Tag: sungai citarum

  • Atasi Pulau Sampah di Aliran Sungai Citarum, Pemprov Jabar Kerahkan Alat Berat

    Atasi Pulau Sampah di Aliran Sungai Citarum, Pemprov Jabar Kerahkan Alat Berat

    7cloud.asia – Pemprov Jawa Barat menurunkan sejumlah alat berat untuk mempercepat proses pembersihan dan pengangkatan sampah di aliran Sungai Citarum, di Jembatan Saapan, Batujajar, Bandung Barat.

    Kondisi aliran Sungai Citarum, di Jembatan Saapan, Batujajar ini telah lama berubah menjadi lautan atau bahkan pulau sampah sehingga bisa menyumbat aliran air.

    Pulau sampah di aliran Sungai Citarum ini sempat viral dan badan sungai seluruhnya tertutup oleh sampah sejak beberapa waktu.

    Kondisi ini semakin parah oleh kebiasaan buruk warga di daerah aliran sungai Citarum yang masih membuang sampah ke sungai.

    “Alat berat itu, dimanfaatkan sesuai kebutuhan, mulai dari pengerukan sedimen, pengangkatan sampah ke darat, sampai membuat lubang dan menutup sampah,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jabar Ika Mardiah, Minggu (16/6/2024).

    Dalam keterangannya, Ika menyebut bahwa alat berat yang digunakan, terdiri atas excavator long arm, excavator amphibi, dan excavator standart yang berasal dari sejumlah pihak, seperti Dansektor 9, Dansektor 8, dan IP Saguling POMU.

    Baca: Pembersihan sampah di Sungai Ciliwung

    Selain alat berat, proses pembersihan dan pengangkatan sampah di Sungai Citarum juga menurunkan tiga unit katamaran, lima unit LCR, lima unit dump truck, dan tali atau sling untuk membatasi pergerakan sampah.

    Dalam kegiatan pembersihan dan pengangkatan sampah serta penataan lingkungan di Sungai Citarum sektor 9 ini, dibagi menjadi empat kelompok beranggotakan lima orang.

    Ada yang bertugas melaksanakan perakitan dan pemasangan pembatas sampah di lima titik sampai jarak satu kilometer ke arah hilir atau Jembatan Jambalas.

    Sementara untuk kelompok lain melanjutkan pekerjaan pengangkatan sampah di sekitar jembatan.

    Dua unit LCR melaksanakan patroli dan pengangkatan sampah di Jurug Jompong (hulu) sampai dengan jembatan BBS serta pendirian posko dan tenda kesehatan di sekitar jembatan BBS.

    Sebanyak 400 personel dari berbagai institusi, mulai dari Pemda Provinsi Jabar, TNI, Polri, BBWS Citarum, sampai masyarakat, ikut dalam proses pembersihan dan pengangkatan sampah.

    Baca: Cara warga lokal merawat Sungai Ciliwung

    Ika meminta masyarakat berperan aktif dengan melaporkan kondisi Sungai Citarum terutama terkait penumpukan sampah agar segera diatasi, dan pelaporan dapat melalui aplikasi Sapawarga.

    “Kami berharap aparatur desa, kecamatan, dan juga warga untuk menyampaikan laporan atau aduan jika ada lagi penumpukan sampah atau ada yang membuang sampah sembarangan agar segera diatasi tidak sampai menumpuk,” tutur Ika menambahkan.

    Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan, lautan sampah di daerah aliran sungai Citarum Batujajar ini karena volume sampah dan sedimentasi sungai.

    “Adanya sedimen dan terutama juga sampah ini kan kembali kepada kedisiplinan warga. Jadi kami mohon masyarakat jangan membuang sampah sembarangan, dan ya ini akibatnya,” kata Bey saat meninjau lokasi lautan sampah di Sungai Citarum ini.

    Dari laporan yang didapatkannya di lapangan, jika aliran sungai lancar, sampah-sampah tersebut akan tertahan di ujung.

    Baca: Cara warga lokal merawat Kali Angke

    Namun, karena volume sampah sudah meninggi ditambah sedimen, sampah tersebut bertumpuk di sepanjang aliran yang melintas di bawah jembatan BBS.

    Bey menargetkan upaya pembersihan sampah yang akan dilakukan secara maraton bisa menuntaskan tumpukan tersebut selama satu pekan ke depan, namun karena asal sampah datang dari berbagai daerah di Bandung Raya, proses pembersihan akan memakan waktu.

    “Kita akan bersihkan, mungkin lima hari sampai satu minggu. Kebayang teman-teman lihat sendiri banyak sampahnya, mulai dari mana juga bingung, karena dari Bandung Raya, Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Cimahi, Bandung Barat juga,” tuturnya.

    Bey menuturkan bahwa pihak BBWS Citarum, Dinas Lingkungan Hidup Jabar dan sejumlah pihak juga sudah menerjunkan petugas dan alat berat untuk membersihkan sampah yang menutup sungai.

    Untuk mempercepat pembersihan sampah, Bey memastikan ada tambahan alat berat di lokasi untuk mengeruk sampah dan sedimen.

    “Ini ada tambahan alat ya, untuk pengerukan agar lebih cepat lagi,” katanya.

    Sumber:Antaranews.com

  • BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    7cloud.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan adanya kontaminasi bahan aktif obat atau APIs di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu di Jawa Barat.

    Peneliti Kelompok Riset Ekotoksikologi Perairan Darat, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Rosetyati Retno Utami melalui keterangan di Jakarta, Senin (8/7/2024) mengungkapkan penelitian dilakukan dengan menghitung konsumsi obat masyarakat.

    Seperti konsentrasi bahan aktif obat yang diminum, frekuensi penggunaan obat, jumlah obat yang dikonsumsi, dan berapa lama masa sakit responden dalam setahun.

    “Kemudian kami akan mengestimasi seberapa banyak dari rata-rata penggunaan itu dengan ekstrapolasi terhadap jumlah penduduk di suatu DAS.

    Baca Juga: World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    Hasilnya, untuk bahan kimia aktif dapat dilihat bahwa ternyata paracetamol dan amoxcillin menjadi APIs dengan penggunaan paling besar di DAS Citarum Hulu,” kata Rosetyati.

    Rosetyati menemukan penggunaan antibiotik di DAS Citarum Hulu cukup besar, dengan penggunaan paracetamol menjadi posisi tertinggi berjumlah 460 ton per tahun serta amoxcillin 336 ton per tahun.

    Adapun sumber-sumber kontaminasi bahan aktif obat yang mungkin masuk ke dalam Sungai Citarum, kata dia, bisa teridentifikasi dari kegiatan peternakan yang dinilai banyak menggunakan obat-obatan dan juga hormon yang bertujuan meningkatkan hasil peternakan.

    Juga penggunaan obat rumah tangga, industri, dan sistem pengelolaan limbah obat di rumah sakit yang mungkin terdapat kebocoran, sehingga dapat mengakibatkan masuknya obat ke ekosistem akuatik.

    Baca Juga: Atasi Pulau Sampah di Aliran Sungai Citarum, Pemprov Jabar Kerahkan Alat Berat

    Ia menambahkan penanganan masyarakat setempat atas penggunaan bahan aktif obat tersebut dinilai masih kurang, sehingga menimbulkan risiko terhadap pencemaran ekosistem akuatik.

    “Jika terjadi kontaminasi di perairan/ekosistem akuatik, tentu saja akan membahayakan bagi organisme akuatik dan juga kesehatan manusia,” ujarnya.

    Menanggapi temuan BRIN tersebut Plt Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Luki Subehi menekankan perilaku masyarakat terhadap penanganan penggunaan obat.

    Termasuk dalam praktik pembuangan obat yang tidak lagi terpakai penting untuk menjadi perhatian lebih lanjut.

    Baca Juga: Daerah Aliran Sungai Ciliwung dalam Kondisi Kritis, Mungkinkah Dikembalikan Ke Kondisi Normal?

    Menurutnya, tingkat populasi masyarakat yang tinggi di wilayah sekitar DAS menjadikan hal tersebut menjadi penting agar tidak menambah faktor-faktor yang dapat mencemari sungai.

    “Dengan informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya pola perilaku yang tidak mencemari badan air/sungai dan praktik yang lebih baik dalam pengelolaan limbah obat-obatan,” kata Luki Subehi.

    Sumber:Antaranews.com

  • Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

    Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

     

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2022 menemukan banyak tumpahan berbagai mikroplastik mencemari Sungai Citarum bagian tengah yang terletak di Karawang, Provinsi Jawa Barat.

    Periset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Indra Setiadi mengatakan, mikroplastik berupa pelet, film, fiber, dan fragmen dengan kelimpahan di air Sungai Citarum mencapai 102 partikel per meter kubik.

    “Sedangkan kelimpahan di sedimen sebanyak 602 partikel per kilogram,” ujarnya dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

    Kelimpahan pada saluran pencernaan ikan sapu-sapu di Sungai Citarum sekitar 90 partikel per individu dengan ukuran rata-rata yang mendominasi pada air sedimen dan saluran pencernaan kurang dari 0,3 milimeter.

    Baca: BRIN temukan kontaminasi obat aktif di Sungai Citarum

    Mikroplastik masuk ke sungai melalui limpasan angin, limpasan hujan, dan saluran drainase serta degradasi sampah plastik in situ.

    Mikroplastik mempunyai ukuran kurang dari 5 milimeter dengan batas ukuran bawah yang tidak ditentukan, namun pada umumnya menggunakan ukuran 0,33 milimeter.

    Indra menuturkan pencemaran mikroplastik yang terjadi di daerah industri, pemukiman, dan daerah pertanian tidak berbeda secara signifikan.

    BRIN melalukan penelitian itu untuk mengidentifikasi karakteristik dari bentuk dan ukuran, kemudian identifikasi polimer dan kelimpahan mikroplastik pada air, sedimen dan saluran pencemaran ikan sapu-sapu di Sungai Citarum bagian tengah.

    Baca: Cara Pemprov Jabar atasi pulau sampah di Sungai Citarum

    Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada tiga stasiun. Stasiun pertama ada di Wadas, Teluk Jambe Raya sebagai perwakilan industri.

    Stasiun kedua terletak di Pasir Panggang, Teluk Jambe Timur perwakilan pemukiman padat penduduk; dan stasiun ketiga berada di Sumedangan, Teluk Jambe Timur perwakilan wilayah pertanian.

    Pengukuran data di lapangan, jelas Indra, dilakukan dengan pengambilan arus air, lebar badan sungai, kedalaman, suhu, derajat keasaman, dan oksigen terlarut.

    “Pengambilan sampel pada air menggunakan plankton net yang sudah di modifikasi menggunakan bukaan mulut dengan saringan 5 milimeter,” kata Indra.

    Baca: Penggunaan alat pengolah air Sungai Citarum

    “Pengambilan sampel sedimen menggunakan sedimen core tube 2 inci. Sedangkan sampel ikan sapu-sapu diperoleh dari tangkapan nelayan setempat,” imbuhnya.

    Lebih lanjut Indra berharap masalah mikroplastik dari sumber baik primer maupun sekunder bisa segera diatasi agar meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan.

    Pengelolaan daerah aliran sungai Citarum secara menyeluruh juga penting melalui kolaborasi aktif antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat.

    Para ahli juga penting dilibatkan guna mencapai pengelolaan sampah yang berkelanjutan dalam upaya mengurangi pencemaran mikroplastik di Sungai Citarum.

    Sumber:Antaranews.com

  • Tumpukan Sampah di Sungai Citarum Terangkat Semua, Warga Diimbau Tak Lagi Buang Sampah ke Sungai

    Tumpukan Sampah di Sungai Citarum Terangkat Semua, Warga Diimbau Tak Lagi Buang Sampah ke Sungai

    7cloud.asia – Satgas Gabungan mengatakan bahwa lautan sampah di Sungai Citarum, tepatnya di Jembatan Babakan Saapan (BBS), Batujajar, Bandung Barat, saat ini hanya tersisa di bantaran sungai.

    Sementara pulau sampah yang semula menyumbat aliran Sungai Citarum di kawasan Jembatan BBS tersebut sudah terangkat semua.

    “Saat ini, ada sejumlah sisa sampah masih tertumpuk di bantaran sungai untuk bertahap diangkut ke TPS,” kata Dansatgab Kolonel Kav. Edward Francis dalam keterangan di Bandung, Selasa (16/7/2024).

    Edward mengatakan pembersihan sampah yang menumpuk di Sungai Citarum di bawah kawasan Jembatan BBS itu sudah dapat diselesaikan pada Senin (15/7/2024).

    Pembersihan sampah di lokasi tersebut, kata Edward, melibatkan 215 personel gabungan dari TNI, Polri, Dinas Sumber Daya Air Jabar, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, dan masyarakat sekitar.

    Baca: BRIN sebut temuan mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    “Selama proses pembersihan sampah di Sungai Citarum berlangsung lancar dan tidak ada kendala,” katanya.

    Proses pembersihan menggunakan alat-alat berat dan ringan seperti berbagai jenis ekskavator, perahu, truk jungkit (dump truck), dan beberapa alat penunjang lainnya.

    “Aktivitas yang dilakukan adalah pengangkatan sampah ke bantaran, pengangkutan sampah ke TPS, lalu memasang alat penyekat sampah agar berkumpul di satu titik untuk memudahkan ekskavator bekerja,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Edward meminta masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai demi kenyamanan, kesehatan, dan kebaikan bersama.

    “Selanjutnya akan terus kita pantau. Kita tidak berhenti di sini,” tutur Edward.

    Baca: BRIN temukan kandungan obat aktif di Sungai Citarum

    Tumpukan sampah di kolong Jembatan Babakan Saapan (BBS), Batujajar, Bandung Barat menjadi sorotan. Badan sungai seluruhnya tertutup oleh sampah sejak beberapa waktu.

    Kondisi ini tak lepas dari kebiasaan warga di sepanjang aliran Sungai Citarum yang masih membuang sampah ke sungai Citarum. Sedimentasi sungai memperburuk situasi, karena aliran tersumbat.

    “Memang ini kan karena airnya turun, dan adanya sedimen dan terutama juga sampah ini kan kembali kepada kedisiplinan warga. Jadi kami mohon masyarakat jangan membuang sampah sembarangan, buanglah sampah pada tempatnya, dan ya ini akibatnya,” kata penjabat Gubernur Jabar, Bey beberapa waktu lalu.

    Jika aliran sungai lancar, sampah-sampah tersebut akan tertahan di ujung, namun karena volume sampah sudah meninggi ditambah sedimen, sampah tersebut bertumpuk di sepanjang aliran yang melintas di bawah jembatan BBS.

    Sumber:Antaranews.com

  • Riset BRIN: Sumber Air Baku Hulu Sungai Citarum Masih Aman

    Riset BRIN: Sumber Air Baku Hulu Sungai Citarum Masih Aman

    7cloud.asia – Tim peneliti dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyimpulkan sumber air baku masyarakat di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Citarum masih alamiah.

    Hasil data ilmiah BRIN berupa konsentrasi bromide alami pada sumber air baku di wilayah hulu Sungai Citarum di bawah ambang batas bromida pada air tanah adalah 0.5 mg/L (Permenkes RI No 2 Tahun 2023; WHO 2009).

    Sumber air baku masyarakat yang terletak pada wilayah hulu Sungai Citarum yang masih alamiah, di daerah hulu masih relatif aman, jauh dari pengaruh antropogenik dan tidak terdeteksi dari pencemaran bromida.

    “Namun di beberapa titik sumber air di wilayah yang dekat dengan wilayah pertanian dan industri aktif memiliki nilai bromida di atas ambang batas dan perlu penelitian lebih lanjut,” jelas Rizka Rizka Maria, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) dilansir laman resmi BRIN.

    BRIN, ujar Rizka, melakukan penelitian terhadap kumpulan sampel air tanah untuk memahami konsentrasi bromida dalam air tanah dan untuk mengidentifikasi sumbernya.

    Baca Juga: Ekspedisi BRIN Temukan Polusi Mikroplastik di Sungai Citarum Sudah Mengkhawatirkan

    Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mengetahui distribusi bromida alami pada air tanah.

    “Hasil penelitian ini berfungsi sebagai informasi data dasar untuk mengetahui jejak perunutan bromida pada air tanah dan sebagai pelacak jika ditemukan nilai bromat yang melebihi ambang batas pada air minum dalam kemasan,” terang Rizka.

    Penggunaan air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan air minum pada masyarakat. Kualitas air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal utama yang harus diperhatikan.

    Akhir akhir ini isu pencemaran bromat pada air minum dalam kemasan sangat meresahkan masyarakat.

    Senyawa bromat (BrO3–) bukan senyawa almiah yang normal berada di air. Bromat memiliki ciri khas tidak berasa, tidak berwarna dan terbentuk pada saat air minum disterilkan dengan proses ozonasi.

    Baca Juga: BRIN Temukan Kontaminasi Bahan Aktif Obat di Sungai Citarum

    “Bromida alami yang terdapat dalam sumber air minum bereaksi dengan ozon pada saat proses disinfeksi akan menghasilkan senyawa bromat,” sebut Rizka.

    Rizka menjelaskan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan bromat pada air minum, antara lain kandungan pH sumber air, pada air dengan pH tinggi maka reaksi pembentukan bromat akan lebih cepat dibandingkan pada air dengan suhu rendah.

    Konsentrasi ion bromida juga berpengaruh. Semakin tinggi ion bromide maka makin besar kemungkinan terbantuk bromat pada saat proses ozonasi.

    Jumlah ozon yang digunakan saat proses disinfeksi dan waktu reaksi dan durasi kontak antara ozon dan ion bromida juga berpengaruh.

    “Semakin lama waktu reaksi maka semain banyak bromate yang terbentuk,” ucap Rizka.

    Pencemaran air tanah oleh bromida biasanya bersumber dari proses fumigasi di sektor pertanian.

    Baca Juga: World Water Forum ke-10: UNDP Luncurkan Alat Pengolahan Air di Sungai Citarum

    Salah satu alasan penghentian atau penghapusan penggunaan metil bromid adalah karena adanya fakta bahwa gas methyl bromide merusak atmosfer bumi sehingga dalam jangka panjang berdampak pada kerusakan lingkungan secara global.

    Selain itu metil bromide juga berdampak serius kepada kesehatan bagi mereka yang terpapar dalam waktu lama. Dampaknya bagi kesehatan bisa ditandai dengan mual-mual, kelelahan yang berlebihan, gangguan mental dan bahkan efek neurologis lainnya.

    Dilansir health.ny.gov,kandungan bromat dalam air minum berpengaruh pada kesehatan. Penelitian mengungkap, orang yang menelan bromat dalam jumlah besar mengalami gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

    Bromat dalam konsentrasi tinggi juga berpengaruh pada ginjal, sistem saraf, dan gangguan pendengaran. Namun, orang-orang ini terpapar bromat dalam kadar ribuan kali lebih banyak daripada yang didapat dari air minum pada standarnya.

    Paparan bromat dalam kadar tinggi dalam jangka panjang juga menyebabkan kanker pada tikus. Apakah bromat dapat menyebabkan kanker pada manusia masih belum diketahui.

    Baca Juga: Maraknya Industri Air Minum dalam Kemasan Sembunyikan Krisis Air Global

    Beberapa orang mungkin berisiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat paparan bromat atau memiliki kekhawatiran terhadap kehamilan atau bayi yang sedang disusui.

    Karena bromat dapat menyebabkan dampak kesehatan pada ginjal, ada kemungkinan bahwa mereka yang memiliki kondisi ginjal yang sudah ada sebelumnya dapat berisiko lebih tinggi.

    Informasi tentang dampak bromat pada kesehatan reproduksi terbatas, tetapi tidak menunjukkan adanya kekhawatiran pada tingkat yang mendekati standar air minum.

    Selain kesehatan manusia, potensi dampak lingkungan dari pembentukan bromat dalam sistem perairan juga mendorong penelitian.

  • Hari Peduli Sampah Nasional: Aksi Bersih-bersih Bagus Tapi Tak Memadai Atasi Masalah Sampah

    Hari Peduli Sampah Nasional: Aksi Bersih-bersih Bagus Tapi Tak Memadai Atasi Masalah Sampah

    7cloud.asia – Pandawara Group berkolaborasi dengan sejumlah pihak membersihkan sampah di Sektor 8 Sungai Citarum.

    Dalam aksi membersihkan sampah ini Pandawara Group sudah berkomunikasi secara informal dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat

    Kegiatan bersih-bersih sampah di Sungai Citarum ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke salah satu sungai yang paling tercemar di Indonesia tersebut.

    KLH mengapresiasi langkah Pandawara Group yang membersihkan sampah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sembari mengingatkan bahwa isu pengelolaan sampah harus diselesaikan di hulu.

    Dalam konferensi pers Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025 di Jakarta, Senin (3/2/2025), Direktur Pengelolaan Sampah KLH Novrizal Tahar menyampaikan aksi ini tidak cukup.

    Baca: Menyelesaikan masalah sampah plastik dengan ekonomi sirkular

    “Kalau seperti ini terus menerus juga tidak bisa. Kita kan bukan menyelesaikan persoalan ember bocor. Tapi bagaimana kita menambalnya supaya ember itu tidak bocor,” jelas Novrizal dikutip dari Antaranews.com.

    KLH, ujar Novrizal, sudah berkomunikasi dengan Pandawara, yang merupakan kelompok pemuda yang bergerak dalam isu lingkungan dan sampah, untuk masuk juga dalam upaya mengurangi sampah di hulu.

    “Untuk clean up oke, itu persoalan sudah ada di lapangan, tapi juga sekaligus menyadarkan. Tapi yang lebih penting juga kita masuk ke hulu, bagaimana kita mulai mencegah penggunaan barang sekali pakai, kemudian memilah sampahnya di rumah, sampahnya dibawa ke bank sampah, atau bisa tidak kompos di rumah itu menjadi lifestyle,” katanya.

    Secara khusus dia menyoroti keberhasilan kampanye membawa botol minuman yang kini sudah menjadi gaya hidup bagi banyak masyarakat yang mendukung upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai.

    Baca: Saset menyumbang terbesar Sampah Plastik, apa yang harus dilakukan pemerintah

    Kampanye itu sudah dimulai sejak periode 2015-2016 dan kini semakin meluas. Namun demikian, hingga kini belum ada kebijakan serius dari pemerintah untuk mengurangi produksi plastik.

    Novrizal mendorong agar pemilahan sampah dan mengompos juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup baru, yang dapat menekan timbulan sampah organik yang mendominasi jenis sampah berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

    Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik KLH, jumlah timbulan sampah pada 2023 dari 375 kabupaten/kota mencapai 40,1 juta ton.

    Dari jumlah tersebut, sampah organik sisa makanan mengisi 39,62 persen atau 15,9 juta ton dari total timbulan, diikuti sampah plastik di posisi kedua dengan besaran 19,15 persen atau 7,6 juta ton.

  • Sungai Citarum di Kelokan Cikukang Kembali Dipenuhi Sampah

    Sungai Citarum di Kelokan Cikukang Kembali Dipenuhi Sampah

    7cloud.asia – Sungai Citarum tepatnya di oxbow (kelokan) Cicukang, Mekarrahayu, Margaasih, Kabupaten Bandung, Rabu, kembali dipenuhi sampah yang diduga berasal dari Kota dan Kabupaten Bandung.

    Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS Citarum) Mochammad Dian Al Ma’ruf membenarkan kawasan aliran sungai berkelok yang membentuk huruf U itu kembali dipenuhi sungai.

    Bahkan dia mengungkapkan jarak waktu kejadian saat ini hanya beberapa hari setelah tumpukan sampah pertama dibersihkan Sungai Citarum.

    “Benar (kembali dipenuhi sampah). Yang sebelumnya sudah kami bersihkan dari tanggal 25 Januari sampai 2 Februari 2025 sudah bersih, tapi tanggal 14 Februari 2025 kembali seperti semula (penuh sampah),” kata Dian dilansir Antaranews.com, Rabu (27/2/2025)

    Baca: Warga diimbau tak lagi buang sampah ke sungai

    Dian menduga berasal dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, mengingat aliran sungai Citarum di sana berasal dari dua kawasan tersebut.

    “Mungkin dari Kota Bandung dan Kabupaten Bandung,” ujarnya.

    Dian menyebut pihaknya memiliki rencana untuk membersihkan kembali sampah-sampah di kawasan itu, namun belum bisa memperkirakan kapan mengingat peralatan yang ada tengah digunakan untuk keperluan lain di kawasan sepanjang Citarum.

    “Belum bisa dikira-kira (kapan pengerjaannya), tapi mudah-mudahan segera. Karena alat kami sedang menangani di tempat lain (sepanjang Citarum), dimana ada tanggul jebol, ada normalisasi, dan lain-lain,” kata dia.

    Meski rencana untuk pembersihan sampah di Oxbow Cicukang, Kopo, Kabupaten Bandung, diharapkan segera bisa dieksekusi. dia menegaskan kejadian ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak karena terus berulang.

    Baca: Aksi bersih-bersih bagus tapi tak memadai atasi masalah sampah

    “Rencana pasti ada. Tapi hal ini harus jadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah daerah terkait penanganan sampah. Kan enggak mungkin (kalau terus) berulang seperti ini,” tutur Dian.

    Dari laporan warga dan relawan melalui video yang masuk ke redaksi Kantor Berita ANTARA Biro Jawa Barat, Selasa, dengan keterangan “Isi ulang Oxbow Cicukang daerah Kopo”, terlihat sampah telah menutupi seluruh permukaan Sungai Citarum di Oxbow Cicukang tersebut.

    Diketahui pada kejadian sebelumnya, sampah berbagai jenis memenuhi kawasan Oxbow Cicukang, dengan perkiraan volume sampah sebanyak 850 ton.

    Untuk membersihkan sampah di sana sebelumnya, bahkan dengan berbagai pihak turut serta, termasuk BBWS Citarum, Dinas Lingkungan Hidup, Satgas Citarum Sektor 8, komunitas pecinta lingkungan, dan stakeholders lainnya, membutuhkan waktu sekitar seminggu lebih.

  • Memakan Biaya Besar, Indikator Keberhasilan “Citarum Harum“ Harus Diperjelas

    Memakan Biaya Besar, Indikator Keberhasilan “Citarum Harum“ Harus Diperjelas

    7cloud.asia – Meski sudah dilakukan berbagai upaya lewat program Citarum Harum, kualitas air Sungai Citarum hingga kini masih menjadi persoalan dan berada pada kategori tercemar ringan.

    Hal ini terungkap dalam kunjungan kerja Badan Aspirasi Masyarakat atau BAM DPR di Provinsi Jawa Barat, Selasa (23/9/2025), dalam rangka serap aspirasi tata kelola hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

    Dalam kunjungan ini, Ketua BAM DPR, Ahmad Heryawan menegaskan pentingnya keberlanjutan program Citarum Harum sekaligus perlunya kejelasan indikator kinerja (Key Performance Indicator/KPI) agar pelaksanaannya lebih terukur dan akuntabel.

    Indikator capaian program yang telah berhasil memperbaiki kualitas air Sungai Citarum dari semula tercemar berat ini harus lebih jelas, misalnya target peningkatan kualitas air.

    “Jangan sampai targetnya mandeg. Kebersihan air, pencemaran air masih ada di angka 50-an. Harus naiklah sampai ke angka 70, 80. Itu yang kita inginkan. Dan itu baru indikator air, belum indikator yang lain,” tambahnya.

    Baca: BRIN sebut sumber air baku hulu Sungai Citarum masih aman

    Aher menambahkan, aspirasi utama masyarakat yang diterima BAM DPR adalah kelanjutan program untuk memperbaiki kualitas air Sungai Citarum tersebut.

    Namun, dia menekankan agar penggunaan anggaran yang besar setiap tahun benar-benar berbanding lurus dengan capaian nyata di lapangan.

    “Yang pertama aspirasinya adalah program Citarum Harum dilanjutkan. Yang kedua kita ingin mendorong betul dilanjutkan tapi dengan KPI yang jelas. Dengan anggaran setiap tahun, katakanlah keluar dari pemerintah pusat satu koma sekian triliun, itu KPI-nya capaian di lapangannya apa,” tegasnya.

    Aher juga mengingatkan perlunya perhatian serius pada lahan kritis di kawasan hulu. Meski program penghijauan terus dianggarkan setiap tahun, kenyataannya lahan kritis masih banyak ditemukan.

    “Selama ini penghijauan bagus terjadi, tapi apakah setelah ditanam itu terus tumbuh? Itu persoalannya. Karena kalau ditanam itu bertumbuh tanamannya dan menjadi hijau, ya lahan kritis semakin hari makin berkurang. Ternyata faktanya lahan kritis masih ada, padahal penghijauan tiap tahun dianggarkan,” jelasnya.

    Baca: BRIN temukan kontaminasi bahan aktif obat di Sungai Citarum

    Dia mengingatkan, sungai memiliki peran vital dalam peradaban, baik di masa lalu maupun saat ini, sebagai sumber kehidupan masyarakat.

    Ditegaskannya bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga dari hulu hingga hilir.

    “Di kawasan tengah sampai ke hilirnya tentu perlu membangun budaya masyarakat yang baru yang tidak ada pembuangan apapun ke sungai,” tegas Aher

    Budaya tidak membuang sampah di sepanjang DAS Citarum harus menjadi budaya baru. Tidak ada buang limbah kotoran ternak, rumah tangga, maupun industri, sehingga sungai hanya menjadi tempat mengalirnya air untuk kehidupan.

    Perilaku membuang limbah ke sungai telah berlangsung lama dan menjadi salah satu penyebab utama pencemaran Sungai Citarum. Jika tidak segera diubah, kebiasaan tersebut akan menghambat upaya pemulihan kualitas air serta menurunkan manfaat sungai bagi masyarakat luas.

    BAM DPR juga mendorong pemerintah daerah di kawasan Bandung Raya untuk membangun sistem pengolahan sampah terintegrasi lintas kabupaten/kota dengan pendekatan modern sehingga dapat memberikan nilai tambah, seperti menghasilkan listrik atau produk ekonomi lainnya.