Tag: selat hormuz

  • Iran Sebut Selat Hormuz Sepenuhnya dalam Kendali Mereka dan Tertutup untuk Kapal AS, Israel dan Sekutunya

    Iran Sebut Selat Hormuz Sepenuhnya dalam Kendali Mereka dan Tertutup untuk Kapal AS, Israel dan Sekutunya

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya mengizinkan semua negara–kecuali Amerika Serikat (AS) bersama Israel dan sekutunya–untuk berlayar melintasi Selat Hormuz.

    Demikian dikutip dari MS Now, mengutip Araghchi dalam wawancara eksklusif jurnalis Mesir, Ayman Mohyeldin, seperti dikutip CNN Sabtu (14/3/2026) lalu.

    Hal tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah AS dilaporkan mengebom target militer di Pulau Kharg yang sangat penting bagi minyak Iran.

    “Sebenarnya, Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, untuk mereka yang menyerang kita dan sekutu mereka. Yang lain bebas untuk lewat,” kata Araghchi.

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukan dari Teluk Persia

    Iran menyangkal tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa kemampuan angkatan laut mereka telah dihancurkan dan menantang Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal-kapal ke Teluk Persia jika berani.

    “Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Laut Korps Garuda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Iran memiliki kedaulatan penuh atas itu,” kata Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini.

    Naini mengeklaim bahwa sejauh ini Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 pesawat nirawak dengan targetnya adalah Amerika dan Israel.

    “Bukankah Trump mengatakan bahwa dia telah menghancurkan Angkatan Laut Iran? Jadi, jika dia berani, dia bisa mengirim kapalnya ke wilayah Teluk Persia,” tegas Naini.

    Baca: Serangan AS-Israel ke Iran picu bencana lingkungan

    Dia juga menegaskan bahwa perang akan berakhir saat “musuh” menyadari kekuatan militer dan pencegahan sosial Iran.

    “Kami (Iran) berupaya menghukum agresor dan melanjutkan serangan berat dan menghancurkan musuh,” kata Naini.

    Sejak Israel dan Amerika melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk pemimpin tertinggi saat itu Ayatollah Ali Khamenei, permusuhan telah meningkat.

    Iran telah membalas dengan serangan pesawat nirawak dan rudal dengan menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer milik Amerika.

    Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz sejak awal Maret lalu, dan menembak kapal yang melanggar ketentuan ini.

    Sumber: Antaranews.com/CNN-Anadolu

  • Prancis Akan Gelar Konferensi Internasional Bahas Penutupan Selat Hormuz, Sejumlah Negara Akan Hadir

    Prancis Akan Gelar Konferensi Internasional Bahas Penutupan Selat Hormuz, Sejumlah Negara Akan Hadir

    7cloud.asia – Pemerintah Prancis melalui Kepala Staf Pertahanan Jenderal Fabien Mandon berencana menggelar konferensi untuk membahas upaya memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.

    Dilansir Reuters.com pada Rabu (25/3/2026) konferensi ini akan diselenggarakan secara daring melalui video dengan mengundang para pemimpin militer dari berbagai negara.

    Menurut laporan Yonhap pada Kamis (26/3/2026), Korea Selatan menerima undangan Prancis untuk mengikuti pertemuan militer internasional guna membahas blokade di Selat Hormuz dan upaya menstabilkan pelayaran di jalur penting perdagangan minyak dunia tersebut.

    Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memutuskan menerima undangan tersebut setelah mencermati situasi. Ketua Kepala Staf Gabungan Korsel Jin Young-seung akan mewakili negara itu, menurut laporan tersebut.

    Menyikapi dampak kenaikan harga minyak dunia, pemerintah Korsel akan menurunkan pajak BBM mulai Jumat.

    Baca: Iran Sebut Selat Hormuz tertutup untuk Kapal AS, Israel dan sekutunya

    Kebijakan ini diambil di tengah kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah dan terhentinya pelayaran secara efektif di Selat Hormuz, menurut laporan Yonhap.

    Saat ini, pajak bensin dan solar telah dipangkas masing-masing 7 persen dan 10 persen. Mulai Jumat, pemangkasan tersebut akan meningkat menjadi 15 persen dan 25 persen.

    Kebijakan baru itu resmi berlaku pada 1 April, tetapi akan berlaku surut sejak Jumat setelah penyesuaian harga bahan bakar ritel oleh pemerintah.

    Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korsel menyatakan langkah tersebut akan diperpanjang dari akhir April hingga akhir Mei.

    Menteri Koo Yoon-chul mengatakan harga solar global biasanya naik lebih cepat daripada bensin karena solar adalah bahan bakar utama bagi industri, transportasi, dan kehidupan sehari-hari.

    Baca: Iran tuntut AS tarik pasukannya dari Teluk Persia

    Jika situasi memburuk, pemerintah dapat mempertimbangkan pemangkasan pajak lebih lanjut, tergantung pada harga bahan bakar global.

    Berdasarkan regulasi yang berlaku, pajak bahan bakar di Korsel bisa dikurangi hingga 37 persen.

    Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

    Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    Eskalasi tersebut menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global.

    Gangguan itu juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan serta mendorong kenaikan harga energi dunia.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Negara-negara Teluk Pertimbangkan Jalur Alternatif Untuk Sikapi Penutupan Selat Hormuz

    Negara-negara Teluk Pertimbangkan Jalur Alternatif Untuk Sikapi Penutupan Selat Hormuz

    7cloud.asia – Negara-negara Teluk Persia mempertimbangkan jalur pasokan alternatif, termasuk pembangunan jalur pipa, akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

    Hal ini dilaporkan Financial Times, Jumat (27/3/2026) dengan mengutip diplomat dari salah satu negara kawasan dan yang namanya dirahasiakan.

    “Negara-negara Teluk akan mencari alternatif, seperti membangun jalur pipa,” kata diplomat tersebut menanggapi kemungkinan aturan ketat transit Selat Hormuz oleh Iran, seperti dikutip Financial Times.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Vahid Jalalzadeh telah mengatakan Teheran sedang mengembangkan kerangka hukum baru untuk Selat Hormuz yang akan berlaku setelah konflik berakhir, di mana Iran berencana untuk bekerja sama dengan Oman.

    Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran sebagai balasan serangan sepihak Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap target di Iran, termasuk di Teheran pada 28 Februari yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

    Iran kemudian melakukan balasan, dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

    Baca: Prancis akan gelar Konferensi Internasional bahas penutupan Selat Hormuz

    Peningkatan ketegangan di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

    Sejak awal serangan, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang, sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.

    Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.

    Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.

    Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3/2026) mengatakan bahwa pihak Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang.

    Dia menegaskan bahwa entitas yang terkait dengan AS dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas di Selat Hormuz.

    Baca: Iran sebut Selat Hormuz tertutup untuk kapal AS, Israel dan sekutunya

    Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz.

    Di antara kapal yang tertahan terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah.

    Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, kata perusahaan analisis Vortexa.

    Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia di kawasan tersebut.

    Sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro, kapal pengangkut bahan bakar, dan kapal angkut berat.

    Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd melaporkan bahwa enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia di tengah ketegangan yang berlangsung.

    Situasi itu juga berdampak terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan sehingga mendorong terjadinya lonjakan harga.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti-OANA

  • Iran Izinkan 20 Kapal Berbendera Pakistan Lintasi Selat Hormuz, Permintaan RI Sedang Dipertimbangkan

    Iran Izinkan 20 Kapal Berbendera Pakistan Lintasi Selat Hormuz, Permintaan RI Sedang Dipertimbangkan

    7cloud.asia – Iran telah mengizinkan lagi 20 kapal berbendera Pakistan untuk berlayar melintasi Selat Hormuz dengan aman, kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Pakistan Ishaq Dar.

    “Saya hendak mengumumkan kabar baik bahwa pemerintah Iran telah mengizinkan 20 lagi kapal berbendera Pakistan untuk melintasi Selat Hormuz,” kata Ishaq Dar melalui media sosial X.

    “Dua kapal akan melintasi selat tersebut setiap harinya,” ucap dia, melanjutkan.

    Ishaq mengatakan keputusan Iran itu merupakan langkah penting yang akan menguatkan upaya bersama dalam mewujudkan perdamaian di kawasan.

    Penutupan selat Hormuz oleh Iran dilakukan setelah serangan sepihak yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Teheran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer milik Amerika yang berada di seantero Timur Tengah.

    Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total.

    Dampaknya, sekitar 1900 kapal tertahan. Teheran membatasi kapal dan hanya mengizinkan kapal milik negara tertentu yang boleh melintasi Selat Hormuz

    Berikut adalah daftar negara-negara yang kapal-kapalnya diizinkan oleh Iran untuk melintasi Selat Hormuz dikutip Antaranews.com dari berbagai sumber.

    Baca: Iran tutup Selat Hormuz untuk kapal berbendera AS, Israel dan sekutunya

    1. Rusia, China, India, Pakistan dan Irak
    Iran telah mengizinkan kapal-kapal dari beberapa negara sahabatnya, termasuk Rusia, untuk melewati Selat Hormuz.

    “Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz,” kata Menlu Iran Abbas Araghchi menurut saluran televisi satelit milik Lebanon, Al Mayadeen, dikutip oleh Kantor Berita Rusia, Sputnik/RIA Novosti pada 26 Maret 2026.

    Araghchi menambahkan bahwa Teheran tidak punya alasan untuk mengizinkan “kapal-kapal musuh” melewati Selat Hormuz.

    2. Malaysia
    Selain beberapa negara sahabat tersebut di atas, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa kapal tanker minyak Malaysia juga akan diizinkan melintasi Selat Hormuz, menurut laporan Kantor Berita Anadolu pada 27 Maret 2026.

    Atas izin perlintasan tersebut, Anwar Ibrahim mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut laporan kantor berita Malaysia, Bernama, dikutip oleh Kantor Berita Anadolu, pada 27 Maret 2026.

    “Sekarang kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” kata Anwar dalam pidato di televisi, Kamis (26/3/2026).

    “Namun, ini tidak mudah karena Iran merasa telah berkali-kali ditipu dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan,” katanya menambahkan.

    Baca: Jalur alternatif untuk sikapi penutupan Selat Hormuz

    3. Thailand
    Menurut Kantor Berita Malaysia Bernama, pada 24 Maret, Thailand telah memperoleh izin dari Iran agar salah satu kapal tanker minyaknya dapat melintasi Selat Hormuz setelah melalui koordinasi bilateral.

    Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan Kementerian Luar Negeri telah menyerahkan nama dua kapal, satu milik Bangchak Corporation dan satu lagi dioperasikan oleh SCG Chemicals, kepada pihak berwenang Iran.

    Dia mengatakan Iran telah memberikan izin kepada kapal tanker minyak Bangchak untuk melintasi Selat Hormuz dan kembali ke Thailand.

    “Pada 23 Maret diketahui bahwa kapal Bangchak telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke Thailand.”

    “Pihak berwenang Thailand juga sedang mengupayakan izin serupa untuk kapal SCG Chemicals setelah menyerahkan rinciannya ke Iran,” katanya kepada wartawan saat konferensi pers pada Selasa.

    4. Bangladesh
    Menurut laporan Kantor Berita Anadolu pada 26 Maret, Iran telah mengizinkan kapal tanker minyak yang menuju Bangladesh, bersama dengan beberapa negara lain yang dianggap “sahabat” atau “tidak bermusuhan,” untuk melewati Selat Hormuz meskipun ketegangan regional yang sedang berlangsung telah mengganggu pelayaran global.

    Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri mengatakan kepada Anadolu bahwa kapal tanker minyak yang menuju Bangladesh diizinkan untuk melintasi Hormuz.

    Pejabat kementerian lainnya mengatakan bahwa belum ada “komunikasi resmi dari Iran” yang secara khusus memberikan akses, tetapi mengklarifikasi bahwa kapal-kapal Bangladesh “tidak dikenai pembatasan apa pun.”

    Baca: Jutaan orang di seantero AS ikuti unjuk rasa memprotes kebijakan Donald Trump

    5. Iran respons positif permohonan kapal Indonesia lintasi Selat Hormuz
    Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa pemerintah Iran telah merespons positif permintaan pemerintah Indonesia supaya dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.

    Menurut Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela, pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran untuk keselamatan kapal tanker tersebut.

    “Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Nabyl merespons pertanyaan ANTARA terkait perkembangan negosiasi kapal tanker Pertamina, di Jakarta, Jumat.

    Menyusul respons positif yang disampaikan Teheran, langkah tindak lanjut telah dijalankan oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional, kata Nabyl, meski belum memberi waktu pasti kapan kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.

    6. Teheran siap fasilitasi pelayaran kapal Jepang di Selat Hormuz
    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran siap memfasilitasi pelayaran kapal-kapal Jepang melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman energi global.

    Menurut laporan Kantor Berita Jepang, Kyodo News pada 21 Maret 2026, Abbas menyebut negosiasi dengan Jepang mengenai masalah ini sedang berlangsung,

    “Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka,” kata Araghchi dalam wawancara telepon dengan Kyodo News, Jumat (20/3/2026).

    Dia juga menekankan bahwa Iran, yang diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari, tidak menginginkan “gencatan senjata, melainkan pengakhiran perang yang lengkap, komprehensif, dan langgeng.”

    Araghchi mengatakan Iran belum menutup jalur air strategis tersebut tetapi telah memberlakukan pembatasan pada kapal-kapal milik negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran, sambil menawarkan bantuan kepada negara lain di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan.

    Ia menambahkan bahwa Iran siap untuk memastikan jalur aman bagi negara-negara seperti Jepang jika mereka berkoordinasi dengan Teheran.

    Sumber: Antaranews.com-Sputnik

  • Presiden Prabowo Subianto Diminta Turun Langsung Selesaikan Tertahannya Kapal Pertamina di Selat Hormuz

    Presiden Prabowo Subianto Diminta Turun Langsung Selesaikan Tertahannya Kapal Pertamina di Selat Hormuz

    7cloud.asia – Hingga hari ini, dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz akibat kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya.

    Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Teheran saat ini masih melakukan diplomasi intensif untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya.

    Menyikapi situasi ini, Anggota Komisi XII DPR, Syafruddin, mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil peran langsung dalam upaya diplomasi dengan pemerintah Iran.

    Menurut Syafruddin, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memanas tidak bisa ditangani hanya melalui jalur teknis kementerian, melainkan membutuhkan komunikasi tingkat tinggi antarkepala negara.

    Baca: Iran nyatakan selat Hormuz tertutup untuk kapal AS, Israel dan sekutunya

    “Saya kira masalah (tertahannya) kapal Pertamina memerlukan lobi langsung dari Presiden. Tidak cukup hanya menteri ESDM, Menteri Luar Negeri, atau di bawahnya,” tegas Syafruddin dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

    Syafruddin menilai, langkah diplomasi yang telah dilakukan pemerintah patut diapresiasi, namun perlu ditingkatkan ke level strategis agar hasilnya lebih cepat dan efektif.

    “Upaya Kemlu dan jajaran sudah tepat, tapi ini menyangkut jalur energi global dan keselamatan aset negara. Presiden perlu turun langsung agar memiliki daya tekan diplomatik yang lebih kuat,” ujar Politisi Fraksi PKB ini.

    Ia menambahkan, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga stabilitas energi global.

    Baca: Ketimbang kirim pasukan ke Gaza di bawah BoP, DPR serukan ikuti mekanisme PBB

    Syafruddin berkata, keterlibatan langsung Presiden akan memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan baik dengan banyak pihak, termasuk Iran.

    Ditambahkannya, pendekatan multilateral sangat diperlukan saat situasi perang masih berlangsung di Iran.

    Di sisi lain, ia menilai masalah ini harus menjadi momentum untuk mempercepat strategi diversifikasi pasokan energi agar tidak bergantung pada jalur rawan konflik.

    “Ini bukan hanya soal kapal, tapi soal bagaimana Negara hadir melindungi aset strategis dan warganya di tengah konflik global. Presiden perlu menunjukkan kepemimpinan langsung dalam situasi seperti ini,” pungkasnya.

  • Trump Akan Akhiri Operasi ke Iran Meskipun Selat Hormuz Belum Dibuka

    Trump Akan Akhiri Operasi ke Iran Meskipun Selat Hormuz Belum Dibuka

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada para stafnya bahwa dia siap mengakhiri operasi militer ke Iran bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar masih ditutup.

    Laporan itu ditulis The Wall Street Journal, Senin (30/3/2026), dengan mengutip sejumlah pejabat pemerintahan Amerika, sebagaimana dikutip RIA Novosti pada Selasa.

    Menurut laporan tersebut, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan para stafnya menyimpulkan bahwa misi untuk membuka Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik di luar rencana awal operasi

    Diperkirakan, misi ini di Selat Hormuz akan memakan waktu antara empat hingga enam pekan.

    Baca: Iran izinkan kapal dari negara-negara ini lintasi Selat Hormuz

    Trump memutuskan bahwa Washington sebaiknya berfokus pada tujuan utamanya, yakni membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan persediaan rudalnya, dan meredakan permusuhan yang sedang berlangsung.

    Secara bersamaan, Washington juga akan menekan Teheran untuk memulihkan kelancaran arus perdagangan.

    Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Washington disebut akan mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan negara-negara Teluk Persia untuk mengambil peran lebih besar dalam membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

    Laporan itu juga menyebutkan bahwa Trump masih mempertimbangkan opsi militer tambahan, tetapi langkah tersebut bukan menjadi prioritas utama dalam strateginya saat ini.

    Baca: Jutaan warga AS berunjukrasa menentang kebijakan Donald Trump

    Pada akhir Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban di kalangan sipil.

    Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.

    Eskalasi di sekitar Iran tersebut telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

    Situasi itu juga berpengaruh terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di dunia.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Arab Saudi Desak AS Hentikan Blokade terhadap Selat Hormuz

    Arab Saudi Desak AS Hentikan Blokade terhadap Selat Hormuz

    7cloud.asia – Pemerintah Arab Saudi mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali berunding dengan Iran, demikian laporan Wall Street Journal, Selasa (14/4/2026).

    Mengutip pejabat regional, laporan tersebut mengklaim bahwa Arab Saudi khawatir blokade yang dilakukan Trump itu membuat Iran meningkatkan eskalasi ketegangan dan mengganggu jalur pelayaran penting lain.

    Disebutkan bahwa Iran dapat membalasnya dengan menutup Bab al-Mandab—sebuah titik rawan di Laut Merah yang sangat penting bagi ekspor minyak Arab Saudi yang tersisa.

    Baca: Perundingan damai Iran-AS gagal mencapai kesepakatan

    Laporan itu menyebutkan bahwa negara-negara Teluk tidak ingin perang berakhir dengan Iran menguasai Selat Hormuz, jalur kehidupan ekonomi mereka.

    “Namun, banyak pihak, termasuk Arab Saudi, mendesak AS untuk menyelesaikan masalah ini di meja perundingan dan berupaya keras untuk memulai kembali pembicaraan,” demikian laporan itu.

    Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz, yang berlaku mulai Senin (13/4/2026) pukul 14.00 GMT atau 21.00 WIB.

    Blokade tersebut terjadi setelah Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan dalam pembicaraan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu.

    Baca: Maksimalisme AS memicu gagalnya perundingan damai Iran-AS

    Pembicaraan di Islamabad itu dilakukan setelah pengumuman gencatan senjata selama dua pekan dan merupakan bagian dari upaya mengakhiri serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, yang telah menewaskan lebih dari 1.400 orang.

    Meskipun menunjukkan “sikap keras” dari kedua belah pihak, AS dan Iran dinilai telah secara aktif terlibat dengan mediator dan terbuka untuk pembicaraan jika masing-masing menunjukkan fleksibilitas yang cukup.

    Pihak Iran menyebut, perundingan gagal mencapai kesepakatan karena AS terlalu memaksakan tuntutan mereka.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • IRGC: Selat Hormuz di Bawah Kendali Ketat Militer Iran

    IRGC: Selat Hormuz di Bawah Kendali Ketat Militer Iran

    7cloud.asia – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sabtu, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali ke “kondisi sebelumnya” di bawah kendali “angkatan bersenjata”.

    Pernyataan tersebut merujuk pada blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan Iran yang masih terus berlangsung.

    “Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya, dan jalur perairan strategis itu kini berada di bawah pengelolaan dan kendali ketat angkatan bersenjata,” kata komando gabungan IRGC, seperti dikutip kantor berita Tasnim.

    IRGC menegaskan hingga AS “memulihkan sepenuhnya kebebasan pergerakan kapal yang menuju dan keluar dari Iran”, situasi di Selat Hormuz akan tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak berubah.

    Baca: Iran Umumkan Selat Hormuz Terbuka Penuh Selama Gencatan Senjata, Tapi AS Tetap Lanjutkan Blokade

    Pernyataan IRGC tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Jumat (17/4/2026) menyatakan bahwa selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” bagi seluruh kapal komersial.

    ”Keputusan itu diambil “sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon,” ujarnya melalui platform media sosial X.

    Iran menutup selat Hormuz dan hanya mengizinkan secara terbatas kapal-kapal tanker melintasi saah satu jalur utama minyak dunia tersebut menyusul serangan sepihak AS dan Israel ke Iran.

    Seperti diberitakan sebelumnya pada 28 Februari, militer AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran.

    Baca: Maksimalisme Delegasi AS Gagalkan Perundingan Damai Iran-AS

    Teheran kemudian membalas dengan serangan ke Israel serta negara-negara lain di kawasan yang menampung aset militer AS, sebagai bentuk pertahanan diri.

    Perang Iran dengan AS-Israel berada dalam kondisi jeda sejak 8 April, setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua pekan.

    Washington dan Teheran juga telah menggelar pembicaraan di Pakistan pada akhir pekan lalu untuk mengupayakan perdamaian jangka panjang tetapi gagal mencapai kesepakatan.

    Saat ini upaya untuk mengadakan pertemuan lanjutan antara Iran dan AS di Islamabad masih terus dilakukan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Iran Kembali Menutup Selat Hormuz, Sebut AS Melanggar Kesepakatan Gencatan Senjata

    Iran Kembali Menutup Selat Hormuz, Sebut AS Melanggar Kesepakatan Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Militer Iran kembali menutup Selat Hourmuz pada Sabtu (19/4/2026) hanya beberapa jam setelah sempat dibuka secara terbatas.

    Iran mengatakan akan kembali membuka Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis dunia tersebut sampai AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran, apa yang mereka sebut “pelanggaran gencatan senjata.

    Iran mengatakan, saat ini “sedang meninjau” usulan-usulan baru yang diajukan Washington.

    Melansir BBC, sejumlah media pemerintah Teheran menyebutkan, militer Iran kembali mengambil alih kendali Selat Hormuz.

    Baca: Selat Hormuz di Bawah Kendali Ketat Militer Iran

    Kantor berita Fars, yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bersama Iranian Students News Agency dan lembaga penyiaran negara IRIB, mengutip pernyataan IRGC yang menyebutkan bahwa selat tersebut akan kembali ke “kondisi sebelumnya”.

    Dalam pernyataan itu, militer Iran menuduh Amerika Serikat melakukan “pembajakan” dan “blokade” sama dengan perampokan maritim.

    Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam perundingan terbaru dengan AS di Islamabad, mengatakan di X bahwa dengan “berlanjutnya blokade [AS]”, selat tersebut “tidak akan tetap terbuka”.

    Seiring munculnya pengumuman tersebut, sebuah kapal tanker yang berada di Selat Hormuz dilaporkan diserang dua kapal cepat bersenjata yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, menurut lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO).

    Baca: Iran Sempat Membuka Selat Hormuz

    Insiden itu terjadi sekitar 20 mil laut di timur laut Oman. UKMTO menambahkan bahwa kapal tanker dan awaknya dilaporkan dalam kondisi selamat.

    Secara terpisah, setidaknya dua kapal dagang terkena tembakan saat mencoba melintasi Selat Hormuz, menurut tiga sumber yang dikutip kantor berita Reuters.

    Beberapa kapal dagang menerima pesan radio dari Angkatan Laut Iran yang menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup, menurut sumber-sumber pelayaran yang dikutip Reuters.

  • China: Selat Hormuz Harus Dibuka untuk Navigasi dan Sayangkan Langkah AS Menyita Kapal Iran

    China: Selat Hormuz Harus Dibuka untuk Navigasi dan Sayangkan Langkah AS Menyita Kapal Iran

    7cloud.asia – Presiden China Xi Jinping, dalam Sebuah pernyataan pada Senin (20/4/2026) mengatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk navigasi setiap saat.

    “Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk navigasi normal, karena ini melayani kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional,” demikian kutipan pernyataan Xi yang dilaporkan oleh CCTV dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

    China mendukung negara-negara Timur Tengah dalam membangun rumah bersama berdasarkan prinsip-prinsip bertetangga baik, pembangunan, keamanan, dan kerja sama, serta dalam mengendalikan masa depan dan takdir mereka sendiri.

    Sehingga Beijing mendorong perdamaian dan stabilitas yang langgeng di jalur utama minyak dunia tersebut.

    Xi juga mengulangi seruan untuk gencatan senjata dan penghentian permusuhan segera di Timur Tengah.

    Baca: Iran Kembali Menutup Selat Hormuz, Karena AS Melanggar Kesepakatan Gencatan Senjata

    Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri China menyatakan keprihatinan atas penyitaan kapal Iran oleh Amerika Serikat di Teluk Oman.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan pihaknya menyoroti tindakan pencegatan paksa terhadap kapal tersebut.

    “Kami menyatakan keprihatinan atas pencegatan paksa kapal terkait oleh Amerika Serikat,” ujar Guo dalam konferensi pers.

    Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi penyitaan kapal dagang Iran Touska yang disebut berupaya menembus blokade AS di Teluk Oman. Menurut CENTCOM, kapal tersebut kini berada di bawah kendali Amerika Serikat.

    China juga menyerukan semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata, menghindari eskalasi, serta menciptakan kondisi yang diperlukan bagi pemulihan pelayaran normal di Selat Hormuz.

    Baca: Iran Sempat Umumkan Selat Hormuz Kembali Dibuka

    Angkatan Laut AS mulai melakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz sejak 13 April.

    Selat tersebut merupakan jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pengiriman minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair dunia.

    Pemerintah AS menyatakan kapal non-Iran tetap dapat melintasi selat tersebut selama tidak membayar biaya kepada Teheran.

    Sementara otoritas Iran belum mengumumkan kebijakan resmi terkait rencana pungutan tersebut, tetapi telah membahas rencana tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti