Presiden Prabowo Subianto Diminta Turun Langsung Selesaikan Tertahannya Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Written by

in

7cloud.asia – Hingga hari ini, dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz akibat kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Teheran saat ini masih melakukan diplomasi intensif untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya.

Menyikapi situasi ini, Anggota Komisi XII DPR, Syafruddin, mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil peran langsung dalam upaya diplomasi dengan pemerintah Iran.

Menurut Syafruddin, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memanas tidak bisa ditangani hanya melalui jalur teknis kementerian, melainkan membutuhkan komunikasi tingkat tinggi antarkepala negara.

Baca: Iran nyatakan selat Hormuz tertutup untuk kapal AS, Israel dan sekutunya

“Saya kira masalah (tertahannya) kapal Pertamina memerlukan lobi langsung dari Presiden. Tidak cukup hanya menteri ESDM, Menteri Luar Negeri, atau di bawahnya,” tegas Syafruddin dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Syafruddin menilai, langkah diplomasi yang telah dilakukan pemerintah patut diapresiasi, namun perlu ditingkatkan ke level strategis agar hasilnya lebih cepat dan efektif.

“Upaya Kemlu dan jajaran sudah tepat, tapi ini menyangkut jalur energi global dan keselamatan aset negara. Presiden perlu turun langsung agar memiliki daya tekan diplomatik yang lebih kuat,” ujar Politisi Fraksi PKB ini.

Ia menambahkan, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga stabilitas energi global.

Baca: Ketimbang kirim pasukan ke Gaza di bawah BoP, DPR serukan ikuti mekanisme PBB

Syafruddin berkata, keterlibatan langsung Presiden akan memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan baik dengan banyak pihak, termasuk Iran.

Ditambahkannya, pendekatan multilateral sangat diperlukan saat situasi perang masih berlangsung di Iran.

Di sisi lain, ia menilai masalah ini harus menjadi momentum untuk mempercepat strategi diversifikasi pasokan energi agar tidak bergantung pada jalur rawan konflik.

“Ini bukan hanya soal kapal, tapi soal bagaimana Negara hadir melindungi aset strategis dan warganya di tengah konflik global. Presiden perlu menunjukkan kepemimpinan langsung dalam situasi seperti ini,” pungkasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *