Tag: tanah

  • SOS! Sepertiga Tanah di Planet Bumi Sudah Rusak

    SOS! Sepertiga Tanah di Planet Bumi Sudah Rusak

    7cloud.asia – Tanah yang kita jejaki ini merupakan bukan benda mati. Tanah adalah ruang kehidupan–rumah bagi begitu banyak mikroba di Bumi. 

    Selanjutnya, kehidupan mikroba ini bertanggung jawab terhadap sejumlah proses penting seperti penguraian, kesehatan tumbuhan dan juga kesehatan tanah.

    Sayangnya, lebih dari sepertiga tanah di Bumi saat ini rusak. Selain menghadapi masalah pengerasan tanah, erosi, kemerosotan nutrisi, masalah tanah lainnya adalah naiknya keasaman tanah.

    Seperti apa kerusakan tanah yang sudah terjadi, berikut tulisan Yuen Yoong Leong, Director of Sustainability Studies, UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN); Professor, Sunway University, Sunway University dan telah diterbitkan di The Conversation.

    Baca: Ilmuwan gunakan jamur dan organisme untuk bersihkan polusi tanah

    Komponen organik dalam tanah, seperti humus (dari hasil penguraian hewan maupun tumbuhan), berperan penting menjaga struktur tanah. Humus menjadi agen pengikat partikel dalam tanah.

    Sama halnya dengan dinding dalam suatu bangunan, tanah yang sehat merupakan struktur yang menjadi kanal-kanal pengaliran air. Kanal ini menjaga tanah dari erosi, sekaligus menjadi habitat makhluk hidup.

    Tanah yang sehat juga memungkinkan manusia mendapatkan makanan yang aman dan bernutrisi. Kesehatan tanah juga penting bagi para petani dan masyarakat adat di negara-negara berkembang.

    Baca: Serunya pandawara gerakkan ribuan orang bebersih pantai

    Sayangnya, lebih dari sepertiga tanah di Bumi saat ini rusak, alias menghadapi masalah pengerasan tanah, erosi, kemerosotan nutrisi, dan naiknya keasaman tanah.

    Kerusakan tanah dapat mengakibatkan seretnya hasil panen dan penurunan kualitas makanan. Pasokan air dalam tanah juga bisa berkurang sehingga risiko kekeringan semakin bertambah.

    Bukan hanya itu, banjir juga berisiko terjadi karena tanah kehilangan kemampuan untuk menahan dan menyaring air.

    Artikel ini akan menjelaskan faktor-faktor utama di balik kerusakan tanah, sekaligus alasan mengapa pemerintah di seluruh dunia harus lebih mengupayakan pelestarian sumber daya ini.

    Baca: Aksi lingkungan anak muda di mata media

    Para perusak tanah
    Industri pertanian global menggunakan pupuk secara berlebihan. Akibatnya, ekosistem mikroba dalam tanah rusak. Praktik berlebihan ini juga meningkatkan ketergantungan industri pertanian terhadap pupuk dan pestisida yang mahal.

    Praktik pertanian modern untuk komoditas tertentu seperti jagung dan kentang juga lebih sering mendahulukan jumlah produksi dengan memakai pupuk nitrogen berlebihan.

    Pupuk ini menyebabkan terlepasnya dinitrogen oksida–gas rumah kaca yang lebih kuat memerangkap panas di atmosfer 300 kali lipat dibandingkan karbon dioksida.

    Selain itu, praktik perladangan agresif seperti pembajakan tanah dengan alat berat juga naik signifikan dalam satu dekade belakangan.

    Baca: Gen Z peduli lingkungan tapi enggan beraksi

    Praktik ini menghancurkan unsur-unsur organik sehingga merusak keberagaman hayati dalam gumpalan tanah.

    Aktivitas manusia juga mengakibatkan tekanan berlebihan terhadap sumber daya tanah.

    Saat ini, sumber daya tanah sudah memasuki titik nadir keselamatannya yang tak hanya membahayakan keberagaman hayati, tapi juga mengganggu pasokan pakan yang berisiko menjerumuskan jutaan orang dalam kemiskinan.

    Kesuburan tanah berarti kelestarian bumi. Studi oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) tahun 2020 menyatakan, tanah dan kawasan yang sehat dapat meningkatkan ketangguhan tanaman menghadapi dampak perubahan iklim seperti kekeringan ataupun banjir.

    Baca: Bakteri pemangsa metana ini bisa menahan laju pemanasan global

    Usaha meningkatkan pengetahuan kita tentang tanah juga dapat menggenjot pemenuhan target ekonomi dan iklim yang berkelanjutan.

    Laporan IUCN di atas menyebutkan, peningkatkan komponen karbon organik dalam lapisan tanah (kedalaman 0-40 cm) sebesar 0,4% per tahun dapat meningkatkan produksi pangan global seperti jagung, beras, dan gandum.

    Angka peningkatannya cukup besar, sekitar 20-40% per tahun.

    Usaha menggenjot komponen organik di lahan pertanian dan padang rumput global juga mendongkrak kapasitas penangkapan karbon sekitar 1 gigaton per tahun hingga 30 tahun mendatang. Jika ditotal, angka tersebut setara dengan penangkapan 10% gas rumah kaca dari aktivitas manusia tahun 2017.

    Baca: Ilmuwan dan warga petakan keberadaan kupu-kupu di Jakarta

    Walau begitu, peningkatan kesuburan tanah tak bisa dicapai hanya dengan penyebaran pupuk saja. Pemerintah di tingkat dunia, regional, dan nasional harus bekerja sama untuk menyehatkan tanah.

    Pemerintah dapat mempelajari berbagai inisiatif yang sudah dilakukan di seluruh dunia untuk meningkatkan kesehatan tanah.

    Pertama, pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung petani ataupun pengelola lahan menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan.

    Salah satu contohnya adalah kebijakan carbon farming yang diterapkan Uni Eropa. Kebijakan ini mengatur pemberian insentif bagi petani maupun pengelola lahan yang menerapkan praktik ramah lingkungan.

    Beberapa contohnya adalah pemberagaman tanaman, penanaman tanaman kacang-kacanagan seperti lentil ataupun kacang tanah, maupun praktik agroforestri (pertanian ataupun peternakan yang dibarengi penanaman tanaman berkayu).

    Baca: DPR usulkan insentif bagi daerah penghasil karbon

    Langkah ini dapat meningkatkan penyerapan karbon dalam tanah sekaligus mendukung penyehatan ekosistem dengan makhluk-makhluk yang menguntungkan seperti bakteri, jamur, protozoa, dan nematoda (cacing).

    Untuk meningkatkan kesuburan tanah dan keberagaman hayatinya, pemerintah perlu mengalihkan anggaran subsidi pupuk kimia ke solusi penyuburan tanah secara alami seperti pupuk organik dan praktik kompos berbasis sains.

    Negara-negara seperti Brasil, Cina, India, Indonesia, dan Thailand sudah menerapkan pengurangan subsidi ini.

    Kedua, pemerintah perlu berpartisipasi dalam inisiatif global untuk meningkatkan kualitas tanah.

    Organisasi-organisasi internasional seperti Badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan (UN SDSN), menggaet para pakar, pemerintah, sektor swasta, dan organisasi lingkungan untuk menekankan masalah lingkungan krusial, termasuk pentingnya kesuburan tanah.

    Baca: Mengulik perdagangan karbon 

    Pertemuan tahunan seperti Pertemuan Target Pembangunan Berkelanjutan PBB dan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 28) tahun ini dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk menyadari kelayakan dan keuntungan dari pemulihan tanah besar-besaran.

    Ketiga, pendidikan publik tentang ilmu tanah juga penting.

    Salah satu contohnya, museum tanah yang telah didirikan di banyak negara. Museum ini berfungsi mendidik orang-orang tentang berbagai jenis tanah, bagaimana tanah terbentuk, penggunaan dan ancamannya, serta langkah-langkah pelestariannya.

    Usaha untuk merawat hubungan timbal balik antara manusia dan kehidupan tanah membutuhkan perubahan pola pikir.

    Pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus membuat masyarakat menghormati siklus alam yang sebenarnya mereka andalkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Degradasi Tanah

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Degradasi Tanah

    7cloud.asia – Salah satu masalah lingkungan serius yang dihadapi penduduk Bumi adalah degradasi tanah. Menurut organisasi dunia PBB, sekitar 40% tanah di bumi mengalami degradasi.

    Degradasi tanah mengacu pada hilangnya bahan organik, perubahan kondisi struktural dan/atau penurunan kesuburan tanah dan sering kali disebabkan oleh aktivitas manusia.

    Dilansir earth.org, aktivitas manusia yang memicu degradasi tanah dan lingkungan itu antara lain adalah praktik pertanian tradisional termasuk penggunaan bahan kimia beracun dan polutan.

    Baca: Mengapa pupuk kandang lebih disarankan ketimbang pupuk kimia

    Jika keadaan seperti ini terus berlanjut hingga tahun 2050, para ahli memperkirakan akan terjadi tambahan degradasi tanah di wilayah yang hampir seluas Amerika Selatan.

    Tapi ada lebih banyak lagi mengenai hal tersebut. Jika kita tidak mengubah praktik-praktik sembrono kita dan mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan tanah dan mencegah degradasi tanah

    Mengapa degradasi tanah ini harus dicegah? Karena degradasi tanah akan mengakibatkan ketahanan pangan bagi miliaran orang di seluruh dunia akan terancam.

    Baca: Ancaman krisis pangan akibat pengolahan tanah yang tak ramah

    Diperkirakan, degradasi tanah akan mengakibatkan produksi pangan berkurang 40% dalam waktu 20 tahun saat jumlah penduduk dunia terus bertambah.

    Saat ini jumlah penduduk dunia mendekati 8 miliar orang, dan diproyeksikan akan mencapai 9,3 miliar orang pada 2030.

    Jadi degradasi tanah ini harus menjadi perhatian serius, dan pertanian yang berkelanjutan perlu dilakukan mulai sekarang.

    Baca: Pertanian cerdas untuk tingkatkan ketahanan pangan

    Berbicara soal degradasi tanah ini bisa dijelaskan sebagai berikut. Bahan organik merupakan komponen penting tanah karena memungkinkannya menyerap karbon dari atmosfer.

    Tumbuhan menyerap CO2 dari udara secara alami dan efektif melalui fotosintesis dan sebagian karbon ini disimpan di dalam tanah sebagai karbon organik tanah (SOC).

    Tanah yang sehat memiliki minimal 3-6% bahan organik. Namun, hampir di seluruh dunia, kandungan organik jauh lebih rendah dari itu.

    Baca: Sawit, antara ketahanan pangan dan ancaman pada lingkungan

    Kondisi ini dipicu oleh berbagai hal, seperti tanah longsor atau penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. 

    Karena itu penggunaan pupuk organik dan sistem pertanian organik mulai digalakkan untuk mencegah degradasi tanah semakin parah.

    Sumber: earth.org baca artikel asli di sini

    ​

  • Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Ini Penyebabnya

    Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Setiap tahun, dunia kehilangan miliaran ton lapisan subur tanah akibat penggembalaan berlebihan, penggundulan hutan, polusi, dan sejumlah ancaman lainnya.

    Para ahli mengatakan, hal ini merupakan ancaman bagi pasokan pangan dunia, pasalnya tanah menjadi pendukung sebagian besar sumber makanan yang dikonsumsi manusia.

    Tanah merupakan salah satu gudang terpenting karbon yang menyebabkan pemanasan global. Dan menurut penelitian terbaru yang dirilis di jurnal Nature, hutan ini adalah rumah bagi hampir 60 persen spesies.

    Tanah menjadi topik hangat ketika negara-negara di dunia berkumpul di Riyadh, Arab Saudi untuk menghadiri Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (UN Convention to Combat Desertification/UNCCD).

    Dalam pertemuan itu, para perunding dari berbagai negara membahas komitmen yang telah dibuat oleh negara-negara untuk membendung hilangnya lahan dan mencapai netralitas degradasi lahan pada tahun 2030.

    “Degradasi tanah berdampak pada ketahanan pangan, sistem air, keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim,” kata Bruno Pozzi, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di Program Lingkungan PBB (UNEP).

    Baca: UNCDD sebut lebih separuh permukaan Bumi terancam kekeringan permanen

    “Dengan mengatasi akar penyebab degradasi tanah, kita dapat memulihkan kesehatan tanah dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi ratusan juta orang.”

    Pada Hari Tanah Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 5 Desember, UNEP merilis lima alasan utama penurunan kesehatan tanah dan solusi potensial.

    Kekeringan
    Salah satu penyebab penurunan kualitas tanah adalah kekeringan. Menurut laporan Global Land Outlook UNCCD, lebih dari sepertiga penduduk dunia tinggal di wilayah yang kekurangan air.

    Ketika lahan terdegradasi, tanah kehilangan kemampuannya untuk menahan air, menyebabkan hilangnya vegetasi dan menciptakan lingkaran setan kekeringan dan erosi.

    Masalah ini, yang diperburuk oleh perubahan iklim, terutama terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga berkontribusi terhadap kerawanan pangan dan kelaparan di sana.

    Melalui praktik pengelolaan air, seperti irigasi tetes dan pemanenan air hujan, serta restorasi ekosistem, masyarakat dapat meningkatkan kelembapan tanah dan mengurangi dampak kekeringan.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Degradasi lahan
    Aktivitas manusia telah mengubah lebih dari 70 persen daratan di planet Bumi, menyebabkan degradasi hutan, lahan gambut, dan padang rumput secara luas, serta beberapa ekosistem lainnya.

    Hal ini mengurangi kesuburan tanah, menurunkan hasil panen dan mengancamn ketahanan pangan.

    Peristiwa cuaca ekstrem, seperti hujan lebat yang diikuti kekeringan, mempercepat degradasi.

    Di sisi lain penggundulan hutan dan penggembalaan berlebihan menurunkan kualitas tanah dengan memadatkan permukaan tanah. Selain menurunkan daya serap air, hal ini juga menghabiskan nutrisi penting.

    Untuk mengatasi hal ini, praktik seperti menambahkan kompos dan bahan organik ke dalam tanah, meningkatkan teknik irigasi, dan menggunakan mulsa untuk menjaga kelembapan sangatlah penting.

    Memulihkan kesehatan tanah melalui pertanian konservasi juga membantu mencegah degradasi lahan lebih lanjut.

     

  • Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Industri Pertanian Menjadi Salah Satu Penyebab

    Kesehatan Tanah Global Terus Menurun, Industri Pertanian Menjadi Salah Satu Penyebab

    7cloud.asia – Kesehatan tanah menjadi topik hangat Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) Konvensi PBB untuk Memerangi Penggurunan (UN Convention to Combat Desertification/UNCCD) di Riyadh, Arab Saudi.

    Para perunding membahas komitmen yang telah dibuat oleh negara-negara untuk membendung hilangnya lahan akibat penggurunan dan upaya mencapai netralitas degradasi lahan pada tahun 2030.

    “Degradasi tanah berdampak pada ketahanan pangan, sistem air, keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim,” kata Bruno Pozzi, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di Program Lingkungan PBB (UNEP).

    “Dengan mengatasi akar penyebab degradasi tanah, kita dapat memulihkan kesehatan tanah dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi ratusan juta orang.”

    Di laman resminya UNEP merilis lima alasan utama penurunan kesehatan tanah dan solusi potensial yang bisa dilakukan.

    Dalam tulisan sebelumnya telah diulas dua penyebab utama penurunan kesehatan tanah global, yakni kekeringan dan degradasi lahan akibat aktivitas manusia.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Dalam tulisan ini akan diulas tiga hal lain yang menyebabkan turunnya kesehatan tanah, seperti dilansir di unep.org 

    Industri pertanian
    Meskipun pertanian industri menghasilkan pangan dalam jumlah besar, hal ini sangat membahayakan kesehatan tanah.

    Penggunaan alat berat, pengolahan tanah, penanaman tunggal, serta penggunaan pestisida dan pupuk secara berlebihan menurunkan kualitas tanah, mencemari sumber air dan berkontribusi terhadap hilangnya keanekaragaman hayati.

    UNEP menyebut industri pertanian juga menyumbang sekitar 22 persen emisi gas rumah kaca global.

    Praktik-praktik berkelanjutan, seperti pengelolaan tanah tanpa pengolahan, pemasukan kembali hewan ke dalam sistem tanam, diversifikasi tanaman, dan penggunaan bahan organik, dapat membantu menjaga integritas tanah dan memulai biologi tanah yang tidak aktif.

    Peralihan ke pertanian tanpa pengolahan tanah, penggunaan tanaman penutup tanah dan penggabungan pepohonan dan semak dengan tanaman dapat memperbaiki struktur tanah, mencegah erosi dan meningkatkan kesuburan.

    Misalnya, banyak negara di Afrika yang mengadopsi model “kebun hutan” yang menggabungkan pepohonan dan semak belukar ke dalam sistem pertanian dengan tujuan membangun kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen petani kecil.

    Baca: Pertanian regeneratif berhasil mengubah daerah gersang di Portugal

    Bahan kimia dan polusi
    Polusi tanah, seringkali tidak terlihat tetapi sangat membahayakan tanaman, hewan, dan kesehatan manusia.

    Proses industri, pertambangan, pengelolaan limbah yang buruk, dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan memasukkan bahan kimia, seperti pupuk sintetis, pestisida, dan logam berat, ke dalam tanah.

    Penggunaan pupuk yang berlebihan mengganggu keseimbangan unsur hara, sementara pestisida merugikan organisme tanah yang bermanfaat, seperti cacing tanah dan jamur.

    Logam berat, seperti timbal dan merkuri, terakumulasi di dalam tanah, mengganggu aktivitas mikroba dan penyerapan unsur hara tanaman.

    Mengurangi polusi, meminimalkan penggunaan bahan kimia, dan mendorong pertanian organik dapat memulihkan vitalitas tanah.

    Baca: UNCDD sebut separuh permukaan Bumi terancam kekeringan permanen

    Pola makan hewani
    Pola makan dan pilihan nutrisi dunia saat ini secara signifikan mempengaruhi kesehatan tanah melalui praktik pertanian yang digunakan untuk memproduksi pangan.

    Pola makan yang bergantung pada tanaman pokok, seperti gandum, jagung, dan beras, sering kali mendorong pertanian monokultur intensif. Praktek ini menghabiskan nutrisi tanah, mengurangi bahan organik, dan menyebabkan pemadatan dan erosi.

    Demikian pula, pola makan yang tinggi akan produk hewani, terutama daging sapi, meningkatkan penggunaan lahan untuk penggembalaan dan pakan tanaman. Penggembalaan ternak yang berlebihan memperburuk pemadatan tanah dan erosi.

    Transisi ke pola makan nabati dan keberagaman pangan dapat mengurangi permintaan akan pertanian intensif.

    Dengan menyelaraskan kebiasaan pola makan dengan praktik pertanian berkelanjutan, suatu negara dapat meningkatkan kesehatan tanah dan menjamin ketahanan pangan jangka panjang.

  • Sahil Jha, Bersepeda Keliling Dunia untuk Kampanyekan Pelestarian Tanah

    Sahil Jha, Bersepeda Keliling Dunia untuk Kampanyekan Pelestarian Tanah

    7cloud.asia – Namanya Sahil Jha. Aktivis muda asal India ini saat ini masih berumur 19 tahun. Namun, usia mudanya ternyata tak mengecilkan semangat Sahil Jha dalam mengampayekan perlindungan pada lingkungan khususnya tanah

    Saat ini Sahil Jha sedang bersepeda, menempuh jarak puluhan ribu kilometer melintasi 20 negara di empat benua, untuk mengampanyekan pentingnya pelestarian tanah.

    Pelestarian tanah menurut Sahil, merupakan bagian dari solusi atas krisis iklim dan ketahanan pangan global. Sayangnya, masih banyak warga dunia yang mengabaikan hal ini.

    Sahil memulai dari Australia pada 21 Maret 2025 lalu. Di akun intagramnya, Sahil menulis dirinya siap untuk memulai misi global untuk melindungi tanah dari kepunahan dengan meningkatkan kesadaran dan memengaruhi reformasi kebijakan.

    “Bergabunglah dengan saya dalam tantangan epik ini untuk melindungi tanah kita dan masa depan generasi mendatang. #savesoil – Mari kita wujudkan ini,“ tulisnya.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Pada Juni ini, Sahil berada di Indonesia. Bali menjadi pulau pertama di Indonesia yang menjadi persinggahan Sahil sebelum melanjutkan perjalanannya ke Asia.

    Sahil Jha berkesempatan membagikan pemikirannya dalam diskusi bertajuk “Save Soil Movement: Sahil Cycling Across Four Continents” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Jumat (13/6/2025).

    Di depan puluhan orang yang hadir Sahil Jha menyampaikan apa arti dan tujuan dari gerakan Save Soil.

    Sahil Jha juga menyampaikan bahwa tanah yang sehat adalah kunci untuk menghasilkan makanan berkualitas dan menjaga kelangsungan hidup manusia.

    Baca: Mikroalga sianobakteria bisa perbaiki kesuburan tanah marginal

    Ia menceritakan bahwa awalnya ia tidak tahu banyak tentang tanah. Tetapi setelah banyak membaca dan melakukan riset, ia menyadari bahwa tanah merupakan hal yang sangat penting untuk kehidupan manusia.

    “Tanpa tanah yang sehat, tidak akan ada makanan sehat yang bisa kita ciptakan untuk para generasi berikutnya,” ujar Sahil seperti dilansir di laman ugm.ac.id.

    Degradasi tanah akibat konversi lahan, intensifikasi pertanian, urbanisasi, dan dampak perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi lingkungan.

    Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran publik serta penguatan kolaborasi lintas sektor dan institusi dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan tanah melalui gerakan kampanye penyelamatan tanah.

    Baca: Kesuburan tanah meningkat setelah PLTU batu bara dipensiunkan

  • Proses Degradasi Tanah Global Semakin Cepat: Dunia Diingatkan Ancamannya Terhadap Produksi Pangan

    Proses Degradasi Tanah Global Semakin Cepat: Dunia Diingatkan Ancamannya Terhadap Produksi Pangan

    7cloud.asia – Proses degradasi atau penurunan kualitas tanah mengalami percepatan di seluruh dunia. Menurut perkiraan PBB, saat ini sekitar 75 persen lahan global telah mengalami degradasi. Angka ini meningkat dua kali lipat dari 30 persen hanya satu dekade lalu.

    Dalam tulisannya di Earth.org, seorang Profesor Madya Klinis dari Universitas New York, Cristina-Ioana Dragomir menyebut, jika tren saat ini berlanjut, maka lebih dari 90 persen tanah di dunia akan mengalami degradasi pada tahun 2050.

    “Skala kehilangan ini sulit dibayangkan, tetapi angkanya sangat mencengangkan: sekitar 100 juta hektare tanah hilang akibat degradasi setiap tahun,“ terangnya.

    Penelitian memperkirakan bahwa dunia kehilangan antara 24 dan 40 miliar ton tanah subur setiap tahun, sementara para peneliti mendokumentasikan penurunan tajam dalam keanekaragaman hayati.

    Cristina mengingatkan, konsekuensi degradasi tanah ini bakal meluas jauh melampaui pertanian. Ini termasuk menurunnya kesehatan tanah, melemahkan pengaturan air, hilangnya keanekaragaman hayati, serta melemahkan mitigasi iklim.

    Semua ini, ujarnya, merupakan penguat ancaman keamanan dan mengancam kemajuan pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs).

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Selama lebih dari setengah abad, para ilmuwan tanah telah memperingatkan tentang percepatan kerusakan substrat hidup Bumi. Namun terlepas dari data sejumlah laporan internasional, dan kerangka kebijakan, kerusakan terus berlanjut selama beberapa dekade terakkhir.

    Cristina menambahkan, erosi, hilangnya bahan organik, kontaminasi, salinisasi, dan keruntuhan struktur semuanya merusak stabilitas biosfer.

    “Degradasi tanah bukan lagi masalah teknis yang menunggu solusi yang tepat; hal itu dapat dipahami sebagai krisis peradaban,“ tandasnya.

    Kegagalan dalam Pembentukan Dunia
    Mungkin ada yang bertanya, jika ilmu pengetahuan sudah jelas, mengapa krisis ini terus berlanjut? Jawabannya terletak bukan hanya pada kebijakan yang tidak memadai tetapi pada kegagalan konseptual yang lebih dalam tentang bagaimana tanah dipahami.

    Masyarakat modern terus menganggap tanah sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, atau menganggapnya sebagai “kotoran”. Masyarakat modern sering memperlakukan tanah sebagai substrat pasif yang dapat diekstraksi atau diganti sesuka hati.

    Pandangan dunia yang berakar pada pembagian alam-budaya yang mengakar dalam modernitas yang membayangkan manusia terpisah dari alam, membentuk lembaga politik, sistem ekonomi, dan kebiasaan konsumsi masyarakat.

    Baca: Degradasi tanah menjadi masalah serius bagi lingkungan

    Selanjutnya, kondisi ini mempersempit cakrawala etis dan imajinatif dari mana tindakan lingkungan muncul dan bertumbuh.

    “Kita hidup dalam “kesenjangan mobilisasi”, terjebak antara kejelasan bukti ilmiah dan kelembaman kerangka kerja budaya, emosional, dan sosial-politik kita,“ Cristina mengingatkan.

    Menanggapi krisis ini, menurut Cristina, dibutuhkan lebih dari sekadar peningkatan teknologi atau peraturan yang lebih ketat.

    Hal ini menuntut penataan ulang imajinasi – sebuah pandangan dunia di mana tanah dialami bukan sebagai komoditas mati, tetapi sebagai pencipta kehidupan bersama: mitra relasional yang hidup yang kesejahteraannya tidak terpisahkan dari kesejahteraan kita sendiri.

    Hambatan untuk melindungi tanah bukanlah kurangnya pengetahuan ilmiah, tetapi dapat dipahami sebagai kegagalan dalam “pembentukan pandangan dunia”.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan jamur untuk membersihkan polusi tanah

    Baca: Pemanfaatan mikroalga sianobakteria untuk perbaiki kesuburan tanah marginal 

  • Berbagai Upaya Dunia Menghadang Degradasi Tanah yang Kian Laju

    Berbagai Upaya Dunia Menghadang Degradasi Tanah yang Kian Laju

    7cloud.asia – PBB memperkirakan saat ini sekitar 75 persen lahan global telah mengalami degradasi. Angka ini meningkat dua kali lipat dari 30 persen hanya satu dekade lalu.

    Dan, percepatan proses degradasi tanah ini semakin cepat dalam beberapa dekade terakhir. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat global mengalami kekosongan konsep dalam menjaga kelestarian tanah.

    Kabar baiknya, dalam kekosongan konseptual dalam menyelamatkan tanah, aktor-aktor baru dan bentuk-bentuk kepemimpinan lingkungan alternatif mulai terbentuk.

    Profesor Madya Klinis dari Universitas New York, Cristina-Ioana Dragomir menyebut tokoh-tokoh dari tradisi spiritual melangkah ke dalam wacana lingkungan skala planet, menantang asumsi bahwa tata kelola lingkungan hanya milik para ahli ilmiah dan teknokrat.

    Salah satu respons penting terhadap kebuntuan ini adalah gerakan Selamatkan Tanah, yang diprakarsai oleh Jagi Vasudev, yang dikenal secara global sebagai Sadhguru.

    Baca: Proses degaradasi tanah global semakin cepat

    Gerakan ini, yang telah dipersiapkan selama beberapa dekade, akhirnya diluncurkan pada tahun 2022, ketika mistikus berusia 65 tahun itu melakukan perjalanan sepeda motor selama 100 hari sejauh 30.000 kilometer melintasi 27 negara.

    Sepanjang perjalanan, ia berpartisipasi dalam lebih dari 600 acara publik, bertemu dengan puluhan kepala negara, berkolaborasi dengan badan-badan PBB, sambil menciptakan kampanye digital global.

    “Ketika saya bertanya kepadanya mengapa seorang pemimpin spiritual mengadvokasi kesehatan tanah, dia menatap langsung ke mata saya dan berkata: “Mengapa tidak? Bukankah saya juga tinggal di sini?”,” tulis Cristina di Earth.org.

    Jawaban pemimpin spiritual yang tampak sederhana ini mengubah kerangka percakapan.

    Ini menunjukkan bahwa unsur yang hilang dalam restorasi tanah global bukanlah lebih banyak data, tetapi jenis keterlibatan yang berbeda, yang secara bersamaan berbicara tentang kehidupan manusia dan tanggung jawab planet.

    Baca: Sepertiga tanah di planet Bumi sudah rusak

    Spiritual-Jaringan
    Gerakan Selamatkan Tanah bukanlah kampanye lingkungan tradisional tetapi mode aksi baru yang menggabungkan visi spiritual, infrastruktur digital, dan advokasi transnasional yang memobilisasi orang dalam skala besar.

    Meskipun spiritualitas telah lama terhubung dengan ekologi (Laudato Si,’ kosmologi ekologis masyarakat adat), Selamatkan Tanah berinovasi dengan beroperasi dalam ekosistem digital yang sangat terhubung.

    Dia menggunakan model hibrida yang menciptakan lingkunganisme spiritual-jaringan.

    Pertama, ia menawarkan pandangan dunia: narasi bahwa tanah adalah “bagian dari kehidupan kita,” menghubungkan lingkungan dengan kesadaran batin.

    Kedua, pekerjaannya didasarkan pada legitimasi ilmiah, memanfaatkan kemitraan dengan ilmuwan tanah, ahli agronomi, dan pakar PBB.

    Terakhir, elemen-elemen ini didorong melalui strategi digital yang terorganisir dengan baik dengan tujuan memengaruhi hasil kebijakan. Ini termasuk pertemuan dengan kepala negara, mengembangkan gerakan kesadaran yang bertujuan menghasilkan hasil politik.

  • Pertanian Alami Kembalikan Kesuburan Tanah yang Rusak Akibat Pertanian Monokultur

    Pertanian Alami Kembalikan Kesuburan Tanah yang Rusak Akibat Pertanian Monokultur

    7cloud.asia – Pertanian monokultur yang melibatkan penanaman satu jenis tanaman di area yang luas secara berulang-ulang menjadi salah satu penyebab utama di balik krisis lingkungan di banyak negara, termasuk Andhra Pradesh, India

    Dilansir di laman resmi Program Lingkungan PBB, uneo.or, perluasan pertanian monokultur seringkali membutuhkan penghancuran lanskap yang beragam dan menggantinya dengan lahan yang seragam.

    Untuk mengatasi kondisi ini, UNEP meluncurkan inisiatif Pertanian Alami yang Dikelola Komunitas Andhra Pradesh (APCNF) pada tahun 2014

    “Pendekatan pertanian konvensional ini adalah musuh keanekaragaman hayati. Dengan menerapkan pertanian monokultur, Anda juga mendorong erosi tanah, limpasan air, dan pelarutan nutrisi,” kata Vijay Kumar, Wakil Ketua Eksekutif Rythu Sadhikara Samstha (RySS), perusahaan nirlaba di balik AFCNF.

    Madhuri Nanda, Direktur untuk Asia Selatan di Rainforest Alliance, salah satu mitra pelaksana proyek, menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya apa yang terjadi di lahan pertanian, tetapi bagaimana pendekatan ini memengaruhi lingkungan yang lebih luas.

    “Dalam pertanian konvensional, Anda menggunakan lebih banyak bahan kimia sintetis, dan seluruh lingkungan di sekitarnya mengalami degradasi,” katanya.

    Baca: Pertanian Monokultur Hancurkan Panen Petani di India

    Dia menambahkan, baik itu hutan, penggunaan air yang berlebihan, atau bahan kimia, yang menciptakan ketidakseimbangan dalam keanekaragaman hayati.

    Pertanian alami yang dipromosikan oleh APCNF sama sekali tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia.

    Sebaliknya, para petani menyiapkan “bio-stimulan” alami dari bahan-bahan seperti urin dan kotoran sapi, yang menghidupkan kembali organisme hidup yang ada di dalam tanah.

    Mikroba ini meningkatkan kesuburan tanah dengan menguraikan bahan organik dan mineral, melepaskan nutrisi.

    “Sejumlah kecil bio-stimulan akan memicu mikroba tanah. Setelah beberapa tahun, kita bahkan tidak membutuhkannya lagi ketika tanah menjadi subur,” jelas Kumar

    Filosofi di balik pendekatan ini adalah bahwa beragam tanaman akan memberi makan tanah, dan tanah akan tetap sehat, memberi makan tanaman pada gilirannya tanpa perlu pupuk eksternal.

    Baca: Pertanian Hidroponik Tak Bisa Sepenuhnya Disebut Ramah Lingkungan

    “Dalam sistem konvensional, itu adalah tanaman versus keanekaragaman hayati,” Kumar merenungkan. “Di sini, itu adalah tanaman dan keanekaragaman hayati – jadi tanaman itu sendiri adalah bagian dari keanekaragaman hayati.”

    Para petani yang mengamati, bereksperimen, dan belajar satu sama lain di lapangan adalah landasan proyek ini. Dan Kumar percaya bahwa keterlibatan erat dengan kelompok swadaya perempuan adalah salah satu fitur unik dari inisiatif ini.

    Perempuan di wilayah ini memainkan peran penting dalam mendorong perubahan perilaku dalam keluarga dan sering meyakinkan anggota keluarga lainnya untuk mencoba praktik baru.

    Bagi Burudi Kumari, seorang petani lokal yang telah mempraktikkan pertanian alami selama lima tahun, perubahannya sangat nyata.

    “Kualitas tanah telah meningkat, dan saya menghabiskan lebih sedikit uang untuk pupuk, sehingga pendapatan saya meningkat,” katanya.

    Kumari sekarang menjadi pemimpin petani di kelompok swadayanya, membantu orang lain melakukan transisi. “Saya sangat bangga terpilih sebagai pemimpin petani,” katanya. “Ini berarti saya sekarang memperkenalkan orang lain pada pertanian alami.”

    Baca: Peluang Pengembangan Pertanian Vertikal di Masa Depan

    Namun, menanam makanan secara berkelanjutan hanya berhasil jika petani dapat memperoleh penghasilan, sehingga inisiatif ini juga melibatkan sektor swasta, menghubungkan petani ke pasar, dan meningkatkan kepercayaan konsumen melalui sertifikasi dan ketertelusuran.

    “Konsumen dapat memverifikasi bahwa kopi atau teh yang mereka minum berasal dari pertanian yang mempraktikkan pertanian berkelanjutan – dan bahwa pertanian tersebut tidak menggunakan pekerja anak atau kerja paksa, dan menghormati upah minimum,” jelas Nanda.

    Hasilnya menjanjikan, dengan proyek tersebut melaporkan setidaknya peningkatan produktivitas dan pendapatan sebesar 30 persen bagi petani yang mengadaptasi pendekatan pertanian alami.

    Inisiatif ini telah menjangkau lebih dari 3 juta petani di Andhra Pradesh dan berencana untuk menggandakan jumlah tersebut, sambil berbagi pengalamannya dengan negara-negara di seluruh dunia.

    Proyek ini telah menunjukkan bahwa memberi makan masyarakat tidak harus mengorbankan alam, kata mereka yang terlibat.

    “Pertanian alami menempatkan keanekaragaman hayati sebagai inti utamanya. Itu bukan produk sampingan – itu adalah produk utama,” kata Kumar.

    Baca: Pertanian Regeneratif Mengubah Daerah Gersang di Portugal