Tag: sekolah

  • SMP Negeri di Gowa Ini Punya Ekskul Anti-Bullying

    SMP Negeri di Gowa Ini Punya Ekskul Anti-Bullying

    7cloud.asia – Awal Agustus lalu, Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nadiem Makariem merilis peraturan untuk mengatasi masalah kekerasan di lingkungan sekolah yang sering disebut dengan aturan anti-bullying. 

    Untuk menghentikan kekerasan termasuk perundungan, sekolah diminta membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) atau anti-bullying yang bertugas menerima laporan dugaan kekerasan hingga memberikan rekomendasi sanksi.

    Di SMP Negeri 3 Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tim yang berfungsi mencegah perundungan atau anti-bullying sudah hadir sejak 2018.

    Baca: Skripsi tidak dihapus tetapi diserahkan kepada masing-masing kampus

    Mereka tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Agen Perubahan, yang biasa disebut Tim Ambassador atau tim anti-bullying

    “Ini sangat mendukung iklim dan budaya sekolah, belajar yang efektif,” ungkap Fajar Ma’ruf, kepala SMPN 3 Sungguminasa, kepada VOA (25/8/2023).

    “Semakin turun tindakan-tindakan penyimpangan yang terjadi kepada anak-anak di sekolah, karena mereka (anggota Agen Perubahan, red.) menunjukkan tidak bisa lagi ada yang namanya perundungan atau bullying verbal, fisik.”

    Baca: Sistem zonasi di PPDB akan dikaji secara mendalam, bukan dihapus

    Kegiatan anti-bullying bermula dari sebuah proyek percontohan yang digagas pemerintah bersama Dana Anak PBB (UNICEF) dan Yayasan Indonesia Mengabdi.

    Setelah proyek itu rampung dalam enam bulan, pihak sekolah memutuskan untuk melanjutkannya sebagai kegiatan ekstrakurikuler anti-bullying hingga saat ini.

    Tidak seperti dalam proyek percontohan, di mana pelajar dipilih untuk menjadi anggota tim anti-bullying, sejak menjadi ekskul, mereka bebas mendaftar. Kini ada 40 pelajar yang menjadi agen perubahan.

    Baca: Beragam kecurangan di PPDB dengan sistem zonasi

    “Mereka memantau, ada tidak perilaku bullying di kelasnya,” kata Tanti Agustina, pembina ekskul anti-bullying tersebut, melalui Zoom.

    “Tentunya mereka sebagai konselor sebaya memberikan pemahaman kepada teman-temannya tentang perilaku negatif yang mereka lakukan.”

    Anggota Agen Perubahan harus mengikuti latihan dasar kepemimpinan agar dapat menjadi sosok yang disegani dan memberikan contoh positif bagi teman-temannya.

    Baca: Mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Selain itu, mereka juga diharapkan mampu mengubah pola pikir siswa saat menghadapi tindak perundungan.

    “Banyak yang kalau lihat bullying, yang lain tidak mau melerai atau membantu korban, cuma melihat atau menonton saja, atau menertawakannya,” kata Enjelika Roy, salah satu siswi yang menjadi agen perubahan, kepada VOA.

    Tanti paham risiko yang dihadapi Enjelika dan anggota lainnya saat berhadapan dengan pelaku bullying. Selain kerap disebut “tukang lapor,” mereka juga tak jarang menjadi target perundungan pelaku.

    Baca: Pertimbangkan hal ini sebelum memasukkan anak ke Homeschooling

    Hal inilah yang dialami Abdul Fatir Jiwansyah, ketua ekskul anti-bullying tersebut.

    “(Pelaku) langsung marah, marah-marah ke saya, jadi saya nggak mau ambil risiko, saya langsung saja tanya ke pembina, Bu Tanti atau guru-guru yang ada di sekolah, agar memberikan hukuman edukasi saja supaya (pelaku) nggak mengulangi perbuatannya lagi,” ujar Fatir.

    Tanti memang meminta anggotanya hanya melakukan intervensi langsung ketika kondisinya tidak membahayakan.

    Baca: Pembelajaran berpusat pada siswa belum tentu cocok untuk semua orang

    “Kami memang menyampaikan kepada mereka, ‘Kalian kan bisa mengukur ini teman yang bisa diberikan pemahaman, mana yang tidak,” ungkapnya.

    Setelah menerima laporan, guru Bimbingan Konseling itu akan mengajak pelaku berbicara untuk mengetahui alasan mereka melakukan perundungan. Seringkali ia menemukan bahwa pelaku menghadapi masalah di rumah dan melampiaskannya di sekolah.

    “Biasanya dia merasa kurang diperhatikan di rumahnya,” ungkap Tanti, yang sudah empat tahun membina ekskul itu.

    Baca: Mengapa pendidikan montessori makin diminati

    Meski demikian, ia tak langsung memanggil orang tua atau wali pelaku setelah laporan pertama. Ia akan terlebih dahulu membina dan melihat perkembangan mereka.

    Jika setelah itu perilaku bullying tidak berlanjut, maka pemanggilan orang tua atau wali tidak dilakukan. Namun jika pelaku kembali berulah, maka sebaliknya.

    Masalahnya, Tanti kadang menemukan orang tua pelaku tidak mau tahu masalah anaknya di sekolah.

    Baca: PKBM alternatif bagi mereka yang putus sekolah

    “Kita kan butuh kerja sama dengan orang tua dalam hal ini, untuk mengubah sebuah perilaku, karena kan anak-anak bermacam-macam karakternya. Ada anak-anak yang mungkin disampaikan oleh gurunya bisa langsung berubah, ada yang perlu bantuan orang tua.”

    Fenomena tersebut sering ditemukan Philipus Yusenda, fasilitator pendidikan nilai di Empathic Living.

    “Paradigma outsourcing itu jadi sangat kuat, bahwa sekolah adalah tempat untuk outsourcing pembentukan mental anak,” ungkapnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Bullying di Sekolah, Bagaimana Peran Orang Tua Ikut Mencegah

    Bullying di Sekolah, Bagaimana Peran Orang Tua Ikut Mencegah

    7cloud.asia – Masalah perundungan atau bullying di sekolah hingga kini masih menjadi masalah serius.

    Menurut penelitian Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 terhadap pelajar usia 15 tahun di Indonesia, sebanyak 15% mengaku sering menjadi target bullying di sekolah atau luar rumah.

    Dalam studi soal bullying di sekolah ini, 41% responden mengaku dibully dengan berbagai cara beberapa kali dalam sebulan, 19% dikucilkan, 22% diejek, 14% diancam pelaku.

    Sedangkan 22% mengaku barang milik mereka diambil atau dirusak, 18% dipukul atau didorong pelaku dan 20% digosipkan dengan kabar tidak menyenangkan

    Menangani kasus perundungan atau bullying di sekolah bisa dibilang gampang-gampang susah.

    Baca: SMP Negeri di Gowa ini punya ekskul anti bullying

    Seringkali ditemukan pelaku bullying di sekolah, melakukan hal itu karena menghadapi masalah di rumah dan melampiaskannya di sekolah. 

    Menghadapi kondisi ini, biasanya guru pembimbing terlebih dahulu membina dan melihat perkembangan mereka. Jika setelah itu perilaku bullying tidak berlanjut, maka pemanggilan orang tua atau wali tidak dilakukan.

    Namun jika pelaku tetap melakukan perilaku bullying maka guru akan memanggil orang tua siswa. Masalahnya, kadang orang tua pelaku bullying tidak mau tahu masalah anaknya di sekolah.

    “Kita kan butuh kerja sama dengan orang tua dalam hal ini, untuk mengubah sebuah perilaku, karena kan anak-anak bermacam-macam karakternya. Ada anak-anak yang mungkin disampaikan oleh gurunya bisa langsung berubah, ada yang perlu bantuan orang tua.” ujar Tanti Agustina, pembina ekskul anti-bullying SMPN Gowa.

    Baca: Beragam kecurangan di PPDB dengan sistem zonasi

    Fenomena tersebut sering ditemukan Philipus Yusenda, fasilitator pendidikan nilai di Empathic Living.

    “Paradigma outsourcing itu jadi sangat kuat, bahwa sekolah adalah tempat untuk outsourcing pembentukan mental anak,” ungkapnya.

    Philip melihat adanya persepsi yang melekat dalam benak sebagian orang tua bahwa sekolah bertanggung jawab penuh atas pembentukan karakter anak-anak mereka.

    Padahal, menurutnya, orang tua memegang peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan, terutama pada anak-anak di bawah usia remaja.

    “Untuk anak di bawah usia ABG, pengaruh orang dewasa sekitarnya jauh lebih kuat. Jadi apa pun yang dilihat itu langsung ditiru,” katanya. “Katakanlah, orang tuanya sudah biasa dengan kata-kata kasar, maka itu yang ditiru duluan.”

    Baca: Negara diminta hadir dalam melindungi anak dari kekerasan

    Sementara untuk anak-anak usia SMP dan SMA, Philip menilai apa yang dilakukan SMPN 3 Sungguminasa dengan ekskul anti-bullying Agen Perubahan dapat membawa perubahan positif pada perilaku pelajar.

    “Karena mereka jauh lebih rentan terhadap tekanan teman sebaya (peer pressure). Kalau temannya banyak yang menggunakan set perilaku tertentu, mereka akan lebih cenderung untuk menuju ke perilaku itu.”

    Tokoh pendidikan sekaligus ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo, berharap sekolah dapat lebih peka dan lebih memahami kegentingan masalah perundungan atau bullying di sekolah.

    Pasalnya, masih ada institusi pendidikan yang tidak menangani isu bullying dengan serius.

    “Jangan-jangan kita ini sudah terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, sehingga melupakan bahwa anak-anak kita itu sedang belajar kehidupan loh di sekolah,” ungkapnya.

    Baca: Film Galaksi sukses memotret anak-anak yang melampiaskan masalah di rumahnya

    “Kehidupan macam apa yang mau diberikan oleh sekolah ketika seorang anak sungguh-sungguh tidak bisa merasa aman, apalagi nyaman.”

    Henny menyambut baik peraturan baru Mendikbudristek yang diterbitkan Agustus lalu untuk lebih merinci aturan pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah.

    Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan itu menggantikan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 yang mengatur hal serupa.

    Meski demikian, kebijakan saja tidak cukup, kata Henny. “Apa pun kebijakan yang sebetulnya ada, kalau memang tidak dirasa penting oleh pemangku kepentingan, dalam hal ini mungkin sekolah, guru, orang tua, maka ya tidak jalan juga.”

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Pj Gubernur NTT Cabut Kebijakan Jam Masuk Sekolah Pukul 05.30

    Pj Gubernur NTT Cabut Kebijakan Jam Masuk Sekolah Pukul 05.30

    7cloud.asia – Penjabat (Pj) Gubernur Nusa Tenggara Timur Ayodhia Kalake, pada Kamis (21/9/2023), resmi menghentikan kebijakan masuk sekolah pukul 05.30 Wita di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), 

    Setelah kebijakan masuk sekolah pagi yang diterapkan di era mantan gubernur NTT Vicktor Laiskodat tersebut dicabut, kini jam masuk sekolah para siswa dikembalikan ke semula.

    “Pemerintah telah mengambil langkah bahwa tanggal 21 September 2023, jam masuk sekolah dikembalikan ke jadwal masuk semula yaitu 07.00 Wita,” kata Ayodhia dalam rapat paripurna ke-3 masa persidangan 1 tahun sidang 2023-2024 di ruang sidang utama DPRD NTT, Kamis (21/9/2023).

    Baca: Angka putus sekolah di NTT tergolong tinggi, ini kata DPR

    Keputusan tersebut diambil setelah Ayodhia mengunjungi sekolah-sekolah yang menerapkan kebijakan masuk sekolah pukul 05.30 Wita dan berdialog dengan berbagai pihak terkait.

    Tak hanya menghentikan kebijakan tersebut, dia juga akan mempelajari kebijakan jam belajar tiga negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

    “Ada tiga negara yang kami pelajari yakni Finlandia, Jepang, dan Jerman,” ungkap Ayodhia.

    Baca: Mampukah pembangunan pariwisata enatskan kemiskinan di NTT

    Menengok ke belakang, kebijakan sekolah jam 5.30 pagi di NTT diklaim untuk membangun etos kerja.

    Gubernur NTT saat itu, Viktor Bungtilu Laiskodat meminta Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan memulai sekolah jam 05.00 Wita. 

    Viktor meminta para siswa membiasakan diri bangun pukul 04.00 Wita untuk memulai pelajaran pukul 05.00 Wita. Tetapi kebijakan ini diberlakukan hanya untuk sekolah menengah atas

    Baca: Mendobrak mitos, kini sekolah vokais bukan lagi pilihan kedua

    “Ini khusus SMA, kalau SMP tidak,” kata Viktor saat itu di hadapan sejumlah Kepala Sekolah SMA dan SMK se-Kota Kupang, dalam video tersebut.

    “Di kota kita ubah, sekolah mulai jam 05.00 pagi, setuju tidak kepala sekolah,” tanya Viktor saat itu.

    Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Linus Lusi membenarkan video tersebut. Kebijakan itu diklaim diberlakukan untuk melatih kedisiplinan siswa.

    Baca: Mengurai kompleksnya masalah pendidikan di Papua

    “Ini untuk melatih kedisiplinan anak-anak NTT,” kata Linus ketika diwawancarai Maret 2023.

    Sumber: kompas.com

    6

  • Puan Maharani Soroti Sengketa Lahan yang Memicu Penyegelan Gedung Sekolah di Madura

    Puan Maharani Soroti Sengketa Lahan yang Memicu Penyegelan Gedung Sekolah di Madura

     

    7cloud.asia – Kasus sengketa lahan sekolah terjadi di beberapa daerah yang berujung dengan terganggunya proses belajar anak. 

    Salah satu sengketa lahan itu terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lerpak 1 Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

    Akibat sengketa lahan ini, sebanyak 128 siswa terpaksa melaksanakan kegiatan belajar di tanah lapang beratapkan terpal. 

    Akibat sengketa lahan ini, kegiatan belajar siswa terpaksa dilaksanakan di luar gedung sekolahnya, karena gedung yang ada disegel dan dilarang menjadi lokasi belajar mengajar. 

    Baca: Pj Gubernur NTT cabut aturan jam sekolah pagi 

    Ahli waris lahan yang juga mantan kades melarang lahan tersebut dtempati untuk ekgiatan belajar mengajar.

    Peristiwa penyegelan yang dipicu sengketa lahan sekolah juga sempat terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kalianget, Sumenep.

    Akibatnya, seluruh siswa terpaksa melakukan kegiatan belajar melalui daring. Penyegelan itu diduga akibat Pemkab Sumenep belum membayar ganti rugi atas lahan tersebut. 

    Menanggapi sengketa lahan ini, Ketua DPR Puan Maharani meminta Pemerintah cepat mengatasi permasalahan tersebut agar tidak mengganggu anak-anak dalam bersekolah.

    Baca: angka putus sekolah di NTT tinggi, ini kata DPR

    “Pemerintah harus mencari solusi dari sekolah-sekolah yang mengalami sengketa lahan. Bisa melalui mediasi dengan pemilik lahan atau ahli waris, atau menyediakan tempat lain agar anak-anak tetap bisa belajar di sekolah,” kata Puan melalui rilis kepada Parlementaria, di Jakarta, Jumat (22/9/2023). 

    Potret miris dari dunia pendidikan di Madura itu, menurut Puan, harus segera dicarikan solusi. Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memberikan lokasi sementara yang layak bagi siswa SDN Lerbak 1.

    Anak-anak yang masih semangat belajar dengan keterbatasan tempat, ujarnya, harus menjadi perhatian Pemerintah.

    “Jangan biarkan peristiwa ini terus berlanjut, harus ada langkah konkret dari pemerintah setempat untuk mencari gedung yang layak,” ujar Mantan Menko PMK ini.

    Baca: Beragam kecurangan di sistem zonasi di PPDB

    Puan menambahkan, kegiatan belajar di ruang terbuka tidak hanya memengaruhi kualitas pendidikan siswa. Puan menyebut, situasi tersebut juga dapat berdampak pada kesejahteraan fisik dan psikologis anak-anak.

    “Belajar di ruang terbuka atau tempat yang tidak memadai dapat mengganggu konsentrasi dan menciptakan beban tambahan pada siswa yang seharusnya fokus pada pembelajaran,” ujarnya. 

    Banyaknya persoalaan terkait sengketa lahan akibat belum dibayarnya ganti rugi atas lahan sekolah oleh pemerintah daerah, Puan menilai diperlukan perubahan mekanisme dalam hal anggaran pendidikan.

    Sebab menurutnya, keterlambatan pembayaran atas lahan sekolah telah berpengaruh para proses belajar mengajar. 

    Baca: Mendobrak mitos, sekolah vokasi kini bukan lagi pilihan kedua

    Jangan hanya karena keterlambatan pembayaran atau pelunasan, maka anak-anak kita terganggu belajarnya.

    “Ini kondisi yang tidak ideal dan sangat penting bahwa Pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah menyelesaikan permasalahan ini,” ujarnya.  

    Ia mengingatkan, pendidikan adalah investasi terbaik yang dapat diberikan kepada calon penerus bangsa.

    Oleh karena itu, Pemerintah harus memiliki komitmen untuk memenuhi hak anak dalam mendapatkan pendidikan tanpa ada hambatan. 

    Baca: Peran orang tua mencegah budaya bullying

    Puan berharap bahwa dengan aksi sigap dari Pemerintah, masalah terganggunya proses belajar mengajar, apapun bentuknya, akan cepat diatasi.

    “Negara wajib memberikan lingkungan belajar yang aman dan nyaman,” tegasnya.

    “Pemerintah pusat juga harus turut andil mengawal, atau bahkan ikut terlibat dalam penyelesaian berbagai persoalan sengketa lahan sekolah yang merugikan anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa Indonesia,” tutup Puan. 

  • Palembang Diselimuti Kabut Asap, Jam Sekolah Berubah

    Palembang Diselimuti Kabut Asap, Jam Sekolah Berubah

     

    7cloud.asia – Kabut asap masih menyelimuti Kota Palembang sehingga membuat kualitas udara di Palembang sangat tidak sehat. Dinas Pendidikan (Disdik) Palembang mengubah jam masuk sekolah siswa.

    Dalam surat edaran Disdik Palembang No 420/3409/2023 tentang Perubahan Jadwal Belajar Mengajar sebagai dampak buruk bahaya kabut asap, ada 4 poin yang berubah.

    Diantaranya jam masuk masuk sekolah berubah pukul 09.00 WIB dan meniadakan aktivitas luar ruangan seperti, upacara, olahraga hingga ekstrakurikuler.

    Baca; Mengapa Gerakan 30 September punya nama beragam

    Melansir Tribun Sumsel, Kepala Disdik Kota Palembang, Ansori menjelaskan keputusan tersebut merupakan hasil rapat bersama antara Pemkot Palembang dan stakeholder terkait jam belajar mengajar di sekolah pada Jumat (29/9/2023).

    Ansori menjelaskan seluruh Satuan Pendidikan Tingkat SPNF SKB / TK / SD / SMP Negeri / Swasta Sederajat di Kota Palembang mengurangi waktu setiap Jam Pelajaran (JP) di sekolah masing- masing dikurangi 10 menit.

    “Belajar disekolah dimulai Pukul 09.00 Wib dan tidak diadakan kegiatan diluar ruangan, seperti jam istirahat dihilangkan, upacara, olahraga maupun ekstrakulikuler maupun kegiatan lainnya,” jelas Ansori.

    Baca: Membaca pemikiran Kartini

    Tidak hanya jam belajar yang berubah. Dalam surat edaran tersebut, Disdik juga meminta kepada seluruh warga sekolah untuk tetap memakai masker selama diluar ruangan.

    Mengingat, kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Dampak Buruk Kabut Asap dan Kewaspadaan Dini Dengue Terkait Perubahan Iklim El Nino.

    “Kebijakan ini berlaku mulai 30 September 2023 sampai dengan ditetapkan ketentuan berikutnya,” katanya.

    Baca: Kekeringan di Bali meluas

    Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, belum ada peningkatan status Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

    “Dalam waktu dekat kita akan adakan salat istisqa,” kata Herman.

    Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Palembang kualiras udara di Palembang pada Rabu (27/9/2023) pagi hari masih di atas 200 mikro gram per meter kubik.

    Baca: Kebakaran lahan akibat El Nino harus dibayar mahal

    Kondisi udara seperti ini masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

    “Saat ini kategori udara di kota Palembang sangat tidak sehat masih diatas 200,” kata Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran DLHP Provinsi Sumsel Rezawahya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Sekolah Terganggu Bau Gas Kimia, Para Siswa Dipulangkan Lebih Cepat

    Sekolah Terganggu Bau Gas Kimia, Para Siswa Dipulangkan Lebih Cepat

     

    7cloud.asia – Sejumlah siswa terpaksa dipulangkan lebih cepat akibat bau gas kimia yang menyengat dari PT Candra Asri di Cilegon, Banten. Selama beberapa hari kegiatan belajar mengajar di sekolah terganggu.

    SDN Kepuh, Cilegon misalnya. Disekolah ini para siswa terpaksa dipulangkan pada pukul 10.00 WIB. Padahal seharusnya mereka pulang pada pukul 12.00 WIB.

    Menurut Kepala SDN Kepuh, Cilegon, Sahri, bau menyengat ini sangat mengganggu proses belajar mengajar. Sehingga para siswa tidak nyaman belajar di sekolah.

    “Makin lama baunya sangat menyengat, padahal udah pake masker tetapi tetap aja bau, makannya anak-anak tidak nyaman belajar,” ucap Sahri seperti dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Sahri menjelaskan bau menyengat mulai tercium saat pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB meski jarak pabrik ke sekolah cukup jauh sekitar 4 kilometer.

    Baca: MA menangkan gugatan warga soal polusi udara

    “Pada saat pembelajaran tentu sangat mengganggu sekali, anak-anak juga tidak nyaman karena posisi sekolah kita menghadap ke barat jadi ada angin yang masuk ke ruangan itu keciumnya engga enak banget,” jelasnya.

    Akibat bau gas kimia ini sebanyak 5 orang dari 232 siswa mengalami mual, pusing, dan sakit perut. Bahkan tiga orang siswa dilarikan ke puskesmas terdekat.

    “Kemarin ada lima orang yang mengeluh mual, pusing dan sakit perut sehingga langsung dibawa ke puskesmas, dan dua orang di bawa pulang oleh orang tuanya,” katanya.

    Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pihaknya juga telah memutuskan agar para siswa belajar di rumah untuk sementara waktu.

    “Jadi untuk sementara waktu anak-anak belajar di rumah dulu, karena kita juga khawatir seperti kemarin ada anak-anak yang harus dilarikan ke rumah sakit,” ujarnya.

    Baca: Limbah pabrik coklat mencemari aliran irigasi pertanian

    Adanya bau gas kimia ini, Sahri berharap pihak perusahaan dapat segera mengatasinya. Sebab bau gas kimia ini tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar tetapi terbukti dapat membahayakan kesehatan.

    Sementara itu, PT Chandra Asri Pasifik Tbk (TPIA) menghentikan operasional atau shutdown unit pabrik ethylene plant.

    Hal ini dilakukan karena adanya kegagalan fungsi alat penunjang yang berhubungan dengan air pendingin yang mengandung hidrokarbon pada 20 Januari 2024 lalu.

    Menurut Sekretaris Perusahaan TPIA, Erri Dewi Riani, TPIA juga melakukan pembakaran di cerobong (flaring).

    Yaitu pembakaran senyawa hidrokarbon yang muncul ketika saat terjadi kondisi yang tidak biasa (abnormality) dan unplanned shutdown di pabrik.

    “Hal ini dilakukan sebagai tindakan pengamanan sesuai prosedur perseroan dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan karyawan serta masyarakat sekitar,” jelasnya.

    Baca: Pemprov DKI razia cerobong asap pabrik

    Menurutnya bau gas kimia yang muncul dari pabrik kemungkinan ditimbulkan dari hidrokarbon yang disebabkan oleh kegagalan fungsi alat penunjang yang berhubungan dengan air pendingin.

    Saat ini pihaknya masih menyelidiki untuk memastikan sumber utama aroma tidak sedap tersebut. Pihaknya juga membantah adanya kebocoran gas yang terjadi dalam pabrik.

    Sebelumnya, pada Senin (22/01/2024), Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, merilis hasil pemeriksaan yang dilakukan terkait bau kimia yang ditimbulkan dari aktivitas flaring PT Chandra Asri pada 20 Januari 2024 lalu. 

    Kasubdit Toksikologi Lingkungan Puslabfor Mabes Polri, AKBP Faizal Rachmad telah melakukan olah TKP dan melakukan pengambilan beberapa sampel di lapangan.

    Hasilnya kondisi udara di sekitar lokasi sudah aman sehingga warga sudah bisa kembali beraktivitas.

     

    Reporter: Nurakhmayani

  • Gelombang Panas Landa Asia, Sejumlah Sekolah Terpaksa Tutup

    Gelombang Panas Landa Asia, Sejumlah Sekolah Terpaksa Tutup

    7cloud.asia – Sejumlah negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan dilanda gelombang panas menyengat dalam sepekan terakhir dengan suhu hampir mencapai 45 derajat Celcius. Sekolah terpaksa tutup dan otoritas mengeluarkan peringatan kesehatan.

    Dari Filipina hingga Thailand dan dari India hingga Bangladesh, badan-badan cuaca memperingatkan bahwa suhu udara bisa menembus 40C dalam beberapa hari ke depan.

    Harian berbahasa Inggris Manila Times melaporkan bahwa pemerintah Filipina menunda kelas tatap muka di sekolah-sekolah negeri selama dua hari akibat cuaca ekstrem tersebut.

    “Mengingat prakiraan indeks panas terkini… dan rencana pemogokan transportasi nasional, semua sekolah negeri akan menerapkan pembelajaran jarak jauh pada 29 dan 30 April 2024,” kata Departemen Pendidikan Filipina, yang mengawasi lebih dari 47.000 sekolah, dalam pernyataannya.

    Cuaca sangat ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan Mei setelah suhu mencapai rekor tertinggi 38,8C di Manila pada Sabtu.

    Di Bangladesh, sekolah di lima distrik, termasuk ibu kota Dhaka, menghentikan kegiatan belajar-mengajar akibat gelombang panas.

    Baca: Cuaca panas di Asia telan korban jiwa

    Keputusan itu diambil setelah badan meteorologi setempat memperpanjang peringatan panas selama 72 jam mulai Minggu (28/04/2024).

    Peringatan itu memprediksi tidak ada hujan yang turun atau penurunan suhu dalam tiga hari ke depan.

    Sementara itu, media lokal Ekkator TV melaporkan bahwa setidaknya delapan orang, termasuk dua guru sekolah, meninggal pada hari pertama sekolah pada Senin di enam distrik, termasuk Dhaka.

    Gelombang panas melanda Bangladesh selama 29 hari berturut-turut hingga Senin, yang menjadi gelombang panas terpanjang dalam sejarah sejak 1948, menurut Departemen Meteorologi Bangladesh.

    Suhu di Dhaka pada Senin mencapai 39C, sementara suhu tertinggi musim ini mencapai 42,7C, yang tercatat di distrik Chuadanga pada Jumat.

    Baca: Meski hujan, cuaca panas landa kota ini

    Negara lain yang juga mengalami gelombang panas adalah Thailand. Ahli meteorologi negara itu mengeluarkan peringatan “cuaca buruk” setelah suhu melewati 44,1C sebuah provinsi pada Sabtu.

    Sepanjang tahun ini, gelombang panas telah menewaskan 30 orang di Thailand.

    Kamboja, Myanmar dan Vietnam juga mengeluarkan peringatan suhu yang bisa mencapai 40C dalam beberapa hari ke depan.

    Suhu global mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu. Badan cuaca dan iklim PBB mengatakan bahwa Asia mengalami pemanasan dengan sangat cepat.

    Sumber: Anadolu

  • Wujudkan Sekolah dan Kurikulum Hijau, UNESCO Luncurkan Pedoman Menghijaukan Sekolah

    Wujudkan Sekolah dan Kurikulum Hijau, UNESCO Luncurkan Pedoman Menghijaukan Sekolah

    7cloud.asia – Menghijaukan sekolah dan kurikulum hijau adalah cara terbaik mengatasi perubahan iklim dalam jangka panjang. Karena itu perlu pedoman untuk melakukannya.

    Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), Audrey Azoulay.

    UNESCO meluncurkan pedoman menghijaukan sekolah dan kurikulum hijau dengan menekankan pentingnya pemberdayaan pemuda berperan mengatasi perubahan iklim.

    Melansir Antaranews, peluncuran ini dilakukan tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni lalu.

    Baca: Pembangunan ekonomi hijau di Jawa Barat

    Menurut Azoulay, dengan “menghijaukan pendidikan” berarti mengintegrasikan prinsip-prinsip lingkungan yang berkelangsungan ke dalam semua aspek pendidikan, mulai dari materi mengajar hingga kegiatan sekolah.

    “Sudah saatnya pendidikan lingkungan diintegrasikan dalam semua mata pelajaran sekolah, di seluruh jenjang pendidikan dengan pendekatan yang berorientasi pada tindakan, sehingga dapat membantu pemuda memahami bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membuat perubahan,” jelas Azoulay.

    Hasil analisis UNESCO terhadap 100 kerangka kurikulum nasional pada tahun 2021 mengungkapkan hampir setengah (47 persen) dari kurikulum tersebut tidak menyinggung perubahan iklim.

    Hanya 23 persen guru merasa mampu menangani isu iklim secara memadai di kelas dan 70 persen dari pemuda yang di survei tidak dapat menjelaskan isu perubahan iklim.

    Mereka juga menyatakan kekhawatiran tentang cara pengajaran mengenai iklim saat ini. 

    Baca: Dampak krisis iklim pada anak

    UNESCO juga menemukan fakta bahwa pendidikan formal terlalu fokus pada penyampaian pengetahuan tentang isu lingkungan, bukan pada tindakan.

    Sehingga pendidikan formal dianggap gagal menunjukkan peran yang dapat dilakukan siswa dalam mengatasi krisis iklim.

    UNESCO akan menjadikan pendidikan lingkungan sebagai prioritas bagi organisasi untuk memberikan dukungan terhadap negara-negara anggotanya.

    UNESCO mempromosikan dua pedoman konkret bagi negara anggota dan komunitas pendidikan di seluruh dunia.

    Pertama, pedoman Kurikulum Hijau dari UNESCO. Suatu pedoman yang menyediakan pemahaman umum tentang apa yang seharusnya ada di dalam pendidikan mengenai iklim.

    Baca: Dampak positif program kampung iklim

    Dalam pedoman tersebut juga dijelaskan bagaimana negara dapat mengintegrasikan topik lingkungan dalam kurikulum pendidikan, dengan capaian pembelajaran yang terperinci menurut kelompok usia masing-masing, dari usia 5 tahun hingga 18 tahun ke atas.

    Panduan tersebut fokus pada pentingnya mempromosikan pembelajaran aktif dan merancang berbagai kegiatan praktikal.

    Kedua, standar Kualitas Sekolah Hijau dari UNESCO. Merupakan pedoman yang dikembangkan melalui kerja sama dengan badan PBB lainnya, masyarakat sipil, dan badan negara.

    Pedoman ini menetapkan persyaratan mínimum tentang cara menciptakan ‘sekolah hijau’ dengan mempromosikan pendekatan yang berorientasi pada tindakan.

    Seluruh sekolah perlu membentuk komite tata kelola lingkungan yang mencakup siswa, guru, dan orang tua untuk mengawasi pengelolaan yang berkelanjutan.

    Baca: Revitalisasi pendidikan untuk penuhi kebutuhan green jobs

    Selain itu, UNESCO mendorong pelatihan guru, melakukan audit energi, air, makanan, dan limbah. sekaligus menyerukan hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat luas untuk membantu siswa mengatasi masalah lingkungan di tingkat lokal.

    UNESCO telah memimpin ‘Kemitraan Pendidikan Hijau’, yang kini telah memiliki lebih dari 80 negara anggota.

    ‘Kemitraan Pendidikan Hijau’ ini juga memungkinkan kolaborasi lebih dari 1300 organisasi, termasuk badan-badan PBB, masyarakat sipil, organisasi pemuda, serta sektor swasta.

    Komunitas ini menyediakan berbagai alat penting bagi negara-negara untuk memperkuat peran pendidikan dalam mengatasi gangguan iklim.

     

  • Jumlah Sekolah Negeri Terbatas, DPR: Bangun Jembatan dan Jalan Saja Bisa

    Jumlah Sekolah Negeri Terbatas, DPR: Bangun Jembatan dan Jalan Saja Bisa

    7cloud.asia – Anggota Komisi X DPR Lisda Hendrajoni menyoroti masih adanya beberapa persoalan pendidikan di Indonesia yang belum tertangani dengan baik.

    Salah satunyanya adalah masih adanya ketimpangan pendidikan di kota besar dan daerah pedalaman, juga ketimpangan antara sekolah favorit dan bukan favorit.

    Lisda menegaskan, hal tersebut harus menjadi perhatian bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

    Pemerintah diminta tak hanya menambah jumlah sekolah, tetapi juga meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan secara merata dan memadai.

    Baca: Hanya 3 provinsi yang alokasikan 20 persen anggaran untuk pendidikan

    Lisda mempertanyakan komitmen pemerintah di sektor pendidikan ini. Persoalannya saat ini, ujarnya, bagaimana peran negara hadir? Adakah niat baiknya atau tidak? 

    ”Apakah dalam hal ini negara mampu membangun sekolah, memberikan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru kita?” ujar Lisda kepada Parlementaria usai melakukan Kunjungan Kerja Komisi X ke Banda Aceh, Jumat (12/7/2024).

    Lisda menegaskan, sekolah dan guru-guru yang mempunyai kualitas baik menjadi investasi masa depan bangsa ini. Sumber daya manusia jauh lebih penting dibanding infrastruktur.

    ”Sedangkan untuk membangun jembatan dan jalan tol saja, pemerintah bisa,” cetusnya.

    Lebih lanjut Politisi Fraksi NasDem ini menjelaskan, saat ini yang terjadi di lapangan adalah bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin berkurang jumlah sekolahnya.

    Baca: Ini bahayanya jika negara abaikan pendidikan

    Dengan kondisi seperti ini akan mengakibatkan semakin tinggi pendidikan, semakin banyak anak yang kesulitan mengakses sekolah negeri.

    Permasalahan seperti ini, tegasnya, sudah seharusnya menjadi kewajiban negara agar bagaimana anak-anak harus di Indonesia bisa bersekolah semua.

    “Kalau seperti ini (jumlah sekolah terbatas) berarti pemerintah mempersiapkan anak-anak kita untuk tidak bersekolah, dan tidak mendapatkan hak pendidikan. Ini betul-betul sudah melanggar konstitusi,” ujarnya.

    Konstitusi, lanjutnya, mengamanatkan pemerintah untuk hadir dalam upaya mencerdaskan seluruh anak bangsa merupakan amanat UUD 1945. Maka itu negara wajib hadir dan turun tangan mewujudkan pendidikan untuk semua warganegara ini.

  • Seribuan Murid SD di Makassar Terpaksa ‘Dirumahkan’ karena Gedung Sekolah Mereka Disegel Pemilik Lahan

    Seribuan Murid SD di Makassar Terpaksa ‘Dirumahkan’ karena Gedung Sekolah Mereka Disegel Pemilik Lahan

    7cloud.asia – Sekitar seribu murid Sekolah Dasar (SD) di Makassar, Sulawesi Selatan, disebut belajar dari rumah karena kompleks sekolah mereka disegel.

    Kompleks sekolah tersebut menjadi pusat sengketa kepemilikan lahan antara pemerintah daerah (pemda) dan sekelompok warga yang mengaku sebagai ahli waris.

    Dampak dari perselisihan itu, salah satu orang tua murid, Abdul Muis, mengaku anaknya telah beberapa hari ‘dirumahkan’.

    “Mau ke sekolah merasa khawatir ada apa-apa, namanya anak kecil toh kayak begitu,” kata Abdul kepada wartawan Darul Amri di Makassar, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Selasa (23/07/2024).

    Baca: Ratusan ribu anak Papua tidak sekolah

    Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (Kornas JPPI), Ubaid Matraji, mengatakan kasus itu hanya satu contoh dari banyak kasus yang menunjukkan lemahnya sistem perlindungan hak pendidikan anak.

    “Kita tidak punya mekanisme bagaimana menampung anak-anak yang sekolahnya bermasalah atau berkonflik, dan ini banyak terjadi di banyak tempat. Akhirnya ketika ada kasus semacam itu, korbannya adalah anak-anak tidak sekolah,” kata Ubaid.

    Sejak Selasa (16/7/2024) sekelompok orang yang mengaku sebagai ahli waris menyegel gerbang kompleks tempat tiga SD berada, yaitu SD Inpres Pajjaiang, SD Inpres Sudiang dan SD Negeri Sudiang.

    Pemkot Makassar kemudian memutuskan para siswa belajar di rumah dari Kamis (18/7/2024) hingga Sabtu (20/7/2024) dan kembali ke sekolah pada Senin (22/7/2024).

    Baca: Angka putus sekolah di NTT tergolong tinggi

    Namun, pantauan BBC News Indonesia hingga Selasa (23/7/2024), sekolah tersebut masih tutup.

    Sengketa ini bermula ketika warga yang mengaku ahli waris menggugat Pemkot Makassar pada 2017 ke jalur hukum terkait kepemilikan lahan kompleks SD Pajjaiang, seluas 8.100 meter persegi.

    Pemkot Makassar pun kalah di tingkat pertama, banding, hingga kasasi di Mahkamah Agung (MA) dan diputus untuk membayar ganti rugi atas penguasaan lahan tersebut kepada ahli waris, merujuk pada putusan MA nomor: 1021 K/Pdt/2020 tanggal 3 Juni 2020.

    Ahli waris menuntut Pemkot Makassar untuk membayar ganti rugi lahan sebesar Rp14 miliar. Namun, Pemkot Makassar urung melaksanakannya karena tengah mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK).