Tag: Sumbu Filosofi

  • Kawasan Malioboro Ditataulang Sesuai Maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Kawasan Malioboro Ditataulang Sesuai Maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    7cloud.asia – Wajah Jalan Malioboro yang berada di pusat kota Yogyakarta berubah drastis dalam beberapa tahun ini.

    Perubahan wajah Malioboro ini akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Landasan penataan Malioboro yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini adalah keberadaan Sumbu Filosofi, garis imajiner dari utara ke selatan dengan Kraton Jogja sebagai titik pusatnya.

    Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya menata kawasan Malioboro sebagai penghubung Panggung Krapyak-Kraton-Tugu Pal Putih agar tetap sesuai dengan makna dan nilai yang terkandung dalam Sumbu Filosofi.

    Pemkot Yogyakarta membersihkan jalur pedestrian dari pedagang kaki lima (PKL), menata jalan sirip di Malioboro, memberlakukan skema semipedestrian dan lalu lintas giratori searah hingga berencana pembangunan Jogja Planning Gallery (JPG).

    Dilansir harianjogja.com, pedagang yang semula menempati trotoar diboyong ke lokasi baru yang dinamai Teras Malioboro.

    Revitalisasi yang dilakukan bertahap itu demi mengembalikan fungsi dan simbol Malioboro ke bentuk semula. Pun demikian dengan pengajuan Sumbu Filosofi jadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. 

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Peneliti dari Pustral Universitas Gadjah Mada, Juhri Iwan Agriawan ST., M.Sc  mengatakan Kawasan Malioboro sudah memenuhi syarat ideal sebagai pusat kota Yogyakarta.

    Idealnya, ujarnya, pusat kota adalah kawasan paling nyaman, ikonik, mudah diakses, aman dan dalam konteks pariwisata merupakan kawasan paling dituju oleh wisatawan.

    “Malioboro setidaknya sudah memiliki beberapa syarat itu misalnya kawasan paling ikonik, mudah diakses (terutama oleh kereta jarak jauh maupun kereta lokal/komuter) dan sekaligus kawasan tujuan utama wisatawan,” ujar Iwan kepada 7cloud.asia dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.

    Baca: Upaya menjadikan Malioboro sebagai zona rendah emisi

     

    Dimintai tanggapannya soal upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro menjadi kawasan rendah emisi, Iwan menyambut positif rencana tersebut. 

    Langkah ini, ujarnya, adalah salah satu cara yang baik untuk meningkatkan kenyamanan kawasan Malioboro yang nantinya pasti akan meningkatkan kunjungan orang ke kawasan tersebut.

    Iwan menyebut, saat ini sudah dilakukan beberapa kebijakan untuk mengurangi emisi di Malioboro. Salah satunya menjadikan Malioboro sebagai kawasan bebas rokok.

    Baca: Sejak 2017 Malioboro ditetapkan sebagai kawasan bebas rokok

    Selain itu juga diterapkan kebijakan untuk mengurangi secara drastis akses kendaraan bermotor terutama kendaraan pribadi ke kawasan Malioboro guna memberikan ruang yang lebih besar bagi pejalan kaki dan pesepeda.

     

    Menurut Iwan, saat ini Malioboro telah menerapkan penutupan kawasan jalan dari kendaraan bermotor secara berkala.

    “Misalnya setiap hari antara pukul 18:00 hingga 21:00 dan pada saat jam-jam puncak liburan kawasan Malioboro ditutup dari kendaraan bermotor,” terangnya.

    Baca: Penataan Stasiun Tugu juga mengacu pada sumbu filosofi

    Iwan menilai rencana memindahkan taman parkir Abu Bakar Ali dan mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau juga bagian untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi.

    “Ini adalah langkah yang bisa dilakukan (untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi, red), terutama untuk parkir kendaraan bermotor pribadi,” imbuhnya.

    Namun demikian, Iwan mengingatkan agar Pemkot Yogyakarta tetap memberikan ruang untuk angkutan umum.

    Baca: Gaya hidup alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Yang perlu dipertimbangkan, lanjutnya, adalah bagaimana akses dari lokasi parkir yang ditetapkan, menuju ke kawasan Malioboro, terutama untuk kendaraan berpenumpang banyak seperti bus wisata.

    Selain itu, Iwan juga mengingatkan pentingnya antisipasi terhadap kemungkinan tumbuhnya parkir-parkir liar di sekitar kawasan Malioboro.

    “Tumbuhnya parkir liar bisa membuat upaya menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi menjadi tidak efektif,” pungkasnya.

    Baca: Kebijakan kawasan rendah emisi di Inggris tentukan hasil pemilu

  • UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia

    UNESCO Akui Sumbu Filosofi Yogyakarta Jadi Warisan Dunia

    7cloud.asia – Badan PBB Untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia.

    Keputusan menjadikan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia disampaikan dalam sidang Komite Warisan Dunia UNESCO di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (18/9/2023).

    Sidang penetapan sumbu filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia itu dihadiri oleh Wakil Gubernur Yogyakarta KGPAA Sri Paduka Paku Alam ke-10.

    “Selamat kepada Indonesia karena Sumbu Filosofi Yogyakarta menjadi Warisan Budaya Dunia,” ujar Ketua Komite Warisan Dunia UNESCO Abdulelah Al-Tokhais dalam pernyataan resmi yang diterima pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta hari Selasa (19/9).

    Baca Juga: Ganjar Pranowo di Mata Alam Ganjar Putra Tunggalnya

    Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono ke-10 mengatakan keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama seluruh pihak.

    Penghargaan ini juga merupakan penghormatan pada mahakarya Sri Sultan Hamengku Buwono ke-1 sebagai penggagas Poros Filosofi.

    “Kami berharap penetapan ini dapat dijadikan ajang pembelajaran bersama akan nilai-nilai universal yang diperlukan untuk menciptakan dunia baru yang lebih baik di masa depan,” ujarnya kepada wartawan di Yogyakarta.

    Baca Juga: Kiat Slow Living: Secuil Waktu yang Berharga di Perjalanan Berangkat dan Pulang Kerja

    Sementara kepada VOA, Permaisuri Kasultanan Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas mengatakan kabar ini memang sudah ditunggu-tunggu.

    “Memang kita sudah menunggu penilaian cukup lama, di antaranya penertiban Malioboro, yang dilakukan untuk mewujudkan (Yogyakarta) sebagai warisan kota budaya dunia; setelah sebelumnya jadi Kota Batik Dunia,” ujarnya lewat pesan teks.

    Kawasan sumbu filosofi yang disebut UNESCO itu merujuk pada garis imajiner yang menghubungkan Panggung Krapyak dan Tugu Yogyakarta, yang juga mencakup Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

    Baca Juga: Masih Banyak yang Belum Tahu Jalan Malioboro Termasuk Kawasan Tanpa Rokok

    Ini merupakan konsep tata ruang yang dibuat raja pertama Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I, pada abad ke 18, yang berdasarkan konsepsi Jawa.

    Tiga titik yang ada – yaitu Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Tugu Yogyakarta (atau disebut juga Tugu Golong Gilig) – jika ditarik suatu garis lurus maka akan membentuk sumbu imajiner yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Sri Sultan HB X: Dampak Positif dari Sumbu Filosofi Yogyakarta Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

    Sri Sultan HB X: Dampak Positif dari Sumbu Filosofi Yogyakarta Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

    7cloud.asia – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sri Sultan HB X meminta pengelolaan Sumbu Filosofi Yogyakarta tidak mengabaikan pembangunan kawasan pendukung di sekitarnya.

    Hal itu diungkapkan Sri Sultan HB X saat memberikan arahan tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia di Yogyakarta, Kamis (2/11/2023).

    Dalam kesempatan itu Sri Sultan HB X berharap, pemerataan dampak positif keberadaan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia.

    “Kami berharap kabupaten dan kota punya aspirasi, karena bagaimana pun juga, di luar Sumbu Filosofi Yogyakarta harus diatur bagaimana wilayah-wilayah itu bisa tumbuh,” kata Sri Sultan HB X seperti dilansir Antaranews.com.

    Baca: UNESCO akui Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia

    Sri Sultan HB X tidak ingin hanya mereka yang bersinggungan langsung saja yang mendapatkan dampak positif Sumbu Filosofi Yogyakarta.

    Namun seluruh lapisan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta pun turut merasakan, terutama untuk pertumbuhan ekonomi.

     

    Di dalam kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, ujarnya, diperlukan adanya penyangga untuk menguatkan, sehingga ekonomi juga akan tumbuh.

    “Penyangga tentu bukan hanya dari yang di dalam kawasan, oleh karena itu, dampak positifnya juga harus sampai di luar kawasan,” Sri Sultan HB X.

    Baca: Kawasan Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Sultan mengatakan “Si Sufi Jogja” atau Satu Aksi Sumbu Filosofi menjadi sebuah organisasi yang mewadahi Pemerintah Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Pemda DIY dan Keraton Yogyakarta dalam mengelola kawasan Sumbu Filosofi.

    Sumbu filosofi Yogyakarta terbentang dari Panggung Krapyak sampai Tugu Yogyakarta menjadi acuan dalam penataan kawasan di Kota Yogyakarta.

    “Si Sufi Jogja akan bertugas mengonsep pengaturan publik dan program dalam kawasan Sumbu Filosofi, tanpa meninggalkan kawasan pendukung di luar kawasan Sumbu Filosofi,” kata dia.

    Menurut Sri Sultan HB X, agar pertumbuhan tidak hanya berpusat di satu tempat saja yang menjadi bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta, maka perlu ada program-program di luar wilayah Sumbu Filosofi yang perlu diperhatikan.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    “Yang terpenting, ada relevansi dalam satu kawasan kelurahan atau kawasan lain dengan Sumbu Filosofi yang memungkinkan untuk tumbuh,” kata Sultan.

    Selain itu pemerataan ini untuk mencegah kecemburuan sosial yang akan memberatkan bagi pembangunan berikutnya.

    Sultan meminta semua harus terlayani dengan sama rata, sesuai dengan karakteristik tertentu pada ragam program yang sesuai dengan tujuh rekomendasi UNESCO.

    Sekda DIY Beny Suharsono mengatakan struktur sistem pengelolaan dan koordinasi Sumbu FIlosofi terdiri dari perpaduan sistem tradisional Keraton Yogyakarta dan pemerintahan terkini.

    Baca: Penataan Stasiun Tugu Yogyakarta

    Dia mengatakan tugas Sekretariat Bersama Sumbu Filosofi yang terbentuk adalah mengomunikasikan pengelolaan Warisan Dunia Sumbu Filosofi kepada UNESCO melalui Perwakilan Indonesia untuk UNESCO.

    “Mereka juga bertugas menyusun arah kebijakan dan strategi (tahapan, pendanaan) Pengelolaan Warisan Dunia Sumbu Filosofi,” ujar Beny.

     

  • Sultan HB X Ajak Warga Yogyakarta Bersama-sama Merawat Sumbu Filosofi

    Sultan HB X Ajak Warga Yogyakarta Bersama-sama Merawat Sumbu Filosofi

    7cloud.asia – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta masyarakat Kota Yogyakarta menjadi subjek pelestarian kawasan Sumbu Filosofi yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

    Sultan menegaskan sebagian besar dari fisik bangunan yang kita bicarakan ‘Hamemayu Hayuning Bawana’ (Sumbu Filosofi) itu berada di Yogyakarta.

    “Karena itu saya berharap masyarakat di Yogyakarta bisa menjadi subjek dalam menjaga kelestarian Sumbu Filosofi,” ujarnya dalam acara syawalan dengan jajaran Pemkot Yogyakarta di halaman Balai Kota Yogyakarta di Yogyakarta, Jumat (19/4/2024).

    Sultan menjelaskan aspek fisik Sumbu Filosofi sebagai objek yang dilindungi dan dinyatakan menjadi peninggalan masa lalu yang diakui Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) berada di wilayah Kota Yogyakarta dan sebagian kecil di Kabupaten Bantul.

    Baca: Mengenal Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Menurut dia, pengelolaan kawasan itu tidak sekadar menjadi tanggung jawab Pemprov DIY, Pemkot Yogyakarta, dan Pemkab Bantul, namun juga perwakilan unsur masyarakat dalam wadah asosiasi baik di level kelurahan maupun pemda.

    “Saya berharap nanti perwakilan-perwakilan ini tolong kami dibantu untuk mereka bekerja memahami aspek-aspek materi yang memang perlu kita jaga,” katanya.

    Sultan menyebut tengah menyusun sejumlah keputusan gubernur terkait aturan main pengelolaan warisan budaya dunia tersebut.

    “Kami juga harus membuat organisasi manajemen sampai ke tingkat Kota Yogyakarta dan Bantul,” kata Raja Keraton Yogyakarta itu.

    Baca: Penataan Malioboro disesuaikan dengan posisinya dalam Sumbu Filosofi

    Menurut dia, keputusan UNESCO mengakui Sumbu Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana sebagai warisan budaya dunia merupakan peristiwa pertama di dunia.

    “Karena biasanya bangunan yang dijaga kelestariannya karena bangunan lama, tapi (pengakuan) filosofi ini seluruh dunia baru pertama kali yang diterima oleh UNESCO,” kata dia.

    Bangunan-bangunan peninggalan yang berada di sepanjang kawasan warisan budaya dunia itu, kata Sultan, hanya bagian dari Sumbu Filosofi.

    “Menyangkut bangunan itu menjadi bagian. Filosofi itu bukan sekadar bangunan, tapi sebagai bukti, fakta nyata itu bangunannya,” kata dia.

    Baca: Posisi Stasiun Tugu dalam sumbu filosofi Yogyakarta

    Penjabat Wali Kota Yogyakarta Singgih Raharjo menyatakan siap menjaga Sumbu Filosofi, lebih dari sekadar aspek fisik.

    “Kami akan jaga betul, tidak hanya dari aspek fisiknya tetapi juga nilainya,” kata dia.

    Pemkot Yogyakarta tengah menyelesaikan berbagai regulasi yang akan menjadi pedoman pelestarian Sumbu Filosofi, meliputi cara pelestarian, kewenangan pemerintah, dan pelaku usaha di kawasan tersebut, termasuk masyarakat luas.

    “Termasuk juga di dalamnya terkait pembentukan organisasi atau lembaga untuk memperlancar pelestarian,” ujar dia.

    Baca: Kenali filosofi hidup alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai salah satu warisan dunia dari Indonesia pada Sidang Ke-45 Komite Warisan Dunia atau WHC di Riyadh, Arab Saudi pada 18 September 2023.

    Sumbu Filosofi Yogyakarta yang dalam daftar Warisan Dunia UNESCO bertajuk lengkap “The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks” diakui sebagai warisan dunia karena dinilai memiliki arti penting secara universal.

    Konsep tata ruang yang dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta ini dicetuskan pertama kali oleh Raja Pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada abad ke-18.

    Konsep tata ruang ini dibuat berdasarkan konsepsi Jawa dan berbentuk struktur jalan lurus yang membentang antara Panggung Krapyak di sebelah selatan, Keraton Yogyakarta, dan Tugu Yogyakarta di sebelah utara.

     

  • Dampak Revitalisasi Kota Yogyakarta Setelah Sumbu Filosofi Diakui sebagai Warisan Budaya

    Dampak Revitalisasi Kota Yogyakarta Setelah Sumbu Filosofi Diakui sebagai Warisan Budaya

    7cloud.asia – Sejak Sumbu Filosofi Yogyakarta—garis imajiner yang menghubungkan Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak—resmi ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 18 September 2023, Kota Yogyakarta terus berbenah.

    Upaya untuk menghidupkan (revitalisasi) dan memperindah (beautifikasi) kawasan tersebut dilakukan secara masif.

    Langkah ini dimulai dari penutupan Alun-Alun Utara untuk kegiatan publik lantaran dinilai tidak sesuai dengan fungsi awalnya dalam sejarah, relokasi pedagang di Jalan Malioboro, hingga penggusuran bangunan di sepanjang Benteng Keraton.

    Pemerintah Kota Yogyakarta mengambil langkah-langkah tersebut untuk mengikuti rekomendasi UNESCO dalam menjaga nilai-nilai universal luar biasa atau universal outstanding value (UOV).

    UOV merupakan standar utama yang digunakan UNESCO untuk menentukan apakah suatu peninggalan sejarah dapat ditetapkan sebagai warisan budaya atau tidak.

    Standar ini memiliki arti bahwa budaya atau lanskap alam tertentu memiliki nilai yang penting untuk umat manusia dan generasi mendatang. Penetapannya didasarkan pada kriteria yang tertulis dalam operational guidelines.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi Yogyakarta jadi Warisan Dunia

    Sayangnya, upaya untuk memenuhi kriteria tersebut kerap mengubah dinamika kawasan warisan budaya dan menjauhkan penduduk dan ruang hidup mereka.

    Relokasi pedagang kaki lima dari jalan Malioboro ke Teras Malioboro, misalnya, mengubah karakter jalan ini dari karakter semula sebagai ruang sosial dan ekonomi kecil sehingga berdampak negatif bagi pedagang.

    Pemerintah tampaknya gencar ingin “mengembalikan” kota ini ke bentuk yang lebih seragam dan cocok dengan citra sejarah atau standar estetika tertentu.

    Padahal, keberadaan penduduk di kawasan warisan budaya serta interaksi mereka dengan ruang tersebut adalah bagian integral dari lanskap budaya yang telah berkembang selama bertahun-tahun.

    Konteks warisan budaya Asia berbeda dari Barat
    Ide untuk menjaga orisinalitas warisan budaya pada dasarnya kental dengan hegemoni pemikiran Barat.

    Di sana, warisan budaya lebih sering diasosiasikan dengan karya seni yang memiliki nilai estetika dan sejarah, sehingga dirawat dengan sangat baik agar tidak rusak demi menjaga nilai autentiknya.

    Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Misalnya, patung-patung peninggalan sejarah di Roma atau lukisan Mona Lisa yang disimpan di Museum Louvre dijaga dengan perlindungan ketat.

    Namun, konsep ini tidak sepenuhnya bisa diterapkan ke semua warisan budaya. Di berbagai wilayah, beberapa peninggalan bersejarah bukan hanya sebatas koleksi, tapi lebih jauh dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial bahkan spiritual masyarakat.

    Candi di negara-negara Asia, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai monumen, tetapi juga bagian dari kehidupan spiritual masyarakat dan digunakan sebagai tempat ibadah.

    Sehingga, metode perlindungan seperti membatasi akses bagi umat justru bisa memutus hubungan antara masyarakat dan warisan budaya mereka.

    Artinya, cara perlindungan nilai UOV dan orisinalitas warisan budaya harus disesuaikan dengan konteks spesifik setiap warisan budaya.

    Model-model pelestarian warisan budaya yang berasal dari Barat tidak bisa diadaptasi sepenuhnya karena kondisi dan pemahaman terhadap warisan budaya di masing-masing wilayah, terutama di Asia, memiliki perbedaan yang signifikan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Bagas Aditya (Research assistant, Universitas Gadjah Mada)

  • Jaringan Kota Pusaka Indonesia Perkenalkan Sumbu Filosofi

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia Perkenalkan Sumbu Filosofi

    7cloud.asia – Rangkaian kegiatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Kota Yogyakarta tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia juga menjadi sarana edukasi dan pengalaman langsung bagi para Kepala Daerah dari seluruh Indonesia mengenai warisan budaya dunia yang ada di Kota Yogyakarta, salah satunya Sumbu Filosofi Yogyakarta.

    Melalui agenda Fun Bike and City Tour JKPI 2025 pada Kamis (7/8/2025), puluhan peserta diajak bersepeda menyusuri jalur Sumbu Filosofi.

    Dimulai dari Hotel Tentrem Yogyakarta peserta diajak menyusuri sejumlah titik di jalur Sumbu Filosofi, seperti landmark ikonik seperti Tugu Yogyakarta, Jalan Malioboro, dan Kraton Yogyakarta.

    Jalur ini bukan hanya sekadar rute wisata, tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam yang menghubungkan aspek kosmologis, budaya, dan spiritual masyarakat Yogyakarta.

    Baca: UNESCO akui Sumbu Filosofi Yogyakarta jadi Warisan Budaya Dunia

    Sumbu Filosofi Yogyakarta sendiri telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2023.

    “Ya, kita ingin mengenalkan pada mereka bahwa Jogja ini punya yang namanya sumbu filosofi. Banyak juga dari peserta yang bertanya, ‘Mana sih sumbu filosofi? Nah, dengan fun bike ini, mereka bisa melihat dan merasakan langsung maknanya,” jelas wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dikutip jogjakarta.go.id

    Hasto menambahkan, kegiatan fun bike ini juga membuka wacana baru mengenai pentingnya budaya bersepeda di Yogyakarta. Hasto menambahkan, budaya bersepeda akan menjadi bagian dari strategi pembangunan kota yang berkelanjutan nantinya.

    Gerakan ini terinspirasi oleh gerakan “Sego Segawe” (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe) yang pernah diinisiasi oleh Wali Kota Yogyakarta sebelumnya.

    “Saya itu jujur mengapresiasi ide dari program Sego Segawe. Saya ini baru akan merencanakan, mungkin nanti di Hari Jadi Kota Yogyakarta bisa kita jadikan momentum untuk menghidupkan budaya bersepeda,” ujarnya.

    Baca: Kawasan Malioboro ditataulang sesuai maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Hasto tidak ingin gerakan ini hanya bersifat euforia sesaat. “Saya ingin merealisasikannya secara bertahap dan berkelanjutan. Supaya tidak cepat hilang. Kita harus pikir strategi yang matang,” tambahnya.

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia merupakan sebuah jaringan antarkota di Indonesia yang saat ini beranggotakan 33 (tiga puluh tiga) kota di Indonesia.

    Jaringan Kota Pusaka Indonesia didirikan pada 2005 dengan tujuan menjaga kelestarian benda cagar budaya (BCB) peninggalan sejarah di Indonesia.

    Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, pada saat deklarasi mengatakan Jaringan Kota Pusaka Indonesia sangat penting dalam upaya sosialisasi peraturan perundang-undangan tentang perlindungan benda cagar budaya (BCB)

    Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur, Wiwik Lestari, menilai pelaksanaan JKPI sangat bermanfaat bagi penguatan sektor pariwisata.

    Dia berharap JKPI tetap digelar setiap tahun. Selain sebagai ajang pertemuan antar daerah, kegiatan ini juga membangkitkan pariwisata di kota tuan rumah.

    ”Kegiatan fun bike ini sangat mendukung pelaksanaan JKPI karena menghidupkan spot pariwisata di daerah,” ujarnya.

    Baca: Makna Sumbu Filosofi dalam tata kota Yogyakarta

  • Pemerintah Kota Yogyakarta Serius Kurangi Tekanan di Kawasan Sumbu Filosofi

    Pemerintah Kota Yogyakarta Serius Kurangi Tekanan di Kawasan Sumbu Filosofi

    7cloud.asia – Penetapan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia merupakan capaian strategis yang membanggakan, namun juga membawa konsekuensi besar dalam tata kelola kota Yogyakarta.

    Penetapan ini menuntut kewajiban pelestarian secara ketat terhadap nilai Sumbu Filosofi, antara lain dengan mencegah perubahan peruntukan lahan serta mengurangi dampak negatif emisi karbon dan kemacetan terhadap kawasan.

    Jika kewajiban ini tidak dipenuhi, maka UNESCO dapat sewaktu-waktu mencabut status warisan budaya dunia ini.

    Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, saat Expose Meeting Pengembangan Terminal Giwangan, Kamis (8/1/2026), menegaskan komitmen Pemkot untuk mengurangi beban kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi (KSF)

    Adapun fokus utama pemkot Yogyakarta saat ini adalah mengurangi tekanan kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi dengan pengaturan lalu lintas dan transportasi.

    Menurut Hasto, pengembangan destinasi wisata baru penting, namun dalam konteks kebijakan transportasi, prioritasnya adalah pengendalian beban lalu lintas di kawasan warisan dunia.

    Baca: Revitalisasi Kota Yogyakarta setelah Sumbu Filosofi diakui sebagai warisan budaya dunia

    Melalui penataan parkir bus pariwisata, penyediaan tempat parkir khusus, serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD), Pemerintah Kota Yogyakarta berharap mampu menjaga kelestarian Sumbu Filosofi.

    Langkah ini sekaligus membangun sistem mobilitas dan pariwisata kota yang lebih tertata, berimbang, dan berkelanjutan.

    “Fokus kita adalah mengurangi beban di Sumbu Filosofi, maka langkah-langkahnya harus konkret ke arah sana. Yang pertama, tekanannya harus berkurang. Kalau tekanannya berkurang, otomatis bus tidak masuk ke kawasan inti,” tegas Hasto seperti dilansir di laman resmi Kota Yogyakarta.

    Ia mencontohkan kawasan Senopati yang selama ini menjadi salah satu titik tekanan akibat parkir dan aktivitas bus pariwisata. Menurutnya, penataan kawasan tersebut harus dimulai dengan mengurangi beban kendaraan terlebih dahulu.

    “Kita kondisikan Senopati supaya lebih baik dan tidak seperti sekarang. Langkah pertamanya ya bebannya dikurangi dulu. Setelah itu baru kita cari solusi lanjutan,” ujarnya.

    Hasto juga menekankan pentingnya perhitungan kapasitas dan skenario pengalihan bus secara realistis, baik pada hari biasa maupun saat musim puncak kunjungan wisata.

    Baca: UNESCO akui Sumbu Filosofi Yogyakarta jadi warisan budaya dunia

    “Kita hitung dulu kapasitas yang ada, berapa bus per hari, hari biasa dan peak season. Setelah itu baru kita tentukan dialihkan ke mana. Pemikirannya dibalik, ini dibutuhkan atau tidak. Kalau dibutuhkan, bagaimana skenarionya,” jelasnya.

    Dalam membangun sistem transportasi kota, Hasto menekankan prinsip bertahap namun visioner.

    “Kita mulai dari yang bisa dijangkau sekarang, start small, act now, think big. Kita susun kerangka besar sistem transportasi Kota Yogyakarta yang ideal, supaya tidak tambal sulam dan tidak kontraproduktif dengan pembangunan ke depan,” katanya.

    Sementara akademisi Fakultas Teknik UGM, Muhammad Sani Roychansyah menyebut bahwa kajian pengendalian dan pengurangan beban di Sumbu Filosofi sejatinya telah berlangsung hampir satu dekade.

    “Dalam konteks yang baru, terutama setelah penetapan UNESCO, pengurangan beban dan pengendalian Sumbu Filosofi menjadi semakin relevan dan perlu percepatan dalam realisasinya,” ungkapnya.

    Upaya yang dilakukan
    Saat ini Pemkot Yogyakarta tengah menyiapkan Tempat Khusus Parkir (TKP) baru bagi bus pariwisata, serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD).

    Baca: Kawasan Malioboro ditataulang sesuai maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi tekanan langsung kendaraan besar di kawasan inti Sumbu Filosofi seperti Malioboro, Tugu dan sekitarnya.

    Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono menyampaikan salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, khususnya bus pariwisata.

    ”Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kelancaran mobilitas, tapi juga berpengaruh terhadap kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata,” terangnya.

    Dalam konteks itulah, kawasan Yogyakarta bagian selatan dengan pusat di Terminal Giwangan dinilai memiliki posisi yang sangat strategis.

    Tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi dan pintu masuk kota, namun juga diposisikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Yogyakarta Selatan.

    Baca: Makna Sumbu Filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Kawasan ini berstatus sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah tahun 2025–2029.

    Agus menambahkan, penguatan peran Terminal Giwangan semakin terbuka setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal. Hal ini membuka peluang optimalisasi aset daerah secara terintegrasi.

    “Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan pada dasarnya merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Yogyakarta, khususnya untuk mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan dan penguatan struktur ekonomi kota,” ungkapnya.

    Ia juga menjelaskan bahwa penyusunan master plan Kawasan Terminal Giwangan telah dilakukan melalui proses kajian selama lebih dari empat bulan.

    Proses tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah tingkat kota dan provinsi, pelaku usaha, operator transportasi, pelaku pariwisata, hingga kalangan akademisi.