7cloud.asia – Hujan yang tak kunjung turun akibat fenomena El Nino, membuat para petani di Ciamis Jawa Barat harus menunda musim tanamnya.
Tak hanya itu, kemarau panjang imbas El Nino juga mengakibatkan palawija yang ditanam petani juga tak bisa tumbuh dengan baik.
Imbas El Nino ini angat dirasakan para petani di Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Salah satunya Isla, 64 tahun. Petani asal desa Kawasen ini terpaksa melewatkan musim tanam yang harusnya dilakukan akhir Agustus lalu.
“Ya gimana lagi? Ga hujan-hujan, tanahnya juga kering kurang air dan zat asamnya,” kata Isla ketika ditemui 7cloud.asia pada Kamis (31/08/2023).
Dengan kondisi seperti ini, ia harus menunggu 3 bulan lagi untuk menanam padi. Itu pun kalau hujan, lanjutnya, kalau masih kemarau ya harus mundur lagi.
Baca: Kekeringan di NTB masuk level awas
Di saat musim kemarau seperti saat ini, Isla menjelaskan para petani banyak yang menanam palawija. Namun, banyak juga yang gagal menanam palawija karena kondisi tanahnya sudah terlalu kering.
Dia pun juga mencoba menanam kacang, tetapi tanaman ini belum sempat dipanen karena mati dalam beberapa hari saja.
“Petani mah sekarang susah, mau tanam apa-apa juga susah. Mati semua,” keluhnya.
Musim kemarau banyak membuat petani gagal panen atau hasil panennya
berkurang jauh. Seperti yang Isla alami.
Baca: Imbas El Nino, harga beras naik warga mulai konsumsi palawija
Dia menjelaskan pada musim panen akhir Juli lalu, hasil gabah yang ia dapat hanya 6 kuintal. Padahal ia biasa mendapat 8 kuintal setiap panennya dari 2 petak sawah yang ia miliki.
Meski demikian, ia masih bersyukur karena bisa menjual gabah dengan harga tinggi, yaitu Rp7000 per kilogram. Biasanya ia hanya menjual dengan harga Rp4500 hingga Rp5000 per kilogram.
Sebelumnya, Menteri Pertanian atau Mentan Syahrul Yasin Limpo telah
memperkirakan dampak El Nino tahun ini mengakibatkan produksi pertanian Indonesia turun.
Mentan menyebut, El Nino akan mengakibatkan Indonesia kekurangan stok beras
antara 380 ribu ton hingga 1,2 juta ton.
Baca: Imbas El Nino, produksi padi nasional bisa kurang hingga 1,2 juta ton
Kementerian Pertanian telah mengantisipasi dampak El Nino dengan menggenjot produksi dan produktivitas petani.
Antisipasi tersebut dimulai dari perencanaan hingga implementasi di sawah dan
ladang yang senantiasa dipantau secara seksama yang sudah dilakukan jauh-jauh
hari sebelum El Nino memuncak di bulan-bulan ini.
Namun, pada musim kemarau tahun ini, Indonesia harus dihadapkan dengan
fenomena El Nino yang berdampak pada intensitas panas yang lebih tinggi yang
berakibat pada kekeringan dan kurangnya ketersediaan air.
“Melalui analisa data dan lapangan bahwa kita sudah siap, sekeras apapun El Nino, kekurangan kita antara 380 ribu ton-1,2 juta ton,” ucapnya.
Baca: Imbas El Nino, produksi beras di Ciamis menurun
Untuk mengatasi hal ini Kementan telah mempersiapkan booster kegiatan
penanaman lebih dari 500 ribu hektar selain dari reguler yang ada.
Penambahan penanaman padi di 500 ribu hektar ini berada di daerah hijau, yakni
daerah dengan cadangan air yang mencukupi.
Reporter: Nurakhmayani

Leave a Reply