Tag: sumbawa

  • Nasib Warga Adat Rebu Payung Sumbawa: Sudah Tanahnya Tergerus Perkebunan Besar Terjerat Hukum Pula

    Nasib Warga Adat Rebu Payung Sumbawa: Sudah Tanahnya Tergerus Perkebunan Besar Terjerat Hukum Pula

    7cloud.asia – Pada 22 Maret 2024, Pengadilan Negeri Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat memvonis tujuh warga adat Rebu Payung di Sumbawa dengan hukuman 3 bulan penjara karena dituduh telah menyerobot tanah.

    Tujuh warga adat Rebu Payung itu adalah Gani, Samad, Syarafuddin, Ances, Rosdin, Amaq Mar, dan Sapo.

    Tujuh warga adat Rebu Payung ini terjerat hukum gara-gara laporan perusahaan perkebunan sisal, PT. Sumbawa Bangkit Sejahtera (SBS) dengan tuduhan telah menyerobot lahan.

    Sidang Perkara ini dipimpin oleh Hakim Fransiskus Xaverius Lae dan Panitera pengganti Yoshua Ishak Maspaitella.

    Febriyan Anindita, kuasa hukum warga adat Rebu Payung mengatakan, ini bukan kasus pertama warga adat dijerat hukum atas tanahnya sendiri. Ia menegaskan bahwa konflik agraria di Sumbawa butuh perhatian khusus dari Pemerintah.

    Baca: BRWA mendesak pengesahan RUU Masyarakat adat untuk cegah peminggiran dan kriminalisasi

    Ia sangat menyayangkan nasib para petani yang sedang bertahan memenuhi kebutuhan hidupnya ini harus berjuang juga untuk selamat dari jeratan hukum.

    “Lantas di mana keberpihakan negara terhadap masyarakatnya, kalau ruang-ruang hidup mereka terus dirampas,“ ujar Febrian seperti dikutip di laman resmi AMAN Indonesia.

    Advokat yang tergabung dalam Perhimpunan pembela Masyarakat Adat Nusantara (PPMAN) Region Bali Nusa Tenggara ini, juga mengatakan dengan tegas bahwa tidak menginginkan lagi adanya kasus yang sama terjadi di Kabupaten Sumbawa.

    Perkara ini terjadi karena adanya konflik agraria struktural. Bukan persoalan penyerobotan, atau penggarapan lahan tanpa izin pemilik.

    Tanah yang dikantongi HGU-nya oleh perusahaan itu tanah ulayat, tanah yang sudah digarap jauh sebelum perusahaan masuk ke wilayah tersebut.

    Baca: Komnas Perempuan desak RUU Masyarakat Adat segera disahkan

    Febriyan mengatakan, konflik seperti ini seharusnya bisa diselesaikan oleh pemerintah Kabupaten dengan melakukan mediasi tanpa harus mengorbankan masyarakat yang sudah lama tinggal di sekitar wilayah itu.

    Namun, Pemerintah seolah-olah tutup mata, membiarkan masalah ini bergulir begitu saja. Padahal pemerintah memiliki instrumen lengkap untuk memberikan ruang keadilan bagi masayarakat setempat.

    “ Kalau bukan kepada pemerintah kemana lagi masyarakat kecil harus berlindung. Saya berharap agar pemerintah lebih mengedepankan kepetingan masyarakat ketimbang kepetingan perusahaan atau investor,“ ujar Pengacara yang sekaligus Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Sumbawa.

    Sudah jatuh tertimpa tangga. Pepatah ini mungkin sedikit menggambarkan kondisi Masyarakat Adat Rebu Payung di Kabupaten Sumbawa ini.

    Sudahlah ruang hidup mereka tergerus HGU perkebunan sisal malah terjerat hukum atas laporan perusahaan yang menuding mereka melakukan penyerobotan lahan.

    Baca: Komnas HAM sebut banyak persoalan terkait masyarakat adat di IKN

  • DPR Sayangkan Bulog yang Gelontorkan Beras Impor ke Sumbawa Saat Petani Panen Raya

    DPR Sayangkan Bulog yang Gelontorkan Beras Impor ke Sumbawa Saat Petani Panen Raya

    7cloud.asia – Sebanyak 1000 ton beras impor asal Vietnam akan masuk ke Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melalui proses bongkar muat di Pelabuhan Lembar. Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Masuknya beras impor ke Sumbawa ini mendapat sorotan dari Anggota DPR dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) I Johan Rosihan yang mengaku prihatin dan khawatir.

    Berdasarkan informasi yang diterima Johan dari Bulog, pasokan beras impor tersebut akan masuk Sumbawa dalam waktu dekat. Menurutnya, tindakan impor ini akan berdampak serius merugikan petani mengingat saat ini sedang panen raya.

    Johan mengingatkan Bulog agar jangan sembarangan melakukan pasokan beras impor ke wilayah sentra produksi beras nasional.

    Menurutnya, harus ada pertimbangan yang matang untuk menjaga keberpihakan kepada petani yang tengah menghadapi musim panen raya.

    Baca: DPR pertanyakan basis data impor beras 2024

    Rencana pasokan beras impor ini membuat para petani yang sedang panen dilanda kekhawatiran jatuhnya harga gabah akibat pasokan beras impor ini.

    “Masuknya beras impor ke Pulau Sumbawa bakal mencekik petani. Hal ini akan mengganggu beban mental petani yang sedang berusaha meningkatkan produksi beras,” ujar Johan dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Minggu (7/4/2024).

    Anggota Komisi IV DPR ini menegaskan Pemerintah harus sadar bahwa pasokan beras impor ini akan mempengaruhi harga di tingkat petani.

    Untuk itu Politisi Fraksi PKS ini meminta pemerintah harus bertanggung jawab untuk menjamin agar harga gabah di tingkat petani tidak jatuh.

    “Pemerintah harus bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang dialami petani akibat dari pasokan beras impor ini,” ucap Johan.

    Baca: Ini alasan pemerintah terus mengimpor beras 

    Selain itu, lanjut Johan, pemerintah harus menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) saat pasokan beras impor tersebut masuk ke Pulau Sumbawa agar harga jual petani tidak jatuh.

    Sehingga, para petani diharapkan dapat menikmati keuntungan pada saat panen raya ini.

    “Pemerintah harus pastikan bahwa petani tidak boleh mengalami kerugian akibat pasokan beras impor ini. Kita harus memberi dukungan bagi semua petani untuk meningkatkan produksi beras di kawasan sentra beras seperti di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat ini,” imbuh Johan.

    Di sisi lain, Johan meminta Bulog agar tidak berdalih pasokan beras impor tersebut untuk kebutuhan bantuan pangan.

    Sebab, menurutnya, bantuan pangan untuk masyarakat haruslah diprioritaskan bersumber dari hasil keringat petani di Sumbawa dan KSB.

    Baca:  Ada kebijakan yang keliru di balik lonjakan harga beras

    Dengan demikian daerah sentra beras mampu berfungsi sebagai sumber utama pasokan beras di wilayah tersebut.

    Dengan cara ini, lanjutnya, sekaligus akan membantu petani memasarkan hasil panennya.

    Menurut data yang dimiliki Johan, di Kabupaten Sumbawa sejak Bulan Januari 2024 sudah terealisasi 730 Hektar dan puncak panen raya April ini diprediksikan mencapai 15.450 hektare.

    ”Apakah daerah surplus beras ini harus dirasuki lagi oleh pasokan beras impor, sungguh di luar nalar,” tutupnya.

  • Alih Fungsi Hutan Menjadi Kebun Jagung Picu Banjir di Sumbawa

    Alih Fungsi Hutan Menjadi Kebun Jagung Picu Banjir di Sumbawa

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan kerusakan hutan di Pulau Sumbawa mempercepat erosi lahan dan menyebabkan berbagai bencana alam.

    “Itu juga yang memicu kerusakan infrastruktur termasuk properti masyarakat dan sawah-sawah,” kata Kepala BPBD NTB Ahmadi dalam pernyataan di Mataram, Jumat (4/4/2025).

    Ahmadi mengatakan vegetasi hutan yang berada di kawasan dengan topografi terjal di Pulau Sumbawa saat ini sudah habis akibat aktivitas berladang jagung yang sangat masif yang membentang dari lahan datar tepi laut hingga puncak perbukitan karst.

    Di Kabupaten Dompu misalnya, luas ladang jagung awalnya hanya 6.412 hektare dengan angka produksi 31 ribu ton pada tahun 2010, bertambah signifikan mendekati angka 100 ribu hektare pada tahun 2017. Bahkan, ladang jagung meluas hingga ke daerah lain di Pulau Sumbawa.

    Ketika musim hujan turun, pohon jagung yang berakar serabut tidak mampu menahan dan menyimpan kelimpahan air hujan. Kondisi itulah yang membuat bukit rentan longsor dan sungai-sungai meluap merendam banyak pemukiman penduduk.

    Data Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat melalui dokumen pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Sumbawa yang terbit pada tahun 2016 menyebutkan Pulau Sumbawa memiliki 1,54 juta hektare lahan daerah aliran sungai (DAS).

    Baca: Jabodetabek butuh penyangga, hutan jangan digadai untuk tempat wisata

    Dari total 1,54 juta hektare lahan daerah aliran sungai terdapat lima tingkat kekritisan lahan, yakni sangat kritis, kritis agak kritis, potensial kritis, dan tidak kritis.

    DAS Sumbawa yang sangat kritis sebanyak 16.279 hektare, DAS kritis 48.555 hektare, DAS agak kritis 308.402 hektare, DAS potensial kritis 943.233 hektare, dan DAS tidak kritis mencapai 224.978 hektare.

    “Penanganan kerusakan lahan dengan memberikan alternatif solusi pendekatan ekonomi…, sehingga harus ada komoditi yang setara dengan nilai ekonomi jagung,” ucap Ahmadi.

    Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa komoditi kompetitor jagung adalah pohon sengon. Tumbuhan bernama latin Albizia chinensis itu dapat melindungi lereng dan memperbaiki kondisi tanah dengan mengikat nitrogen.

    Sengon dapat dipanen saat berusia empat tahun dan bisa ditanam tumpang sari dengan jagung. Lahan seluas satu hektare dapat ditanami hingga 400 pohon sengon.

    “Satu batang sengon yang besar nilainya Rp1 juta. Satu hektare bisa tanam 400 pohon sengon yang artinya saat panen bisa Rp400 juta,” kata Ahmadi.

    Baca: Alih fungsi hutan picu banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah

     

    “Kita tidak bisa terlalu melarang orang, kalau sudah ekonomi orang menjadi militansi. Hal terpenting kita memberikan alternatif solusi,” pungkasnya.

    Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, pada Desember 2024 sampai Februari 2025 saat musim hujan, berbagai wilayah di Pulau Sumbawa mengalami bencana alam berupa longsor dan banjir bandang.

    Berbagai bencana itu mengakibatkan rusaknya jembatan, jalan, sekolah, sawah, dan rumah-rumah penduduk.

    Sejak 2012 sampai sekarang, berbagai bencana hidrometeorologi terus terjadi di Pulau Sumbawa sepanjang tahun terutama saat musim hujan.

    Hutan yang rusak tidak hanya menimbulkan banjir dan longsor, tetapi juga menyebabkan kekeringan ekstrem saat musim kemarau akibat tidak ada tutupan vegetasi yang dapat menampung air dalam waktu lama.