7cloud.asia – Fenomena meningkatnya volume sampah makanan saat bulan Ramadan menjadi masalah tahunan di Indonesia, terutama akibat kebiasaan kalap makan dan hungry buying setelah seharian berpuasa.
Rasa lapar yang menumpuk selama puasa Ramadan sering kali membuat orang membeli atau mengambil makanan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas perut.
Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan uang dan gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan volume sampah makanan yang dapat merusak lingkungan.
Saat bulan Ramadan, jumlah sampah organik yang berasal dari sisa makanan di Indonesia naik rata-rata 20 persen. Indonesia sendiri merupakan salah satu penghasil sampah makanan terbesar di dunia.
Selanjutnya sampah makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan beban bagi lingkungan.
Baca: Puasa Ramadan justru memicu konsumsi dan belanja secara impulsif
Ke mana sampah pergi?
Setelah makanan terbuang dan menjadi food waste, pertanyaannya adalah, “Ke mana akhirnya sampah ini berlabuh?”
Dari rumah tangga, restoran, atau tempat berbuka puasa, sampah organik biasanya dikumpulkan di tempat sampah, lalu diangkut oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan sementara (TPS) sebelum akhirnya dibawa ke landfill alias tempat pembuangan akhir (TPA).
Sayangnya, di Indonesia, sistem pengolahan sampah termasuk sampah makanan masih menghadapi berbagai tantangan.
Sebagian besar sampah makanan langsung dibuang begitu saja ke TPA, tanpa proses pemilahan atau pengolahan lebih lanjut, sehingga menambah beban pada landfill yang sudah hampir penuh.
Bijak berbuka puasa
Saat Ramadan, kita perlu lebih bijak saat berbuka puasa untuk mengurangi sampah makanan langsung dari sumbernya (manusia).
Baca: Puasa Ramadan jadi media transformasi diri
Dengan mengambil makanan secukupnya, merencanakan konsumsi dengan baik, serta menghindari pembelian impulsif hanya karena promo atau porsi besar, kita bisa mengurangi limbah makanan yang tidak perlu.
Apakah mengurangi konsumsi cukup untuk mencegah bencana? Sayangnya tidak. Pengelolaan sampah organik yang sudah terlanjur ada juga harus diperhatikan.
Sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah makanan bisa kita manfaatkan kembali, misalnya sebagai kompos untuk pertanian atau pakan ternak. Ada juga teknologi biodigester untuk mengelola sampah menjadi energi.
Pemerintah juga harus memerbaiki pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Harus ada pemantauan kualitas lindi untuk mencegah pencemaran air tanah dan penyebaran penyakit di sekitar TPA.
Baca: Jakarta Recycle Centre untuk olah sampah makanan
Gas metana yang dihasilkan dari sampah organik juga sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja, melainkan dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk menyalakan kompor ataupun pembangkit listrik.
Terakhir, pemerintah juga perlu mendesain area penumpukan sampah yang lebih aman dan stabil untuk mencegah bencana longsor seperti yang pernah terjadi di berbagai TPA.
Dengan kombinasi konsumsi bijak saat berbuka dan pengelolaan sampah yang lebih baik, kita dampak meredam dampak negatif sampah makanan, baik dari segi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland).

Leave a Reply