Tag: psikolog

  • AI Bisa Salah Diagnosis: 3 Kesalahan yang Umum Ditemukan Saat Curhat dengan AI

    AI Bisa Salah Diagnosis: 3 Kesalahan yang Umum Ditemukan Saat Curhat dengan AI

    7cloud.asia – Fenomena curhat dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) sedang marak, bukan hanya di kalangan Gen Z dan Milenial, tapi juga usia lanjut (lansia).

    Kehadiran AI seolah jadi obat mujarab untuk mengisi kesepian yang rentan kita alami di era serba digital ini.

    Di Indonesia, sebuah survei pada 2025 menunjukkan bahwa 58 persen (dari 3.611 responden) bahkan mempertimbangkan AI sebagai pengganti psikolog.

    Beberapa orang menilai bahwa AI lebih mudah diakses kapan pun dibutuhkan. Biayanya lebih terjangkau dibandingkan psikolog atau psikiater.

    Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, AI memiliki sejumlah kelemahan. Kita perlu berpikir ulang jika ingin menjadikan teknologi ini sebagai pengganti praktisi kesehatan mental sepenuhnya. Hal ini terutama terkait dengan keamanan dan keakuratan saran psikologis yang diberikan AI.

    Artikel ini akan menjelaskan mengapa kita sebaiknya tetap harus berkonsultasi dengan psikolog/psikiater, alih-alih mengandalkan AI dalam mengatasi kondisi mental.

    Baca: Makin banyak orang yang curhat dengan AI

    AI rentan membuat kesalahan
    Curhat dengan chatbot AI mungkin bisa membuat kita terbuai karena teknologi ini dirancang menyerupai sifat-sifat manusia (antropomorfisme).

    AI bisa bersikap hangat, memberikan respons emosional, berkomunikasi dengan ramah, dan menjawab nyaris semua pertanyaan tanpa membuat kita merasa dihakimi.

    Kemampuan tersebut tak lepas dari sistem pembelajaran bahasa AI yang menjadikan teknologi ini serba tahu dan seolah memahami kita.

    AI memiliki sistem pengolahan bahasa alami (NLP) untuk memahami dan berinteraksi layaknya manusia. Teknologi ini juga dikembangkan dengan sistem model bahasa besar (LLM) yang membuat pengetahuan AI sangat luas.

    Berkat rancangan tersebut, AI sanggup menganalisis dan menjelaskan nyaris semua hal yang kita tanyakan. Ditambah lagi, AI juga belajar menggunakan algoritme dari data dan pola interaksi dengan pengguna.

    Namun di sinilah masalahnya. Karena hanya dilatih berdasarkan pola dari preferensi pengguna, tanpa akal sehat maupun empati, AI rentan bias dan keliru dalam mengenali gejala maupun memberikan saran psikologis.

    Baca: Ketergantungan emosional kepada AI memicu gangguan kesehatan mental

    1. Salah diagnosis
    Peneliti dari Google DeepMind mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan bisa memberikan informasi dan diagnosis yang keliru, meskipun AI telah dilatih menggunakan data yang beragam dan berukuran sangat besar.

    Kondisi ini terjadi karena sistem AI hanya bisa bekerja dengan baik menggunakan pola data yang terkontrol. Akibatnya, AI kesulitan mengenali keadaan mental pasien yang tidak biasa, terselubung, dan membutuhkan pengamatan jangka panjang.

    Contohnya, AI akan kesulitan mengenali pasien dengan smiling depression, yakni seseorang yang tindakan dan ucapannya terlihat bahagia, padahal depresi berat.

    Sementara itu, psikolog dan pskiater terlatih untuk membaca bahasa tubuh, ekspresi, dan gejala-gejala masalah mental yang tak terucapkan oleh pasien.

    Contohnya, ketika kamu bilang “enggak apa-apa”, AI mungkin akan percaya begitu saja. Namun, psikolog bisa mengenali sesuatu yang tidak beres di balik jawabanmu.

    Karena “enggak apa-apa”-nya kamu justru bisa jadi tanda kuat bahwa kamu membutuhkan pertolongan.

    Baca: Anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

    2. Rentan halusinasi
    AI dirancang untuk selalu merespons, kendati dia tidak memiliki basis data yang cukup mengenai hal yang kita tanyakan.

    Selain itu, AI mengoleksi pengetahuan berdasarkan rekomendasi algoritme dari mesin pencarian berbasis engagement alias keterlibatan pengguna (seperti Google dan Youtube).

    Dampaknya, AI sering kali memaksakan jawaban yang sebenarnya tidak relevan ketika menjawab topik yang belum dia pahami atau informasinya masih minim di internet.

    Untuk konsultasi kesehatan mental, dampaknya bisa sangat buruk. Studi tahun 2025 dalam Journal of Medical Internet Research mengungkapkan bahwa AI rentan berhalusinasi, bahkan mendorong pengguna untuk bunuh diri.

    Pasalnya, AI tidak memiliki kemampuan untuk menilai risiko kondisi lawan bicaranya yang memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri.

    Hal ini berbeda dengan psikolog dan psikiater yang menjalani pelatihan klinis untuk memahami diagnosis, menyusun tindakan yang sesuai, serta menilai risiko secara mendalam dengan pendekatan berbasis bukti.

    Baca: Terlalu bergantung pada AI menurunkan kemampuan otak

    3. Bisa diskriminatif
    AI rentan memberikan penilaian tidak adil terhadap ras atau etnis tertentu (bias rasial), terlebih ketika data mengenai kelompok minoritas masih sangat minim.

    Ditambah lagi, penelitian psikologi masih banyak berfokus pada orang-orang kulit putih, berpendidikan tinggi, di negara kaya, dan demokratis.

    Akibatnya, AI berisiko memberikan diagnosis yang keliru dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas. AI juga tidak mampu membuat keputusan klinis yang adaptif.

    Bias rasial mungkin akan lebih minim didapati dari seorang psikolog atau psikiater yang memiliki kode etik berupa larangan melakukan tindakan diskriminatif terhadap pasien.

    Selain itu, psikolog atau psikiater terlatih untuk memberikan respons yang tepat seusai kondisi pasien.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ali Akbar Septiandri (PhD Candidate in Statistical Science, UCL) dan Jessica Christina Widhigdo (Dosen School of Psychology, Universitas Ciputra)

  • Seluruh Puskesmas di Jakarta Akan Sediakan Psikolog

    Seluruh Puskesmas di Jakarta Akan Sediakan Psikolog

    7cloud.asia – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menargetkan seluruh puskesmas di ibu kota memiliki layanan psikolog tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan layanan kesehatan mental di tingkat layanan primer.

    Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengungkapkan, saat ini dari total 44 puskesmas kecamatan di Jakarta, sebanyak 28 di antaranya sudah memiliki tenaga psikolog.

    “Tahun ini kita targetkan semua puskesmas memiliki psikolog. Jadi puskesmas benar-benar punya layanan kesehatan mental, termasuk layanan berhenti merokok dan konseling lainnya,” ujar Ani, Rabu (6/8/2025).

    Menurutnya, layanan kesehatan mental di puskesmas juga akan terintegrasi dengan layanan kesehatan jiwa di rumah sakit serta sistem konsultasi daring Jakcare yang bisa diakses 24 jam.

    Baca: JakCare bantu warga Jakarta yang punya masalah kesehatan mental

    “Ini kita integrasikan, jadi masyarakat bisa mengakses layanan mana pun. Apalagi dalam keadaan darurat, karena psikolog di puskesmas tidak bisa melayani 24 jam,” jelas Ani.

    Ia menambahkan, layanan Jakcare yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung itu dijalankan oleh psikolog profesional bersertifikat serta menjamin kerahasiaan identitas pengguna.

    “Jakcare ini dilayani oleh psikolog yang memiliki surat tanda registrasi, dan buka 24 jam. Kami komitmen menjaga kerahasiaan setiap masyarakat yang mengakses layanan ini,” tandasnya.

    Baca: Memilih buku self help yang berdampak pada kesehatan mental

    Dinkes DKI berharap penguatan layanan psikologis ini dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap dukungan kesehatan mental yang lebih mudah, cepat, dan terpercaya.

    Menurut data Kementerian Kesehatan, DKI Jakarta merupakan provinsi dengan share penderita gangguan kesehatan mental tertinggi secara nasional yakni sebanyak 24,3 persen

    Untuk itu, penanganan orang dengan gangguan kesehatan mental harus mendapatkan perhatian serius.

    Baca: Teman Cerita dari Ganjar Pranowo bantu anak muda yang punya masalah kesehatan mental

  • Kapan Kita Harus Berkonsultasi ke Psikolog? Sadari Ciri Diri Butuh Konseling

    Kapan Kita Harus Berkonsultasi ke Psikolog? Sadari Ciri Diri Butuh Konseling

    7cloud.asia – Ada banyak alasan mengapa seseorang berkonsultasi dengan psikolog. Mulai dari ujian hidup yang berat, trauma, emosi yang tak stabil, hubungan yang bermasalah, sampai kondisi well-being yang butuh ditingkatkan.

    Meski bermanfaat di banyak aspek kehidupan, kita sering kali masih ragu: apakah kita benar-benar membutuhkan konsultasi ke psikolog? Untuk kamu yang sedang membaca artikel ini: bisa jadi saat ini juga adalah waktu yang paling tepat untuk berkonsultasi.

    Ketika kita mempertimbangkan untuk mendapatkan bantuan profesional, kemungkinan ada sesuatu yang mengganggu sehingga kita membutuhkan pertolongan. Kondisi ini sudah cukup untuk jadi alasan mencari bantuan.

    Jika kamu masih ragu harus ke psikolog atau tidak, lanjutkan membaca.

    Kenapa kita harus ke psikolog? Ada kalanya isi kepala kita terlalu ramai untuk dikendalikan.

    Berkonsultasi ke psikolog dapat membantu kita menemukan dasar dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku diri sendiri. Kita juga dapat belajar untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara lebih sehat.

    Melalui konsultasi ke psikolog, kita bisa:
    Mengenali dan menghadapi masalah dalam diri,
    Mengevaluasi pola pikir atau keyakinan yang menghambat,
    Meningkatkan kesejahteraan mental,
    Mengatasi masalah kesehatan mental, serta
    Membangun pola hidup yang lebih sehat dan seimbang.

    Baca: Anak muda rentan alami kesehatan mental, tapi sedikit yang ke psikolog

    Apa bedanya mental health dan mental illness?
    Kita sering mendengar istilah “mental health” dan “mental illness” digunakan ketika membahas soal kondisi mental dan emosional. Namun, terkadang istilah ini disalahartikan.

    Mental health artinya kesehatan mental yaitu kondisi batin diri yang memampukan kita menghadapi segala naik dan turun kehidupan.

    Kesehatan mental kita baik jika kita dapat menikmati hidup, punya hubungan yang kuat dengan orang lain, dapat menghadapi stres dengan sehat, punya tujuan hidup, dan mengenali diri sendiri.

    Sementara Mental illness artinya gangguan mental yaitu kondisi terganggunya pikiran, perasaan, dan persepsi yang mengganggu keseharian kita.

    Terdapat berbagai jenis gangguan mental yang dibedakan berdasarkan pikiran, perasaan, dan perilaku yang muncul.

    Perbedaan keduanya dapat dipahami seperti ini. Setiap orang pasti pernah merasakan perasaan negatif di tengah situasi sulit, misalnya sedih karena putus dari pacar atau cemas menjelang perubahan besar.

    Namun, perasaan negatif tersebut belum tentu berarti kita punya gangguan mental, tetapi jelas berdampak pada kesehatan mental kita.

    Perasaan negatif ini jadi tak sehat ketika kesehatan mental kita signifikan terdampak. Ketika kondisi kesehatan mental kita tak baik-baik saja, kita jadi sulit pulih dari kondisi kehilangan atau duka.

    Maka dari itu, konsultasi akan membantu kita meningkatkan kesehatan mental, mengembangkan ketahanan diri, dan menjaga kesejahteraan mental kita.

    Baca: Kesehatan mental makin penting, perlu sosialisasi sejak dini

    Lalu, bagaimana dengan gangguan mental? Ciri yang muncul dari gangguan mental adalah sebagai berikut.
    1. Putus asa: Merasa stuck, kehilangan semangat, atau tak berdaya.

    2. Apatis: Tak lagi tertarik dengan hal-hal yang sebelumnya membuat kita senang atau membawa kepuasan.

    3. Marah: Merasakan kemarahan dan kebencian yang terlalu sering atau tak sesuai proporsi ideal.

    4. Stres: Mengalami kewalahan, merasa tak mampu mengerjakan sesuatu, tak bisa beristirahat, atau merasa segala hal sangat sulit meski hal sederhana sekali pun.

    5. Bersalah: Merasa malu akan diri sendiri, tak pantas mendapatkan hal baik, dan hanya pantas menerima hal buruk.

    6. Cemas: Mengkhawatirkan terlalu banyak hal atau memiliki pikiran menyeramkan yang amat mengganggu.

    7. Kelelahan: Tidur lebih lama dari biasanya, sulit bangkit dari tempat tidur, atau merasa tak berenergi sepanjang hari.

    8. Insomnia: Sulit tidur atau mengalami gangguan saat tidur.

    Lalu, kapan kita butuh ke psikolog?
    Berkonsultasi pada psikolog tak perlu menunggu sampai di tahap gangguan mental. Ketika kita merasa kondisi kesehatan mental kita kurang baik, ini adalah alasan yang cukup untuk berkonsultasi.

    Coba tanya pada diri sendiri: apakah saya kesulitan menghadapi masalah hidup? Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.

    Baca: Seluruh Puskesmas di Jakarta akan sediakan psikolog

    Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi perasaan mereka. Di momen tertentu, sebagian orang mengalami kenaikan berat badan, sebagian lainnya justru kebalikannya.

    Ada pula yang melakukan mekanisme koping yang kurang sehat seperti menjalani hubungan toksik, melakukan aktivitas yang membahayakan nyawa, atau menumbuhkan kebiasaan menunda.

    Sebagian lain menarik diri dari teman atau keluarga. Ada pula yang secara tak sadar membesar-besarkan pengalaman kurang mengenakan yang dirasakan.

    Entah apa pun bentuknya, gangguan mental dapat semakin serius jika tak ditangani. Gangguan ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan: menurunkan produktivitas kerja, merenggangkan hubungan, dan melemahkan kesehatan fisik. Dalam kasus tertentu, bahkan bisa berujung pada bunuh diri.

    Coba tanyakan pada diri sendiri: apakah saya merasakan beban mental yang memengaruhi keseharian dan kesejahteraan diri? Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.

    Gangguan mental dialami oleh 970 juta orang di dunia dan menjadi penyebab utama seseorang mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

    Satu dari lima orang dewasa dan lebih dari satu dari sepuluh anak serta remaja memiliki gangguan mental.

    Di Indonesia, satu dari tiga anak muda di Indonesia rentan mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang umum dirasakan adalah gangguan kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

    Jangan biarkan stigma akan kesehatan mental menghambat kita mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk sehat dan memiliki hidup yang bermakna. Konsultasi dapat membantu kita meraihnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Simon Sherry (Clinical Psychologist and Professor in the Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University) dan diterjemahkan oleh Kezia Kevina Harmoko.

  • Berkonsultasi kepada Psikolog Bukan Berarti Kita “Gila”

    Berkonsultasi kepada Psikolog Bukan Berarti Kita “Gila”

    7cloud.asia – Ada banyak alasan mengapa seseorang berkonsultasi dengan psikolog. Mulai dari ujian hidup yang berat, trauma, emosi yang tak stabil, hubungan yang bermasalah, sampai kondisi well-being yang butuh ditingkatkan.

    Berkonsultasi ke psikolog dapat membantu kita menemukan dasar dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku diri sendiri. Kita juga dapat belajar untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara lebih sehat.

    Namun, ada sebagian orang yang menilai konsultasi ke psikolog tidak bermanfaat karena berpikir bahwa masalah yang mereka hadapi tak seserius itu sampai butuh konsultasi ke psikolog.

    Namun, sebenarnya kita tak butuh alasan yang besar dan mendalam untuk konsultasi dengan psikolog.

    Kita bisa berkonsultasi ke psikolog untuk mengenal diri kita lebih dalam. Bisa juga untuk melatih kemampuan tertentu, memperbaiki kualitas hubungan, atau meningkatkan produktivitas.

    Ada pula sebagian orang yang berkonsultasi untuk membantu mereka menggapai target tertentu atau mereka merasa hampa tanpa alasan.

    Baca: Kapan kita harus berkonsultasi ke psikolog?

    Apa pun alasannya, meski tak terkesan sebagai sebuah “masalah”, kita boleh berkonsultasi ke psikolog. Kita bisa berkonsultasi sekadar untuk membahas sesuatu tentang diri kita yang ingin kita eksplorasi.

    Konsultasi adalah sebuah proses. Efektivitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari alokasi waktu sampai kecocokan dengan psikolog.

    Yang jelas, tak ada solusi instan untuk kesehatan mental. Perkembangan bisa memakan waktu beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. Meski terkesan berat, berilah waktu untuk proses konsultasi bisa berdampak bagi kita.

    Sebagian orang berkonsultasi pada psikolog dengan perasaan skeptis atau tak terima. Hal ini perlu dihindari karena konsultasi tak akan membawa manfaat jika kita tidak benar-benar terlibat dalam prosesnya.

    Konsultasi psikologis merupakan proses penuh kerentanan. Maka dari itu, penting untuk menemukan psikolog yang dapat dipercaya dan sefrekuensi dengan kita. Psikolog juga memiliki berbagai spesialisasi dan pendekatan, jadi kita perlu memilih yang paling pas untuk kita.

    Bagaimana jika kita belum siap? Terdapat beberapa alasan pula untuk menunda konsultasi psikologis.

    Baca: Anak muda rentan alami masalah kesehatan mental, tapi sedikit yang ke psikolog

    Mungkin kita belum memiliki dana yang cukup. Mungkin ada prioritas lain, atau kita takut harus membuka kembali trauma yang tersimpan. Semua alasan ini valid.

    Konsultasi pada tenaga profesional dapat memakan banyak biaya dan upaya. Namun, manfaatnya tetap ada. Mungkin sekarang belum waktunya, tetapi bukan berarti tak akan ada waktu yang tepat.

    Jika kita masih ragu untuk berkonsultasi pada psikolog, tidak masalah kok. Kita dapat menelusuri terlebih dahulu alasan kita enggan untuk melakukannya.

    Mungkin kita enggan konsultasi karena mengkhawatirkan pandangan orang lain. Jika begitu, ingat bahwa terkadang orang lain bisa sangat pengertian, melebihi dari ekspektasi kita, dan tak ada salahnya untuk berinvestasi pada kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri.

    Perlu diingat pula bahwa ketika kita merasa tidak baik-baik saja, kita tak sendirian. Isu kesehatan mental dirasakan oleh banyak orang. Memiliki masalah kesehatan mental atau berkonsultasi pada psikolog bukan berarti kita “gila”.

    Gangguan mental dialami oleh 970 juta orang di dunia dan menjadi penyebab utama seseorang mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

    Satu dari lima orang dewasa dan lebih dari satu dari sepuluh anak serta remaja memiliki gangguan mental.

    Di Indonesia, satu dari tiga anak muda di Indonesia rentan mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang umum dirasakan adalah gangguan kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

    Jangan biarkan stigma akan kesehatan mental menghambat kita mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk sehat dan memiliki hidup yang bermakna. Konsultasi dapat membantu kita meraihnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Simon Sherry (Clinical Psychologist and Professor in the Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University) yang diterjemahkan oleh Kezia Kevina Harmoko.