7cloud.asia – Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasi satu spesies baru katak pohon dari genus Rhacophorus yang ditemukan di dua lokasi berbeda di Pulau Sulawesi, yakni Gunung Katopasa dan Gunung Gandang Dewata.
Penemuan spesies baru yang diberi nama Rhacophorus boeadii ini memperkaya daftar fauna endemik Sulawesi khususnya amfibi, serta mempertegas pentingnya konservasi keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Zootaxa (5569 (2): 201–230), dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.
Nama Rhacophorus boeadii diberikan sebagai penghormatan kepada mendiang Boeadi, seorang naturalis dan ilmuwan dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang telah berkontribusi terhadap dunia ilmu zoologi dan konservasi satwa herpetofauna di Indonesia.
Baca: Mengapa Pulau Sulawesi kaya akan satwa endemik unik
Baca: Katak terbang Sulawesi yang lama menghilang
Peneliti Herpetologi BRIN, Amir Hamidy, menjelaskan bahwa Rhacophorus boeadii sp.nov. memiliki karakter morfologis yang membedakannya dari tiga spesies Rhacophorus Sulawesi lainnya, yakni R. edentulus, R. georgii, dan R. monticola.
“Katak ini berukuran sedang, dengan panjang tubuh jantan sekitar 40-45 milimeter dan betina 48-54 milimeter. Ciri khas lainnya termasuk moncong jantan yang miring, kulit punggung kasar dengan bintik putih, serta pola bercak putih di sisi tubuh,” ujar Amir.
Menurutnya, penemuan spesies baru ini merupakan hasil survei intensif yang dilakukan pada 2016 hingga 2019 di kawasan Gunung Katopasa (Sulawesi Tengah) dan Gunung Gandang Dewata (Sulawesi Barat).
Analisis morfologi, genetika, serta suara panggilan jantan Rhacophorus boeadii mendukung bahwa spesimen ini adalah spesies baru yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Baca: Sejumlah spesies baru ditemukan di hutan Indonesia
Baca: Pembangunan mengancam laboratorium evolusi Wallacea
Peneliti BRIN mengaku sangat antusias dengan penemuan spesies baru ini, karena semakin membuka wawasan terhadap kekayaan biodiversitas Sulawesi yang unik.
“Namun, kami juga khawatir karena habitatnya yang terspesifikasi pada hutan dataran tinggi sangat rentan terhadap ancaman kerusakan habitat dan perubahan iklim,” ungkap Amir.
Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, Pulau Sulawesi dikenal sebagai hotspot keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme tinggi, terutama untuk kelompok amfibi.
Sayangnya, tekanan terhadap habitat alaminya terus meningkat dan menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan spesies endemik Pulau Sulawesi ini.

Leave a Reply