Tanaman Perangkap Jadi Solusi Pengganti Pestisida yang Lebih Ramah Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Dalam beberapa dekade terakhir, petani di seluruh dunia berbondong-bondong menggunakan pestisida kimia untuk melindungi tanamannya dari serangan hama.

Secara global, penggunaan pestisida telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1990, mencapai angka yang mengejutkan yaitu 3,69 juta metrik ton pada tahun 2022.

Namun, seperti dilansir earth.org, meningkatnya penggunaan pestisida telah meningkatkan biaya produksi bagi petani sekaligus mengganggu kesehatan petani dan warga yang mengonsumsi produknya.

Sekitar 385 juta kasus keracunan pestisida terjadi setiap tahun, yang menyebabkan 11.000 kematian.

Dari jumlah tersebut, 44 persen petani keracunan pestisida setiap tahunnya, dengan jumlah kasus tertinggi di Asia Selatan.

Dan, belakangan efektifitas pestisida terus menurun karena hama semakin kebal Dalam kondisi seperti ini, metode pertanian tradisional yakni menanam tanaman perangkap membantu petani di seluruh dunia.

Baca: Tantangan penerapan pestisida berbasis RNA di Indonesia

Di Italia, sebuah penelitian selama dua tahun menemukan bahwa tanaman perangkap Brassicaceae (keluarga mustard) membantu mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh kumbang kutu pada bit gula.

Makalah lain menemukan bahwa hasil panen tanaman brokoli lebih tinggi ketika dibudidayakan dengan beragam tanaman perangkap.

Sebuah penelitian di China menemukan bahwa penggunaan jagung sebagai tanaman perangkap membantu mengurangi intensitas lalat putih pada kapas.

“Penanaman perangkap menawarkan alternatif yang ramah lingkungan terhadap pengendalian kimia dengan memanipulasi perilaku hama dan mengurangi ketergantungan pada pestisida,” kata Shovon Chandra Sarkar, seorang peneliti di Universitas Murdoch Australia.

Sarkar turut menulis makalah tentang tanaman perangkap yang diterbitkan dalam Jurnal Serangga pada tahun 2018.

“Banyak tanaman perangkap melindungi tanaman utama dengan menciptakan “titik panas” yang menarik hama ke area tertentu, sehingga memudahkan serangga bermanfaat untuk menemukan dan menyerangnya,“ jelasnya.

Baca: Pertanian Indonesia salah satu pengguna pestisida terbesar di dunia

Makalah yang ditulisnyai membandingkan efektivitas penanaman perangkap dengan insektisida, yang lebih berbahaya, lebih mahal, dan sering kali tidak efektif karena semakin resistannya hama.

Sorgum merupakan tanaman perangkap yang efektif di ladang kapas, dan sawi hitam di ladang jagung manis mengurangi kerusakan biji hingga 22 persen.

Para penulis juga menyarankan bahwa tanaman perangkap idealnya menarik setidaknya dua kali lebih banyak hama dibandingkan tanaman utama selama tahap kerentanan dan tidak boleh menutupi lebih dari 2 hingga 10 persen dari area tanaman.

Pemanfaatan tananaman perangkap telah memberi petani cabai dari India cara bertani yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan keuntungannya.

Mereka menanam bunga marigold di antara tanaman cabai. Tak hanya bersifat pencegah; tanaman ini juga menarik lebah dan penyerbuk lainnya yang membantu produksi cabai.

Ia juga menjual bunga marigold, yang penting untuk doa harian dan karangan bunga dekoratif di India.

“Berkat bunga marigold, saya melihat peningkatan hasil panen cabai … menambah keuntungan,” kata Rafik Danwade, salah seorang petani yang menerapkan metode ini.

Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *