Gerakan Mbah Dirjo di Kota Yogyakarta Mampu Turunkan Sampah hingga 50 Persen

Written by

in

7cloud.asia – Gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) yang digencarkan Pemkot Yogyakarta disebut sukses menurunkan volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan.

Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, program Mbah Dirjo mampu menurunkan volume sampah yang dibawa ke TPA Piyungan hingga 50 persen.

Program Mbah Dirjo ini mulai diterapkan akhir Juli 2023, menyusul penutupan TPA Piyungan. Meski TPA Piyungan ditutup, zona transisi 1 masih dibuka untuk menerima sampah hanya dari Kota Yogyakarta maksimal 100 ton per hari.

Baca: Inovasi pengelolaan sampah Mbah Dirjo ala Yogyakarta 

Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, pada awal gerakan itu dicanangkan, volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta bisa mencapai 100-130 ton per hari.

Namun, tidak seluruh sampah itu dibawa ke TPA Piyungan karena dibatasi maksimal 100 ton per hari. Karena itu, Pemkot Yogyakarta bekerja sama dengan Pemkab Kulonprogo membuang sekitar 15 ton sampah per hari ke Kulonprogo.

Sejak diterapkannya Gerakan Mbah Dirjo, volume sampah yang dihasilkan terus mengalami penurunan.

Baca: Opsi lain mengatasi penutupan TPA Piyungan

Bahkan, menurut Singgih, sampah yang dibawa ke TPA Piyungan turun menjadi 95 ton per hari.

“Ini (sampah) yang ke TPA Piyungan kemarin menurun sampai 95 ton. Ini salah satunya keberhasilan dari program Mbah Dirjo,” kata Singgih di kompleks Balai Kota Yogyakarta seperti dikutip ReJogja.

Sejak Gerakan Mbah Dirjo diluncurkan pada akhir Juli 2023 lalu, hingga kini ada sekitar 16 ribu biopori yang dibuat masyarakat bersama pemkot Yogyakarta.

Baca: Membangun ekosistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

Pemkot Yogyakarta menargetkan Gerakan Mbah Dirjo ini bisa berkontribusi mengurangi sampah sekitar 20-30 persen dari total volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta, yang sebelumnya mencapai 200 ton per hari.

Volume sampah itu sudah berkurang sekitar 100 ton dengan adanya Gerakan Zero Sampah Anorganik, dari sebelumnya mencapai sekitar 300 ton per hari pada 2022.

“Kami akan terus kami kembangkan biopori dengan berbagai macam varian yang ada. Baik ember tumpuk, biopori, losida, biolos, dan sebagainya, menyesuaikan kondisi masing-masing rumah,” ujar Singgih.

Baca: Simak info sistem guna ulang di sini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *