Tag: petani

  • Tak Lagi Tanam Tembakau, Petani Windusari Sukses Raup Omzet Berlipat Ganda

    Tak Lagi Tanam Tembakau, Petani Windusari Sukses Raup Omzet Berlipat Ganda

     

    7cloud.asia – Turunnya harga tembakau ditambah dengan gagal panen akibat musim kemarau basah sekitar tahun 2012-2013 membuat pening petani tembakau di Desa Candisari, Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

    Para petani tembakau ini harus memutar otak untuk mencari solusi agar mereka tetap dapat bercocok tanam dengan tanaman yang menghasilkan.

    Hal itu juga yang dilakukan Istanto, salah satu petani tembakau asal Desa Candisari. Ia kemudian mencari alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan mencari komoditas tanaman lain yang bisa dibudidayakan sepanjang tahun.

    Biaya produksi murah, perawatan mudah, dan lebih menguntungkan dibandingkan tembakau serta pasar bersifat bebas menjadi pertimbangannya untuk beralih dari petani tembakau. Atas saran Dinas Pertanian setempat, Istanto kemudian memilih ubi jalar dari Cilembu.

    “Apalagi kami mencari yang saat itu bibitnya murah, bibit ubi cukup murah,” ujar Istanto saat mendampingi peserta field trip kegiatan Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) ke-8 di Magelang, 1 Juni 2023 lalu sebagaimana dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Senin (5/6/2023)

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih ramah lingkungan ketimbang pupuk kimia

    Sejak tahun 2013, ubi jalar tipe tersebut mulai dibudidayakan Istanto di sela-sela tanaman tembakau yang dia tanam. 

    Usaha Istanto tersebut membuahkan hasil yang lebih bagus dibandingkan tembakau. Dengan luas lahan yang sama untuk budidaya tembakau, ternyata ubi jalar lebih menguntungkan 6-7 kali lipat.

    Sejak saat itu Istanto menyadari bahwa tanaman tembakau bukan merupakan satu-satunya komoditas yang dapat diandalkan.

    Para petani di sekitarnya pun mulai mengikuti jejak Istanto dan semakin inovatif dengan mengeksplor tanaman-tanaman lain yang dapat memberikan keuntungan lebih.

    Saat ini, di wilayah Kecamatan Windusari yang terdiri dari 20 desa hampir tidak ditemukan lagi tanaman tembakau yang dibudidayakan.

    Hampir seluruh petani telah beralih ke komoditas lain terutama tanaman pangan yang lebih menguntungkan seperti kopi yang dibudidayakan di ketinggian di atas 1000 meter di atas permukaan laut. 

    Baca: BRIN kembangkan pestisida ramah lingkungan berbasis mikrorganisme

    Tanaman hortikultura (sayuran hijau, cabe, bawang putih, bawang merah, padi, dan jagung) jadi pilihan petani yang tinggal di ketinggian 800-1000 mdpl, serta ubi jalar di ketinggian 600-700 mdpl.

    Istanto menyebutkan ada 12 desa di Kecamatan Windusari yang mengikuti pola tanam dan panen setiap hari seperti yang dia lakukan. Bahkan, peralihan ini dilakukan para petani tanpa adanya paksaan dari siapapun.

    Ia lebih banyak berperan membantu memberikan saran terkait cara tanam dan lokasi ideal untuk tanaman ubi madusari.

    “Awalnya memang saya mulai panen, lalu nanti si A mau minta bibit, kita berikan. Lalu B mau buat juga, dapat bibit dari hasil yang didapatkan si A. Dengan begitu akhirnya terbentuk pola panen yang baik,” tutur Istanto.

    Baca: Kisah pohon raksasa berumur ratusan tahun di Agam, Sumatera Barat

    Istanto bersyukur karena sejak alih tanam dari tembakau, ketahanan pangan di desa terjamin apalagi model diversifikasi tanaman seperti yang kini dilakukan terbukti membuat petani selalu untung sepanjang waktu.

    Dengan metode ini, tidak lagi ada istilah ‘panen raya’, sebaliknya setiap hari bisa menjadi momen panen sesuai dengan masa perkembangan tiap-tiap tanaman tersebut.

    “Jadi kini tidak ada lagi menunggu panen raya. Setiap hari, petani di sini bisa memanen,” ungkap Istanto sembari menjelaskan jenis-jenis tanaman di lahan pertanian Desa Candisari.

    MTCC Unimma sekitar tahun 2018 membantu mengoptimalkan upaya yang telah dilakukan para petani di Kecamatan Windusari.

    Baca: Minyak sawit, antara alternatif ketahanan pangan dan ancaman terhadap lingkungan

    MTCC antara lain dengan melakukan pelatihan dan pendampingan untuk pengembangan usaha yang telah dirintis, mencarikan jejaring dengan pihak lain untuk memperoleh bantuan peralatan, serta memfasilitasi untuk pemasaran produk.

    Salah satunya dengan mengajak para peserta ICTOH ke-8 yang dilaksanakan di Kota Magelang pada tanggal 1 Juni 2023 yang lalu.

    Usai field trip, peserta diajak oleh Istanto untuk meninjau proses seleksi hasil panen, pengolahan ubi madusari menjadi snack, hingga proses packaging. Proses pengolahan ubi madusari ini memberdayakan para ibu rumah tangga dan pemuda dari Desa Candisari.

    Giat ekonomi dari panen ubi hingga proses industri usaha kecil mikro menengah (UMKM) terbukti membantu tidak hanya taraf ekonomi masyarakat, tetapi juga kualitas pendidikan anak-anak dari desa Candisari.

    “Anak-anak dari desa kami pun sekolahnya lancar, banyak yang kini bisa dibiayai masuk perguruan tinggi. Banyak juga yang diterima dan melanjutkan sekolah di UNIMMA,” kata Istanto.

    Baca: Perlu ada insentif untuk daerah agar lestarikan hutan dan lahan perkebunan

    Ketua MTCC UNIMMA Retno Rusdjijati menambahkan di sela-sela diskusi bersama peserta field trip bahwa kegiatan kunjungan ke lokasi pertanian Desa Candisari merupakan bukti kalau alih tanam tembakau secara nyata berkontribusi positif pada kehidupan masyarakat.

    Dampak baik ini tercermin dari keuntungan yang lebih tinggi dari hasil yang telah diperoleh petani dibandingkan dengan tembakau.

    ICTOH sendiri menjadi momentum dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tahun 2023 yang mengangkat tema “We Need Food Not Tobacco”.

    Untuk itu, Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI) berkolaborasi dengan MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang.

    Baca: Kearifan lokal warga Bali dalam menjaga lingkungan lewat pengelolaan sampah

    Prosesi ICTOH ke-8 diselenggarakan di Puri Asri Hotel, dihadiri para akademisi, peneliti, dan praktisi pengendalian tembakau untuk kesehatan masyarakat. Tak lupa, ICTOH juga mengundang para pemangku kebijakan daerah se-Jawa Tengah.

    Mereka berbagi pengalaman dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

    Di Indonesia ICTOH diselenggarakan oleh Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI), sebuah organisasi yang fokus di bidang upaya pengendalian tembakau di Indonesia, serta didukung oleh Kementerian Kesehatan, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), World Health Organization (WHO), International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (The Union), Campaign for Tobacco Free Kids (CTFK) dan seluruh jaringan pengendalian tembakau di Indonesia.

  • Petani Kopi Kehilangan Produksi Akibat Perubahan Iklim

    Petani Kopi Kehilangan Produksi Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Studi memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menurunkan produktivitas pertanian di negara berkembang sebesar 10-20% selama 40 tahun ke depan.

    Menurut kajian tim peneliti BRIN, salah satu dampak perubahan iklim di Indonesia adalah durasi musim hujan lebih panjang. Lamanya bisa mencapai 49 hari di Indonesia bagian selatan. Dampak ini juga dirasakan petani kopi di sejumlah daerah di Indonesia.

    Seperti apa dampak perubahan iklim mempengaruhi petani kopi, berikut hasil kajian BRIN yang laporannya ditulis , Peneliti Ahli Madya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

    Tulisan yang telah diterbitkan di The Conversation ini merupakan sebagian dari hasil riset yang dibiayai oleh Rumah Program OR IPSH BRIN Tahun 2022. Mari kita simak selengkapnya.

    Kopi merupakan salah satu jenis tanaman primadona di Indonesia. Sebagai negara pengekspor terbesar ke-4 di dunia–setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia–biji kopi asal Indonesia menjangkau negara-negara Eropa, negara-negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

    Minum kopi pun menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia, ditandai dengan tumbuhnya kafe-kafe baru di berbagai daerah.

    Bermacam fakta di atas seharusnya berdampak positif pada petani sebagai salah satu aktor utama dalam mata rantai penjualan kopi. Namun, penelitian kami di Jawa Barat nyatanya menunjukkan hasil yang miris.

    Usai bergulat dengan penurunan permintaan di masa pandemi, para petani langsung disambut dengan dampak perubahan iklim yang kian nyata. Produksi mereka kemudian turun drastis.

    Baca: Kisah sukses petani pisang di Kalimantan Timur

     

    Lepas pandemi, diterjang anomali cuaca

    Kami melaksanakan wawancara terstruktur dan mendalam dengan 219 responden petani kopi di Jawa Barat pada 2022. Provinsi ini banyak menerapkan kegiatan perhutanan sosial berbasis kopi.

    Menurut para responden kami, pandemi tidak menghalangi aktivitas petani dalam kegiatan budidaya sampai pemanenan. Namun, pembatasan aktivitas masyarakat membuat permintaan kopi menurun khususnya oleh kafe-kafe sebagai salah satu pembeli kopi mentah dari petani.

    Dampaknya: harga jual kopi menurun, pun pendapatan petani. Di puncak pandemi pada 2021, misalnya, ceri kopi para petani yang biasanya dihargai hingga Rp 9.500/kg hanya laku di kisaran Rp 5.000/kilogram.

    Meredanya pandemi pada 2022 tak terlalu mengubah keadaan. Pasalnya, pertanian kopi mulai terimbas perubahan iklim.

    Studi memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menurunkan produktivitas pertanian di negara berkembang sebesar 10-20% selama 40 tahun ke depan. Menurut kajian tim peneliti BRIN, salah satu dampak perubahan iklim di Indonesia adalah durasi musim hujan lebih panjang. Lamanya bisa mencapai 49 hari di Indonesia bagian selatan.

    Baca: Petani milenial di Jawa Barat gunakan teknologi untuk dongkrak produksi

    Kondisi cuaca yang tidak menentu, misalnya hujan ekstrem di musim kemarau, menyebabkan sebagian kopi gagal berbunga. Imbasnya, kopi gagal berbuah sehingga angka produksi menurun drastis.

    Meskipun secara nasional jumlah produksi kopi meningkat, para petani yang kami wawancarai di Jawa Barat (seperti di Kabupaten Garut, Bandung, dan Ciamis) menyatakan bahwa produksi mereka menurun antara 20%-80%.

    Pertumbuhan produksi nasional didominasi oleh produksi kopi dari Sumatra. Daerah tersebut bisa jadi memiliki perbedaan iklim mikro dengan petani di Jawa Barat.

    Penurunan produksi sebenarnya membuat suplai menipis di pasar sehingga mengerek naik harga produk kopi. Sayangnya, banyak petani yang tidak menikmati kenaikan harga. Anjloknya hasil panen karena perubahan iklim sulit diperbaiki karena akses mereka ke pupuk masih terbatas.

    Pada saat pandemi, pupuk tersedia dengan harga normal. Namun, pupuk tidak terjangkau karena pendapatan petani menurun sehingga belanja lebih difokuskan untuk konsumsi rumah tangga.

    Sebaliknya, pascapandemi pupuk menjadi susah diperoleh. Kalaupun ada, harganya lebih mahal. Pupuk yang paling banyak dibutuhkan oleh petani kopi berjenis urea dan NPK.

    Ada beberapa masalah yang jadi biang keladi. Dunia memang tengah mengalami krisis pupuk akibat Perang Rusia-Ukraina. Sebab, Rusia merupakan penyuplai 30% fosfor dan kalium yang menjadi bahan baku NPK.

    Wawancara kami juga menemukan masalah distribusi pupuk subsidi yang diduga tidak tepat sasaran. Ini terlihat dari bagaimana petani yang berhak menerima pupuk dengan harga subsidi harus membayar dengan harga normal karena pupuk subsidi tidak tersedia. Sementara, suplai justru tersedia bagi kelompok tani lain di daerah yang sama yang tak membeli pupuk.

    Baca: Petani di Magelang mulai tinggalkan tembakau

    Pekerjaan rumah untuk pemerintah

    Permasalahan budi daya yang dihadapi petani selama dan pascapandemi, ditambah dengan dampak perubahan iklim, membuat petani kopi kelimpungan. 

    Studi pun mengamini petani swadaya di negara berkembang kerap kesulitan mengatasi dampak perubahan iklim karena mereka tidak memiliki sumber daya untuk mencari pemasukan tambahan demi menjamin kesejahteraan keluarga mereka.

    Oleh karena itu, perlu campur tangan pemerintah mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi.

    Pemerintah, misalnya, perlu memperkuat pengawasan untuk memastikan distribusi pupuk yang tepat sasaran. Titik-titik kerawanan penyimpangan perlu diberantas. Perlu ada sanksi tegas terhadap penyalahgunaan penyaluran pupuk bersubsidi.

    Di sisi lain, kelembagaan petani juga perlu penguatan. Berdasarkan wawancara, saat ini posisi tawar petani dalam penentuan harga jual kopi sangat rendah. Pembeli, yang mayoritas adalah pedagang besar, memiliki kuasa yang besar dalam menentukan harga.

    Lantaran margin yang kecil, petani hanya sedikit merasakan manfaat kenaikan harga kopi. Sebaliknya, adanya penurunan harga akan langsung menghantam perekonomian mereka karena minimnya modal usaha untuk memupuki tanaman.

    Oleh sebab itu, perlu dibentuk lembaga yang berfungsi menstabilkan harga kopi di tingkat petani, misalnya dengan menampung produk pada saat panen raya.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Meski demikian, upaya mengatasi dampak perubahan iklim dan instabilitas harga jual dan harga sarana produksi pertanian tidak selamanya dapat bergantung pada pemerintah. Petani harus didorong untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi mereka dengan pengolahan lanjutan.

    Pengolahan produk memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, meningkatkan harga jual dan margin keuntungan yang lebih besar.

    Kedua, adanya penyerapan tenaga kerja selama proses pengolahan kopi meliputi proses pengupasan, pengeringan, pembuatan bubuk kopi, bahkan penjual produk kopi siap saji.

    Pemerintah dan swasta dapat membantu penyediaan mesin pengolah kopi dengan skema hibah atau pinjaman berbunga rendah. Perlu bantuan lembaga keuangan resmi pemerintah selama proses ini.

    Soalnya, petani cenderung langsung menjual kopi setelah panen untuk mendapatkan uang tunai.

    Perubahan iklim merupakan sebuah keniscayaan. Bukan tidak mungkin hal yang sama bisa menimpa petani-petani kopi lain di Indonesia. Yang dapat kita lakukan adalah beradaptasi dan meredam dampaknya, serta meningkatkan ketangguhan petani kecil kita.

    Penulis berterimakasih kepada Dr. Sanudin dan Eva Fauziyah, M.Sc. (peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN) yang telah berkontribusi terhadap tulisan ini.

  • Mitos Efisiensi Perkebunan Sawit yang Merugikan Petani Kecil dan Lingkungan

    Mitos Efisiensi Perkebunan Sawit yang Merugikan Petani Kecil dan Lingkungan

    7cloud.asia – Separuh produk yang dijual di supermarket dan bahan bakar nabati mengandung minyak sawit.

    Sekitar 50 persen pasokan minyak sawit dunia berasal dari Indonesia, dan kebanyakan minyak sawit itu dihasilkan oleh perusahaan perkebunan.

    Dewasa ini, hampir sepertiga dari lahan pertanian di Indonesia, dikonsesikan pemerintah kepada perusahaan sawit. Kebijakan ini merampas akses sejumlah besar penduduk desa sumber daya yang menopang kehidupan mereka.

    Secara konsisten pemerintah Indonesia mendukung perusahaan perkebunan, termasuk perkebunan sawit, dengan mengorbankan kepentingan petani kecil (usaha budi daya dengan lahan kurang dari 25 hektar).

    Seperti apa industri sawit di Indonesia meminggirkan petani kecil, berikut tinjauannya seperti diterbitkan di The Conversation.

    Seperti yang disampaikan Menteri Pertanahan pada 2019, “kalau (tanah) tidak produktif di tangan rakyat, maka kami akan mengambil tanah… Adalah fakta bahwa perusahaan perkebunan adalah mesin tercepat untuk menciptakan kemakmuran.”

    Baca: Minyak sawit, antara alternatif ketahanan pangan dan ancaman lingkungan

    Sekarang perkebunan menguasai lebih dari sepertiga lahan pertanian Indonesia, terutama untuk budidaya sawit. (Chain Reaction Research)

    Para pejabat berasumsi bahwa perkebunan “mesin” yang efisien, tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa efisiensi perkebunan sawit adalah mitos yang berbahaya.

    Perkebunan besar kalah bersaing
    Secara global, tanaman pasar seperti kakao, kopi, teh dan karet yang semula dibudidayakan oleh perkebunan sekarang kebanyakan digarap petani kecil yang menghasilkan panen yang sama dengan biaya lebih rendah.

    Beberapa pengamat berpendapat bahwa sawit berbeda. Mereka mencatat bahwa panen rata-rata perkebunan sawit lebih tinggi daripada panen petani kecil, tetapi angka rata-rata menutupi variasi yang signifikan.

    Analis industri yang melacak 18 perusahaan perkebunan sawit menemukan panen mereka berkisar antara 14 hingga 26 ton buah segar per hektar; kisaran di kalangan ratusan petani kecil di lokasi penelitian kami juga serupa.

    Alasan utama rendahnya panen sawit di kalangan petani kecil adalah kurangnya akses mereka ke benih unggul yang dipakai oleh perkebunan–benih yang mampu menghasilkan panen buah hingga 66 persen lebih tinggi.

    Namun, program pemerintah untuk memasok benih unggul kepada petani kecil berhenti. Setelah lima tahun berjalan, program hanya mencapai sekitar 10 persen dari target.

    Jika sawit tumbuh baik di lahan kecil maupun di lahan besar (dengan bibit yang sama), bagaimana perbandingan dimensi efisiensi lainnya?

    Baca: Plus minus biodiesel berbahan sawit

    Efisiensi penggunaan lahan
    Dari 22 juta hektare yang dikonsesikan pemerintah kepada perkebunan sawit, baru 10 juta hektare yang ditanami.

    Sebagian lahan konsesi adalah wilayah curam, gambut, dan rapuh secara ekologis. Sawit dapat ditanam di sana tetapi biayanya tinggi dan panennya rendah. Namun, sering kali para manajer yang dikejar target perusahaan menanam sawit di lahan tidak bagus tadi.

    Petani kecil dan masyarakat adat di Indonesia menggarap lahan dengan sangat hemat.

    Mereka memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan dan memilih tanaman yang cocok untuk setiap bidang lahan, sambil memanfaatkan uang dan tenaga kerja dengan bijaksana.

    Hasilnya, mereka mampu memberi respon yang lebih fleksibel terhadap perubahan iklim.

    Hanya saja, mereka dilarang memanfaatkan lahan konsesi perkebunan, karenanya banyak hamparan lahan perkebunan tidak ditanami dan banyak petani mengalami kurang pangan.

    Baca: Cegah kelaparan kembali terulang, Pemerintah bangun lumbung sosial di Papua Tengah

    Menghemat biaya tenaga kerja
    Budi daya sawit bukan usaha berteknologi tinggi. Pemanen mengunduh tandan buah secara manual dengan sabit tajam yang diikatkan pada tongkat panjang.

    Para pekerja perempuan menebar pupuk dan menyemprot herbisida dari wadah dan tangki yang digendong di punggung mereka.

    Kerja kebun di lahan perkebunan maupun lahan petani dilakukan dengan cara yang sama. Bedanya, perkebunan memerlukan manajer, akuntan, mandor dan satpam, dengan biaya yang tinggi.

    Untuk mengurangi biaya tenaga kerja, perkebunan semakin mengurangi karyawan penuh waktu dan menggantinya dengan pekerja lepas dan kontrak luar.

    Para pekerja lepas ini tidak perlu diberi pensiun, premi perawatan kesehatan, perumahan keluarga atau tunjangan lainnya.

    Namun “efisiensi” tenaga kerja perkebunan ada harganya: di perkebunan yang kami teliti, inkonsistensi pasokan tenaga kerja mengakibatkan pemeliharaan kebun dan panen yang buruk.

    Baca: El Nino ancam ketahanan pangan, ini yang dilakukan Kementan

    Persoalan angkutan dan pengolahan
    Pengangkutan buah dan pengolahan minyak mentah adalah bagian besar dalam narasi industri tentang keunggulan efisiensi perkebunan.

    Hal ini karena tandan buah segar sawit harus sampai di pabrik dalam waktu 48 jam setelah panen di kebun. Namun ukuran perkebunan yang besar menimbulkan tantangan tersendiri.

    Perkebunan swasta yang kami teliti membangun jalan kebun sepanjang 258 kilometer untuk mengangkut buah sawit.

    Tetapi selama musim hujan banyak jalan yang tidak dapat dilalui; selama berbulan-bulan, berton-ton sawit menumpuk busuk sia-sia.

    Ada juga masalah kemacetan bongkar muat buah di pabrik. Puluhan truk harus antre menunggu, terkadang semalaman.

    Pabrik hanya beroperasi kurang dari setengah kapasitasnya–masalah umum di Indonesia saat perusahaan membangun pabrik yang jauh lebih besar dari yang dibutuhkan.

    Di Thailand, negara di mana petani kecil menanam 80% sawit, dan di beberapa wilayah Sumatera tempat para petani swadaya mapan, warga desa menggunakan jalan lokal dan truk kecil untuk mengangkut panen ke pabrik kecil terdekat.

    Namun, di Kalimantan tempat 86% sawit ditanam oleh perkebunan raksasa, pabrik besar yang tidak efisien umum ada di mana-mana.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 T untuk antisipasi El Nino

    Pemilik dan agen
    Perkebunan juga mengidap persoalan yang diidentifikasi para ekonom sebagai “masalah prinsipal-agen”.

    Prinsipal atau pemilik (perusahaan dan pemegang saham) harus bergantung pada agen (manajer dan pekerja) untuk menjalankan rodaproduksi, akan tetapi sering kali kepentingan mereka berbeda.

    Korporasi mengejar laba, ditunjukkan pada neraca perusahaan. Sementara manajer dan pekerja berusaha untuk ‘menyakap’ sebagian dari kemakmuran yang beredar di dalam dan di sekitar perkebunan sebelum ia mengalir pergi entah ke mana.

    Kami melihat masalah ini berlangsung dalam berbagai bentuk pencurian yang meluas.

    Para “agen” ini, dari direktur dan manajer hingga pekerja lapangan, menemukan cara untuk menambah penghasilan pribadi. Manajer menggelembungkan harga kontrak, mandor memotong upah pekerjanya.

    Buah, bahan bakar, serta peralatan pada menghilang di malam hari. Warga desa juga mencuri dari perkebunan dan terkadang memblokade jalan atau pabrik untuk memprotes ketidakadilan dan pengabaian oleh perusahaan.

    Konflik dan pencurian menciptakan inefisiensi. Petani kecil yang menggarap lahan mereka sendiri, dalam penelitian kami, tidak mengidap masalah ini.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih baik ketimbang pupuk kimia

    Meskipun tidak sempurna, tata moral menjadi kontrol kontrol sosial di kalangan petani, dan hal ini tidak hadir dalam hubungan antara perusahaan dan pelaksana kerja di perkebunan.

    Jika tidak efisien, mengapa perkebunan bisa bertahan di Indonesia?
    Pada dekade 1930-an, pemerintah kolonial melindungi perkebunan karet yang kembang-kempis bersaing dengan petani kecil.

    Petani sawit saat ini secara tidak langsung tertindas juga oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada perusahaan.

    Di wilayah penelitian kami, lima perusahaan menduduki sebagian besar lahan pertanian, dan hanya menyisakan sedikit lahan bagi petani yang ingin menanam sawit yang menguntungkan ini secara mandiri.

    Dalam perhitungan mereka, tambahan enam hektar kebun sawit ke kebun campuran mereka akan memungkinkan para petani menghidupi keluarga, memelihara kebun dan berinvestasi dalam pendidikan anak.

    Membuat perkebunan perusahaan lebih efisien tidak akan mengatasi ketidakadilan mendasar ini.

    Kami berharap dengan membongkar mitos efisiensi perkebunan, kami dapat menawarkan peluang yang lebih baik, dan masa depan yang lebih sejahtera bagi para petani Indonesia.

    Penulis:

    1. , Professor, Department of Anthropology, University of Toronto
    2. , Professor, Department of Anthropology, Universitas Gadjah Mada

     

  • Kisah Dari Bumi Lahir dari dan untuk Petani Indonesia

    Kisah Dari Bumi Lahir dari dan untuk Petani Indonesia

    7cloud.asia – Dari Bumi. Demikian produk turunan hasil pertanian ini dinamai. Dari Bumi lahir untuk menghargai jerih payah para petani.

    Dari Bumi tumbuh dengan menghadirkan produk-produk berbasis pertanian Indonesia yang kaya.

    Sajian lemon, aneka madu asli Indonesia, bumbu dapur, garam laut, teh, beras hingga gula yang diproduksi dengan prinsip berkelanjutan menjadi andalan Dari Bumi.

    Dari Bumi lahir dengan melihat potensi tanah Indonesia yang subur dan iklim yang tropis membuat berbagai tanaman tumbuh dengan baik di tanah Indonesia dan membawa berbagai manfaat baik untuk rakyatnya. 

    “Kita juga tidak boleh lupa bahwa alasan terbesar Indonesia dijajah adalah karena kekayaan hasil alamnya,” kata Brand Manager Dari Bumi Luinambi Vesiano seperti dikutip Antaranews.com

    Baca: DemiBumi ada karena bumi adalah titipan generasi muda

    Potensi-potensi itu membuat Dari Bumi lahir dan berupaya menjembatani kekayaan alam, petani, dan masyarakat Indonesia.

    Dari Bumi mengusung empat jenis nilai yang diyakini menjadi kekuatan mereknya, yaitu membawa hasil alam asli dari bumi Indonesia, kurasi produk yang baik, memiliki kategori yang luas serta membawa manfaat kesehatan.

    Dari sisi penjualan dan pemasaran, banyak hal yang sudah dilakukan Dari Bumi. Bermula dari marketplace, kini Dari Bumi juga melakukan penetrasi melalui acara-acara alternatif, modern market hingga pengembangan reseller (pengecer).

    Produk makanan yang ditawarkan Dari Bumi secara luring maupun daring di lokapasar, antara lain beras, madu, buah, bunga, rempah, kopi, gula, dedaunan dan minyak. Rentang harganya terjangkau antara Rp10.000-an hingga di bawah Rp100.000.

    Baca: Bioplastik, plastik yang disebut lebih ramah lingkungan

    Dalam proses produksinya Dari Bumi tak hanya menggandeng para petani di seluruh Indonesia tetapi juga membangun interaksi dengan para konsumennya. 

    “Kami juga mempopulerkan cerita proses melalui konten-konten edukasi, agar penikmatnya (market) mengetahui dari mana makanannya berasal dan cerita-cerita di baliknya,” jelas penggagas Dari Bumi, Agung sebagaimana dikutip Antaranews beberapa waktu lalu.

     

    Agung menambahkan, pembeda Dari Bumi dengan produk UMKM lain adalah kurasi ketat pada setiap produk yang akan dipasarkan.

    Dari Bumi memulai dengan observasi dan minim proses dan menjaga higinitas bahan bakunya sehingga tidak mengurangi manfaatnya saat sampai ke tangan konsumen.

    Baca: Seperti ini ciri-ciri produk ramah lingkungan

    Dari Bumi, jelas Agung, membangun value dalam bentuk pengangkatan cerita, sejarah dan hasil observasi kepada teman-teman semua, masyarakat Indonesia.

    “Kenal maka sayang. Harapannya teman-teman akan turut mempopulerkan kebaikan-kebaikan hasil bumi, dan martabat petani dan bentuk-bentuk apresiasi yang lain,” katanya.

    Dari Bumi memasarkan produknya melalui marketplace, tokotalk daribumi.id serta memaksimalkan aset-aset digital untuk mempopulerkan cerita-cerita dari para petani.

    Dari Bumi juga membuka interaksi untuk warganet memberi masukan tentang potensi-potensi hasil bumi yang belum terekspos untuk diekplorasi dan diangkat.

    Baca: Ragam produk ramah lingkungan, reuseable dan tidak hasilkan sampah

     

    Dalam peluncurannya di Hari Tani Nasional 24 September tahun lalu, Dari Bumi mempublikasikan sebuah video di YouTube Dari Bumi yang berjudul “Terima Kasih Petani Indonesia”.

    Video yang berdurasi sekitar 2 menit tersebut menceritakan tentang Pak Rohman, seorang petani di Sine, Kaki Gunung Lawu. Ia seorang milenial yang memutuskan pulang dari ibukota ke desanya dan bertani. Bunga telang, rosella ungu dan daun kelor adalah hasil bumi yang diolah oleh Pak Rohman.

    Di video ini, Dari Bumi mengajak semua untuk mengapresiasi kekayaan hasil bumi Indonesia, mempopulerkannya ke circle terdekat, menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Seperti itulah cari Dari Bumi menghargai keringat para petani di seluruh Indonesia.

    Baca: Lima prinsip utama frugal living 

  • Dampak EL Nino Mulai Dirasakan Petani di Ciamis, Jawa Barat

    Dampak EL Nino Mulai Dirasakan Petani di Ciamis, Jawa Barat

    7cloud.asia – Dampak El Nino mulai dirasakan petani di sejumlah daerah yang mengeluhkan hasil panen yang tidak maksimal atau bahkan mengalami gagal panen.

    Sektor pertanian dan petani memang sangat merasakan dampak El Nino yang diperkirakan akan memuncak pada Agustus dan September ini. 

    Tidak hanya mengalami kekeringan, petani juga harus menghadapi berbagai penyakit padi dan hama. El Nino menyebabkan hama dan penyakit menyebar lebih cepat dan merusak tanaman serta mengurangi hasil panen.

    Seperti yang terjadi di wilayah Ciamis, Jawa Barat. Lisnawati, petani padi di Dusun Batukurung, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, Ciamis mengeluh panen padinya menurun akibat dampak El Nino.

    Baca: Mengapa El Nino terjadi dan apa dampaknya bagi petani?

    Pada musim panen bulan Juli lalu, ia hanya mampu memanen gabah kurang dari 2 ton dari 11 petak sawah yang ia miliki. Padahal biasanya hasil panennya
    mencapai 4 ton.

    Kondisi ini akibat adanya serangan hama tikus yang menggerogoti batang padi milik petani.

    Berbagai usaha telah dilakukan Lisna untuk menyelamatkan padinya dari hama
    tikus, seperti memberikan racun tikus yang banyak.

    “Semua orang kasih racun tikus, tapi ada terus (tikusnya). Mati (tikus) banyak, tetapi yang makan batang padi juga banyak. Makanya pada kaget semua orang karena mengalami semua,” jelas Lisnawati kepada 7cloud.asia.

    Baca: Warga diminta bersiap hadapi kekeringan akibat El Nino

    Ibu dua orang anak ini menjelaskan hama tikus adalah hama yang paling jahat dibandingkan hama lainnya. Sebab, hama tikus akan memakan batang padi
    terus menerus hingga jelang panen.

    Makanya tak heran petani merugi pada musim panen kali ini. Bahkan menurut Lisnawati, kondisi ini adalah yang terparah yang pernah ia hadapi dalam menghadapi hama tikus.

    Sebagai petani, Lisnawati mengaku tidak mendapat bantuan apapun untuk
    menghadapi hama tikus tersebut.

    “Padahal dulu kita suka dikasih obat (untuk hama tikus) dari desa, tapi sekarang nggak dikasih lagi,” katanya.

    Baca: Pemerintah siapkan Rp 8 T untuk antisipasi dampak El Nino

    Sementara itu, Kepala Desa Kawasen, Suharno mengatakan pihaknya memang
    tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang dikeluhkan warganya.

    Selain itu, ia juga tidak dapat memberikan obat untuk hama tikus secara gratis kepada warga. Sebab hal ini akan memperparah kondisi tanah. Paparan zat kimia
    dapat membuat tanah menjadi lebih kering.

    “Tanah menjadi kering karena pemakaian obat-obatan kimia. Sekarang kita mau mencoba bergeser ke obat-obat organik yang aman untuk tanah,” katanya.

    Dalam menghadapi El Nino, petani tidak hanya berurusan dengan hama saja.
    Tetapi juga gangguan musim tanam dan kekeringan.

    Baca: Seperti ini El Nino berdampak pada kesehatan manusia

    Mengantisipasi kekeringan ini, Suharno menjelaskan pihaknya tidak hanya
    mengandalkan irigasi yang sudah ada. 

    Pihak desa juga akan membangun pipa saluran air sepanjang 2,5 kilometer yang sumber air tersebut berasal dari desa terdekat yakni Desa Cimudal.

    Saluran air dengan debit air sebanyak 1,2 liter per detik ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga dan mengairi sawah.

    Selain itu, Suharno juga mengajak warga untuk melakukan reboisasi atau
    penghijauan secara mandiri terutama di sekitar mata air desa.

    “Reboisasi harusnya kesadaran sendiri, tetapi kadang susah,” ungkapnya.

    Baca: Dampak El Nino sudah terasa, sejumlah daerah alami kekeringan

    Suharno berharap ada kerjasama dari warga untuk menghadapi El Nino. Selain
    itu, ia juga berharap perhatian dari pemerintah daerah untuk meminimalisir dampak El Nino bagi petani di daerahnya. 

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu
    permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat
    dari biasanya.

    El Nino Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali berselang seling dengan fenomena La Nina.

    Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    Penulis: Nurakhmayani

  • Imbas El Nino, Petani di Banjarsari Ciamis, Jawa Barat Tunda Masa Tanam

    Imbas El Nino, Petani di Banjarsari Ciamis, Jawa Barat Tunda Masa Tanam

    7cloud.asia – Hujan yang tak kunjung turun akibat fenomena El Nino, membuat para petani di Ciamis Jawa Barat harus menunda musim tanamnya.

    Tak hanya itu, kemarau panjang imbas El Nino juga mengakibatkan palawija yang ditanam petani juga tak bisa tumbuh dengan baik.  

    Imbas El Nino ini angat dirasakan para petani di Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Salah satunya Isla, 64 tahun. Petani asal desa Kawasen ini terpaksa melewatkan musim tanam yang harusnya dilakukan akhir Agustus lalu. 

    “Ya gimana lagi? Ga hujan-hujan, tanahnya juga kering kurang air dan zat asamnya,” kata Isla ketika ditemui 7cloud.asia pada Kamis (31/08/2023).

    Dengan kondisi seperti ini, ia harus menunggu 3 bulan lagi untuk menanam padi. Itu pun kalau hujan, lanjutnya, kalau masih kemarau ya harus mundur lagi.

    Baca: Kekeringan di NTB masuk level awas

    Di saat musim kemarau seperti saat ini, Isla menjelaskan para petani banyak yang menanam palawija. Namun, banyak juga yang gagal menanam palawija karena kondisi tanahnya sudah terlalu kering.

    Dia pun juga mencoba menanam kacang, tetapi tanaman ini belum sempat dipanen karena mati dalam beberapa hari saja.

    “Petani mah sekarang susah, mau tanam apa-apa juga susah. Mati semua,” keluhnya.

    Musim kemarau banyak membuat petani gagal panen atau hasil panennya
    berkurang jauh. Seperti yang Isla alami.

    Baca: Imbas El Nino, harga beras naik warga mulai konsumsi palawija

    Dia menjelaskan pada musim panen akhir Juli lalu, hasil gabah yang ia dapat hanya 6 kuintal. Padahal ia biasa mendapat 8 kuintal setiap panennya dari 2 petak sawah yang ia miliki.

    Meski demikian, ia masih bersyukur karena bisa menjual gabah dengan harga tinggi, yaitu Rp7000 per kilogram. Biasanya ia hanya menjual dengan harga Rp4500 hingga Rp5000 per kilogram.

    Sebelumnya, Menteri Pertanian atau Mentan Syahrul Yasin Limpo telah
    memperkirakan dampak El Nino tahun ini mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.

    Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras
    antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton.

    Baca: Imbas El Nino, produksi padi nasional bisa kurang hingga 1,2 juta ton

    Kementerian Pertanian telah mengantisipasi dampak El Nino dengan menggenjot produksi dan produktivitas petani.

    Antisipasi tersebut dimulai dari perencanaan hingga implementasi di sawah dan
    ladang yang senantiasa dipantau secara seksama yang sudah dilakukan jauh-jauh
    hari sebelum El Nino memuncak di bulan-bulan ini.

    Namun, pada musim kemarau tahun ini, Indonesia harus dihadapkan dengan
    fenomena El Nino yang berdampak pada intensitas panas yang lebih tinggi yang
    berakibat pada kekeringan dan kurangnya ketersediaan air.

    “Melalui analisa data dan lapangan bahwa kita sudah siap, sekeras apapun El Nino, kekurangan kita antara 380 ribu ton-1,2 juta ton,” ucapnya.

    Baca: Imbas El Nino, produksi beras di Ciamis menurun

    Untuk mengatasi hal ini Kementan telah mempersiapkan booster kegiatan
    penanaman lebih dari 500 ribu hektar selain dari reguler yang ada.

    Penambahan penanaman padi di 500 ribu hektar ini berada di daerah hijau, yakni
    daerah dengan cadangan air yang mencukupi.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kemarau Panjang Membuat Biaya Tanam Melonjak, Untuk Mengairi Sawah Petani di Lebak Harus Menyewa Pompa

    Kemarau Panjang Membuat Biaya Tanam Melonjak, Untuk Mengairi Sawah Petani di Lebak Harus Menyewa Pompa

    7cloud.asia – Kemarau panjang imbas El Nino berdampak besar bagi para petani, termasuk petani di Lebak Banten. Sawah mereka mengalami kekeringan dani serangan hama yang merajalela membuat gagal panen membayang petani. 

    Untuk memenuhi kebutuhan air guna mengairi sawahnya warga menggunakan pompa mandiri, seperti yang dilakukan petani di Cibadak, Lebak, Banten. 

    Petani yang mampu secara mandiri menggunakan pompa dengan menyedot air dari kali Cisangu agar terpenuhi ketersediaan pasokan air.

    “Kami terpaksa memanfaatkan pompa dengan biaya sendiri agar tanaman padi bisa dipanen. Bahkan sejak sepekan kemarin ini sudah habis membeli bahan bakar Rp350 ribu,” ungkap Didin  seorang petani di Blok Lalay, Cibadak Kabupaten Lebak seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca Juga: Korban Akibat Bendungan Jebol di Libya Diperkirakan Mencapai Lebih dari 5000 Orang

    Menurutnya, sejak sepekan terakhir ia menggunakan pompa dengan kapasitas tiga inci untuk mengaliri tanaman padi seluas 1 hektare. 

    Laki-laki berusia 55 tahun ini menjelaskan areal tanaman padi di blok Lalay seluas 30 hektare usia padi rata-rata 30 hari setelah tanam. Sehingga diperlukan pengairan agar tetap tumbuh dan bisa dipanen.

    Kondisi serupa juga dialami Yasin. Petani di Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak ini dalam mengatasi kekeringan dengan cara menggunakan pompa untuk menyedot air dari Sungai Ciujung.

    “Kami hanya menggunakan pompa dengan kapasitas empat inci dan bisa mengaliri lima hektar,” jelas Yasin.

    Dengan menggunakan pompa ini, tak bisa dipungkiri biaya produksi menjadi meningkat.

    Baca Juga: PDAM Mati Picu Krisis Air Bersih di Kota Makassar, Penjual Air Bersih dari Sumur Bor Laris Manis

    Menurut pria berusia 55 tahun ini, pada musim kemarau biaya produksi bisa mencapai Rp13 juta per hektare. Padahal biasanya biaya produksi Rp8 juta/hektare.

    “Kami berharap tanaman padi seluas dua hektare bisa dipanen pada awal November 2023 dengan pompa itu,” harap Yasin.

    Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar menjelaskan saat ini pihaknya telah mengajukan pompa ke Pemerintah Provinsi Banten. Tetapi hingga kini belum terealisasi.

    Selanjutnya Deni menjelaskan para petani yang memiliki sumber mata air permukaan cukup membutuhkan pompa agar sawah bisa terairi dan padi dapat tumbuh subur dan dipanen.

    “Kami berharap Pemerintah Provinsi Banten dapat membantu pompa untuk mengatasi kekeringan. Bahkan seluas 238 hektar terancam gagal panen akibat kemarau itu,” harap Deni.

    Reporter: Nurakhmayani 

  • Petani Melon di Pariaman Terapkan Smart Farming

    7cloud.asia – Aplikasi smart farming saat ini sudah digunakan oleh para petani di beberapa daerah.

    Penerapan smart farming ini antara lain diterapkan petani di Kampung Apar, Pariaman, Sumatera Barat.

    Di Kampung Apar Innovation Center (KAIC) para petani melon menerapkan smart farming dengan sistem hidroponik yang terkoneksi dengan ponsel pintar (smart phone).

    Para petani melon tersebut sebelumnya telah mendapatkan pelatihan smart farming dari PT. Pertamina Patra Niaga Sumbagut melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Minangkabau pada akhir Agustus lalu.

    “Pertamina Patra Niaga DPPU Minangkabau sangat mendukung kegiatan pengembangan pertanian yang menerapkan aspek Energi Baru Terbarukan (EBT),” jelas Operation Head PT Pertamina Patra Niaga DPPU Minangkabau, I Komang Budhiarta seperti dikutip Radar Sumbar.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kapasitas (capacity building) dan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) terhadap masyarakat yang ada di Desa Kampung Apar.

    Dengan metode smart farming, lanjut Komang, petani dapat mengecek kondisi ph (tingkat keasaman) tanah dan mengairi secara otomatis tanaman tersebut menggunakan aplikasi di telepon pintar.

    Daya energi yang digunakan terintergrasi melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 6,54 kWp.

    Ditambah pemakaian bahan media tanam dan pupuk organik yang meminimalisasi penggunaan bahan-bahan kimia.

    “Dengan begitu, pertanian yang diterapkan bisa berkembang selaras dengan konsep pertanian hijau (green agriculture),” paparnya.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan jamur dan tanaman untuk bersihkan polusi tanah

    Dalam aplikasi smart farming tersebut terdapat berbagai variable dalam pemantauan tumbuh kembang tanaman. Seperti kelembapan suhu, cahaya injeksi pupuk, jumlah buah dan besaran buah.

    Selain itu aplikasi smart farming juga sebagai variable control treatment dalam memelihara varietas produk buah yang unggul. Selain itu juga laju pengairan dapat terkontrol otomatis dari sistem.

    Dengan begitu, dapat membuat waktu penyiraman yang efektif dan efisien.

    Sistem smart farming ini disambut baik oleh para petani melon dan pemuda di Kampung Apar ini. Seperti yang diakui ketua kelompok KAIC, Rasmiwati.

    Dia menjelaskan, kelompoknya memerlukan ilmu untuk memajukan pertanian dan hasil panen.

    Baca: Pupuk kandang lebih bagus ketimbang pupuk kimia

    Petani telah mendapat bantuan berupa satu paket sistem digitalisasi teknologi berupa pemberian 50 sensor arus eddy masing-masing polybag.

    Petani juga menerima barcoding dalam greenhouse yang terintalasikan dengan satu set controller elektronik dan satu paket cloud databased dan mobile application.

    Bantuan ini menjadi terobosan dalam pengembangan pertanian di Kampung Apar yang memiliki keterbatasan dalam pengairan yang selama ini mengandalkan sawah tadah hujan.

    “Kami sudah dua kali panen, semoga panen selanjutnya dapat berkembang lebih optimal dengan adanya pendampingan dari PT Pertamina Patra Niaga DPPU Minangkabau,” urai Rismawati.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Imbas Kekeringan, Petani di Bogor Dapat Asuransi Rp 6 Juta.

    Imbas Kekeringan, Petani di Bogor Dapat Asuransi Rp 6 Juta.

    7cloud.asia – Bencana kekeringan membawa dampak buruk bagi para petani. Seperti yang dialami petani di Kota Bogor, Jawa Barat, banyak mengalami gagal panen. Pemerintah setempat memberikan asuransi untuk petani.

    Bupati Bogor, Iwan Setiawan mengatakan, pihaknya menyiapkan asuransi untuk 25 ribu hektare sawah petani yang terkena dampak kekeringan.

    “Tahun lalu, di 2022, kita menargetkan hanya 10 ribu hektare sawah yang diasuransikan. Nah tahun ini sebagai bagian dari antisipasi, kita naikkan jadi 25 ribu hektare. Karena sejak jauh hari juga BMKG telah memprediksi dampak kekeringan ini, jadi kita juga sosialisasikan ke para petani,” papar Iwan seperti yang dikutip Detik.com.

    baca juga: atasi kemarau dampak el-nino 60 persen embung masih aman

    Selanjutnya Iwan menjelaskan, upaya ini merupakan langkah jangka pendek untuk meminimalisasi dampak kekeringan. Klaim asuransi yang bisa diterima sebesar Rp 6 juta per hektare.

    “Kita koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat untuk menangani dampak kekeringan ini,” katanya.

    Sementara itu, Plt Kepala Distanhorbun (Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan) Kabupaten Bogor, Tatang Mulyadi, mengatakan asuransi tersebut ditanggung pemerintah kabupaten bersama pemerintah pusat.

    Hingga kini sebanyak 41 kelompok tani (poktan) yang mengajukan klaim asuransi, dengan luas sawah mencapai 221 hektare yang tersebar di 11 kecamatan.

    “Sejauh ini yang mengajukan asuransi itu sudah sekitar 16.800 hektare, kami terus mendorong agar mereka yang belum mengasuransikan lahannya bisa segera masuk. Ini menjadi bukti pemerintah hadir melindungi para petani,” ucap Tatang.

    baca juga: bmkg dampak el-nino 2023 masih terkendali

    Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia sejak beberapa bulan yang lalu merupakan dampak dari fenomena El Nino.

    El Nino merupakan fenomena cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur yang menjadi lebih hangat dari biasanya.

    Biasanya terjadi setiap 5 atau 7 tahun sekali. Fenomena alami ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia.

    baca juga: dampak el nino kekeringan di bali meluas

    Di sektor pertanian, El Nino sangat berpengaruh bagi para petani. Tidak hanya mengalami kekeringan, tetapi petani juga harus menghadapi berbagai penyakit padi dan hama.

    El Nino menyebabkan penyebaran penyakit yang lebih cepat dan merusak tanaman serta mengurangi hasil panen.    

    Reporter: Nurakhmayani

  • Limbah Pabrik Coklat Mencemari Aliran Irigasi Pertanian, Petani Mengeluh

    Limbah Pabrik Coklat Mencemari Aliran Irigasi Pertanian, Petani Mengeluh

    7cloud.asia – Limbah pabrik coklat PT. Federal Food Internusa mencemari aliran irigasi pertanian di Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten. Para petani mengeluhkan tingginya tingkat kontiminasi tersebut.

    Salah seorang petani sayur, M. Rohman (50), menjelaskan pencemaran limbah coklat ini sebenarnya sudah lama terjadi.

    “Soal pencemaran air limbah coklat ini memang sudah lama terjadi. Dan ini sudah kita keluhkan ke perusahaan, tapi tidak ada tanggapan. Selama ini saya terpaksa juga memanfaatkan air limbah ini karena di musim kemarau sudah tidak ada sumber air lagi yang bisa dimanfaatkan,” ucap salah satu petani sayur, M Rohman (50), dikutip Antaranews pada Sabtu (28/10/2023)

    baca: kali bekasi tercemar limbah ribuan warga krisis air bersih

    Menurutnya, lima tahun lalu dirinya pun sudah merasakan dampak dari pencemaran limbah pabrik tersebut.

    “Karena sejak saya garap lahan sayur ini pun sudah ada pencemaran. Apa lagi sekarang kan musim kemarau, dampak limbah itu semakin parah saja,” ucapnya.

    Pencemaran limbah ini tak hanya berdampak langsung pada lahan pertanian. Tetapi juga mengakibatkan pencemaran air galian warga yang berada di dekat aliran sungai setempat.

    “Memang air limbah ini kalau ke tumbuhan tidak mematikan. Tapi, kalau hasil panen atau kualitas sayur maupun padi itu jelek. Seperti saya tanam timun itu hasilnya tidak normal, biasanya panen satu kuintal sekarang hanya 50 kilogram saja. Terus, selain ke tumbuhan air galian untuk air bersih juga jadinya terdampak jadi bau,” paparnya.

    baca: krisis air bersih di muara angke warga harus siapkan rp400 ribu untuk beli air bersih

    Hal senada juga diungkapkan oleh Abdul Rosid (48), warga Talagasari, Cikupa. Menurutnya pencemaran limbah coklat tersebut telah membuat tidak nyaman warga sekitaran pabrik.

    Pasalnya, aliran limbah yang dibuang itu menimbulkan aroma bau dan tak sedap. “Iya bau, apalagi kalau siang hari terus kena sinar mata hari, makin parah aja baunya sampe menyengat,” ungkapnya.

    Rosid berharap agar Pemerintah Kabupaten Tangerang dapat menindaklanjuti keluhan warga atas pencemaran limbah tersebut.

    Dengan demikian warga yang tinggal di sekitar pabrik tersebut tidak terganggu dengan pencemaran limbah atau udara dari kegiatannya.

    baca: pdam mati picu krisis air bersih di kota makassar penjual air bersih dari sumur bor laris manis

    “Saya berharap pemerintah untuk menindak pabrik itu secepatnya. Karena kalau dibiarkan ini sangat membahayakan kesehatan kami,” ujar Rosid.

    Sementara itu, di lokasi pabrik pengelolaan coklat terlihat aliran irigasi di sekitarnya dipenuhi busa dengan berwarna hitam pekat.

    Bahkan, dari limbah tersebut mengandung bau tak sedap hingga mengganggu pernafasan.

    Kemudian, saat mencoba mengelilingi sekitar bangunan pabrik, terlihat juga adanya kandungan seperti minyak yang mengakibatkan rumput dan tumbuhan di sekitar irigasi mati.

    Reporter: Nurakhmayani

    .