Tag: ruang terbuka hijau

  • Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    7cloud.asia – Beberapa bulan terakhir, pencemaran udara di Jakarta menjadi topik hangat di tengah masyarakat.

    Polusi udara membuat kualitas udara Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat, salah satunya ditandai dengan langit yang berwarna abu-abu.

    Melihat kondisi polusi udara tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun tak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta.

    Mulai dari pengurangan emisi, hingga peningkatan ruang terbuka hijau (RTH). Pemprov DKI Jakarta menargetkan akan menambah 800 ruang terbuka hijau di seluruh wilayah Jakarta.

    Bicara soal ruang terbuka hijau, Jakarta yang memiliki luas 664 kilometer persegi masih punya banyak “pekerjaan rumah” alias PR. 

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan buka 800 ruang terbuka hijau

    Berbeda dengan Jakarta tempo dulu yang hijau dan asri, Jakarta kini telah berubah jadi metropolitan yang penuh gedung pencakar langit.

    Kini, luas RTH di Jakarta hanya 9 persen dari luas wilayah. Padahal, menurut Undang-undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, proporsi RTH setidaknya 30 persen dari luas wilayah.

    Ruang terbuka hijau ini terdiri dari 20 persen RTH publik yang disediakan pemerintah dan 10 persen RTH di lahan privat yang dikelola oleh swasta atau masyarakat.

    Pengkampanye Polusi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Abdul Ghofar mengatakan ruang terbuka hijau berpotensi mengurangi pencemaran udara di Jakarta.

    Hal ini karena vegetasi di ruang terbuka hijau dapat menyerap polutan dan mengubahny amenjadi oksigen.

    Namun, menurutnya, ruang terbuka hijau ini harus tetap didukung dengan strategi pengurangan emisi dari sumbernya, seperti kendaraan bermotor dan aktivitas industri.

    Baca: taman kota, jadi resep Surabaya atasi polusi udara

    Secara terpisah, pengamat tata kota sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Joga menambahkan bahwa ruang terbuka hijau juga memiliki ragam fungsi ekologis lain, seperti penyerap air alami atau pengendali banjir, penyejuk iklim mikro, hingga sebagai habitat satwa.

    Tentu saja, penghijauan di Jakarta menjadi hal yang penting dilakukan. Meski agak sedikit terlambat untuk mengimbangi buruknya kualitas udara saat ini, tapi ada banyak hal positif lain yang bisa didapatkan demi mewujudkan masa depan Jakarta yang lebih baik.

    Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk memperluas RTH, salah satunya pengembalian fungsi kawasan.

    Sebab saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa banyak RTH yang sudah terkonversi menjadi kawasan bisnis maupun kawasan permukiman.

    Ini adalah hal yang paling sulit, tapi tentu harus ada penegakan hukum. Untuk wilayah-wilayah lindung atau kawasan RTH yang sudah beralih fungsi, harusnya bisa didorong untuk pengembalian fungsi kawasan.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta galakkan penanaman pohon langka

    Selain pengembalian fungsi kawasan, peningkatan kualitas ruang terbuka hijau yang ada juga sangat penting.

    Jika dilihat lebih seksama, ruang terbuka hijau yang ada saat ini masih minim pohon dan terlalu banyak beton, sehingga belum cukup memadai untuk menjalankan fungsinya sebagai penyerap air dan polutan.

    Oleh karenanya, dengan menambah vegetasi dan mengurangi betonisasi, ruang terbuka hijau diharapkan dapat lebih baik dalam menjalankan fungsi ekologisnya.

    Sementara itu, strategi perluasan ruang terbuka hijau di Jakarta dapat dilakukan dengan penghijauan di bantaran 13 sungai utama.

    Penghijauan di 13 koridor bantaran rel kereta api, penghijauan di kolong jalan atau jembatan layang, penyediaan taman antarbangunan gedung, pengembangan hutan pantai atau mangrove, hingga pembangunan taman kota baru.

    Kemudian, ruang terbuka hijau berupa taman atap atau rooftop garden dan taman dinding atau vertical garden juga bisa dipertimbangkan sebab memiliki fungsi ekologis, seperti penyerap polutan dan penyejuk iklim mikro.

    Baca: RTH Kalijodo selesai direnovasi, warga diajak turut merawatnya

    Di samping itu, RTH taman atap juga memiliki fungsi sosial bagi penghuni bangunan.

    Namun, perlu dicatat bahwa pembangunan taman atap dan taman dinding tidak menambah ruang terbuka hijau kota secara signifikan karena luasnya yang sangat terbatas. Selain itu, taman tersebut juga tidak dapat membantu menyerap air secara alami.

    Saat ini, Pemprov DKI Jakarta terus berupaya menghijaukan kembali Jakarta guna mencapai target RTH seluas 30 persen.

    Pada 2023, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta telah membangun taman seluas 67.327 meter persegi di empat wilayah.

    Rinciannya, tiga lokasi dengan total luas 12.319 meter persegi di Jakarta Barat, tujuh lokasi dengan total luas 16.568 meter persegi di Jakarta Timur, 11 lokasi dengan total luas 32.587 meter persegi di Jakarta Selatan, dan dua lokasi dengan total luas 5.853 meter persegi di Jakarta Utara.

    Kemudian, Pemprov DKI Jakarta juga menanam sebanyak total 10.474 pohon di RTH dan jalur hijau.

    Baca: Pemkot Jakarta Timur siapkan 8,5 hektare lahan untuk hutan kota

    Sebagai contoh, pada Agustus 2023, sebanyak 1.000 pohon ditanam di jalur hijau Kali Mookervart Jakarta Barat.

    Terbaru, pada Jumat (15/9/2023), Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menanam ratusan pohon buah di lahan terbuka di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Bagaimana pun, dalam menghijaukan kembali Jakarta, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.

    Sebab berdasarkan mandat undang-undang, masyarakat dan swasta diamanahi untuk menyediakan RTH privat seluas 10 persen dari target 30 persen luas wilayah.

    Pemprov DKI Jakarta pun telah berkali-kali menggaungkan agar masyarakat dan swasta dapat turut berkontribusi dalam menghijaukan Jakarta.

    Walaupun tidak memiliki ladang, masyarakat Jakarta tetap dapat berkontribusi dalam penghijauan dengan cara lain, seperti menyisihkan sebagian lahan tempat tinggal untuk dijadikan pekarangan atau taman.

    Baca: Mengenal taman Bungkul, salah satu taman terbaik di Asia

    Sementara itu, para pengembang perumahan harus mengalokasikan 30 persen dari luas lahannya untuk dijadikan kawasan hijau, sesuai peraturan yang ada.

    Penyediaan RTH juga dapat dimaksimalkan ketika membangun fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di area perumahan.

    Selain itu, perluasan RTH oleh pihak swasta juga dapat dilakukan dengan membangun halaman atau taman di area perkantoran atau kawasan industri.

    Swasta juga dapat memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dalam melakukan upaya-upaya penghijauan.

    Menghijaukan kembali Jakarta memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun perlu upaya ekstra.

    Bukan hanya sekadar membangun RTH baru dan menanam pohon, tapi juga butuh perawatan yang berkelanjutan serta kesadaran seluruh lapisan masyarakat agar tidak mengalihfungsikan lahan hijau menjadi tempat yang berpotensi mengancam keberlangsungan lingkungan dan kehidupan.

    Penulis: Suci Nurhaliza diedit Masuki M Astro

     

  • Ruang Terbuka Hijau Jalan Tubagus Angke Jadi Lokasi Prostitusi, Ini yang Dilakukan Pemkot Jakarta Barat

    Ruang Terbuka Hijau Jalan Tubagus Angke Jadi Lokasi Prostitusi, Ini yang Dilakukan Pemkot Jakarta Barat

    7cloud.asia – Dinas Pertamanan Jakarta Barat meminta Satpol PP lebih intensif mengawasi Ruang Terbuka Hijau Jalan Tubagus Angke, Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan.

    Langkah ini dilakukan menyusul temuan sejumlah kondom yang diduga dari praktik prostitusi di ruang terbuka hijau di Jakarta Barat tersebut.

    Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) Jakarta Barat, Romy Sidharta menegaskan, inti pengawasan itu adalah penjagaan ruang terbuka hijau oleh Seksi Keamanan dan Ketertiban Umum (Kamtribum) Satpol PP.

    “Di sepanjang jalan di ruang terbuka hijau itu kan kalau malam banyak warung-warung, tenda-tenda remang di situ. Maka penting penjagaan,” kata di Jakarta, Jumat.

    Lebih lanjut, pihaknya juga mempertimbangkan memiringkan lahan Terbuka Hijau Jalan Tubagus Angke agar oknum-oknum yang berpotensi melakukan praktik prostitusi dapat dicegah membangun tenda di lokasi tersebut.

    “Konsepnya lebih baik dibikin miring gitu tanahnya, mulai dari kali turun ke jalan dibuat miring. Jadi memang taman yang tidak aktif, taman pasif, tidak digunakan untuk interaksi,” imbuh Romy.

    Baca Juga: Jakarta Akan Bangun 10 Taman dan Ruang Terbuka Hijau di 2024

    Meski solusi ini dinilai menyelesaikan masalah temuan kondom (dugaan prostitusi) secara permanen, biaya yang dibutuhkan cukup besar untuk merealisasikan konsep memiringkan lahan tersebut.

    “Karena itu biayanya besar, buat uruk tanahnya dan lain-lain, terus perlu kajian mendalami juga bersama Bina Marga dan SDA, kalau tanahnya dimiringkan ke arah jalan, nanti pergerakan air bagaimana dan banyak pertimbangan lain juga,” kata Romy.

    Pihaknya sudah melakukan sejumlah upaya, seperti secara rutin membasahi RTH dengan kursi-kursi di dalamnya agar tidak menjadi taman aktif (ruang interaksi), namun oknum-oknum tertentu masih sering masuk ke lokasi tersebut.

    “Sudah lama, sudah berkali-kali kadang kita basahi biar orang enggak ada di situ, kita siram, tapi tetap aja duduk di warung remang-remang, warung plus-plus,” kata Romy.

    Selain itu, pihaknya juga sudah mengurangi jam gelap di Terbuka Hijau Jalan Tubagus Angke, namun karena tidak dijaga 24 jam, maka oknum bersangkutan akan kembali lagi.

    “Pencahayaan sudah dibikin dulu, biar enggak balik macam-macam, tapi kan jaga enggak 24 jam,” kata dia menjelaskan.

    Baca Juga: Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    Oleh karena itu, pihaknya mengusulkan bahwa penjagaan selama 24 jam adalah cara terbaik dan efektif untuk mengatasi potensi praktik prostitusi di lokasi tersebut.

    “Harus dijaga terus, itu yang terbaik perlu dibuat,” pungkas Romy.

    Pemerintah Kota Jakarta Barat (Jakbar) telah menginstruksikan Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Sudin Tamhut) setempat untuk menjadikan Ruang Terbuka Hijau di Jalan Tugabus Angke, Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, sebagai taman pasif.

    Wali Kota Jakarta Barat Uus Kuswanto segera minta Sudin Tamhut segera menindaklanjuti kondisi taman itu. Taman tersebut hanya untuk dilintasi saja.

    “Jadi, paling tidak, di situ tak ada ruang buat nongkrong-nongkrong, buat ditanami saja,” katanya ​​​​​​saat dihubungi di Jakarta pada Senin (29/4/2024).

    Anggota DPRD DKI Gilbert Simanjuntak menegaskan, pengawasan ketertiban umum di Jakarta perlu ditingkatkan usai kejadian di Ruang Terbuka Hijau Jalan Tubagus Angke, Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, Jakarta Barat ini.

    Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Akan Tambah 800 Ruang Terbuka Hijau untuk Atasi Polusi Udara

    “Saya kira itu lebih tepat karena memang ketertiban Jakarta makin menurun,” kata Gilbert kepada wartawan di Jakarta, Rabu (1/5/2024).

    Gilbert menuturkan perlu adanya peningkatan pengawasan di tempat umum yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI secara total dan penuh dedikasi.

    Dia juga menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta memasang lampu penerangan sebagai salah satu bentuk peningkatan pengawasan.

    “Sebenarnya pemasangan lampu merupakan perkara kecil lantaran semua tergantung niat untuk memastikan pengawasan di tempat umum,” katanya.

    Terutama untuk para pekerja seks komersial (PSK) yang dikhawatirkan masih bekerja di tempat yang dilarang pemerintah.

    ​​​​​​Pemerintah Provinsi DKI bertindak tegas kepada para pelaku prostitusi yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) DKI Nomor 8 Tahun 2007 menegaskan, menjadi PSK diancam penjara sampai 20 hari atau denda Rp500 ribu hingga Rp30 juta.

     

  • Jakarta Perlu Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau Demi Kesehatan Paru Warganya

    Jakarta Perlu Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau Demi Kesehatan Paru Warganya


    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu menyediakan lebih banyak ruang terbuka hijau (RTH) guna menjaga kesehatan terutama kesehatan paru warga.

    Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkap, data menunjukkan pada tahun 2023 Jakarta memiliki Ruang Terbuka Hijau seluas 33,34 juta meter persegi atau 5,2 persen dari total luas wilayah.

    Sementara itu, merujuk UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Proporsi Ruang Terbuka Hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota.

    “Sediakan ruang terbuka hijau lebih banyak, yang akan punya dua dampak, baik sebagai paru-paru kota maupun sebagai tempat warga beraktivitas fisik dengan udara yang segar dan sehat,” kata Ketua Majelis Kehormatan PDPI Prof Tjandra Yoga Aditama dikutip Antaranews.com, Minggu (22/9/2024).

    Usulan ini disampaikan Tjandra dalam rangka memperingati Hari Paru Sedunia 2024 setiap 25 September, serta menyongsong pemilihan gubernur dan wakil gubernur di Pilkada Jakarta 2024.

    Baca: Kota minim ruang terbuka hijau tak bagus untuk kesehatan jantung

    Adapun tema peringatan Hari Paru Sedunia tahun ini yakni Clean Air and Healthy Lungs for All atau “Udara Bersih dan Paru Sehat untuk Semua”.

    Tema tersebut dipilih karena setiap tahunnya ada 7 juta orang meninggal di dunia berkaitan dengan berbagai penyakit yang berhubungan dengan polusi udara.

    Penyakit itu antara lain penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kanker paru, dan penyakit infeksi paru.

    Alasan lainnya yakni karena udara yang tercemar adalah ancaman kesehatan universal akan berdampak pada kesehatan semua orang yang menghirup termasuk bayi sampai orang lanjut usia.

    Data dunia menunjukkan lebih dari 90 persen penduduk dunia hidup di daerah dengan kadar polutan melebihi standar sehat dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

    Tjandra kemudian mengemukakan bahwa peningkatan polusi udara dan yang berhubungan dengan terbentuknya emisi gas rumah kaca akan memperburuk fungsi paru dan pernapasan.

    Baca: Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    Polusi udara juga meningkatkan angka masuk rumah sakit karena sakit paru dan meningkatkan pula risiko kanker paru.

    Dia mengatakan, guna membantu warga termasuk di Jakarta menjaga kesehatan parunya, maka polusi udara harus dikendalikan dan penyebabnya ditangani segera.

    Menurut dia, sejauh ini polusi kendaraan bermotor dan polusi industri baik dari dalam maupun luar kota Jakarta menjadi penyebab utamanya.

    Kemudian, pemerintah termasuk gubernur terpilih nantinya perlu mengimplementasikan secara ketat aturan bahaya asap rokok bagi kesehatan warga kota.

    Pemprov juga diminta terus mendorong kegiatan masyarakat untuk hidup sehat, seperti pembentukan RW bebas tuberkulosis (TB) dan kelurahan bebas asap rokok.

    “Sediakan fasilitas deteksi dan diagnosis dini gangguan paru, termasuk tempat pemeriksaan fungsi paru. Sediakan pula fasilitas perawatan dan pengobatan penyakit paru, untuk warga yang membutuhkan,” demikian pesan dia.

  • Ruang Terbuka Hijau Masih Minim, DPRD DKI Jakarta Dorong Pemanfaatan Jalur Hijau

    Ruang Terbuka Hijau Masih Minim, DPRD DKI Jakarta Dorong Pemanfaatan Jalur Hijau

    7cloud.asia – DPRD DKI Jakarta mengusulkan untuk mempercepat perluasan ruang terbuka hijau (RTH) dengan memanfaatkan zona jalur hijau seperti taman kota dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA).

    Pemanfaatan zona jalur hijau seperti taman kota dan RPTRA merupakan salah satu cara untuk memperluas ruang terbuka hijau di Jakarta yang masih sangat kurang.

    Perluasan ruang terbuka hijau sudah mendesak, mengingat luasan ruang terbuka hijau di Jakarta masih sekitar 5,2 persen dari total luas wilayah. Padahal idealnya, ruang terbuka hijau di sebuah kota mencapai 30 persen.

    “Ruang terbuka hijau kita masih lima persen. Mohon segera agar ada pertumbuhan dan perkembangan,” ujar Ketua DPRD DKI Jakarta, Khoirudin seperti dikutip Antaranews.com Senin (18/11/2024).

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    Khoirudin mengatakan, di wilayah saya (Cilandak) belum ada ruang terbuka hijau . Padahal ada jalur hijau RW.06 RT.12 Kelurahan Cilandak Barat.

    ”Jadi wujudkan saja untuk RPTRA agar persentase kita bertambah,” imbuhnya.

    Dia kemudian mengimbau Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) memprioritaskan perluasan RTH di Jakarta.

    Hal senada juga diungkapkan Koordinator Komisi D sekaligus Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino yang berpendapat ruang terbuka hijau sangat penting diwujudkan oleh Distamhut DKI.

    Legislator DPRD DKI Jakarta itu meminta Pemprov DKI mengalihkan aset tidur menjadi lahan terbuka hijau. Tujuannya agar warga Jakarta mendapatkan hak menghirup udara bersih demi kesehatan.

    Baca: Minim ruang terbuka hijau, kota-kota di belahan Bumi Selatan rentan pemanasan perkotaan

    “Di Dinas Pertamanan, kualitas kesehatan masyarakat itu ada, lewat udara bersih,” ungkap Wibi.

    Menanggapi pertanyaan DPRD DKI itu, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta Bayu Meghantara mengutarakan bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, RTH bersifat kualitatif.

    Artinya, kata dia, tak hanya zona hijau, namun zona biru juga masuk ke dalam persentase pemenuhan RTH. Lalu, mengacu hal tersebut, berdasarkan data, kini RTH di Jakarta sudah mencapai 6,48 persen.

    Pihaknya terus memetakan RTH kami melalui Semarak Hijau Jakarta. Dari data fasos-fasum tahun 2021-2024, ada 109 hektare atau senilai Rp10,6 triliun yang masuk ke dalam RTH.

    “Ini hitungan kami sementara dan belum seluruhnya,” kata Bayu.

  • Ruang Terbuka Hijau Masih Minim, Ini yang Dilakukan Pemkab Magetan

    Ruang Terbuka Hijau Masih Minim, Ini yang Dilakukan Pemkab Magetan

    7cloud.asia – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Saif Muchlisun menyatakan keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di wilayahnya saat ini baru mencapai 13 persen.

    “Saat ini ruang terbuka hijau yang ada di Magetan baru mencapai 13 persen,” ujar Saif Muchlisun saat penanaman pohon bambu serentak di eko-eduwisata kebun bambu atau Eco Bamboo Park di Kelurahan Tinap, Kecamatan Sukomoro, Magetan, Jumat (13/6/2025)

    Menurut dia, luas ruang terbuka hijau di Kabupaten Magetan tergolong masih minim. Sebab, sesuai amanah peraturan perundang-undangan, daerah memiliki kewajiban menyediakan 30 persen ruang terbuka hijau.

    Untuk itu, Pemkab Magetan terus berupaya memperluas ruang terbuka hijau yang ada di wilayahnya.

    Baca: Ruang terbuka hijau di Jakarta masih minim

    Selain membangun lebih banyak taman, upaya lain yang dilakukan Pemkab Magetan untuk penghijauan daerah adalah dengan penanaman pohon-pohon di sejumlah titik seperti di hutan kota.

    “Selain itu, kegiatan penanaman bambu serentak seperti di Eco Bamboo Park ini juga menjadi langkah nyata dan berkelanjutan untuk memenuhi target tersebut,” kata Saif.

    Ia mengatakan penanaman bambu tersebut merupakan kerja sama BKD dengan Dinas Lingkungan Hidup Magetan. Ada sebanyak 1.310 peserta yang terlibat menanam bambu terdiri dari para aparatur sipil negara (ASN) dan PPPK.

    Baca: Minimnya ruang terbuka hijau membuat kota rentan terhadap panas

    Adapun, bambu yang ditanam mencapai 14 jenis bambu dari 103 jenis bambu di Eco Bamboo Park Magetan dan ruang terbuka hijau (RTH) setempat, di antaranya bambu kuning gading dan bambu hijau jepang.

    Saif menambahkan bahwa pemenuhan ruang terbuka hijau itu menjadi sangat penting dalam meningkatkan indeks kualitas hidup warga di suatu daerah.

    Sebab, hal itu terkait dengan pemenuhan peningkatan indeks kualitas udara, indeks kualitas air, dan indeks kualitas lingkungan.

    Keberadaan ruang terbuka hijau tak hanya menyerap emisi karbon, tetapi juga mendinginkan lingkungan luar ruangan dan menyediakan tempat berlindung bagi satwa liar.

  • Taman Barito Akan Direvitalisasi, Ratusan Pedagang Hewan Direlokasi

    Taman Barito Akan Direvitalisasi, Ratusan Pedagang Hewan Direlokasi

    7cloud.asia – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan, Pemerintah Provinsi berencana merelokasi pedagang Pasar Hewan di Taman Barito, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

    Relokasi pedagang di Taman Barito ini disebutnya sebagai bagian dari rencana penataan kawasan dan penggabungan tiga taman menjadi satu ruang terbuka hijau terpadu.

    “Pasar Barito itu harus direlokasi karena kita mau bikin taman di sana. Enggak ada gunanya kita bikin taman kalau pandangannya tertutup,” ujar Rano, Sabtu (19/7/2025).

    Rano menyebut, saat ini Pemkot Jakarta Selatan sudah melakukan sosialisasi kepada warga sekitar hingga para pedagang yang terdampak relokasi.

    “Semua sudah, ini tadi ada Pak Wali Kota juga. Kita sudah sosialisasi kepada masyarakat yang ada di sana. Ada sekitar 118 pedagang di Taman Barito yang akan direlokasi,” jelasnya.

    Baca: Tiga taman di Jakarta Selatan akan direvitalisasi dan dijadikan Taman Utama ASEAN

    Menurut Rano, para pedagang akan dipindahkan agar pihaknya bisa melangsungkan proses pembangunan taman.

    “Kalau mau bangun, berarti harus pindah dulu. Kalau enggak, gimana? Nurunin logistik juga enggak mudah,” imbuhnya.

    Rano menjelaskan, revitalisasi taman ini mencakup penggabungan tiga taman besar yakni Taman Leuser, Taman Ayodia, dan Taman Langsat, dengan total luas mencapai enam hektare.

    “Kita menjadikan tiga taman jadi satu. Itu enam hektare, loh. Jadi, ya sementara mungkin satu tahun kita berkorban dulu untuk hasil yang lebih bagus,” tandasnya.

    Baca: Taman-taman di Jakarta akan dihidupkan

    Taman Ayodya atau Barito dibangun di atas tanah seluas 7.500 meter persegi. Terdapat kolam buatan di tengah-tengah kolam dengan luas mencapai 1.500m2.

    Taman ini juga termasuk ke dalam jajaran taman kota terbaik, bahkan menyabet posisi nomor 4 di seluruh DKI Jakarta. Hal ini berkat fasilitasnya yang cukup lengkap, termasuk fasilitas untuk disabilitas.

    Taman Barito juga dekat dengan beberapa sarana prasarana seperti pasar, hotel, dan pusat perbelanjaan. Diantaranya Hotel Grand Mahakam, Pasar Burung Barito, Plaza Blok M, Pasar Taman Puring, dan Mall Kebayoran Baru.

    Selama ini Taman Barito dikelola langsung oleh Pemprov DKI Jakarta dan dapat dinikmati secara gratis.

  • Puluhan Pohon Hijaukan Kawasan Waduk Cilangkap

    Puluhan Pohon Hijaukan Kawasan Waduk Cilangkap

    7cloud.asia – Penghijauan kawasan Waduk Cilangkap di Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur terus dilakukan dengan penanaman 50 batang pohon.

    Penanaman pohon di Waduk Cilangkap dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang), Fauzi dan melibatkan para kepala suku dinas, camat dan lurah, kader TP PKK, petugas PPSU, ketua RT/RW, LMK, dan warga setempat.

    Fauzi mengatakan, penanaman pohon ini sudah menjadi program rutin setiap hari Jumat dengan lokasi berpindah-pindah.

    “Area Waduk Cilangkap seluas kurang lebih 19,5 hektare ini kita tanami pohon secara bertahap agar terlihat lebih hijau dan sejuk,” ujarnya,” ujarnya, Jumat (25/7/2025).

    Baca: DKI Jakarta andalkan 147 waduk dan embung untuk konservasi air

    Menurutnya, penanaman pohon ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH).

    “Pohon ini tidak hanya penting untuk menghijaukan lingkungan, tapi juga bisa mereduksi polusi udara,” terangnya.

    Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Timur, Dwi Ponangsera menjelaskan 50 pohon yang ditanam terdiri lima pohon Tabebuya Ungu, 25 pohon Flamboyan, dan 20 pohon Kigelia.

    “Sebelumnya, kami sudah menanam 200 pohon di sini dan akan terus ditambah,” tandasnya.

    Baca: DKI Jakarta terancam krisis air bersih

    Sebelumnya Waduk Cilangkap telah selesai direvitalisasi merapikan turap dan membangun panggung.

    Waduk Cilangkap ini bermanfaat untuk menahan debit air dari sejumlah saluran atau kali di wilayah Cipayung sehingga mengurangi genangan di wilayah tersebut

    Area Waduk Cilangkap terdiri dari Waduk Cilangkap 1 dan 2 dan Long Storage Agro Wisata Cilangkap. Selain badan air, juga tersedia area jogging track sehingga kawasan ini bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat

  • Pemprov DKI Jakarta Gagas Pembangunan Ruang Terbuka Hijau Mikro di Kawasan Kumuh

    Pemprov DKI Jakarta Gagas Pembangunan Ruang Terbuka Hijau Mikro di Kawasan Kumuh

    7cloud.asia – Tingginya angka urbanisasi berdampak buruk pada tata ruang kota Jakarta. Salah satunya adalah munculnya kawasan kumuh dan permukiman padat yang tidak sebanding dengan ketersediaan ruang terbuka hijau.

    Ketimpangan ketersediaan ruang terbuka hijau ini dinilai berdampak pada penurunan kualitas hidup, kesehatan masyarakat, dan daya dukung lingkungan di Jakarta.

    Merespon kondisi ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggagas pembangunan ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh.

    Untuk menuju ke sana digelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Mikro di Perkampungan Perkotaan: Menata Kota, Membangun Masa Depan Jakarta”.

    Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris menjelaskan, FGD ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan pocket park atau taman skala kecil di lingkungan padat penduduk, khususnya kawasan permukiman kumuh.

    Baca: Ruang terbuka hijau di Jakarta masih minim

    Afan mengatakan, Pemprov DKI Jakarta akan mencoba siapkan pocket park dengan luas sekitar 50 meter persegi per titik.

    ”Mencari lahan 10 meter saja di kampung sudah sulit, apalagi kalau mengikuti aturan minimal 250 meter persegi, kan tidak mungkin dieksekusi,” ujar Afan, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (5/8/2025).

    Menurutnya, keberadaan ruang terbuka hijau mikro ini akan memberikan berbagai manfaat seperti memperbaiki sirkulasi udara dan pencahayaan di kawasan padat, menekan potensi penyebaran penyakit seperti TBC.

    Ruang terbuka hijau mikro ini juga bisa menjadi ruang evakuasi saat bencana, serta menciptakan ruang interaksi publik yang aman dan nyaman bagi warga.

    “Kalau di tengah permukiman padat itu ada open space, sinar matahari bisa masuk, udara mengalir, paling tidak itu bisa menekan angka TBC, dan ruang publik ini juga bisa menekan angka tawuran,” jelasnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    Pemprov DKI menargetkan pembangunan ruang terbuka hijau mikro seluas 50 meter persegi di 50 lokasi dalam kurun waktu empat tahun.

    Program ini akan difokuskan di RW-RW kumuh yang tersebar di seluruh wilayah administrasi Jakarta.

    Afan mencatat, saat ini terdapat 455 RW kumuh berdasarkan data yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta.

    “Kita akan lihat dari peta pertamanan dan peta permukiman kumuh. Target awalnya 50 lokasi dulu, itu realistis,” kata Afan.

    Afan pun berharap rencana pembangunan RTH Mikro untuk masa depan Jakarta dapat segera disetujui oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung sehingga program bisa segera dieksekusi.

     

  • Pemprov DKI Jakarta Manfaatkan Kolong Tol Menjadi Ruang Terbuka Hijau

    Pemprov DKI Jakarta Manfaatkan Kolong Tol Menjadi Ruang Terbuka Hijau

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bakal memanfaatkan kolong tol Jakarta untuk dijadikan taman kota dan ruang publik multifungsi.

    Langkah ini dilakukan guna mengatasi keterbatasan ketersediaan lahan untuk membangun ruang terbuka hijau. Saat ini luasan ruang terbuka hijau di Jakarta juga masih jauh di bawah 30 persen sebagaimana diamanatkan Undang-undang.

    Sekitar 300 kolong tol di berbagai titik di Jakarta ditargetkan bisa diubah menjadi ruang terbuka hijau mikro yang aman bagi warga, khususnya anak-anak.

    Taman di kolong tol ini sekaligus akan menjadi area interaksi sosial yang menyenangkan.

    Langkah ini secara langsung berkontribusi pada pengembangan taman kota Jakarta yang ramah anak dan efisien.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan bangun ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh

    Meskipun luas tiap kolong tol yang dijadikan taman berkisar antara 300 hingga 500 meter persegi, ruang ini tetap bisa difungsikan untuk bermain anak, jalur pejalan kaki, olahraga ringan, dan edukasi lingkungan.

    Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ida Mahmudah mengatakan inisiatif ini adalah cara cepat dan murah untuk memperluas taman kota tanpa perlu lahan luas baru.

    Penelusuran 7cloud.asia, penataan kolong tol bisa menerapkan konsep tambahan ala Via Verde Meksiko, di mana tiang penyangga tol diubah menjadi kebun vertikal, sementara kolong tol dijadikan taman yang menarik dan estetis.

    Setiap taman bawah tol juga akan dilengkapi pos keamanan terpadu dari kepolisian, Babinsa, dan Kamtibmas agar warga dapat menikmati ruang hijau dengan aman dan nyaman.

    Dengan kombinasi perencanaan matang, konsep inovatif, dan pengamanan terpadu, kolong tol Jakarta bisa berubah dari ruang yang terabaikan menjadi ikon hijau baru.

    Baca: DPRD DKI Jakarta dorong pemanfaatan jalur hijau

    Salah satu kolong tol yang akan diubah menjadi ruang terbuka hijau berada di Jakarta Utara. Warga menyambut positif rencana ini dan berharap bisa mengurangi tingkat kriminalitas.

    Disulapnya kolong tol menjadi taman juga membantu warga tak kesulitan lagi jika ingin mengajak buah hatinya bermain.

    Rencana memanfaatkan area kolong tol sebagai ruang publik ramah anak dilontarkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung pada Sabtu (18/10/2025).

    Dia meminta ruang-ruang di bawah tiang penyangga tol dibuatkan taman. Pemanfaatan kolong tol menjadi taman atau RPTRA merupakan bagian dari upaya Pemprov memperluas ruang hijau di kawasan padat.

    Reporter: Kemal Mustafa

  • Resmikan Taman di Kolong Tol Wiyoto Wiyono, Pramono Akan Berbanyak Ruang Terbuka Hijau

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meresmikan Taman Si Pitung di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jalan Jampea, Koja, Jakarta Utara, Kamis (23/10/2025).

    Peresmian taman di kolong Tol Wiyoto Wiyono ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan fasilitas bermain anak, terutama di wilayah padat penduduk.

    Taman Si Pitung di kolong Tol Wiyoto Wiyono ini memiliki luas 1.700 meter persegi dari total area 2.500 m².

    Taman ini disulap dari area yang sebelumnya gelap dan kumuh menjadi ruang terbuka hijau dengan fasilitas seperti lapangan futsal, skate park, dan ruang interaksi.

    Taman ini dilengkapi lampu penerangan dan enam titik CCTV untuk menjaga keamanan bagi masyarakat yang beraktivitas.

    Lurah Koja, Lutfi Rachman menjelaskan, pembangunan Taman Si Pitung ini memanfaatkan kolong tol yang belum digunakan secara optimal. Adanya taman ini akan menambah ruang baru untuk interaksi masyarakat dan juga sebagai sarana olahraga.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta manfaatkan kolong tol menjadi ruang terbuka hijau

    “Warga tentunya senang dan juga bahagia ketika ada rencana pembangunan kolong tol sehingga ada tempat berkumpul,” tandas Lutfi.

    Pramono juga terus mendorong penyediaan taman di lokasi-lokasi yang sebelumnya kurang termanfaatkan, seperti kolong jembatan dan jalan tol.

    “Pada hari ini saya meresmikan salah satu yang memang betul-betul saya dorong adalah ruang terbuka hijau dan tempat bermain untuk anak di tempat-tempat seperti kolong jembatan, kolong jalan tol, dan sebagainya. Dan Alhamdulillah di sini hari ini diresmikan, diberikan nama Taman Si Pitung,” ujar Pramono.

    Pramono menyebut, Jakarta Utara sebagai daerah padat penduduk, memiliki keterbatasan Ruang Terbuka Hijau. Karena itu, diperlukan penambahan taman sebagai tempat untuk interaksi warga.

    Pramono pun telah menginstruksikan Kepala Dinas Pertamanan dan Wali Kota Jakarta Utara agar segera membuka taman serupa lainnya, khususnya di kolong-kolong jembatan.

    Taman tersebut juga akan dipercantik dengan mural graffiti serta dilengkapi tempat bermain bagi masyarakat.

    Baca: Ruang terbuka hijau di Jakarta masih minim

    “Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Pertamanan dan juga Bapak Wali Kota agar yang seperti ini juga segera dibuka di tempat-tempat baru, terutama di kolong-kolong jembatan,” kata dia.

    Lebih lanjut, Pramono juga berencana untuk menghijaukan seluruh area di bawah jalan tol. Ia meyakini dengan bertambahnya Ruang Terbuka Hijau, Jakarta akan siap menjadi kota global.

    Saat ini, luas ruang terbuka hijau di Jakarta sudah berada di atas enam persen, meningkat dari sebelumnya 5,74 persen. Idealnya, sebuah kota memiliki ruang terbuka hijau 30 persen dari total luas wilayahnya.

    Melalui upaya penghijauan selama ini, peringkat Jakarta dalam indeks kota global juga telah naik dari 74 (2024) menjadi 71 pada tahun ini

    Pramono menyebut, pembangunan taman di Jakarta nantinya akan difokuskan pada pemanfaatan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos fasum) yang telah diserahkan kepada Pemda DKI.

    Menurutnya, masih banyak fasos fasum yang telah diterima oleh Pemprov DKI yang bisa dimanfaatkan sebagai taman.

    “Seperti besok di Jakarta Selatan atau Jakarta Timur, saya akan meresmikan Kampung Kalibata. Sehingga dengan demikian memang banyak sekali yang kami dorong untuk menjadi ruang terbuka hijau,” kata dia.

    Baca: Minim Ruang Hijau, kota-kota di Selatan rentan terhadap panas ekstrem