Tag: sulawesi

  • Dari Jakarta Hingga Sulawesi Serempak Demo Dukung Hak Angket dan Makzulkan Jokowi

    Dari Jakarta Hingga Sulawesi Serempak Demo Dukung Hak Angket dan Makzulkan Jokowi

    7cloud.asia – Aksi demonstrasi pada Jumat (01/03/2024) tak hanya berlangsung di Jakarta. Sejumlah kota juga menggelar aksi yang sama. Tuntutan mereka sama yaitu dukung hak angket, turunkan harga sembako dan makzulkan Jokowi.

    Di Jakarta, ribuan massa dari berbagai organisasi menggelar Aksi Rakyat Semesta Geruduk DPR RI, di depan gedung MPR/DPR.

    Mereka membawa tiga tuntutan utama  atau ‘Tritura’, yaitu turunkan harga sembako, dukung hak angket, dan makzulkan Presiden Jokowi.

    Tampak sejumlah tokoh seperti Refly Harun, Said Didu dan Eggi Sudjana hadir memberikan orasi.

    Baca: Ribuan massa demo di DPR

    Selain itu, aksi demo juga dilakukan di Alun-Alun Purwokerto usai salat Jumat. Aksi yang diberi nama Aksi Indonesia Melawan itu menuntut turunkan harga sembako, dukung hak angket, diskualifikasi 02, dan makzulkan Jokowi.

    Di Kota Yogyakarta, aksi damai berlangsung di Titik Nol KM dilakukan oleh Petisi Rakyat Jogja Menggugat Pemilu Curang, Gerakan Penegakan Kedaulatan Rakyat (GPKR) dan Paguyuban Penegakan Demokrasi Masyarakat Jogja Istimewa (PPDMJI)

    Dalam tuntutannya mereka mendesak pengusutan politisasi bansos, mendukung hak angket serta bongkar penyalahgunaan kekuasaan.

    Baca: Ratusan buruh demo turunkan harga sembako

    Kemudian di Kota Surakarta, Aliansi Rakyat Solo menggelar aksi damai di Balai Kota Solo usai salat Jumat.

    Dalam aksi ini mereka menuntut turunkan harga sembako, tolak kecurangan pemilu hingga pemakzulan Presiden Jokowi.

    Sedangkan di Jawa Timur, usai salat Jumat, sejumlah elemen masyarakat melakukan aksi demonstrasi di Gedung DPRD Jatim Surabaya.

    Mereka menuntut turunkan harga kebutuhan pokok, tolak pemilu curang dan dukung hak angket DPR.

    Baca: Buruh demo depan KPU tolak hasil pilpres 2024

    Aksi yang sama juga berlangsung di Makassar, Sulawqesi Selatan. Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Rakyat Sulsel Menggugat (FORSUM) menggelar aksi di depan Kantor DPRD Provinsi Sulsel, Kantor KPU Sulsel serta Kantor Bawaslu Sulsel.

    Meski dilakukan di tiga tempat, tetapi tututan mereka sama, yaitu memprotes hasil Pilpres 2024 yang dinilai terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif.

    Aksi ini akan dilakukan pada pukul 13.00 WITA di Kantor DPRD Provinsi Sulsel dan Kantor KPU Sulsel serta Kantor Bawaslu Sulsel.

    reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Curah Hujan Tinggi di Sulawesi Selatan Mengakibatkan Longsor, Delapan Orang Tewas

    Curah Hujan Tinggi di Sulawesi Selatan Mengakibatkan Longsor, Delapan Orang Tewas

    7cloud.asia – Meski beberapa wilayah sudah memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan di Kabupaten Luwu dan Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) masih tinggi. Akibatnya bencana longsor terjadi dan menewaskan 8 warga.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel, Amson Pandolo menjelaskan  7 orang korban tewas di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, dan satu orang di Kabupaten Sidrap.

    “Iya, ada tujuh orang korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Kabupaten Luwu,” kata Amson seperti yang dikutip Antaranews.

    Berdasarkan data dari BPBD, korban tewas akibat tanah longsor di Desa Buntu Sarek berjenis kelamin perempuan, yaitu Rumpak (97), Jatima (55), Mawi (57), dan Sukma (9).

    Baca: Banjir akibat cuaca ekstrem, BNPB harus lebih responsif

    Selanjutnya korban laki-laki atas nama Rima (84), Muh Misdar (29) dan Kapila (84). Sedangkan satu korban yang belum dikenali namanya di Kabupaten Sidrap.

    Selanjutnya Amson menjelaskan saat ini tim BPBD dan SAR gabungan melakukan evakuasi dan asesmen terhadap para korban terdampak tanah longsor di lokasi kejadian.

    Sejak Senin (29/04//2024) curah hujan yang tinggi mengguyur sejumlah wilayah seperti Kabupaten Sidrap, Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Wajo Sulsel. Akibatnya banjir dan longsor menerjang wilayah tersebut.  

    “Bencana longsor terjadi di Sidrap, Enrekang, Wajo, dan Luwu. Saat ini di Luwu, Kecamatan Latimojong, ada tujuh meninggal, termasuk di Suli dan Suli Barat. Untuk banjir hampir merata di Luwu,” jelas Amson.

    Pihaknya juga tengah mendata jumlah korban, rumah serta fasilitas umum yang terdampak akibat banjir dan longsor.

    Baca: Banjir dan longsor di Bandung Barat, 9 orang hilang

    “Belum terdata, karena tim masih fokus melaksanakan evakuasi dan pertolongan, serta belum mendata berapa rumah yang rusak,” ungkapnya.

    Data sementara terdapat 22 titik lokasi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Enrekang yang tersebar di Kabupaten Enrekang sejak Kamis 2 Mei 2024.

    Untuk ketinggian banjir di 22 titik tersebut bervariasi antara 40 hingga 150 sentimeter. Selebihnya tanah longsor yang menutupi akses jalan Trans Sulawesi dan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.

    “Data sampai saat ini masih dihimpun di posko siaga bencana, begitu pula kerugian materiil dari bencana tanah longsor dan banjir masih dalam pendataan,” jelas Amson.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Sejarah Biogeografis Membuat Pulau Sulawesi Kaya Akan Satwa Endemik Unik

    Sejarah Biogeografis Membuat Pulau Sulawesi Kaya Akan Satwa Endemik Unik

    7cloud.asia – Kepala Pusat Riset Biosistematika Evolusi BRIN, Arif Nurkanto, menjelaskan bahwa Sulawesi memiliki sejarah geologi yang unik.

    Pulau Sulawesi terbentuk dari pertemuan tiga lempeng besar, yakni Asia, Indo-Australia, dan Pasifik, yang menyebabkan tingginya tingkat endemisitas.

    “Secara biogeografi, Sulawesi tidak pernah terhubung sepenuhnya dengan Australia atau Asia, sehingga menghasilkan spesies unik,” ungkapnya dalam diskusi SOS#66 bertajuk Sulawesi Flying Frogs: Identity Challenges and Diversity, secara daring, Kamis (5/6/2025) seperti dilansir di brin.go.id.

    Penemuan terbaru menunjukkan bahwa Sulawesi memiliki angka nomor dua tertinggi dalam penemuan spesies baru di Indonesia, menandakan tingginya keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

    “Meskipun penelitian mengenai katak terbang Rhacophorus telah mengungkap beberapa spesies baru dan garis keturunan yang berbeda, masih banyak keanekaragaman amfibi lainnya yang belum teridentifikasi sepenuhnya,” ujar Arif.

    Sulawesi, dengan ekosistemnya yang unik dan kondisi geologisnya yang kompleks, berpotensi menjadi rumah bagi lebih banyak spesies amfibi endemik yang belum terdokumentasikan.

    Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami pola evolusi, adaptasi, serta interaksi ekologi amfibi di wilayah Pulau Sulawesi

    “Temuan terbaru hanya menjadi awal dari eksplorasi panjang yang akan membuka lebih banyak wawasan tentang kehidupan herpetofauna di Sulawesi dan Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Arif.

    Baca: Spesies baru kadal buta dari Pulau Buton

    Dilansir di laman Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam, Sulawesi adalah salah satu dari 36 wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

    Keanekaragaman hayati di Sulawesi sangat tinggi, dengan sebagian besar mamalia, burung, dan amfibi di Sulawesi adalah spesies endemik.

    Sulawesi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam dan keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Berikut sejumlah satwa endemik Pulau Sulawesi yang kami rangkum dari berbagai sumber:

    1. Anoa: Kerbau kerdil Sulawesi yang hidup di dataran tinggi dan dataran rendah.

    2. Babirusa: Mamalia yang menyerupai babi hutan dengan tanduk di wajahnya.

    3. Burung Maleo: Burung unik yang bertelur di sempadan sungai dan menggunakan panas bumi untuk menetas.

    4. Monyet Hitam Sulawesi (Yaki): Monyet dengan warna hitam legam dan sering dijumpai di hutan-hutan Sulawesi.

    Baca: Peneliti BRIN temukan spesies anggrek baru endemik Sulawesi

    5. Kuskus Beruang: Kuskus terbesar di Indonesia dengan tubuh yang berbulu lebat dan memiliki pola warna seperti beruang.

    6. Tarsius: Primata terkecil di dunia dengan mata yang besar dan kemampuan mendengar yang sangat tajam.

    7. Burung Srigunting Jambul Rambut: Burung dengan jambul seperti rambut di mahkotanya dan iris mata berwarna putih di Sulawesi.

    8. Musang Sulawesi: Musang yang hanya bisa ditemukan di Sulawesi dan memiliki peran penting dalam ekosistem.

    9. Kuskus Kerdil: Kuskus yang memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan kuskus beruang.

    Namun keanekaragaman hayati di Sulawesi ini terancam kelestariannya karena deforestasi, perburuan liar, dan perusakan habitat menjadi ancaman utama bagi satwa Sulawesi.

    Karena itu upaya konservasi dan perlindungan satwa endemik Sulawesi sangat diperlukan untuk menjaga kelestariannya.

    Baca: Penambangan nikel berdampak buruk pada lingkungan di Sulawesi

     

  • Setelah Menghilang Selama Lebih Satu Abad, Katak Terbang Sulawesi Terpantau Kembali

    Setelah Menghilang Selama Lebih Satu Abad, Katak Terbang Sulawesi Terpantau Kembali

    7cloud.asia – Katak terbang (Rhacophorus pardalis) dari Sulawesi yang telah menghilang selama lebih dari satu abad akhirnya terpantau kembali.

    Adalah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alamsyah Elang N.H., yang menemukan kembali katak terbang dari Sulawesi pada Agustus 2023 lalu.

    Dilansir brin.go.id, Alamsyah, dkk. kemudian menaikkan status katak terbang asal Pulau Sangihe, Sulawesi Utara tersebut menjadi jenis baru, dan diberi nama Rhacophorus rhyssocephalus.

    Katak ini sebelumnya diketahui sebagai sub-spesies Rhacophorus pardalis yang tersebar luas dari Sumatra hingga Kalimantan.

    Katak ini disebut “terbang” karena memiliki selaput penuh di jari tangan dan kaki yang membantunya melayang saat melompat. Istilah “flying frog” sendiri pertama kali diperkenalkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago.

    Dalam diskusi SOS#66 bertajuk Sulawesi Flying Frogs: Identity Challenges and Diversity, secara daring, Kamis (5/6/2025), Alamsyah menjelaskan bahwa genus Rhacophorus merupakan bagian dari famili Rhacophoridae, dengan tipe spesies Rhacophorus reinwardtii yang ditemukan di Jawa Barat.

    Dikutip dari wikipedia, Rhacophorus adalah nama genus katak terbang dari famili Rhacophoridae, yang bersama kerabat dekatnya dari suku Hylidae menyusun kelompok katak pohon sejati.

    Anggota marga ini yang diakui saat ini berjumlah sekitar 42 spesies yang menyebar luas di Afrika, Madagaskar, India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia), hingga ke Jepang.

    Baca: Para pejuang di garis depan konservasi

    Katak-katak ini memiliki jari-jari kaki yang panjang, dengan selaput antar jari yang kuat, yang memungkinkan hewan-hewan ini melayang ketika mengembangkan kaki dan jari-jarinya sesaat setelah melompat, dan menahan kejatuhannya ke tanah.

    Kemampuan melayang semacam ini dikenal sebagai ‘lompatan parasut’ (parachuting, red), suatu bentuk lokomosi arboreal (pergerakan di wilayah berpohon-pohon) seperti yang juga dipunyai cecak terbang, ular terbang, serta kubung malaya.

    Hal ini yang menyebabkan katak-katak ini dikenal sebagai katak terbang. Salah satu ciri khas Rhacophorus adalah adanya tulang penghubung antara ruas jari pertama dan kedua.

    Secara historis, genus Rhacophorus memiliki persebaran yang luas, ditemukan mulai dari India, Cina, Jepang, Malaysia, Indonesia, hingga Filipina.

    “Di Indonesia, wilayah paling timur yang diketahui menjadi habitatnya adalah Pulau Sulawesi,” terang Alamsyah.

    Lebih jauh, dirinya merinci bahwa saat ini terdapat lima spesies Rhacophorus yang telah teridentifikasi di Sulawesi, yakni:
    1. Rhacophorus edentulus (Müller, 1894),
    2. Rhacophorus monticola (Boulenger, 1896), Rhacophorus georgii (Roux, 1904), Rhacophorus rhyssocepholus (Wolf, 1936, dalam Herlambang dkk. 2025), dan
    3. Rhacophorus boedii (Hamidy, Riyanto, Munir, Gonggoli, Trislaksono, dan McGuire, 2025).

    Alamsyah menuturkan bahwa hasil ekspedisi selama 20 tahun di Sulawesi menunjukkan adanya beberapa garis keturunan yang berbeda dalam kelompok Rhacophorus. Seluruhnya merupakan endemik di Pulau Sulawesi.

    Baca: Pemerintah didesak segera mengubah paradigma konservasi 

    Kelompok katak terbang ini diklasifikasikan ke dalam empat grup berdasarkan karakteristik fisik.

    Pertama, Grup Batik Cokelat, memiliki corak menyerupai batik dengan moncong yang meruncing.

    Kedua, Grup Web Hitam, memiliki selaput berwarna hitam di kakinya.

    Ketiga, Grup Hijau, berwarna hijau muda dan berukuran lebih kecil. Dan keempat, Grup Pipi Putih, memiliki bercak putih di sebagian pipinya.

    Kepala Pusat Riset Biosistematika Evolusi BRIN, Arif Nurkanto, menjelaskan bahwa Sulawesi memiliki sejarah geologi yang unik, yakni terbentuk dari pertemuan tiga lempeng besar, yakni Asia, Indo-Australia, dan Pasifik, yang menyebabkan tingginya tingkat endemisitas.

    “Meskipun penelitian mengenai katak terbang Rhacophorus telah mengungkap beberapa spesies baru dan garis keturunan yang berbeda, masih banyak keanekaragaman amfibi lainnya yang belum teridentifikasi sepenuhnya,” ujar Arif.

    Sulawesi, dengan ekosistemnya yang unik dan kondisi geologisnya yang kompleks, berpotensi menjadi rumah bagi lebih banyak spesies amfibi endemik yang belum terdokumentasikan.

    Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami pola evolusi, adaptasi, serta interaksi ekologi amfibi di wilayah Pulau Sulawesi

    “Temuan terbaru hanya menjadi awal dari eksplorasi panjang yang akan membuka lebih banyak wawasan tentang kehidupan herpetofauna di Sulawesi dan Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Arif.

    Baca: Mengapa Pulau Sulawesi kaya akan satwa endemik unik

  • BRIN Temukan Spesies Baru Katak Pohon Endemik Sulawesi

    BRIN Temukan Spesies Baru Katak Pohon Endemik Sulawesi

    7cloud.asia – Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasi satu spesies baru katak pohon dari genus Rhacophorus yang ditemukan di dua lokasi berbeda di Pulau Sulawesi, yakni Gunung Katopasa dan Gunung Gandang Dewata.

    Penemuan spesies baru yang diberi nama Rhacophorus boeadii ini memperkaya daftar fauna endemik Sulawesi khususnya amfibi, serta mempertegas pentingnya konservasi keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea.

    Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Zootaxa (5569 (2): 201–230), dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

    Nama Rhacophorus boeadii diberikan sebagai penghormatan kepada mendiang Boeadi, seorang naturalis dan ilmuwan dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang telah berkontribusi terhadap dunia ilmu zoologi dan konservasi satwa herpetofauna di Indonesia.

    Baca: Mengapa Pulau Sulawesi kaya akan satwa endemik unik

    Baca: Katak terbang Sulawesi yang lama menghilang

    Peneliti Herpetologi BRIN, Amir Hamidy, menjelaskan bahwa Rhacophorus boeadii sp.nov. memiliki karakter morfologis yang membedakannya dari tiga spesies Rhacophorus Sulawesi lainnya, yakni R. edentulus, R. georgii, dan R. monticola.

    “Katak ini berukuran sedang, dengan panjang tubuh jantan sekitar 40-45 milimeter dan betina 48-54 milimeter. Ciri khas lainnya termasuk moncong jantan yang miring, kulit punggung kasar dengan bintik putih, serta pola bercak putih di sisi tubuh,” ujar Amir.

    Menurutnya, penemuan spesies baru ini merupakan hasil survei intensif yang dilakukan pada 2016 hingga 2019 di kawasan Gunung Katopasa (Sulawesi Tengah) dan Gunung Gandang Dewata (Sulawesi Barat).

    Analisis morfologi, genetika, serta suara panggilan jantan Rhacophorus boeadii mendukung bahwa spesimen ini adalah spesies baru yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

    Baca: Sejumlah spesies baru ditemukan di hutan Indonesia

    Baca: Pembangunan mengancam laboratorium evolusi Wallacea

    Peneliti BRIN mengaku sangat antusias dengan penemuan spesies baru ini, karena semakin membuka wawasan terhadap kekayaan biodiversitas Sulawesi yang unik.

    “Namun, kami juga khawatir karena habitatnya yang terspesifikasi pada hutan dataran tinggi sangat rentan terhadap ancaman kerusakan habitat dan perubahan iklim,” ungkap Amir.

    Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, Pulau Sulawesi dikenal sebagai hotspot keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme tinggi, terutama untuk kelompok amfibi.

    Sayangnya, tekanan terhadap habitat alaminya terus meningkat dan menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan spesies endemik Pulau Sulawesi ini.

    Baca: Pemerintah diminta mengubah paradigma konservasi

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tikus Hutan Endemik Sulawesi

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tikus Hutan Endemik Sulawesi

    7cloud.asia – Tim peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama mitra riset dari Amerika Serikat, Australia, Prancis, dan Malaysia melaporkan penemuan spesies baru, yaitu tikus hutan endemik Sulawesi, Crunomys tompotika.

    Penelitian ini merupakan bagian dari kajian sistematika dan biogeografi mamalia Asia Tenggara yang menyoroti keragaman tikus hutan. Hasil studi menunjukkan bahwa Sulawesi, dengan sejarah geologinya yang unik, kembali menghadirkan temuan penting bagi keanekaragaman hayati dunia.

    Peneliti PRBE BRIN, Anang Setiawan Achmadi menjelaskan, Crunomys tompotika dideskripsikan dari spesimen yang dikoleksi di kawasan Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah.

    Spesies baru ini memiliki ukuran tubuh sedang, ekor relatif pendek dibandingkan panjang tubuh, serta bulu rapat dengan tekstur khas kelompok Crunomys. Habitatnya berupa hutan pegunungan alami dengan vegetasi lebat yang relatif masih terjaga.

    “Penemuan ini menambah daftar panjang mamalia endemik Sulawesi yang terus bertambah seiring eksplorasi lapangan yang lebih intensif,” kata Anang.

    Baca: Sejarah Biogeografis Membuat Pulau Sulawesi Kaya Akan Satwa Endemik Unik

    Selain mendeskripsikan spesies baru, jelas Anang, penelitian ini merevisi taksonomi besar dengan menyatukan seluruh anggota Maxomys (tikus berduri/spiny rats) ke dalam genus Crunomys.

    “Analisis ribuan penanda DNA, termasuk data genomik resolusi tinggi, menunjukkan bahwa Maxomys tidak membentuk kelompok yang utuh (non-monofiletik) jika dipisahkan dari Crunomys. Oleh karena itu, revisi ini dianggap paling tepat untuk mencerminkan hubungan evolusi sebenarnya,” jelas Anang.

    Anang menegaskan pentingnya penelitian keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Penemuan Crunomys tompotika menunjukkan pentingnya eksplorasi lapangan dan kolaborasi internasional dalam mengungkap keragaman mamalia di Sulawesi.

    ”Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak kekayaan hayati Indonesia yang menunggu untuk dipelajari lebih dalam,” katanya.

    Sejak 2012, lebih dari 20 spesies baru mamalia berhasil dideskripsikan dari Sulawesi, menunjukkan betapa kayanya fauna endemik yang terus diungkap melalui penelitian.

    Baca: Nilai Strategis Ekosistem Kawasan Wallacea untuk Keanekaragaman Hayati Dunia

    Dengan adanya tambahan spesies baru, para ahli menegaskan pentingnya upaya eksplorasi biodiversitas di kawasan Wallacea, yang hingga kini masih kurang terwakili dalam studi biologi dibandingkan kawasan lain di Indonesia.

    “Penemuan spesies baru Crunomys dari Sulawesi ini membuka jendela baru terhadap sejarah evolusi hewan kecil di wilayah Wallacea, serta menegaskan pentingnya klasifikasi ulang pada tingkat genus untuk memahami keanekaragaman mamalia Indonesia secara lebih akurat,” ujar Anang.

    Kolaborasi lintas negara, sambung dia, memungkinkan pemanfaatan teknologi genomik terkini serta memperluas cakupan data biogeografi, sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif mengenai sejarah evolusi mamalia di Asia Tenggara.

    Penemuan Crunomys tompotika sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut, baik terkait ekologi maupun interaksinya dalam ekosistem hutan Sulawesi.

    “Data ini diharapkan menjadi pijakan penting memperkuat kebijakan konservasi dan memacu riset lanjutan dalam mendokumentasikan kekayaan hayati Indonesia,” pungkas Anang.

    Hasil penelitian lengkap telah diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Internasional, Journal of Mammalogy, Volume 106(4): 832–858, pada 13 Juni 2025, dengan judul Systematics and historical biogeography of Crunomys and Maxomys (Muridae: Murinae), with the description of a new species from Sulawesi and new genus-level classification.

    Baca: BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

  • Burung Indonesia: Sulawesi Miliki Spesies Burung Endemik Terbanyak

    Burung Indonesia: Sulawesi Miliki Spesies Burung Endemik Terbanyak

    7cloud.asia – Wilayah Sulawesi yang secara biogeografi tidak pernah terhubung sepenuhnya dengan Australia atau Asia, memiliki banak spesies endemik dan unik. Pun demikian dengan spesies burung endemik yang dimiliki wilayah ini.

    Organisasi Burung Indonesia mencatat, Sulawesi sebagai daerah dengan jumlah spesies burung endemik tertinggi di Indonesia, mencapai 159 jenis hingga Januari 2026.

    “Burung di Indonesia 2026, melansir perkembangan terbaru keanekaragaman burung nasional, dengan Sulawesi tercatat memiliki spesies endemik terbanyak yakni 159 jenis,” kata Communication Officer Burung Indonesia Meliza Laveda dikutip Antaranews.com, Jumat (3/4/2026)

    Dalam laporan Burung Indonesia disebutkan, secara keseluruhan Indonesia memiliki 1.834 spesies burung, dengan 538 di antaranya merupakan spesies endemik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu.

    Setelah Sulawesi, wilayah dengan jumlah burung endemik terbanyak berikutnya adalah Maluku yang memiliki 117 spesies burung endemik, serta Jawa dan Bali yang masing-masing mencatat 80 spesies.

    Baca: Sejarah biogeografis membuat Pulau Sulawesi kaya satwa endemik

    Sementara itu, Papua memiliki 75 spesies burung endemik, diikuti Nusa Tenggara sebanyak 62 spesies, Sumatra 54 spesies, dan Kalimantan enam spesies burung endemik

    Selain mencerminkan kekayaan hayati, laporan Burung Indonesia juga menunjukkan adanya tekanan terhadap populasi burung di Indonesia secara global.

    Sebanyak 159 spesies burung Indonesia tercatat berstatus terancam punah, terdiri atas 29 spesies kritis, 49 spesies genting, dan 81 spesies rentan.

    Perubahan status pada sejumlah spesies dipengaruhi oleh pembaruan data ilmiah yang memberikan gambaran lebih akurat terkait kondisi populasi di alam.

    Burung Indonesia menekankan pentingnya upaya konservasi berkelanjutan, terutama untuk mengatasi ancaman hilangnya habitat dan perburuan yang masih menjadi tekanan utama terhadap keberlangsungan burung endemik di Indonesia.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan