7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan meninjau kawasan hulu Sungai Ciliwung menyusul banjir yang melanda sejumlah wilayah Puncak dan Jakarta.
Langkah ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan memperbaiki tata kelola vegetasi di wilayah hulu Sungai Ciliwung tersebut.
Ditemui ketika meninjau tempat penampung batu bara di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda di Jakarta Utara, Senin, Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan pihaknya siap mendukung penyelesaian sejumlah isu lingkungan di Jakarta, termasuk penyebab banjir.
“Ciliwung ini di ujungnya itu ada kebun teh. Ini rencana kami mungkin hari Kamis kami akan lakukan pengawasan, kalau perlu kami juga akan lakukan pembinaan,” jelas Menteri LH Hanif.
Terutama, lanjut dia, di wilayah hulu yang sudah mengalami perubahan vegetasi. Ia mengatakan perlunya wilayah tersebut ditanami vegetasi yang mampu menyerap dan menahan air.
“Untuk diubah dari teh menjadi pohon-pohon yang mampu menahan, memperbaiki hidrologi kita. Ini sudah cukup peringatan alam ke kita, banjir setiap hari. Kita akan baiki step-step ini ujungnya dari Ciliwung ini sampai ke kita,” ujarnya.
Baca: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam kondisi kritis
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan banjir akibat luapan Kali Ciliwung telah meluas dan kini telah berdampak ke 47 Rukun Tetangga (RT) di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada pagi hari ini.
Menurut BPBD, banjir yang melanda kedua wilayah administratif tersebut terjadi karena luapan Kali Ciliwung setelah terjadi hujan lebat di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (2/3/2025) menyebabkan kenaikan Bendung Katulampa yang berada di Bogor, Jawa Barat, menjadi siaga tiga atau waspada pada pukul 20.20 WIB.
Sementara BPBD Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mencatat sebanyak 28 desa di 16 kecamatan terdampak bencana alam hidrometeorologi akibat hujan deras disertai angin kencang pada Minggu (2/3/2025) petang hingga malam.
“Bencana alam hidrometeorologi berupa tanah longsor, banjir, orang hanyut, dan angin kencang,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor M Adam Hamdani di Cibinong, Senin.
Ia menjelaskan, hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan kadar air dalam tanah dan debit air di hulu sungai meningkat sehingga terjadi bencana di beberapa titik lokasi.
Baca: Peringatan Hari Sungai Ciliwung
Tanah longsor terjadi di delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Cijeruk, Desa Cijeruk dan Desa Tanjungsari; Kecamatan Sukaraja, Desa Cimandala dan Desa Nagrak; Kecamatan Megamendung, Desa Kuta, Desa Sukagalih, Desa Gadog, dan Desa Sukakarya.
Kemudian, Kecamatan Sukamakmur, Desa Sirnajaya; Kecamatan Ciawi, Desa Bojong Murni; Kecamatan Sukajaya, Desa Harkatjaya; Kecamatan Leuwisadeng, Desa Sadengkolot; dan Kecamatan Babakan Madang, Desa Bojongkoneng.
Banjir terjadi di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Parungpanjang, Desa Kabaosiran dan Desa Cibunar; Kecamatan Cisarua, Desa Tugu Utara, Desa Tugu Selatan, Desa Batu Layang, Desa Kopo, Desa Jogjogan, dan Desa Cibeureum.
Lalu, Kecamatan Bojonggede, Desa Rawa Panjang; Kecamatan Cigudeg, Desa Rengasjajar; Kecamatan Tenjo, Desa Cilaku; Kecamatan Dramaga, Desa Babakan; dan Kecamatan Rumpin, Desa Sukasari.
Kejadian orang hanyut terjadi di Kecamatan Cisarua, Desa Citeko. Sementara itu, angin kencang terjadi di Kecamatan Jasinga, Desa Setu.
BPBD Kabupaten Bogor telah mengambil langkah-langkah sementara untuk menangani bencana alam tersebut.
“Antara lain melakukan assessment lokasi bencana, pengamanan lokasi bencana, mempersiapkan peralatan dan logistik, membersihkan pohon tumbang, evakuasi warga terdampak banjir, dan koordinasi dengan aparat setempat,” papar Adam.
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang untuk menghindari bencana alam.

Leave a Reply