Bullying di Sekolah, Bagaimana Peran Orang Tua Ikut Mencegah

Written by

in

7cloud.asia – Masalah perundungan atau bullying di sekolah hingga kini masih menjadi masalah serius.

Menurut penelitian Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 terhadap pelajar usia 15 tahun di Indonesia, sebanyak 15% mengaku sering menjadi target bullying di sekolah atau luar rumah.

Dalam studi soal bullying di sekolah ini, 41% responden mengaku dibully dengan berbagai cara beberapa kali dalam sebulan, 19% dikucilkan, 22% diejek, 14% diancam pelaku.

Sedangkan 22% mengaku barang milik mereka diambil atau dirusak, 18% dipukul atau didorong pelaku dan 20% digosipkan dengan kabar tidak menyenangkan

Menangani kasus perundungan atau bullying di sekolah bisa dibilang gampang-gampang susah.

Baca: SMP Negeri di Gowa ini punya ekskul anti bullying

Seringkali ditemukan pelaku bullying di sekolah, melakukan hal itu karena menghadapi masalah di rumah dan melampiaskannya di sekolah. 

Menghadapi kondisi ini, biasanya guru pembimbing terlebih dahulu membina dan melihat perkembangan mereka. Jika setelah itu perilaku bullying tidak berlanjut, maka pemanggilan orang tua atau wali tidak dilakukan.

Namun jika pelaku tetap melakukan perilaku bullying maka guru akan memanggil orang tua siswa. Masalahnya, kadang orang tua pelaku bullying tidak mau tahu masalah anaknya di sekolah.

“Kita kan butuh kerja sama dengan orang tua dalam hal ini, untuk mengubah sebuah perilaku, karena kan anak-anak bermacam-macam karakternya. Ada anak-anak yang mungkin disampaikan oleh gurunya bisa langsung berubah, ada yang perlu bantuan orang tua.” ujar Tanti Agustina, pembina ekskul anti-bullying SMPN Gowa.

Baca: Beragam kecurangan di PPDB dengan sistem zonasi

Fenomena tersebut sering ditemukan Philipus Yusenda, fasilitator pendidikan nilai di Empathic Living.

“Paradigma outsourcing itu jadi sangat kuat, bahwa sekolah adalah tempat untuk outsourcing pembentukan mental anak,” ungkapnya.

Philip melihat adanya persepsi yang melekat dalam benak sebagian orang tua bahwa sekolah bertanggung jawab penuh atas pembentukan karakter anak-anak mereka.

Padahal, menurutnya, orang tua memegang peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan, terutama pada anak-anak di bawah usia remaja.

“Untuk anak di bawah usia ABG, pengaruh orang dewasa sekitarnya jauh lebih kuat. Jadi apa pun yang dilihat itu langsung ditiru,” katanya. “Katakanlah, orang tuanya sudah biasa dengan kata-kata kasar, maka itu yang ditiru duluan.”

Baca: Negara diminta hadir dalam melindungi anak dari kekerasan

Sementara untuk anak-anak usia SMP dan SMA, Philip menilai apa yang dilakukan SMPN 3 Sungguminasa dengan ekskul anti-bullying Agen Perubahan dapat membawa perubahan positif pada perilaku pelajar.

“Karena mereka jauh lebih rentan terhadap tekanan teman sebaya (peer pressure). Kalau temannya banyak yang menggunakan set perilaku tertentu, mereka akan lebih cenderung untuk menuju ke perilaku itu.”

Tokoh pendidikan sekaligus ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo, berharap sekolah dapat lebih peka dan lebih memahami kegentingan masalah perundungan atau bullying di sekolah.

Pasalnya, masih ada institusi pendidikan yang tidak menangani isu bullying dengan serius.

“Jangan-jangan kita ini sudah terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, sehingga melupakan bahwa anak-anak kita itu sedang belajar kehidupan loh di sekolah,” ungkapnya.

Baca: Film Galaksi sukses memotret anak-anak yang melampiaskan masalah di rumahnya

“Kehidupan macam apa yang mau diberikan oleh sekolah ketika seorang anak sungguh-sungguh tidak bisa merasa aman, apalagi nyaman.”

Henny menyambut baik peraturan baru Mendikbudristek yang diterbitkan Agustus lalu untuk lebih merinci aturan pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah.

Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan itu menggantikan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 yang mengatur hal serupa.

Meski demikian, kebijakan saja tidak cukup, kata Henny. “Apa pun kebijakan yang sebetulnya ada, kalau memang tidak dirasa penting oleh pemangku kepentingan, dalam hal ini mungkin sekolah, guru, orang tua, maka ya tidak jalan juga.”

Sumber: VOA Indonesia

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *