Tag: suhu bumi

  • BMKG: Perlu Transisi Sumber Energi Atasi Suhu Bumi yang Semakin Panas

    BMKG: Perlu Transisi Sumber Energi Atasi Suhu Bumi yang Semakin Panas

    7cloud.asia – Suhu bumi semakin panas. Perlu transisi penggunaan sumber energi berbahan bakar fosil ke sumber energi hijau untuk mengatasinya.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati seperti yang dikutip Antaranews.

    Menurut Dwikorita, sejak 2000 sampai 2023 telah terjadi kenaikan suhu bumi rata-rata 0,3 derajat celcius yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca (CO2) dari bahan bakar fosil seperti batubara, bensin dan sejenisnya.

    “Krisis ini nyata bila tidak ada perubahan dalam sepuluh tahun ke depan atau kurang dari itu, suhu bumi diprediksi bisa lebih panas lagi dengan peningkatan rata-rata mencapai 3,5 derajat celcius,” jelas Dwikorita.

    Lebih lanjut Dwikorita menjelaskan, BMKG menemukan adanya kenaikan luar biasa konsentrasi CO2 di atmosfer sebagai penyebab kenaikan suhu bumi.

    Berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada Mei 2020-2022 di kawasan hutan Bukit Kototabang, Palu, dan Sorong yang secara umum mengalami kenaikan konsentrasi CO2 setiap tahunnya.

    Dalam kurun waktu tersebut, laju peningkatan rata-rata paling tinggi terjadi di Bukit Kototabang dengan nilai 3,12 ppm per tahun.

    Sedangkan laju peningkatan rata-rata di Palu dan Sorong berturut-turut sebesar 2,2 ppm per tahun dan 1,8 ppm per tahun.

    Diketahui, setiap tahun konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat 3,12 bagian per juta.

    Satu ppm (part per million) adalah satu bagian dari sesuatu yang terkandung dalam satu juta bagian lainnya. Jadi, berarti ada 3,12 bagian CO2 dalam satu juta bagian atmosfer.

    Selain adanya fenomena El Nino, peningkatan suhu tersebut semakin memperparah kekeringan ekstrem yang sedang melanda Indonesia saat ini.

    Akibat kekeringan tersebut sejumlah wilayah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Nusa Tengggara dan Sulawesi mengalami kesulitan air bersih dan penurunan produktivitas pertanian.

    “Faktanya ancaman kekeringan di Indonesia yang diprakirakan berlangsung hingga Januari-Maret 2024 ini baru sebagian pendahuluan. Jika kenaikan suhu global tidak dikendalikan, maka ancaman kekeringan akan semakin parah di masa depan,” ungkapnya.

    Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), jika kenaikan suhu global mencapai 3,5 derajat Celsius, maka akan terjadi krisis pangan global.

    Hal ini akan berdampak pada 500 juta petani skala kecil yang memproduksi 80 persen pangan dunia tak terkecuali Indonesia.

    Karena itu, lanjut Dwikorita untuk mengurangi risiko kekeringan dan krisis pangan, perlu ada perubahan gaya hidup dengan beralih secara keseluruhan menggunakan energi hijau yang ramah lingkungan tak memproduksi CO2.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada November 2023, Ini Penyebabnya

    Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada November 2023, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Pada bulan Oktober dan November 2023, pemanasan suhu Bumi tercatat cukup tinggi yakni berada di angka 1,5°C dan sempat menyentuh 2°C.

    Melihat angka pemanasan suhu Bumi yang cukup fantastis ini, wajar jika banyak orang bertanya-tanya  bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan planet ini.

    Dalam tulisan di The Conversation, lonjakan pemanasan suhu bumi yang tiba-tiba pada tahun 2023 terjadi karena kombinasi beberapa faktor.

    Perubahan iklim, El Nino kuat, kegagalan pembentukan kembali es laut setelah musim dingin, berkurangnya polusi aerosol, dan peningkatan aktivitas matahari disebut sebagai pemicu fenomena lonjakan suhu bumi ini.

    Baca: Pemanasan suhu bumi capai 2 derajat

    Dan berikut penjelasan, bagaimana faktor-faktor tersebut memicu pemanasan suhu Bumi.

    1. Perubahan iklim

    Sejauh ini, perubahan iklim adalah faktor terbesar dalam pemanasan suhu bumi. Banyak dari kita yang tidak menyadari betapa barunya periode emisi intens yang kita alami.

    Jika kamu lahir pada 1983, 50% dari seluruh emisi umat manusia telah dibuang ke atmosfer sejak kelahiranmu.

    Emisi manusia dan aktivitas lainnya sejauh ini berkontribusi memanaskan suhu Bumi sebesar 1,2°C.

    Gas rumah kaca memerangkap panas, itulah sebabnya bumi tidak terselimuti salju.

    Namun, 2 triliun ton energi fosil yang ditambang dari bawah tanah dan dikembalikan ke atmosfer memerangkap lebih dan lebih banyak lagi panas.

    Bumi bakal terus memanas hingga kita berhenti menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan panas atau listrik.

    Baca: Mungkinkah dunia cetak nol emisi pada 2050?

     

    2. Fenomena El Nino

    Siklus iklim El Nino di kawasan Pasifik memiliki pengaruh alami terbesar terhadap iklim. Hal ini karena kawasan Pasifik sangat luas, mencakup 30% permukaan bumi.

    Saat mengalami fase El Nino, lautan di lepas pantai Amerika Selatan memanas. Hal ini, pada gilirannya, biasanya membuat suhu rata-rata global menjadi lebih panas.

    Saat ini, ada gelombang panas yang berbahaya di Brasil. Saat terkombinasi dengan kelembapan, gelombang panas membuat suhu di sana terasa seperti 60°C.

    Kondisi tersebut berkontribusi pada kematian seorang penggemar di konser Taylor Swift di Rio de Janeiro minggu lalu.

    El Nino kemungkinan akan memuncak dalam dua bulan ke depan. Namun, dampaknya mungkin terus berlanjut sepanjang 2024, sehingga menyebabkan suhu rata-rata global lebih tinggi sekitar 0,15°C.

    Baca: Manfaat hutan mangrove untuk serap karbon

    3. Es Laut Antartika gagal pulih

    Penurunan es Laut Arktik sudah diketahui secara luas. Namun, kini es Laut Antartika juga gagal pulih sehingga memicu pemanasan suhu Bumi.

    Biasanya, lingkaran air laut beku di sekitar benua es mencapai batas maksimumnya pada September.

    Namun, luas lingkaran maksimum tahun ini jauh di bawah tahun sebelumnya.

    Saat memasuki musim panas, akan lebih banyak air yang berwarna gelap. Permukaan yang gelap akan menyerap lebih banyak panas, sedangkan permukaan yang putih memantulkannya.

    Ini menandakan lebih banyak panas yang akan masuk ke lautan dibandingkan kembali ke angkasa.

    Baca: Riset mengungkap Juli 2023 catat emisi karbon tertinggi

     

    4. Peningkatan aktivitas Matahari

    Matahari beroperasi dalam siklus sekitar 11 tahun, dengan keluaran yang lebih rendah dan lebih tinggi. Suhu maksimum matahari diperkirakan terjadi pada 2025 dan peningkatan nyata terjadi tahun ini.

    Fenomena tersebut menciptakan aurora yang spektakuler—-bahkan di Belahan Bumi Selatan, tempat penduduknya telah melihat aurora sampai ke daratan Ballarat, di Victoria, Australia.

    Aktivitas maksimum matahari menambahkan panas ekstra. Namun, efeknya tidak banyak—-hanya sekitar 0,05°C, atau setara sepertiga dari El Nino.

    5. Berkurangnya polusi aerosol

    Pada 2020, peraturan internasional baru mewajibkan bahan bakar pelayaran yang rendah sulfur. Pelaksanaan regulasi ini mengurangi emisi sulfur dioksida sekitar 10%.

    Rendahnya emisi sulfur dioksida memang bagus untuk kesehatan. Namun, aerosol di atmosfer sebenarnya dapat menghalangi panas.

    Pengurangan polusi mungkin telah menambah pemanasan Bumi. Namun sekali lagi, dampaknya tampaknya kecil, atau menambahkan perkiraan pemanasan sebesar 0,05°C pada 2050.

    Baca: Peran sektor kehutanan untuk serap emisi karbon

    Letusan gunung berapi

    Letusan gunung berapi biasanya mendinginkan planet ini karena gumpalan besar aerosol dari muntahan gunung menghalangi sinar matahari.

    Namun letusan gunung berapi terbesar abad ini, di dekat Tonga, Polinesia, pada Januari 2022 justru berdampak sebaliknya.

    Ini karena gunung berapi Hunga Tonga-Hunga Ha’apai berada di bawah laut. Kekuatan ledakannya menguapkan sejumlah besar air laut. Sementara, uap air merupakan gas rumah kaca.

    Beberapa orang skeptis bahwa letusan di Tonga menjadi penyebab utama lonjakan pemanasan global baru-baru ini, menganggapnya hanya kedipan semata.

    Namun, letusan ini akan menambah suhu diperkirakan 0,035°C selama sekitar lima tahun.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation. Penulis Andrew King, Senior Lecturer in Climate Science, The University of Melbourne

  • Seperti Ini Dampak Kenaikan Suhu Bumi hingga 2°C pada Pola Cuaca

    Seperti Ini Dampak Kenaikan Suhu Bumi hingga 2°C pada Pola Cuaca

    7cloud.asia – Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), kenaikan suhu bumi sejauh ini telah mencapai 1,2°C, dan banyak proyeksi yang menunjukkan bahwa kita “sedang dalam perjalanan” menuju suhu 2°C.

    Jika suhu Bumi lebih hangat 2°C akan menjadikannya dunia dengan perubahan dan perbedaan kondisi lingkungan yang sangat besar.

    Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), daratan akan lebih panas dibandingkan lautan dan Arktik akan memanas 2-3 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

    Beberapa perubahan suhu bumi dalam skenario 2°C antara lain:
    – Gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens terjadi di daerah tropis.
    – Lebih sedikit suhu dingin di daerah lintang tinggi atau subtropis.
    – Siang dan malam yang lebih hangat secara global.
    – Lebih banyak variabilitas suhu di beberapa daerah, yang akan menyebabkan cuaca lebih tidak menentu.

    Perubahan suhu Bumi ini akan berdampak pada berbagai aspek ekosistem Bumi, mulai dari pola cuaca hingga ekosistem darat dan perairan.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Cuaca Ekstrem
    Salah satu dampak paling nyata dari pemanasan 2°C adalah meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem.

    Peristiwa-peristiwa ini dapat menimbulkan dampak buruk terhadap masyarakat, infrastruktur, dan lingkungan.

    Gelombang panas
    Gelombang panas akan menjadi lebih umum, lebih intens, dan bertahan lebih lama di dunia yang suhunya lebih hangat 2°C.

    Penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya gelombang panas seperti yang melanda Eropa pada tahun 2003, yang menyebabkan lebih dari 30.000 kematian, akan meningkat dari setiap 100 tahun sekali menjadi setiap 4 tahun pada suhu pemanasan 2°C.

    Daerah-daerah yang sudah rentan terhadap suhu tinggi, seperti Timur Tengah dan Afrika Utara, akan mengalami “gelombang panas super” dengan suhu melebihi 50°C (122°F).

    Hal ini akan membuat beberapa wilayah berpotensi tidak dapat dihuni jika tidak dilakukan upaya adaptasi yang signifikan.

    Baca: Perubahan iklim dan pemanasan global mengancam sektor pariwisata

    Sebuah studi pada bulan Oktober 2023 memperingatkan bahwa tingkat panas dan kelembapan akan mencapai tingkat yang mematikan selama berjam-jam, berhari-hari, dan bahkan berminggu-minggu di beberapa bagian dunia pada akhir abad ini – bahkan di bawah suhu pemanasan 2°C – sehingga mustahil untuk tetap berada di luar ruangan.

    Kekeringan
    Kekeringan akan semakin sering terjadi dan semakin parah di banyak belahan dunia. IPCC memproyeksikan luas daratan global yang terkena bencana kekeringan akan meningkat sebesar 50% untuk 2°C dibandingkan 1,5°C.

    Wilayah Mediterania, Afrika bagian selatan, dan sebagian Australia serta Amerika Selatan akan terkena dampak paling parah.

    Selain mempengaruhi sumber daya air, kekeringan yang parah dan berkepanjangan akan menghancurkan tanaman pangan dan menyebabkan tingginya angka kematian ternak, sehingga menyebabkan kerawanan pangan.

    Banjir
    Meskipun beberapa wilayah akan menjadi lebih kering, wilayah lainnya akan mengalami lebih banyak banjir.

    Dengan pemanasan sebesar 2°C, IPCC memperkirakan bahwa populasi global yang terpapar banjir sungai akan meningkat hingga 170persen dibandingkan dengan skenario 1,5°C.

    Curah hujan lebat akan menjadi lebih intens dan sering terjadi di banyak wilayah, khususnya di wilayah lintang tinggi dan di daerah tropis.

    Peningkatan curah hujan ekstrem ini akan menyebabkan lebih banyak banjir bandang dan banjir perkotaan.

    Baca: Cara kota-kota di dunia hadapi pemanasan global

    Siklon Tropis
    Meskipun jumlah total siklon tropis mungkin tidak banyak berubah, intensitasnya akan lebih besar.

    Studi menunjukkan bahwa dalam skenario 2°C, proporsi badai Kategori 4 dan 5 akan meningkat sebesar 13persen dan intensitas rata-rata sebesar 5persen.

    Badai yang lebih dahsyat akan membawa angin yang lebih kencang, curah hujan yang lebih banyak, dan gelombang badai yang lebih tinggi, sehingga membahayakan masyarakat dan infrastruktur pesisir.

    Sumber:earth.org

  • Suhu Bumi Semakin Panas dan Dampaknya Semakin Nyata, Dunia Diminta Kurangi Penggunaan BBM

    Suhu Bumi Semakin Panas dan Dampaknya Semakin Nyata, Dunia Diminta Kurangi Penggunaan BBM

    7cloud.asiaWorld Weather Attribution (WWA) mencatat, suhu bumi terus menghangat dan sembilan tahun terakhir merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan tahun 2023 disebut sebagai tahun terpanas.

    Suhu yang memecahkan rekor tahun lalu sebagian disebabkan oleh fenomena El Niño, pola cuaca yang terkait dengan pemanasan permukaan air yang tidak biasa di bagian timur Samudera Pasifik khatulistiwa.

    Namun, meski polanya melemah secara bertahap, suhu Bumi terus meningkat. Awal bulan ini, para ilmuwan Eropa mengonfirmasi bahwa dunia baru saja mengalami musim panas terpanas yang pernah tercatat.

    Serangkaian rekor suhu Bumi ini, menurut WWA yang merupakan kolaborasi akademis yang mempelajari peristiwa ekstrem, meningkatkan kemungkinan tahun 2024 menjadi lebih panas dibandingkan tahun lalu.

    Suhu planet Bumi yang lebih hangat, menurut WWA, tidak hanya berdampak pada peristiwa seperti Badai Boris yang memicu banjir besar di Eropa Tengah.

    Baca: Banjir besar di Eropa Tengah bukti perubahan iklim sudah di depan mata

    Dilansir earth.org, Kenaikan suhu Bumi juga membuat peristiwa cuaca lain seperti gelombang panas dan siklon tropis menjadi lebih sering dan lebih parah.

    Kenaikan suhu Bumi juga berkontribusi terhadap semakin mencairnya lapisan es, naiknya permukaan air laut, dan terganggunya keanekaragaman hayati dan ekosistem.

    Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak untuk listrik dan pemanas merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia.

    Emisi gas rumah kaca inilah yang menjadi penyebab utama pemanasan global karena memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan Bumi.

    WWA mencatat, konsumsi bahan bakar fosil global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan standar hidup dan output ekonomi mereka.

    Baca: Langkah mitigasi untuk hadapi pemanasan global

    Pada tahun 2023, emisi ketiga gas rumah kaca (GRK) yang paling kuat yaitu karbon dioksida (CO2), metana, dan dinitrogen oksida, mencapai rekor tertinggi.

    Badan Energi Internasional (IEA) telah mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru.

    Cara ini disebut sebagai satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi nol bersih yang kompatibel dengan 1,5°C tetap berjalan.

    Karena jika kenaikan suhu Bumi melampaui angka 1,5°C tersebut, dikhawatirkan dampak yang dirasakan kehidupan akan lebih berat.

    Baca: Kota-kota di belahan bumi selatan rentan suhu panas ekstrem

    Bogdan H. Chojnicki, ahli iklim di Poznań University of Life Sciences mengatakan, banjir pada tahun 1997 dan 2002 di Eropa Tengah digambarkan sebagai peristiwa yang terjadi sekali dalam satu abad.

    ”Namun dua dekade kemudian, pemanasan global meningkat dari 0,5 menjadi 1,3°C, dan hal ini terjadi lagi,” kata Bogdan yang merupakan salah satu penulis laporan studi yang dilakukan WWA tersebut.

    Dia menambahkan bahwa negara-negara di Eropa mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan negara-negara lain di dunia.

    “Trennya jelas – jika manusia terus mengisi atmosfer dengan emisi bahan bakar fosil, maka hal tersebut akan sering lebih terjadi,“ pungkasnya.

    Sumber:Earth.org

  • Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada 2024: Dunia Menuju Arah yang Salah

    Pemanasan Suhu Bumi Cetak Rekor pada 2024: Dunia Menuju Arah yang Salah

    7cloud.asia – Para peneliti mengatakan bahwa rekor suhu panas pada 2024 menandakan bahwa rata-rata suhu Bumi sedang melewati batas 1,5°C seperti yang ditetapkan di Perjanjian Paris 2015.

    Para ilmuwan memprediksi, dengan peningkatan suhu Bumi seperti yang terjadi saat ini akan terjadi bencana besar pada sistem alam yang menopang kehidupan di planet ini.

    Studi-studi tentang suhu Bumi ini dilakukan secara independen oleh para peneliti dari Eropa dan Kanada.

    Mereka berusaha menjawab pertanyaan mendasar: apakah satu tahun di atas 1,5°C merupakan tanda bahwa kita telah melewati ambang batas Perjanjian Paris?

    Kedua studi ini menggunakan data observasi dan simulasi model iklim untuk menjawab pertanyaan ini, dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

    Dalam studi dari Eropa, para peneliti menganalisis tren pemanasan historis. Mereka menemukan bahwa ketika suhu rata-rata Bumi mencapai ambang batas tertentu, maka dalam 20 tahun berikutnya suhu tersebut juga cenderung berada di ambang batas yang sama.

    Pola ini menunjukkan bahwa jika Bumi mencapai pemanasan 1,5°C tahun lalu, maka kita mungkin telah memasuki periode 20 tahun saat suhu rata-rata juga akan mencapai tingkat tersebut.

    Sementara itu, studi dari Kanada menggunakan data suhu bulanan. Juni 2024 merupakan bulan ke-12 berturut-turut dengan suhu di atas 1,5°C.

    Para peneliti menemukan bahwa jika selama 12 bulan berturut-turut suhu melampaui ambang batas iklim tertentu, maka kemungkinan besar ambang batas tersebut akan tercapai dalam jangka panjang.

    Kedua studi ini juga menunjukkan bahwa, meskipun pengurangan emisi yang ketat dimulai dari sekarang, Bumi tetap berisiko melewati batas 1,5°C.

    Dunia menuju arah yang salah
    Dengan temuan seperti di atas, apa yang akan dilakukan oleh umat manusia selanjutnya menjadi sangat penting untuk masa depan Bumi,

    Selama beberapa dekade, ilmuwan iklim telah memperingatkan bahwa pembakaran bahan bakar fosil untuk kebutuhan energi melepaskan karbon dioksida dan gas lain yang memanaskan Bumi.

    Namun, emisi gas rumah kaca terus meningkat. Sejak Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menerbitkan laporan pertamanya pada 1990, emisi karbon dioksida tahunan dunia telah meningkat sekitar 50 persen.

    Singkatnya, kita bahkan belum berjalan ke arah yang benar, apalagi bergerak dengan kecepatan yang diperlukan.

    Sains menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca harus mencapai net-zero untuk menghentikan pemanasan global. Bahkan setelah itu, beberapa aspek iklim akan terus berubah selama berabad-abad, karena pemanasan regional, terutama di lautan, sudah terkunci dan tidak dapat diubah.

    Jika Bumi memang telah melewati batas 1,5°C, dan umat manusia ingin berada di bawah ambang batas itu lagi, maka kita perlu mendinginkan planet ini dengan mencapai net-negative emissions.

    Artinya, kita harus menghilangkan lebih banyak gas rumah kaca dari atmosfer daripada yang kita hasilkan. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan yang sangat menantang.

    Dampak pemanasan global
    Dampak perubahan iklim yang merusak sudah dirasakan di seluruh dunia. Dan generasi mendatang sepertinya akan menghadapi ancaman yang lebih besar lagi.

    Cuaca ekstrem, terutama gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin parah. Hal ini memberikan tekanan besar pada alam, masyarakat, dan perekonomian .

    Namun di tengah kesuraman ini, setidaknya masih ada tanda-tanda kemajuan. Di seluruh dunia, pembangkit listrik tenaga terbarukan semakin berkembang. Penggunaan bahan bakar fosil telah menurun di banyak negara.

    Kemajuan teknologi berhasil memperlambat pertumbuhan emisi di industri pencemar seperti penerbangan dan konstruksi. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan.

    Umat manusia bisa mengubah arah
    Berbagai studi ini menjadi pengingat keras betapa jauh kita masih tertinggal dalam menangani perubahan iklim.

    Masyarakat dunia harus segera beradaptasi dengan pemanasan global yang kian meningkat.

    Di antara serangkaian perubahan yang diperlukan, salah satu langkah penting adalah negara-negara kaya harus membantu negara-negara miskin yang akan menanggung dampak terparah.

    Meskipun sudah ada beberapa kemajuan, dana yang tersedia masih jauh dari cukup.

    Dunia juga perlu melakukan perubahan besar untuk mendekarbonisasi masyarakat dan ekonomi kita. Masih ada harapan, tetapi kita tidak boleh menunda tindakan.

    Jika tidak, manusia akan terus memanaskan planet Bumi dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Andrew King (Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne) dan Liam Cassidy (PhD Candidate, The University of Melbourne)

     

     

  • Dua Studi Global Ungkap Suhu Bumi Lampaui Ambang Batas Pemanasan Global 1,5°C

    Dua Studi Global Ungkap Suhu Bumi Lampaui Ambang Batas Pemanasan Global 1,5°C

    7cloud.asia – Suhu Bumi telah melewati ambang batas pemanasan global 1,5°C, menurut dua studi global terbaru. Situasi ini menunjukkan bahwa iklim planet ini telah memasuki fase baru yang mengkhawatirkan.

    Dalam Perjanjian Paris 2015, negara-negara yang tergabung di dalamnya berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga pemanasan global tidak melebihi 1,5°C di atas rata-rata pra-industri.

    Namun, nyatanya rata-rata suhu Bumi pada tahun 2024 lalu telah melewati batas tersebut.

    Meski begitu, data satu tahun saja tidak cukup untuk bisa menyatakan bahwa ambang batas Perjanjian Paris telah terlampaui.

    Sebab, target suhu dalam perjanjian ini diukur berdasarkan tren jangka panjang selama beberapa dekade, bukan sekadar lonjakan sesaat di atas 1,5°C.

    Namun, dua studi terbaru yang menggunakan ukuran yang berbeda untuk memeriksa ambang batas pemanasan global ini.

    Baca: Dunia keluar jalur pembatasan pemanasan global 1,5°C

    Kedua studi ini menganalisis data iklim historis untuk menentukan apakah tahun-tahun terpanas dalam sejarah baru-baru ini merupakan indikasi bahwa ambang batas pemanasan global jangka panjang di masa depan akan terlampaui.

    Sayangnya, jawabannya adalah ya. Para peneliti mengatakan bahwa rekor suhu panas pada 2024 menandakan bahwa Bumi sedang melewati batas 1,5°C. Para ilmuwan memprediksi akan terjadi bencana besar pada sistem alam yang menopang kehidupan di planet ini.

    2024: Tahun pertama dari banyak tahun di atas 1,5°C
    Organisasi iklim di seluruh dunia sepakat bahwa tahun lalu adalah tahun terpanas dalam sejarah.

    Suhu rata-rata global pada 2024 mencapai sekitar 1,6°C di atas suhu rata-rata pada akhir abad ke-19, sebelum manusia mulai membakar bahan bakar fosil dalam skala besar.

    Selain itu, Bumi juga baru-baru ini mengalami hari-hari dan bulan-bulan dengan suhu di atas ambang batas 1,5°C.

    Namun, suhu global bervariasi dari tahun ke tahun. Lonjakan suhu pada 2024, meskipun sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim, juga diperburuk oleh fenomena El Niño alami di awal tahun.

    Baca: Rata-rata suhu Bumi 2024 tercatat 1,6°C di atas masa Pra-industri

    Fenomena yang dipicu El Nino ini kini telah mereda, dan pada 2025 diperkirakan akan lebih rendah.

    Fluktuasi dari tahun ke tahun ini menandakan bahwa para ilmuwan iklim tidak serta-merta melihat satu tahun yang melebihi batas 1,5°C sebagai kegagalan untuk memenuhi Perjanjian Paris.

    Namun, dua studi terbaru yang dipublikasikan di Nature Climate Change menunjukkan bahwa bahkan satu bulan atau satu tahun dengan pemanasan global 1,5°C saja sudah bisa menjadi indikasi bahwa Bumi sedang memasuki ambang batas tersebut.

    Data suhu rata-rata global dari enam organisasi menunjukkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun terpanas di dunia dan tahun pertama yang menembus angka 1,5°C. WMO

    Temuan studi
    Studi-studi tentang suhu Bumi ini dilakukan secara independen oleh para peneliti dari Eropa dan Kanada.

    Mereka berusaha menjawab pertanyaan mendasar: apakah satu tahun di atas 1,5°C merupakan tanda bahwa kita telah melewati ambang batas Perjanjian Paris?

    Baca: Dampak lingkungan jika pemanasan global mencapai 2°C

    Kedua studi ini menggunakan data observasi dan simulasi model iklim untuk menjawab pertanyaan ini, dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

    Dalam studi dari Eropa, para peneliti menganalisis tren pemanasan historis. Mereka menemukan bahwa ketika suhu rata-rata Bumi mencapai ambang batas tertentu, maka dalam 20 tahun berikutnya suhu tersebut juga cenderung berada di ambang batas yang sama.

    Pola ini menunjukkan bahwa jika Bumi mencapai pemanasan 1,5°C tahun lalu, maka kita mungkin telah memasuki periode 20 tahun saat suhu rata-rata juga akan mencapai tingkat tersebut.

    Sementara itu, studi dari Kanada menggunakan data suhu bulanan. Juni 2024 merupakan bulan ke-12 berturut-turut dengan suhu di atas 1,5°C.

    Para peneliti menemukan bahwa jika selama 12 bulan berturut-turut suhu melampaui ambang batas iklim tertentu, maka kemungkinan besar ambang batas tersebut akan tercapai dalam jangka panjang.

    Kedua studi ini juga menunjukkan bahwa, meskipun pengurangan emisi yang ketat dimulai dari sekarang, Bumi tetap berisiko melewati batas 1,5°C.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Andrew King (Associate Professor in Climate Science, ARC Centre of Excellence for 21st Century Weather, The University of Melbourne) dan Liam Cassidy (PhD Candidate, The University of Melbourne)