Tag: Perjanjian Plastik Global

  • Perjalanan Panjang Menuju Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    Perjalanan Panjang Menuju Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – PBB memperkirakan lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik telah mengotori lautan dunia. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan

    Diperkirakan 99 persen spesies laut akan mengonsumsi mikroplastik pada tahun 2050 jika tidak ada tindakan nyata yang dilakukan untuk memperlambat polusi plastik.

    Menyadari kebutuhan mendesak akan tindakan terkoordinasi untuk mengatasi sampah plastik secara global, PBB telah memulai upaya untuk mengembangkan Perjanjian Plastik Global.

    Perjanjian Plastik Global ini bertujuan untuk menetapkan komitmen yang mengikat secara hukum antar negara untuk mengurangi produksi plastik, meningkatkan upaya daur ulang, dan mempromosikan alternatif yang berkelanjutan.

    Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres menyoroti bahwa “sampah plastik kini ditemukan di wilayah paling terpencil di planet Bumi sehingga membunuh kehidupan laut dan berdampak buruk pada masyarakat yang bergantung pada perikanan dan pariwisata.”

    Inisiatif sukarela perusahaan terbukti tidak cukup sebagai solusi global untuk mengatasi masalah plastik global. Tanpa aturan yang lebih kuat dan peraturan yang harmonis di seluruh siklus hidup plastik, perubahan nyata kecil kemungkinan terjadi.

    Pada awal tahun 2022, Majelis Lingkungan Hidup PBB mengadopsi Resolusi 5/14, menyetujui untuk mengadopsi perjanjian plastik global yang mengikat secara hukum pada akhir tahun 2024.

    Sejak itu, empat sesi Komite Perundingan Antarpemerintah (INC) telah diadakan, dengan sesi terbaru – INC-4 – berakhir pada tanggal 29 April 2024.

    Baca: INC 5 gagal batasi produksi plastik global dan dampaknya pada lingkungan

    Meskipun ada kemajuan yang dicapai dalam mengidentifikasi produk-produk penting dan bahan kimia yang menjadi perhatian, pembicaraan tersebut tidak cukup mengatasi kebutuhan untuk mengurangi produksi plastik primer.

    Pengaruh pelobi industri telah menjadi hambatan besar dalam negosiasi. Pada INC-4 di Ottawa, Kanada, hampir 200 pelobi bahan bakar fosil hadir, meningkat sebesar 37 persen dari INC sebelumnya.

    Hal ini meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi kepentingan korporasi yang dapat melemahkan efektivitas perjanjian tersebut.

    Pada hari terakhir INC-4, 28 negara, termasuk Australia, Nigeria, dan Filipina, meluncurkan “Jembatan ke Busan: Deklarasi Polimer Plastik Primer.” Deklarasi ini menekankan bahwa perjanjian global yang berfokus pada polusi plastik harus mengatasi masalah produksi.

    Namun, masih ada skeptisisme mengenai kelayakan untuk mencapai perjanjian yang dapat ditandatangani pada akhir tahun 2024, mengingat kompleksitas negosiasi.

    Aspek penting lainnya yang tampaknya kurang dalam diskusi perjanjian plastik global adalah akuntabilitas perusahaan pencemar atas limbah yang mereka hasilkan.

    Studi mengenai polusi plastik bermerek menunjukkan bahwa sekitar 60 perusahaan bertanggung jawab atas lebih dari separuh polusi plastik dunia.

    Selama enam tahun berturut-turut, Coca-Cola telah diakui sebagai pencemar terbesar dalam inisiatif Audit Merek global, dengan mencetak rekor baru dengan total 33.820 lembar sampah plastik—jumlah tertinggi sejak proyek ini dimulai.

    Baca: Perbedaan Pendapat Tajam Soal Penanganan Plastik Sekali Pakai

    Selain mewajibkan perusahaan mengurangi produksi plastik, penting juga untuk memastikan bahwa perusahaan yang menghasilkan polusi bertanggung jawab mendanai pembersihan limbah yang mereka timbulkan.

    Sungai, samudera, dan lautan di dunia telah menjadi jalur transportasi dan tempat pembuangan sampah plastik yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.

    Polusi ini menimbulkan biaya besar, termasuk upaya restorasi, hilangnya pendapatan dari pariwisata, dan dampak sosial akibat degradasi lingkungan.

    Kebutuhan akan Perjanjian Plastik Global menjadi lebih mendesak dari sebelumnya. Ketika polusi plastik meningkat, kerja sama internasional sangat penting untuk menciptakan solusi yang dapat ditegakkan.

    Dengan membuat perjanjian yang menekankan akuntabilitas dan inovasi, dunia dapat memerangi polusi plastik dan mendorong ekonomi sirkular yang meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya.

    Kesepakatan ini harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan –pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil– yang bekerja sama untuk mengembangkan dan menerapkan strategi komprehensif yang mengatasi seluruh siklus hidup plastik.

    Hanya melalui tindakan kolektif kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi planet yang sehat, bebas dari beban polusi plastik.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Gauri Sharma, Design and Production Intern di Earth.org

  • Tiga Isu yang Menghambat Perjanjian Plastik Global

    Tiga Isu yang Menghambat Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – Pertemuan komite negosiasi antarpemerintah (INC) untuk perjanjian plastik global telah berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada 25 November – 1 Desember 2024.

    Sayangnya, negosiasi untuk memfinalkan draf perjanjian plastik global kembali gagal mencapai kesepakatan. Rencananya, pertemuan serupa akan kembali dihelat tahun depan—meski waktu pastinya belum jelas.

    Perjanjian plastik global adalah mandat dari United Nations Environment Assembly (UNEA) kelima yang diadakan di Nairobi, Kenya, pada 2022.

    Jika berhasil disahkan, perjanjian plastik global akan menjadi kesepakatan pertama di dunia yang mengatur daur hidup plastik secara menyeluruh, mulai dari hulu (produksi) hingga ke hilir (pengelolaan sampah).

    Kegagalan ini amat disayangkan. Sebab, dunia membutuhkan solusi mendesak untuk mengatasi persoalan plastik.

    Plastik sudah kedapatan mencemari berbagai ekosistem, mulai dari darat, laut, udara, hingga darah manusia lalu menurun ke janin. Produksi dan konsumsi plastik saat ini semakin tidak terkontrol.

    Adapun draf perjanjian plastik terakhir setebal 70 halaman ini memiliki 3 ribu brackets (istilah untuk teks dalam kurung yang belum disetujui oleh para negara-negara peserta), hasil pembahasan terakhir pada April 2024.

    Draf yang ‘membengkak’ ini memperlihatkan adanya perbedaan pendapat yang cukup signifikan terutama dalam tiga topik kontroversial.

    1. Pembatasan produksi
    Isu pertama terkait dengan draf Pasal 6 mengenai pasokan yang mengatur tentang pembatasan produksi (production cap) plastik global.

    Upaya pembatasan produksi ini didukung oleh 90 negara yang tergabung ke dalam High Ambition Coalition (HAC)—mencakup negara-negara Afrika, Amerika Latin dan Karibia, serta Uni Eropa.

    Sementara itu, beberapa negara produsen minyak yang tergabung ke dalam Like-minded Countries seperti Arab Saudi, Iran, dan Rusia, menolak pembatasan produksi. Pasalnya, pembatasan akan memengaruhi permintaan minyak bumi (bahan baku utama plastik) mereka.

    Negara-negara produsen minyak ini justru berupaya membatasi cakupan perjanjian plastik hanya kepada aspek manajemen sampah sebagai biang keladi polusi plastik. Mereka enggan menyentuh aspek suplai dan produksi plastik itu sendiri.

    2. Penghapusan produk bermasalah
    Isu kedua yang cukup menimbulkan perdebatan adalah mengenai penghapusan produk-produk plastik dan bahan kimia bermasalah.

    Banyak jenis bahan kimia dalam plastik, seperti bisfenol A (BPA), terbukti mencemari ekosistem perairan dan meningkatkan risiko kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes.

    Pembahasan perjanjian ini menjadi alot karena sangat terkait dengan isu pembatasan produksi plastik. Inilah mengapa banyak negara-negara koalisi Like-Minded Countries berkeberatan dengan masuknya topik ini dalam draf.

    3. Pendanaan
    Isu ketiga yang menjadi perdebatan sengit adalah mekanisme dan distribusi finansial untuk melaksanakan perjanjian plastik.

    Negara-negara Selatan (Global South) yang memiliki anggaran terbatas menuntut adanya mekanisme bantuan keuangan, pengembangan kapasitas, bantuan teknis, dan transfer teknologi kepada negara-negara maju (Global North) dan organisasi multilateral.

    Tuntutan ini juga tak lepas dari temuan bahwa negara-negara maju menjadi biang keladi lonjakan pencemaran plastik di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Namun, sebagian negara maju menolak apabila kewajiban finansial lebih memberatkan mereka. Padahal, negara seperti Amerika Serikat merupakan salah satu penghasil plastik terbanyak di dunia.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Fajar Ajie Setiawan (Dosen Hubungan Internasional, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)/ Departmental Research Fellow, Kobe University, Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama)

  • Sikap dan Posisi Indonesia dalam Mewujudkan Perjanjian Plastik Global

    Sikap dan Posisi Indonesia dalam Mewujudkan Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – Pertemuan komite negosiasi antarpemerintah (INC) untuk perjanjian plastik global telah berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada 25 November – 1 Desember 2024.

    Sayangnya, negosiasi untuk memfinalkan draf perjanjian plastik global ini kembali gagal mencapai kesepakatan. Rencananya, pertemuan serupa akan kembali dihelat tahun depan—meski waktu pastinya belum jelas.

    Negosiasi perjanjian plastik global dapat menjadi momentum Indonesia untuk menguji kepemimpinan globalnya, khususnya di bidang diplomasi lingkungan.

    Pasalnya, Indonesia sebagai salah satu kontributor sampah plastik laut terbesar di dunia, sekaligus pengonsumsi mikroplastik terbesar di dunia.

    Situasi tersebut seharusnya mendorong Indonesia untuk berpartisipasi secara progresif di INC, khususnya dalam mendorong isu-isu kesehatan dan perlindungan lingkungan.

    Sayangnya, diplomasi delegasi Indonesia pada INC-5 justru seakan ‘masuk angin’ alih-alih menjadi pemimpin dari upaya menegosiasikan perjanjian plastik global yang lebih komprehensif.

    Baca: UNEP dorong terwujudnya Perjanjian Plastik Global

    Indonesia datang ke Busan dengan membawa delegasi yang cukup banyak. Berdasarkan dokumen yang disebarluaskan oleh Sekretariat INC (tidak dipublikasikan), ada 50 orang yang tergabung ke dalam delegasi ini. Kebanyakan berasal dari perwakilan pemerintah.

    Sisanya berasal dari kalangan akademis. Tidak ada satupun perwakilan dari sektor kesehatan, baik dari pemerintah maupun non-pemerintah.

    Indonesia memang mendukung tujuan perjanjian plastik untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Sayangnya, posisi Indonesia di beberapa draf pasal lain justru kontradiktif dengan tujuan tersebut.

    Berdasarkan pengamatan saya dalam negosiasi di Busan, juga dokumen-dokumen delegasi pemerintah yang saya terima, Indonesia kurang mendukung aturan yang ketat dalam perjanjian plastik global ini.

    Dalam draf Pasal 6, misalnya, Indonesia merasa keberatan dengan pembatasan produksi plastik dengan alasan konsumsi plastik per kapitanya masih di bawah rata-rata global.

    Selain itu, Indonesia juga mendukung penghapusan judul draf Pasal 7 dari semula “Emission and Releases” menjadi “Releases and Leakages” yang diusulkan Like-minded Countries.

    Baca: Jalan panjang menuju terwujudnya Perjanjian Plastik Global

    Artinya, melalui sikap ini, Indonesia mendukung perjanjian plastik yang mengecualikan emisi dari seluruh siklus daur hidup plastik.

    Sikap ini menimbullkan pertanyaan. Sebab, emisi merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari industri plastik karena terbuat dari bahan bakar fosil. Pemisahan dua hal ini berisiko memperpanjang umur penyedotan minyak dan gas yang memperparah perubahan iklim.

    Kompromi di tengah urgensi?
    Sengitnya negosiasi dalam perjanjian plastik seharusnya menjadi pelajaran bagi lebih dari 190 negara peserta untuk berkompromi agar konsensus dapat tercapai.

    Dunia dapat belajar dari kesuksesan Montreal Protocol 1987 sebagai salah satu perjanjian internasional yang sukses menahan laju penipisan ozon di atmosfer.

    Kesuksesan ini tak lepas dari sifatnya sebagai instrumen internasional dengan implementasi kontrolnya yang sangat fleksibel. Ini membuat Montreal Protocol mengalami beberapa kali penyesuaian target sesuai kesepakatan dan perkembangan sains terbaru saat itu.

    Untuk mencapai hal serupa, Sekretariat INC dapat menjembatani kedua kubu ini dengan mengadakan beberapa pertemuan negosiasi informal sebelum konferensi akbar pada 2025.

    Langkah ini bertujuan untuk menumbuhkan dan menjamin komitmen semua kubu—terutama negara-negara penolak dan pendukung pembatasan produksi plastik.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Fajar Ajie Setiawan (Dosen Hubungan Internasional, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)/ Departmental Research Fellow, Kobe University, Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama)

  • Penyebab Perundingan Perjanjian Plastik Global Berakhir Tanpa Kesepakatan

    Penyebab Perundingan Perjanjian Plastik Global Berakhir Tanpa Kesepakatan

    7cloud.asia – Upaya negosiasi terakhir mengenai perjanjian plastik global atau global plastic treaty di bawah naungan PBB, yang berlangsung di Jenewa Swiss berakhir tanpa kesepakatan.

    Setelah lebih dari tiga tahun pembahasan, perbedaan pandangan mendasar tentang penanganan polusi plastik masih belum terjembatani. Bagi banyak negara, aktivis, dan organisasi pengamat, hasil ini sangat mengecewakan.

    Setelah pertemuan terakhir yang berlangsung hingga larut malam di Jenewa, Swiss, ketua komite antarpemerintah (INC) yang memimpin perundingan secara resmi menutup sidang pada Jumat (15/8/2025) tanpa perjanjian plastik global yang disepakati.

    Ini tentu bukanlah akhir segalanya. Perundingan tentang penanganan polusi plastik global belum runtuh. Namun, belum ada tanggal maupun tempat yang pasti untuk putaran perundingan selanjutnya. Pun, tidak ada mandat untuk kegiatan resmi di masa jeda.

    Banyak delegasi menyerukan masa refleksi, bahkan “reset” proses, agar dapat memulai kembali dengan pendekatan yang lebih segar mengenai perjanjian plastik global.

    Seperti dalam putaran sebelumnya, perundingan perjanjian plastik global di Jenewa berjalan lambat.

    Diskusi terhambat oleh persoalan ambiguitas prosedur, taktik penghambatan yang disengaja dari negara-negara penghasil bahan bakar fosil dan petrokimia yang menolak perjanjian ambisius, serta kompleksitas isu yang dibahas.

    Ujungnya, waktu habis sebelum tercapai konsensus. Saat perundingan ditutup, ada tiga hal utama yang tampak memperpanjang kebuntuan ini:

    Baca: Perundingan Plastik Jenewa gagal hasilkan Perjanjian Plastik Global

     

    1. Upaya ketua belum memadai
    Duta Besar Republik Ekuador untuk Kerajaan Inggris, Luis Vayas Valdivieso selaku ketua perundingan, memang mengambil peran lebih aktif dibanding sesi sebelumnya.

    Ia mempercepat ritme diskusi dan menyusun dua draf teks perjanjian untuk menjadi fokus debat.

    Draf pertama menghilangkan sejumlah poin penting, termasuk pembatasan produksi plastik, aturan global tentang regulasi produk plastik, kontrol bahan kimia berbahaya, serta mekanisme pendanaan yang kuat.

    Negara-negara berambisi tinggi yang mendorong langkah tegas menolak draf pertama tersebut karena dianggap tidak seimbang, tidak ambisius, dan tidak layak dijadikan dasar diskusi lebih lanjut.

    Draf kedua yang dirilis menjelang pukul 1 dini hari di malam terakhir setelah konsultasi intensif memang menambahkan beberapa perbaikan, tetapi masih mengabaikan elemen-elemen inti tersebut.

    Namun, banyak negara yang menilai teks itu berat sebelah, lebih condong berpihak pada keinginan negara produsen minyak.

    Baca: Perundingan Plastik Jenewa sempat diperpanjang

    2. Tak bisa berkompromi
    Sepanjang negosiasi, negara-negara dengan ambisi rendah hampir tidak memberikan kelonggaran. Mereka menolak berkompromi dengan “garis merah” mereka, tapi mengharapkan pihak lain untuk mengalah.

    Hal ini kembali mengulang perdebatan lama mengenai tujuan dan lingkup perjanjian, meski keduanya sudah menjadi mandat PBB sejak tiga tahun lalu.

    Banyak pihak menilai dibutuhkan pendekatan berbeda dengan memberi lebih banyak waktu membahas isu-isu yang diperdebatkan, menguji argumen yang berlawanan secara ketat, serta aktif mencari titik kompromi.

    3. Enggan mengambil opsi ‘voting’
    Proses perundingan masih bergantung pada konsensus. Dalam sidang pleno terakhir, banyak delegasi—terutama yang memiliki kepentingan ekonomi pada plastik—menekankan bahwa konsensus adalah hal penting.

    Namun dalam tiga tahun terakhir, beberapa delegasi sudah mendorong agar ketua memanfaatkan opsi voting untuk memecah kebuntuan—mekanisme resmi dalam negosiasi PBB ketika konsensus gagal dicapai.

    Voting dianggap langkah politis yang berisiko tinggi, dengan implikasi serius bagi hubungan antarnegara.

    Hingga perundingan plastik global ditutup, ketua menolak melakukannya, dan negara-negara berambisi tinggi pun tidak mendorong opsi ini, meski mereka sering menekankan urgensi dan ambisi.

    Di luar penolakan terhadap teks yang dianggap lemah, mereka jarang memanfaatkan instrumen prosedural yang tersedia untuk mendorong hasil lebih kuat. Akibatnya, kebuntuan tetap berulang.

    Baca: 80 Negara dukung draft perjanjian plastik global yang ambisius

    Jalan ke depan
    Masa jeda antarsesi—periode antara sekarang hingga pertemuan resmi berikutnya—sangat krusial. Tanpa tanggal pasti untuk tahap selanjutnya, inilah waktunya reset dan menyiapkan langkah konkret menuju kemajuan.

    Fokus utama haruslah menjembatani perbedaan sikap politik. Negara-negara berambisi tinggi perlu membangun aliansi lebih luas, mencari titik temu dengan pihak yang mungkin tidak sepenuhnya sejalan, tetapi terbuka pada tindakan lebih tegas.

    Detail penting seperti mekanisme pendanaan, sistem pemantauan dan pelaporan, serta model hukum untuk kepatuhan sebaiknya dikembangkan sejak sekarang, di luar forum resmi, agar dapat menghemat waktu kelak.

    Negara-negara ambisi tinggi—seperti Uni Eropa, Panama, Kolombia, Australia, Inggris, dan negara-negara pulau kecil—juga harus mempererat koordinasi dan berani menggunakan instrumen prosedural seperti voting bila diperlukan, meskipun secara politik terasa tidak nyaman.

    Tujuan yang ditetapkan PBB pada 2022 untuk mengakhiri polusi plastik di seluruh siklus hidupnya masih mungkin dicapai.

    Namun, hal ini menuntut pemerintah untuk memanfaatkan bulan-bulan mendatang untuk melakukan konsolidasi, berdiskusi politik secara jujur, dan berkomitmen pada langkah yang lebih tegas saat bertemu kembali.

    Dunia tidak bisa lagi kehilangan satu putaran perundingan hanya karena kebuntuan prosedural. Krisis plastik semakin parah. Sains sudah jelas.

    Solusi sudah diketahui. Hal yang hilang bukanlah pengetahuan, melainkan kemauan politik untuk mengubah kata-kata menjadi tindakan yang mengikat.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis:
    Steve Fletcher (Professor of Ocean Policy and Economy, University of Portsmouth) dan Antaya March (Director – Global Plastics Policy Centre, University of Portsmouth)

  • Julio Cordano dari Chili Dipercaya Memimpin Inc-5.3: Akankah Melahirkan Perjanjian Plastik Global

    Julio Cordano dari Chili Dipercaya Memimpin Inc-5.3: Akankah Melahirkan Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – Komite Negosiasi Antarpemerintah (The Intergovernmental Negotiating Committee/INC) untuk mengembangkan perjanjian plastik global, Sabtu (7/2/2026) memilih Julio Cordano dari Chili menjadi Ketua INC berikutnya.

    Julio Cordano akan memimpin jalannya perundingan perjanjian plastik global bagian ketiga dari Konvensi Internasional Plastik sesi ke-5 (INC-5.3).

    Dalam sambutannya, usai dikukuhkan menjadi Ketua INC, Cordano mengatakan bahwa polusi plastik adalah masalah global yang memengaruhi setiap negara, komunitas, dan individu.

    Oleh karena itu, perjanjian plastik global sangat dibutuhkan untuk mendukung tindakan bersama dan menyatukan kita untuk mengatasi tanggung jawab bersama ini.

    “Saya bersedia dan bertekad untuk memainkan peran utama dalam membantu Komite mencapai garis finish,” ujarnya seperti dikutip di laman resmi UNEP.

    Baca: Penyebab perundingan perjanjian plastik global berakhir tanpa kesepakatan

    Setelah pemilihan Duta Besar Cordano sebagai Ketua, Komite kemudian memilih Linroy Christian dari Antigua dan Barbuda sebagai Wakil Ketua.

    Sesi ini hanya berfokus pada tujuan organisasi untuk membahas pemilihan pejabat, tanpa negosiasi substantif seperti yang diadakan selama sesi lanjutan.

    Komite juga menyampaikan apresiasinya kepada Wakil Ketua saat ini, Duta Besar Johanna Lissinger-Peitz dari Swedia, atas dukungannya terhadap jalannya proses selama beberapa bulan terakhir menjelang INC-5.3.

    Jyoti Mathur-Filipp, Sekretaris Eksekutif Sekretariat INC, mengatakan: “Saya mengucapkan selamat kepada Duta Besar Cordano atas terpilihnya beliau dan berharap dapat mendukung Komite di bawah kepemimpinannya dalam menjalankan mandatnya.”

    Perundingan perjanjian plastik global diluncurkan pada Maret 2022 pada sesi kelima Majelis Lingkungan PBB (UNEA-5.2) yang dilanjutkan.

    Baca: INC-5 gagal batasi produksi plastik global

    Saat itu, negara-negara anggota mengadopsi resolusi bersejarah untuk mengembangkan instrumen internasional yang mengikat secara hukum tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut.

    Sesi ini, yang diadakan di Pusat Konvensi Internasional Jenewa, melanjutkan INC-5.2 pada Agustus 2025 yang juga diadakan di Jenewa, Swiss yang gagal menghasilkan kesepakatan pembatasan polusi plastik.

    Pertemuan tersebut didahului oleh lima sesi INC, yakni INC-1 di Punta del Este, Uruguay pada November 2022; INC-2 di Paris, Prancis, pada Juni 2023; INC-3 di Nairobi, Kenya, pada November 2023.

    Sedangkan INC-4 di Ottawa, Kanada, pada April 2024; dan INC-5.1 di Busan, Republik Korea, pada bulan November–Desember 2024.