Tag: semarang

  • Mengintip Pengembangan Kota Lama Semarang yang Berkelanjutan dan Humanis

    Mengintip Pengembangan Kota Lama Semarang yang Berkelanjutan dan Humanis

    7cloud.asia – Di berbagai kota, kawasan kota lama selalu memiliki daya tariknya tersendiri bagi wisatawan maupun warga setempat.

    Jika menilik sejarahnya, banyak kota lama ini dibangun sebelum abad 20, yang berarti sebelum kendaraan bermotor menyesaki ruang jalan perkotaan.

    Terlihat dari tata ruang kota lama yang umumnya memiliki skala humanis; ruang jalannya tidak lebar, terdiri dari blok-blok kecil, serta muka bangunannya aktif dan memiliki akses langsung ke ruang berjalan kaki dan bersepeda.

    Kawasan yang kini kita sebut sebagai ‘kota lama’, nyatanya lebih selaras dengan konsep kota berkelanjutan.

    Artikel yang ditulis Annisa Dyah Lazuardini, Urban and Visual Design Associate II Intitute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia ini mengupas revitalisasi Kota Lama Semarang yang oleh banyak kalangan dinilai sukses. 

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Kota lama Semarang mulai dibangun akhir abad 17, saat tercapai kesepakatan antara kerajaan Mataram di bawah Amangkurat II dengan VOC pada tahun 1678. 

    Kota lama Semarang pernah menjadi pusat perdagangan di kawasan Jawa bagian tengah pada abad ke 17-18. Sebagai pusat pemerintahan, industri, dan perdagangan di masa kolonial kota lama Semarang memiliki daya tarik tersendiri.

    Kota Lama Semarang saat ini telah ditetapkan menjadi cagar budaya yang menjadi kawasan strategis sosial dan budaya bagi Kota Semarang.

    Demi mewujudkan kawasan ini menjadi kota pusaka warisan dunia yang diakui UNESCO, sejak tahun 2017 revitalisasi di Kota Lama Semarang telah gencar dilakukan.

    Termasuk menetapkan kawasan ini menjadi kawasan ramah pejalan kaki serta mewujudkan konsep transportasi hijau untuk mengurangi polusi udara, melalui Perda Kota Semarang No. 6 Tahun 2021.

    Baca: Slow city, konsep pengelolaan kota yang lebih humanis

    Di kawasan cagar budaya, dampak dari tingginya volume lalu lintas kendaraan bermotor bukan hanya membahayakan pejalan kaki dan pesepeda.

    Kendaraan juga membahayakan bangunan-bangunan tua yang sensitif terhadap getaran akibat kendaraan bermotor yang melintas.

    Kondisi ini mempertegas urgensi pembatasan penggunaan kendaraan bermotor di kawasan kota lama Semarang. 

    Karena itu, pemerintah kota mendorong warga maupun pendatang untuk menggunakan transportasi publik menuju kawasan, dan berjalan kaki atau bersepeda di dalam kawasan Kota Lama.

    Upaya berkelanjutan untuk menuju masa depan kota lama Semarang yang berkelanjutan terus dilakukan Pemkot Semarang dengan menggandeng sejumlah pihak

    Sejak tahun 2017, ITDP Indonesia telah memberikan asistensi teknis transportasi berkelanjutan kepada Kota Semarang, termasuk peningkatan layanan Trans Semarang, layanan bus milik pemerintah kota.

    Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Sebagai kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia, Semarang merupakan kota pertama selain Jakarta yang mengimplementasikan sistem bus milik pemerintah kota.

    Bus ini beroperasi dengan komitmen anggaran yang konsisten dibandingkan dengan kota-kota lain yang memulai sekitar tahun yang sama.

    Namun demikian, pada tahun 2017, pangsa moda angkutan umum masih sekitar 20% di Semarang (Survei ITDP & IGES, 2017).

    Meskipun 60% penumpang Trans Semarang berjalan kaki untuk mengakses halte (Rakhmatulloh et al., 2020), aksesibilitas dan konektivitas first-last mile ke Trans Semarang masih menjadi masalah.

    Maka dari itu, pada tahun 2021-2022, bersama dengan komunitas lokal Semarang, ITDP  menyusun rekomendasi Mobilitas Inklusif Semarang

    Rekomendasi ini disusun berdasarkan konsensus dari perwakilan kelompok rentan termasuk penyandang disabilitas dan perempuan.

    Baca: Empat kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    Konsensus ini menjadi prinsip dasar dalam rekomendasi teknis kami, termasuk aksesibilitas Trans Semarang dan infrastruktur transportasi tidak bermotor.

    Tahun ini, ITDP melanjutkan bantuan kami dalam mengurangi emisi di Semarang melalui studi Rekomendasi Rute Pilot Bus Listrik untuk Trans Semarang, Peningkatan Konektivitas dan Aksesibilitas Kawasan Kota Lama Semarang, dan Panduan Teknis Perencanaan Pengembangan Layanan Sepeda Sewa di Kota Semarang yang akan diadopsi ke dalam Roadmap NMT kota.

    Secara umum, pedoman pelaksanaan pengembangan kawasan Kota Lama telah diatur melalui Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Semarang Nomor 29 Tahun 2023.

    Namun, untuk pengembangan jangka panjang sebagai kawasan rendah emisi yang ramah pejalan kaki, ITDP mengidentifikasi adanya kebutuhan penyesuaian sirkulasi lalu lintas.

    Selain itu jugapeningkatan fasilitas penyeberangan, penambahan peneduhan dan aktivasi muka bangunan, integrasi antarmoda transportasi publik, hingga penyediaan layanan sepeda sewa.

    Bagaimana langkah ini dilakukan? Ikuti di tulisan selanjutnya.  

    Baca: Cara Pemkot Bogota menghidupkan kota lamanya

     

  • Riset ITDP: Menata Kota Lama Semarang Menjadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki dan Pesepeda

    Riset ITDP: Menata Kota Lama Semarang Menjadi Kawasan Ramah Pejalan Kaki dan Pesepeda

    7cloud.asia – Salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam proses pengembangan kawasan termasuk penataan kota lama Semarang adalah banyaknya pihak yang harus urun terlibat.

    Di luar keterlibatan masyarakat yang beraktivitas di kawasan kota lama Semarang, yang sejak awal harus dipastikan adalah visi yang sama antara pihak perencana, pengelola, dan regulator dalam mewujudkan tata ruang yang berkelanjutan.

    Untuk itu, pada 13 Juli 2023 Institute for Transportation and Development Policy atau ITDP  Indonesia berkolaborasi dengan Katadata Green menyelenggarakan FGD yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan penataan kota lama Semarang.

    FGD yang diselenggarakan ITDP ini antara lain melibatkan Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah.

    Dishub Kota dan Provinsi, Dinas PU, Dinas Tata Ruang, hingga operator transportasi publik seperti BLU UPTD Trans Semarang dan PT. Kereta Api Indonesia juga dilibatkan dalam kegiatan ini.

    Baca: Penataan kota lama di Semarang

    Melalui FGD, setiap pemangku kepentingan dapat berbagi keprihatinan dan saran untuk desain, dan kami berhasil menentukan lokasi halte, rencana manajemen lalu lintas, dan desain ulang persimpangan.

    Kunci untuk memahami isu-isu aksesibilitas pejalan kaki adalah dengan memiliki pengalaman langsung berjalan kaki di area tersebut.

    ITDP telah menggunakan pendekatan ini untuk menilai aksesibilitas Trans Semarang bersama kelompok rentan pada tahun 2022.

    Pada tahun 2023 kami mengundang peserta FGD untuk berjalan kaki menyusuri rute pejalan kaki usulan, untuk membantu pemangku kepentingan memahami isu di lapangan, untuk didiskusikan bersama.

    Selain itu, untuk memahami perspektif yang lebih luas dari penduduk lokal dan wisatawan Semarang, ITDP melakukan survei interaktif.

    Baca: Kawasan Kota Tua Jakarta jadi kawasan rendah emisi

    Survei ini untuk menangkap persepsi tentang keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pejalan kaki di kawasan Kota Lama Semarang.

    Wisatawan, penduduk lokal, pemilik bisnis, pekerja, pengguna Trans Semarang, dan anak-anak diundang untuk memetakan tujuan favorit mereka, hambatan berjalan kaki, dan keinginan mereka untuk menggunakan layanan sepeda sewa.

    Melalui survei ITDP di kawasan Kota Tua, isu yang paling banyak disoroti adalah ketersediaan fasilitas penyeberangan dan aktivasi ruang jalan di malam hari untuk meningkatkan keamanan pejalan kaki.

    Masih banyak persimpangan yang dirasa belum memprioritaskan pejalan kaki, seperti di Jalan Cendrawasih, simpang Museum Kota Lama, dan di sepanjang Jalan Letjen Suprapto.

    Ruang jalan dan persimpangan ini merupakan akses utama menuju titik transportasi publik terdekat, menunjukkan urgensi perbaikan fasilitas pejalan kaki untuk mendorong penggunaan transportasi publik dalam mengakses kawasan Kota Lama.

    Baca: Malioboro menjadi kawasan rendah emisi

    Selain itu juga dilakukan perbaikan fasilitas pejalan kaki, berdasarkan survei evaluasi ITDP (2023) terhadap sistem sepeda sewa yang sudah ada, lebih dari 95% responden menginginkan agar layanan sepeda sewa tetap dilanjutkan.

    Namun, mereka menyebutkan perlunya perbaikan; akses yang lebih mudah untuk layanan dan informasinya, serta tarif yang lebih terjangkau.

    Pergeseran yang menarik dari penggunaan sepeda sewa untuk tujuan mobilitas juga terlihat dari survei tersebut, dari 6,7% menjadi 43% jika layanan ditingkatkan.

    Mengingat 58% penggunaan moda transportasi di Semarang adalah sepeda motor, layanan sepeda sewa di seluruh kota dapat menciptakan potensi peralihan dari pengguna sepeda motor.

    Semua ini mengawali langkah menuju kota masa depan yang berkelanjutan. Kota Semarang telah memulai perjalanannya untuk mengembangkan transportasi berkelanjutan dengan perencanaan jalur khusus BRT revitalisasi Kota Lama. 

    Namun, dibutuhkan langkah yang lebih berani untuk memastikan peralihan ke moda transportasi berkelanjutan.

    Baca: Perjuangan London menjadi kota rendah emisi

    Memastikan aksesibilitas kilometer awal dan akhir transportasi publik untuk diintegrasikan ke dalam Peta Jalan Transportasi Tidak Bermotor (NMT Roadmap) yang disusun oleh pemerintah kota menjadi sangat krusial.

    Apalagi mempertimbangkan mayoritas pengguna Trans Semarang merupakan kelompok rentan, termasuk perempuan dengan anak, penumpang membawa barang, lansia, dan penyandang disabilitas (Survei ITDP, 2022).

    Meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas juga berarti memperbaiki pengaturan lalu lintas dan pembatasan kendaraan bermotor, redistribusi ruang jalan yang memprioritaskan mobilitas aktif.

    Selain itu juga harus dilakukan peningkatan akses halte bus, penyediaan layanan mobilitas mikro, dan desain simpang yang lebih aman.

    Upaya peningkatan Kota Lama Semarang sebagai kawasan strategis kota merupakan batu loncatan terwujudnya perbaikan di tingkat kota; menjadikan Kota Semarang lebih inklusif, aksesibel, dan berkelanjutan.

    Baca: Daftar kota ramah pesepeda di dunia

    Oleh Annisa Dyah Lazuardini, Urban and Visual Design Associate II ITDP Indonesia

     

  • Banjir dan Longsor Melanda Semarang, Ratusan Rumah Terendam Serta Perjalanan Kereta Terganggu

    Banjir dan Longsor Melanda Semarang, Ratusan Rumah Terendam Serta Perjalanan Kereta Terganggu

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia dilanda banjir dan tanah longsor. Kali ini bencana tersebut melanda Kota Semarang, Jawa Tengah. Akibatnya ratusan rumah terendam dan perjalanan kereta api terganggu.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Martanto menjelaskan banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang terjadi sejak Rabu (13/03/2024) siang hingga malam.

    Melansir Antaranews, wilayah yang terdampak banjir adalah Jalan Kaligawe di Kelurahan Muktoharjo, Kelurahan Tambakrejo, Kelurahan Sambirejo, Kelurahan Krobokan, serta Kelurahan Kudu.

    Baca: Warga Kapuas Hulu gunakan perahu untuk tarawih akibat banjir

    Jumlah ini diperkirakan akan meningkat karena hujan masih mengguyur wilayah tersebut hingga Kamis (14/03/2024) dinihari. Ketinggian air berkisar antara 20 hingga 70 sentimeter.

    Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi kali ini tak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga tanah longsor dan sejumlah pohon bertumbangan.

    “Sementara ada laporan 10 kejadian tanah longsor,” kata Endro.

    Hingga Kamis dinihari, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Saat ini BPBD Kota Semarang tengah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi banjir.

    Baca: Curah hujan tinggi, waspada bencana di wilayah ini

    Diantaranya menyiagakan pompa portabel di titik yang dilanda banjir, melakukan penanganan sementara di titik-titik longsor, serta melakukan pembersihan lokasi pohon tumbang akibat cuaca buruk ini.

    Tak hanya merendam rumah warga, banjir kali ini juga mengganggu perjalanan kereta api yang melintas di jalur Pantura tersebut.

    Menurut manajer humas PT KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo perjalanan sejumlah KA terpaksa dialihkan melalui jalur selatan akibat rel terendam banjir.

    Sejumlah titik yang terendam banjir antara lain jalur antara Stasiun Semarang Tawang hingga Stasiun Alas Tuwa, petak antara Stasiun Tawang hingga Stasiun Semarang Poncol, serta petak antara Stasiun Mangkang hingga Stasiun Kaliwungu.

    Baca: Peringatan dini BMKG, cuaca ekstrem di sejumlah wilayah di Jawa Tengah

    Ketinggian air melebihi 10 sentimeter dari atas kop rel sehingga tidak mungkin dilintasi KA. “Sementara ada empat kereta yang dialihkan perjalanannya,” ungkapnya.

    Keempat kereta tersebut antara lain dua perjalanan KA Argo Bromo Anggrek, KA Pandalungan, dan KA Brawijaya.
    Menurut dia, perjalanan KA dialihkan melalui jalur Solo-Yogyakarta-Purwokerto-Cirebon.

    “PT KAI menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dari pola pengalihan perjalanan tersebut,” katanya.

    PT KAI juga siap mengembalikan biaya tiket penumpang yang batal perjalanannya akibat pengalihan perjalanan tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pemkot Semarang Bakal Revitalisasi Kawasan Pecinan: Dimulai dari Kelenteng Tay Kak Sie

    Pemkot Semarang Bakal Revitalisasi Kawasan Pecinan: Dimulai dari Kelenteng Tay Kak Sie


    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan segera melakukan revitalisasi kawasan Pecinan Kota Semarang, Jawa Tengah.

    Revitalisasi kawasan Pecinan di Semarang ini akan difokuskan pada pembangunan di kawasan Kelenteng Tay Kak Sie dan tetenger atau gerbang masuk gapura di Jalan Pekojan.

    Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengungkapkan rencana revitalisasi kawasan Pecinan ini di sela kegiatan bersepeda bersama jajaran Kepala OPD di kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (14/5/2024).

    Dalam kesempatan itu Heverita sempat singgah di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang,

    Mbak Ita mengatakan, setelah revitalisasi kawasan Kota Lama (Little Netherland) dan Kampung Melayu, tahun ini Pemkot Semarang akan melakukan melakukan revitalisasi kawasan Pecinan.

    “Karena anggaran terbatas, saya menyampaikan harus ada satu titik atau embrio untuk memulai pembenahan di wilayah Pecinan. Dipilihlah Tay Kak Sie yang merupakan salah satu ikon Kota Semarang. Apalagi di sini sering ada perayaan-perayaan,” paparnya.

    Baca: Penataan Kota Lama Semarang

    Terlebih, Tay Kak Sie merupakan salah satu kelenteng terbesar dan bersejarah yang sering digunakan umat Tionghoa di Kota Semarang sebagai ibadah dan perayaan keagamaan.

    Dari hasil kunjungan tersebut, Mbak Ita meminta Disperkim dan DPU bersama konsultan untuk mematangan konsep serta merevisi desain revitalisasi, tentunya dengan melibatkan tokoh-tokoh di Kawasan Pecinan.

    “Revitalisasi gak bisa hanya sekadar pavingisasi saja. Saya minta dinas untuk hati-hati mematangkan desain. Karena anggaran awal hanya Rp 10 miliar, ini jauh sekali dibandingkan anggaran revitalisasi kawasan Kota Lama (Little Netherland-red) yang menyentuh angka Rp 210 miliar,” paparnya.

    Heverita menyebut akan memaksimalkan anggaran untuk menyelesaikan revitalisasi Pecinan. Bahkan, Mbak Ita berencana akan mencoba mengajukan bantuan keuangan ke Pemprov Jateng.

    Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Yudi Wibowo mengatakan, revitalisasi kawasan Pecinan Kota Semarang akan dilakukan dalam tiga tahap.

    Baca: Kota Lama Semarang ditata sehingga lebih ramah pejalan kaki

    “Untuk revitalisasi kawasan Pecinan direncanakan dengan anggaran total Rp 76 Miliar dan akan dikerjakan tiga tahap. Di antaranya, tahap pertama itu Rp 10 miliar, kedua Rp 30 miliar, dan sisanya di tahap ketiga,” ujar Yudi.

    Menurut dia, pembenahan infrastruktur kawasan Pecinan akan menjadi kewenangan dua dinas, yakni Disperkim dan DPU.

    “Hanya saja Ibu Wali inginnya, revitalisasi kawasan Pecinan difokuskan di ikonnya kawasan Pecinan terlebih ahulu agar kelihatan. Akhirnya dipilihlah Kelenteng Tay Kak Sie dan gapura masuk,” kata dia.

    Untuk tahap pertama, lanjut Yudi, akan dialokasikan Rp 10 miliar untuk revitalisasi pembangunan infrastruktur, akses masuk, hingga penambahan ornamen.

    “Termasuk Gowes Bu Wali bersama OPD kali ini juga untuk melihat langsung dan mengintervensi persoalan satu persatu,” paparnya.

    Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon Kota Yogyakarta

    Yudi menyebut, pembangunan akan mulai dari pintu masuk di Jalan Pekojan. Akan dibuat tetenger atau gapura, termasuk penambahan patung Tay Kak Sie dengan menggandeng tokoh-tokoh yang ada di Pecinan.

    Melibatkan tokoh-tokoh tersebut, lanjut Yudi, karena mereka yang lebih tahu ruh dari Pecinan, terutama Tay Kak Sie.

    “Kami ingin keterlibatan itu (tokoh-tokoh-red) nyata, sehingga bangunan dan inovasi tidak hanya sekadar fisik tapi semangatnya juga ada,” imbuhnya.

    Dia menargetkan revitalisasi kawasan Pecinan tersebut akan selesai pada awal Desember 2024.

    “Realisasi nantinya setelah ada diskusi dengan tokoh-tokoh. Lalu kami naikkan ke lelang, baru satu setengah bulan kemudian bisa eksekusi. Perkiraan, akhir bulan Juli mulai pembangunan hingga awal Desember 2024,” paparnya.

  • Gandeng BRIN, Kota Semarang Olah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

    Gandeng BRIN, Kota Semarang Olah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Semarang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimplementasikan inovasi pengolahan limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama Petasol.

    Dilansir Antaranews.com, BBM Petasol hasil pengolahan limbah plastik ini setara dengan Bio Solar untuk membantu kalangan petani dan nelayan di Kota Semarang.

    “Pengolahan limbah plastik menjadi BBM ini sangat luar biasa. Selain bisa membantu untuk pertanian juga bisa membantu sebagai bahan bakar kapal-kapal para nelayan,” kata Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, di Semarang, Senin (3/6/2024).

    Ita, sapaan akrab Hevearita mengatakan, pihaknya menggandeng BRIN karena telah meneliti pengolahan limbah plastik mnjadi Petasol dengan bekerja sama Bank Sampah Banjarnegara.

    Jika bisa diimplementasikan, kata dia, hasil riset BBM alternatif itu bisa menjadi upaya mengurangi sampah plastik yang selama ini menjadi permasalahan bagi kota-kota besar, termasuk Kota Semarang.

    Baca Juga: Paparan Limbah Plastik, Baik Mikroplastik maupun Nanoplastik Picu Berbagai Masalah Kesehatan

    Ia akan menggerakkan masyarakat melalui pengelolaan bank sampah untuk mewujudkan Semarang bebas sampah, dimulai dari pilah dan pilih sampah rumah tangga, seperti sampah organik dan non-organik.

    Menurut dia, sampah basah atau organik bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik maupun “eco enzym”, sedangkan sampah plastik bisa diolah dengan teknologi Faspol menjadi BBM Petasol.

    “Nantinya akan kita bagikan kepada bank sampah atau masyarakat yang daerahnya memiliki banyak sampah. Itu BBM-nya bisa langsung dimanfaatkan petani untuk traktor, mesin pemotong rumput,” katanya.

    Bahkan, pada kegiatan Sedekah Laut Larung Sesaji di perairan Tambaklorok Semarang, Minggu (2/6/2024), Ita sempat memantau kapal-kapal nelayan yang masih menggunakan solar untuk bisa beralih menggunakan Petasol.

    “Nantinya, kami implementasikan BBM hasil riset dari BRIN sehingga masyarakat juga akan terbantu. Petasol ramah lingkungan dari sampah plastik yang diolah menjadi BBM untuk kapal nelayan,” kata Ita.

    Baca Juga: Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik

    Peneliti Ahli Utama BRIN Organisasi Energi dan Manufaktur Tri Martini Patria mengatakan, inovasi teknologi pengolahan Petasol itu merupakan kerja sama dari akar rumput Bank Sampah Banjarnegara yang dimotori Budi Trisno Aji.

    Jadi di BRIN, ujarnya, ada satu skema untuk mengangkat inovasi anak bangsa yang bukan hanya dari peneliti di BRIN.

    “Ini boleh siapa saja, artinya masyarakat di Indonesia itu boleh punya inovasi dan kemudian diuji, risetnya melalui BRIN. Salah satunya Faspol 5.0 yang produknya bernama Petasol,” katanya.

    Martini menilai inovasi tersebut penting diterapkan di Kota Semarang dengan karakteristiknya yang unik, sebab memiliki wilayah pesisir dan pegunungan yang memungkinkan siklus sampah mengalir cepat dari wilayah atas ke bawah.

    Bahkan, kata dia, BRIN telah melakukan riset di Kecamatan Tugu, tepatnya di wilayah Mangkang Wetan yang ternyata sampah plastik yang menjadi bahan baku Petasol sudah sampai di pinggir pantai.

    Baca Juga: Pesan Hari Bumi: Setiap Generasi Hanya Punya Sekali Kesempatan untuk Ubah Kebijakan Soal Plastik

    “Mudah mudahan bisa direplikasi, utamanya penggunaan bahan bakar untuk mesin diesel. Seperti petani menggerakkan traktor tangan, menggerakkan combine hardvester, menggerakkan mesin pemotong rumput yang membutuhkan bahan bakar setara solar,” katanya.

    Sementara itu, inisiator Bank Sampah Banjarnegara yang juga penemu Petasol Budi Trisno Aji mengatakan saat ini kapasitas pengolahan limbah atau sampah plastik menjadi Petasol sudah semakin besar.

    “Awalnya, kami hanya mampu mengolah 50 kilogram sampah plastik dan menghasilkan 50 liter BBM Petasol. Namun, sekarang sudah bisa mengolah 400 kg sampah dan menghasilkan 400 liter per hari,” katanya.

    Hasil dari inovasi yang diterapkan di Bank Sampah di Kasilib, Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara itu sudah dimanfaatkan petani sekitar, seperti untuk BBM penggilingan padi dan traktor.

    Sumber:Antaranews.com

  • Komnas HAM Turunkan Tim untuk Menginvestigasi Aksi Mahasiswa yang Berakhir Ricuh di Semarang

    Komnas HAM Turunkan Tim untuk Menginvestigasi Aksi Mahasiswa yang Berakhir Ricuh di Semarang

    7cloud.asia – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menurunkan tim menginvestigasi aksi mahasiswa di depan DPRD Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Senin (26/8/2024) yang berakhir ricuh.

    Tim investigasi dari Komnas HAM ini sudah sekitar tiga hari berada di Semarang untuk mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi dan korban dalam kericuhan antara mahasiswa dan polisi.

    “Kami turun ke Semarang karena ada aksi besar 26 Agustus lalu yang menyedot perhatian nasional,” kata Komisioner Komnas HAM Saurlin Siagian di Semarang, Kamis (29/8/2024) dilansir Antaranews.com.

    Dalam investigasi tersebut, kata Saurlin, Komnas HAM bertemu dengan pejabat Polda Jawa Tengah, mahasiswa, korban, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, hingga pendamping dari kelompok masyarakat.

    Selain itu, lanjut dia, tim investigasi Komnas HAM juga mengumpulkan rekaman CCTV untuk dianalisa.

    Ia menuturkan unjuk rasa merupakan ekspresi kebebasan berpendapat yang memerlukan perlindungan negara.

    “Penyampaian pikiran di muka umum dijamin oleh undang-undang. Ini merupakan hal bagus untuk demokrasi,” katanya.

    Baca Juga: Aksi Mahasiswa Bertajuk Ibu Pertiwi Memanggil: Serukan Penolakan Laporan Pertanggung-jawaban Jokowi

    Pascademo yang berakhir ricuh kemarin, ia meminta jangan sampai para mahasiswa yang melakukan aksi mendapat intimidasi.

    “Demo merupakan sesuatu yang positif, oleh karena itu demo jangan menjadi sumber trauma,” katanya.

    Saurlin menambahkan hasil investigasi tersebut akan dianalisis sebelum akhirnya Komnas HAM memberikan rekomendasi atas peristiwa tersebut.

    Sebelumnya, polisi membubarkan paksa aksi mahasiswa di depan Kantor DPRD Kota Semarang pada Senin (26/8/2024) petang.

    Sempat terjadi aksi dorong antara mahasiswa dan petugas kepolisian yang berjaga.

    Dalam aksinya, para mahasiswa merusak dua pintu gerbang kompleks kantor yang berada satu lokasi dengan kantor Wali Kota Semarang.

    Polisi mendorong massa mahasiswa ke arah Utara di Jalan Pemuda dengan menggunakan mobil meriam air dan tembakan gas air mata.

    Dilansir sindonews.com, demonstrasi mahasiswa yang berakhir ricuh ini mengakibatkan korban luka-luka baik dari pihak pendemo maupun polisi.

    Baca Juga: Mengapa Aktivisme Mahasiswa di Indonesia Makin Meredup

    Pendamping hukum Gerakan Rakyat Jawa Tengah Menggugat (Geram), Tuti Wijaya, mengungkapkan demonstrasi yang berujung kericuhan itu mengakibatkan 33 mahasiswa menjadi korban.

    Para korban dibawa ke beberapa rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, yakni di RS Roemani, RSUP Kariadi, dan RS Hermina Pandanaran Semarang.

    Sementara, dari pihak keamanan dilaporkan ada satu orang yang terluka karena lemparan benda seperti tombak di pipi kanannya.

    Sebelumnya, Ombudsman telah meminta pihak kepolisian dalam menangani unjuk rasa mahasiswa berpedoman pada aturan yang ada.

    Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah Siti Farida mengatakan, ada tiga peraturan yang menjadi pedoman kepolisian dalam bertindak, yakni Peraturan Kapolri Nomor 16/2006, Peraturan Kapolri Nomor 1/2009, dan Peraturan Kapolri Nomor 8/2009.

    “Cara bertindak dan penggunaan alat kekuatan harus sesuai dengan prinsip proporsional, jika pendekatan persuasif tidak dapat dijalankan dan situasi tidak terkendali,” katanya.

    Menurut dia, fungsi intelijen harus dimaksimalkan untuk mengukur potensi kualifikasi dan kuantitas gangguan.

    Farida menegaskan upaya maksimal aparat dalam mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menjaga demonstrasi.

  • Calon Walikota Semarang Agustina WP Berjanji Akan Libatkan Anak Muda dalam Pembuatan Kebijakan

    Calon Walikota Semarang Agustina WP Berjanji Akan Libatkan Anak Muda dalam Pembuatan Kebijakan


    7cloud.asia – Calon walikota Semarang, Agustina WP mempunyai perhatian khusus terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda.

    Salah satu solusi yang ditawarkan Agustina untuk menangani kesehatan mental adalah manajemen stress.

    “Jika kita bisa mengelola stress maka hidup kita akan lebih bahagia,” ujarnya saat menjadi pembicara di acara “Perempuan Mendengar”

    Program ini digagas oleh Riezky Delastama atau biasa dipanggil MasRD, dan menjadi ajang untuk membahas kesehatan mental khususnya untuk gen Z dan millenial.

    Topik yang dibahas beragam, mulai depresi, bullying, stress, anarkisme remaja dan sebagainya. Selain Agustina WP sebagai calon walikota Semarang, acara ini juga menghadirkan Riezky Delastama tokoh muda Semarang.

    Baca: Ratusan pengacara deklarasikan dukungan untuk Andika-Hendi

    Influencer kondang di Semarang Marsha Natika dan Psikolog Dewi Marianty juga dihadirkan dalam acara bertajuk Perempuan Mendengar ini.

    Agustina WP menyatakan siap membuka ruang publik gratis untuk aktivitas masyarakat guna memecahkan berbagai permasalahan sosial yang muncul.

    Dalam kesempatan itu, Agustina menyoroti peran serta anak muda, khususnya gen Z dan millenial dalam pemerintahan dan aktivitas sosial.

    Dia melihat, masih ada yang kurang sinkron, seperti missing link antara pembuat kebijakan (pemerintah) dan masyarakat khususnya anak muda, seperti yang dimau apa yang diberikan apa.

    “Karena itu perlu melibatkan anak muda secara aktif dalam pembuatan program dan kebijakan, salah satunya melalui wadah Musrenbang,” ujarnya.

    Baca: PDI Perjuangan berkoalisi dengan PKS di Pilkada Boyolali

    Dia menambahkan, kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama, bukan cuma pemerintah tapi juga masyarakatnya mulai dari keluarga dan lingkungan sekitar.

    Maka penting jika pemerintah ke depan menyediakan ruang publik gratis lebih banyak. Karena, ujarnya, anak muda butuh ruang berekspresi dan aktualisasi diri yang positif sebut Riezky Delastama yang merupakan tokoh muda kota Semarang

    Agustina menambahkan bahwa sebetulnya pemerintah sangat bisa mendukung kegiatan dan program anak muda Semarang, karena dananya ada. Hanya penyalurannya harus tepat guna dan sesuai aspirasi anak muda

    “Maka pemerintah harus mendengar bukan lagi mendikte masyarakat,” ujarnya.

  • Pemerintah Kota Semarang Galakkan Bangunan Gedung Hijau untuk Atasi Suhu Panas Perkotaan

    Pemerintah Kota Semarang Galakkan Bangunan Gedung Hijau untuk Atasi Suhu Panas Perkotaan

    7cloud.asia – Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang Mohamad Irwansyah mengatakan bahwa 30 persen emisi akibat efek rumah kaca saat ini disebabkan dari bangunan rumah tempat tinggal.

    Hal tersebut disampaikannya pada “Launching FGD dan Penandatanganan Komitmen Bersama Program Senandung Hijau, Semarang Hebat Strategi Mewujudkan Bangunan Gedung Hijau (BGH)”, Rabu (16/10/2024) di Kota Semarang.

    Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Penataan Ruang merancang prototipe rumah tinggal sederhana ramah lingkungan sebagai komitmen untuk membangun infrastruktur berupa bangunan gedung hijau (BGH).

    Menurut Irwansyah, emisi karbon memicu pemanasan global membuat kondisi bumi makin panas yang kenaikan sampai 1,2 derajat Celcius.

    Ia menyebutkan bahwa salah satu cara untuk mengatasi dampak pemanasan global adalah mulai dengan pengembangan Bangunan Gedung Hijau.

    Baca: Minim ruang terbuka hijau, kota-kota di belahan bumi selatan hadapi pemanasan

    Untuk Kota Semarang yang telah bertransformasi menjadi kota metropolitan dengan penduduk 1,6 juta, kata dia, harus didorong agar memperbanyak Bangunan Gedung Hijau yang saat ini masih sedikit.

    Irwansyah berharap pemanfaatan ruang untuk pembangunan ke depannya bisa berkelanjutan, salah satunya dengan memperbanyak bangunan gedung hijau.

    Namun, realisasi bangunan gedung hijau ini tidak bisa terwujud tanpa kolaborasi seluruh pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan prototipe rumah tinggal sederhana dengan konsep tersebut.

    “Semoga dengan adanya kerja sama ini bisa bergerak bersama, di antaranya Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah, para pengembang perumahan, BUMN, BUMD, maupun pihak swasta lainnya,” katanya.

    Baca: Menata ulang kota-kota di dunia atasi pemanasan

    Bangunan gedung hijau, kata dia, tidak hanya dari sisi fisik bangunannya saja, melainkan juga dilihat dari pengelolaan lingkungan sekitarnya.

    Ada sejumlah standar teknis dan nonteknis yang Bangunan Gedung Hijau, mulai infrastruktur gedung yang ramah lingkungan, dibangun untuk bisa mengurangi radiasi matahari.

    “Maupun pengumpulan air hujan bisa didaur ulang untuk bisa dimanfaatkan kembali, sampai material bahan yang digunakan nantinya,” katanya.

    Sementara itu, Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu berharap program “Senandung Hijau Semarang Hebat” benar-benar mewujudkan Bangunan Gedung Hijau atau bangunan ramah lingkungan.

    Baca: Solusi kota-kota di dunia atasi pemanasan global

    Ia meminta prototipe rumah tinggal sederhana dengan konsep BGH nantinya bisa menyesuaikan dengan melihat dari sisi wilayahnya masing-masing.

    Diingatkan Ita, sapaan akrabnya, Kota Semarang memiliki karakter geografis yang berbeda, seperti di pesisir dan perbukitan, serta ada daerah yang memang diperuntukkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

    “Kalau di pesisir kan lebih panas, beda dengan di sana yang wilayahnya dominan masih perbukitan dan hutan, sehingga didesain rumahnya seperti rumah panggung untuk antisipasi keamanannya agar menghindari binatang liar,” katanya

    Selain itu, Ita mengatakan bahwa wilayah pesisir juga bisa memanfaatkan panel surya guna menangkap panas matahari untuk dijadikan energi terbarukan yang menyuplai kebutuhan listrik maupun berbagai sumber daya lainnya yang ada di sekitarnya. Sumber:Antaranews.com

  • Upaya Pemerintah Kota Semarang Menuju Kota Zero Waste

    Upaya Pemerintah Kota Semarang Menuju Kota Zero Waste

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Semarang sedang menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendukung target nasional menuju prinsip zero waste atau nol sampah.

    Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan keinginannya untuk menjadikan Semarang sebagai pelopor upaya pengelolaan sampah secara ramah lingkungan melalui berbagai upaya sejalan dengan prinsip zero waste.

    Dalam pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), kata dia, Pemkot Semarang telah mendapatkan persetujuan Project Development Facility (PDF) untuk membangun fasilitas pengelolaan sampah berbasis insinerator.

    Pengelolaan sampah berbasis insinerator adalah proses pembakaran sampah dalam tungku pembakaran (insinerator) pada suhu tinggi untuk mengurangi volume sampah dan menetralkan komponen berbahaya.

    Ita, sapaan akrab Hevearita, menambahkan fasilitas pengelolaan sampah berbasis insinerator tersebut menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).

    “Setelah melalui proses panjang, Alhamdulillah, persetujuan PDF telah kami dapatkan. Proyek ini akan segera memasuki tahap lelang, termasuk penghitungan tipping fee,” katanyadi Semarang, Jumat (27/12/2024)

    Baca: Pengolahan sampah ITF mahal, Pemprov DKI Jakarta lebih pilih RDF

    Menurut dia, upaya tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Lingkungan Hidup yang mendorong daerah-daerah untuk mempercepat pengelolaan sampah berbasis teknologi.

    Ia mengatakan bahwa Pemkot Semarang juga menaruh perhatian besar pada edukasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

    Salah satunya, kata dia, program budidaya maggot di sekolah-sekolah telah berhasil menjadi solusi inovatif dalam pengelolaan sampah organik.

    Inovasi tersebut juga diimplementasikan di pondok pesantren di Semarang dengan memanfaatkan sampah plastik sebagai sumber pendapatan untuk membayar listrik, sementara limbah organik diolah menjadi maggot dan eco enzyme.

    “Langkah ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.

    Baca: Saatnya mengakhiri pengelolaan sampah dengan ditimbun

    Di era digital, Pemkot Semarang terus berinovasi dengan meluncurkan aplikasi e-Sampah yang memungkinkan pembayaran retribusi sampah secara digital sehingga mempermudah pengelolaan data dan transparansi.

    Selain itu, juga ada Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi untuk memantau kapasitas Tempat Penampungan Sementara (TPS) secara real time.

    “Ketika TPS hampir penuh, notifikasi otomatis dikirimkan ke Dinas Lingkungan Hidup untuk segera mengambil tindakan,” katanya.

    Ita mengungkapkan bahwa transformasi Kota Semarang menuju zero waste merupakan cerminan komitmen kuat untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan.

    Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemanfaatan teknologi, kata dia, Kota Semarang tidak hanya berkontribusi pada kelestarian lingkungan tetapi juga menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi warganya.

  • Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

    Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kota Semarang, baru-baru ini meluncurkan Fast Pyrolysis generasi kelima atau Faspol 5.0 yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.

     

    Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) yang memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat atau pengelola sampah plastik dalam memproduksi dan memanfaatkan petasol.

    Ini menjadikan Kota Semarang sebagai pionir dalam penerapan regulasi pengelolaan sampah plastik menggunakan metode fast pyrolysis di Indonesia.

    Regulasi ini sangat penting mengingat produk yang dihasilkan berupa bahan bakar minyak yang penggunaannya harus diatur dengan baik sehingga aman dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama nelayan dan petani.

    Keberadaan Perwali ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengembangkan inovasi serupa.

    Proses pengolahan sampah plastik dengan teknogil Faspol 5.0 dimulai dari pengumpulan sampah plastik residu yang tidak laku dijual.

    Baca: Mengenal Faspol 5.0 pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar

    Residu sampah plastik ini bersumber dari rumah tangga, lingkungan sekitar nelayan, rumah tangga, dan jejaring mitra bank sampah yang ada di Kota Semarang, kemudian dilanjutkan penyortiran.

    Sampah plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaktor mesin Faspol 5.0 secara bertahap, hingga diperoleh crude oil yang membutuhkan waktu delapan hingga sepuluh jam.

    Proses berikutnya berupa treatment penjernihan, esterifikasi, dan penyaringan. Proses ini juga melibatkan katalis pengganti bentonite buatan sendiri.

    Selain mengurangi sampah plastik di lingkungan, inovasi ini juga mendukung ketahanan energi lokal.

    Petasol memiliki cetane number di atas 50, melebihi standar solar (48), bahkan dapat mencapai 53 jika menggunakan sampah plastik yang berkualitas, bersih, kering tanpa campuran kotoran dan air.

    Dengan kondisi seperti ini, kualitas bahan bakar yang dihasilkan hampir setara dengan Pertamina Dex (CN 53).

    Baca: Upaya Pemerintah Kota Semarang menuju zero waste

    Tersedia untuk Skala Rumah Tangga hingga Industri
    Mesin Faspol 5.0 tersedia dalam beberapa kapasitas, yaitu 30, 50, dan 100 kilogram. Untuk skala rumah tangga atau komunitas kecil, mesin berkapasitas 30 kilogram dinilai cukup ideal.

    Sementara untuk skala industri atau usaha yang lebih besar, mesin dengan kapasitas 100 kilogram dapat memberikan hasil optimal.

    Harga mesin ini pun bervariasi, mulai dari Rp145 juta hingga Rp196 juta, tergantung kapasitasnya.

    Aplikasi teknologi pirolisis multikondensor untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar telah mendapatkan penghargaan sebagai juara Pertamina Foundation / PF Sains 2024 kategori Implementation.

    Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tim peneliti BRIN dan komunitas Bank Sampah Banjarnegara sebagai inventor, berharap teknologi ini dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

    Baca: Pembangunan ITF mahal Jakarta berpaling ke RDF

    “Kami ingin menggerakkan pengelolaan sampah plastik dari lingkungan komunitas terkecil di kelurahan atau pedesaan, sehingga sampah tidak perlu lagi dibawa ke luar wilayah dan bertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA/TPS/TPST),” ujar Tri.

    Saat ini, teknologi Faspol 5.0 sudah diterapkan di 53 lokasi di Indonesia. BRIN menargetkan setiap desa atau kecamatan dapat memiliki mesin Faspol sendiri, sehingga pengelolaan sampah plastik dapat dilakukan langsung di sumbernya.

    Dengan demikian, distribusi sampah plastik ke tempat pembuangan akhir bisa diminimalisir, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

    Dengan penerapan replikasi teknologi Faspol 5.0, Semarang tidak hanya menjadi kota yang lebih bersih tetapi juga turut serta dalam membangun ketahanan energi berkelanjutan untuk Indonesia yang lebih hijau dan mandiri.

    Kolaborasi riset pentaheliks antara BRIN, pemerintah daerah, swasta, BUMN, dan komunitas lokal ini membuktikan bahwa inovasi yang berorientasi pada lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dapat diwujudkan secara nyata.