Kawasan Malioboro Ditataulang Sesuai Maknanya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

Written by

in

7cloud.asia – Wajah Jalan Malioboro yang berada di pusat kota Yogyakarta berubah drastis dalam beberapa tahun ini.

Perubahan wajah Malioboro ini akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Landasan penataan Malioboro yang menjadi ikon Kota Yogyakarta ini adalah keberadaan Sumbu Filosofi, garis imajiner dari utara ke selatan dengan Kraton Jogja sebagai titik pusatnya.

Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya menata kawasan Malioboro sebagai penghubung Panggung Krapyak-Kraton-Tugu Pal Putih agar tetap sesuai dengan makna dan nilai yang terkandung dalam Sumbu Filosofi.

Pemkot Yogyakarta membersihkan jalur pedestrian dari pedagang kaki lima (PKL), menata jalan sirip di Malioboro, memberlakukan skema semipedestrian dan lalu lintas giratori searah hingga berencana pembangunan Jogja Planning Gallery (JPG).

Dilansir harianjogja.com, pedagang yang semula menempati trotoar diboyong ke lokasi baru yang dinamai Teras Malioboro.

Revitalisasi yang dilakukan bertahap itu demi mengembalikan fungsi dan simbol Malioboro ke bentuk semula. Pun demikian dengan pengajuan Sumbu Filosofi jadi Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. 

Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

Peneliti dari Pustral Universitas Gadjah Mada, Juhri Iwan Agriawan ST., M.Sc  mengatakan Kawasan Malioboro sudah memenuhi syarat ideal sebagai pusat kota Yogyakarta.

Idealnya, ujarnya, pusat kota adalah kawasan paling nyaman, ikonik, mudah diakses, aman dan dalam konteks pariwisata merupakan kawasan paling dituju oleh wisatawan.

“Malioboro setidaknya sudah memiliki beberapa syarat itu misalnya kawasan paling ikonik, mudah diakses (terutama oleh kereta jarak jauh maupun kereta lokal/komuter) dan sekaligus kawasan tujuan utama wisatawan,” ujar Iwan kepada 7cloud.asia dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.

Baca: Upaya menjadikan Malioboro sebagai zona rendah emisi

 

Dimintai tanggapannya soal upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro menjadi kawasan rendah emisi, Iwan menyambut positif rencana tersebut. 

Langkah ini, ujarnya, adalah salah satu cara yang baik untuk meningkatkan kenyamanan kawasan Malioboro yang nantinya pasti akan meningkatkan kunjungan orang ke kawasan tersebut.

Iwan menyebut, saat ini sudah dilakukan beberapa kebijakan untuk mengurangi emisi di Malioboro. Salah satunya menjadikan Malioboro sebagai kawasan bebas rokok.

Baca: Sejak 2017 Malioboro ditetapkan sebagai kawasan bebas rokok

Selain itu juga diterapkan kebijakan untuk mengurangi secara drastis akses kendaraan bermotor terutama kendaraan pribadi ke kawasan Malioboro guna memberikan ruang yang lebih besar bagi pejalan kaki dan pesepeda.

 

Menurut Iwan, saat ini Malioboro telah menerapkan penutupan kawasan jalan dari kendaraan bermotor secara berkala.

“Misalnya setiap hari antara pukul 18:00 hingga 21:00 dan pada saat jam-jam puncak liburan kawasan Malioboro ditutup dari kendaraan bermotor,” terangnya.

Baca: Penataan Stasiun Tugu juga mengacu pada sumbu filosofi

Iwan menilai rencana memindahkan taman parkir Abu Bakar Ali dan mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau juga bagian untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi.

“Ini adalah langkah yang bisa dilakukan (untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi, red), terutama untuk parkir kendaraan bermotor pribadi,” imbuhnya.

Namun demikian, Iwan mengingatkan agar Pemkot Yogyakarta tetap memberikan ruang untuk angkutan umum.

Baca: Gaya hidup alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

Yang perlu dipertimbangkan, lanjutnya, adalah bagaimana akses dari lokasi parkir yang ditetapkan, menuju ke kawasan Malioboro, terutama untuk kendaraan berpenumpang banyak seperti bus wisata.

Selain itu, Iwan juga mengingatkan pentingnya antisipasi terhadap kemungkinan tumbuhnya parkir-parkir liar di sekitar kawasan Malioboro.

“Tumbuhnya parkir liar bisa membuat upaya menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi menjadi tidak efektif,” pungkasnya.

Baca: Kebijakan kawasan rendah emisi di Inggris tentukan hasil pemilu

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *