mengekspresikan pemikiran dan pendapat mereka.

    Baca: Jumlah pemilih di Pemilu 2024 capai 204 jutaan

    Rendahnya keterwakilan generasi muda di parlemen juga membuat aspirasi kaum muda belum mendapat cukup ruang, lalu terabaikan begitu saja.

    Penelitian mengungkap bahwa kesulitan terberat bagi generasi muda untuk terjun langsung ke politik adalah masalah finansial.

    Di Indonesia, biaya politik terlampau tinggi, mulai dari mahar politik untuk partai, biaya untuk tim pemenangan, hingga ongkos membayar saksi di tempat pemungutan suara (TPS).

    Ini membuat kaum muda–yang mayoritas masih mencoba merintis karier–sulit memenuhinya.

    Tak heran jika pada akhirnya yang mampu terjun langsung ke dalam politik aktif mayoritas adalah mereka yang memiliki banyak uang atau berasal dari dinasti politik keluarga.

    Baca: Saatnya memilih pemimpin pro lingkungan di Pemilu 2024

    Akhirnya, generasi milenial lebih memilih untuk bekerja di NGO atau melakukan kerja-kerja kewirausahaan sosial.

    Sangat disayangkan ketika kita memiliki sosok kaum muda yang berdedikasi untuk masyarakat, tetapi harus berhenti hanya karena urusan biaya politik.

    Perlu kaum muda ‘berkualitas’ dalam politik
    Survei menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih peduli dan kritis terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim serta hak asasi manusia (HAM) dan kesetaraan.

    Dalam buku Next Generation Democracy karya Jared Duval, kaum muda digambarkan dengan berbagai potensi yang dapat memberikan perubahan nyata di lingkungan.

    Mereka merupakan generasi digital dan memahami pentingnya konektivitas.

    Baca: Survei Indikator Politik ungkap Ganjar Pranowo masih unggul

    Oleh karena itu, penting untuk mendorong kaum muda dengan pemikiran berkualitas dan idealisme yang kuat untuk berpartisipasi dalam proses politik aktif.

    Namun, jika budaya politik kita masih dikuasai oleh politik warisan dan kekerabatan, sulit berharap partai dapat menghasilkan politikus muda yang kritis.

    Di tengah tantangan ini, kaum muda juga mesti memiliki strategi dan upaya untuk dapat masuk ke dalam dunia politik dan berjuang mempertahankan idealisme yang mereka miliki.

    Namun, upaya tersebut tidak akan bisa maksimal tanpa adanya dukungan khusus dari setiap partai politik. Sudah semestinya setiap partai mulai membenahi sistem kaderisasinya.

    Baca: Meluruskan sejarah Gerakan 30 September

    Rekrutmen kader muda berkualitas yang tidak berasal dari dinasti politik harus diutamakan.

    Ini akan memerlukan strategi yang matang dan komitmen jangka panjang, mulai dari membuka akses, mentorship, dan pendidikan berkelanjutan bagi kaum muda yang menaruh minat dan memiliki bakat di dunia politik.

    Pemerintah pun perlu memberikan perhatian khusus terkait bagaimana keterhubungan partai dan kaum muda, agar semuanya mendapatkan akses politik yang setara.

    Sekali lagi, persoalan kaderisasi membutuhkan komitmen yang tinggi dan butuh waktu yang panjang.

    Jika kaum muda belum mendapat perhatian lebih, kita mungkin patut curiga pada pemerintah dan partai politik, jangan-jangan mereka memang tidak mau komitmen pada masa depan bangsa yang lebih baik.

    Disarikan dari tulisan , Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, Universitas Indonesia yang telah terbit di The Conversation

  • Pemilu 2024 Sarat oleh Pemilih Muda, Apa yang Akan Terjadi?

    Pemilu 2024 Sarat oleh Pemilih Muda, Apa yang Akan Terjadi?

    7cloud.asia – Pada Juli lalu, KPU telah menetapkan 204,8 juta daftar pemilih tetap pada Pemilu 2024.

    Dari angka pemilih tetap di Pemilu 2024 itu, sekitar 114 juta diantaranya masuk sebagai pemilih muda atau berusia di bawah 40 tahun.

    Artinya nasib Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan, ditentukan oleh pemilih muda yang mendominasi pemilih di Pemilu 2024. 

    Dari jumlah itu, lebih dari 68 juta pemilih di Pemilu 2024 adalah kaum milenial yang lahir antara awal 1980-an dan pertengahan 1990-an.

    Sebanyak 46 juta sisanya adalah anggota dari apa yang disebut Generasi Z, lahir antara pertengahan 1990-an hingga dekade pertama milenium ini, sebagian dari mereka adalah pemilih pemula.

    Baca: Kaum muda di Pemilu 2024, ada yang mewarisi previlese dan yang berjuang sendiri

    Dengan angka tesebut, maka Pemilu 2024 kali ini akan menjadi pertama kalinya warga Indonesia menyaksikan lebih banyak Gen Z — kelompok demografis yang secara luas dianggap apatis secara politik — terlibat dalam pemilu.

    Kajian ini memperkirakan generasi muda Indonesia cenderung apatis terhadap perkembangan politik dan tidak se-nasionalis generasi sebelumnya.

    Pemilih muda juga tidak bisa dengan mudah didorong oleh preferensi keluarga mereka terhadap kandidat tertentu.

    Karena jumlah pemilih muda di Pemilu 2024 sangat besar, partai politik dan kandidat potensial mulai menerapkan strategi media sosial untuk menarik mereka.

    Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Nur Agustyati mengatakan, pemilih muda ini erat hubungannya dengan media sosial.

    Baca: Beda cara PSI dan PDIP dalam menangani pemilih muda

    Media sosila, ujarnya, menjadi salah satu sarana distribusi informasi mengenai pemilu hingga kampanye.

    “Namun belum ada mitigasi risiko-risiko di media sosial, seperti disinformasi dan transparansi sehingga dibutuhkan penanganan terkait penangkalan disinformasi,” kata Khoirunnisa.

    Praktik pencemaran nama baik, fitnah, berita bohong, ujaran kebencian, dan politik identitas rentan mewarnai kampanye Pemilu 2024 di media sosial.

    Pemilu 2024 kali ini akan menjadi pertama kalinya warga Indonesia menyaksikan lebih banyak Gen Z—kelompok demografis yang secara luas dianggap apatis secara politik—terlibat dalam pemilu.

    Pemilih pemula, demikian halnya pemilih lama, diimbau untuk menjadi pemilih yang cerdas oleh KPU dan Bawaslu.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak hadapi politik biaya tinggi

    Bagaimana jadi pemilih yang cerdas?, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sebagaimana dipaparkan Khoirunnisa:

    Sebelum mendatangi tempat pemilihan suara, pastikan bahwa identitas Anda terdaftar sebagai pemilih.

    Caranya, siapkan Nomor Induk Kependudukan, lalu masuk ke situs KPU, masukkan nomor NIK dalam kolom, dan status Anda akan nampak di dalamnya termasuk lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

    Jika Anda belum terdaftar, maka bisa menghubungi kantor KPU terdekat untuk pendaftaran.

    Beberapa hal yang perlu dipahami pemilih —terutama pemilih pemula— menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

    1. Visi misi partai dan kontestan pemilu
    2. Rekam jejak kontestan pemilu
    3. Hindari politik uang.

    Disarikan dari BBC Indonesia

     

     

  • Pemilu 2024: Tak Kenal Caleg yang Akan Dipilih Seperti Ini Cara Pemilih Menentukan Pilihan

    Pemilu 2024: Tak Kenal Caleg yang Akan Dipilih Seperti Ini Cara Pemilih Menentukan Pilihan

    7cloud.asia – Bianca adalah pemilih pemula. Dia baru berhak memberikan suara di Pemilu 2024 yang digelar serempak hari ini.

    Ditemui di TPS 89, Kelurahan Jelupang, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Bianca megaku bingung untuk memilih caleg yang akan dipilihnya. Alasannya, dia tidak banyak mengenal caleg yang maju di Pemilu 2024 kali ini. 

    Kepada 7cloud.asia, Bianca mengaku datang ke TPS di Pemilu 2024 hari ini, lebih untuk memberikan suaranya untuk capres/cawapres. Capres yang ia pilih adalah yang banyak dipilih oleh teman-temannya. 

    “Milih seperti yang dibilang teman-teman di sekolah,” ujar Bianca yang saat ini duduk di kelas 8 sebuah SMA swasta di Tangerang Selatan ini.

    Baca: Sehari jelang pemilihan banyak pemilih yang masih bingung

    Lain lagi cerita Suryanto, yang juga mengaku tidak banyak mengenal caleg yang maju di Pemilu 2024 kali ini.

    Ditemui di tempat yang sama, dia menilai tidak banyak partai pun caleg yang coba mengenalkan caleg dan menyosialisasikan programnya.

    “Karena tidak kenal, akhirnya milih calegnya berdasarkan asal partai mereka,” ujarnya. 

    Ia berharap, ke depan, partai dan para caleg lebih pro aktif mendatangi masyarakat dan menyosialisasikan program-program mereka. Hal ini, ujarnya, agar masyarakat tidak memilih kucing dalam karung.

    Baca: Koalisi sipil ajak pemilih tak pilih Capres pelanggar HAM

    Apa yang dialami Bianca dan Suryanto ini sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat pemilih dalam pelaksanaan Pemilu 2024 ini.     

    Dalam pantauan 7cloud.asia di dua TPS di Serpong Utara, masih banyak warga yang tidak mengenal caleg yang maju di Pemilu 2024 kali ini.

    Sebelum masuk ke ruang pencoblosan, mereka memantengi daftar caleg baik tingkat pusat, tingkat provinsi maupun kota/kabupaten serta calon anggota DPD yang dipasang di lokasi TPS.

    “Daftar itu cukup membantu,” ujar salah seorang pemilih bernama Mini yang mengaku tidak tahu jika jejak para caleg bisa ditrace di laman yang disediakan KPU.

    Baca: Form C6 tidak dibagikan warga desa di Sampang Madura mengamuk

    Dalam pantauan 7cloud.asia juga banyak anggota masyarakat yang belum bisa membedakan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan calon anggota DPRD.

    Keberadaan petugas yang menjelaskan daftar ini sangat membantu para pemilih untuk menentukan pilihan mereka.

    Seperti itulah sekelumit cerita tentang penyelenggaraan Pemilu 2024.

    Ternyata masih banyak hal yang harus dibenahi agar pesta demokrasi lima tahunan ini lebih bermakna dan berkualitas.  

     

  • Pilkada Serentak 2024: Proses Coklit Data Pemilih Sementara di Sejumlah Apartemen di Jakarta Hadapi Kendala

    Pilkada Serentak 2024: Proses Coklit Data Pemilih Sementara di Sejumlah Apartemen di Jakarta Hadapi Kendala


    7cloud.asia – Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta memaparkan kendala yang dihadapi petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) melaksanakan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih sementara di sejumlah apartemen di Jakarta.

    Petugas Pantarlih kesulitan mengakses dan menghubungi penghuni apartemen tersebut. Hingga saat ini, masih ada beberapa apartemen di Jakarta yang belum bisa diakses petugas.

    “Kami sudah menyurati Dinas Perumahan dan juga ke pengelola apartemen agar petugas dapat difasilitasi,” kata Ketua Divisi Data dan Informasi KPU DKI Jakarta Fahmi Zikrillah di Jakarta, Senin (15/7/2024).

    Untuk mengatasi hal ini, kata Fahmi, pihaknya berkoordinasi dengan sejumlah pengelola apartemen agar bisa memberikan akses dan memfasilitasi para petugas dalam menjalankan coklit DPS.

    Fahmi mengatakan bahwa proses coklit merupakan hal penting dalam pelaksanaan Pilkada, mengingat dari data itu menjadi tolok ukur KPU untuk menetapkan logistik dan persiapan pemilihan Pilkada DKI 2024 lainnya.

    Baca Juga: Kecurangan di Pemilu 2024 Berpeluang Terulang di Pilkada Serentak

    “Untuk itu, kami sudah meminta difasilitasi, agar pelaksanaan coklit dapat berjalan optimal,” katanya.

    Fahmi menambahkan, pihaknya juga berupaya mendirikan posko coklit di sejumlah apartemen.

    “Kami berkoordinasi langsung dengan badan pengelola apartemen Daan Mogot City, hasilnya kami difasilitasi untuk membuka posko layanan coklit bagi warga yang tinggal di sana,” katanya.

    Fahmi melanjutkan hingga Senin, Pantarlih telah melakukan coklit 7.867.029 (7,867 juta) daftar pemilih sementara (DPS) di Jakarta Utara, Selatan, Barat, Timur, Pusat dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

    Baca Juga: DPR: Pemecatan Hasyim Asy’ari Jadi Peringatan untuk Menjaga Etika

    Adapun total DPS pada Pilkada 2024 di Jakarta tercatat sebanyak 8,3 juta pemilih.

    “Saat ini pantarlih seluruh DKI Jakarta sudah melakukan coklit sebanyak 95,18 persen dari target,” katanya.

    Kendala pelaksanaan coklit DPS Pilkada antara lain terjadi di kawasan Kembangan hingga Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

    “Kemarin ada beberapa kendala seperti di apartemen, ketika petugas kita melakukan coklit sulit ketemu penghuni sehingga kita lakukan pendekatan dengan pengelola agar disambungkan,” kata Ketua KPU Jakarta Barat, Cucum Sumardi, Senin.

    Baca Juga: Sidang Sengketa Pilpres 2024: Pelanggaran Etika Presiden Jokowi dan KPU di Pemilu 2024 Dipaparkan Secara Terbuka

    Namun demikian, lanjutnya, petugas coklit akhirnya berhasil melakukan pendataan daftar peserta pemilu di lingkungan tersebut.

    Tidak hanya di lingkungan permukiman warga, pihaknya juga melakukan proses yang sama di panti sosial di Jakarta Barat.

    Rangkaian proses Coklit itu dilakukan oleh 7.168 petugas di seluruh tempat pemungutan suara (TPS) Jakarta Barat. Tercatat ada 1.916.936 jumlah pemilih sementara di Jakarta Barat.

    Jumlah tersebut sudah mencapai 100 persen dari seluruh nama yang telah terdaftar di KPU Jakarta Barat.

    Sumber:Antaranews.com