7cloud.asia – Aplikasi smart farming saat ini sudah digunakan oleh para petani di beberapa daerah.
Penerapan smart farming ini antara lain diterapkan petani di Kampung Apar, Pariaman, Sumatera Barat.
Di Kampung Apar Innovation Center (KAIC) para petani melon menerapkan smart farming dengan sistem hidroponik yang terkoneksi dengan ponsel pintar (smart phone).
Para petani melon tersebut sebelumnya telah mendapatkan pelatihan smart farming dari PT. Pertamina Patra Niaga Sumbagut melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Minangkabau pada akhir Agustus lalu.
“Pertamina Patra Niaga DPPU Minangkabau sangat mendukung kegiatan pengembangan pertanian yang menerapkan aspek Energi Baru Terbarukan (EBT),” jelas Operation Head PT Pertamina Patra Niaga DPPU Minangkabau, I Komang Budhiarta seperti dikutip Radar Sumbar.
Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak
Kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kapasitas (capacity building) dan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) terhadap masyarakat yang ada di Desa Kampung Apar.
Dengan metode smart farming, lanjut Komang, petani dapat mengecek kondisi ph (tingkat keasaman) tanah dan mengairi secara otomatis tanaman tersebut menggunakan aplikasi di telepon pintar.
Daya energi yang digunakan terintergrasi melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 6,54 kWp.
Ditambah pemakaian bahan media tanam dan pupuk organik yang meminimalisasi penggunaan bahan-bahan kimia.
“Dengan begitu, pertanian yang diterapkan bisa berkembang selaras dengan konsep pertanian hijau (green agriculture),” paparnya.
Baca: Ilmuwan AS gunakan jamur dan tanaman untuk bersihkan polusi tanah
Dalam aplikasi smart farming tersebut terdapat berbagai variable dalam pemantauan tumbuh kembang tanaman. Seperti kelembapan suhu, cahaya injeksi pupuk, jumlah buah dan besaran buah.
Selain itu aplikasi smart farming juga sebagai variable control treatment dalam memelihara varietas produk buah yang unggul. Selain itu juga laju pengairan dapat terkontrol otomatis dari sistem.
Dengan begitu, dapat membuat waktu penyiraman yang efektif dan efisien.
Sistem smart farming ini disambut baik oleh para petani melon dan pemuda di Kampung Apar ini. Seperti yang diakui ketua kelompok KAIC, Rasmiwati.
Dia menjelaskan, kelompoknya memerlukan ilmu untuk memajukan pertanian dan hasil panen.
Baca: Pupuk kandang lebih bagus ketimbang pupuk kimia
Petani telah mendapat bantuan berupa satu paket sistem digitalisasi teknologi berupa pemberian 50 sensor arus eddy masing-masing polybag.
Petani juga menerima barcoding dalam greenhouse yang terintalasikan dengan satu set controller elektronik dan satu paket cloud databased dan mobile application.
Bantuan ini menjadi terobosan dalam pengembangan pertanian di Kampung Apar yang memiliki keterbatasan dalam pengairan yang selama ini mengandalkan sawah tadah hujan.
“Kami sudah dua kali panen, semoga panen selanjutnya dapat berkembang lebih optimal dengan adanya pendampingan dari PT Pertamina Patra Niaga DPPU Minangkabau,” urai Rismawati.
Reporter: Nurakhmayani
Leave a Reply