Berkonsultasi kepada Psikolog Bukan Berarti Kita “Gila”

Written by

in

7cloud.asia – Ada banyak alasan mengapa seseorang berkonsultasi dengan psikolog. Mulai dari ujian hidup yang berat, trauma, emosi yang tak stabil, hubungan yang bermasalah, sampai kondisi well-being yang butuh ditingkatkan.

Berkonsultasi ke psikolog dapat membantu kita menemukan dasar dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku diri sendiri. Kita juga dapat belajar untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara lebih sehat.

Namun, ada sebagian orang yang menilai konsultasi ke psikolog tidak bermanfaat karena berpikir bahwa masalah yang mereka hadapi tak seserius itu sampai butuh konsultasi ke psikolog.

Namun, sebenarnya kita tak butuh alasan yang besar dan mendalam untuk konsultasi dengan psikolog.

Kita bisa berkonsultasi ke psikolog untuk mengenal diri kita lebih dalam. Bisa juga untuk melatih kemampuan tertentu, memperbaiki kualitas hubungan, atau meningkatkan produktivitas.

Ada pula sebagian orang yang berkonsultasi untuk membantu mereka menggapai target tertentu atau mereka merasa hampa tanpa alasan.

Baca: Kapan kita harus berkonsultasi ke psikolog?

Apa pun alasannya, meski tak terkesan sebagai sebuah “masalah”, kita boleh berkonsultasi ke psikolog. Kita bisa berkonsultasi sekadar untuk membahas sesuatu tentang diri kita yang ingin kita eksplorasi.

Konsultasi adalah sebuah proses. Efektivitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari alokasi waktu sampai kecocokan dengan psikolog.

Yang jelas, tak ada solusi instan untuk kesehatan mental. Perkembangan bisa memakan waktu beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. Meski terkesan berat, berilah waktu untuk proses konsultasi bisa berdampak bagi kita.

Sebagian orang berkonsultasi pada psikolog dengan perasaan skeptis atau tak terima. Hal ini perlu dihindari karena konsultasi tak akan membawa manfaat jika kita tidak benar-benar terlibat dalam prosesnya.

Konsultasi psikologis merupakan proses penuh kerentanan. Maka dari itu, penting untuk menemukan psikolog yang dapat dipercaya dan sefrekuensi dengan kita. Psikolog juga memiliki berbagai spesialisasi dan pendekatan, jadi kita perlu memilih yang paling pas untuk kita.

Bagaimana jika kita belum siap? Terdapat beberapa alasan pula untuk menunda konsultasi psikologis.

Baca: Anak muda rentan alami masalah kesehatan mental, tapi sedikit yang ke psikolog

Mungkin kita belum memiliki dana yang cukup. Mungkin ada prioritas lain, atau kita takut harus membuka kembali trauma yang tersimpan. Semua alasan ini valid.

Konsultasi pada tenaga profesional dapat memakan banyak biaya dan upaya. Namun, manfaatnya tetap ada. Mungkin sekarang belum waktunya, tetapi bukan berarti tak akan ada waktu yang tepat.

Jika kita masih ragu untuk berkonsultasi pada psikolog, tidak masalah kok. Kita dapat menelusuri terlebih dahulu alasan kita enggan untuk melakukannya.

Mungkin kita enggan konsultasi karena mengkhawatirkan pandangan orang lain. Jika begitu, ingat bahwa terkadang orang lain bisa sangat pengertian, melebihi dari ekspektasi kita, dan tak ada salahnya untuk berinvestasi pada kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri.

Perlu diingat pula bahwa ketika kita merasa tidak baik-baik saja, kita tak sendirian. Isu kesehatan mental dirasakan oleh banyak orang. Memiliki masalah kesehatan mental atau berkonsultasi pada psikolog bukan berarti kita “gila”.

Gangguan mental dialami oleh 970 juta orang di dunia dan menjadi penyebab utama seseorang mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Satu dari lima orang dewasa dan lebih dari satu dari sepuluh anak serta remaja memiliki gangguan mental.

Di Indonesia, satu dari tiga anak muda di Indonesia rentan mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang umum dirasakan adalah gangguan kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

Jangan biarkan stigma akan kesehatan mental menghambat kita mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk sehat dan memiliki hidup yang bermakna. Konsultasi dapat membantu kita meraihnya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Simon Sherry (Clinical Psychologist and Professor in the Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University) yang diterjemahkan oleh Kezia Kevina Harmoko.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *