Tag: pestisida

  • BRIN Kembangkan Pestisida Ramah Lingkungan Berbasis Mikroorganisma

    BRIN Kembangkan Pestisida Ramah Lingkungan Berbasis Mikroorganisma

    7cloud.asia – Lewat Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) Organisasi Hayati dan Lingkungan (ORHL), BRIN menandatangani kerja sama dengan PT Anugerah Mustika Ostindo tentang Teknologi Pestisida Ramah Lingkungan berbasis Bakteri Bacillus dan Kapang Trichoderma dalam Asap Cair.

    Penandatanganan kerjasama pengembangan pestisida ramah lingkungan ini berlangsung di Gedung Teratai Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno BRIN, Cibinong, pada akhir April lalu.  

    Pada kesempatan itu, Manajer Penelitian dan Pengembangan PT. Anugerah Mustika Ostindo, Radix Setiawan, mengungkapkan alasan  memilih formula bakteri Bacillus dan kapang Trichoderma dalam asap cair sebagai bahan pestisida ramah lingkungan ini.

    “Dari prototipe yang sudah dibuat oleh BRIN, musuh alami dari penyakit yang kita ingin kendalikan, sudah ada buktinya berupa tulisan, jurnal, dan produk prototipe pestisida ramah lingkungan ini,” tuturnya.

    Radix berharap sesuai tahapan kerja, pada tahun 2024 sudah ada target produk pestisida ramah lingkungan yang dapat diaplikasikan dengan baik. 

    “Kami secara umum siap berkolaborasi dan mendukung terhadap riset yang dilakukan Tim periset PRMT BRIN baik sumberdaya, sarana dan finansial, bisa kita support.  Kita harapkan dengan kerjasama selalu akan ada manfaat yang bisa dapatkan bersama-sama dan terus bertambah tidak stagnan disatu sisi,” tuturnya.

    Baca: Sawit, antara alternatif ketahanan pangan dan ancaman pada lingkungan

    Kepala PRMT BRIN, Ahmad Fathoni menegaskan bahwa tak hanya hilirisasi hasil riset, namun implementasi riset juga bermuara pada tahap komersialisasi. Oleh karena itu, penting untuk merancang program dalam menjawab problem riil stakeholders.

    “Dalam hal kerja sama, merancang kegiatan basisnya yang pertama adalah permasalahan yang ada di mitra, setelah dibawa ke laboratorium, kita kembangkan untuk penyelesaian. Kedua, basisnya kita komitmen sama-sama kembangkan kebutuhan terhadap produk yang kemungkinan semakin besar,” terang Fathoni.

    “Dari aspek riset dan development, BRIN kemudian melakukam pengujian pestisida ramah lingkungan ini di lapangan dengan mitra. Kalau sudah terbangun eskosistem, kami cukup yakin hasil-hasil riset yang dihasilkan tepat sasaran dan teknologi tepat guna bisa digunakan oleh mitra kami,” sambung Fathoni.

    Lebih lanjut Fathoni mengatakan, Tantangan kita adalah teknologi translasi yaitu bagaimana menghantarkan hasil riset dari laboratorium ke lapangan.

    “Ini yang masih menjadi tantangan. Karena setelah diuji laboratorium bagus, belum tentu setelah lapangan aktivitas sama. Ke depan yang perlu dipikirkan adalah standarisasi proses dan kualitas produk, BRIN mendukung tenaga ahli, dan peralatan analisis untuk membuktikan (bahwa) secara activititas teruji yang memenuhi standar,” tegasnya.

    Baca: Kaca dan plastik, man alebih ramah lingkungan

    Fathoni berharap, kerja sama yang sepakati bisa jangka panjang, tidak hanya mengembangkan produk tetapi harus sampai ke implementasi produk pestisida ramah lingkungan ini.

    “Intinya kita melanjutkan kerja sama yang sebelumnya sudah dilakukan inisiasi sejak tahun 2004 yakni teknologi biopeptisida pemanfaatan mikroba tertentu yang fokus di (industri perkebunan, seperti)  kelapa sawit,” harap Fathoni.

     

    Radix juga menyambut baik kesepakatan dengan BRIN.  “Kegiatan riset yang telah dikembangkan peneliti BRIN dapat memberikan nilai tambah khususnya dalam pengembangan dan pemasaran produk untuk upaya optimalisasi lahan-lahan marginal,” tegasnya.

    Sementara itu, Koordinator Kerja Sama sekaligus Ketua Kelris Pemulihan Mikrobiologis, PRMT BRIN, Novik Nurhidayat  mengungkapkan harapannya agar kerja sama riset dapat berjalan sampai di ujung masyarakat pengguna.

    “Kerja sama laboratorium kami dengan banyak perusahaan sudah berjalan lama, beberapa produk inventif dan inovatif berbasis miktroorganisma sudah dikembangkan dan digunakan dalam banyak industri dan dimanfaatkan masyarakat banyak,” paparnya.

    Baca: Ubah pola konsumsi untuk rawat keanekaragaman hayati

    “Intinya pada kerja sama yang disepakati kali ini, adalah kita menggabungkan kekuatan sumber daya mikroorganisma terpilih dan juga beberapa bahan alami terseleksi untuk melawan serangan penyakit pada tanaman industri seperti sawit, mulai dari bawah sampai ke atas, buah, kita coba dan hasilnya sudah terlihat di perkebunan sawit di Belitung Barat,” ungkap Novik.

    Perwakilan PT Anugerah Mustika Otsindo, Rizki Anugerah, sebagai manager produksi  mengharapkan ke depan masih ada kerja sama-kerja sama yang lain.

    “Kami masih perlu bimbingan dari BRIN. Kerja sama ini masih panjang dan jangan hanya sampai di sini saja. Kami berharap ke depan akan ada produk-produk lain yang bisa kita telurkan Bersama,” pungkasnya. 

  • Pengaruh Penggunaan Pestisida pada Genetik Manusia

    Pengaruh Penggunaan Pestisida pada Genetik Manusia

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya disebutkan Indonesia merupakan pengguna pestisida terbesar ketiga di dunia.

    Penggunaan pestisida Indonesia beradadi bawah Brasil dan Amerika Serikat. Untuk mengetahui dampak paparan pestisida yang mengandung bahan kimia pada genetika perlu dilakukan uji paparan kimia ke gen

    Salah satu cabang ilmu untuk mempelajari paparan bahan kimia pada makhluk hidup adalah ecotoxicogenomics yang pertama kali diperkenalkan pada 2004.

    Ilmu ini menggabungkan konsep ecotoxicology and toxicogenomics.

    Ecotoxicology mempelajari pengaruh bahan kimia pada makhluk hidup dari tingkat organisme hingga ekosistem. Sementara toxicogenomics mempelajari ekspresi gen pada kondisi paparan bahan kimia beracun atau berbahaya.

    Baca:Penggunaan pestisida di Indonesia

    Jadi ecotoxicogenomics mempelajari bagaimana paparan bahan kimia akan mempengaruhi profil ekspresi gen dan protein pada organisme (khususnya organisme non-target, yaitu organisme yang bukan jadi sasaran), terutama yang berkaitan dengan penilaian risiko lingkungan.

    Aplikasi ilmu ini membutuhkan beberapa hal seperti ketersediaan info genom dan protein dari organisme yang akan dipelajari.

    Sebagai contoh, kita ingin melihat bagaimana efek cemaran herbisida jenis atrazine pada ekspresi gen, maka kita dapat memberi paparan bahan kimia pada satu jenis organisme.

    Setelah itu mengisolasi messenger RNA (mRNA) dari organisme terpapar, dan mengurutkan RNA atau RNA sequencing (RNA-seq).

    Hasil dari RNA-seq merupakan potongan-potongan bacaan sequence dengan jumlah data yang sangat besar.

    Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan

    Potongan bacaan sequence ini lalu kita sejajarkan pada template informasi genom yang telah tersedia, sehingga kita bisa mengetahui gen apa yang terekspresi lebih banyak.

    Kita memetakan, misalnya, apa fungsi umum dari protein yang merupakan produk dari gen tersebut.

    Selanjutnya, akan didapatkan gambaran dampak dari cemaran bahan kimia tersebut pada skala molekuler yang berisiko menimbulkan dampak pada skala yang lebih besar yaitu organisme.

    Misalnya, uji paparan pestisida jenis organoklorin pada ikan zebra (Danio rerio) menunjukkan perubahan profil ekspresi gen dan protein di hipotalamus otak yang berkaitan dengan penyakit parkinson.

    Baca: Biosaka, pupuk organik yang dikembangkan petnai di Klaten

    Perlu lebih banyak riset dan regulasi yang ketat
    Untuk menerapkan studi ecotoxicogenomics kita membutuhkan informasi genom dan protein yang lengkap.

    Selain itu, kita juga diperlukan sampel dan bacaan sequence yang berkualitas tinggi untuk mengurangi kesalahan dan bias.

    Di Indonesia, bidang ini belum banyak diaplikasikan. Akan tetapi, informasi genom dan protein hewan model tersedia secara luas di dunia maya dan sebagian besar dapat diakses dengan mudah dan gratis.

    Layanan aplikasi biologi molekuler seperti RNA-seq pun sudah bisa diakses dan dilakukan di tanah air, sehingga Indonesia pun mulai dapat menerapkan bidang ilmu ecotoxicogenomics ini.

     

    Baca: Inovasi biotron untuk atasi kelangkaan pupuk kimia

    Bidang ini pun masih terus berkembang di dunia. Laboratorium yang mempelajari bidang ini pun semakin berkembang.

    Untuk mencegah penggunaan pestisida berlebihan, kita dapat melakukan pendidikan dan penyuluhan kepada stakeholder pertanian, para petani, dan juga konsumen bahan pertanian.

    Sebuah riset di Pulau Jawa dan Sumatra menunjukkan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggunakan pestisida secara aman.

    Selain riset, pemerintah seharusnya mulai memperbaiki sistem pemakaian pestisida dengan memperbaiki regulasi dan memperketat standar pendaftaran pestisida komersial.

    Artikel ini ditulis Pijar Religia, Specially Appointed Researcher, Osaka Universitytelah dan telah terbit di The Conversation.

     

  • Pertanian Indonesia Pengguna Pestisida Terbesar di Dunia, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

    Pertanian Indonesia Pengguna Pestisida Terbesar di Dunia, Apa Dampaknya pada Lingkungan?

    7cloud.asia –  Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara pertanian pengguna pestisida terbesar di dunia pada 2021, setelah Brasil, dan Amerika Serikat.

    Sebagai negara pertanian yang besar, penggunaan pestisida Indonesia tercatat mencapai 283 kiloton pada 2021. Lantas seperti apa dampaknya pada lingkungan?

    Pestisida digunakan untuk membasmi atau mengendalikan hama seperti gulma, ulat, jamur, dan bakteri pada tanaman pertanian dan perkebunan.

    Penggunaan pestisida dalam jumlah besar ini berisiko menjadi cemaran bahan kimia di lingkungan yang dapat berujung pada paparan residu bahan beracun pada produk makan.

    Riset menunjukkan cemaran pestisida telah terdeteksi di beberapa daerah pertanian di Indonesia seperti di Indramayu dan Brebes.

    Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan

    Riset juga menunjukkan pestisida jenis organoklorin mencemari perairan laut dan kerang hijau Perna viridis di pesisir Tambak Lorok Semarang.

    Riset sejenis sangat penting karena jumlah studi topik pencemaran oleh pestisida masih sedikit di Indonesia.

    Dalam studi-studi tersebut, level cemaran dianggap bisa diabaikan dampaknya pada manusia, tapi berpotensi menimbulkan dampak pada ekosistem perairan dalam jangka panjang.

    Jika tidak diawasi dan dikontrol dengan baik, penggunaan pestisida dapat berisiko menganggu ekosistem air dan pertanian.

    Bukan tidak mungkin akan muncul gangguan kesehatan yang disebabkan oleh akumulasi cemaran pestisida dalam bahan pangan atau air.

    Baca: Pengolahan tanah sembarangan berdampak serius pada lingkungan

    Risiko cemaran pestisida
    Memperhatikan risiko ini, Indonesia seharusnya mempunyai urgensi untuk mengurangi cemaran pestisida dan efeknya.

    Sebagian besar pestisida organik sintetis yang umum digunakan petani, seperti organoklorin, sangat stabil di lingkungan dan sulit terurai.

    Hal ini dapat menyebabkan terakumulasi dan berpotensi menimbulkan gangguan metabolisme bagi makhluk hidup ke depan.

    Bagi hewan, paparan pestisida bisa berdampak, antara lain, timbulnya gangguan ginjal dan hati, juga potensi obesitas.

    Sementara, pada manusia, walaupun jumlah studi masih terbatas, beberapa studi menunjukkan paparan pestisida meningkatkan risiko hipertensi, resistensi insulin, dan diabetes.

    Baca: Sawit, antara ketahanan pangan dan dampaknya pada lingkungan

    Indonesia juga perlu menguji potensi efek pestisida pada ekosistem dan organisme yang hidup di dalamnya.

    Kita membutuhkan sistem dan juga riset lebih banyak untuk mendeteksi efek cemaran pestisida di lingkungan, khususnya di ekosistem pertanian dan air tawar.

    Uji toksisitas dengan hewan model merupakan salah satu metode mendasar untuk menganalisis efek pestisida pada makhluk hidup.

    Akan tetapi, organisme yang berbeda akan memberikan respons dan ambang batas yang berbeda.

    Misalnya, penggunaan herbisida atrazine yang utamanya ditujukan untuk memberantas gulma tanaman, dapat memberikan dampak seperti gangguan endokrin yang mengganggu regulasi hormon pada hewan.

    Baca: Dampak pertanian monokultur pada lingkungan

    Contoh yang cukup terkenal adalah atrazine ditemukan memberi efek feminisasi atau timbulnya ciri-ciri khusus kelamin betina.

    Seperti turunnya level testosterone dan spermatogenesis pada katak Afrika jantan (Xenopus laevis).

    Penurunan ini berdampak pada menurunnya perilaku kawin dan berkurangnya kesuburan.

    Uji toksisitas biasanya dilakukan dalam konsentrasi yang cukup tinggi dan sebenarnya cukup jarang ditemukan di lingkungan.

    Uji dengan konsentrasi tinggi dapat menunjukkan efek yang terlihat jelas, seperti pengurangan populasi hewan model (baik karena kematian generasi pertama atau generasi selanjutnya).

    Baca: Negara penyumbang deforestasi terbesar

    Sementara jika pencemaran terjadi dalam konsentrasi rendah, yang muncul adalah efek sublethal, atau efek yang tidak menimbulkan kematian.

    Beberapa contoh efek sublethal adalah berkurangnya kemampuan reproduksi, berubahnya tingkah laku (misalnya kemampuan berenang pada ikan), dan juga berubahnya regulasi hormonal pada hewan model.

    Efek-efek seperti ini dapat timbul setelah akumulasi yang cukup lama atau banyak, sehingga kita perlu mendeteksi efek ini dengan level yang lebih rendah, yaitu level molekular. Hal ini akan diuraikan dalam tulisan selanjutnya

    Artikel ini ditulis Pijar Religia, Specially Appointed Researcher, Osaka Universitytelah dan telah terbit di The Conversation.

     

  • Peluang dan Tantangan Penerapan Pestisida Berbasis RNA di Indonesia

    Peluang dan Tantangan Penerapan Pestisida Berbasis RNA di Indonesia

    7cloud.asia – Penggunaan pestisida dapat merusak ekosistem dan berdampak pada hewan lain yang bukan target. Paparan pestisida bisa menyebabkan gangguan ginjal dan hati, bahkan obesitas pada hewan.

    Masalah ini mendorong lahirnya teknologi baru yaitu pestisida berbasis asam ribonukleat (RNA).

    Pestisida RNA dirancang untuk bekerja secara spesifik hanya pada gen target. Oleh karena itu, pestisida ini lebih aman untuk lingkungan dan organisme nontarget, seperti lebah atau burung.

    Selain itu, RNA lebih mudah terurai di alam, sehingga tidak meninggalkan residu berbahaya seperti pestisida konvensional yang menggunakan bahan kimia.

    Pestisida berbasis RNA pertama kali hadir di Amerika Serikat. Pestisida ini diterapkan pada tanaman jagung yang telah direkayasa genetik atau GMO (genetically modified organism) dengan merek SmartStax Pro yang dikembangkan oleh perusahaan Bayer.

    Produk tersebut mulai dikomersialkan pada 2020, setelah mendapatkan persetujuan dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA).

    Varietas tanaman jagung ini dimodifikasi secara genetik sehingga dapat memproduksi dsRNA yang dirancang untuk menargetkan gen tertentu pada hama jagung invasif yang merugikan, seperti western corn rootworm (Diabrotica virgifera).

    Ketika hama memakan tanaman tersebut, dsRNA ini akan masuk ke dalam tubuh hama dan mengganggu ekspresi gen target, yang pada akhirnya menyebabkan kematian hama.

    Baca: Pertanian Indonesia pengguna pestisida terbesar

    Jadi, pestisida berbasis RNA berfungsi sebagai mekanisme pertahanan yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri.

    Namun, teknologi pestisida RNA berbasis tanaman hasil rekayasa genetik menghadapi tantangan, terutama terkait penerimaan konsumen. Banyak konsumen masih skeptis terhadap produk hasil rekayasa genetik karena ada kekhawatiran tentang keamanan dan dampak kesehatan.

    Sebagai alternatif, pestisida RNA dalam bentuk obat semprot mulai dikembangkan dalam skala massal oleh perusahaan Greenlight Biosciences pada 2021.

    Pestisida dalam bentuk ini dianggap lebih mudah diterima oleh masyarakat karena tidak melibatkan rekayasa genetika tanaman secara langsung dan dapat diaplikasikan pada tanaman apa pun.

    Selain di Amerika Serikat, pada 2023, badan pengawas pengendalian hama di Kanada juga telah mengizinkan uji lapangan untuk sebuah merek pestisida RNA. Di Jepang, perusahaan Ajinomoto juga mulai mengembangkan teknologi serupa.

    Dengan perkembangannya di berbagai negara, pestisida RNA berpotensi menjadi tren baru dalam pengendalian hama, menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan spesifik untuk mengatasi tantangan pertanian modern.

    Aplikasi pestisida RNA dalam bentuk obat semprot ini berpotensi diterapkan di Indonesia untuk membantu menangani hama padi seperti wereng cokelat. Penelitian menunjukkan bahwa dsRNA dapat menyebabkan kematian hama wereng cokelat hingga 100 persen.

    Hama seperti ulat grayak—yang menyerang tanaman jagung cukup masif hingga 44ribu hektar pada 2023—juga bisa menjadi target potensial.

    Meski demikian, pengembangan pestisida RNA untuk hama jenis ini cukup menantang karena ulat grayak memiliki enzim unik yang dapat mempersulit efektivitas dsRNA dalam mengganggu proses biologis mereka.

    Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan

    Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi tantangan ini dan meningkatkan efektivitas pestisida RNA terhadap ulat grayak.

    Beberapa penelitian sedang berupaya mencari formulasi yang tepat agar pestisida RNA dapat bekerja pada hama jenis ini.

    Riset-riset ini dapat menjadi dasar pengembangan pestisida semprot berbasis RNA skala industri di Indonesia, sebagaimana produk serupa hasil produksi perusahaan GreenLight di Amerika Serikat.

    GreenLight memproduksi pestisida semprot berbasis RNA dengan merek Calantha. Pestisida ini menarget hama kumbang kentang Colorado (Leptinotarsa decemlineata) dan mulai meluncur di pasaran pada tahun ini.

    Meskipun potensinya besar, ada tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan pestisida RNA. Salah satunya adalah kemungkinan pestisida RNA menyerang hama bukan target, sehingga diperlukan regulasi yang ketat untuk memastikan keamanan penggunaannya.

    Selain itu, petani perlu diberi edukasi tentang cara penggunaan pestisida ini dengan benar, termasuk rotasi dengan pestisida lain agar hama tidak menjadi resisten.

    Teknologi produksi massal yang lebih murah juga perlu dikembangkan agar harga pestisida RNA dapat bersaing dengan pestisida konvensional.

    GreenLight, misalnya, berhasil menekan biaya produksinya menjadi kurang dari 1 dolar atau sekitar Rp15 ribu per gram dengan memanfaatkan fermentasi bakteri Escherichia coli.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Pijar Religia (Specially Appointed Researcher, Osaka University)

  • Pestisida RNA: Solusi Baru Membasmi Hama yang Lebih Ramah Lingkungan

    Pestisida RNA: Solusi Baru Membasmi Hama yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Di Indonesia, serangan hama menjadi masalah setiap musim tanam dan sering kali berujung gagal panen.

    Pada 2023, diperkirakan 174 ribu hektare lahan pertanian padi dan 34 ribu hektare lahan jagung terserang hama seperti wereng, penggerek batang, dan tikus.

    Serangan hama berisiko meningkat akibat perubahan iklim yang menyebabkan petani akan semakin bergantung pada racun hama.

    Pestisida konvensional yang biasa digunakan petani untuk membasmi hama memang membantu meningkatkan hasil panen. Namun, di sisi lain pestisida ini memiliki banyak efek samping yang merugikan, baik bagi manusia maupun lingkungan.

    Di Indramayu, pestisida jenis neonicotinoid misalnya ditemukan mencemari 75 persen titik perairan muara yang menjadi sampel penelitian. Pestisida jenis ini juga dapat mengurangi populasi lebah madu dan mengganggu kemampuan mereka untuk kembali ke sarang.

    Bagi manusia, terutama petani, paparan pestisida bisa menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang, seperti risiko hipertensi, resistensi insulin, dan diabetes.

    Selain itu, pestisida juga dapat merusak ekosistem dan berdampak pada hewan lain yang bukan target. Paparan pestisida bisa menyebabkan gangguan ginjal dan hati, bahkan obesitas pada hewan.

    Masalah ini menuntut adanya solusi berupa pestisida yang lebih aman bagi manusia dan lingkungan beserta organisme di dalamnya. Salah satu teknologi yang berpotensi menjawab masalah ini adalah pestisida berbasis asam ribonukleat (RNA).

    Baca: Pengaruh penggunaan pestisida pada genetika manusia

    Apa itu pestisida RNA? Apa bedanya dengan pestisida konvensional yang biasa digunakan para petani di Indonesia? Kenapa lebih aman? Bukankah sama-sama pestisida? Mari ikuti penjelasan di bawah ini.

    Apa itu pestisida RNA? Bagaimana cara kerjanya?
    Pestisida RNA memanfaatkan teknologi yang disebut RNA interference (RNAi)–sebuah mekanisme biologis yang ditemukan pada 1998 oleh ilmuwan asal Amerika Serikat, Andrew Z. Fire dan Craig C. Mello.

    Penemuan ini berkontribusi besar dalam pemahaman tentang regulasi genetik hingga mereka mendapatkan penghargaan Nobel pada 2006.

    Mekanisme RNAi bekerja seperti sakelar untuk “mematikan” ekspresi gen dalam sel hama. RNAi yang aktif dapat membungkam gen target (gene silencing) supaya tidak bisa menghasilkan protein meskipun gen masih ada di dalam sel.

    Mekanisme ini ibarat lampu di rumah kita yang tidak akan menyala selama sakelar mati. Dengan kata lain, ketika gen silencing terjadi, gen tersebut tidak hilang, hanya tidak aktif. Walhasil, gen tersebut tidak menghasilkan protein yang biasanya diperlukan untuk fungsi tertentu.

    Mekanisme RNAi ini dipicu oleh double stranded RNA (dsRNA)—mirip dengan pesan palsu yang dikirim ke sel hama. Sel mengenali dsRNA sebagai ancaman sehingga memicu aktifnya mekanisme RNAi dan enzim yang disebut Dicer.

    Selanjutnya, Dicer akan bekerja layaknya pemotong kertas yang menghancurkan pesan tipuan dsRNA menjadi pesan-pesan yang lebih kecil (siRNA).

     

    Baca: Pertanian Indonesia pengguna pestisida terbesar

    Kemudian, siRNA bergabung dengan kompleks protein yang disebut RNA-Induced Silencing Complex atau RISC.

    Ini adalah “mesin penghancur” dalam sel hama, yang mengoyak semua pesan genetik serupa, termasuk pesan asli (mRNA) hama yang penting bagi kelangsungan hidupnya. Akibatnya, hama tidak bisa memproduksi protein yang dibutuhkan dan akhirnya mati.

    Mengapa pestisida RNA lebih aman?
    Pestisida RNA dirancang untuk bekerja secara spesifik hanya pada gen target. Oleh karena itu, pestisida ini lebih aman untuk lingkungan dan organisme nontarget, seperti lebah atau burung.

    Selain itu, RNA lebih mudah terurai di alam, sehingga tidak meninggalkan residu berbahaya seperti pestisida konvensional.

    Pestisida berbasis RNA pertama kali hadir di pasar Amerika Serikat. Pestisida ini diterapkan pada tanaman jagung yang telah direkayasa genetik atau GMO (genetically modified organism) dengan merek SmartStax Pro yang dikembangkan oleh perusahaan Bayer.

    Produk tersebut mulai dikomersialkan pada 2020, setelah mendapatkan persetujuan dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA).

    Varietas tanaman jagung ini dimodifikasi secara genetik sehingga dapat memproduksi dsRNA yang dirancang untuk menargetkan gen tertentu pada hama jagung invasif yang merugikan, seperti western corn rootworm (Diabrotica virgifera).

     

    Baca: BRIN kembangkan pestisida organik untuk tanaman sawit

    Ketika hama memakan tanaman tersebut, dsRNA ini akan masuk ke dalam tubuh hama dan mengganggu ekspresi gen target, yang pada akhirnya menyebabkan kematian hama. Jadi, pestisida RNA berfungsi sebagai mekanisme pertahanan yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri.

    Namun, teknologi pestisida RNA berbasis tanaman hasil rekayasa genetik menghadapi tantangan, terutama terkait penerimaan konsumen. Banyak konsumen masih skeptis terhadap produk hasil rekayasa genetik karena ada kekhawatiran tentang keamanan dan dampak kesehatan.

    Sebagai alternatif, pestisida RNA dalam bentuk obat semprot mulai dikembangkan dalam skala massal oleh perusahaan Greenlight Biosciences pada 2021.

    Pestisida dalam bentuk ini dianggap lebih mudah diterima oleh masyarakat karena tidak melibatkan rekayasa genetika tanaman secara langsung dan dapat diaplikasikan pada tanaman apa pun.

    Selain di Amerika Serikat, pada 2023, badan pengawas pengendalian hama di Kanada juga telah mengizinkan uji lapangan untuk sebuah merek pestisida RNA. Di Jepang, perusahaan Ajinomoto juga mulai mengembangkan teknologi serupa.

    Dengan perkembangannya di berbagai negara, pestisida RNA berpotensi menjadi tren baru dalam pengendalian hama, menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan spesifik untuk mengatasi tantangan pertanian modern.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Pijar Religia (Specially Appointed Researcher, Osaka University)

  • Tanaman Perangkap Jadi Solusi Pengganti Pestisida yang Lebih Ramah Lingkungan

    Tanaman Perangkap Jadi Solusi Pengganti Pestisida yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Dalam beberapa dekade terakhir, petani di seluruh dunia berbondong-bondong menggunakan pestisida kimia untuk melindungi tanamannya dari serangan hama.

    Secara global, penggunaan pestisida telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1990, mencapai angka yang mengejutkan yaitu 3,69 juta metrik ton pada tahun 2022.

    Namun, seperti dilansir earth.org, meningkatnya penggunaan pestisida telah meningkatkan biaya produksi bagi petani sekaligus mengganggu kesehatan petani dan warga yang mengonsumsi produknya.

    Sekitar 385 juta kasus keracunan pestisida terjadi setiap tahun, yang menyebabkan 11.000 kematian.

    Dari jumlah tersebut, 44 persen petani keracunan pestisida setiap tahunnya, dengan jumlah kasus tertinggi di Asia Selatan.

    Dan, belakangan efektifitas pestisida terus menurun karena hama semakin kebal Dalam kondisi seperti ini, metode pertanian tradisional yakni menanam tanaman perangkap membantu petani di seluruh dunia.

    Baca: Tantangan penerapan pestisida berbasis RNA di Indonesia

    Di Italia, sebuah penelitian selama dua tahun menemukan bahwa tanaman perangkap Brassicaceae (keluarga mustard) membantu mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh kumbang kutu pada bit gula.

    Makalah lain menemukan bahwa hasil panen tanaman brokoli lebih tinggi ketika dibudidayakan dengan beragam tanaman perangkap.

    Sebuah penelitian di China menemukan bahwa penggunaan jagung sebagai tanaman perangkap membantu mengurangi intensitas lalat putih pada kapas.

    “Penanaman perangkap menawarkan alternatif yang ramah lingkungan terhadap pengendalian kimia dengan memanipulasi perilaku hama dan mengurangi ketergantungan pada pestisida,” kata Shovon Chandra Sarkar, seorang peneliti di Universitas Murdoch Australia.

    Sarkar turut menulis makalah tentang tanaman perangkap yang diterbitkan dalam Jurnal Serangga pada tahun 2018.

    “Banyak tanaman perangkap melindungi tanaman utama dengan menciptakan “titik panas” yang menarik hama ke area tertentu, sehingga memudahkan serangga bermanfaat untuk menemukan dan menyerangnya,“ jelasnya.

    Baca: Pertanian Indonesia salah satu pengguna pestisida terbesar di dunia

    Makalah yang ditulisnyai membandingkan efektivitas penanaman perangkap dengan insektisida, yang lebih berbahaya, lebih mahal, dan sering kali tidak efektif karena semakin resistannya hama.

    Sorgum merupakan tanaman perangkap yang efektif di ladang kapas, dan sawi hitam di ladang jagung manis mengurangi kerusakan biji hingga 22 persen.

    Para penulis juga menyarankan bahwa tanaman perangkap idealnya menarik setidaknya dua kali lebih banyak hama dibandingkan tanaman utama selama tahap kerentanan dan tidak boleh menutupi lebih dari 2 hingga 10 persen dari area tanaman.

    Pemanfaatan tananaman perangkap telah memberi petani cabai dari India cara bertani yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan keuntungannya.

    Mereka menanam bunga marigold di antara tanaman cabai. Tak hanya bersifat pencegah; tanaman ini juga menarik lebah dan penyerbuk lainnya yang membantu produksi cabai.

    Ia juga menjual bunga marigold, yang penting untuk doa harian dan karangan bunga dekoratif di India.

    “Berkat bunga marigold, saya melihat peningkatan hasil panen cabai … menambah keuntungan,” kata Rafik Danwade, salah seorang petani yang menerapkan metode ini.

    Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan

  • Ketergantungan pada Pupuk Kimia dan Pestisida Jadi Bom Waktu yang Mengancam Lingkungan

    Ketergantungan pada Pupuk Kimia dan Pestisida Jadi Bom Waktu yang Mengancam Lingkungan

     

    7cloud.asia – Perubahan iklim yang memanaskan suhu Bumi bisa memengaruhi jumlah maupun kualitas makanan hingga ke meja makan. Di Indonesia, perubahan iklim dapat mengguncang sektor pangan dan pertanian yang menyumbang 14% dari total produk domestik bruto (PDB) nasional.

    Dampaknya berantai. Sebab, sektor pangan dan pertanian sekurang-kurangnya menyerap sepertiga dari total pekerja nasional dengan total luas lahan pertanian nasional per (2023) sekitar 7,3 juta hektare.

    Tak terhitung berapa banyak riset yang sudah menyuarakan hal ini sejak lama. Sayangnya semuanya, seakan dianggap angin lalu saja.


    Riset kami menunjukkan hari panas ekstrem yang kian sering terjadi akan terus menggerogoti sistem pertanian Indonesia. Akibatnya sudah ada dan berisiko terus berlipat: harga pangan naik, pendapatan petani menurun, dan gangguan stabilitas ekonomi puluhan juta keluarga yang menggantungkan pendapatan dari sektor ini.

    Panas ekstrem menekan produktivitas petani

    Dalam beberapa dekade terakhir, hari-hari dengan suhu panas ekstrem semakin sering terjadi Indonesia.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi, anomali suhu udara nasional naik 0,8°C sejak 2024: dari 26,7°C menjadi 27,5°C.

    Kondisi ini berdampak langsung pada komoditas pangan utama seperti padi dan jagung. Suhu ekstrem mengganggu siklus pertumbuhan tanaman, mempercepat penguapan air, menekan fotosintesis. Risiko gagal panen akhirnya semakin besar.

    Riset kami menunjukkan, setiap kenaikan frekuensi hari panas ekstrem akan menurunkan hasil panen padi. Sebab, tanaman padi kurang bisa beradaptasi terhadap perubahan cuaca.

    Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya pertanian Indonesia terhadap perubahan iklim. Ketika panas ekstrem menjadi semakin sering, risiko penurunan produksi tidak lagi bersifat musiman, melainkan menjadi tren.

    Situasi takkan berubah jika petani hanya mengandalkan perbaikan proses tanam dan merawat tanaman dengan baik.

    Pupuk dan pestisida: penopang hasil, sekaligus sumber risiko

    Pemakaian pupuk dan pestisida mungkin bisa membantu mempertahankan jumlah panen di tengah tren panas ekstrem, tapi hanya sementara dan ada batasnya.

    Kondisi saat ini, rata-rata setiap kenaikan harga pupuk Rp1.000 per kg akan menurunkan volume pemupukan urea hingga 13%.

    Penurunan volume pemupukan berimbas pula pada anjloknya pendapatan petani beras sekitar Rp3,1 juta per hektare atau Rp2,3 juta per hektare untuk komoditas jagung.

    Temuan kami membuktikan bahwa pupuk dan input pertanian berbasis karbon tidak hanya mahal dan mengandalkan barang impor, tetapi juga memiliki dampak lingkungan yang tidak kecil.

    Pertanian berbasis karbon meliputi pemakaian pupuk dan pestisida sintetis, traktor berbahan bakar solar, hingga irigasi yang menggenangi lahan.

    Secara ekologi, penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan dapat merusak kualitas tanah, mencemari air, dan meningkatkan emisi gas rumah kaca. Dalam jangka waktu panjang efeknya bisa berujung pada bencana panen dan lingkungan.

    Dengan kata lain, upaya mempertahankan produksi melalui penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan justru menciptakan lingkaran kesialan: memperparah perubahan iklim yang ujung-ujungnya merugikan sektor pertanian itu sendiri.

    Dalam konteks jangka pendek dan efek tidak langsungnya, pemerintah sebenarnya memiliki program pupuk subsidi sebanyak 9,5 juta ton untuk tahun 2026. Namun sayangnya, distribusi pupuk bersubsidi sering bermasalah hingga masuk radar Badan Pemeriksa Keuangan.

    Kurang optimalnya penyaluran pupuk subsidi menambah risiko petani. Jika tidak kebagian pupuk subsidi, petani harus membeli sendiri pupuk yang notebene bahan produksinya masih diimpor sehingga sering terpengaruh pada nilai tukar rupiah.

    Mengapa pertanian cerdas iklim menjadi keharusan

    Perubahan iklim yang memangkas hasil panen akan menciptakan kelangkaan pasokan dan berisiko menaikkan harga pangan, terutama padi.

    Bagi rumah tangga, terutama yang berpendapatan rendah, kenaikan harga pangan berarti meningkatnya beban pengeluaran. Padahal, bahan pangan, khususnya beras, merupakan variabel penentu inflasi terbesar masyarakat Indonesia selain bahan bakar minyak.

    Temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia memengaruhi apa yang kita makan, berapa harganya, dan seberapa aman pasokan pangan di masa depan.

    Untuk itu, riset kami menggarisbawahi pentingnya percepatan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture) di Indonesia.

    Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan sistem pertanian untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim dan mengurangi dampak lingkungannya.

    Pertanian cerdas iklim mencakup berbagai strategi, mulai dari penggunaan varietas tanaman yang tahan panas, pengelolaan air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan pupuk secara lebih bijak dan berkelanjutan.

    Pendekatan ini bertujuan menyeimbangkan kebutuhan produksi pangan dengan perlindungan lingkungan.

    Tanpa perubahan arah kebijakan dan praktik pertanian, ketergantungan pada pupuk dan pestisida berbasis minyak/gas bumi seperti hanya memakai obat penahan nyeri saja.

    Penyakit intinya seiring waktu akan semakin ganas yang berisiko menciptakan kerentanan baru, baik secara ekonomi maupun lingkungan.


    Salman Samir, Assistant lecturer, Universitas Hasanuddin; Rizky Utami, Lecturer in Economy and Business Faculty Universitas Hasanuddin, Universitas Hasanuddin; Sumbangan Baja, Professor Geospatial dan Perencanaan Lahan, Universitas Hasanuddin, dan Zulung Zach Walyandra, Universitas Hasanuddin

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • KLH Masih Periksa Kandungan Pestisida, Warga Diimbau Tak Konsumsi Ikan Tangkapan dari Sungai Cisadane

    KLH Masih Periksa Kandungan Pestisida, Warga Diimbau Tak Konsumsi Ikan Tangkapan dari Sungai Cisadane

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) masih memeriksa endapan pestisida di Sungai Cisadane dan meminta masyarakat untuk sementara waktu tidak mengonsumsi ikan berasal dari wilayah setempat yang sempat tercemar.

    Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, pihaknya belum men-declare bahwa telah selesai masalah endapan dari pestisida karena masih dalam pengambilan masa kedua

    Dilansir Antaranews.com, pengambilan sampel ini direncanakan akan dilakukan awal bulan April mendatang.

    “Sebagaimana kita sampaikan, satu bulan sekali kita akan cek sedimentasinya, apakah masih ada endapan-endapan dari pestisidanya yang masih tertahan di sana,” katanya di Jakarta, Senin (16/3/2026) malam.

    Baca: DLH Kota Tangerang sebut air Sungai Cisadane kembali penuhi baku mutu

    Dia menyebut pestisida itu berpotensi masih berada di dalam endapan Sungai Cisadane, meski belum dapat mengonfirmasi apakah kandungannya masih berada jumlah yang membahayakan atau tidak.

    Untuk itu, pengambilan sampel masih akan dilakukan di sejumlah lokasi untuk memastikan sudah tidak ada lagi kandungan pestisida dengan jumlah yang membahayakan.

    Terkait dengan hal tersebut, dia meminta kepada masyarakat untuk sementara waktu menghindari mengonsumsi ikan di wilayah tercemar.

    “Kalau saran saya lebih baik cari ikan di tempat lain,” kata Hanif.

    Baca: Kebakaran mengakibatkan Sungai Cisadane tercemar pestisida

    Sebelumnya Kementerian Lingkungan Hidup menemukan adanya pencemaran cairan bahan pestisida yang mengalir ke Sungai Jeletreng hingga Sungai Cisadane dengan luasan kurang lebih 22,5 kilometer (km).

    Pencemaran ini meliputi wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.

    Cairan itu bocor ke badan air setelah terjadi kebakaran di gudang milik PT Biotek Saranatama pada awal Februari lalu.

    Pada 19 Februari, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang memastikan kualitas air Sungai Cisadane telah kembali memenuhi baku mutu pascainsiden pencemaran ini.