Tag: tanggap darurat

  • Tanggap Darurat Sampah di Bandung Raya Diperpanjang

    Tanggap Darurat Sampah di Bandung Raya Diperpanjang

    7cloud.asia – Status tanggap darurat sampah di Bandung Raya, Jawa Barat telah berakhir kemarin Minggu (24/09/2023). Kini statusnya diperpanjang hingga 25 Oktober 2023.  

    “Insya Allah kita sedang ajukan itu ya (perpanjangan), suratnya diproses di Biro Hukum (Pemprov Jabar) ,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Prima Mayaningtyas dikutip Kompas.com

    Sebelumnya, Pemprov Jabar menetapkan status darurat sampah pada 24 Agustus lalu. Status ini diberlakukan usai kebakaran yang terjadi di TPA Sarimukti.

    Kini kebakaran di TPA Sarimukti mulai padam. DLH Jawa Barat kini tengah fokus pada penataan area yang terbakar.

    “Penataan lahan buat sampah yang masuk dan juga penertiban pemulung di lokasi, lalu upaya penataan sampah yang ada di kabupaten dan kota,” jelas Prima.

    Tak hanya penataan di TPA Sarimukti, pihaknya juga mendorong kepala daerah di Bandung Raya untuk memperbaiki tata kelola sampah.

    Hal ini untuk mencegah agar status darurat sampah tak terulang kembali. “Mereka (kepala daerah) harus menata kelola sampah masing-masing. Jadi penanganan di hulu sama di hilir,” ucapnya.

    Sementara itu, Penjabat Gubernur Jabar, Bey Triadi Machmudin menjelaskan kebakaran TPA Sarimukti saat ini sudah mulai tertangani.

    Saat ini proses pendinginan tengah dilakukan di TPA Sarimukti. “Sarimukti sudah padam, tapi saya belum berkomunikasi dengan wali kota dan bupati yang menggunakan TPA Sarimukti,” kata Bey.

    Menurutnya kepala daerah di Bandung Raya telah berkomitmen untuk memilah sampah anorganik dan organik mulai dari hulu.

    “Kota Cimahi, Kota Bandung, KBB, Kabupaten Bandung. Mereka berjanji akan mulai mengolah sampah dari hulu, jadi mudah-mudahan ada perubahan,” katanya.

    Sementara itu, anggota Tim Masyarakat Peduli TPA Sarimukti, Wahyu Dharmawan H kepada 7cloud.asia menjelaskan pemprov Jawa Barat perlu segera melakukan transformasi manajemen pelayanan persampahan agar kebakaran tak terulang.

    Transformasi ini juga dilakukan disetiap kota dan kabupaten di Jawa Barat. Wahyu percaya pemprov Jawa Barat mampu melakukannya.  

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kebakaran Gunung Lawu Berlanjut, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    Kebakaran Gunung Lawu Berlanjut, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu masih terjadi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Jawa Timur, menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari.

    “Bupati Ngawi menetapkan Status Tanggap Darurat kejadian bencana kebakaran Gunung Lawu, dengan menerbitkan surat, selama 14 hari terhitung sejak tanggal 30 September hingga 13 Oktober 2023,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ngawi, Prila Yuda Putra.

    Dilansir Antaranews Penetapan status tersebut diberlakukan menyusul kebakaran di Gunung Lawu yang belum tuntas. Bahkan hingga Senin (2/10/2023) siang api masih tampak.

    Baca: Butuh langkah komprehensif tuk atasi karhutla

    Kebakaran di lereng Gunung Lawu sudah menjalar ke wilayah sekitar seperti Kabupaten Magetan Jawa Timur dan Karanganyar, Jawa Tengah hingga menghanguskan lahan sekitar 200 hektare.

    Kebakaran hutan di Gunung Lawu pertama kali muncul di wilayah Kecamatan Jogorogo, Ngawi dan berlangsung sejak beberapa hari terakhir.

    Sebelumnya dalam satu bulan terakhir hutan di Gunung Lawu  telah mengalami beberapa kali kebakaran.

    Kondisi lahan yang kering serta angin yang bertiup kencang membuat kebakaran kembali terjadi dan meluas.

    Baca: Kemarau panjang, BMKG ingatkan potensi kebakaran di sejumlah wilayah

    Berdasarkan data BPBD setempat, titik api muncul dari Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Manyul dan Campur Rejo, Kecamatan Jogorogo, area Gunung Lawu sisi utara masuk Kabupaten Ngawi kemudian meluas.

    Upaya pemadaman terus dilakukan hingga kini oleh ratusan personel gabungan dari BPBD Jatim, Agen Bencana Provinsi Jatim, Kabupaten Ngawi, BPBD Kabupaten Magetan, TNI, Polri, Polhut, BKSDA.

    Selain itu, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Ngawi, Perhutani KPH Ngawi, serta relawan, dan masyarakat juga turut serta dalam upaya pemadaman ini.

    Berbagai cara dilakukan agar api segera padam. Diantaranya secara manual dan membuat ilaran yakni parit penyekat api di sekitar lokasi titik api yang tergolong cukup curam.

    Baca: Kebakaran lahan di lereng Bromo, kerugian capai Rp 5,4 miliar

    Selain itu, BPBD juga mengerahkan helikopter milik BNPB untuk melakukan pemadam api melalui udara atau water bombing pada hari Senin (2/10) ini.

    Untuk memudahkan pemantauan selama status tanggap darurat, petugas telah mendirikan posko peninjauan di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi.

    Pemkab Ngawi juga menyediakan dapur umum yang berlokasi di lingkungan kantor Desa Ngrayudan.

    Di Magetan, BPBD setempat juga mendirikan posko relawan dan dapur umum di Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan, Magetan.

    Posko tersebut merupakan lokasi terdekat dari titik api yang bisa diakses para petugas dan relawan sehingga memudahkan upaya penanganan karhutla.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Banjir Bandang Terjang Tanah Datar, Pemerintah Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

    Banjir Bandang Terjang Tanah Datar, Pemerintah Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

    7cloud.asia – Banjir bandang menerjang Nagari Barulak, Kecamatan Tanjung Baru, Tanah Datar, Sumatera Barat pada Jum’at, (23/2) lalu. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari.

    “Selepas kita mendengarkan analisa, masukan dan saran dari Forkopimda dan instansi terkait, maka ditetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari ke depan,” ujar Bupati Tanah Datar, Eka Putra di Batusangkar, Minggu (25/02/2024).

    Melansir Antaranews, Eka menjelaskan sebelum penetapan status ini, pihaknya telah melakukan berbagai upaya penanganan awal bagi warga yang terdampak.

    Baca: Banjir di Bandar lampung mulai surut

    Diantaranya memberikan bantuan awal melalui Dinas Sosial dan BPBD Tanah Datar.

    Dalam masa tanggap darurat ini ia berharap tidak terjadi bencana susulan sehingga memudahkan petugas membersihkan material.

    “Kita telah mengambil langkah-langkah strategis dalam penanganan musibah ini, semoga beberapa hari ke depan cuaca baik, sehingga tidak terjadi bencana susulan,” jelasnya.

    Sementara Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Datar, dr. Ermon Revlin menjelaskan banjir bandang pada Jumat lalu berdampak pada tiga Jorong di Nagari Barulak.

    Baca: Curah hujan tinggi, waspada bencana

    Berdasarkan data BPBD sebanyak 27 unit rumah, dua mushala, dan puluhan hektar lahan pertanian terkena dampak banjir bandang di Nagari Barulak tersebut.

    “Sampai saat ini, diperkirakan 27 rumah, dua mushala, lima jembatan dan puluhan hektar lahan pertanian dan perkebunan masyarakat yang terdampak, dan saat ini petugas kami terus mendata terhadap potensi kerugian yang ditimbulkan musibah ini,” unkap Ermon.

    Reporter: Nurakhmayani
     

     

  • Korban Tewas Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Barat Bertambah, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    Korban Tewas Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Barat Bertambah, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Korban tewas terus bertambah sejak banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Pasaman Barat dan Pariaman, Sumatera Barat. Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari.

    Hingga Selasa (12/03/2024) sore, Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) mencatat 32 orang tewas dalam bencana banjir di Sumatera Barat ini.

    Karena itu, pemerintah menetapkan masa tanggap darurat bencana selama 14 hari dalam upaya percepatan penanganan daerah yang terdampak banjir dan longsor.

    “Benar, kita telah menetapkan masa tanggap darurat sejak 8 Maret sampai 21 Maret 2024. Saat ini penanganan daerah terdampak sedang dilakukan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Pasaman Barat, Hendra Putra di Simpang Empat seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Korban banjir di Sumatera Barat terus bertambah  

    “Di masa tanggap darurat itu kita melakukan pengkajian secara cepat, membuat perencanaan dan penanggulangan bencana serta mengusulkan rencana kebutuhan belanja,” sambungnya.

    Penetapan status tersebut berdasarkan Keputusan Bupati Pasaman Barat Nomor 100.3.3.2/220/Bup-Pasbar/2024, masa tanggap darurat bencana banjir dan longsor di sembilan kecamatan.

    Sembilan kecamatan itu adalah Kecamatan Talamau, Sungai Aur, Kinali, Sasak Ranah Pasisia, Ranah Batahan, Lembah Melintang, Sungai Beremas, Koto Balingka dan Kecamatan Pasaman.

    Selanjutnya Hendra mengungkapkan di Jorong Limpato Kajai Kecamatan Talamau jalan terputus mengakibatkan terputusnya akses Simpang Empat-Talu.

    Banjir Batang Pasaman mengakibatkan merendam perumahan warga dan terputusnya akses Ujung Gading-Simpang Empat.

    Baca: BNPB ingatkan ancaman bencana hidrometeorologi

    Selain itu, banjir di wilayah Rura Patontang Parit Koto Balingka mengakibatkan putusnya jembatan dari Parit menuju Rura Patontang.

    Di wilayah Aek Napal, Kecamatan Ranah Batahan banjir mengakibatkan satu unit rumah warga hanyut dan merendam puluhan rumah warga.

    Banjir di Salawai Sungai Beremas mengakibatkan akses jalan Air Bangis-Ujung Gading terputus, banjir di Sungai Aur juga mengakibatkan jalan tidak bisa dilalui.

    Kemudian banjir di Kecamatan Lembah Melintang merendam pemukiman warga, banjir di Anam Koto Selatan Kecamatan Kinali mengakibatkan 30 kepala keluarga terdampak.

    Di wilayah Wonosari Kinali banjir menyebabkan terendamnya pemukiman warga dan di Koja Kinali menyebabkan terputusnya satu unit jembatan.

    Baca: BRIN sebut cuaca ekstrem makin sering terjadi 

    ‘Banjir juga terjadi di Rantau Panjang dan Sialang Kecamatan Sasak Ranah Pasisia yang merendam rumah warga,” ujarnya.

    Saat ini pihaknya saat ini akan mempercepat pembangunan jembatan darurat di Rura Patontang dan jalan darurat di Jorong Limpato Rimbo Kejahatan Kajai Talamau.

    “Jalan Simpang Empat-Talu telah kembali bisa dilalui pengendara namun diperlukan penanganan lebih lanjut dari Pemprov Sumbar. Untuk jembatan di Koja Kinali akan dibuat jembatan belly,” jelasnya.

    Salah seorang warga Kajai, Elwa, mengharapkan Pemprov Sumbar segera memperbaiki jalan yang ada di sepanjang Rimbo Kejahatan Kajai karena sangat rawan dan sudah membahayakan pengendara.

    “Kami mengharapkan tindakan cepat Pemprov Sumbar karena jalan ini adalah jalan provinsi dan ramai dilalui kendaraan setiap harinya,” harapnya.

    Baca: 3 Jenis cuaca ekstrem yang merusak

    Saat ini pemerintah daerah bersama SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi lainnya terus berusaha mencari lima korban lain yang belum ditemukan.

    Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi mengatakan bencana banjir dan tanah longsor diakibatkan oleh beberapa faktor di antaranya intensitas curah hujan yang tinggi lebih dari 12 jam.

    Kemudian bencana hidrometeorologi juga akibat saluran drainase yang kurang berfungsi dengan baik sehingga terjadi penyumbatan di beberapa titik.

    Selain itu, pembangunan infrastruktur dan pemukiman warga yang tidak memerhatikan tata ruang wilayah.

    Baca: Kearifan lokal efektif memitigasi bencana

    Dari hasil pendataan di lapangan pemerintah menemukan beberapa titik di kawasan longsor terjadi penggundulan hutan dan deforestasi. Bangunan penahan dinding sungai rusak dan sejumlah faktor lainnya.

    Total terdapat 871 rumah mengalami rusak berat, 135 rusak sedang, dan 593 rusak ringan.

    Selain itu ada 51 rumah ibadah, 28 sekolah, dan 13 ruas jalan ikut terdampak banjir dan longsor. Kemudian ada 23 jembatan dan dua unit irigasi mengalami kerusakan serius.

    Bencana alam ini juga memaksa 78.877 orang untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seluas 5.550 hektare lahan dan 1.960 hewan ternak ikut terdampak. 

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Atasi Banjir, BPBD Kabupaten Bandung Terapkan Status Tanggap Darurat Selama 2 Pekan

    Atasi Banjir, BPBD Kabupaten Bandung Terapkan Status Tanggap Darurat Selama 2 Pekan

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menetapkan status tanggap darurat banjir sejak 22 November hingga 6 Desember 2024, menyusul banjir yang melanda delapan kecamatan di wilayah itu.

    Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan Surat Keputusan Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Bandung dengan Nomor 300.2.1/KEP.682-BPBD/2024 terhitung mulai tanggal 23 November s.d. 6 Desember 2024.

    Cuaca ekstrem dan tingginya curah hujan serta rusaknya lingkungan menjadi pemicu banjir besar yang terjadi sejak Kamis (21/11/2024) dan menyebabkan debit air Sungai Citarum meningkat dan meluap ke permukiman warga.

    Hingga Senin (25/11/2024) sore, banjir masih menggenangi sedikitnya delapan desa di Kabupaten Bandung.

    Desa terdampak antara lain Desa Bojongsari, Bojongsoang, Tegaluar, Dayeuhkolot, Citereup, Rancamanyar, Sukamukti, dan Desa Sumbersari. Ketinggian muka air bervariasi antara 30-150 meter.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat jumlah warga terdampak akibat kejadian ini sebanyak 3.976 Kepala Keluarga (KK) atau 11.082 jiwa.

    Baca: Banjir bandang di Sibolangit tewaskan 4 warga

    Sedikitnya 236 KK atau 707 jiwa terpaksa mengungsi di 10 titik pengungsian berupa masjid, sekolah, dan kantor desa terdekat.

    Berdasarkan informasi dari Badan SAR Kabupaten Bandung, tim pencarian dan pertolongan masih melakukan pencarian satu warga yang diduga hilang terseret arus.

    Hasil kaji cepat sementara melaporkan kerugian materil yaitu 1.169 unit rumah terendam benjir, tiga unit rumah rusak berat, dua unit fasilitas ibadah terdampak, dan satu unit gudang terdampak.

    Pemerintah daerah setempat mengupayakan percepatan penanganan darurat ini dengan upaya penyedotan genangan. Meskipun demikian, rencana ini akan dilaksanakan dengan melihat perkembangan cuaca.

    Dilansir Antaranews.com, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Uka Suska mengatakan penetapan status tanggap darurat ini untuk mempercepat penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak.

    “Kami menetapkan status tanggap darurat untuk pemulihan lebih cepat, termasuk evakuasi, pembersihan lumpur, sampah, dan perbaikan infrastruktur yang rusak,” kata Uka di Bandung, Jawa Barat, Senin (25/11/2024).

    Baca: Banjir bandang landa 4 kabupaten di Sumatera Barat

    Menurut dia, status tanggap darurat tersebut memungkinkan pemerintah menggunakan Dana Tidak Terduga (BTT) untuk membantu pemulihan lebih cepat.

    Uka menyebut hingga saat ini terdapat delapan kecamatan yang masih terendam banjir, antara lain Kecamatan Bojongsoang, Dayeuhkolot, Pameungpeuk, Baleendah, Katapang, Ciparay, Pacet, dan Majalaya.

    Dia mengungkapkan pihaknya telah mendirikan posko tanggap darurat untuk penyediaan logistik dalam upaya membantu masyarakat yang terdampak.

    “Kami mendirikan tenda di kawasan Taman Air Bojongsoang untuk warga terdampak banjir Dayeuhkolot dan sekitarnya,” kata dia.

    Hingga kini, kata dia, BPBD Kabupaten Bandung mencatat sebanyak 2.014 rumah terendam dengan 12.250 Kepala Keluarga (KK) terdampak akibat bencana tersebut.

    “Kami masih menerjunkan personel ke lapangan untuk melakukan asesmen agar memastikan jumlah rumah yang terendam dan data korban terdampak secara valid,” kata Uka.

    Baca: Perubahan iklim picu cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Selain mendirikan tenda pengungsian, lanjutnya, BPBD juga memberikan bantuan berupa sembako, beras, terpal, serta alat kebersihan untuk para pengungsi.

    Dia berharap adanya solidaritas dari berbagai pihak, seperti bantuan makanan dan tenda pengungsian, agar dapat meringankan beban pengungsi menyusul keterbatasan logistik dari BPBD.

    “Logistik dari BPBD sudah mulai menipis, sehingga kami terus berupaya mencari bantuan tambahan dari pihak-pihak lain untuk mencukupi kebutuhan para pengungsi,” kata Uka.

    Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, wilayah Kabupaten Bandung Barat masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi dalam beberapa hari kedepan.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga Kabupaten Bandung untuk waspada saat memasuki musim penghujan saat ini. Selain banjir, Kabupaten Bandung Barat turut berpotensi bencana hidrometeorologi basah seperti tanah longsor dan angin kencang.

    Sebagai langkah mitigasi, warga dapat memeriksa kondisi rumah seperti rangka atap dan memastikan tidak ada rekahan pada tembok, serta memangkas dahan pohon yang sudah terlalu tinggi.

    Untuk warga yang bermukim di wilayah tebing, BNPB mengimbau untuk selalu waspada jika turun hujan deras lebih dari satu jam. Segera lakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman guna menghindari potensi tanah longsor.

  • Hingga Akhir Masa Tanggap Darurat Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1106 Orang

    Hingga Akhir Masa Tanggap Darurat Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1106 Orang

    7cloud.asia – Hingga masa tanggap darurat berakhir pada 22 Desember 2025, jumlah korban jiwa banjir dan tanah longsor Sumatera bertambah 16 jiwa per sehingga total menjadi 1.106 orang.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyampaikan simpati dan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas kehilangan ribuan nyawa dalam bencana ini.

    Sementara itu, jumlah warga yang masih dalam pencarian berkurang 10 jiwa, sehingga saat ini masih ada 175 jiwa yang masuk dalam daftar pencarian.

    “Untuk jumlah pengungsi, total per hari ini adalah 502.570 jiwa,” tuturnya.

    Baca: Korban banjir Sumatera di Sumbar mulai tinggali hunian sementara

    Dalam satu minggu terakhir, jumlah pengungsi sudah cukup banyak berkurang karena sebagian warga mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan atau tinggal di rumah kerabat di luar daerah bencana.

    Namun, sebagian besar kebutuhan pangan mereka masih didukung oleh dapur umum, baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat dengan dukungan bahan makanan dari Dinas Sosial Provinsi Aceh.

    “Saat ini kita berada di hari kedua menjelang penutupan perpanjangan fase tanggap darurat, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” kata Abdul.

    Sementara itu, tiga kabupaten di Sumbar kembali memperpanjang masa tanggap darurat karena masih banyak kegiatan penanganan bencana di lapangan.

    Dilansir Kompas, keputusan Pemprov Sumbar mengakhiri masa tanggap bencana merupakan hasil rapat bersama anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumbar dan Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian, Senin (22/12/2025) malam, di Posko Tanggap Darurat Bencana Sumbar, Kota Padang.

    Baca: Bendera putih tunjukkan korban banjir Sumatera tidak baik-baik saja

    Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan, pada masa pemulihan, Sumbar akan fokus pada percepatan pendataan kerusakan dan kerugian serta pemulihan layanan dasar, antara lain penyediaan air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, pendidikan, dan hunian sementara.

    Setelah itu, akan dilanjutkan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi secara menyeluruh.

    ”Kami targetkan pendataan kerusakan dan kerugian akibat bencana ini tuntas paling lambat 28 Desember 2025. Ini penting agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera berjalan pada awal tahun 2026,” kata Mahyeldi, Selasa (23/12/2025).

    Sebelumnya, Sumbar menetapkan masa tanggap darurat bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang sejak 25 November 2025. Masa tanggap darurat sempat diperpanjang dua pekan dan berakhir pada 22 Desember 2025.

  • Banjir Sumatera: 12 Kabupaten/Kota Terdampak Banjir Sumatera Akhiri Masa Tanggap Darurat

    Banjir Sumatera: 12 Kabupaten/Kota Terdampak Banjir Sumatera Akhiri Masa Tanggap Darurat

    7cloud.asia – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa sebanyak 12 kabupaten dan kota yang terdampak banjir Sumatera telah mengakhiri masa tanggap darurat.

    Sebanyak 12 Kabupaten/kota di tiga provinsi yang dilanda banjir Sumatera pada November lalu tersebut kini menuju status transisi darurat menuju tahap pemulihan

    “Daerah tersebut mencakup masing-masing empat kabupaten dan kota di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” kata Muhari dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Rabu (24/12/2025).

    Muhari mengatakan, masih ada beberapa daerah yang memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat hingga tanggal 28 atau 30 Desember mendatang.

    Baca: Banjir susulan hanyutkan tenda pengungsian di Pidie Jaya

    Sementara itu pemulihan infrastruktur yang rusak akibat banjir Sumatera sudah mulai berjalan bertahap. Pemerintah tengah menyiapkan pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap.

    Selain itu, percepatan pemulihan akses jalan dan jembatan juga dilakukan terutama untuk mendukung kelancaran transportasi menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

    “Saat ini, pemulihan di Sumatera Barat sudah hampir mencapai 100 persen, sementara di wilayah Tapanuli Raya, Sumatera Utara, progresnya telah mencapai kisaran 80 hingga 90 persen,” ucapnya.

    Untuk wilayah Aceh, jalur Lintas Timur dan Lintas Barat secara umum sudah dapat dilewati, dengan fokus pengerjaan saat ini diarahkan pada titik-titik penghubung Lintas Timur ke arah Tengah melalui pemasangan jembatan Bailey.

    Jembatan Bailey dibangun sementara di beberapa lokasi kritis agar konektivitas wilayah menuju Aceh Tengah tetap terjaga.

    Baca: Bendera putih tunjukkan kondisi korban banjir Sumatera tidak baik-baik saja

    Jumlah korban
    Hingga Rabu (24/12/2025) jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera bertambah 17 jiwa sehingga total menjadi 1129 orang.

    “Per hari ini, terdapat penambahan daftar korban meninggal dunia sebanyak 17 jiwa, sehingga total korban jiwa secara keseluruhan kini mencapai 1.129 orang,” ujar Muhari.

    Rincian penambahan korban tersebut berasal dari Aceh Utara sebanyak 14 jiwa, serta masing-masing satu jiwa di Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Sumatera Barat.

    Muhari menambahkan, saat ini, Tim SAR Gabungan masih mencari keberadaan 174 korban yang belum ditemukan.

    “Untuk data korban hilang saat ini mengalami penurunan menjadi 174 jiwa, sedangkan jumlah warga yang masih berada di pengungsian tercatat sebanyak 496.293 jiwa,” ucapnya.

  • Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1177 Orang, Layanan Air Bersih Masih Bermasalah

    Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1177 Orang, Layanan Air Bersih Masih Bermasalah

    7cloud.asia – Kapusdatin BNPB, Abdul Muhari mengatakan hingga Minggu (4/1/2026) korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang yang melanda tiga Provinsi di Sumatera tercatat mencapai 1177 orang.

    “Hari ini ada penambahan dari Aceh Utara sebanyak 10 jiwa, sehingga per hari ini 4 Januari 2026 total korban jiwa meninggal dunia menjadi 1.177 jiwa,” kata Abdul dalam konferensi pers, Sabtu (4/1/2026) yang dipantau secara daring.

    Sementara korban hilang berkurang 17 orang sehingga total ada 148 jiwa yang masih dalam pencarian.

    Adapun korban banjir yang tinggal di pengungsian berkurang sekitar 15.000an orang, sehingga jumlah pengungsi tercatat sebanyak 242.174 jiwa

    Baca: Sebulan pasca banjir Sumatera status hukum gelondongan kayu masih belum jelas

    Hingga hari ke-38 pascabencana ekologi banjir Sumatera masih ada 10 daerah di Aceh yang dalam status tanggap daerah, sedangkan transisi darurat sebanyak 8 kabupaten/kota.

    “Untuk wilayah Sumatera Utara seluruh 14 kabupaten/kota yang terdampak banjir Sumatera sudah dalam status transisi darurat,” imbuh Muhari.

    Sedangkan untuk Sumatera Barat, masih ada satu daerah yang berstatus tanggap darurat yakni di Kabupaten Agam yang mengalami banjir susulan. BNPB, ujar Muhari, mendeteksi rekahan di hulu yang berpotensi terjadi longsor susulan.

    Proses pemulihan jembatan dan jalan juga terus dilakukan. Di mana di sejumlah daerah seperti Bener Meriah masih dilakukan perbaikan jalan.

    Baca: Menteri Kehutanan diminta tak lepas tanggung jawab

    Muhari mengatakan, untuk air bersih masih terus diupayakan. Di beberapa daerah, seperti Aceh Utara masih terganggu karena banyak sumber air terdampak.

    “Untuk daerah seperti ini dibantu dengan menggunakan mobil tanki, toren ataupun sumur bor,” imbuh Muhari.

    Terakhir untuk hubungan komunikasi mayoritas sudah pulih kembali. Namun sejumlah daerah seperti Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues dan Bener Meriah masih ada gangguan.