Hari Peduli Sampah Nasional: Aksi Bersih-bersih Bagus Tapi Tak Memadai Atasi Masalah Sampah

Written by

in

7cloud.asia – Pandawara Group berkolaborasi dengan sejumlah pihak membersihkan sampah di Sektor 8 Sungai Citarum.

Dalam aksi membersihkan sampah ini Pandawara Group sudah berkomunikasi secara informal dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat

Kegiatan bersih-bersih sampah di Sungai Citarum ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke salah satu sungai yang paling tercemar di Indonesia tersebut.

KLH mengapresiasi langkah Pandawara Group yang membersihkan sampah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sembari mengingatkan bahwa isu pengelolaan sampah harus diselesaikan di hulu.

Dalam konferensi pers Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2025 di Jakarta, Senin (3/2/2025), Direktur Pengelolaan Sampah KLH Novrizal Tahar menyampaikan aksi ini tidak cukup.

Baca: Menyelesaikan masalah sampah plastik dengan ekonomi sirkular

“Kalau seperti ini terus menerus juga tidak bisa. Kita kan bukan menyelesaikan persoalan ember bocor. Tapi bagaimana kita menambalnya supaya ember itu tidak bocor,” jelas Novrizal dikutip dari Antaranews.com.

KLH, ujar Novrizal, sudah berkomunikasi dengan Pandawara, yang merupakan kelompok pemuda yang bergerak dalam isu lingkungan dan sampah, untuk masuk juga dalam upaya mengurangi sampah di hulu.

“Untuk clean up oke, itu persoalan sudah ada di lapangan, tapi juga sekaligus menyadarkan. Tapi yang lebih penting juga kita masuk ke hulu, bagaimana kita mulai mencegah penggunaan barang sekali pakai, kemudian memilah sampahnya di rumah, sampahnya dibawa ke bank sampah, atau bisa tidak kompos di rumah itu menjadi lifestyle,” katanya.

Secara khusus dia menyoroti keberhasilan kampanye membawa botol minuman yang kini sudah menjadi gaya hidup bagi banyak masyarakat yang mendukung upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai.

Baca: Saset menyumbang terbesar Sampah Plastik, apa yang harus dilakukan pemerintah

Kampanye itu sudah dimulai sejak periode 2015-2016 dan kini semakin meluas. Namun demikian, hingga kini belum ada kebijakan serius dari pemerintah untuk mengurangi produksi plastik.

Novrizal mendorong agar pemilahan sampah dan mengompos juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup baru, yang dapat menekan timbulan sampah organik yang mendominasi jenis sampah berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik KLH, jumlah timbulan sampah pada 2023 dari 375 kabupaten/kota mencapai 40,1 juta ton.

Dari jumlah tersebut, sampah organik sisa makanan mengisi 39,62 persen atau 15,9 juta ton dari total timbulan, diikuti sampah plastik di posisi kedua dengan besaran 19,15 persen atau 7,6 juta ton.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *