Kapan Kita Harus Berkonsultasi ke Psikolog? Sadari Ciri Diri Butuh Konseling

Written by

in

7cloud.asia – Ada banyak alasan mengapa seseorang berkonsultasi dengan psikolog. Mulai dari ujian hidup yang berat, trauma, emosi yang tak stabil, hubungan yang bermasalah, sampai kondisi well-being yang butuh ditingkatkan.

Meski bermanfaat di banyak aspek kehidupan, kita sering kali masih ragu: apakah kita benar-benar membutuhkan konsultasi ke psikolog? Untuk kamu yang sedang membaca artikel ini: bisa jadi saat ini juga adalah waktu yang paling tepat untuk berkonsultasi.

Ketika kita mempertimbangkan untuk mendapatkan bantuan profesional, kemungkinan ada sesuatu yang mengganggu sehingga kita membutuhkan pertolongan. Kondisi ini sudah cukup untuk jadi alasan mencari bantuan.

Jika kamu masih ragu harus ke psikolog atau tidak, lanjutkan membaca.

Kenapa kita harus ke psikolog? Ada kalanya isi kepala kita terlalu ramai untuk dikendalikan.

Berkonsultasi ke psikolog dapat membantu kita menemukan dasar dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku diri sendiri. Kita juga dapat belajar untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara lebih sehat.

Melalui konsultasi ke psikolog, kita bisa:
Mengenali dan menghadapi masalah dalam diri,
Mengevaluasi pola pikir atau keyakinan yang menghambat,
Meningkatkan kesejahteraan mental,
Mengatasi masalah kesehatan mental, serta
Membangun pola hidup yang lebih sehat dan seimbang.

Baca: Anak muda rentan alami kesehatan mental, tapi sedikit yang ke psikolog

Apa bedanya mental health dan mental illness?
Kita sering mendengar istilah “mental health” dan “mental illness” digunakan ketika membahas soal kondisi mental dan emosional. Namun, terkadang istilah ini disalahartikan.

Mental health artinya kesehatan mental yaitu kondisi batin diri yang memampukan kita menghadapi segala naik dan turun kehidupan.

Kesehatan mental kita baik jika kita dapat menikmati hidup, punya hubungan yang kuat dengan orang lain, dapat menghadapi stres dengan sehat, punya tujuan hidup, dan mengenali diri sendiri.

Sementara Mental illness artinya gangguan mental yaitu kondisi terganggunya pikiran, perasaan, dan persepsi yang mengganggu keseharian kita.

Terdapat berbagai jenis gangguan mental yang dibedakan berdasarkan pikiran, perasaan, dan perilaku yang muncul.

Perbedaan keduanya dapat dipahami seperti ini. Setiap orang pasti pernah merasakan perasaan negatif di tengah situasi sulit, misalnya sedih karena putus dari pacar atau cemas menjelang perubahan besar.

Namun, perasaan negatif tersebut belum tentu berarti kita punya gangguan mental, tetapi jelas berdampak pada kesehatan mental kita.

Perasaan negatif ini jadi tak sehat ketika kesehatan mental kita signifikan terdampak. Ketika kondisi kesehatan mental kita tak baik-baik saja, kita jadi sulit pulih dari kondisi kehilangan atau duka.

Maka dari itu, konsultasi akan membantu kita meningkatkan kesehatan mental, mengembangkan ketahanan diri, dan menjaga kesejahteraan mental kita.

Baca: Kesehatan mental makin penting, perlu sosialisasi sejak dini

Lalu, bagaimana dengan gangguan mental? Ciri yang muncul dari gangguan mental adalah sebagai berikut.
1. Putus asa: Merasa stuck, kehilangan semangat, atau tak berdaya.

2. Apatis: Tak lagi tertarik dengan hal-hal yang sebelumnya membuat kita senang atau membawa kepuasan.

3. Marah: Merasakan kemarahan dan kebencian yang terlalu sering atau tak sesuai proporsi ideal.

4. Stres: Mengalami kewalahan, merasa tak mampu mengerjakan sesuatu, tak bisa beristirahat, atau merasa segala hal sangat sulit meski hal sederhana sekali pun.

5. Bersalah: Merasa malu akan diri sendiri, tak pantas mendapatkan hal baik, dan hanya pantas menerima hal buruk.

6. Cemas: Mengkhawatirkan terlalu banyak hal atau memiliki pikiran menyeramkan yang amat mengganggu.

7. Kelelahan: Tidur lebih lama dari biasanya, sulit bangkit dari tempat tidur, atau merasa tak berenergi sepanjang hari.

8. Insomnia: Sulit tidur atau mengalami gangguan saat tidur.

Lalu, kapan kita butuh ke psikolog?
Berkonsultasi pada psikolog tak perlu menunggu sampai di tahap gangguan mental. Ketika kita merasa kondisi kesehatan mental kita kurang baik, ini adalah alasan yang cukup untuk berkonsultasi.

Coba tanya pada diri sendiri: apakah saya kesulitan menghadapi masalah hidup? Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.

Baca: Seluruh Puskesmas di Jakarta akan sediakan psikolog

Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi perasaan mereka. Di momen tertentu, sebagian orang mengalami kenaikan berat badan, sebagian lainnya justru kebalikannya.

Ada pula yang melakukan mekanisme koping yang kurang sehat seperti menjalani hubungan toksik, melakukan aktivitas yang membahayakan nyawa, atau menumbuhkan kebiasaan menunda.

Sebagian lain menarik diri dari teman atau keluarga. Ada pula yang secara tak sadar membesar-besarkan pengalaman kurang mengenakan yang dirasakan.

Entah apa pun bentuknya, gangguan mental dapat semakin serius jika tak ditangani. Gangguan ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan: menurunkan produktivitas kerja, merenggangkan hubungan, dan melemahkan kesehatan fisik. Dalam kasus tertentu, bahkan bisa berujung pada bunuh diri.

Coba tanyakan pada diri sendiri: apakah saya merasakan beban mental yang memengaruhi keseharian dan kesejahteraan diri? Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.

Gangguan mental dialami oleh 970 juta orang di dunia dan menjadi penyebab utama seseorang mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Satu dari lima orang dewasa dan lebih dari satu dari sepuluh anak serta remaja memiliki gangguan mental.

Di Indonesia, satu dari tiga anak muda di Indonesia rentan mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang umum dirasakan adalah gangguan kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

Jangan biarkan stigma akan kesehatan mental menghambat kita mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk sehat dan memiliki hidup yang bermakna. Konsultasi dapat membantu kita meraihnya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Simon Sherry (Clinical Psychologist and Professor in the Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University) dan diterjemahkan oleh Kezia Kevina Harmoko.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *