Tag: tidak sehat

  • Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia dan Tergolong Tidak Sehat

    Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Kota Terpolusi di Dunia dan Tergolong Tidak Sehat

    7cloud.asia – Kualitas udara di Jakarta pada Selasa (4/6/2024) pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

    Menurut situs pemantau kualitas udara IQ Air yang dipantau pada Selasa pukul 06.10 WIB, indeks kualitas udara di DKI Jakarta ada pada angka 175 mengacu kepada penilaian PM2,5.

    Adapun nilai konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 90 mikrogram per meter kubik.

    Konsentrasi sebanyak itu setara 18 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). PM 2,5 adalah partikel udara yang berukuran kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

    Data dari IQAir ini juga menyebut kota dengan kualitas udara terburuk di dunia urutan kedua, yaitu Medan ​​​​​​(Indonesia) di angka 170, urutan ketiga Kinshasa (Kongo) di angka 159.

    Di posisi keempat dan kelima yaitu Riyadh (Arab Saudi) dengan angka 139 dan (India) dengan angka 129.

    Baca: Kualitas udara Jakarta kembali memburuk

    Adapun kategori tidak sehat, yakni kualitas udaranya yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Terkait kualitas udara di Jakarta yang buruk masyarakat Jakarta disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan.

    Jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

    Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 593 Tahun 2023 tentang Satuan Tugas Pengendalian Pencemaran Udara sebagai kebijakan untuk mempercepat penanganan polusi udara.

    Ruang lingkup satgas pengendalian pencemaran udara ini diantaranya menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Pencemaran Udara di Provinsi DKI Jakarta, mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara, hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

    Lalu, melaksanakan pencegahan sumber pencemar, baik dari sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak, termasuk sumber gangguan serta penanggulangan keadaan darurat.

    Baca: Kendaraan tak lolos emisi bakal bayar lebih mahal

    Kemudian menerapkan wajib uji emisi kendaraan bermotor, melakukan peremajaan angkutan umum dan pengembangan transportasi ramah lingkungan untuk transportasi umum dan pemerintah

    Selanjutnya bertugas meningkatkan ruang terbuka, bangunan hijau dan menggiatkan gerakan penanaman pohon serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam perbaikan kualitas udara.

    Pemprov DKI Jakarta juga akan terus melakukan evaluasi dan mengkaji berbagai kebijakan yang sudah dilakukan agar tepat sasaran dan mampu secara efektif mengatasi permasalahan pencemaran udara.

    Namun demikian, sejumlah kalangan menilai, berbagai kebijakan yang ada belum menyentuh akar masalah pemicu polusi udara di Jakarta.

    Pemprov DKi Jakarta diminta lebih serius mengendalikan polusi udara dari kegiatan industri dan memantau secara berkala kondisi kualitas udara, hingga dampak kesehatan dari polusi udara.

  • Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Mengenakan Masker

    Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Mengenakan Masker

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, kualitas udara DKI Jakarta kembali memburuk. Dalam beberapa pekan terakhir kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat.

    Pada Rabu (5/6/2024) kualitas udara juga masuk kategori tidak sehat dan masuk dua terburuk di dunia setelah Kota Medan, Sumatra Utara.

    Karena itu warga Kota Jakarta direkomendasikan untuk mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

    Sebelumnya, BMKG juga mengungkapkan bahwa Jakarta mulai memasuki musim kemarau pada Mei dan diprediksi mencapai puncaknya pada Juni 2024.

    Bersamaan dengan itu, diprediksi Jakarta kembali dilanda polusi udara sehingga kualitas udaranya menurun.

    Baca: Polusi udara di Jakarta

    Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG Albert Nahas mengatakan fenomena iklim global berupa El Nino, La Nina dan Dipole Mode Positif/Negatif turut mempengaruhi partikel polutan di Indonesia, termasuk di Jakarta.

    Albert mengungkapkan La Nina mempengaruhi konsentrasi PM2.5 di Indonesia dan membagi wilayah Indonesia menjadi Timur dan Barat berdasarkan respon PM2.5 terhadap La Nina.

    Salah satu dampaknya, konsentrasi PM2.5 cenderung tinggi pada malam hingga pagi hari dan rendah pada siang hari.

    “Fenomena iklim global bisa mempengaruhi iklim di Indonesia yang juga berakibat ke kondisi PM2.5,” katanya.

    Baca: Di Jakarta, kendaraan tak lolos uji emisi harus bayar parkir lebih mahal

    Dipantau di laman resmi IQAir pada Rabu, pukul 06.30 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 173, dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 di angka konsentrasi 86 mikrogram per meter kubik.

    Konsentrasi tersebut setara 17,4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Situs pemantau kualitas udara dengan waktu terkini tersebut, mencatatkan bahwa Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara peringkat kedua terburuk di dunia setelah Kota Medan (213) disusul Dhaka (Bangladesh) di angka 171.

    Masyarakat direkomendasikan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker saat di luar, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta menyalakan penyaring udara.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan di Jakarta

    Sementara itu, data dari Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyebutkan dari lima titik pemantau menunjukkan bahwa kualitas udara di Jakarta untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori sedang.

    Hanya satu titik pos pantau yang kualitas udaranya ada pada kategori tidak sehat.

    Untuk lokasi pemantau kualitas udara yang berada di Kelapa Gading menunjukkan bahwa pada Rabu pagi di angka 99 kategori sedang, Kebon Jeruk di angka 131 atau tidak sehat, Bundaran HI 89 kategori sedang, dan Jagakarsa di angka 77 atau sedang.

    Kategori sedang berarti tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif.

    Sementara untuk kategori tidak sehat yaitu tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

  • Warga Jakarta Diingatkan Tak Mengabaikan Kualitas Udara yang Tidak Sehat

    Warga Jakarta Diingatkan Tak Mengabaikan Kualitas Udara yang Tidak Sehat

    7cloud.asia – Memasuki musim kemarau, kualitas udara DKI Jakarta kembali memburuk. Dalam beberapa pekan terakhir kualitas udara Jakarta hampir selalu masuk kategori tidak sehat.

    Hari ini, Jumat (7/6/2024), laman IQAir yang terakhir diperbarui pada pukul 11.00 WIB menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta tercatat tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 140 dengan tingkat konsentrasi polutan PM 2,5 sebesar 51,3 mikrogram per meter kubik dan angka ini menunjukkan 10,3 kali lebih tinggi nilai panduan kualitas udara tahunan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

     

    Karena itu warga Kota Jakarta direkomendasikan untuk mengenakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

    Baca Juga: Memasuki Kemarau Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Warga Diimbau Mengenakan Masker

    Praktisi Kesehatan dr. Ngabila Salama meminta warga yang saat ini tinggal dan beraktivitas di DKI Jakarta untuk tidak abai menjaga dirinya saat kualitas udara memburuk.

    “PM 2.5 yang membahayakan dapat menyebabkan penyakit tidak menular dalam jangka waktu pendek (akut) dan jangka lama (kronik) secara multi organ bisa dari kulit, paru sampai jantung,” kata Ngabila dikutip Antaranews.com, Jumat (7/6/2024).

    Menanggapi kualitas udara di Jakarta yang terpantau memburuk, Ngabila menekankan bila hal tersebut dapat berdampak buruk pada kondisi kesehatan paru-paru masyarakat.

    Dalam jangka pendek, paru-paru berpotensi terkena serangan asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) eksaserbasi akut, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), pneumonia dan alergi.

    Baca Juga: Dampak Polusi Udara Jakarta pada Kesehatan Fisik dan Mental

    Sementara untuk jangka panjangnya, meningkatkan potensi terkena kanker paru maupun jantung.

    “Apalagi kalau orang itu menjadi perokok aktif atau pasif, maka akan memperparah kondisi kesehatannya,” ujar dia.

    Sebagai bentuk proteksi diri, masyarakat disarankan untuk tetap mengenakan masker jenis KN 95 atau KF 94 untuk menghalangi PM 2.5 dan menghindari menjadi perokok aktif maupun pasif.

    Ngabila mengatakan masyarakat perlu memastikan agar imunitasnya tetap terjaga lewat fisik dan mental yang sehat melalui pola hidup bersih sehat CERDIK dan CERIA setiap harinya.

    Baca Juga: Atasi Polusi Udara, Pemkot Jakarta Utara Ajak Warga Gunakan Kendaraan dengan Emisi Rendah

    Guna mencegah ISPA dan pneumonia, menjaga pola hidup tetap bersih dapat dilakukan dengan memakai masker, mencuci tangan atau menggunakan penyanitasi tangan, dan menjaga jarak di kerumunan (3M).

    “Jangan lupa gunakan air purifier atau hepa filter yang ada di rumah. Rajinlah dibersihkan juga alatnya, hindari aktivitas di luar ruangan jika kondisi polusi udara kurang baik,” kata dia.

    Bagi kelompok rentan seperti anak dan lansia, ia meminta agar tiap pihak tidak malas untuk memakai masker di luar ruangan, mengikuti vaksinasi influenza dan melengkapi vaksin Covid-19 agar tidak memberatkan gejala yang telah ada.

    Meski demikian, Ngabila menilai sebenarnya kualitas udara yang buruk dapat dicegah melalui adanya perubahan pola hidup bersama.

    Baca Juga: Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    Misalnya, dimulai dari hal kecil setiap orang dapat beralih menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki guna meminimalisasi penyebaran asap kendaraan di jalan.

    Kemudian menghemat listrik dan air baik di rumah maupun di kantor, menggunakan kendaraan listrik atau sepeda bila mengunjungi tempat-tempat yang dekat.

    Warga juga diajak untuk memperbanyak memelihara tanaman untuk meningkatkan kadar oksigen di sekitarnya.

    Sementara kepada pemerintah, wanita yang juga menjadi Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan tersebut menyarankan agar secara komprehensif melakukan upaya agresif untuk menurunkan polusi udara baik dari segi komunitas, ekonomi dan individu.

    Termasuk mengajak multisektor seperti industri, transportasi dan rumah tangga untuk menerapkan perubahan pola hidup yang berkelanjutan.

    Sumber:Antaranews.com

     

  • Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Berada di Posisi Ketiga Terburuk di Dunia

    Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat, Berada di Posisi Ketiga Terburuk di Dunia

    7cloud.asia – Kualitas udara di DKI Jakarta pada Minggu (9/6/2024) pagi berada dalam kategori tidak sehat.

    Dengan kondisi kualitas udara yang tidak sehat maka warga Jakarta diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan.

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 06.30 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 166

    Sedangkan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 di angka konsentrasi polutan 77 mikrogram per meter kubik.

    Baca: Warga Jakarta diminta tak abaikan kualitas udara yang tidak sehat

    Konsentrasi tersebut setara 15,4 kali dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Indeks kualitas udara tersebut membuat Jakarta menduduki kota dengan kualitas udara ketiga terburuk di dunia.

    Di atas Jakarta, kota dengan kualitas udara terburuk pada peringkat pertama, yakni Kampala, Uganda dengan indeks kualitas udara di angka 174, kemudian Delhi, India pada peringkat kedua dengan indeks 166.

    Sejumlah wilayah di Jakarta yang tercatat memiliki kualitas udara dengan kategori tidak sehat, yakni Kuningan, Kemang dan Jeruk Purut.

    Baca: Kenali manfaat tanaman hias untuk tingkatkan kualitas udara 

    Masyarakat pun direkomendasikan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker saat berada di luar ruangan,

    Warga juga diimbau untuk menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta menyalakan penyaring udara.

    Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta juga mencatat bahwa kualitas udara di Jakarta secara keseluruhan untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori tidak sehat dengan indeks angka 109.

    Kategori tidak sehat berarti tingkat kualitas udara bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika

    Baca: Hijaukan Jakarta untuk tingkatkan kualitas udara

    Salah satu wilayah yang tercatat berada pada kategori udara tidak sehat, yakni Kebon Jeruk.

    Memasuki musim kemarau kualitas udara Jakarta kembali memburuk. Dalam beberapa hari belakangan kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat

    Penggunaan kendaraan bermotor dan pembangkit listrik tenaga batubara disebut sebagai salah satu pemicu buruknya kualitas udara Jakarta.

    Sumber: Antaranews.com 

     

  • Jelang Gelaran JAKIM 2024, Kualitas Udara Jakarta Tetap Masuk 10 Terburuk Dunia

    Jelang Gelaran JAKIM 2024, Kualitas Udara Jakarta Tetap Masuk 10 Terburuk Dunia

    7cloud.asia – Tiga hari jelang gelaran akbar Jakarta Internasional Maraton 2024 atau JAKIM 2024, kualitas udara Jakarta tak kunjung membaik.

    Pada Kamis (20/6/2024) pagi, kualitas udara Jakarta berada pada peringkat kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dan masuk kategori tidak sehat.

    Berdasarkan pemantauan di https://www.iqair.com/id/pada pukul 05.50 WIB, Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada pada angka 165.

    Adapun konsentrasi partikel (PM) 2.5 berada di angka 76 mikrongram per meter kubik (µg/m³).

    Baca Juga: DLH DKI Jakarta Kembangkan Sistem Intervensi Emisi untuk Pantau Sumber Polusi Udara

    Disebutkan kualitas udara Jakarta ini masuk kategori tidak sehat dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif.

    Dengan kualitas udara Jakarta yang buruk ini juga bisa menimbulkan kerusakan/kematian pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa dengan angka AQI 179, disusul Kampala, Uganda di urutan ketiga dengan indeks 159.

    Berikut daftar 10 kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, selengkapnya:
    1. Kinshasa, Kongo-Kinshasa dengan angka AQI 179
    2. Jakarta, Indonesia; 165
    3. Kampala, Uganda; 159
    4. Dubai, Uni Emirat Arab; 139
    5. Beijing, Cina; 122
    6. Dhaka, Bangladesh; 107.
    7. Batam, Indonesia; 97
    8. Karachi, Pakistan di angka 95
    9. Kuwait City, Kuwait di angka 90,
    10. Incheon, Korea Selatan di angka 90.

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Baca Juga: Polusi Udara di Jakarta: Diperlukan Sistem Transportasi Publik yang Berkualitas