Tag: pemilih muda

  • Dominasi Jumlah Pemilih di Pemilu 2024, Pemilih Muda Diajak Gunakan Hak Pilihnya

    Dominasi Jumlah Pemilih di Pemilu 2024, Pemilih Muda Diajak Gunakan Hak Pilihnya

    7cloud.asia – Generasi muda atau pemilih muda akan mendominasi jumlah pemilih pada Pemilu 2024.

    Dari jumlah pemilih sementara di Pemilu 2024 yang mencapai 205 juta orang, sekitar 107 juta di antaranya adalah pemilih muda.

    Ini artinya 53-55 persen dari total jumlah pemilih di Pemilu 2024 merupakan pemilih muda atau mereka yang lahir pada 1981 hingga 2012.

    Untuk itu partisipasi pemilih muda di Pemilu 2024 sangat menentukan sukses tidaknya gelaran lima tahunan ini. 

    Baca: Pro kontra sistem proporsional terbuka di Pemilu 2024

    Anggota KPU Mochammad Afifuddin mengajak para pemilih muda ini untuk aktif menggunakan hak pilihnya. 

    “Pokoknya nanti tanggal 14 Februari itu, hari apa ya biasanya, Hari Kasih Sayang, nah kali ini juga Hari Kasih Suara,” kata  di Gerakan Cerdas Memilih di Auditorium Abdulrachman Saleh, Gedung RRI, Rabu (31/5/2023).

    Acara sosialisasi Pemilu 2024 yang dinisiasi Radio Republik Indonesia (RRI) ini disaksikan secara langsung oleh perwakilan siswa/i dari sejumlah sekolah di Jakarta.

    Baca: Kinerja menteri yang maju sebagai caleg dan capres akan dievaluasi

    Meski di Indonesia memilih merupakan hak dan bukan sebuah kewajiban, namun KPU tetap berkepentingan untuk mendorong masyarakat yang telah mempunyai hak pilih untuk menggunakannya di hari pemungutan suara nanti.

    KPU, menurut Afif, juga berharap pemilih kritis dengan peserta pemilu yang ada, mencermati partai politik maupun calon-calon yang diusung di Pemilu 2024 nanti.

    “Ada 18 partai politik sekarang boleh dilihat-lihat partainya apa saja, yang tertarik ke partai ini itu silakan. Kemudian ada 6 partai lokal di Aceh, nah ini yang menjadi pilihan kita kalau nanti, calonnya siapa dan seterusnya itu bisa dibaca-baca, bisa dicek calon-calon itu,” kata Afif.

    Baca: Polri endus aliran dana dari jaringan narkoba di Pemilu 2024

    Terakhir Afif berpesan agar bersama mewujudkan pemilu yang damai dan menyatukan. Sebagaimana tagline KPU saat ini, pemilu sebagai sarana integrarsi bangsa.

    “Jadi tidak boleh memecah belah, seakan-akan kita mau perang. Ini musyawarah bersama, cara kita memilih wakil rakyat, memilih presiden dengan cara menggunakan hak pilih di TPS,” tutup Afif.

    Sumber: kpu.go.id

  • Ganjar Pranowo Berharap Cawapres yang Mendampingi Dirinya Berjiwa Muda

    Ganjar Pranowo Berharap Cawapres yang Mendampingi Dirinya Berjiwa Muda

  • Seperti Apa Suara Pemilih Muda di Pemilu 2024 Nanti?

    Seperti Apa Suara Pemilih Muda di Pemilu 2024 Nanti?

    7cloud.asia – Pemilih muda akan memegang porsi terbesar di Pemilu 2024 yang akan digelar pada 14 Februari mendatang.
     
    Menurut catatan KPU, jumlah pemilih muda mencapai 110 juta pemilih atau hampir 60 persen dari total jumlah 207 juta pemilih di Pemilu 2024 
     
     
    Untuk itu peran pemilih muda sangat besar demi suksesnya pelaksanaan Pemilu 2024, yang untuk pertama kalinya akan melakukan pemilihan serentak untuk memilih presiden, DPD, DPR dan DPRD.
     
     
     
    Lantas, bagaimana pemilih muda memandang Pemilu 2024 dan apa ukuran-ukuran yang mereka gunakan dalam menentukan pilihan.
     
    Peneliti muda dari Fisip Universitas Brawijaya Malang, Rena Anisah (24) mengatakan keterlibatan pemilih muda dalam tahun politik ini akan memberikan dampak besar bagi konsolidasi agenda politik di pemilu 2024.
     

    Pemilih muda punya peran dalam Pemilu 2024, dan lebih jauh anak muda perlu dilibatkan untuk memutuskan siapa calon presiden harapan mereka.
     
    “Saya rasa sudah banyak anak muda yang memikirkan untuk mengawal, mengamati tentang refleksi kebijakan dari janji kampanye dan jejak para kandidat,” ujarnya kepada 7cloud.asia pada Minggu (18/6/2023) melalui sambungan telepon. 
     
     
    Rena menambahkan, pemilih muda tentu punya pertimbangan tersendiri dalam menentukan pilihannya. 
     
    Ukuran tersebut tak hanya berangkat dari visi misi partai dan kandidat yang diusung, tetapi juga pelaksanaan program yang dilakukan dalam lima tahun terakhir.
     
    “Karena masih banyak yang tidak integratif dan sustanabale. presidennya bagus tetapi menteri tidak bisa menerjemahkan dan mengejewantahkan program kerjanya sama saja zonk hasilnya” katanya.
     
     
    Persfektif berbeda dilontarkan oleh Failosof seorang mahasiswa di perguruan tinggi di Kota Serang, Banten.
     
    Menurutnya, sebesar apapun keterlibatan anak muda, selagi partai politik masih dikuasai kelompok borjuis seperti sekarang, maka tidak akan banyak berdampak.
     
    “Kepentingannya akan balik lagi ke kepentingan borjuasi itu sendiri, jadi tidak ada calon presiden yang merepresentasikan suara pemilih muda, karena sistemnya sudah dikooptasi kepentingan borjuasi,” ujarnya.
     
     
    Failosof menambahkan, sekalipun anak muda terpilih menjadi anggota legislatif atau eksekutif, akan sulit baginya melakukan perubahan sesuai yang dia inginkan.
     
    “Peluang terbesarnya adalah harus punya partai yang tidak terikat pada borjuasi, kepentingannya buat mayoritas masyarakat indonesia” ujarnya.
     
    Failosof mengatakan, selama sistemnya tidak berubah dan partai politik hanya mengakomodir kepentingan pengusaha maka akan banyak anak muda yang memilih goput alias tidak memilih. 
     
    “Kita tidak bisa berharap banyak, jika para politisi masih bersikap sebagai borjuis,” tandasnya.

     
     

     

     

     
  • Suara Pemilih Muda: Jangan Ada Otoritarian Baru dan Jangan Banyak Gimmick

    Suara Pemilih Muda: Jangan Ada Otoritarian Baru dan Jangan Banyak Gimmick

    7cloud.asia – Mayoritas atau sekitar 54 persen pemilih di Pemilu 2024 adalah pemilih muda. Jadi berbagai cara dilakukan partai untuk menarik pemilih muda.

    Lantas apa yang manjadi fokus utama para pemilih muda? Dalam jajak pendapat yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2022, isu kesejahteraan masyarakat (44,4%) sebagai isu strategis yang menarik minat pemilih muda dalam Pemilu 2024.

    Dalam survei terhadap 1.200 responden berusia 17-39 tahun di 34 provinsi ini, lapangan kerja menempati posisi kedua (21,3%).

    Disusul kemudian dengan isu pemberantasan korupsi (15.9%), demokrasi dan kebebasan sipil (8,8%), kesehatan (6,2%) dan lingkungan hidup (2,3%) menyusul setelahnya.

    Sementara dalam survei online yang dilakukan Populix pada Agustus-September 2023 terhadap 1.000 responden berusia 17-39 tahun serta 16 focus group discussion online kecil yang melibatkan responden muda dari berbagai latar belakang, isu lapangan kerja berada di peringkat ketiga (68%) di belakang korupsi (76%) dan kemiskinan (73%) sebagai isu sosial-ekonomi yang harus ditangani presiden terpilih.

    Baca: Reaksi pemilih muda terhadap gimmick politik

    Isu Penting di Mata Pemilih Muda

    Shulhan Rumaru, 34 tahun, alumnus sekolah pascasarjana George Washington University jurusan manajemen komunikasi yang berasal dari Ambon, Maluku, menilai persoalan sesungguhnya dari isu ketenagakerjaan bukanlah jumlah lapangan kerja yang tersedia, melainkan distribusi pekerjaan itu sendiri.

    “Ketika lapangan kerja itu berpusat di ibu kota atau berpusat di Jawa, misalkan, itu kan tidak merata, karena teman-teman di luar pulau Jawa juga akan mengalami kesulitan untuk mendapat pekerjaan,” ujarnya saat berbincang dengan VOA Indonesia melalui Zoom (31/1).

    Saat ditanya apakah ia memiliki keprihatinan tersendiri yang diharapkan bisa menjadi fokus presiden baru nanti, ia menjawab, “konsolidasi demokrasi.”

    Shulhan, yang menjadi peneliti muda di The Political Literacy Institute di Jakarta, menyoroti karut marut proses pencapresan yang dinilai “mengobok-obok” Mahkamah Konstitusi, serta berbagai isu tidak substantif yang membanjiri perdebatan publik.

    “Jangan sampai nanti ke depan ada penggembosan demokrasi lagi, sehingga ada pelanggaran-pelanggaran yang mungkin tidak hanya etik, tapi lebih dari itu, menggembosi demokrasi itu sendiri,” kata Shulhan. “Jangan sampai ada ruang yang dibuka untuk terjadinya otoritarianisme baru.”

    Baca: Benarkah pencalonan Gibran demi kepentingan negara

    Sementara itu, bagi Ambika Putri, 29 tahun, mahasiswi S2 jurusan rancangan dan teknologi pembelajaran di Universitas Georgetown yang asli Sidoarjo, Jawa Timur, penegakan hukum merupakan isu paling penting yang harus diperhatikan presiden berikutnya.

    Kalau kita punya fondasi hukum yang jelas, ujarnya, tidak akan ada yang namanya persepsi, asumsi.

    “Karena selama ini (orang) selalu memandang kayak ‘oh ini udah biasa sih,’ akhirnya korupsi dan lain-lain itu kayak ‘ya udah sih, memang (akan) dihukum kayak apa,’” ungkap Ambika kepada VOA (31/1).

    “Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa untuk menghormati apa yang mereka lakukan, karena mereka merasa kalau ‘toh (hukum) ini sudah tidak berfungsi,” tambahnya.

    Sedangkan bagi Pinandito Wisambudi, 28 tahun, mahasiswa S2 jurusan kebijakan energi dan iklim di Universitas Johns Hopkins yang berasal dari Depok, Jawa Barat, transisi energi adalah isu prioritas.

    Baca: Survei Populix ungkap 80persen anak muda ingin pemerintah serius tangani isu lingkungan

    Pada kesempatan yang sama, ia mengaku kecewa pada para cawapres yang dianggapnya gagal menyampaikan pesan penting isu tersebut dalam debat cawapres kedua 21 Januari lalu.

    “Saya agak menyayangkan, karena pesan yang tersampaikan itu lebih ke gimik-gimiknya para cawapres dibanding pesan transisi energinya, atau bagaimana mereka akan mencapai transisi energi nanti untuk Indonesia,” urai Tossy, sapaan akrab Pinandito, yang kini menjabat presiden Persatuan Mahasiswa Indonesia Seluruh AS (Permias) DC.

    “Ini masalahnya nanti untuk keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah negara, karena kita salah satu negara yang terdampak perubahan iklim yang cukup besar.”

    Lain lagi dengan Nila Febrianti, 24 tahun, mahasiswi S2 Manajemen Komunikasi di George Washington University asli Baubau, Sulawesi Tenggara.

    Nila menggarisbawahi masalah ketimpangan akses pendidikan dan akses informasi – isu yang sangat dekat dengannya.

    Ia mengatakan, kualitas dari segi pendidikan, kemudian kebijakan publik yang ada di sana, itu masih belum terlaksana dengan baik.

     

    Baca: Keadilan iklim luput dari bahasan di debat capres

    “Implementasinya tidak seperti di daerah Pulau Jawa, karena aku ‘kan kuliah S1 di Jawa, tapi asal aku dari Kota Baubau. Aku mengalami ketimpangan itu yang sangat nyata, apalagi dibandingkan dengan di sini setelah aku pindah ke DC.”

    Ia hanya berharap program kerja presiden terpilih nantinya bisa diterapkan merata sampai ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

    Sumber: VOA Indonesia