Suhu Bumi Semakin Panas dan Dampaknya Semakin Nyata, Dunia Diminta Kurangi Penggunaan BBM

Written by

in

7cloud.asiaWorld Weather Attribution (WWA) mencatat, suhu bumi terus menghangat dan sembilan tahun terakhir merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan tahun 2023 disebut sebagai tahun terpanas.

Suhu yang memecahkan rekor tahun lalu sebagian disebabkan oleh fenomena El Niño, pola cuaca yang terkait dengan pemanasan permukaan air yang tidak biasa di bagian timur Samudera Pasifik khatulistiwa.

Namun, meski polanya melemah secara bertahap, suhu Bumi terus meningkat. Awal bulan ini, para ilmuwan Eropa mengonfirmasi bahwa dunia baru saja mengalami musim panas terpanas yang pernah tercatat.

Serangkaian rekor suhu Bumi ini, menurut WWA yang merupakan kolaborasi akademis yang mempelajari peristiwa ekstrem, meningkatkan kemungkinan tahun 2024 menjadi lebih panas dibandingkan tahun lalu.

Suhu planet Bumi yang lebih hangat, menurut WWA, tidak hanya berdampak pada peristiwa seperti Badai Boris yang memicu banjir besar di Eropa Tengah.

Baca: Banjir besar di Eropa Tengah bukti perubahan iklim sudah di depan mata

Dilansir earth.org, Kenaikan suhu Bumi juga membuat peristiwa cuaca lain seperti gelombang panas dan siklon tropis menjadi lebih sering dan lebih parah.

Kenaikan suhu Bumi juga berkontribusi terhadap semakin mencairnya lapisan es, naiknya permukaan air laut, dan terganggunya keanekaragaman hayati dan ekosistem.

Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak untuk listrik dan pemanas merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia.

Emisi gas rumah kaca inilah yang menjadi penyebab utama pemanasan global karena memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan Bumi.

WWA mencatat, konsumsi bahan bakar fosil global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan standar hidup dan output ekonomi mereka.

Baca: Langkah mitigasi untuk hadapi pemanasan global

Pada tahun 2023, emisi ketiga gas rumah kaca (GRK) yang paling kuat yaitu karbon dioksida (CO2), metana, dan dinitrogen oksida, mencapai rekor tertinggi.

Badan Energi Internasional (IEA) telah mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru.

Cara ini disebut sebagai satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi nol bersih yang kompatibel dengan 1,5°C tetap berjalan.

Karena jika kenaikan suhu Bumi melampaui angka 1,5°C tersebut, dikhawatirkan dampak yang dirasakan kehidupan akan lebih berat.

Baca: Kota-kota di belahan bumi selatan rentan suhu panas ekstrem

Bogdan H. Chojnicki, ahli iklim di Poznań University of Life Sciences mengatakan, banjir pada tahun 1997 dan 2002 di Eropa Tengah digambarkan sebagai peristiwa yang terjadi sekali dalam satu abad.

”Namun dua dekade kemudian, pemanasan global meningkat dari 0,5 menjadi 1,3°C, dan hal ini terjadi lagi,” kata Bogdan yang merupakan salah satu penulis laporan studi yang dilakukan WWA tersebut.

Dia menambahkan bahwa negara-negara di Eropa mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan negara-negara lain di dunia.

“Trennya jelas – jika manusia terus mengisi atmosfer dengan emisi bahan bakar fosil, maka hal tersebut akan sering lebih terjadi,“ pungkasnya.

Sumber:Earth.org

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *