7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan kerusakan hutan di Pulau Sumbawa mempercepat erosi lahan dan menyebabkan berbagai bencana alam.
“Itu juga yang memicu kerusakan infrastruktur termasuk properti masyarakat dan sawah-sawah,” kata Kepala BPBD NTB Ahmadi dalam pernyataan di Mataram, Jumat (4/4/2025).
Ahmadi mengatakan vegetasi hutan yang berada di kawasan dengan topografi terjal di Pulau Sumbawa saat ini sudah habis akibat aktivitas berladang jagung yang sangat masif yang membentang dari lahan datar tepi laut hingga puncak perbukitan karst.
Di Kabupaten Dompu misalnya, luas ladang jagung awalnya hanya 6.412 hektare dengan angka produksi 31 ribu ton pada tahun 2010, bertambah signifikan mendekati angka 100 ribu hektare pada tahun 2017. Bahkan, ladang jagung meluas hingga ke daerah lain di Pulau Sumbawa.
Ketika musim hujan turun, pohon jagung yang berakar serabut tidak mampu menahan dan menyimpan kelimpahan air hujan. Kondisi itulah yang membuat bukit rentan longsor dan sungai-sungai meluap merendam banyak pemukiman penduduk.
Data Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat melalui dokumen pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Sumbawa yang terbit pada tahun 2016 menyebutkan Pulau Sumbawa memiliki 1,54 juta hektare lahan daerah aliran sungai (DAS).
Baca: Jabodetabek butuh penyangga, hutan jangan digadai untuk tempat wisata
Dari total 1,54 juta hektare lahan daerah aliran sungai terdapat lima tingkat kekritisan lahan, yakni sangat kritis, kritis agak kritis, potensial kritis, dan tidak kritis.
DAS Sumbawa yang sangat kritis sebanyak 16.279 hektare, DAS kritis 48.555 hektare, DAS agak kritis 308.402 hektare, DAS potensial kritis 943.233 hektare, dan DAS tidak kritis mencapai 224.978 hektare.
“Penanganan kerusakan lahan dengan memberikan alternatif solusi pendekatan ekonomi…, sehingga harus ada komoditi yang setara dengan nilai ekonomi jagung,” ucap Ahmadi.
Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa komoditi kompetitor jagung adalah pohon sengon. Tumbuhan bernama latin Albizia chinensis itu dapat melindungi lereng dan memperbaiki kondisi tanah dengan mengikat nitrogen.
Sengon dapat dipanen saat berusia empat tahun dan bisa ditanam tumpang sari dengan jagung. Lahan seluas satu hektare dapat ditanami hingga 400 pohon sengon.
“Satu batang sengon yang besar nilainya Rp1 juta. Satu hektare bisa tanam 400 pohon sengon yang artinya saat panen bisa Rp400 juta,” kata Ahmadi.
Baca: Alih fungsi hutan picu banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah
“Kita tidak bisa terlalu melarang orang, kalau sudah ekonomi orang menjadi militansi. Hal terpenting kita memberikan alternatif solusi,” pungkasnya.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, pada Desember 2024 sampai Februari 2025 saat musim hujan, berbagai wilayah di Pulau Sumbawa mengalami bencana alam berupa longsor dan banjir bandang.
Berbagai bencana itu mengakibatkan rusaknya jembatan, jalan, sekolah, sawah, dan rumah-rumah penduduk.
Sejak 2012 sampai sekarang, berbagai bencana hidrometeorologi terus terjadi di Pulau Sumbawa sepanjang tahun terutama saat musim hujan.
Hutan yang rusak tidak hanya menimbulkan banjir dan longsor, tetapi juga menyebabkan kekeringan ekstrem saat musim kemarau akibat tidak ada tutupan vegetasi yang dapat menampung air dalam waktu lama.

Leave a Reply