Seperti Apa Suara Pemilih Muda di Pemilu 2024 Nanti?

Written by

in

7cloud.asia – Pemilih muda akan memegang porsi terbesar di Pemilu 2024 yang akan digelar pada 14 Februari mendatang.
 
Menurut catatan KPU, jumlah pemilih muda mencapai 110 juta pemilih atau hampir 60 persen dari total jumlah 207 juta pemilih di Pemilu 2024 
 
 
Untuk itu peran pemilih muda sangat besar demi suksesnya pelaksanaan Pemilu 2024, yang untuk pertama kalinya akan melakukan pemilihan serentak untuk memilih presiden, DPD, DPR dan DPRD.
 
 
 
Lantas, bagaimana pemilih muda memandang Pemilu 2024 dan apa ukuran-ukuran yang mereka gunakan dalam menentukan pilihan.
 
Peneliti muda dari Fisip Universitas Brawijaya Malang, Rena Anisah (24) mengatakan keterlibatan pemilih muda dalam tahun politik ini akan memberikan dampak besar bagi konsolidasi agenda politik di pemilu 2024.
 

Pemilih muda punya peran dalam Pemilu 2024, dan lebih jauh anak muda perlu dilibatkan untuk memutuskan siapa calon presiden harapan mereka.
 
“Saya rasa sudah banyak anak muda yang memikirkan untuk mengawal, mengamati tentang refleksi kebijakan dari janji kampanye dan jejak para kandidat,” ujarnya kepada 7cloud.asia pada Minggu (18/6/2023) melalui sambungan telepon. 
 
 
Rena menambahkan, pemilih muda tentu punya pertimbangan tersendiri dalam menentukan pilihannya. 
 
Ukuran tersebut tak hanya berangkat dari visi misi partai dan kandidat yang diusung, tetapi juga pelaksanaan program yang dilakukan dalam lima tahun terakhir.
 
“Karena masih banyak yang tidak integratif dan sustanabale. presidennya bagus tetapi menteri tidak bisa menerjemahkan dan mengejewantahkan program kerjanya sama saja zonk hasilnya” katanya.
 
 
Persfektif berbeda dilontarkan oleh Failosof seorang mahasiswa di perguruan tinggi di Kota Serang, Banten.
 
Menurutnya, sebesar apapun keterlibatan anak muda, selagi partai politik masih dikuasai kelompok borjuis seperti sekarang, maka tidak akan banyak berdampak.
 
“Kepentingannya akan balik lagi ke kepentingan borjuasi itu sendiri, jadi tidak ada calon presiden yang merepresentasikan suara pemilih muda, karena sistemnya sudah dikooptasi kepentingan borjuasi,” ujarnya.
 
 
Failosof menambahkan, sekalipun anak muda terpilih menjadi anggota legislatif atau eksekutif, akan sulit baginya melakukan perubahan sesuai yang dia inginkan.
 
“Peluang terbesarnya adalah harus punya partai yang tidak terikat pada borjuasi, kepentingannya buat mayoritas masyarakat indonesia” ujarnya.
 
Failosof mengatakan, selama sistemnya tidak berubah dan partai politik hanya mengakomodir kepentingan pengusaha maka akan banyak anak muda yang memilih goput alias tidak memilih. 
 
“Kita tidak bisa berharap banyak, jika para politisi masih bersikap sebagai borjuis,” tandasnya.

 
 

 

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *