Tag: rupiah

  • Menkeu Sri Mulyani Diisukan Mundur, Nilai Rupiah Melemah

    Menkeu Sri Mulyani Diisukan Mundur, Nilai Rupiah Melemah

    7cloud.asia – Nilai tukar rupiah makin melemah seiring makin kuatnya isu akan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani dari Kabinet Indonesia Maju. 

    Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (26/1/2024) Rupiah ditutup pada posisi Rp15.825 per dolar AS jelang pertemuan The Fed pekan depan.

    Posisi ini menguat tipis 0,01% atau 1,0 poin dibanding posisi pembukaan yang berada di level Rp15.831 per dolar AS.

    Sementara itu, mata uang Asia terpantau bervariasi, sedangkan dolar AS menguat sore ini.

    Baca: Sri Mulyani dikabarkan akan mundur, begini tanggapan Jokowi

    Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup  Sementara itu, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau menguat 0,10% ke posisi 103,67 pada Jumat sore ini.  

    Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.820—Rp15.890.

    Nilai rupiah ini merupakan yang terlemah sejak Nopember tahun lalu di kala mata uang Asia kebanyakan berhasil menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

    Sumber Bloomberg menyebutkan, Sri Mulyani sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari kabinet menyusul sikap Presiden Joko Widodo yang telah secara gamblang mendukung salah satu kandidat capres-cawapres.

    Baca: Perludem minta Jokowi tarik ucapannya

    Isu mundurnya Sri Mulyani membuat pelaku pasar gugup. Terlebih beberapa menteri lain seperti Menteri Luar Negeri Retno Marsudi serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono juga diperkirakan akan mengundurkan diri.

    Menurut sumber Bloomberg, situasi saat ini sangat dinamis dan para menteri bisa memutuskan untuk tetap tinggal.

    “Pengunduran diri tidak akan segera diumumkan karena khawatir akan potensi dampak buruk terhadap riupiah dan pasar,” kata sumber tersebut

  • Dampak Turunnya Nilai Rupiah terhadap Perekonomian Indonesia

    Dampak Turunnya Nilai Rupiah terhadap Perekonomian Indonesia

    7cloud.asia – Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan menjadi salah satu topik pembicaraan yang hangat didiskusikan.

    Pada tanggal 1 November 2023, rupiah ada di angka Rp 15.940 per dolar AS saat penutupan perdagangan.

    Situasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sebagian besar mata uang di Asia mengalami penurunan nilai terhadap dolar AS.

    Tercatat, baht Thailand melemah 0,04 persen, ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, dolar Singapura melemah 0,14 persen, dan rupee India melemah 0,01 persen.

    Namun, pelemahan rupiah bisa dikatakan yang paling besar. Bahkan menjelang Lebaran, nilai rupiah terus melemah dan pada Rabu (17/4/2024) menembus angka Rp 16.200 per dolar.

    Dengan adanya tren ini, apa dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?

    Dalam episode SuarAkademia terbaru, The Conversation berbincang dengan Teuku Riefky, peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

    Riekfy mengatakan, melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS ini disebabkan oleh faktor eksternal. Selain faktor perlambatan ekonomi global pascapandemi.

    Dia juga berpendapat bahwa sentimen bank sentral yang dimiliki oleh AS yaitu The Fed, yang masih akan menaikkan tingkat suku bunga, juga berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

    Riefky mengingatkan, melemahnya nilai tukar rupiah ini akan berdampak terhadap ongkos produksi dalam negeri yang menggunakan bahan impor.

    Ongkos produksi ini akan meningkat apabila tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi secara berkepanjangan. Riefky juga menambahkan pentingnya menjaga stabilitas nilai mata uang untuk menjaga tingkat investasi.

    Untuk mengatasi permasalahan ini, menurut Riefky, pemerintah sudah melakukan beberapa langkah.

    Namun, dengan status Indonesia sebagai small open economy, melemahnya nilai tukar rupiah adalah hal yang tidak bisa dihindari.

    Pemerintah perlu memikirkan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi ketika terjadi pergolakan ekonomi secara global.

  • DPR Minta BUMN Tak Dibebani Tugas Menstabilkan Nilai Rupiah

    DPR Minta BUMN Tak Dibebani Tugas Menstabilkan Nilai Rupiah

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung menyoroti nilai tukar rupiah yang terus merosot terhadap Dolar AS.

    Dipantau dari laman resmi Bank Indonesia (BI) per Minggu (21/4/2024), nilai tukar rupiah sebesar Rp 16.257,89 per 1 Dolar AS.

    Martin menyorot langkah Menteri BUMN Erick Tohir yang meminta semua BUMN mengantisipasi gejolak ekonomi imbas konflik global.

    Martin Manurung menegaskan, solusi atas nilai tukar rupiah yang terus melemah itu bukan menumpuk atau memborong dolar.

    BUMN, tegasnya, juga tak mungkin diserahkan tanggungjawab menstabilkan rupiah. Tugas menstabilkan rupiah adalah tanggung jawab BI.

    ”Jadi, jangan gara-gara kebutuhan menstabilkan rupiah, BUMN-nya kemudian jadi korban juga. Karena mereka kan butuh bahan baku dan segala macam, yang mungkin dibeli dengan dolar kan,” papar Politisi Fraksi Partai NasDem ini.

    Baca Juga: Dampak Turunnya Nilai Rupiah terhadap Perekonomian Indonesia

    Ia mengingatkan, jika nilai dolar naik terus atau tidak bisa stabil dalam waktu dekat, maka akan berpengaruh juga ke kondisi keuangan BUMN,

    Lebih lanjut, menyikapi situasi saat ini, Martin memandang pemerintah perlu segera aktif melakukan diplomasi ekonomi. Kementerian Luar Negeri bergandengan tangan dengan Kementerian terkait dan menjalankan misi tersebut. 

    “Kemlu harus hand in hand, misalnya dengan Kementerian perdagangan dengan Kemenperin ya yang terkait atau mungkin juga di situ dengan komitmen-komitmen investasi-investasi yang sudah ada,” urainya

    Hubungan dagang ini. ujarnya, bisa enggak dilakukan. Dia mencontohkan ada hedging yang lebih baik terhadap nilai tukar atau menggunakan mata uang lain yang diterima oleh kedua belah pihak.

    ”Jadi, jangan kita jadi berurusan sama dolarnya, karena dolar menguat kepada seluruh mata uang juga. Bukan hanya Indonesia yang terganggu terhadap naiknya nilai tukar dolar itu. Jadi, jangan kemudian terjebak di perdebatan itu,” imbuhnya.

    Baca Juga: DPR Ingatkan Pemerintah-Pengusaha Harus Bahu Membahu Antisipasi Ketegangan di Timur Tengah

    Martin menambahkan, diplomasi ekonomi punya peran penting dalam kondisi seperti sekarang ini. 

    Diplomasi ekonomi ini baik menteri luar negeri maupun menteri-menteri yang di sektor ekonomi itu harus aktif melakukan diplomasi ekonomi ke berbagai negara yang mempunyai hubungan perdagangan dengan Indonesia.

    “Baik kita mengekspor maupun kita mengimpor. Toh sama-sama membutuhkan juga,” ujarnya.

    Sebelumnya, Menteri Erick Thohir telah memberi arahan agar BUMN mengoptimalkan pembelian dolar AS.

    “Oleh karena itu kemarin saya warning untuk setiap perusahaan benar-benar harus punya test stress dengan mengoptimalkan berbagai kesempatan,” kata Erick dalam media gathering di Jakarta, Sabtu (20/4/2024).

    Baca Juga: Antisipasi Ketegangan di Timur Tengah, Pemerintah Diminta Pastikan Pasokan Energi

    Erick meminta BUMN yang terdampak pada bahan baku impor dan BUMN dengan porsi utang luar negeri (dalam dolar AS) yang besar, seperti Pertamina, PLN, BUMN Farmasi, MIND ID, agar melakukan pembelian dolar dengan bijaksana.

    Erick meminta pmbelian dolar oleh BUMN dilakukan sesuai prioritas dalam memenuhi kebutuhannya.

    Kata Erick, setiap perusahaan punya pendekatan yang berbeda mengenai dolar AS ini, tergantung dari situasi capex sampai utang luar negerinya.

    “Saya bilang antara (sektor) farmasi, Mind ID, Garuda, punya konteks berbeda tergantung situasi capex, opex, utang, income rupiah atau income dolar, itu komplikasi, banyak,” kata Erick. 

    Sumber:“Parlementaria

  • Rupiah Terus Tertekan Imbas Ketegangan Geopolitik Timur Tengah, BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan

    Rupiah Terus Tertekan Imbas Ketegangan Geopolitik Timur Tengah, BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan

    7cloud.asia – Rupiah hingga saat ini masih menghadapi tekanan mata uang yang sangat besar dan lonjakan arus keluar modal dalam dua minggu terakhir, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

    Rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk dibandingkan negara sejawat (peer country) dan hanya lebih baik dari Lira Brazil dalam satu bulan terakhir.

    Namun, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menyebut presenetase pelemahan Rupiah tergolong paling rendah dibanding mata uang regional. Saat ini Rupiah melemah dari Rp 15.800 ke Rp 16.200, melemah sekitar 2,5%.

    “Sejauh ini rupiah masih jadi salah satu negara yang pelemahan mata uangnya lebih ringan dibanding misalnya yen (-15%), ringgit Malaysia (-8%), won Korea (8%), thai baht (5,8%) atau China yuan (4,7%),” katanya seperti dikutip detik.com.

    Baca Juga: DPR Minta BUMN Tak Dibebani Tugas Menstabilkan Nilai Rupiah

    Terpisah, Ekonom Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI Teuku Riefky menyampaikan bahwa Bank Indonesia (BI) sebaiknya mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 6 persen untuk meredam dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

    “Rupiah saat ini sedang menghadapi tekanan mata uang yang sangat besar dan lonjakan arus keluar modal dalam dua minggu terakhir, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Teuku Riefky di Jakarta, seperti dikutip Antaranews.com.

    Menurutnya, meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel menimbulkan sentimen bahwa bank sentral Amerka Serikat, Federal Reserve System atau The Fed, berpotensi menahan suku bunga acuannya lebih lama.

    Ia menuturkan bahwa hal tersebut mendorong investor untuk mengalihkan portofolionya dari pasar modal domestik. Selama minggu pertama pascalibur Lebaran, arus modal keluar mencapai 490 juta dolar AS.

    Baca Juga: Dampak Turunnya Nilai Rupiah terhadap Perekonomian Indonesia

    Sementara itu, akumulasi modal keluar selama satu bulan terakhir per 18 Maret hingga 18 April mencapai 2,11 miliar dolar AS dan tercatat sebagai arus modal keluar bulanan terbesar sejak September lalu.

     

    “Imbasnya, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,03 persen dari 6,67 persen pada bulan sebelumnya, mencapai titik tertingginya dalam lima bulan terakhir,” kata Riefky.

    Ia mengatakan bahwa imbal hasil SUN tenor satu tahun juga melonjak mencapai 6,33 persen dari 6,19 persen pada bulan sebelumnya.

    BI pun merespons dengan meningkatkan intensitas intervensi moneter melalui strategi triple intervention, yakni intervensi aktif di pasar spot valuta asing, pembelian Surat Berharga Negara (SBN), dan intervensi di pasar domestic non-delivery forward (DNDF).

    Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Diisukan Mundur, Nilai Rupiah Melemah

    Riefky menyatakan bahwa intervensi yang dilakukan BI dalam seminggu terakhir akhirnya mampu menstabilkan nilai tukar rupiah, walaupun hanya pada kisaran Rp16.200 per dolar AS karena besarnya tekanan eksternal.

    Menurutnya, Rupiah sejauh ini terdepresiasi sekitar 2,98 persen month-to-month (mtm) atau 5,5 persen year-to-date (ytd) terhadap dolar AS.

    dan tercatat sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk dibandingkan negara sejawat (peer country) dan hanya lebih baik dari Lira Brazil dalam satu bulan terakhir.

    “Walaupun terdapat ruang untuk kenaikan suku bunga acuan, keputusan menaikkan suku bunga acuan BI nampaknya bukanlah langkah ideal yang perlu diambil saat ini,” ucapnya.

    Baca Juga: DPR Ingatkan Pemerintah-Pengusaha Harus Bahu Membahu Antisipasi Ketegangan di Timur Tengah

    Konflik terbaru antara Iran dan Israel dipicu oleh serangan terhadap Konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April lalu.

    Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menembakkan ratusan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone) ke Israel pada 13 April.

    Pada 19 April dini hari waktu setempat, Israel meluncurkan rudal yang diduga menyasar pangkalan udara dekat Kota Isfahan, Iran.

    Sumber:detik.com/Antaranews.com

  • Sikapi Ketidakpastian Global, Pemerintah Diminta Sisir Belanja Tidak Prioritas

    Sikapi Ketidakpastian Global, Pemerintah Diminta Sisir Belanja Tidak Prioritas

    7cloud.asia – Meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran di Timur Tengah menjadi pemicu melemahnya tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

    Menanggapi kondisi ini Wakil Ketua Komisi XI DPR, Fathan Subchi meminta pemerintah untuk mencari langkah antisipatif untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia, salah satunya adalah dengan cara menyisir belanja tidak prioritas.

    “Tentunya cadangan fiskal kita harus diperkuat kemudian penjajakan-penjajakan untuk antisipasi dampak internasional juga harus dilakukan. Kedua, menjaga inflasi, menjaga daya beli,” Kata Fathan di Jakarta Sabtu (20/4/2024) lalu

    Dia juga meminta pemerintah melakukan langkah-langkah pengetatan ikat pinggang lah dan belanja-belanja yang tidak prioritas harus kita tahan dulu sambil menunggu situasi yang membaik.

    Baca Juga: Ketidakpastian Global Makin Memburuk, BI Naikkan BI Rate

    Anggota Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR itu menegaskan bahwa pemerintah dan stakeholder lain harus secara serius menyusun langkah-langkah antisipatif. Hal itu lantaran situasi yang tidak terprediksi.

    Di sisi lain, ia pun berharap PBB bisa segera beraksi untuk mencegah keadaan yang lebih buruk di wilayah jazirah arab tersebut.

    Kita, ujarnya, tidak tahu sampai kapan ketegangan antara Iran dan Israel berlanjut. Kalau misalnya Agustus atau September (ketegangan tidak berakhir) maka kita akan mengalami situasi yang sangat mengkhawatirkan.

    ”Oleh karena itu Bank Indonesia, Menteri Keuangan, OJK dan seluruh stakeholder harus segera (menyusun) langkah-langkah yang cukup serius untuk mengatasi pelemahan Rupiah ini,” lanjut Politisi Fraksi PKB itu.

    Baca Juga: Ketegangan di Timur Tengah dan Melemahnya Rupiah Akan Menekan APBN

    Pada kesempatan tersebut, Fathan juga menyampaikan bahwa laporan Menteri Keuangan menunjukkan sektor pemasukan masih dinilai stabil. Meski begitu, ia berharap adanya peningkatan harga beberapa komoditas unggulan.

    “Sektor ekonomi, pemasukan laporan dari Menteri Keuangan masih bagus, stabil tetapi kita juga berharap ada komoditas-komoditas yang naik karena selalu kita ada anugerah yang kita punyai yaitu sumber daya alam yang kuat,” lanjutnya.

    Tak lupa, Fathan juga menyinggung peran UMKM yang ikut ambil andil dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.

    Menutup pernyataannya, ia kembali menegaskan agar setiap pihak ikut ambil bagian dalam menyelamatkan dan menjaga ekonomi tanah air.

    Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan Imbas Ketegangan Geopolitik Timur Tengah, BI Diminta Pertahankan Suku Bunga Acuan

    “Oleh karena itu kita berharap bauran kebijakan dan langkah-langkah antisipatif dan penguatan cadangan fiskal mampu menyelamatkan dan menjaga ekonomi nasional,” tutupnya.

    Tren penguatan dolar AS terhadap Rupiah mulai terlihat sejak akhir kuartal 3 tahun 2024. Rupiah mulai menyentuh level Rp16.000 pada perdagangan di akhir pekan kedua April 2024 dan terus bergerak di level tersebut hingga awal pekan keempat ini. 

  • Rupiah Terus Melemah, Pemerintah Diminta Berhemat

    Rupiah Terus Melemah, Pemerintah Diminta Berhemat

    7cloud.asia – Nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) akhir-akhir ini kian melemah di level Rp16.200 per USD.

    Menyoroti pelemahan rupiah ini, Anggota Komisi XI DPR Marinus Gea mendorong pemerintah dapat menerapkan belanja negara yang punya prioritas penting.

    “Tindakan internal kita saat ini harus berhemat. Jadi hindari pembelanjaan (belanja negara) yang tidak penting,” ujarnya ditemui saat kunjungan kerja reses Komisi XI di Surabaya, Jawa Timur, Senin (29/4/2024).

    Menurutnya, merespon terus melemahnya rupiah pemerintah harus jeli melihat pos anggaran mana saja yang perlu dipangkas untuk berhemat.

    Baca Juga: Ketegangan di Timur Tengah dan Melemahnya Rupiah Akan Menekan APBN

    Legislator Dapil Banten III ini turut mengomentari soal upaya peningkatan daya beli masyarakat.

    Menurutnya, pemerintah perlu turut serta mengendalikan daya beli agar sinkron dengan strategi penghematan dan penstabilan nilai tukar rupiah terhadap USD.

    Menanggapi langkah Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 6,25%, Marinus menilai, upaya menaikkan suku bunga memang tidak mudah.

    Ia melihat langkah bank sentral itu merupakan upaya jangka pendek dan menengah dalam menghadapi lonjakan nilai tukar USD. 

    Baca Juga: DPR Minta BUMN Tak Dibebani Tugas Menstabilkan Nilai Rupiah

    Selain langkah internal, Marinus turut mendorong pemerintah dapat berpartisipasi menggaungkan stabilitas global di forum internasional.

    “Sebab faktanya, konflik regional seperti di Timur Tengah akhir-akhir ini, lalu Rusia-Ukraina yang terus berlanjut, memang mempengaruhi,” kata Politisi PDI-Perjuangan ini.

    Ia mendorong pemerintah dapat menggunakan politik luar negeri dalam mengkampanyekan perdamaian. Sebab kondisi saat ini sebaiknya tidak dibiarkan.

    “Bukan hanya pemodal dan pengusaha yang terkena dampak. Kurs melemah ada kekhawatiran inflasi tinggi dan ekonomi mengalami pelemahan,” tukasnya. 

    Baca Juga: Mengenal Subak, Tata Kelola Air Berkelanjutan di Bali

  • Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Nasional

    Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Nasional

    7cloud.asia – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (24/6/202) dibuka merosot dipengaruhi data produk manufaktur atau PMI Amerika Serikat (AS) yang solid.

    Pada awal perdagangan Senin pagi, rupiah turun 8 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.458 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp16.450 per dolar AS.

    “PMI Manufaktur AS secara mengejutkan naik menjadi 51,7 pada Juni 2024 dari 51,3 pada Mei 2024,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede dikutip Antaranews.com Senin.

    Josua menuturkan data PMI yang solid mendukung apresiasi nilai tukar dolar AS. PMI manufaktur melampaui ekspektasi konsensus pasar sebesar 51.

    Selain itu, PMI Jasa AS juga naik menjadi 55,1 pada Juni 2024, melebihi ekspektasi sebesar 54.

    Baca Juga: Angka Pengangguran Naik, Apa yang Bisa DilakukanPerguruan Tinggi

    Data menunjukkan bahwa sektor manufaktur dan jasa di AS masih mengalami akselerasi pada Juni 2024.

    Kondisi ini meningkatkan kemungkinan kebijakan suku bunga bertahan tinggi untuk waktu yang lebih lama (higher-for-longer) dari bank sentral AS atau The Fed.

    Ia memperkirakan pada perdagangan hari ini nilai tukar rupiah akan berkisar di rentang Rp16.425 per dolar AS sampai dengan Rp16.525 per dolar AS.

    Tren penurunan nilai rupiah telah terjadi sejak April lalu. Nilai Rupiah saat ini merupakan yang terendah sejak krisis ekonomi 1998, di mana saat itu nilai Rupiah anjlok ke kisaran Rp 17.000 per dolar.

    Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Pemerintah Diminta Berhemat

    Sejumlah pengamat mewanti-wanti dampak buruk dominasi dolar AS terhadap rupiah, misalnya naiknya harga barang-barang impor.

    Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyatakan masyarakat sebagai konsumen akan merasakan lonjakan harga-harga barang kebutuhan jika rupiah terus melemah.

    Kalau terus terjadi pelemahan rupiah akan membuat barang barang impor lebih mahal artinya ini akan akibatkan ekonomi biaya tinggi bagi konsumen dalam negeri yang membeli barang impor naik.

    “Ini juga akan dirasakan industri yang impor bahan baku dari luar negeri,” ujar Faisal kepada detikcom, Minggu (16/6/2024).

  • Ekonom UGM: Rencana Menkeu Tarik Dana Mengendap di BI Bisa Mengakibatkan Rupiah Terdepresiasi

    Ekonom UGM: Rencana Menkeu Tarik Dana Mengendap di BI Bisa Mengakibatkan Rupiah Terdepresiasi

    7cloud.asia – Dalam rapat dengan DPR, Purbaya Yudhi Sadewa resmi menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan mengatakan akan menarik uang sebesar Rp200 triliun yang mengendap di Bank Indonesia untuk menjaga likuiditas dan menggerakkan sektor riil.

    Menanggapi pernyataan ini, Ekonom UGM, Denni Puspa Purbasari, Ph.D., menilai bahwa rencana kebijakan tersebut dapat mengakibatkan nilai Rupiah mengalami depresiasi.

    Dilansir dari ugm.ac.id, Denni mengatakan kebijakan Purbaya ini akan lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

    Hal tersebut sama halnya dengan mengejar capaian keseimbangan internal. Salah satu caranya adalah dengan menambah likuiditas atau ketersediaan uang tunai di perekonomian.

    Namun, ketika likuiditas meningkat dan suku bunga menurun, justru bisa membuat investor menilai Indonesia tidak lagi menarik untuk menempatkan modal.

    Baca: Pasar bereaksi negatif terhadap pencopotan Sri Mulyani

    “Akibatnya, dana mereka berpotensi dialihkan ke luar negeri. Apabila kondisi ini terjadi, kurs Rupiah akan terdepresiasi, yakni melemah terhadap mata uang asing,” kata Denni, kamis (11/9/2025) di Kampus FEB UGM.

    Dari sudut pandang ilmu ekonomi, kata Denni, kebijakan yang akan dijalankan pemerintah sebaiknya ditujukan untuk mencapai keseimbangan baik internal maupun eksternal.

    Denni memaparkan, keseimbangan internal artinya tercapainya stabilitas ekonomi makro domestik yang ditandai dengan full employment dan inflasi yang stabil.

    Sedangkan keseimbangan eksternal ditandai dengan adanya stabilitas antara neraca transaksi berjalan dengan aliran modal internasional.

    Denni mengeaskan, kedua tujuan tersebut seringkali bertentangan. Ketika negara mengimplementasikan kebijakan untuk mencapai stabilitas internal, ujarnya, di sisi lain berdampak negatif terhadap stabilitas eksternal pula.

    Baca: Aliansi Ekonom Indonesia ingatkan kondisi darurat ekonomi Indonesia

    “Atau sebaliknya, kebijakan yang ditujukan untuk mengejar stabilitas eksternal, dapat berdampak negatif terhadap stabilitas internal negara itu,” tambahnya.

    Menurutnya, membandingkan returns atau keuntungan dalam penanaman modal adalah perilaku rasional. Dalam hal ini modal akan selalu mengalir ke tempat yang paling memberikan returns tertinggi pada tingkat risiko yang sama.

    “Pak Purbaya perlu menimbang ini, agar depresiasi yang terjadi tidak terlalu drastis yang menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan tidak lagi dapat dibiayai,” tekannya.

    Dikatakan Denni, kebijakan terkait likuiditas dalam perekonomian merupakan ranah kebijakan moneter. Sesuai Undang-Undang, Bank Indonesia memiliki mandat untuk menjaga stabilitas Rupiah, baik dari sisi inflasi maupun nilai tukar terhadap mata uang asing.

    Merujuk pada statistik Neraca Pembayaran yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, hingga semester I 2025, neraca transaksi berjalan mencatat defisit (minus) sebesar 3,2 miliar dolar, sementara neraca finansial juga minus 5,6 miliar dolar.

    Baca: Pembayaran utang dan bunga utang pada 2026 mencapai Rp1.433 triliun

    Kondisi ini berbeda dengan tahun 2024, ketika neraca transaksi berjalan defisit, tetapi neraca finansial masih mencatat surplus (plus) meskipun tipis.

    Menurutnya, defisit neraca finansial dipicu oleh keluarnya investasi portofolio, baik obligasi maupun saham yang senilai 8 miliar dolar. Arus keluar tersebut tidak mampu diimbangi dengan masuknya investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) yang hanya mencapai 5 miliar dolar.

    “Investasi portofolio sangat dipengaruhi oleh sentimen investor,” tegasnya.

    Seperti diketahui, sepanjang tahun 2025 ini Rupiah terdepresiasi sebesar 1,44 persen terhadap dolar AS.

    Namun, Rupiah terdepresiasi cukup dalam terhadap mata uang lainnya. Yakni sebesar 4,62 persen terhadap Yuan, 8,17 persen terhadap dolar Singapura, 8,68 persen terhadap dolar Australia, dan 14,42 persen terhadap Euro.

  • Sempat Sentuh Titik Terendah, Rupiah Hari Ini Menguat Tipis

    Sempat Sentuh Titik Terendah, Rupiah Hari Ini Menguat Tipis

    7cloud.asia – Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan ditutup di level Rp16.855 per dolar AS pada perdagangan, Rabu (14/1/2026).

    Dengan penutupan ini, maka Rupiah menguat tipis 0,03 persen dibanding sehari sebelumnya. Meski sepanjang perdagangan Rupiah sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS

    Penguatan ini terjadi setelah di hampir sepanjang perdagangan, Rupiah bergerak di zona pelemahan, dengan rentang pergerakan di kisaran Rp16.850-Rp16.872 per dolar AS.

    Penguatan tersebut sekaligus menandai pertama kalinya rupiah berhasil ditutup menguat sejak awal 2026. Dengan demikian, rupiah mematahkan tren pelemahan yang sebelumnya berlangsung selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

    Baca: Pendapatan pajak makin tersendat, masyarakat miskin rentan terdampak

    Dilansir CNBC Indonesia, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami sedikit pelemahan dengan tertekan tipis 0,02 persen di level 99,119.

    Meski demikian, secara tren dolar AS masih menunjukkan tren penguatan dengan hampir mendekati level psikologisnya di 100.

    Pelemahan Rupiah kemarin merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah dan melampaui titik terendah pada April 2025 di Rp 16.870 per dolar AS.

    Angka ini juga lebih rendah jika dibandingkan saat krisis 1998, yakni di posisi Rp 16.650 per dolar AS.

    Baca: Daftar UMP 2026 di 38 provinsi

    Pelemahan Rupiah ini dipicu faktor internal maupun eksternal.

    Ancaman Presiden AS, Donald Trump yang akan mengenakan tarif 25 persen terhadap negara yang berbisnis dengan Iran, menjadi sentimen pelemahan.

    Selain itu tekanan domestik menjadi penekan paling signifikan bagi rupiah. Meski menguat di akhir tahun, Rupiah merupakan mata uang yang melemah paling dalam kedua di Asia, setelah India, sepanjang 2025 dengan tergerus 4 persen.

    Pasar menyoroti inkonsistensi RI dalam meningkatkan kredibilitas pengelolaan fiskal, dengan defisit yang menyentuh hampir 3 persen PDB tahun lalu.

  • Pelemahan Rupiah Berlanjut Makin Mendekati Level Rp17.000 per Dolar

    Pelemahan Rupiah Berlanjut Makin Mendekati Level Rp17.000 per Dolar

    7cloud.asia – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut. Pada akhir perdagangan Senin (19/1/2026) Rupiah ditutup melemah 68 poin atau sekitar 0,40 persen ke level Rp16.955 per dolar AS.

    Pelemahan Rupiah ini sudah berlangsung sejak awal Januari, salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan memberlakukan tarif baru pada delapan negara Eropa yang menentang rencananya untuk mengakuisisi Greenland.

    Negara-negara yang menjadi target termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, bersama dengan beberapa negara Nordik dan Eropa utara.

    Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.

    Selain itu, data di AS menunjukkan pasar tenaga kerja tidak selemah yang diperkirakan. Oleh karena itu, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.

    Baca: Kebijakan tarif Donald Trump bakal menekan nilai Rupiah

    Pelemahan nilai Rupiah juga didorong sentimen domestik, oleh kebijakan yang ditempuh pemerintah demi mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi 8 persen.

    “Pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar, yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah,“ ujar pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip Sindonews.com.

    Selain itu, pasar juga mengkhawatirkan kesehatan fiskal Indonesia. Kekhawatiran ini mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3 persen.

    Sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.

    Nilai Rupiah saat ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah, bahkan jika dibandingkan titik terendah pada April 2025 di Rp 16.870 per dolar AS.

    Angka ini juga lebih rendah jika dibandingkan saat krisis 1998, yakni di posisi Rp 16.650 per dolar AS.

    Baca: Kebijakan Menkeu yang satu ini dapat mengakibatkan Rupiah terdepresiasi