Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

Written by

in

7cloud.asia – Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai terbesar dari 13 sungai yang membelah Kota Jakarta.

Hulu Sungai Ciliwung berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di mata air Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Telaga Saat yang terletak di lereng Pegunungan Jonggol sebelah utara kawasan Puncak, Bogor.

Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai Ciliwung mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Kota Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagai batas alami wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Sungai Ciliwung memiliki panjang 120 kilometer dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) 387 kilometer persegi.

Di sebelah barat, DAS Ciliwung berbatasan dengan DAS Cisadane, DAS Kali Grogol dan DAS Kali Krukut. Di sebelah timurnya, DAS ini berbatasan dengan DAS Kali Sunter dan DAS Kali Cipinang.

Baca Juga: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

Sungai Ciliwung menyimpan sejarah bagi warga kota Bogor, Depok dan Jakarta. Namun, banyak orang yang belum tahu.

Arti Nama Sungai Ciliwung

Nama Sungai Ciliwung berasal dari Bahasa Sunda, “Ci” yang artinya air dan “Haliwung” memiliki arti jernih.

Sejak dahulu sungai Ciliwung sangat dihormati masyarakat kota Batavia atau Jakarta sebagai sumber ekonomi dan air minum penduduk.

Berkat kejernihan airnya membuat sungai mendapat julukan Ratu dari Timur di era Kerajaan. Bahkan kejernihan airnya membuat sungai mendapat julukan Ratu dari Timur di era kerajaan.

Tidak sampai di situ, Pemerintah Kolonial Belanda juga terpukau dengan keindahan dan jernihnya Sungai Ciliwung sampai mengambil alih pengelolaan sungai ke Kolonial Belanda.

Baca Juga: Ekowisata di Sepanjang Aliran Sungai Ciliwung, Jalan-jalan Sambil Merawat Lingkungan

Benteng Alam Kerajaan Pajajaran
Melansir Mongabay Indonesia, Sungai Ciliwung merupakan satu dari empat benteng pertahanan era Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482-1567.

Kesultanan Banten yang berseteru dengan Pajajaran memerlukan waktu 40 tahun lebih untuk bisa menaklukan ibukota Pakuan (sekarang Bogor).

Hal ini dikarenakan adanya bentang alam yang menjadi pertahanan ibukota, yaitu dua sungai besar Ciliwung dan Cisadane, ditambah Gunung Salak dan Pangrango.

Seusai masa kerajaan, Belanda mulai masuk ke Indonesia dan mengambil alih pengelolaan sungai kepada Kolonial Belanda.

Saat itu, Belanda merasa bahwa Sungai Ciliwung merupakan simbol penting, sehingga mereka merawat dan menjaga Ciliwung dengan baik.

Baca Juga: Tak Hanya Mengendalikan Banjir di Jakarta, Sodetan Kali Ciliwung Bisa Jadi Pusat Kegiatan

Pemukiman Padat Penduduk
Pesona keindahan Sungai Ciliwung yang dikelilingi hutan lambat laun mulai berubah secara perlahan.

Setiap tahunnya hutan mulai digarap sebagai tujuan memperluas lahan pemukiman dan infrastuktur. HIngga akhirnya, di tahun 1689 terlihat warna air aliran sungai Ciliwung cenderung keruh dan berlumpur.

Hilangnya Ratusan Hewan
Dalam sejarahnya, Sungai Ciliwung tercatat lebih dari 270 ikan endemik yang hidup dan tersebar di sungai ini. Bahkan, ikan-ikan menjadi sumber konsumsi sampai pendapatan bagi masyarakat.

Namun sayangnya, akibat perluasan pemukiman warga dan beragam aktivitas pencemaran lainnya, sekarang Sungai Ciliwung hanya memiliki 20 jenis ikan yang berada di sekitar Cianjur dan Bogor.

Dahulu, selain ikan hewan khas bantaran seperti ular, bulus, kura-kura, dan kupu-kupu hidup di sekitar Sungai Ciliwung yang dikelilingi oleh hutan.

Sedangkan di bagian muaranya terdapat buaya, burung bangau, dan berang-berang. Sayangnya hewan tersebut sudah mulai punah sehingga tidak bisa melihat keindahan alam dan satwa dari dekat.

Baca Juga: Normalisasi Kali Ciliwung Belum Maksimal, Kawasan Kebon Pala Kembali Dilanda Banjir

Hari Sungai Ciliwung
Sejak 2012, setiap tanggal 11 November diperingati sebagai Hari Ciliwung.

Penetapan ini didasarkan dengan ditemukannya dua ekor bulus atau sejenis kura-kura yang sebelumnya sudah dianggap punah.

Dengan kehadiran hewan tersebut, menunjukkan eksistensi hewan endemik di sekitar Ciliwung harus dijaga habitatnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *